1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

ga ngaruh lah yo … 24 September 2009

Filed under: Investasi dan Risiko — bumi2009fans @ 5:36 pm

https://i2.wp.com/www.wartaekonomi.co.id/images/stories/RoadToRecovery15hal20-23-2.jpg
Bombing to Economy: Learning by Experience
Selasa, 22 September 2009 16:00 Redaksi-1
E-mail Cetak PDF
Indeks Artikel
Bombing to Economy: Learning by Experience
Bom Bali I
Semua Halaman

altMeledaknya bom di hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton Jumat (17/7) lalu menambah panjang daftar peristiwa pengeboman yang pernah terjadi di Indonesia. Seberapa besar dampaknya terhadap perekonomian Indonesia?

Jumat (17/7) pagi Indonesia dikejutkan oleh bom yang meledak di Hotel Ritz-Carlton dan Hotel JW Marriott, Jakarta. Peristiwa pengeboman sebenarnya bukan hal baru bagi Indonesia. Sejak tahun 2000 tercatat sudah terjadi 17 peledakan bom yang mewarnai negeri ini. Bahkan pengeboman di JW Marriott merupakan yang kedua kali setelah yang pertama pada 2003. Dari ke-17 peristiwa pengeboman itu, enam di antaranya menelan korban sangat banyak, baik materiil maupun nonmateriil, yaitu Bom BEJ, Bom Bali I & II, Bom Hotel JW Marriott, Bom Kuningan (Kedutaan Australia), dan yang terakhir, Bom Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz-Carlton.

Bom Tahun 2000

Pada 2000 tercatat ada tiga peristiwa pengeboman di negeri ini. Pertama adalah pengeboman di Kedubes Filipina pada 1 Agustus 2000 yang menewaskan 2 orang dan melukai 21 orang. Bom kedua adalah yang meledak di basement gedung BEJ dan menelan 15 korban jiwa pada 13 September 2000. Dibomnya BEJ sebagai pusat pasar finansial di Indonesia tentu saja membawa dampak yang sangat besar bagi perekonomian negeri ini. Akibatnya kala itu, nilai tukar rupiah terdepresiasi sebesar 314 poin, dari Rp8.965 per dolar AS pada 11 Oktober 2000 menjadi Rp9.279 per dolar AS pada 15 Oktober 2000. Pergerakan saham pun terlihat mengenaskan, turun sebanyak 954 poin pada level 442,091. Pengeboman di BEJ ini mengakibatkan otoritas BEJ melakukan suspensi pada BEJ selama dua hari.

Selain memengaruhi variabel makro, pengeboman ini juga sangat memengaruhi ekspektasi luar negeri terhadap kondisi Indonesia. Hal ini tercermin dari menurunnya tingkat investasi asing yang masuk ke Indonesia, yakni dari US$9.877,4 juta pada 2000 menjadi hanya US$3.509,4 juta pada 2001, atau mengalami penurunan tajam sekitar 64%. Sementara itu, investasi dalam negeri turun sebesar 96%, dari Rp22.038 miliar menjadi hanya Rp989,8 miliar.

Bom ketiga terjadi pada penghujung tahun 2000, tepatnya di malam Natal. Tercatat terjadi 23 ledakan bom pada malam Natal 2000.

alt

Bom Bali I

Peristiwa pengeboman yang tercatat sebagai salah satu pengeboman paling parah adalah Bom Bali I. Pengeboman yang terjadi pada malam hari tanggal 12 Oktober 2002 di Kuta, Bali, ini menelan korban jiwa yang sangat banyak, yaitu sekitar 203 orang. Mayoritas korban adalah turis asing, terutama berkebangsaan Australia. Tak heran, sejak saat itu, Australia memberlakukan travel warning ke Indonesia. Bali sebagai destinasi utama pariwisata Indonesia saat itu mengalami downturn terparah sepanjang sejarah pariwisata di Indonesia. Pada saat itu IHSG tertekan sekitar 10%, nilai tukar terdepresiasi cukup dalam, dari sekitar Rp9.070 per dolar AS pada 11 Oktober 2002 menjadi sekitar Rp9.480 per dolar AS pada 15 Oktober 2002, atau terdepresiasi sekitar 410 poin.

Bom Hotel JW Marriott

Pengeboman berikutnya yang menarik perhatian internasional adalah yang terjadi di hotel jaringan internasional JW Marriott yang terletak di kawasan bisnis Mega Kuningan, Jakarta, pada 5 Agustus 2003. Bom ini menewaskan 12 orang dan mencederai 150 orang. Akibat dari pengeboman ini, Hotel JW Marriott ditutup selama lima minggu. Hal ini tentu saja sangat berpengaruh pada kondisi perekonomian karena bom menyerang salah satu jaringan hotel terbesar di dunia. Nilai tukar rupiah sempat tertekan hingga 130 poin, dari Rp8.530 per dolar AS ke Rp8.660 per dolar AS.

Namun, ketika itu terdapat adjustment yang cukup cepat dari variabel-variabel makroekonomi. Nilai tukar selanjutnya dapat menguat. Bahkan, dua minggu setelah serangan, nilai tukar terapresiasi hingga mendekati Rp8.400 per dolar AS hanya dalam tempo 13 hari. Dari sisi investasi asing, ternyata pengeboman Hotel JW Marriott tidak memiliki pengaruh yang terlalu signifikan pada iklim investasi. BKPM mencatat terjadi penurunan investasi asing sekitar 16% pada 2004 menjadi US$4.572,7 juta, dari US$5.445,3 juta pada 2003. Namun ternyata, hal ini tidak terlalu berpengaruh pada investor domestik. Tercatat terjadi peningkatan sebesar 26% investasi domestik (PMDN) pada 2004, menjadi Rp15.409,4 miliar, dari Rp12.247 miliar pada 2003.

Bom Bali II

Pengeboman yang terjadi untuk kedua kalinya di Pulau Dewata, Bali, ini merupakan jilid ke-2 dari peristiwa Bom Bali, atau lebih dikenal sebagai Bom Bali II. Peristiwa ini terjadi pada 1 Oktober 2005 di tiga lokasi, yaitu satu di Kuta dan dua di Jimbaran. Serangan ini memakan korban jiwa sebanyak 23 orang yang mayoritas, atau sekitar 15 orang, merupakan warga Indonesia. Pengeboman ini membuat industri pariwisata yang sedang mencoba untuk bangkit menjadi terpuruk kembali. Tingkat hunian hotel di Bali anjlok sebesar 60%, tingkat pendapatan turun sebanyak 65%, dan terjadi peningkatan jumlah pengangguran sebanyak 20%. Namun, dari segi makro, Bom Bali II tidak memiliki pengaruh yang signifikan. Nilai tukar rupiah memang sempat melemah sehari setelah serangan, yakni sebesar 100 poin menjadi Rp10.400, tetapi pada sesi penutupan menguat kembali menjadi Rp10.305. IHSG juga tidak terlalu terpengaruh oleh peristiwa ini.

Bom Hotel JW Marriott-Hotel Ritz-Carlton

Setelah hampir empat tahun peristiwa pengeboman tidak lagi terjadi, pada Jumat, 17 Juli 2009, pukul 07.45, dua buah bom meledak dalam waktu yang hampir bersamaan di Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz-Carlton yang terletak berdekatan di kawasan bisnis Mega Kuningan, Jakarta. Peristiwa ini memakan korban 9 orang tewas dan 55 orang luka-luka. Sama halnya seperti peristiwa pengeboman sebelumnya, orang asing tampaknya kembali menjadi sasaran pengeboman. Dua hotel bintang lima bertaraf internasional itu menjadi langganan para pelaku bisnis asing. Bahkan, pengeboman ini mengakibatkan batalnya ajang akbar yang sangat dinantikan para penggemar sepak bola di Tanah Air, yaitu kedatangan klub sepak bola kenamaan asal Inggris Manchester United untuk bertanding melawan tim nasional Indonesia.

Bom terakhir ini juga mengguncang perekonomian Indonesia. Pada Jumat (17/7) IHSG anjlok 11 poin, dan nilai tukar ikut tertekan 90 poin, dari Rp10.890 per dolar AS (16/7) menjadi Rp10.180 per dolar AS (17/7). Selain dari melemahnya IHSG dan nilai tukar, pengeboman ini juga mengancam industri penerbangan Indonesia. Sekjen INACA, Tengku Burhanuddin, memperkirakan akan terjadi penurunan arus penumpang dari berbagai kota dunia ke Indonesia sekitar 15%. Namun, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mengatakan bahwa peristiwa pengeboman ini tidak menimbulkan eksodus warga negara asing keluar Jakarta. Tingkat hunian hotel di Jakarta tetap stabil di angka 60%–70%. Nilai tukar rupiah juga terapresiasi 130 poin menjadi Rp10.050 per dolar AS (21/7).

Jika melihat data dampak pengeboman terhadap perekonomian, tampaknya kepercayaan dan ekspektasi masyarakat dan investor terhadap perekonomian Indonesia tetap menunjukkan tren positif. Meskipun Indonesia tak pernah lepas dari ancaman bom dan terorisme, tampaknya hal itu tidak mengganggu kegiatan pasar (karena masih banyak variabel lain yang lebih signifikan memengaruhi pasar). Namun, bukan berarti masalah pengeboman menjadi hal biasa-biasa saja. Masalah terorisme tetaplah harus diwaspadai dan menjadi hal yang memprihatinkan bagi pelaku usaha serta masyarakat Indonesia umumnya jika terus saja terjadi.

NURHIFEN KANIA

Is economic terrorism a threat to S.E. Asia?
Thu Sep 24, 2009 4:50am EDT
By Andrew Marshall, Asia Political Risk Correspondent – Analysis

SINGAPORE, Sept 24 – If the suicide bombers who targeted two luxury hotels in Jakarta this year hoped their attacks would strike a significant long-term blow against Indonesia’s economy, the reaction of financial markets suggests they were wrong.

Economic warfare is at the heart of the tactics of terrorism. A few militants with primitive and low-cost weaponry can cause economic destruction that reverberates far beyond the physical damage they inflict, impacting whole industries and countries.

But the overwhelming evidence from militant attacks over recent decades is that the impact is almost always temporary. In the long run, economies and markets are remarkably resilient.

From the hijacked airliner attacks in the United States on Sept.11, 2001, to the suicide blasts at nightclubs in Bali in 2002 and the Madrid and London train bombings of 2004 and 2005, markets have reacted in a highly consistent pattern.

Domestic equities, bonds and the local currency suffer a knee-jerk sell-off. Risk appetite drops sharply and there is a swift flight to quality, with investors seeking the sanctuary of U.S. Treasuries, and sometimes selected commodities and gold.

But within weeks — and usually days — asset prices recover. In the first trading session after the 2002 Bali bombings, the Jakarta stock market plunged more than 10 percent and the rupiah dived 3.7 percent. But within 24 days stocks were back at pre-attack levels, and the rupiah recovered within 5 weeks.

Subsequent bombings in Indonesia had far less impact even in terms of short-run reaction. After the hotel blasts in July, stocks sank 2.7 percent but ended trade just 0.6 percent down.

LESSONS LEARNED

So what are the lessons for investors and risk managers?

Firstly, the initial market impact from terror attacks is likely to be overdone and to unwind over subsequent days.

The reasons can be found in human nature — behavioral economists have shown that people tend to be naturally risk averse and prone to panic and a herd mentality in the face of uncertainty and danger. For bold investors, asset price weakness in the wake of militant attacks is a clear buying opportunity.

Second, once the initial panic eases, investors take a more rational look at the medium-term economic impact. The direct economic impact in terms of physical damage and loss of human capital is much less of an issue than the question of whether the attacks have spill-over consequences that magnify their cost.

To give one extreme scenario, a militant attack that led to conflict between nuclear-armed India and Pakistan could have a devastating global effect far beyond the initial damage.

Thirdly, the micro impact of attacks can be more serious than the macro. While economies are resilient, sectors such as airlines, tourism and insurance are much more vulnerable. Portfolio diversification can reduce this risk.

Finally, the extent to which attacks have a long-term market impact on industries and countries depends on whether they cause investors to re-evaluate their long-term risk assessments.

The 2002 Bali bombings fundamentally changed perceptions of Indonesian risk for investors and tourists. Later attacks had less impact because the higher risk level was already priced in.

WORST-CASE SCENARIOS

In the southeast Asian context, this means that even if militants in Indonesia or the Philippines are able to launch new attacks, the risk for portfolio investors is limited.

A much more significant issue would be if the risk profile of other countries in the region changed dramatically.

Thailand, Singapore and Malaysia are key flashpoints — the risks that militants launch damaging attacks on major economic or tourist targets is widely regarded as low, but the long-term economic impact would be disproportionately high because country risk estimates would be fundamentally re-rated.

For Indonesia and the Philippines, many of the risks are on the upside — if either country can demonstrate it is making sustained progress on reducing the threat from terrorism, country risk ratings will be revised in a favorable direction.

But this does not make Indonesian or Philippine markets immune from negative terrorism risk. The key issue is whether insurgents can launch attacks that would cause political turmoil.

Indonesia has been a highly bullish story for investors this year due to improved economic and political stability and expectations that President Susilo Bambang Yodhoyono, newly returned for a second term with a strong mandate, will pursue much needed market-friendly reforms and crack down on graft.

But risk analysts worry that Indonesia’s progress is highly dependent on Yudhoyono’s personal power and popular support. He has no obvious successor who would have the powerbase and determination to maintain stability and continue reforms.

After the July bombings, Yudhoyono said militants were using his photograph for target practice. Police said they had foiled a plot by militants to launch a suicide mini-bus attack on the president near his residence. Were such an attack ever to succeed, it would profoundly impact Indonesia’s future. (Editing by Bill Tarrant)

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s