KEMANDIRIAN INVESTASI d/h maen SAHAM beneran (sjk : 210809) SEHAT @ investor NEKAT

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES

EU ngerem KRISIS EURO … 210510 8 Mei 2010

Filed under: GREAT depression — bumi2009fans @ 8:59 am

Chart forEUR/USD (EURUSD=X)
What the naked short-selling ban means
Revealing why the German government has stopped naked short-selling of shares and credit default swaps

Germany has banned the “naked” short-selling of eurozone government bonds, their credit default swaps (CDS) and the shares of the country’s 10 biggest financial institutions.

Why have the German authorities taken this step?

BaFin, the German financial regulator, wants to crack down on the speculators it blames for destabilising financial markets and making the Greek debt crisis worse. The watchdog said that large-scale short-selling could have “endangered the stability of the entire financial system”.

What is short-selling?

Short-selling is selling borrowed shares in the hope their price will fall and that they can be bought back at a profit later on. In 2008 the British watchdog the Financial Services Authority (FSA) rushed in emergency rules to ban the short-selling of UK bank shares after a collapse in the HBOS share price was – wrongly as it turned out – blamed on the practice.

So what is “naked” short-selling?

The same as short-selling but without borrowing the shares first, or by just getting the nod to do so if necessary. When the seller does not obtain the shares in the required time, the result is known as a “fail to deliver”. However, the transaction generally remains open until the seller or seller’s broker can fill the order.

What is new about the ban?

The short-selling of shares of financial institutions is already banned in France but Germany is the first to extend the moratorium to eurozone government bonds and related CDSs.

Remind me what a CDS is?

Credit default swaps are insurance against defaults on corporate and government bonds.

How long will the German ban last?

It took effect from midnight on Tuesday and lasts until 31 March 2011.

Will it work?

It is not clear how Germany will be able to police the ban as the debt and CDS markets cross national borders, with most European trade in CDSs done in London. The FSA says the ban will not apply to branches of German institutions based here.

What was the reaction from investors?

World stock markets fell sharply and the news also hit the already fragile euro. Traders called the ban “draconian”, arguing that it was an attempt to buy time and take the heat off the EU economies in the wake of the Greek financial crisis.
Kamis, 20/05/2010 16:09 WIB
Asing Lepas Saham Rp 929 Miliar, IHSG Terhempas 35 Poin
Indro Bagus – detikFinance
Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya anjlok 35 poin dan ditutup di bawah level 2.700 lantaran adanya aksi jual asing mencapai Rp 929 miliar. Rebound indeks-indeks Eropa dinilai masih rapuh.

Mengawali perdagangan, IHSG dibuka naik tipis ke level 2.730,288 dan langsung menguat cukup tinggi ke level 2.763,881, naik 34 poin dari penutupan kemarin di level 2.729,484.

Pergerakan IHSG hari ini cukup fluktuatif. Setelah menguat cukup tinggi di awal perdagangan, IHSG kemudian berbalik arah ke zona negatif hingga sempat menyentuh level 2.660,119, anjlok 69 poin. Penurunan ini terjadi secara bersamaan pada bursa-bursa regional Asia.

Pelemahan mata uang Euro terhadap dolar AS tadi pagi, membuat investor global memutuskan menarik dananya guna mengantisipasi kemungkinan koreksi berlanjut pada indeks Eropa. Untungnya, indeks-indeks Eropa dibuka menguat cukup tinggi seiring dengan terjadinya perburuan saham-saham sektor perbankan Eropa.

Sentimen positif ini sempat membuat koreksi IHSG mengikis. Namun kelihatannya, penguatan bursa-bursa Eropa masih rapuh dan mulai mengendur.

Akibatnya, indeks-indeks di Asia kembali didera tekanan jual, termasuk IHSG yang langsung melorot kembali mendekati 1,5%. Seluruh indeks saham sektoral terkoreksi cukup tajam antara 1-2% lantaran saham-saham unggulan tak mampu mengangkat harga.

Tekanan jual dipicu oleh aksi jual massif investor-investor asing yang membuat investor domestik ikutan melakukan aksi jual guna menghindari kerugian yang lebih besar.

Aktivitas transaksi investor asing didominasi aksi jual sebesar Rp 1,942 triliun dengan aksi beli sebesar Rp 1,013 triliun. Transaksi jual bersih asing (foreign net sell) mencapai Rp 929,041 miliar.

Tekanan jual terutama dipicu oleh aksi jual investor asing yang mencatat penjualan bersih (foreign net sell) sebesar Rp 457 miliar.

Pada perdagangan Kamis (20/5/2010), IHSG ditutup anjlok 35,235 poin (1,29%) ke level 2.694,249. Indeks LQ 45 juga turun 7,739 poin (1,47%) ke level 516,731.

Perdagangan berjalan ramai dengan frekuensi transaksi di seluruh pasar 139.794 kali pada volume 5,534 miliar lembar saham senilai Rp 4,872 triliun. Sebanyak 58 saham naik, 171 saham turun dan 54 saham stagnan.

Bursa-bursa regional Asia seluruhnya melemah
Indeks Shanghai turun 31,87 poin (1,23%) ke level 2.555,94.
Indeks Hang Seng turun tipis 33,15 poin (0,17%) ke level 19.545,83.
Indeks Nikkei 225 turun 156,53 poin (1,54%) ke level 10.030,31.
Indeks Strait Times turun 22,91 poin (0,83%) ke level 2.751,63.
Saham-saham yang naik harganya di top gainer antara lain Gudang Garam (GGRM) naik Rp 500 ke Rp 31.300, Bank Mega (MEGA) naik Rp 400 ke Rp 2.500, Astra Otoparts (AUTO) naik Rp 200 ke Rp 13.100, Smart (SMAR) naik Rp 125 ke Rp 3.325.

Sedangkan saham-saham yang turun harganya di top loser antara lain Merck (MERK) turun Rp 3.000 ke Rp 70.000, Astra International (ASII) turun Rp 1.150 ke Rp 38.450, Astra Agro (AALI) turun Rp 800 ke Rp 18.900, Indo Tambang (ITMG) turun Rp 700 ke Rp 34.100, Unilever (UNVR) turun Rp 600 ke Rp 14.250, Bukit Asam (PTBA) turun Rp 500 ke Rp 16.550. (dro/qom)
IHSG Melorot 1,29 Persen
Kamis, 20 Mei 2010 | 16:27 WIB

KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMO

JAKARTA, KOMPAS.com – Kompak dengan bursa regional lainnya, IHSG pada Kamis, (20/5/2010) ditutup melemah 1,29 persen atau 35,23 poin pada level 2.694,249.
Saham-saham yang menyeret laju indeks ke bawah di antaranya, Bumi Resources (BUMI) 2,20 persen turun ke Rp 2.225, Astra Internasional (ASII) turun 2,90 persen ke Rp 38.450, BAnk Mandiri (BMRI) turun 0,95 persen ke Rp 5.200, Adarao (ADRO) turun 1,54 persen ke Rp 1.920, dan United Tractor (UNTR) turun 2,94 persen ke Rp 16.500.

Sementara itu, saham-saham yang masih memberi daya bagi laju IHSG adalah Gudang Garam (GGRM) yang naik 1,62 persen ke Rp 31.300, Bank Mega (MEGA) lompat 19,05 persen ke 2.500, Smart (SMAR) naik 3,91 persen ke Rp 3.325, RAJA naik 16 persen ke Rp 870, PT Telekomunikasi (TLKM) naik 0,66 persen ke Rp 7.600, dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI) naik 0,62 persen ke 8.150.

Volume transaksi hari meningkat dibandingkan kemarin dengan total saham yang beredar mencapai 5,534 miliar saham dengan total transaksi senilai Rp 4,872 triliun. Sebanyak 55 saham naik, 155 saham turun, dan 28 saham lainnya tetap.
Bursa regional Asia yang mengalami penurunan di antaranya Indeks Nikkei 225 yang merosot 1,54 persen ke level 10.030,31. Hang Seng Indeks turun 0,17 persen ke 19.545,83, dan Strait Times 0,81 persen 2752,12. (Astri Karina Bangun/Kontan)
20/05/2010 – 09:37
Agus Jadi Menkeu, IHSG Naik 6,82 Poin

INILAH.COM, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Kamis (20/5) pagi langsung naik 6,82 poin (0,25%) ke level 2.736,3.

Kenaikan indeks ini didukung kenaikan 32 saham, sedang hanya 3 saham yang turun dan 13 saham stagtan.

Volume perdagangan memang masih relatif sepi sebanyak 9,03 juta saham dengan nilai transaksi mencapai Rp26,04 miliar.

Indeks saham unggulan LQ45 naik 1,68 poin ke level 526,15, sedang JII naik 1,66 poin ke level 432,58.

Saham-sasham yang naik antara lain AALI naik 1,01% ke harga Rp19.900, ADRO naik 2,05% ke harga Rp1.990, ANTM naik 1% ke harga Rp2.000, ASII naik 1,13% ke Rp40.050. [cms]

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin ditutup merosot tajam. Investor melepas saham-saham di tengah bursa regional yang berjatuhan setelah Jerman mengeluarkan larangan naked short selling.
Pada perdagangan Rabu (19/5/2010), IHSG jatuh jatuh 104,702 poin (3,69%) ke level 2.729,48. Indeks LQ 45 turun 22,524 poin (4,12%) ke level 524,470.
Pelemahan bursa-bursa global masih akan menghantui pergerakan IHSG pada Kamis (20/5/2010) ini. Namun investor juga merasa pelemahan IHSG kemarin sudah terlalu dalam.
Apalagi ada sentimen positif setelah kemarin Presiden SBY mengumumkan penunjukan Agus Martowardojo sebagai menteri keuangan dan Anny Ratnawati sebagai Wakil Menkeu. Duet Agus-Anny dinilai cukup bisa diterima pasar.
“Ini merupakan paket yang baik. Agus Martowardoyo sangat mengerti sektor mikro ekonomi dan perbankan walaupun memang dari sisi makro ekonomi dan fiskal mungkin tidak terlalu kuat,” ujar Kepala Ekonom Danareksa Research Institute, Purbaya Yudhisadewa.
Bursa Wall Street kemarin masih melemah merespons keputusan Jerman yang secara spesifik melarang perdagangan sejumlah saham dan obligasi. Langkah Jerman itu langsung memicu ketidakpastian di pasar dan kewaspadaan investor.
Pada perdagangan Rabu (19/5/2010), indeks Dow Jones ditutup melemah 66,58 poin (0,63%) ke level 10.444,37. Indeks Standard & Poor’s 500 juga melemah 5,75 poin (0,51%) ke level 1.115,05 dan Nasdaq melemah 18,89 poin (0,82%) ke level 2.298,37.
Bursa Tokyo juga masih mengalami koreksi meski tipis. Indeks Nikkei-225 dibuka melemah 58,79 poin (0,57%) ke level 10.118,05.
Berikut rekomendasi saham untuk hari ini:
OSK Nusadana Securities Indonesia:
Setelah terkoreksi cukup tajam pada perdagangan kemarin IHSG hari ini diperkirakan konsolidasi cenderung naik dengan menguji level resistance di 2,790.290, sementara support diperkirakan sekitar 2,759.56
Daily risk saat ini sekitar level 25.53 % sehigga secara teknikal IHSG cukup kondusif untuk naik. Lebih lanjut indikator MACD Optimized yang belum sempat golden cross kemarin,  memberi peluang untuk bottom reversal di support trendline.
Pada indikator W%R Optimized  juga terlihat potensi koreksi IHSG yang makin terbatas.
Panin Sekuritas:
IHSG anjlok -3,7% pada perdagangan kemarin didorong oleh melemahnya bursa regional. Kami melihat dalam beberapa waktu mendatang indeks masih akan tertekan oleh pengaruh dari krisis hutang Eropa. Sebagai salah satu kawasan ekonomi terbesar di dunia, krisis di Eropa dikhawatirkan akan berdampak terhadap negara-negara lain. Sementara hari ini kami perkirakan tekanan jual masih akan berlanjut seiring dengan minimnya sentimen positif. Dari dalam negeri, investor juga masih menunggu penunjukkan Menkeu yang baru.  Kisaran support-resistance 2.680-2.760.
Sumber: detikcom

ndeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin ditutup merosot tajam. Investor melepas saham-saham di tengah bursa regional yang berjatuhan setelah Jerman mengeluarkan larangan naked short selling.
Pada perdagangan Rabu (19/5/2010), IHSG jatuh jatuh 104,702 poin (3,69%) ke level 2.729,48. Indeks LQ 45 turun 22,524 poin (4,12%) ke level 524,470.
Pelemahan bursa-bursa global masih akan menghantui pergerakan IHSG pada Kamis (20/5/2010) ini. Namun investor juga merasa pelemahan IHSG kemarin sudah terlalu dalam.
Apalagi ada sentimen positif setelah kemarin Presiden SBY mengumumkan penunjukan Agus Martowardojo sebagai menteri keuangan dan Anny Ratnawati sebagai Wakil Menkeu. Duet Agus-Anny dinilai cukup bisa diterima pasar.
“Ini merupakan paket yang baik. Agus Martowardoyo sangat mengerti sektor mikro ekonomi dan perbankan walaupun memang dari sisi makro ekonomi dan fiskal mungkin tidak terlalu kuat,” ujar Kepala Ekonom Danareksa Research Institute, Purbaya Yudhisadewa.
Bursa Wall Street kemarin masih melemah merespons keputusan Jerman yang secara spesifik melarang perdagangan sejumlah saham dan obligasi. Langkah Jerman itu langsung memicu ketidakpastian di pasar dan kewaspadaan investor.
Pada perdagangan Rabu (19/5/2010), indeks Dow Jones ditutup melemah 66,58 poin (0,63%) ke level 10.444,37. Indeks Standard & Poor’s 500 juga melemah 5,75 poin (0,51%) ke level 1.115,05 dan Nasdaq melemah 18,89 poin (0,82%) ke level 2.298,37.
Bursa Tokyo juga masih mengalami koreksi meski tipis. Indeks Nikkei-225 dibuka melemah 58,79 poin (0,57%) ke level 10.118,05.
Berikut rekomendasi saham untuk hari ini:
OSK Nusadana Securities Indonesia:
Setelah terkoreksi cukup tajam pada perdagangan kemarin IHSG hari ini diperkirakan konsolidasi cenderung naik dengan menguji level resistance di 2,790.290, sementara support diperkirakan sekitar 2,759.56
Daily risk saat ini sekitar level 25.53 % sehigga secara teknikal IHSG cukup kondusif untuk naik. Lebih lanjut indikator MACD Optimized yang belum sempat golden cross kemarin,  memberi peluang untuk bottom reversal di support trendline.
Pada indikator W%R Optimized  juga terlihat potensi koreksi IHSG yang makin terbatas.
Panin Sekuritas:
IHSG anjlok -3,7% pada perdagangan kemarin didorong oleh melemahnya bursa regional. Kami melihat dalam beberapa waktu mendatang indeks masih akan tertekan oleh pengaruh dari krisis hutang Eropa. Sebagai salah satu kawasan ekonomi terbesar di dunia, krisis di Eropa dikhawatirkan akan berdampak terhadap negara-negara lain. Sementara hari ini kami perkirakan tekanan jual masih akan berlanjut seiring dengan minimnya sentimen positif. Dari dalam negeri, investor juga masih menunggu penunjukkan Menkeu yang baru.  Kisaran support-resistance 2.680-2.760.

Sumber: detikcom

JAKARTA (Bisnis.com): Investor kembali dicemaskan oleh prospek perekonomian Eropa menyusul langkah Jerman yang melarang transaksi credit default swap tanpa instrumen dasar karena dianggap dapat membatasi likuiditas kawasan.

Valbury Asia Securities berpendapat bahwa IHSG pun gagal bertahan di level support 2.780 dan berpotensi menuju support berikutnya di 2.650.

Pengamat pasar modal mengatakan bahwa penunjukkan Agus Martowardoyo sebagai menteri keuangan menggantikan Sri Mulyani Indrawati akan direspon positif oleh para investor di pasar modal.

Sementara itu, Panin Sekuritas melihat dalam beberapa waktu mendatang indeks masih akan terpengaruh oleh krisis utang Eropa.

Untuk hari ini, dia memperkirakan tekanan jual masih berlanjut seiring dengan minimnya sentimen positif. Dari dalam negeri, investor juga masih menunggu penunjukan menkeu yang baru. Kisaran support-resistance 2.680-2.760.

Sementara itu, Samuel Sekuritas mengemukakan bahwa IHSG turun di tengah sentimen negatif global, setelah aturan baru naked short sell di Jerman. Indeks masih dalam pola upchannel, tetapi terkoreksi mendekati support trendline yang terbentuk dari harga terendah sejak Oktober 2009 pada kisaran level 2.700-2.650.

Trimegah Securities mengatakan bahwa pasar yang merespons negatif terkait dengan semakin rendahnya ekspektasi terhadap pemulihan ekonomi global membuat sebagian besar bursa global mengalami koreksi. Aksi jual yang terjadi hampir sepanjang sesi menambah tekanan pada IHSG. Dengan penurunan ini, indeks berpotensi menguji support di level 2.705. Hari ini indeks diperkirakan bergerak pada kisaran 2.705-2.782.

Erdikha Sekuritas mengemukakan bahwa indeks ditutup melemah 104,70 poin (3,69%) ke level 2.729,48. Sentimen bursa global yang masih negatif membuat pergerakan indeks masih memiliki kecenderungan turun. Secara teknikal indeks mencoba menguji level 2.700, dengan pergerakannya berkisar di 2.687-2.775. Saham rekomendasiny adalah ANTM, dan ELSA.

Rabu, 19 Mei 2010 | 21:13

KRISIS UTANG YUNANI

Yunani Lunasi Utang Jatuh Tempo € 8,5 Miliar

ATHENA. Yunani menepati janjinya. Hari ini (19/5), Yunani menggunakan dana pinjaman darurat yang diperolehnya dari Uni Eropa dan International Monetary Fund (IMF) untuk membayar utang yang jatuh tempo senilai € 8,5 miliar. Untuk memulihkan perekonomiannya, pemerintah Yunani akan menelan pil pahit termasuk memangkas upah pekerja di sektor publik dan menaikkan pajak.

Meski sudah bisa sedikit bernafas lega, Yunani masih harus meyakinkan para investor bahwa negara tersebut mampu mengendalikan defisitnya. Alhasil, Yunani bisa mencari pendanaan baru lagi dari pasar. “Kami harus mengambil langkah-langkah darurat untuk menangani utang luar negeri dan isu terhadap kredibilitas kami. Langkah-langkah ini dilakukan untuk membuat perubahan yang lebih besar,” kata Perdana Menteri George Papandreou dalam sebuah konferensi energi di Athena, Rabu (19/5).

Pinjaman tahap pertama dari Uni Eropa dan IMF senilai € 20 miliar telah disalurkan Selasa (18/5) lalu. Tetapi, Yunani masih menghadapi tugas besar untuk memangkas defisitnya yang hampir mencapai 14% dari Produk Domestik Bruto (PDB) menjadi di bawah 3% pada 2014.

PDB Yunani juga ikut susut dan diproyeksikan akan mengalami kontraksi sebesar 4% tahun ini, sehingga tugas Yunani jadi lebih berat. Tetapi, Kamis (20/5) ini, Yunani akan menghadapi demonstrasi besar-besaran. Kalangan serikat pekerja pun menyerukan mogok massal. Investor tentu bakal mencermati hal ini. Jika pemerintah Yunani tidak bisa mengatasinya, sulit bagi Yunani bisa meraih kembali kepercayaan dari pasar.

Hari Widowati REUTERS
Rabu, 19/05/2010 21:34 WIB
Duet Agus-Anny Bisa Diterima Pasar
Herdaru Purnomo – detikFinance

Jakarta – Menteri Keuangan terpilih Agus Martowardoyo dinilai masih lemah dalam hal makro ekonomi. Namun dengan adanya Wakil Menteri Keuangan di tangan Anny Ratnawati maka akan terjadi sebuah kombinasi yang baik untuk menggawangi perekonomian Indonesia.

“Ini merupakan paket yang baik. Agus Martowardoyo sangat mengerti sektor mikro ekonomi dan perbankan walaupun memang dari sisi makro ekonomi dan fiskal mungkin tidak terlalu kuat,” ujar Kepala Ekonom Danareksa Research Institute, Purbaya Yudhisadewa ketika berbincang dengan detikFinance di Jakarta, Rabu (19/05/2010).

Kelemahan Agus di sektor makro ekonomi akan ditutup oleh figur Anny Ratnawati yang merupakan pakar di bidang tersebut. “Anny telah bepengalaman di bidang ekonomi makro, maka dia akan menutup kelemahan Agus Martowardoyo untuk sementara ini,” jelas Purbaya.

Purbaya juga mengungkapkan, pasar sendiri pasti akan menerima kedua figur tersebut. Walaupun, menurut Purbaya akan cenderung wait and see untuk 1-2 bulan ke depan.

“Sampai nantinya Agus akan mengeluarkan statement di media dan mulai menetapkan kebijakan APBN 2011,” tuturnya.

Lebih lanjut Purbaya mengatakan pasar besok pasti akan jatuh namun hal ini tidak signifikan dipengaruhi oleh pergantian posisi Menteri Keuangan. “Lebih kepada impact global karena krisis Yunani,” tandasnya.

(dru/dnl)
Terseret Astra, IHSG ditutup anjlok 104,70 poin
Rabu, 19/05/2010 16:17:39 WIBOleh: Elsya Refianti
JAKARTA (Bisnis.com): Indeks harga saham gabungan (IHSG) pada penutupan sesi perdagangan II sore ini anjlok 104,70 poin atau 3,69% dibandingkan posisi penutupan kemarin sore hingga menyentuh level 2.729,48 setelah dibuka di posisi 2.833,69 tadi pagi.

Indeks bergerak pada kisaran 2.721,72 – 2.833,69.

Dari 402 saham perusahaan yang menopang indeks, hanya sebanyak 23 yang menguat, dengan 195 lainnya melemah dan 184 sisanya tidak bergerak.

Secara individu, saham Astra International memotori penurunan indeks pada bursa dengan kontribusi negatif 8,66 poin, disusul oleh Bank Central Asia (-6,14 poin), Bank Mandiri (-5,23 poin), dan Bank Rakyat Indonesia sebesar (-4,61 poin).

Sejumlah saham yang menahan penurunan indeks adalah Bank Pan Indonesia dengan kontribusi sebesar 0,60 poin, disusul oleh Panin Financial 0,15 poin, Rukun Raharja 0,12 poin, dan Charoen Pokphand Indonesia 0,10 poin.

Penurunan IHSG tercermin dari kontribusi yang ditunjukkan sembilan indeks sektoral yang ada di Bursa Efek Indonesia.

Sektor keuangan menjadi yang terdepan dalam menyumbang penurunan indeks sebesar minus 29,37%, diikuti oleh pertambangan (-18,29%), utilisasi infrastruktur (-11,29%), aneka industri (-10,00%), industri kimia dasar (-8,46%), consumer goods (-8,43%), jasa dan perdagangan (-7,06%), pertanian (-3,88%), dan sektor konstruksi properti (-3,02%).

Pelemahan IHSG pada penutupan sore ini juga terjadi pada Indeks BISNIS-27, yang ditutup turun 10,19 poin atau 3,90% menjadi 251,54 dari posisi pembukaan pagi tadi di 261,67. Indeks BISNIS-27 bergerak pada kisaran 250,64 – 261,67.(er)
Rabu, 19/05/2010 16:11 WIB
IHSG Terhempas 104 Poin
Wahyu Daniel – detikFinance

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup terhempas 104 poin, terseret arus negatif dari bursa regional yang semuanya berada di zona negatif. Perdagangan saham hari ini dipenuhi tekanan jual dari para pelaku pasar.

Mengawali perdagangan, IHSG dibuka langsung melorot 29,152 poin (1,03%) ke level 2.805,034. Pelemahan IHSG terus berlanjut dan pada pukul 09.35 WIB, IHSG melorot hingga 46,641 poin (1,65%) ke level 2.787,545.

Pelaku pasar tampak hati-hati di tengah ketidakpastian pasar finansial pasca krisis utang Eropa khususnya yang terjadi di Yunani. Hal ini meliputi sentimen negatif bursa saham. Hampir semua saham unggulan di bursa didera tekanan jual dan terkoreksi.

Pada perdagangan Rabu (19/5/2010), IHSG jatuh jatuh 104,702 poin (3,69%) ke level 2.729,48. Indeks LQ 45 turun 22,524 poin (4,12%) ke level 524,470.

Perdagangan berjalan cukup ramai dengan frekuensi transaksi di seluruh pasar 115.777 kali pada volume 5,54 miliar lembar saham senilai Rp 4,985 triliun. Sebanyak 27 saham naik, 190 saham turun, dan 42 saham stagnan.

Bursa-bursa regional Asia semuanya berada di zona merah pada perdagangan hari ini:
Indeks Shanghai turun 6,98 poin (0,27%) ke level 2.587,81.
Indeks Hang Seng terhempas 365,96 poin (1,83%) ke level 19.578,98.
Indeks Nikkei 225 jatuh 55,8 poin (0,54%) ke level 10.186,84.
Indeks Strait Times turun 68,35 poin (2,4%) ke level 2.776.
Saham-saham yang naik harganya di top gainer antara lain Waran Inovisi (INVS-W) naik Rp 280 menjadi Rp 280, Sumi Indo Kabel (IKBI) naik Rp 220 menjadi Rp 1.130, Unggul Indah (UNIC) naik Rp 200 menjadi Rp 2.550, Rukun Raharja (RAJA) naik Rp 140 menjadi Rp 750, Bekasi Asri Pemula (BAPA) naik Rp 50 menjadi Rp 195.

Sedangkan saham-saham yang turun harganya di top loser antara lain Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 2.100 menjadi Rp 34.800, Astra Internasional (ASII) turun Rp 1.900 menjadi Rp 39.600, United Tractor (UNTR) turun Rp 1.100 menjadi Rp 17.000, Indocement (INTP) Rp 1.150 menjadi Rp 14.400, Bukit Asam (PTBA) turun Rp 1.000 menjadi Rp 17.050.
(dnl/ang)

19/05/2010 – 12:05
Saham Unggulan Merahkan Bursa Siang
Ahmad Munjin

(inilah.com/Wirasatria)
INILAH.COM, Jakarta – Lantai bursa kembali memerah, seiring anjloknya bursa regional dan global. Koreksi yang melempar saham-saham unggulan ke zona negatif ini, akan berlangsung hingga penutupan.

Pada perdagangan Rabu (19/5) sesi siang, IHSG ditutup melemah 48,51 poin (1,71%) ke level 2.785,68. Indeks saham unggulan LQ45 juga turun 10,899 poin (1,99%) ke level 536,1.

Perdagangan di Bursa Efek Indonesia tidak terlalu ramai dengan volume transaksi tercatat hanya mencapai 2,492 miliar lembar saham, senilai Rp 1,761, triliun dan frekuensi 55.836 kali. Hanya saham 28 menguat, sedangkan 164 saham melemah dan 48 saham stagnan.

Semua sektor membukukan pelemahan, dipimpin sektor aneka industri yang anjlok 3,1%. Disusul sektor tambang yang turun 2,3%, finansial 1,8%, manufaktur 1,7%, perdagangan 1,6%, properti dan industri dasar yang turun 1,5%. Demikian pula sektor infrastruktur yang melemah 1,3%, perkebunan 1,2% dan konsumsi 0,7%.

Beberapa saham unggulan yang melemah antara lain PT Indo Tambangraya Megah (ITMG) anjlok Rp1.400 ke Rp35.500, PT Astra International (ASII) turun Rp1.400 ke Rp40.100, Gudang Garam (GGRM) melemah Rp500 ke Rp30.600, PT TB Bukit Asam (PTBA) turun Rp450 ke Rp17.600, PT United Tractor (UNTR) melemah Rp350 ke Rp17.750 dan Indocement (INTP) turun Rp300 ke Rp15.250.

Alfiansyah, analis Sinarmas Securities memperkirakan, pergerakan indeks hingga penutupan sore nanti akan melemah seiring negatifnya laju bursa global. “Indeks akan mengarah ke level support 2.780 dan 2.812-2.850 sebagai level resistance-nya,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Rabu (19/5).

Menurutnya, tekanan bursa global masih cukup kuat bagi IHSG . Apalagi, jika bursa Eropa siang ini dibuka dalam posisi negatif. Hal ini akan semakin menegaskan posisi indeks di jalur negatif. “Sebaliknya, jika pasar Eropa dibuka positif, indeks hanya akan melemah terbatas,” ujarnya.

Ia menilai, bursa domestik lebih terpengaruh faktor eksternal daripada internal. Apalagi saat ini tidak ada sentimen positif dari dalam negeri yang mampu mengatasi tekanan itu. “Pasar finansial global saat ini masih menunggu kejelasan penyelesaian krisis Yunani yang masih tetap alot,” paparnya.

Alfiansyah menambahkan, saat ini pasar masih mencermati, apakah krisis yang terjadi di Uni Eropa itu akan bisa ditanggulangi setelah adanya komitmen dana talangan senilai 750 miliar euro dari Uni Eropa dan IMF (International Monetary Fund). Jika Yunani tidak bisa diatasi, akan menjadi kekhawatiran bagi negara Eropa lainnya.

“Diduga akan merambah hingga ke Eropa Timur dan itulah yang ditakutkan. Karena itu, permainan pasar baik domestik maupun global saat ini sangat spekulatif,” ulasnya.

Dalam kondisi ini, Alfiansyah merekomendasikan positif saham-saham defensif dan berfundamental kuat. Saham-saham pilihannya adalah PT Indofood Sukses Makmur (INDF), PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), dan PT Jasa Marga (JSMR). “Bagi yang sudah memilikinya lebih baik hold, dan buy on weakness bagi yang belum,” imbuhnya. [ast/mdr]
Rabu, 19/05/2010 09:40 WIB
IHSG Jatuh di Bawah 2.800
Nurul Qomariyah – detikFinance

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah langsung mengalami koreksi mengikuti koreksi yang dialami bursa-bursa regional. IHSG bahkan langsung terpuruk di bawah 2.800.

Pada perdagangan Rabu (19/5/2010), IHSG dibuka langsung melorot 29,152 poin (1,03%) ke level 2.805,034. Pelemahan IHSG terus berlanjut dan pada pukul 09.35 WIB, IHSG melorot hingga 46,641 poin (1,65%) ke level 2.787,545.

Sementara nilai tukar rupiah juga dibuka melemah ke level 9.160 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level 9.110 per dolar AS.

Investor di pasar global kini kembali mewaspadai dampak dari krisis Yunani yang dikhawatirkan bisa terus menekan pertumbuhan ekonomi Eropa dan dunia. Kekhawatiran investor bertambah setelah kemarin Jerman melarang naked short selling untuk 10 saham institusi finansial penting negara tersebut. Naked short selling terjadi ketika investor menjual saham-saham tanpa meminjamnya terlebih dahulu.

Bursa-bursa regional sebagian besar juga mengalami koreksi, mengikuti koreksi yang terjadi di Wall Street tadi malam.
Indeks Shanghai melorot 335,50 poin (1,68%) ke level 19.609,44.
Indeks Nikkei-225 melemah 163,61 poin (1,60%) ke level 10.079,03.
Indeks Strait Times melemah 44,92 poin (1,58%) ke level 2.799,43.

(qom/qom)
Lagi, IHSG Anjlok di Bawah 2.800
Rabu, 19 Mei 2010 – 09:35 wib

Candra Setya Santoso – Okezone

JAKARTA – Pagi ini, indeks harga saham gabungan (IHSG) kembali terkoreksi dan bertengger di bawah 2.800. Pelemahan IHSG kali ini, terimbas bursa kawasan global dibuka terkoreksi sebesar 35 poin.

IHSG pada pembukaan perdagangan Rabu (19/5/2010) pagi anjlok 35,789 poin atau 1,26 persen ke 2.798,397. Indeks LQ45 melemah 10,831 poin ke 536,163 dan Jakarta Islamic Indeks (JII) ikut melemah 7,924 poin ke 441,947.

Nilai transaksi tercatat sebesar Rp154,8 miliar dengan volume sebanyak 202,3 juta lembar lot saham. Di samping itu, sebanyak enam saham melemah, 78 saham menguat, dan 19 saham jalan di tempat alias stagnan.

Saham dari berbagai sektor-sektor di dalam negeri pun seluruhnya tercatat melemah, dengan pelemahan terbesar dipimpin dari sektor pertambangan mencapai 38,17 poin. Diikuti dengan pelemahan dari sektor perkebunan sebesar 22,65 poin, sektor infrastruktur terkoreksi 6,29 poin ke 660,21, dan sektor perbankan melemah 5,6 poin menjadi 354,33..

Saham-saham yang dibuka menguat (top gainer), antara lain saham PT Unggul Indah Cahaya Tbk (UNIC) naik Rp200 ke Rp2.550, PT Charoen Pokhphand Indonesia Tbk (CPIN) menguat Rp50 ke Rp2.775, PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) naik Rp40 ke Rp650, PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID) menguat Rp30 ke Rp1.000, dan PT Pan Brothers Tbk (PBRX) naik Rp25 menjadi Rp295

Sementara saham yang dibuka melemah (top losser) adalah PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) turun Rp1.400 ke Rp35.500, PT Astra International Tbk (ASII) melemah Rp1.100 ke Rp40.400, PT United Tractors Tbk (UNTR) turun Rp500 ke Rp17.600, dan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) terpangkas Rp400 ke Rp15.150.(css)
Rabu, 19/05/2010 07:56:58 WIB
MSCI Asia Pacific Index melemah 0,9%
Oleh: Bloomberg

JAKARTA (Bloomberg): Saham Asia mengalami penurunan yang turut mengoreksi MSCI Asia Pasifik Index, setalah Jerman melakukan menghentikan penurunan harga aset Eropa yang memicu penurunan euro dan minyak mentah.

MSCI Asia Pacific Index turun sebesar 0,9% menjadi 115,33 pada pagi ini di Tokyo.

Indeks tersebut telah turun sebanyak 11% dari level tingginya tahun ini pada 15 April lalu akibat kekhawatiran akan menyebarnya krisis utang Eropa.

Penurunan sebesar 10% adalah level yang dianggap oleh beberapa analis sebagai sebuah koreksi. (ln)
IHSG sore ditutup mendaki 0,52% ke 2.834,18
Selasa, 18/05/2010 16:09:23 WIBOleh: Elsya Refianti
JAKARTA (Bisnis.com): Indeks harga saham gabungan (IHSG) pada penutupan sesi perdagangan II sore ini menguat 14,71 poin atau 0,52% menjadi 2.834,18 dari posisi 2.819,47 kemarin sore.

Indeks bergerak pada kisaran 2.818,83 – 2.837,56.

Dari 402 saham perusahaan yang menopang indeks, sebanyak 101 menguat, 83 melemah dan 218 tidak mengalami pergerakan harga.

Secara individu, saham Bank Mandiri memotori penguatan indeks pada bursa dengan kontribusi sebesar 3,92 poin, disusul oleh Bank Central Asia 3,07 poin, Bank Rakyat Indonesia 2,30 poin, dan Bank Danamon sebesar 1,57 poin.

Sejumlah saham yang menahan penguatan indeks adalah Plaza Indonesia dengan kontribusi sebesar minus 2,32 poin, disusul oleh Astra International (-2,04 poin), Indo Tambangraya (-0,92 poin), dan Bhakti Investama (-0,74 poin).

Penguatan IHSG juga tercermin dari kontribusi yang ditunjukkan oleh enam indeks sektoral yang ada di Bursa Efek Indonesia.

Sektor keuangan menjadi yang terdepan dalam menyumbang penguatan indeks sebesar 85,12%, diikuti oleh infrastruktur utilisasi 25,30%, industri kimia dasar 11,07%, pertambangan 11,01%, pertanian 4,87%, dan konstruksi properti 3,88%.

Penguatan IHSG pada penutupan sore ini juga terjadi pada Indeks BISNIS-27, yang ditutup naik 1,89 poin atau 0,73% dari posisi penutupan kemarin sore menjadi 261,74. Indeks BISNIS-27 bergerak pada kisaran 259,98 – 262,45.(er)
Indeks diduga kembali pulih
Selasa, 18/05/2010 06:50:28 WIBOleh: Bastanul Siregar
JAKARTA (Bisnis.com): Melemahnya bursa dunia akibat dampak krisis utang Yunani yang lebih besar dari perkiraan sebelumnya mengakibatkan indeks Dow Jones melemah 1,51% ke 10.260,16 pada penutupan pekan lalu.

Pelemahan itu turut menekan indeks harga saham gabungan (IHSG). Bahkan pada awal pembukaan IHSG telah melorot tipis ke level 2.857,99 dan sempat berada pada level 2.782,81 sebelum akhirnya ditutup pada level 2.819,47, terkoreksi 1,36%.

Analis Sinarmas Sekuritas Alfiansyah menyatakan IHSG masih berpeluang menguat pada perdagangan hari ini, mengingat pada akhir perdagangan kemarin tekanan terhadap IHSG terlihat berkurang menyusul positifnya indeks bursa Eropa saat pembukaan.

“Kami prediksi indeks global hari ini akan bergerak positif seiring dengan penguatan IHSG. Posisi support IHSG di level 2.770 dan resistance 2.887,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima Bisnis.com, kemarin.

Saat ini indeks berada dalam tahap konsolidasi. Investor lebih memilih bersikap wait and see dalam perdagangan kemarin akibat turunnya Dow Jones dan dari dalam negeri terkait dengan siapa yang akan menggantikan Menkeu Sri Mulyani.

Pasar berharap agar menteri keuangan baru bisa tetap fokus melanjutkan apa yang telah dimulai sebelumnya. Ketidakpastian siapa pengganti Sri Mulyani semakin mempertebal dampak negatif bagi pergerakan indeks. (Indra, analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit)
18/05/2010 – 05:52
Pasar Modal Pekan Ini
Goyangan Bursa Masih akan Liar
Bastaman

(inilah.com/Agung Rajasa)
INILAH.COM, Jakarta – Meski diramalkan akan mengalami koreksi, ternyata selama sepekan terakhir Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berada di jalur menguat. Akhir pekan lalu, indeks berhasil nangkring di level 2.858 atau menguat 119 poin ketimbang posisi sepekan sebelumnya.

Lantas, seperti apa perdagangan saham pekan ini? Sejumlah analis meramalkan, dalam sepekan ke depan indeks akan cenderung menurun. Lihat saja pada perdagangan Senin (17/5) IHSG melemah 38,915 poin (1,36%%) ke level 2.819,470. Indeks saham unggulan LQ45 juga terkoreksi 8,147 poin (1,47%) ke level 542,851.

Krisis yang terjadi di Yunani dan Spanyol serta belum adanya kepastian pengganti Menteri Keuangan Sri Mulyani membuat pelaku pasar ragu untuk bertransaksi. Apalagi, pekan lalu, perdagangan saham di Wall Street melemah akibat buruknya kinerja sektor ritel serta pembatasan fee untuk penerbit kartu kredit. Akibatnya, Senin kemarin bursa di kawasan Asia Pasifik melemah dalam kisaran 0,34-2,54%.

Taksiran para analis, pekan ini indeks akan berfluktuasi di kisaran 2.805-2.900. Kendati keadaannya akan memburuk, tak berarti peluang untuk mengais untung di bursa tertutup.

Sejumlah analis malah merekomendasikan untuk segera mengoleksi saham yang harganya sudah terjerembab. Para analis juga mengingatkan investor untuk membeli saham sector consumer goods yang belakangan ini menunjukan tren naik.

Seperti PT Indofood (INDF), PT Unilevel (UNVR), dan PT Kalbe Farma (KLBF) adalah saham yang menurut penilaian para analis cukup likuid. Seorang analis dari Kresna Securities bahkan yakin, INDF bakal bergerak di rentang Rp3.500-3.850.

Sementara itu untuk saham UNVR, harganya diperkirakan bergerak di kisaran Rp14.700-16.500. Sedang KLBF antara Rp1.900-2.200. “Tapi sebaliknya investor bermain jangka pendek karena arah perdagangan saham masih cenderung konsolidatif,” katanya.

Para analis juga mengingatkan investor yang ingin melirik saham komoditi untuk lebih bersabar. Sebab, beberapa saham komoditi diyakini masih akan terus mengalami koreksi. [mdr]
IHSG sore perkecil penurunan jadi 1,36%
Senin, 17/05/2010 16:15:00 WIBOleh: Elsya Refianti
JAKARTA (Bisnis.com): Indeks harga saham gabungan (IHSG) pada penutupan sesi perdagangan II sore ini memperkecil penurunannya dibandingkan dengan penutupan jeda siang tadi, dengan menyelam 38,91 poin atau 1,36% menjadi 2.819,47.

Indeks bergerak pada kisaran 2.780,39 – 2.857,98.

Dari 402 saham perusahaan yang menopang indeks, hanya 24 yang menguat, 189 melemah dan 189 lainnya tidak mengalami pergerakan harga.

Secara individu, saham Astra International memimpin penurunan indeks pada bursa dengan kontribusi minus 4,07 poin, disusul oleh Perusahaan Gas Negara (-3,05 poin), Indocement Tunggal Prakarsa (-2,78 poin), dan Bank Mandiri (-2,61 poin).

Sejumlah saham yang menahan penurunan indeks sore ini adalah Sumber Alfaria Trijaya dengan kontribusi sebesar 0,99 poin, disusul oleh Pakuwon Jati 0,25 poin, Bank NISP 0,21 poin, dan Gudang Garam 0,12 poin.

Penurunan IHSG tercermin dari kontribusi yang ditunjukkan seluruh dari sembilan indeks sektoral yang ada di Bursa Efek Indonesia.

Sektor pertambangan menjadi yang terdepan dalam menyumbang penurunan indeks sebesar minus 25,27%, diikuti oleh infrastruktur utilisasi (-16,41%), aneka industri (-12,47%, industri kimia dasar (-11,66%), consumer goods (-10,63%), pertanian (-9,86%), jasa dan perdagangan (-4,49%), konstruksi properti (-4,26%), dan keuangan (-3,71%).

Pelemahan IHSG pada penutupan sore ini juga terjadi pada Indeks BISNIS-27, yang ditutup turun 3,29 poin atau 1,25% menjadi 259,85 dari posisi pembukaan pagi tadi di 263,08. Indeks BISNIS-27 bergerak pada kisaran 255,65 – 263,08.(er)
17/05/2010 – 16:09
IHSG Ditutup Turun 38,92 Poin

INILAH.COM, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin (17/5) ditutup turun 38,92 poin (1,36%) ke level 2.819 karena masih terimbas bursa regional yang negatif.

Pelemahan indeks saham hari ini dipicu turunnya 191 saham. Sementara saham 34 emiten masih naik. Sementara 52 saham masih terpantau stagnan.

Untuk volume perdagangan mencapai 3,1 miliar unit saham dengan nilai transaksi Rp3,1 triliun dengan Indeks saham JII turun 8,3 poin ke level 448,79, indeks saham LQ45 juga turun 8,1 poin ke level 542,85.

Adapun saham-saham yang naik adalah Unggul Indah Cahaya(UNIC) naik Rp350 ke Rp2.500, Toba Pulp Lestari (INRU) naik Rp85 ke Rp550, Pan Pacific International (APIC) naik Rp45 ke Rp240, Bank OCBC NISP (NISP) naik Rp30 ke Rp940.

Sementara itu, saham-saham yang turun adalah Gudang Garam (GGRM) turun Rp1.700 ke Rp29.750, Astra International (ASII) turun Rp1.250 ke Rp41.350, Indo Tambangraya Megah (ITMG) turun Rp950 ke Rp37.000, Astra Agro Lestari (AALI) turun Rp750 ke Rp20.350, Astra Otoparts (AUTO) turun Rp700 ke Rp13.500, Indocement Tunggal Prakasa (INTP) turun Rp450 ke Rp15.350, Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) turun Rp400 ke Rp17.800. [hid]
TOKYO, May 17, 2010 (AFP)
The euro tumbled to a four-year low of 1.2306 dollars in Tokyo trade Monday as persistent fears over eurozone debt continued to hammer the single currency.
Senin, 17/05/2010 09:44 WIB
IHSG Anjlok Tajam, Rupiah Adem Ayem
Indro Bagus – detikFinance
Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka anjlok tajam pada perdagangan hari ini seiring dengan tekanan jual yang juga terjadi di bursa-bursa regional. Nilai tukar rupiah dibuka stagnan.

Pada perdagangan Senin (17/5/2010), IHSG dibuka melemah tipis ke level 2.857,989. Namun perdagangan langsung mengalami koreksi tajam hingga sempat menyentuh level 2.800,356, turun 58 poin dari penutupan akhir pekan lalu di level 2.858,385.

Pada perdagangan pre opening, IHSG juga dibuka langsung anjlok 30,768 poin (1,07%) ke level 2.827,617. Pelemahan IHSG terutama dipicu adanya aksi jual massif pada saham-saham unggulan di semua sektor.

Koreksi tajam IHSG terjadi pada volume dan nilai transaksi yang sangat tipis. Pola ini menunjukkan adanya posisi jual yang sangat besar tanpa diiringi dengan posisi beli yang memadai.

Hingga pukul 09.35 waktu JATS, IHSG berada di level 2.805,280, turun 53,105 poin (1,85%).

Sementara nilai tukar rupiah dibuka stagnan di level 9.110 per dolar AS, sama dengan posisi penutupan akhir pekan kemarin.

Bursa-bursa Asia juga seluruhnya mengalami koreksi di awal perdagangan hari ini:

Indeks Hang Seng anjlok 476,86 poin (2,38%) ke level 19.665,57.
Indeks Straits Times melemah 34,10 poin (1,19%) ke level 2.821,25.
Indeks Nikkei-225 turun 207,50 poin (1,98%) ke level 10.255,01.

(dro/qom)
Pasar Wait & See, IHSG Terancam Melemah
Senin, 17 Mei 2010 – 07:44 wib

Widi Agustian – Okezone

JAKARTA – Sikap wait and see pasar yang menunggu kepastian di tengah ketidakpastian ekonomi global tampaknya bakal membuat indeks harga saham gabungan (IHSG) bergerak mixed, dengan kecenderungan melemah.

“Awal pekan ini kami perkirakan indeks akan bergerak mixed dengan kecenderungan melemah,” kata analis saham Panin Sekuritas Purwoko Sartono kepada okezone di Jakarta, Senin (17/5/2010).

Dia menjelaskan, jika pola pergerakan indeks sekarang ini masih menunjukan pola konsolidasi. Di mana potensi pelemahan masih sangat mungkin terjadi.

“Investor terindikasikan masih melakukan wait and see terhadap perkembangan bursa regional di tengah menunggu ditunjuknya Menkeu yang baru,” jelasnya.

Menurutnya, IHSG akan berada pada kisaran support resistance di 2.815-2.865. Sementara itu, analisa Trimegah Securities menjelaskan jika kemungkinan IHSG melemah juga terbuka lebar. “Untuk hari ini indeks diperkirakan akan bergerak di sekira 2.836-2.877,” jelas Trimegah.

Pilihan saham antara lain PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF).

Sebelumnya, IHSG pada penutupan perdagangan Jumat akhir pekan menguat sebanyak 10,77 poin atau 0,38 persen ke 2.858,39. Indeks LQ45 naik 2,28 poin ke 551 dan Jakarta Islamic Indeks (JII) ikut naik 0,38 poin ke 457,14.

Nilai transaksi tercatat sebesar Rp2,7 triliun dengan volume sebanyak 3,33 miliar lembar lot saham. Di samping itu, sebanyak 106 saham melemah, 87 saham menguat, dan 84 saham jalan di tempat alias stagnan.(ade)

Senin, 17/05/2010
Tiga risiko: Eropa, Sri Mulyani, dan Sekgab
CATATAN AWAL PEKAN
Cetak
Goncangan perekonomian Eropa akibat Yunani adalah ilustrasi yang amat baik tentang animal spirits. Defisit anggaran Yunani mencapai 12.7% dari PDB, sedangkan defisit transaksi berjalannya 11.9%, sementara rasio utang terhadap PDB-nya 113%.

Dengan kondisi seperti ini Yunani praktis bangkrut, karena ia memiliki beberapa persoalan besar seperti masalah insolvency karena defisit yang begitu besar dan masalah likuiditas yang akhirnya menimbulkan tekanan di sistem perbankan. Sebenarnya ini telah berlangsung beberapa waktu.

Situasi semakin memburuk setelah akhir Maret 2010. Pada 4 Mei 2010 pasar keuangan dunia tiba-tiba anjlok, nilai euro juga jatuh ke tingkat terendah sejak 2009.

Tekanan terhadap sistem perbankan terlihat pada peningkatan EURIBOR spreads mendekati situasi 2008. Pemicunya: S&P menurunkan peringkat obligasi Yunani menjadi non-investment grade pada 27 April 2010.

Sinyal yang diberikan S&P ditangkap sebagai “informasi” bahwa krisis akan meluas. Muncul kekhawatiran bahwa akan ada risiko menular (contagion risk) ke Spanyol dan Portugal.

Akerlof dan Shiller di dalam bukunya Animal Spirits menulis, di dalam pasar keuangan ada kemungkinan terjadinya multiple equilibria. Mudahnya, kalau orang percaya akan satu hal, maka pasar keuangan akan membaik karena orang berduyun-duyun melakukan investasi di sana (equilibrium 1).

Di sisi lain, jika orang mulai kehilangan kepercayaan, pasar anjlok akibat orang menjual portofolionya (equilibrium 2). Di sini peran dari confidence menjadi amat penting, karena perilaku pelaku ekonomi di pasar keuangan mirip seperti reaksi rombongan binatang yang bergerak bersama-sama karena infromasi atau sinyal tertentu.

Akerlof dan Shiller di dalam bukunya Animal Spirits menulis, di dalam pasar keuangan ada kemungkinan terjadinya multiple equilibria. Mudahnya, kalau orang percaya akan satu hal, maka pasar keuangan akan membaik karena orang berduyun-duyun melakukan investasi di sana (equilibrium 1).

Di sisi lain, jika orang mulai kehilangan kepercayaan, pasar anjlok akibat orang menjual portofolionya (equilibrium 2). Di sini peran dari confidence menjadi amat penting, karena perilaku pelaku ekonomi di pasar keuangan mirip seperti reaksi rombongan binatang yang bergerak bersama-sama karena infromasi atau sinyal tertentu.

Untuk mencegah situasi yang semakin memburuk, pada 9 Mei 2010 dilakukan program stabilisasi (bailout) oleh Uni Eropa, IMF dan European Central Bank (ECB). Jumlah yang diberikan mencapai 750 miliar euro. Sehari setelah bailout diberikan pasar keuangan kembali membaik dan kepercayaan mulai pulih. Ini adalah ilustrasi yang baik sekali mengenai multiple equilibria (equilibrium 1).

Akankah bantuan ini menyelesaikan masalah? Saya melihat bailout UE dan IMF akan mampu mengurangi contagion risk di Spanyol dan Portugal dan juga membantu mengatasi persoalan likuiditas di sistem perbankan.

Namun, ia tak mampu mengatasi persoalan insolvency akibat defisit yang besar karena kebijakan fiskal yang ketat dengan pemotongan pengeluaran pemerintah secara tajam memiliki risiko politik.

Disamping itu pengetatan fiskal yang juga akan membawa dampak kepada penurunan pertumbuhan ekonomi di Yunani, yang akan berdampak kepada pertumbuhan ekonomi di UE.

Hal yang penting-dan banyak dikhawatirkan oleh para investor-adalah risiko restrukturisasi utang atau kemungkinan untuk melakukan haircut. Dengan melakukan haircut atau restrukturisasi utang, maka rasio utang/GDP di Yunani dapat diturunkan dengan tajam. Namun, ini akan membuat banyak institusi keuangan bangkrut dan membawa potensi terjadinya krisis keuangan di Eropa-bahkan jika berlebihan mungkin global.

Disisi lain, jika tidak dilakukan haircut saya sulit membayangkan bagaimana penyelesaian masalah insolvency di Yunani.

Dampak bagi RI

Bagaimana dampaknya kepada Indonesia? Perilaku animal spirits yang negatif, akibat informasi yang tak simetris, bisa muncul melalui tiga risiko: contagion risk zona euro, mundurnya Sri Mulyani, dan dibentuknya Sekretariat Gabungan (Sekgab) dari partai koalisi.

Dalam periode 4-7 Mei 2010, pasar modal jatuh sebesar 7.4%, nilai tukar berfluktuasi sangat tajam. Selain itu pemodal asing melakukan aksi jual secara signifikan dan nilai imbal hasil (yield) dari surat utang negara meningkat, yang mengakibatkan meningkatnya biaya utang pemerintah.

Risiko juga terlihat dari meningkatnya credit default swap (CDS) secara tajam. Artinya risiko pertama-contagion risk dari zona euro-memiliki potensi mengganggu ekonomi Indonesia.

Yang perlu diperhatikan adalah dampak terhadap Indonesia relatif lebih dalam dibandingkan dengan negara di sekitar kita. Di sini saya kira risiko kedua yaitu faktor pengunduran diri Sri Mulyani sedikit banyak punya pengaruh.

Investor menganggap bahwa risiko Indonesia dibandingkan dengan negara lain relatif meningkat. Namun, setelah program bailout dilakukan di Eropa, situasi di Indonesia kembali membaik.

Bahkan, dengan risiko yang lebih besar di Eropa dan return yang relatif kecil di AS, maka pilihan investasi di emerging markets (EM) tetap merupakan pilihan rasional. Dan di antara EM, dengan kebijakan uang ketat di China, kerusuhan politik di Thailand dan dinamika politik di Malaysia, saya melihat Indonesia masih akan tetap menjadi tujuan investasi.

Dengan kata lain, faktor pengunduran diri Sri Mulyani mungkin punya dampak, tetapi ia tak akan membuat ekonomi negeri ini runtuh.

Analisis di atas mengatakan, selama likuditas global masih melimpah, dan selama risiko relatif Indonesia masih lebih kecil dibandingkan dengan negara lain, maka investor tak akan meninggalkan Indonesia.

Tak perlu khawatir dalam waktu pendek. Namun, persoalan menjadi lain bila likuiditas global menjadi ketat akibat restrukturisasi utang yang dilakukan untuk Yunani. Disini investor akan melakukan review untuk memilih prioritas investasi mereka.

Mereka akan menempatkan investasi di negara yang risikonya yang relatif kecil. Bila kita melihat bagaimana CDS Indonesia meningkat dan rupiah berfluktuasi sangat tajam dalam waktu sangat singkat, maka risiko Indonesia memang cukup besar. Dalam konteks ini investor akan melihat perspektif yang lebih panjang.

Di sini peran dari risiko ketiga yaitu risiko yang muncul akibat dibentuknya Sekretariat Gabungan (Sekgab) Partai Koalisi menjadi relevan. Kesimpangsiuran informasi mengenai peran Sekgab, termasuk di dalam kebijakan bisa memicu perilaku animal spirits yang tidak terduga. Di satu sisi, perannya dikatakan hanya sebagai fasilitator untuk memperjuangkan kebijakan di parlemen.

SBY memudar?

Namun, disebutkan juga bahwa Sekgab akan terlibat sejak awal dalam proses kebijakan. Investor yang mengikuti Indonesia sangat mungkin mempersepsikan ini-seperti banyak ditulis oleh para analis politik-sebagai memudarnya kekuasaan Presiden SBY secara de facto.

Argumen ini bisa saja salah, tetapi justru informasi yang salah kerap memicu animal spirits menuju keseimbangan yang buruk (ingat saja bagaimana bank runs bisa terjadi karena informasi yang salah).

Yang menjadi kekuatiran adalah bagaimana prospek reformasi ekonomi ke depan. Jika peran dari Sekgab masuk begitu jauh dalam proses pembuatan kebijakan, apakah reformasi akan berjalan jika ia bersentuhan dengan kepentingan personel-personel di Sekgab?

Tentu perlu dicatat, Sekgab sendiri tak monolitik Di dalam kondisi likuiditas yang melimpah, di mana return dari investasi di Indonesia lebih besar dibandingkan dengan risiko reformasi yang terputus, maka keputusan investor adalah tetap masuk ke Indonesia dan bertahan disini.

Minggu, 16/05/2010 17:17 WIB
IHSG Masih Dihantui Krisis Utang Yunani
Indro Bagus – detikFinance
Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih berada dalam tekanan sentimen negatif krisis utang Yunani pada pekan mendatang. Koreksi tajam bursa Wallstreet dan Eropa di penghujung pekan kemarin bakal menghantui pergerakan bursa global.

Sentimen negatif krisis utang Yunani kembali mencuat tepat di awal bulan Mei 2010. Setelah hampir seluruh bursa global mengalami penguatan hingga mencapai klimaks pada akhir April 2010, mendadak isu utang Yunani memukul jatuh bursa-bursa global.

Pada perdagangan pekan pertama Mei 2010, seluruh bursa-bursa global berada dalam tekanan jual yang sangat hebat, sehingga membuat koreksi yang terlalu dalam. Ketika IMF dan Uni Eropa sepakat mengucurkan dana sebesar US$ 1 triliun pun tak mampu membuat indeks-indeks saham global kembali ke posisinya di akhir April 2010.

Malah, di akhir pekan kemarin kekhawatiran status utang Yunani kembali menghantui bursa-bursa Barat. Pada penghujung pekan kemarin, indeks-indeks wallstreet dan Eropa anjlok cukup tajam antara 1-3%.

Jika diakumulasi, seluruh indeks-indeks bursa utama dunia merosot antara 3-6% terhitung sejak awal Mei 2010.

Indeks Dow Jones ditutup di level 10.620,16 di akhir pekan kemarin, turun 3,52% dari akhir April 2010 di level 11.008,61.
Indeks FTSE 100 (Inggris) ditutup di level 5.262,90 di akhir pekan kemarin, turun 5,22% dari akhir April 2010 di level 5.553,30.
Indeks Nikkei 225 ditutup di level 10.462,51 di akhir pekan kemarin, turun 5,38% dari akhir April 2010 di level 11.057,40.
Indeks Strait Times ditutup di level 2.855,21 di akhir pekan kemarin, turun 4,01% dari akhir April 2010 di level 2.974,61.
Indeks Hang Seng ditutup di level 20.145,43 di akhir pekan kemarin, turun 4,56% dari akhir April 2010 di level 21.108,59.
Indeks Shanghai ditutup di level 2.696,63 di akhir pekan kemarin, turun 6,06% dari akhir April 2010 di level 2.870,61.

Nasib IHSG tak berbeda. Tekanan jual melanda IHSG sejak perdagangan awal Mei 2010. Pada pekan pertama Mei, IHSG mengalami koreksi sebesar 177,919 poin (5,98%) dari level 2.971,252 di akhir April 2010 ke level 2.739,333 di akhir 7 Mei 2010.

Koreksi tajam IHSG di pekan pertama Mei diiringi dengan keluarnya dana asing sebesar Rp 1,774 triliun (netto). Pada periode ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sempat merosot ke kisaran 9.300/US$.

Pada perdagangan pekan kedua Mei 2010 atau pekan kemarin, IHSG mulai pulih dari koreksi. IHSG ditutup di level 2.858,385 pada 14 Mei 2010, naik 119,052 poin (4,34%) dari penutupan 7 Mei 2010 di level 2.793,333.

Dana asing pun kembali masuk meskipun hanya sebesar Rp 956 miliar. Jika diakumulasi, IHSG mengalami koreksi sebesar 112,867 poin (3,79%) dari posisi akhir April 2010 di level 2.971,252 ke level 2.858,385 pada 14 Mei 2010.

Total aksi beli asing selama dua pekan Mei 2010 sebesar Rp 12,252 triliun, sedangkan aksi jual asing sebesar Rp 13,070 triliun. Nilai jual bersih asing (foreign net sell) pada periode yang sama sebesar Rp 818 miliar.

Meskipun IHSG berhasil mengangkat kembali posisinya ke level 2.800-an, namun tekanan sentimen bursa global sepertinya masih akan menghantui pergerakan IHSG pekan depan, terutama mengingat koreksi indeks Dow Jones dan Eropa cukup dalam pada perdagangan akhir pekan kemarin.

Maklum saja, aktivitas investor asing di Bursa Efek Indonesia (BEI) sangat mempengaruhi posisi IHSG. Kebanyakan investor domestik masih menggantungkan langkah investasinya pada asing.

Dan seperti biasa, pembukaan indeks Nikkei 225 pada perdagangan 17 Mei 2010 akan menentukan arah bursa-bursa di kawasan Asia. Sebagai bursa yang dibuka paling pertama setiap hari, posisi Nikkei 225 sering dijadikan acuan investasi di kawasan Asia, termasuk pergerakan IHSG.

(dro/dro)
Sabtu, 15/05/2010 16:36:54 WIB
Bursa Asia tetap gagah di tengah krisis Eropa
Oleh: Bloomberg
JAKARTA (Bloomberg): Bursa Asia mencatatkan kenaikan mingguan tertinggi dalam lebih dari sebulan terakhir karena meningkatnya pendapatan perusahaan serta meredanya kekhawatiran bahwa krisis utang Eropa akan mengganggu pemulihan ekonomi global.

Saham Tencent Holdings Ltd, perusahaan internet terbesar di China berdasarkan nilai pasar, melonjak 6,2% pekan ini seiring pendapatan perusahaan yang meningkat. Sementara itu, saham Isuzu Motord Ltd juga melambung 11% di Tokyo disebabkan naiknya prediksi pendapatan mereka lebih dari dua kali lipat. Saham Australia & New Zealand Banking Group Ltd naik 4,5% karena pihak berwenang Uni Eropa telah mengumumkan paket pinjaman bagi negara Eropa yang sarat dengan krisis utang.

Sementara itu, indeks Asia Pasifik MSCI menguat sekitar 1,6% menjadi 120.00 pekan ini. Kenaikan ini adalah yang tertinggi dalam periode yang akan berakhir 4 April. Indeks MSCI telah jatuh 7,1% dari level tinggi selama 20 bulan pada 15 April. Penurunan ini dipicu oleh krisis utang Eropa dan munculnya kekhawatiran bahwa langkah China dalam meredam inflasi justru akan mengganggu tingkat kepercayaan dalam pemulihan ekonomi global.

“Pesan yang tersirat dari kondisi ekonomi sekarang serta laporan pendapatan perusahaan adalah bahwa sekarang kita berada dalam jalur pemulihan ekonomi. Gangguan yang terjadi di Uni Eropa dalam beberapa pekan terakhir dapat mengganggu proses pemulihan. Namun langkah yang telah diambil untuk mengatasi krisis tersebut mengartikan bahwa proses pemulihan tidak akan serta merta berhenti,” ujar Prasad Patkar yang membantu mengelola aset sebesar US$1,7 miliar di Platypus Asset Management di Sydney.

Indeks Austalia S&P/ASX 200 serta indeks Korea Selatan Kospi menguat 2,9% pekan ini. Sementara itu, indeks Nikkei 225 menguat 0,9% di Tokyo.

Indeks Philippines Stock Exchange melambung 6%, kenaikan mingguan terbesar dalam setahun seiring terpilihnya Beniqno Aquino sebagai presiden dengan suara mutlak berhasil meredakan kekhawatiran akan gangguan dalam hasil pemilu.

Para analis mengharapkan bahwa pendapatan tiap saham dari perusahaan yang menopang indeks Asia Pasifik MSCI akan naik 53% dalam 12 bulan mendatang, level ini dibandingkan dengan 26% yang terjadi di indeks S&P 500 dan 38% yang terjadi di indeks Stoxx Europe 600.

Saham Australia & New Zealand Banking naik 4,2% menjadi A$22,81 sementara saham Westpac Banking Corp menguat 3% menjadi A$24,89. Saham National Bank Ltd juga menguat 3,2% menjadi A$25.37.

Pada 11 Mei, Shanghai Composite Index memasuki fase kelesuan bursa setelah anjlok 21% dari level tinggi sejak 23 November seiring kekhawatiran akan langkah intensifikasi China untuk menenangkan industri property mereka. Biro statistic China pekan ini menyatakan bahwa harga konsumen meningkat di bulan April dalam laju tercepat selama 18 bulan. Harga property juga melonjak, mencatat rekor 12,8%. (t02/msw)
14/05/2010 – 05:52
Inilah 10 Saham Jagoan Buffett
Vina Ramitha

(inilah.com/Agung Rajasa)
INILAH.COM, Jakarta – Rumus investasi pebisnis handal sekelas Warren Buffett memang tak mungkin dibagikan begitu saja. Namun ada 10 saham pilihan dimana ia menanamkan uangnya. Apa saja?

Banyak pemodal AS yang berusaha mengikuti investasi ala Buffett. Beberapa telah menerapkannya, seperti Sequoia Fund yang dikelola Ruane, Cuniff & Goldfarb serta The Tweedy Browne. Namun begitu, tak semudah kelihatannya. Ketimbang repot, lebih baik Anda berinvestasi di 10 saham yang ia pilih.

Pertama adalah Coca-Cola Company yang earning per share-nya (EPS) 3,04 kali dengan price earning ratio (PER) 17,8 kali. Kapitalisasi pasar saham ini mencapai US$124,6 miliar. Bisnis korporasinya antara lain manufaktur, distribusi dan pasar minuman non-alkohol di bawah merek dagang Coca-Cola, Fanta dan Sprite.

Kemudian Wells Fargo, dengan EPS 1,66 kali dan PER 19,8 kali. Kapitalisasi pasar saham perusahaan finansial ini mencapai US$170,4 miliar. Perusahaan kartu kredit American Express juga masuk dalam pilihannya. EPS mencapai 1,53 kali dan PER 30 kali, dengan kapitalisasi pasar US$54,9 miliar.

Perusahaan consumer goods Procter & Gambler selanjutnya, EPS 4,19 kali dan PER 15,1 kali. Perusahaan yang menjual merek Olay, Duracell, Pampers dan banyak lagi ini kapitalisasi pasarnya US$184,1 miliar. Kraft Foods, produsen merek Oreo, Kraft, Nabisco, dan lainnya juga termasuk. EPS 2,04 kali, PER 14,8 kali dan kapitalisasi US$52 miliar.

Raksasa peritel AS Wal-Mart Stores sudah pasti dikoleksi Buffet. EPS-nya 3,70 kali dan PER 14,7 serta kapitalisasi pasar US$204 miliar. Peritel furnitur dan perusahaan asuransi Wesco Financial, dengan 7,60 kali dan PER 50,3 kali serta market capitalitation US$2,7 miliar.

Perusahaan energi ConocoPhillips juga berada di portofolio saham Buffet. EPS perusahaan ini 3,24 kali dan PER 17,3 kali, dengan kapitalisasi pasar US$83,3 miliar. Perusahaan produk kesehatan Johnson & Johnson dengan EPS 4,76 kali dan PER 13,5. Perusahaan yang juga kuat di research and development ini kapitalisasi pasarnya US$177,3 miliar.

Demikian pula US Bancorp, sebuah perusahaan finansial yang cukup besar di negaranya. EPS-nya mencapai 1,06 kali dan PER 25,8 kali. Sedangkan kapitalisasi pasarnya US$52,3 miliar.

Buffett adalah salah satu investor terkemuka sepanjang masa. Ia mempelajarinya dari seorang mentor bernama Benjamin Graham, analis legendaris di The Intelligent Investor. Graham mengelola sendiri perusahaannya, dengan konsep pembelian saham yang lebih murah ketimbang nilai intrinsiknya.

Berkat pelajaran berharga itu Buffet kini memiliki perusahaan investasinya sendiri, Berkshire Hathaway Inc. Dalam surat Direktur Berkshire yang ia buat pada 2009, perusahaan itu memiliki nilai buku yang rata-rata pertumbuhan 20,03% per tahun sejak didirikan pada 1965.

Untuk gaya investasinya yang sukses itu, teori pasar efisien yang biasa tak berlaku baginya. Buffett lebih dikenal untuk equity investment, di mana tak banyak yang melakukannya. Banyak buku telah terbit yang berusaha menganalisa pergerakan Buffet di bursa saham.

Namun rahasia itu tak terbongkar dan kemungkinan besar akan dibawanya hingga ke liang lahat. Buffett memang berani. Seperti baru-baru ini ketika masyarakat Amerika mengecam Goldman Sachs Group Inc. yang dituduh menipu nasabahnya, Buffett santai-santai saja. Padahal ia memiliki US$5 miliar di perusahaan itu. [mdr]
Asia stocks gain as jitters ease on Europe

2:54am EDT
By Umesh Desai
HONG KONG (Reuters) – Asian stocks hit highs for the week on Thursday after new austerity steps pledged by Portugal and Spain raised hopes that Europe’s debt crisis can be contained, while IBM’s strong profit forecast boosted tech shares.
The optimism was seen carrying into the opening of European markets with futures for the STOXX Europe 50, Germany’s DAX and France’s CAC 40 up 0.7 to 0.8 percent.
Despite edging higher against the dollar, the euro struggled near 14-month lows on worries the steep government spending cuts in parts of Europe would drag on the region’s already feeble economic growth.
Doubts about the euro’s long-term viability and worries about inflation continued to spur a flight into gold, which shot to a fresh record for a second day in a row.
The jump to $1,248.15 an ounce brought gold’s gains to nearly 20 percent since early February.
Spain said on Wednesday it will slash civil service pay and cut public jobs while Portugal’s finance minister told Reuters his government had identified new austerity measures to reduce its budget deficit, offering investors some reassurances that those countries are addressing deep-rooted fiscal problems.
“The euro zone problems had really weighed on the market, and reassurance after the Spanish announcement has allowed investors to turn their eyes to things like earnings and economic indicators for the first time in days,” said Toshiyuki Kanayama, a market analyst at Monex Inc in Tokyo.
Japan’s Nikkei gained 2.2 percent to a one week closing high as buyers snapped up tech stocks like Advantest, which makes micro chip testing equipment, and shares of other companies which have recently released upbeat earnings and sales outlooks. Advantest jumped 3.3 percent.
While worries remain that Greece and other governments will not be able to deliver on deeply unpopular spending cuts, there were signs that recent strains in global money markets were easing, further buoying investor confidence.
CREDIT MARKET REVIVAL
The three-month dollar London interbank offered rate (LIBOR) was unchanged after rising steadily during the height of the worries about Europe’s sovereign debt problems.
Debt capital markets also showed signs of revival in the region with Macau casino operator Melco Crown Entertainment selling a $600 million bond overnight following last week’s jitters over European debt which had issuers postponing their offerings.
By 0645 GMT, the MSCI Asia ex-Japan index was 2 percent higher after hitting its highest this week with technology , the best performing sector, outpacing the broad market with a 2.9 percent rise.
Tech bellwether has forecast it would roughly double its profit by 2015, fuelling bullishness on the sector.
Tech-heavy stock markets in South Korea and Taiwan rose over 2 percent. Both had seen several days of selling by foreign investors earlier in the week, but data showed overseas buyers were returning to Korean shares on Thursday.
In Taiwan, chipmakers Taiwan Semiconductor Manufacturing Co (TSMC) and UMC boosted the main TAIEX share index by as much as 2.4 percent.
“U.S. data and earnings have helped, meaning stocks are moving on news from abroad,” said Chu Yen-min, senior vice-president at KGI Securities in Taiwan. “This market correction is on international factors.”
The euro edged up 0.4 percent against the dollar, but traders said any gains were likely to be limited, with some seeing the currency falling below $1.2400 as it did in 2008. Traders cited market talk of decent bids in the euro at $1.2610/20 and also ahead of an option barrier at $1.2600.
“Financial markets overall have been returning to calm but the euro remains on a downtrend,” said Kosuke Hanao, head of treasury product sales at HSBC in Tokyo.
“Although the panic sell-off in the euro has eased at the moment, the downside risk still remains,” he said.
Meanwhile, the Australian dollar rose as high as $0.9020 after data showed the domestic economy added 33,700 jobs in April, handily beating forecasts for a 20,000 rise.
Despite the strong growth numbers, there was little impact on the Australian rates market since the central bank is expected to hold rates until November because of the European worries.
Crude oil futures were 6 cents lower at $75.59 a barrel, after falling to a low of $75.27.
(Additional reporting by Aiko Hayashi in TOKYO and Jonathan Standing in TAIPEI; Editing by Raju Gopalakrishnan)
10/05/2010 – 04:30
Inilah Saham Pilihan Hari Ini

(inilah.com/Agung Rajasa)
INILAH.COM, Jakarta – Meski banyak sentimen negatif diterima pasar, masih ada saham yang memiliki prospek bagus. Saat koreksi merupakan peluang untuk koleksi. Saham pilihan TLKM, INDF, BUMI dan BBCA.

Hal itu dikutip dari hasil riset HD Capital kemarin. “Apabila masih terjadi koreksi maka rekomendasinya akumulasi mengingat makro-fundamental masih bagus dan Dow berpotensi untuk rebound. Level support 2.700-2.600 dan resistance 2.750-2.840,” demikian rilis HD Capital.

Saham pilihan seperti saham Telekomunikasi Indonesia (TLKM) apabila terjadi pembalikan arah maka saham ini menjadi buruan investor. Saham TLKM direkomendasikan beli dengan target harga 7.800 dari penutupan pada akhir pekan lalu di 7.600.

Untuk saham Indofood Sukses Makmur (INDF) merupakan saham unggulan di sektor konsumer yang telah terkoreksi paling dalam. Kinerja 2010 masih akan terbantu oleh margin mie instan dan edible oil. Saham INDF ditargetkan beli dengan target harga di 3.700 dari penutupan akhir pekan lalu di 3.475. Investor bisa masuk pada harga 3.425 dan di harga 3.300.

Sementara saham Bumi Resources (BUMI) dengan target menghadapi koreksi IHSG dan optimisme hasil kinerja kuartal I 2010. Saham BUMI direkomendasikan beli dengan target harga 2.400 dari penutupan akhir pekan lalu di 2.300. Investor dapat beli di harga 2.225 atau di harga 2.175 dan target cut loss di 2.125.

Sedangkan saham Bank Central Asia (BBCA) dengan rencana pembagian dividen Rp110 per saham dapat menjadi alasan untuk akumulasi saham perbankan dengan market cap terbesar dan NPM09 tertinggi. saham BBCA direkomendasikan beli di 5.300 dari penutupan akhir pekan lalu di 4.925. Investor dapat masuk di harga 4.850 dan di 4.750 dan target cul loss di 4.700. [hid]
IHSG terdepak dari indeks teruntung dunia
Rebound tunggu penyelesaian utang Yunani

JAKARTA: Koreksi IHSG dalam 3 hari terakhir, mengiringi pengunduran diri Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, menggerus keuntungan (return) bursa domestik sebesar 4%.
Akibatnya, sepanjang tahun berjalan indeks harga saham gabungan (IHSG) tergusur dari posisi 10 besar indeks dengan gain (keuntungan) tertinggi di dunia, yang telah diduduki selama 2 tahun terakhir.

Data Bloomberg menyebutkan return IHSG sepanjang tahun berjalan pada 7 Mei 2010 tersisa sebesar 11,02%, atau hanya masuk dalam posisi ke-12 indeks bursa dengan gain tertinggi dunia.

Padahal, sehari sebelumnya return IHSG masih mencapai 13,51% dan bercokol pada posisi kedelapan dunia. Akhir tahun lalu, bursa Indonesia membagikan gain tertinggi tahunan kedua di dunia setelah bursa Shenzen, China.

Manajer Investasi PT Valbury Asset Management Thauriq Anwar menilai sentimen negatif yang menerpa bursa dunia dalam 3 hari berturut-turut menjadi pemicu utama koreksi indeks saham Bursa Efek Indonesia.

Ekonomi stabil

Dia menilai meski ikut membagi sentimen negatif, pengunduran diri Menkeu Sri Mulyani tidak signifikan memengaruhi profil ekonomi nasional. Para penggantinya diyakini bakal mampu menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia

“Pemicu lebih banyak dari luar negeri terkait dengan kondisi perekonomian Eropa, sehingga indeks terkoreksi dan returnnya menurun. Pembalikan ke atas [rebound] bursa kita akan menunggu penyelesaian krisis utang Yunani, yang kemungkinan pada semester II/2010,” tuturnya

Sepanjang tahun ini, saham yang mencatatkan kerugian tertinggi adalah PT Intikeramik Alamasri Industri Tbk dengan kode perdagangan IKAI sebesar 78,64%. Sebaliknya, PT Bhakti Investama Tbk (BHIT) memberi gain tertinggi sebesar 482,91%.

Kepala Riset PT Bhakti Securities Edwin Sebayang menilai potensi IHSG untuk menjadi salah satu indeks dengan keuntungan terbesar masih terbuka lebar. Penurunan yang terjadi pada pekan lalu pun masih dalam batas wajar.

Penurunan terjadi karena berangkat dari valuasi IHSG yang lebih mahal dari indeks Dow Jones Average, Hang Seng, Kospi, dan indeks Straits Times Singapura.

Menurut dia, tekanan jual yang terjadi pada pekan lalu dinilai baik untuk mendinginkan pasar

“Buat saya penurunannya normal dan ini menjadi kesempatan berharga untuk koleksi saham,” ujarnya. (10) (arif.gunawan@bisnis.co.id)

Oleh Arif Gunawan S.
Bisnis Indonesia
Besok, UE Bahas Krisis Keuangan
Sabtu, 8 Mei 2010 | 20:58 WIB

BRUSSEL, KOMPAS.com – Komisi Uni Eropa pada Minggu (9/5/2010) siang, akan membahas rencana mendetail untuk menghadang jatuhnya pasar, terutama akibat masalah keuangan di Yunani. Demikian dikatakan juru bicara Uni Eropa kepada kantor berita AFP, Sabtu (8/5/2010).

Angin buruk berembus dari Eropa dan menyebar dengan sangat liar ke pasar dunia pada minggu ini.

Sabtu ini, staf Uni Eropa sedang mempersiapkan proposal untuk dibahas dalam Komisi untuk European Stabilization Mechanism, yang bekerja untuk menjaga stabilitas keuangan di Eropa. Dua puluh tujuh anggota komisi akan bertemu pukul 13.00 waktu setempat.
Kesulitan keuangan Yunani, telah membawa dampak besar pada pasar uang, termasuk berdampak negatif bagi Bursa Efek Indonesia. Hampir sepanjang minggu ini, misalnya bursa saham Amerika yang menjadi salah satu barometer utama perdagangan saham dunia, memasuki masa-masa kelam akibat kepanikan investor terhadap stabilitas ekonomi di zona Euro.
Indikator ekonomi positif yang diwartakan pada Senin (3/5/2010), tidak digubris pasar. Yakni ketika program dana talangan untuk Yunani dari International Monetary Fund (IMF) dan Komisi Uni Eropa disampaikan ke publik.
Berita baik dari data ekonomi Amerika, yang menunjukkan bahwa pengeluaran konsumen dalam bulan Maret menunjukkan peningkatan, juga tak dihiraukan. Termasuk, saat Maret lalu, sektor manufaktur Amerika diberitakan tumbuh tercepat dalam rentang enam tahun terakhir.
Pada akhirnya, Dow Jones menutup pekan ini dengan turun 5,72 persen, the Nasdaq kehilangan 7,95 persen dan Standard & Poors 500 turun 6,3 9 persen. Ini adalah minggu kedua berturut-turut, dimana the Dow ditutup turun. Dan, salah satu minggu penurunan indeks terburuk dalam sejarah Dow.
“Angin buruk berembus dari Eropa dan menyebar dengan sangat liar ke pasar dunia pada minggu ini. Sehingga, investor berupaya keras untuk menjauhi aset-aset dengan tingkat risiko tinggi,” kata Brian Bethune dan Nigel Gaulth dari HIS Global Insight, Sabtu (8/5/2010).
Sabtu, 08/05/2010 15:25 WIB
Uni Eropa Sepakati Langkah Darurat Atasi Krisis
Nurul Qomariyah – detikFinance

Brussels – Para pemimpin Uni Eropa sepakat untuk mengambil langkah darurat guna mengatasi krisis sebelum pembukaan perdagangan Senin mendatang. Langkah ini diharapkan bisa mencegah krisis di Yunani menyebar ke negara lain seperti Spanyol dan Portugal.

Pemimpin 16 negara Uni Eropa usai pertemuan dengan Bank Sentral Eropa dan pejabat Komisi Eropa menyatakan mereka siap mengambil langkah apapun yang diperlukan untuk melindungi stabilitas di kawasan pengguna mata uang tunggal euro itu.

“Kita akan mempertahankan euro dengan cara apapun. Kita memiliki beberapa instrumen dalam penyelesaian dan kami akan menggunakannya,” ujar Presiden Komisi Eropa, Jose Manuel Barroso usai pertemuan yang berlangsung di Brussels, seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (8/5/2010).

Namun ia menolak membeberkan detail dari proposal upaya penangananan krisis yang rencananya akan mendapatkan persetujuan pada Minggu besok. Namun ditegaskan upaya penanganan itu akan menggunakan dana yang mungkin tersisa dari anggaran Uni Eropa.

Krisis utang di Yunani sejauh ini terus memberikan sentimen negatif di pasar finansial. Para investor khawatir krisis itu akan menyebar ke negara Uni Eropa lainnya, sehingga pasar saham dan mata uang di berbagai belahan dunia berjatuhan.

Selain sepakat untuk membuat ‘Crisis Fund’, para pemimpin uni Eropa juga sepakat untuk membuat batasan baru bagi para spekulator.

Kanselir Jerman, Angela Merkel mengatakan, dana stabilisasi itu akan memberikan sinyal yang jelas kepada para spekulator pasar agar mundur.

Presiden AS Barack Obama menelpon langsung Kanselir Jerman bahwa dirinya mendukung upaya untuk menyelamatkan Yunani dan mengatakan regulator AS kini sedang menginvestigasi kejatuhan pasar saham AS pada Kamis lalu.

“Kami sepakat pentingnya respons kebijakan yag kuat dari negara yang terkena dampak dan respons finansial yang kuat dari komunitas internasional,” jelas Obama.

(qom/qom)

Statement on Greece Emergency Fund by the Euro-Area Heads of State: Text
May 07, 2010
Following is a statement issued today by the leaders of the 16 nations using the euro.
… pernyataan bersama 16 kepala negara eurozone pada 070510
Brussels, 7 May 2010

STATEMENT OF THE HEADS OF STATE OR GOVERNMENT OF THE EURO AREA

1/ Implementation of the support package for Greece
… penerapan paket dukungan bwat Yuknangis
In February and in March, we committed to take determined and coordinated action to safeguard financial stability in the euro area as a whole.

Following the request by the Greek government on April 23 and the agreement reached by the Eurogroup on May 2, we will provide Greece with 80 billion euros in a joint package with the IMF of 110 billion euros. Greece will receive a first disbursement in the coming days, before May 19.
… menyusul perminataan Yuknangis pada 23 April, dan kesepakatan oleh kelompok Euro pada 2 Mei 2010, maka 16 negara EU akan memberikan yuknangis dengan 80 milyar euro bersama paket IMF sehingga mencapai total 110 milyar euro. PENCAIRAN BANTUAN (KREDIT) PERTAMA adalah pada tanggal 19 Mei 2010 …
The program adopted by the Greek government is ambitious and realistic. It addresses the grave fiscal imbalances, will make the economy more competitive, and will create the basis for stronger and more sustainable growth and job creation.
… program ini telah diterima Yuknangis secara serius sekali dan realistis. Program ini untuk mengatasi ketidakseimbangan anggaran belanja, membuat ekonomi menjadi lebe kompetitif, dan menciptakan dasar buat pertumbuhan dan penciptaan lapangan kerja yang lebe kuat dan berkelanjutan …
The Greek Prime Minister has reiterated the total commitment of the Greek government to the full implementation of these vital reforms.
… PM Yuknangis telah mengulangi komitmen penuh pemerintah Yuknangis bagi penerapan penuh reformasi vital ini …
The decisions we are taking reflect the principles of responsibility and solidarity, enshrined in the Lisbon Treaty, which are at the core of the monetary union.
… keputusan diambil sebagai dampak azas tanggung jawab dan solidaritas, yang terkandung dalam Perjanjian Lisbon, yang merupakan inti dari kesatuan moneter …
2/ Response to the current crisis

In the current crisis, we reaffirm our commitment to ensure the stability, unity and integrity of the euro area. All the institutions of the euro area (Council, Commission, ECB) as well as all euro area. Member States agree to use the full range of means available to ensure the stability of the euro area.
… menanggapi krisis saat ini kami menyatakan kembali komitmen untuk memastikan stabilitas, kesatuan, dan integritas kawasan euro. semua lembaga kawasan ini (dewan, komisi, bank sentral euro) termasuk pada semua kawasan euro. Negara Anggota bersepakat menggunakan segala cara yang mungkin untuk MEMASTIKAN STABILITAS KAWASAN EURO…
Today, we agreed on the following :

- First, consolidation of public finances is a priority for all of us and we will take all measures needed to meet our fiscal targets this year and in the years ahead in line with excessive deficit procedures. Each one of us is ready, depending on the situation of his country, to take the necessary measures to accelerate consolidation and to ensure the sustainability of public finances. The situation will be reviewed by the Ecofin Council on the basis of a Commission assessment by the end of June at the latest. We have asked the Commission and the Council to strictly enforce the recommendations addressed to Member States under the Stability and Growth Pact.
… pertama, konsolidasi keuangan publik adalah PRIORITAS dan kami akan mengambil semua cara yang dibutuhkan untuk memenuhi sasaran anggaran belanja tahun ini dan tahun2 mendatang sesuai dengan prosedur defisit yang sedang berlebihan. setiap negara anggota, sesuai dengan kondisi masing-masing, akan mengambil tindakan guna meningkatkan konsolidasi dan memastikan keberlanjutan pendanaan publik. situasi selanjutnya akan dievaluasi oleh Dewan Ecofin berdasarkan penilaian Komisi pada selambat-lambatnya AKHIR JUNI 2010. kami telah meminta Komisi dan Dewan untuk secara SEKSAMA memberlakukan rekomendasi yang diamanatkan oleh negara anggota berdasarkan Pakta Stabilitas dan Pertumbuhan …
– Second, we fully support the ECB in its action to ensure the stability of the euro area.
… kedua, kami mendukung penuh bank sentral euro dalam aksinya untuk menegakkan stabilitas kawasan euro…
– Third, taking into account the exceptional circumstances, the Commission will propose a European stabilization mechanism to preserve financial stability in Europe. It will be submitted for decision to an extraordinary ECOFIN meeting that the Spanish presidency will convene this Sunday May 9th.
… ketiga, dengan mempertimbangkan kondisi luar biasa saat ini, Komisi mengusulkan mekanisme stabilisasi Eropa untuk memeliharan stabilitas keuangan di Eropa. proposal itu akan disampaikan pada pertemuan ECOFIN luar biasa dengan ketuanya adalah Spanyol, yang akan berkumpul pada hari MINGGU 9 MEI 2010 …
3/ Strenghtening economic governance

We have decided to strengthen the governance of the euro area. In the context of the Task Force headed by the President of the European Council, we are prepared to:
… kami telah memutuskan untuk memperkuat pengelolaan kawasan euro. dalam konteks Satuan Tugas yang dikepalai oleh Presiden Dewan Eropa, kami siap untuk :
– broaden and strengthen economic surveillance and policy coordination in the euro area, including by paying close attention to debt levels and competitiveness developments;
… memperluas dan memperkuat pengawasan ekonomi dan koordinasi kebijakan kawasan euro, termasuk dengan memberikan perhatian serius pada tingkat HUTANK dan kondisi tingkat persaingan …
– reinforce the rules and procedures for surveillance of euro area Member States, including through a strengthening of the Stability and Growth Pact and more effective sanctions;
… memperteguh aturan dan prosedur pengawasan Negara Anggota kawasan euro, termasuk melalui penguatan Pakta Stabilitas dan Pertumbuhan serta sanksi yang lebe efektif …
– create a robust framework for crisis management, respecting the principle of Member States’ own budgetary responsibility.
… menciptakan kerangka kerja yang menyeluruh guna pengelolaan krisis, yang juga memperhatikan pada azas tanggung jawab anggaran belanja Negara Anggota sendiri …
The President of the European Council decided to accelerate the work of the Task Force. The Commission will present its proposals next week on May 12.
… Presiden Dewan Eropa memutuskan mempercepat kerja Satuan Tugas. Komisi akan menyajikan proposalnya minggu depan pada 12 Mei 2010 …
4/ Regulation of the financial markets and the fight against speculation

Finally, we agreed that the current market turmoil highlights the need to make rapid progress on financial-markets regulation and supervision. Increasing transparency and supervision in derivatives markets and dealing with the role of rating agencies are among the key priorities for the EU. We also agreed on intensifying the work on crisis management and resolution in the financial sector and on a fair and substantial contribution of the financial sector to the costs of crises. The work on assessing whether more steps are necessary in view of recent speculation against sovereign debtors should be sped up. The President of the European Council therefore intends to discuss these issues at the June European Council, on the basis, where needed, of Commission proposals.
… akhirnya kami sepakat bahwa gangguan pasar saat ini menekankan adanya kebutuhan untuk membuat pertumbuhan cepat pada peraturan pasar finansial dan pengawasannya… dengan meningkatkan transparansi dan pengawasan pada pasar derivatif serta mengevaluasi peran lembaga pemeringkatan sebagai prioritas utama bagi EU… kami juga bersepakat meningkatkan kerja pada pengelolaan krisis dan resolusi sektor keuangan dan pada sumbangan yang adil dan substansial sektor keuangan terhadap biaya krisis… pekerjaan dalam menilai kebutuhan langkah2 lanjutan sesuai dengan kondisi spekulatif terhadap negara pengutang juga akan dipercepat … Presiden Dewan Eropa akan mendiskusikan hal2 ini pada pertemuan Dewan Eropa Juni 2010, berdasarkan, sesuai kebutuhan, pada proposal Komisi …

… well, satu krisis sudah dipecahkan, semoga… tinggal krisis MENKEU BARU YANG SESUAI DENGAN PROFIL FAVORIT PASAR … semoga

 

krisfinalo ala dubai, glap akh … 021209 2 Desember 2009

Filed under: GREAT depression — bumi2009fans @ 8:09 am

Krisis Global Jilid II?
Rabu, 2 Desember 2009 – 07:44 wib

Dunia telah berulang kali mengalami krisis.Dari yang sifatnya regional ke yang bersifat global. Indonesia, misalnya, pernah mengalami krisis Asia pada 1997-1998.

Krisis ini bermula dari Thailand yang meski tidak menyebar jauh dari Asia Timur dan Asia Tenggara. Pemulihan krisis tersebut terjadi pada 1999 dan kemudian kita melihat kondisi perekonomian di Asia Timur dan Tenggara termasuk Indonesia terus membaik.Namun,pada 2008 dunia kembali dilanda krisis global yang dimulai dari negara maju yaitu Amerika Serikat. Seluruh dunia merasakan dampaknya. Krisis Asia Timur dan Asia Tenggara (termasuk Indonesia) pada 1997-1998 dimulai dengan krisis finansial yang kemudian menjalar ke krisis ekonomi. Untuk Indonesia, krisis ekonomi ini juga menjalar ke krisis sosial dan politik. Sementara krisis global 2008-2009 juga bermula dengan krisis finansial, kemudian diikuti dengan krisis ekonomi.Untungnya, tak ada dampak sosial dan politik yang berarti.

Sekarang banyak yang mengatakan bahwa krisis global sudah usai. Pendapatan nasional sudah meningkat lagi.Namun,sering pula dikatakan bahwa pemulihan baru terasa untuk sektor finansial. Sementara pemulihan sektor ekonomi terasa lebih lamban. Bahkan dampak sosial dari krisis ini masih terasa sampai sekarang. Dalam laporan UNDP yang terbaru (The Global Financial Crisis and the Asia-Pacific Region, 2009) dikatakan bahwa pemulihan sosial biasanya lebih lambat dari pemulihan ekonomi. Bahkan dampak sosial seperti nutrisi yang rendah pada anak-anak dapat berlangsung selama-lamanya.

Sementara itu, banyak pihak yang masih merisaukan kepulihan ekonomi ini.Sistem finansial dunia yang menjadi penyebab semua krisis masih sama dengan sebelum krisis. Sektor finansial selalu tumbuh cepat,jauh lebih cepat dari pertumbuhan sektor produksi.Padahal sektor finansial diperlukan untuk membantu tumbuhnya sektor produksi. Sektor finansial bagaikan minyak agar kendaraan bermotor dapat berjalan dengan baik.Ketika minyaknya terlalu banyak, kendaraan bermotor pun akan berjalan terseok-seok dan mungkin malah mogok. Itulah yang terjadi ketika sektor finansial melaju dengan pesat,meninggalkan pertumbuhan di sektor produksi. Hal ini telah berulang terjadi.

Pertumbuhan sektor finansial yang luar biasa, yang juga dicerminkan dengan pertumbuhan pendapatan nasional,akhirnya diikuti dengan krisis finansial. Lebih parah lagi, dinamika sektor finansial sering amat tergantung pada ?gosip?di kalangan investor di sektor keuangan.Ketika para investor ini kehilangan confidence, mereka beramai-ramai menjual surat berharga mereka. Sektor finansial jatuh dan akibatnya membuat confidencejatuh lebih jauh.Bank dapat berjatuhan sehingga perekonomian kena getahnya.

Ketika confidence para investor pulih, sektor finansial pun pulih kembali. Namun, tidak otomatis sektor produksi pulih. Memulihkan sektor produksi membutuhkan waktu yang lebih lama dari sekadar memupuk confidencepara investor. Sayangnya,sampai sekarang kita belum berhasil mengatur sektor yang dikuasai oleh ?gosip? para investor ini. Maukah perekonomian kita dan sektor sosial kita terus menerus dipengaruhi oleh gosip para investor ini? Kalau gosip mereka membuat sektor finansial berantakan, sektor ekonomi berantakan, dan sektor sosial kena dampak yang lama.

Kalau gosip mereka membaik, sektor finansial membaik, para investor berjaya lagi.Namun, sektor perekonomian mengikuti dengan lambat, dan sektor sosial akan mengikuti dengan jauh lebih lambat lagi. Tanpa perubahan fundamental dalam struktur finansial dunia, pola yang sama akan terus berulang. Sektor finansial tumbuh pesat,kemudian krisis,lalu terjadi pemulihan. Kemudian sektor finansial tumbuh pesat lagi, dan krisis lagi. Demikian seterusnya.Dengan integrasi finansial dan perekonomian yang makin kuat,krisis pun akan terjadi lebih meluas dan mendalam.Jarak dari satu krisis ke krisis lain pun akan makin pendek.

Krisis finansial dan ekonomi dikhawatirkan akhirnya membawa krisis sosial dan politik. Saat ini di beberapa negara sektor properti telah memberikan gejala memanas. Orang berlomba berspekulasi di sektor properti.Di beberapa negara inflasi mulai dikhawatirkan menjadi bahaya yang baru. Ini semua memberi tanda bahaya.Akan segera terjadi krisis lagi? Krisis global jilid II? Dan, tiba-tiba saja,Rabu yang lalu (25 November 2009), Dubai World, suatu konglomerasi milik Pemerintah Dubai, mengumumkan penundaan pembayaran utang mereka.

Hal ini menandakan konglomerasi ini mengalami kesulitan keuangan.Sontak berita ini membuat panik para investor. Mereka berlomba menjual surat berharga mereka.Namun, karena tanggal 27 hari libur (Idul Adha), disusul week-end, pasar finansial tutup dan tidak banyak informasi yang didapat dari Dubai. Pada Minggu (29 November) Pemerintah Uni Emirat Arab mencoba menenangkan para investor dengan mengatakan bahwa mereka akan membantu likuiditas sektor finansial di Dubai. Pekan ini adalah pekan yang menentukan. Kita akan melihat apakah krisis Dubai ini akan tetapdi Dubai saja, atau akan meluas ke Asia, Eropa, dan seluruh dunia.

Apakah menjadi krisis global jilid II? Semoga saja, krisis Dubai ini dapat ditahandiDubaidantidakmenjalar ke mana-mana.Apa pun hasilnya, tampaknya kita harus sudah segera membuat tatanan finansial dunia yang baru, yang tidak bergantung pada gosip para investor. Indonesia, pada khususnya, tidak perlu terburu buru mengintegrasikan sektor finansial kita ke sektor finansial dunia. Indonesia dapat memberi contoh untuk mengatur sektor finansial agar tidak tumbuh meninggalkan pertumbuhan sektor produksi. Sektor finansial perlu dikembalikan pada fungsi semula yaitu membantu pertumbuhan sektor produksi.

Janganlah sektor finansial menjadi sumber keuntungan tersendiri, terlepas dari sektor produksi, seperti yang selama ini terjadi, dan selalu menghasilkan krisis. Selain itu, untuk berjaga-jaga terhadap kemungkinan terjadinya krisis global jilid II, entah karena krisis Dubai atau krisis lainnya, Indonesia perlu untuk makin memperhatikan ekonomi dalam negeri. Pengintegrasian ekonomi dalam negeri menjadi jauh lebih penting daripada integrasi regional atau pun integrasi global. Dengan ketergantungan pada pasar dan faktor produksi yang besar di dalam negeri, kita dapat mengurangi dampak krisis global pada perekonomian dan sektor sosial kita.Krisis global jilid I jelas memperlihatkan bahwa kita diuntungkan karena dua hal.

Pertama, sektor finansial kita belum benar-benar terintegrasi ke sektor finansial dunia. Kedua, sumbangan ekspor kita juga masih rendah. (*)

Aris Ananta
Ekonom (Koran SI/Koran SI/rhs)
Pasar Keuangan dan Gaduhnya Politik

AFP/KARIM SAHIB
Seorang lelaki berjalan di depan kawasan bisnis Dubai di Teluk, Minggu (29/11). Krisis Dubai, yang dipicu penundaan pembayaran utang Pemerintah Dubai, diperkirakan akan berpengaruh pada pembukaan hari setelah libur panjang Lebaran Haji kali ini.
Artikel Terkait:
Perusahaan-perusahaan Dubai Jadi “Sampah”
Pemerintah Siapkan Insentif untuk Sektor Energi
Menkeu: Pelaku Pasar Tak Perlu Risaukan Krisis Dubai
Data Ekonomi Positif, Dubai Mereda, Rupiah Ceria
Kekhawatiran Dubai Mereda, Wall Street Terbang
SENIN, 7 DESEMBER 2009 | 07:16 WIB

MIRZA ADITYASWARA

KOMPAS.com – Dua pekan lalu, pasar keuangan internasional terkejut dengan permohonan penundaan pembayaran utang oleh Dubai World. Penundaan pembayaran utang sebesar 59 miliar dollar AS itu dapat memengaruhi kepercayaan kreditor kepada negara berkembang. Pasar keuangan di sejumlah negara sempat jatuh.

Syukurlah, pasar bangkit kembali setelah Pemerintah Abu Dhabi, tetangga Dubai, mengatakan siap membantu likuiditas perbankan akibat krisis Dubai World. Pemerintah Dubai lantas menyatakan, yang direstrukturisasi jadwal pembayaran utangnya hanya 26 miliar dollar AS sehingga pasar keuangan menjadi lebih lega.

Dalam situasi krisis, yang harus ditangani terlebih dahulu oleh otoritas perbankan adalah masalah psikologis pemilik dana, investor, dan deposan. Dalam situasi panik, kejatuhan bank kecil bisa menyebabkan krisis kepercayaan pada sistem perbankan. Contoh, Bank Sentral Inggris pada awal krisis kredit subprime, September 2007, terpaksa menginjeksi ”bank kecil”, Northern Rock, sebesar 3 miliar poundsterling. Karena krisis berlanjut, pada Januari 2008, injeksinya sudah mencapai 26 miliar poundsterling.

Di Amerika Serikat, Bank Sentral menginjeksi 1,4 triliun dollar AS, atau setara 10 persen dari PDB, ke sejumlah institusi selama September 2008-Februari 2009. Tujuannya demi stabilisasi sistem keuangan. Gubernur Bank Sentral Ben Bernanke juga dicecar oleh Kongres soal kebijakan penyelamatan itu.

Namun, langkah Kongres ini bukan untuk menjatuhkan Bernanke, hanya untuk menyempurnakan prosedur injeksi likuiditas. Bernanke bahkan akan dipilih kembali tahun 2010. Mungkin politisi di AS jauh lebih dewasa daripada di negara berkembang.

Setelah masalah Dubai beres, pasar keuangan akhir minggu lalu kembali menunjukkan optimisme oleh data pemulihan ekonomi global. Namun, utang Pemerintah AS yang naik tajam dengan suku bunga rendah (0,25 persen) membuat investasi di AS tidak menarik. Investor pun memindahkan dana jangka pendeknya ke negara berkembang dan pasar komoditas.

Akibatnya mulai timbul kekhawatiran. Jika aliran dana jangka pendek ke pasar keuangan negara berkembang terus bertambah, tetapi karena tidak didukung oleh pertumbuhan ekonomi, mungkin dua tahun atau lima tahun mendatang akan terjadi bubble economy seperti tahun 1996-1997, yaitu inflasi, kenaikan impor, kenaikan utang luar negeri, sehingga menimbulkan defisit neraca pembayaran. Selanjutnya para investor akan menarik dana dari negara berkembang, termasuk keluar dari Indonesia.

Pertumbuhan kredit perbankan Indonesia pada semester II-2009 ternyata di bawah perkiraan karena situasi politik kembali memanas. Situasi bubble ekonomi jangan sampai terjadi karena kita tidak mau setiap 5-10 tahun terkena krisis. Dalam 10 tahun ini, krisis keuangan di Indonesia telah terjadi tiga kali, yaitu yang pertama pada 1998-1999. Krisis kedua pada tahun 2005 yang disebabkan oleh krisis reksadana dan kenaikan harga minyak. Krisis ketiga pada September 2008-Maret 2009 yang disebabkan oleh krisis keuangan di AS.

Setiap krisis keuangan, yang menderita adalah rakyat kecil. Bukan politisi, bukan individu debitor hitam. Pelajaran dari perdebatan politik pro-kontra kebijakan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia atau BLBI (1998) dan penyelamatan Bank Century (November 2008), jika ada lagi krisis keuangan global, tidak akan ada Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia yang berani mengambil keputusan menyelamatkan sistem perbankan karena takut kebijakannya dipersalahkan di kemudian hari.

Pengalaman kasus BLBI 1998, para politisi dan penegak hukum cenderung mengejar pengambil kebijakan stabilisasi di BI dan Departemen Keuangan daripada mengejar para penyeleweng dana BLBI, yaitu para debitor hitam dan para eks pemilik bank bermasalah.

Kini datang era ketidakpastian stabilitas sektor keuangan di Indonesia. Dana jangka pendek investor asing di Sertifikat Bank Indonesia (SBI) saat ini Rp 46 triliun. Yang ada di Surat Utang Negara (SUN) Rp 100 triliun. Belum termasuk di pasar saham.

Tes pertama yang akan dihadapi nanti pada Februari 2010 adalah hasil investigasi politik di DPR atas kasus Bank Century, yaitu siapa pejabat yang dipersalahkan.

Tes kedua adalah pada saat Bank Sentral AS melakukan exit strategy, yaitu menaikkan suku bunga, mungkin pada semester II-2010. Perlu kita waspadai jika terjadi capital outflow dana jangka pendek kembali ke AS sehingga dikhawatirkan membuat kurs negara berkembang melemah.

Tes ketiga adalah pada saat harga minyak kembali menembus 100 dollar AS per barrel. Mungkin pada tahun 2011.

Tes keempat saat Pemerintah Indonesia harus memutuskan menurunkan penjaminan dana masyarakat di perbankan dari Rp 2 miliar kembali ke Rp 100 juta per nasabah. Kebijakan pada kuartal IV-2008 menaikkan penjaminan hanya sementara, demi menenangkan masyarakat pada saat krisis.

Investigasi kasus Century harus dilanjutkan, tetapi jangan dipolitisasi. Ada tiga hal yang dipisahkan, yaitu investigasi pada kelemahan pengawasan Bank Century periode 2003-2007, alasan kebijakan penyelamatan Bank Century pada November 2008, dan aliran dana likuiditas pascapenyelamatan.

Pasar keuangan paham bahwa kasus Century berbeda dengan kasus murni pembelaan masyarakat atas eksistensi Komisi Pemberantasan Korupsi (kasus Bibit-Chandra). Pada kasus investigasi Century, muatan politiknya kental karena dimulai dari DPR, bukan oleh lembaga hukum KPK.

Namun, pasar keuangan percaya bahwa DPR yang dipilih rakyat akan mengedepankan kebenaran dan hati nurani. Pemilu sudah selesai. Jabatan kabinet sudah juga usai, maka berikanlah stabilitas politik dan keamanan di negeri ini. Marilah kita lanjutkan reformasi tetapi juga bangun ekonomi, yaitu memberikan kecukupan pangan dan infrastruktur, pendidikan, kesehatan, serta kesempatan kerja kepada rakyat yang masih tertinggal.

Mirza Adityaswara, Analis Perbankan dan Pasar Modal

 

krisfinalo berakhir … : 160909 16 September 2009

Filed under: GREAT depression — bumi2009fans @ 7:55 am

… sebenarnya gw pernah memprediksikan bahwa amrik akan keluar dari resesi secara teknikal di semester 01 2009, yaitu GDP + 0,5% … tapi ternyata meleset ke – 1%an … namun ternyata ketua bank sentral amrik kemarin sudah menyatakan bahwa amrik sudah tumbuh positif lage, artinya gw meleset kira-kira 1 1/2 bulan … (sayang catatan gw di blog gw yang lain soal prediksi gw itu lom ketemu) … yang penting resesi TERDALAM sudah BERLALU di amrik, artinya resesi global akan membal ke pertumbuhan positif kuat lagi dah … semoga:

16/09/2009 – 03:01
The Fed: Krisis Global telah Usai
Vina ramitha

(Istimewa)
INILAH, Washington – Gubernur Bank sentral AS, The Federal Reserve, mengumumkan krisis ekonomi global sudah berakhir. Namun, sentimen positif ini sulit mencegah naiknya tingkat pengangguran yang kini sebesar 15 juta.

Ben Bernanke mengungkapkan perekonomian tampaknya mulai tumbuh, menjauhi resesi global terburuk sejak 1930. Namun, hal tersebut tidak akan cukup mencegah meningkatnya tingkat pengangguran, yang kini 9,7%, level tertingginya dalam 26 tahun terakhir. “Dari sisi teknikal, resesi saat ini tampaknya sudah berakhir,” ujar Bernanke selasa (15/9) waktu setempat.

Menurutnya, perekonomian masih akan mengalami tekanan untuk beberapa saat, dengan pertumbuhan yang sangat lambat.”Karena orang-orang masih akan mencari kepastian dan keamanan atas sumber penghasilan, serta status pekerjaan mereka,”ujarnya.

Dengan ekspektasi lambatnya pemulihan ekonomi, The Fed memprediksikan tingkat pengangguran AS masih akan menyentuh level 10%, angka tertinggi tahun 2009. Pada resesi paska perang dunia dua, sempat mencapai level tertinggi di 10.8% akhir 1982 lalu.

Pertumbuhan ekonomi hingga 2010, masih akan berjalan relatif moderat. Tingginya pengangguran juga diselamatkan, meski berangsur-angsur melemah.Beberapa pengamat ekonomi memprediksi, tingkat penganguran bisa turun ke level normal di 5%, paling tidak dalam 4 tahun mendatang.

 

teruskanlah: bahaya maseh mengancam bo … 17 Juni 2009

Filed under: GREAT depression — bumi2009fans @ 12:15 am

Roubini sees weeds amid green shoots
Tue Jun 16, 2009 1:01pm EDT
By Pedro da Costa and Ros Krasny

NEW YORK (Reuters) – The U.S. economy will not recover until the end of this year, and even then growth will remain meek and vulnerable to higher interest rates and commodity prices, economist Nouriel Roubini said on Tuesday.

Roubini, who rose to prominence for predicting the global credit crisis, tore down the “green shoots” theory that a rebound is imminent, saying there was a significant risk of a “double-dip” recession where the economy expands slightly only to begin contracting again.

“In addition to green shoots there are also yellow weeds,” he told the Reuters Investment Outlook Summit in New York.

He pointed to the growing divergence between business sentiment surveys, which have been improving in recent months, and industrial production, which is down sharply and receded another 1.1 percent in May.

Roubini, the head of economics research firm RGE Global Monitor, said the U.S. jobless rate, already at a 26-year high of 9.4 percent, would reach 11 percent before it begins to ease. He added that he saw few engines for growth given that U.S. consumers are tapped out

As a result, Federal Reserve policy-makers, whom Roubini says completely missed the magnitude of the crisis at its inception, face an unenviable set of policy choices.

He said weak growth would allow the U.S. central bank to leave interest rates near the current rock-bottom levels for the foreseeable future. Eventually, however, trillions of dollars of unprecedented emergency measures to heal the financial system will need to be mopped back up to prevent an upsurge in inflation.

Rampant inflation could lead to negative economic cycles like the ones that plagued much of the industrialized world in the 1970s.

“That’s the challenge the Fed is facing,” Roubini said.

He said the central bank did the right thing to avoid an outright depression, but is left with emergency lending programs that are clearly not sustainable.

These factors, Roubini argued, would continue to pressure the U.S. dollar over the medium term.

Asked to grade the central bank’s job, Roubini gave the Fed a “D” for missing the crisis altogether and downplaying its possible impact, but a “B-plus” after the credit debacle had unfolded.

“I give them credit for being very creative and very aggressive,” he said.

(Editing by Leslie Adler)

 

teruskanlah: guru besar BAHAYA RESESI … 8 Juni 2009

Filed under: GREAT depression — bumi2009fans @ 11:55 pm

Roubini Scoffs at Green Shoots, Sees Dangerous Complacency

Posted Jun 08, 2009 08:37am EDT by Henry Blodget in Investing, Newsmakers, Recession, Banking
Related: DIA, SPY, QQQ, XLF

From The Business Insider, June 8, 2009:

Roubini spoke at some conference somewhere (see this Bloomberg video: Roubini Dismisses `Green Shoots,’ Sees `Complacency’). He’s still singing the same song he was a month ago:

Those aren’t “green shoots”–they’re yellow weeds
The crisis isn’t over, and everyone has become way too complacent
We’ll be in recession for another 6-9 months
The recovery after that will be weak
Big risk of a double-dip
Households aren’t deleveraging
Oil could go to $200 just as economy starts to recover
Real interest rates could spike, killing housing, etc.
Concern about hyper-inflation
All this could lead to “perfect storm” that will clip wings of economic and financial recovery
So we need to stay focused on averting disaster before we redesign regulatory architecture.

Green Shoots or Yellow Weeds? Latest Project Syndicate Op-Ed

PrintShare
Nouriel Roubini | Jun 8, 2009
Project Syndicate has published my latest op-ed:

Green Shoots or Yellow Weeds?

New York – Recent data suggest that the rate of contraction in the world economy may be slowing. But hopes that “green shoots” of recovery may be springing up have been dashed by plenty of yellow weeds. Recent data on employment, retail sales, industrial production, and housing in the United States remain very weak; Europe’s first quarter GDP growth data is dismal; Japan’s economy is still comatose; and even China – which is recovering – has very weak exports. Thus, the consensus view that the global economy will soon bottom out has proven – once again – to be overly optimistic.

After the collapse of Lehman Brothers in September 2008, the global financial system nearly melted down and the world economy went into free fall. Indeed, the rate of economic contraction in the fourth quarter of 2008 and the first quarter of 2009 reached near-depression levels.

At that point, global policymakers got religion and started to use most of the weapons in their arsenal: vast fiscal-policy easing; conventional and unconventional monetary expansion; trillions of dollars in liquidity support, recapitalization, guarantees, and insurance to stem the liquidity and credit crunch; and, finally, massive support to emerging-market economies. In the last two months alone, one can count more than 150 different policy interventions around the world.

This policy equivalent of former US Secretary of State Colin Powell’s doctrine of “overwhelming force,” together with the sharp contraction of output below final demand for goods and services (which drew down inventories of unsold goods), sets the stage for most economies to bottom out early next year.

Even so, the optimists who spoke last year of a soft landing or a mild “V-shaped” eight-month recession were proven wrong, while those who argued that this would be a longer and more severe “U-shaped” 24-month recession – the US downturn is already in its 18th month – were correct. And the recent optimism that economies will bottom out by mid-year have been dashed by the most recent economic data.

The crucial issue, however, is not when the global economy will bottom out, but whether the global recovery – whenever it comes – will be robust or weak over the medium term. One cannot rule out a couple of quarters of sharp GDP growth as the inventory cycle and the massive policy boost lead to a short-term revival. But those tentative green shoots that we hear so much about these days may well be overrun by yellow weeds even in the medium term, heralding a weak global recovery over the next two years.

First, employment is still falling sharply in the US and other economies. Indeed, in advanced economies, the unemployment rate will be above 10% by 2010. This will be bad news for consumption and the size of bank losses.

Second, this is a crisis of solvency, not just liquidity, but true deleveraging has not really started, because private losses and debts of households, financial institutions, and even corporations are not being reduced, but rather socialized and put on government balance sheets. Lack of deleveraging will limit the ability of banks to lend, households to spend, and firms to invest.

Third, in countries running current-account deficits, consumers need to cut spending and save much more for many years. Shopped out, savings-less, and debt-burdened consumers have been hit by a wealth shock (falling home prices and stock markets), rising debt-service ratios, and falling incomes and employment.

Fourth, the financial system – despite the policy backstop – is severely damaged. Most of the shadow banking system has disappeared, and traditional commercial banks are saddled with trillions of dollars in expected losses on loans and securities while still being seriously undercapitalized. So the credit crunch will not ease quickly.

Fifth, weak profitability, owing to high debts and default risk, low economic – and thus revenue – growth, and persistent deflationary pressure on companies’ margins, will continue to constrain firms’ willingness to produce, hire workers, and invest.

Sixth, rising government debt ratios will eventually lead to increases in real interest rates that may crowd out private spending and even lead to sovereign refinancing risk.

Seventh, monetization of fiscal deficits is not inflationary in the short run, whereas slack product and labor markets imply massive deflationary forces. But if central banks don’t find a clear exit strategy from policies that double or triple the monetary base, eventually either goods-price inflation or another dangerous asset and credit bubble (or both) will ensue. Some recent rises in the prices of equities, commodities, and other risky assets is clearly liquidity-driven.

Eighth, some emerging-market economies with weaker economic fundamentals may not be able to avoid a severe financial crisis, despite massive IMF support.

Finally, the reduction of global imbalances implies that the current-account deficits of profligate economies (the US and other Anglo-Saxon countries) will narrow the current-account surpluses of over-saving countries (China and other emerging markets, Germany, and Japan). But if domestic demand does not grow fast enough in surplus countries, the resulting lack of global demand relative to supply – or, equivalently, the excess of global savings relative to investment spending – will lead to a weaker recovery in global growth, with most economies growing far more slowly than their potential.

So, green shoots of stabilization may be replaced by yellow weeds of stagnation if several medium-term factors constrain the global economy’s ability to return to sustained growth. Unless these structural weaknesses are resolved, the global economy may grow in 2010-2011, but at an anemic rate.

Nouriel Roubini is Professor of Economics at the Stern School of Business, New York University, and Chairman of RGE Monitor (www.rgemonitor.com)

 

buktikan: risiko GM risiko WS risiko BENERAN… 28 Mei 2009

Filed under: GREAT depression — bumi2009fans @ 12:58 am

Stocks Turn Negative as GM Drives Toward Bankruptcy- AP
Wall Street’s rally is going back on hold as General Motors takes another step toward bankruptcy court.

April existing home sales rise by 2.9 percent- AP
Moody’s: US government’s ‘Aaa’ rating is stable- AP
Chrysler heads to court for key bankruptcy hearing- AP
Staples profit falls 33 percent in 1st quarter- AP
Banks earned $7.6B in 1Q after record loss in 4Q- AP
Steel shares climb as analyst sees demand rising- AP
Even Roubini Now Sees Green Shoots!- The Business Insider
Microsoft adds touch screen, Web browser to Zune- AP
Tilson: Buffett Hasn’t Lost It, and Bank of America’s Still a Dog

… tandain yang bersentimen positif atawa yang bersentimen negatif … lalu jumlahkan, mana yang lebih banyak jumlahnya … jelas lebih banyak HIDUP dong, kalo kagak berarti uda KIAMAT KEUANGAN lah … he3…

Even Roubini Now Sees Green Shoots!

Posted May 27, 2009 09:13am EDT by Henry Blodget in Investing,NewsmakersRecessionBanking

From The Business Insider, May 27, 2009:

When last we checked in with the good Dr. Doom, Nouriel Roubini, he wasseeing light at the end of the tunnel.  But he was still dismissing the happy idea that recovery would begin in 2009.

Well, Dr. D still thinks that the recovery will be weaker than expected, but now he sees it beginning in Q4.

Maybe these green-shoot things aren’t a dream, after all.  Or maybe this sucker’s rally has been so persuasive that even Roubini has been fooled. (Based on the debt overhang and housing market, Roubini’s argument that the recovery will be disappointing still seems persuasive).

Reuters*: SEOUL (Reuters) – Economist Nouriel Roubini on Wednesday said the end of the global recession is likely to occur at the end of the year rather than the middle, and that U.S. growth will remain below potential afterwards.

“We are not yet at the bottom of the U.S. and the global recession,” said Roubini. “The contraction is still occurring and the recession is going to be over more towards the end of the year rather than in the middle of the year.”

“There is still too much optimism that a recovery is just around the corner,” said Roubini, a professor at New York University’s Stern School of Business and chairman of RGE Monitor, an independent economic research firm.

Roubini, who is widely credited for predicting the current economic turmoil, was speaking at the Seoul Digital Forum.

A more sober analysis suggests we’re closer to the bottom; there is light at the end of the tunnel, but it’s going to take a while longer, and the recovery is going to be weaker than otherwise expected.”

Once the recession ends, “U.S. economic growth is going to be below potential for at least two years,” he said, amid multiple imbalances in the housing sector and the financial system, and the rise of public debt.

Roubini said the outlook for Asia was more positive than for Europe, Japan and the United States, thanks to stronger fundamentals.

“The latest economic indicators from Korea … suggest there is the beginning of an economic recovery, and growth might be already positive in the second quarter.”

The downside risk, Roubini said, was if advanced countries did not recover fast enough and if China’s rate of growth started to slow again.

Roubini predicted China would post a 6 percent growth rate this year, a “hard landing” considering it grew by 10 percent for a decade.

A robust recovery in Korean, China and other countries in the region would depend upon relying less on external demand and export-led growth and relying more on domestic growth, he said.

(Reporting by Marie-France Han; editing by Chris Lewis)

 

buktikan: … bayangkan kalo status T-bond = T bone… he3 22 Mei 2009

Filed under: GREAT depression — bumi2009fans @ 6:22 am

May 21, 2009, 8:38 a.m. EST
U.S. stock futures lower as S&P lowers U.K. outlook
By Steve Goldstein, MarketWatch
LONDON (MarketWatch) — U.S. stock futures slipped Thursday, as Standard & Poor’s move to lower the credit-rating outlook on Britain raised fears that a downgrade of the U.S. government’s debt rating could be coming soon as well.

… itu sebabnya, saham, obligasi, dan us $ index bertekuk lutut … 

S&P 500 futures slipped 6.9 points to 893.00 and Nasdaq 100 futures fell 10.25 points to 1,382.20. Futures on the Dow Jones Industrial Average fell 65 points.

Data released Thursday showed continuing claims rising by 75,000 in the latest week, though initial claims dropped by 12,000. Still to come are releases on a Philadelphia-area manufacturing gauge for May and leading economic indicators for April that are due at 10 a.m.

U.S. stocks dropped on Wednesday, with the Dow industrials falling 52 points, the Nasdaq Composite falling 6 points and the S&P 500 losing 4 points. Minutes from the last Federal Reserve rate-setting meeting showed the central bank worried about the economic outlook and the potential for further shocks to the financial system.

Standard & Poor’s affirmed the U.K.’s credit rating at AAA but lowered its outlook to negative from stable, citing the potential that government debt may equal the country’s output. The worse a country’s credit rating, the more expensive it is to borrow.

“Other markets may think that what’s happened in the U.K. may be coming their way too,” said Mike Lenhoff, chief strategist at U.K. brokerage Brewin Dolphin.

Like the U.K., U.S. public spending has swelled, the country’s central bank has embarked on quantitative easing, and interest rates are at ultra-low levels in reaction to the credit-led recession.

“We would expect all the major G7 economies to suffer downgrades,” said Stuart Thompson, chief economist at Ignis Asset Management in Glasgow, Scotland.

“There’s a lot of finger crossing going on among the authorities,” he added. “Everybody is resting on hope at the moment and the way the lagged impact of the stimulus work, we should get some growth next year, but I don’t see it being sustained.”

The S&P move made the biggest impact on U.K. asset classes, with British bonds dropping in price, the FTSE 100 stock market index falling over 2% and the British pound falling against the dollar.

The dollar traded in a tight range vs. the Japanese yen and the euro after recent losses.

Crude-oil futures fell by more than $1 a barrel.

 

buktikan: FORTIS indo mah ENJOY aja… kayanya… he3 21 Mei 2009

Filed under: GREAT depression — bumi2009fans @ 9:06 pm

Rabu, 20 Mei 2009 | 13:25

PHK KARYAWAN ABN AMRO & FORTIS

ABN Amro dan Fortis Berencana Rumahkan 5.000 Pekerja

AMSTERDAM. ABN Amro Holding NV dan Fortis Bank Nederland Holding NV –yang dibeli oleh Pemerintah Belanda pada tahun lalu- kemungkinan akan merumahkan sekitar 5.000 pekerjanya. Jumlah tersebut setara dengan 17% dari total armada kedua perusahaan. Rencananya, kebijakan tersebut bakal dilakukan pada 2012 seiring dengan dilakukannya merger kedua perusahaan.

“Kami perkirakan, akan ada pemangkasan karyawan sekitar 5.500 hingga 6.500 pekerja. Namun, ada sekitar 1.500 posisi baru yang akan diciptakan,” jelas Juru Bicara ABN Amro Jeroen van Maarschalkerweed di Amsterdam. Dia menambahkan, dengan adanya perumahan ribuan pekerja tersebut, perusahaan akan mampu menghemat sekitar 1,3 miliar euro atau US$ 1,8 miliar pada 2012.

Pemerintah Belanda membeli Fortis dan sahamnya di ABN Amro senilai 16,8 miliar euro pada Oktober lalu. Hal tersebut dilakukan setelah induk usahanya mengalami penyusutan dana jangka pendek akibat adanya penarikan dana deposito oleh para nasabah dan pengetatan pasar kredit.

Sekadar mengingatkan, Fortis, Royal Bank of Scotland Group Plc dan Banco Santander SA membeli ABN Amro pada tahun 2007 senilai 72 miliar euro seiring dengan kolapsnya pasar kredit perumahan AS.

Barratut Taqiyyah Bloomberg

 

plis de jangan LEbay: masih tenggelam… dan bernapas… 29 April 2009

Filed under: GREAT depression — bumi2009fans @ 7:47 pm

market watch: 

The economic calendar will take center stage on Wednesday with markets getting a first look at first-quarter real GDP. Analysts at RDQ Economics expect U.S. growth to show another large decline, despite an expected 1.25% increase in real consumer spending, which is about 70% of final demand.


U.S. economy shrinks more than expected

Wed Apr 29, 2009 9:06am EDT

WASHINGTON (Reuters) – The U.S. economy contracted at a steeper-than-expected pace in the first quarter, weighed down by sharp declines in exports and business inventories, according government data on Wednesday that showed the economy was still deep in recession.

Gross domestic product, which measures total goods and services output within U.S. borders, dropped at a 6.1 percent annual rate, the Commerce Department said, after shrinking 6.3 percent in the fourth quarter.

Analysts polled by Reuters had forecast GDP falling at a 4.9 percent rate in the January-March quarter. Output has declined for three straight quarters for the first time since 1974-1975.

The advance report from the Commerce Department showed business inventories plummeted by a record $103.7 billion in the first quarter, as firms worked to reduce stocks of unsold goods in their warehouses. That sliced 2.79 percentage points from the overall GDP figure. Excluding inventories, GDP contracted 3.4 percent.

However, declining inventories is a positive development as it suggests the inventory correction cycle might be over. Exports collapsed 30 percent, the biggest decline since 1969, after dropping 23.6 percent in the fourth quarter. The decline in exports knocked off a record 4.06 percentage points from GDP.

Investment by businesses tumbled a record 37.9 percent in the first quarter, while residential investment dived 38 percent, the biggest decline since the second quarter of 1980.

However, there were some bright spots in the report. Consumer spending, which accounts for over two-thirds of U.S. economic activity, rose 2.2 percent, after collapsing in the second half of last year. Consumer spending was boosted by a 9.4 percent jump in purchases of durable goods, the first advance after four quarters of decline.

The Commerce Department said the government’s $787 billion rescue package of spending and tax cuts, approved in February, had little impact on first-quarter GDP. Part of the stimulus package is designed to bolster state and local and government spending, which fell at a 3.9 percent rate in the first quarter, the largest decline since the second quarter of 1981.

(Reporting by Lucia Mutikani; Editing by Neil Stempleman)

 

dokter cinta: BEDA ABIS, tapi sami2 krisis 18 April 2009

Filed under: GREAT depression — bumi2009fans @ 12:33 am


Krisis Kali Ini Berbeda dengan Krisis 1998



Banyak kalangan meramalkan 2009 adalah tahun yang berat. Namun, Chris Lossin optimistis pertumbuhan perusahaannya akan sama dengan tahun , bahkan mungkin lebih. Argumentasinya, baru 15% dari 230 juta penduduk Indonesia yang memiliki asuransi jiwa. Jika sisanya bisa digarap maksimal, ini bisa menjadi peluang di tengah krisis. Lalu, peluang apa lagi yang bisa digarap perusahaan asuransi asal Toronto, Kanada, ini untuk terus memperluas pasarnya di Indonesia? Selasa (13/1) lalu, Lossin, yang memimpin Sun Life Indonesia sejak Februari 2008, meluangkan waktunya untuk berbincang dengan Yohana Novianti H. dan fotografer Sufri Yuliardi dari Warta Ekonomi. Petikannya:


Bagaimana proyeksi Anda terhadap prospek bisnis asuransi jiwa di tengah gelombang krisis dan pemilu yang akan segera berlangsung di Indonesia?

Proyeksi kami lebih kepada jangka panjang ketimbang jangka pendek. Menurut data kami, Indonesia hanya membelanjakan sekitar 1,6% dari Produk Domestik Bruto (PDB) untuk asuransi. Ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan Malaysia yang membelanjakan 4,6% dari total PDB untuk asuransi, atau Singapura yang 7,6%. Dalam jangka panjang, kami melihat angka 1,6% itu akan menjadi 5%. Ini berarti, dalam jangka panjang, pertumbuhan asuransi jiwa akan lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi Indonesia. Belum lagi, saat ini hanya 15% dari 230 juta penduduk Indonesia yang memiliki asuransi jiwa. Sisanya, 85%, masih merupakan potensi bagi industri asuransi jiwa Indonesia. Jadi, yang paling penting adalah terus mendidik masyarakat Indonesia tentang pentingnya perlindungan asuransi jiwa demi peningkatan kesadaran berasuransi.



Apa pandangan Anda mengenai krisis yang terjadi sekarang?

Krisis kali ini berbeda dengan krisis 1998. Selain itu, kami hanya memperoleh sedikit keluhan dari nasabah yang menginvestasikan uangnya melalui produk kami. Ini memperlihatkan bahwa kesadaran masyarakat mulai meningkat. Mereka mulai memahami pentingnya perlindungan asuransi jiwa. Kali ini kami juga melihat adanya kecenderungan masyarakat untuk berinvestasi melalui produk-produk asuransi dengan premi berkala, bukan dengan premi tunggal. Ini menunjukkan masyarakat mulai paham bahwa di saat krisis mereka membutuhkan perlindungan jiwa, kesehatan, dan pendidikan. Pemahaman tersebut membuka kesempatan untuk tumbuh bagi perusahaan asuransi jiwa di Indonesia.



Langkah-langkah apa saja yang Anda ambil dalam menghadapi krisis keuangan global?

Pertama, mengedukasi masyarakat tentang pentingnya asuransi jiwa, kesehatan, dan pendidikan. Oleh karena itu, PT Sun Life Financial Indonesia, baik secara independen maupun bersama dengan asosiasi industri asuransi, akan berperan aktif meningkatkan kesadaran masyarakat soal pentingnya berasuransi. Kami, misalnya, akan memberikan kuliah umum di berbagai universitas di Indonesia soal ini. Selain itu, kami juga berdiskusi dengan para nasabah untuk terus mengingatkan mereka bahwa sekaranglah waktu yang tepat untuk mulai melakukan perencanaan keuangan, menyisihkan sebagian dana untuk masa depan, seperti untuk perlindungan kesehatan dan pendidikan anak. Kedua, terus meningkatkan profesionalisme karyawan, agen, atau tenaga pemasaran. Hanya dengan dukungan karyawan dan tenaga pemasaran yang profesional kami dapat terus tumbuh dan memberikan pelayanan asuransi yang lebih baik, sesuai kebutuhan nasabah kami.


Akibat krisis, banyak orang memprioritaskan pengeluaran untuk kebutuhan primer, dan menomorduakan asuransi. Pendapat Anda?

Menurut kami, sebagian nasabah masih tetap menyadari pentingnya perlindungan jiwa, kesehatan, dan pendidikan, dan, karenanya, mereka akan tetap membayar premi asuransi. 
 

Bagaimana pertumbuhan premi Sun Life Indonesia pada 2008, dan proyeksinya untuk 2009?

Kami senang dapat mempertahankan pertumbuhan perusahaan dengan baik di tahun 2008. Angka setahun lalu memang belum dapat kami publikasikan, tetapi kinerja hingga kuartal II-2008 tetap menunjukkan pertumbuhan yang kuat. Pendapatan premi baru di kuartal II-2008 mencapai Rp400 miliar, meningkat 40% dari periode yang sama tahun 2007. Sementara itu, total pendapatan premi kuartal II-2008 mencapai Rp537 miliar atau meningkat 37% dari tahun . Kemudian, aset kami mencapai Rp2,96 triliun. Untuk 2009, kami optimistis bisa mempertahankan pertumbuhan, dan bahkan makin bertumbuh.

 
Bagaimana semangat inovasi di Sun Life?

Sun Life Indonesia memiliki komitmen untuk terus menyediakan produk dan layanan keuangan yang sesuai dengan kebutuhan nasabah yang berubah-ubah. Untuk itu, kami terus meluncurkan produk baru. Tahun ini kami akan meluncurkan produk syariah untuk mengakomodasi kepentingan pasar syariah di Indonesia. 


Agen atau tenaga pemasaran adalah ujung tombak perusahaan asuransi. Bagaimana Anda merekrut mereka?

Kami memfokuskan diri untuk merekrut orang-orang baru bagi industri asuransi jiwa. Dalam merekrut tenaga pemasaran, biasanya kami melihat mereka yang memiliki semangat kerja tinggi, berlatar belakang pendidikan baik, dan bisa belajar dengan cepat.


Apa komentar Anda mengenai fenomena bajak-membajak agen dalam industri asuransi?

Bagi kami, perpindahan agen atau karyawan ke perusahaan lain adalah hal yang wajar, selama itu dilakukan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Pada prinsipnya kami menentang keras pembajakan tenaga pemasaran antarperusahaan asuransi jiwa, terutama pembajakan sebuah grup atau kelompok keagenan (agency), karena hal itu bisa berdampak buruk bagi nasabah. Biasanya yang terjadi adalah nasabah diminta mengganti produk mereka, sehingga nasabah tidak dapat memperoleh manfaat asuransi secara maksimal, dan ini dapat mengganggu perencanaan keuangan nasabah. Kami akan mencegah pembajakan tenaga pemasaran yang tidak sesuai dengan peraturan pemerintah dan regulasi industri. 
 

Bagaimana rencana ekspansi Sun Life selama 2009?

Kami akan melakukan ekspansi melalui beberapa cara. Pertama, ekspansi jalur distribusi melalui keagenan. Saat ini kami memiliki sekitar 4.000 agen, dan selama 2009 kami akan menambah jumlah tersebut secara signifikan. Kedua, ekspansi melalui jalur distribusi alternatif. Misalnya, kami akan mencari lebih banyak lagi mitra perbankan atau institusi keuangan sebagai jalur distribusi, di samping melihat kesempatan perluasan bisnis melalui mitra perbankan atau institusi keuangan yang telah ada sekarang. Ketiga, melalui merger dan akuisisi. Kami akan mengakuisisi perusahaan lain yang ukurannya sesuai dengan tujuan perkembangan bisnis kami. Kami tidak akan mengakuisisi perusahaan kecil atau yang besarnya hanya 10% dari Sun Life Indonesia.


Krisis keuangan di Amerika Serikat ikut merontokkan salah satu perusahaan asuransi yang cukup besar. Komentar Anda?

Sun Life Indonesia merupakan bagian dari Sun Life Financial Inc., perusahaan penyedia jasa keuangan internasional terkemuka di dunia yang berbasis di Toronto, Kanada. Kami memiliki kondisi keuangan yang kuat, dengan portofolio investasi yang sangat beragam, yang akan meminimalkan pengaruh dari kerugian yang terjadi di satu jenis investasi. Di Indonesia, hanya kurang dari 1% portofolio kami investasikan di pasar saham (equity market). Sisanya kami investasikan dalam bentuk obligasi pemerintah Indonesia (government bonds). Sementara itu, secara grup perusahaan, Sun Life Financial memiliki hubungan yang minimal dengan kredit (sub-prime). Hubungan Sun Life Group terhadap sub-prime dibatasi kurang dari 1% dari portofolio obligasi, dan semua perusahaan telah diperingkat dalam Investment Grade. Sebanyak 96% dari investasi ini dikeluarkan sebelum 2006, atau memiliki peringkat AAA. Jadi, pengaruh langsung dari pasar saham sangat kecil bagi kami. Sun Life juga didukung oleh praktek-praktek pengelolaan risiko (risk management) yang kuat untuk meminimalkan kerugian bisnis dari kondisi ekonomi yang bergejolak saat ini. Pengelolaan modal Sun Life dilakukan dengan sangat berhati-hati, sehingga akan mendukung kami dalam menghadapi pengaruh negatif yang mungkin terjadi dari kondisi ekonomi saat ini.

Chris Lossin adalah Presiden Direktur PT. Sun Life Finacial Indonesia.

Sun Life yang bermarkas di Toronto, Kanada, beroperasi sejak 1865 dan berekspansi ke Indonesia sejak 1995. Ayah tiga anak ini resmi bergabung dengan Sun Life Indonesia sejak Februari 2008. Alumnus Cambridge University, Inggris, dan penyandang gelar MA bidang matematika ini telah 25 tahun berkecimpung di bidang keuangan. , penggemar olahraga dan travelling ini pernah menduduki posisi senior di sejumlah perusahaan asuransi multinasional, seperti AIA dan Allianz.


Tulisan ini dikutip dari majalah Warta Ekonomi edisi 02 Tahun XXI 26 Januari-8 Februari 2009 pada halaman 14-17. Judul asli tulisan ini adalah Krisis Kali Ini Berbeda dengan Krisis 1998”.