1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

tanda-TANDA gdp amrik POSITIF lage … : 250909 25 September 2009

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 8:10 am

Jumat, 25/09/2009 00:00 WIB

Prospek saham cerah
The Fed pertahankan suku bunga rendah

oleh :

JAKARTA: Persepsi positif pemulihan ekonomi Asia, masih rendahnya tingkat suku bunga global, dan kuatnya daya tahan perekonomian Indonesia akan memicu masuknya dana asing ke pasar modal pada 2010.

Kondisi itu berpotensi memperkuat bursa saham Indonesia yang saat ini menduduki posisi sebagai bursa dengan pertumbuhan tertinggi se-Asia, dan tertinggi kedua dunia.

Direktur Utama PT Schroder Investment Management Indonesia Michael Tjoajadi mengatakan turunnya risiko gagal bayar perbankan Indonesia juga memperkuat keyakinan pemodal global. Kondisi ini ditunjukkan oleh posisi credit default swap (CDS) yang turun 3,13% ke level 171,75 basis poin.

“Posisi CDS ini menggambarkan risiko gagal bayar bank-bank di Indonesia semakin turun. Pemodal global pun yakin memasukkan dana ke pasar modal Indonesia, apalagi pemulihan ekonomi di Asia paling cepat di dunia,” tuturnya dalam paparan IHSG Pascapilpres 2009-2014, kemarin.

Berdasarkan indikator bisnis dan ekonomi dunia, lanjutnya, resesi global telah mencapai titik dasar pada kuartal III dan kuartal IV tahun ini, dan selanjutnya berbalik menguat pada tahun depan.

Indikator itu di antaranya terlihat dari laba bersih bank-bank AS pada Maret seperti Citibank, Bank of America, dan JP Morgan yang mulai bertumbuh. Data Bank Pembangunan Asia (ADB) dan Dana Moneter Internasional (IMF) juga saling mengonfirmasi kuatnya ekonomi Asia.

“Tidak heran, bursa Indonesia sepanjang tahun ini menguat 70% dengan gain dalam dolar tertinggi di Asia. Investor global akan memilih berinvestasi di pasar modal Indonesia dibandingkan dengan Vietnam, Sri Lanka, maupun Pakistan,” papar Michael.

Bisnis mencatat gain bursa Indonesia mencapai 112,67% pada sepanjang tahun ini. Sri Lanka berada di posisi kedua sebesar 89,18%, disusul Vietnam (78,49%), dan India (76,41%). Secara global, bursa Indonesia menduduki peringkat tertinggi kedua setelah bursa Peru yang membukukan gain 139,15%.

Total nilai pembelian bersih (net buy) saham oleh pemodal asing pada sepanjang bulan ini mencapai Rp1,92 triliun (lihat ilustrasi). Sebagian bursa Asia kemarin melemah seperti Hang Seng (-2,52%) dan Kospi (-1,03%). Namun, indeks Nikkei-225 Jepang naik 1,67% diikuti bursa Shanghai sebesar 0,38%. Tadi malam, bursa Dow Jones dibuka menguat 0,46% atau 45,12 poin ke level 9.793,67.

Michael menambahkan perekonomian Indonesia sekarang hanya melambat, ketika ekonomi negara maju berada di fase terbawah. Ekonomi Indonesia dipastikan melompat ketika ekonomi negara maju memasuki tahap pemulihan.

Bunga The Fed

Sementara itu, Federal Open Market Committee (FOMC) kembali mempertahankan bunga acuan pada posisi 0% sampai 0,25%. The Fed menyebutkan ekonomi AS yang mulai tumbuh ke arah positif belum cukup kuat untuk menarik stimulus moneter di negara itu.

“Bank sentral AS akan tetap melanjutkan penggunaan sejumlah instrumen moneter untuk mendorong pemulihan ekonomi dan menjaga stabilitas harga,” tulis siaran pers FOMC yang dikutip dari situs resmi bank sentral AS itu, kemarin.

Dengan keputusan itu, The Fed memberikan sinyal memperpanjang masa kebijakan suku bunga rendah yang sudah dimulai sejak Desember 2008. FOMC juga memperpanjang masa berlaku program pembelian pinjaman dan surat berharga berbasis perumahan sampai Maret 2010 dari Desember 2009.

“Untuk sementara, mereka berada pada tahap yang akomodatif. Target taktis The Fed tidak hanya meningkatkan potensi pertumbuhan,” ujar Vincent Reinhart, mantan Direktur Bidang Moneter The Fed.

Dia menilai pernyataan FOMC ini menunjukkan prospek ekonomi AS saat ini paling baik dibandingkan dengan kondisi saat terjadinya kebangkrutan Lehman Brothers Holdings Inc pada tahun lalu.

Head of Pricing PT Penilai Harga Efek Indonesia (Indonesia Bond Pricing Agency) Ronny Wicaksono menuturkan penetapan bunga The Fed sejalan dengan antisipasi pelaku pasar.

“Ini sudah diprediksi sebelumnya karena AS ingin meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Ini akan sentimen tambahan bagi investor asing ke Indonesia di tengah fokus investor mencermati inflasi dan pertumbuhan ekonomi dunia,” ujarnya.

Mengantisipasi peta perkembangan ekonomi sekarang, lanjut Michael, para pengelola dana asing maupun nasional akan masuk ke bursa memborong saham unggulan, untuk mengantisipasi pemulihan ekonomi tahun depan.

“Selanjutnya ketika ekonomi mencapai puncak, pemodal institusi akan keluar dari pasar untuk merealisasikan keuntungan sekaligus mengantisipasi penurunan ekonomi selanjutnya sesuai dengan siklus ekonomi dunia,” ujarnya.

Indeks menguat

Indeks harga saham gabungan (IHSG) kemarin menguat 11,92 poin atau 0,48% ke level 2.468,9. Saham sektor infrastruktur memimpin pergerakan setelah saham komoditas tergerus aksi ambil untung.

Nilai transaksi saham mencapai Rp4,67 triliun, dengan kenaikan 89 saham, sedangkan 95 lainnya turun dan 61 saham stagnan.

“Keputusan ADB dan Credit Suisse menaikkan proyeksi ekonomi Asia dan Indonesia menjadi sentimen positif, ketika saham komoditas yang selama ini menopang kenaikan IHSG tertekan,” tutur analis PT Samuel Sekuritas Sonny John.

Indeks saham pertambangan turun 0,29% mengikuti koreksi harga minyak mentah dunia US$2,79 ke level US$68,97. Harga energi dunia itu anjlok menyusul kenaikan suplai minyak dunia 2,8 juta barel pekan lalu.

Sebaliknya indeks sektor infrastruktur menguat 1,64%. Saham sektor ini yang menguat antara lain PT Telekomunikasi Indonesia Tbk menguat 4,16% dan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk naik 5,31%.

Pada bagian lain, rupiah kemarin ditransaksikan pada level Rp9.660 per dolar AS atau menguat sekitar 0,5% dari posisi 18 September Rp9.700 per dolar AS.

VP Research and Analyst PT Valbury Asia Futures Nico Omer Jonckheere mengatakan rupiah bahkan berpotensi menguat di kisaran Rp9.000-Rp9.500 per dolar AS seperti kondisi pada 2007-2008 seiring dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia. (21/M. Tahir Saleh) (arif.gunawan@bisnis.co.id/ erna.girsang@bisnis.co.id)

Oleh Arif Gunawan S. & Erna S. U. Girsang

Bisnis Indonesia

bisnis.com
AS di Awal Pemulihan Ekonomi
24/09/2009 23:28:28 WIB
WASHINGTON, INVESTOR DAILY
Pemulihan ekonomi Amerika Serikat (AS) mulai tampak pada saat pertemuan para pemimpin kelompok negara ekonomi maju dan berkembang yang tergabung dalam Kelompok-20 (G-20) di Pittsburgh, Pennsylvania, AS, hari ini (Kamis, 24/9).

“Kami sedang mengalami pemulihan yang sangat awal. Kami perlu memastikan bahwa kami tetap berada di posisi pemulihan awal. Oleh karena itu, kami perlu mempertahankannya, yang dipicu oleh permintaan swasta, sistem keuangan yang pada dasarnya dapat menyediakan kredit yang dibutuhkan,” kata Geithner, Selasa (23/9).

Para pemimpin G-20 akan bertemu di Pittsburgh dari 24-25 September 2009. Geithner menandasakan, agenda perundingan ditujukan untuk membahas perkembangan ekonomi dunia dan menjamin pertumbuhan yang labih baik pada masa mendatang.

“Untuk menjamin bahwa pemulihan dari krisis ini, kami menabur benih untuk keseimbangan yang lebih kuat, pemulihan yang lebih stabil. Itu adalah agenda perundiangan,” pungkas dia.

Para pejabat AS ingin para pemimpin G-20 untuk mengadopsi kerangka yang ditujukan untuk menopang pertumbuhan sektor ekspor yang difokuskan pada negara-negara anggota seperti Republik Rakyat Tiongkok (RRT), Jerman, dan Jepang. Sementara negara debitor yang haus barang-barang impor seperti AS harus mendongkrak simpanan dan memangkas konsumsi.

Sementara itu, untuk memelihara pemulihan yang baru lahir, bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) berkeyakinan untuk tetap mempertahankan suku bunga di rekor rendah dan akan terus memberikan dukungan ekonomi yang selama ini telah diberikan.

Gubernur The Fed Ben Bernanke dan para koleganya dijadwalkan menggelar pertemuan dua hari mulai Rabu (23/9) sore. Mereka diharapkan akan mengumumkan bahwa resesi AS telah berakhir dan iklim ekonomi serta keuangan telah membaik. Tetapi, mereka kemungkinan juga akan memperingatkan bahwa meningkatnya pengangguran dan masih sulitnya mendapatkan kredit bagi banyak orang maupun perusahaan, akan membuat pemulihan berjalan lamban.

“Kami seperti berada dalam api penyucian ekonomi sekarang. Kami berada dalam pemulihan tapi tidak akan merasakannya. Masih banyak yang harus dilakukan The Fed untuk mendorong pemulihan ekonomi yang berkelanjutan,” kata Stuart Hoffman, kepala ekonom PNC Financial Services Group. (rtr/ap/did/ns)
BoA Akhiri Jaminan Pemerintah
24/09/2009 23:27:03 WIB
NEW YORK, INVESTOR DAILY
Bank of Amerika (BoA) telah menyepakati pembayaran sebesari US$ 425 juta kepada pemerintah Amerika Serikat (AS) untuk mengakhiri program jaminan yang dikucurkan pemerintah. Jaminan itu semula diberikan untuk mengantisipasi kerugian saat proses pengambilalihan Merrill Lynch oleh BoA awal tahun ini.

“Kami senang bisa mengatasi permasalahan ini dan bergerak maju, “ kata Kenneth Lewis, chief executive officer (CEO) dan presiden BoA dalam sebuah pernyataan, Senin (21/9).

Kebijakan untuk mengakhiri jaminan pemerintah telah memicu peningkatan nilai aset menjadi US$ 118 miliar, yang ditawarkan otoritas untuk membuka jalan guna melakukan akuisisi Merrill Lynch pada Januari 2009.

BoA telah bersikeras untuk menolak skenario pengambilalihan yang dirancang oleh pemerintah setelah mengetahui kerugian besar yang dialami Merrill.

Di bawah tekanan otoritas, Lewis menyelesaikan pengambilalihan dan Departemen Keuangan AS menambah bantuan Program Pemulihan Aset Bermasalah (TARP) ke bank itu senilai US$ 45 miliar dari rencana awal yang hanya sebesar US$ 25 miliar.

Selain mengalokasikan bantuan TARP senilai US$ 45 miliar, pemerintah AS juga menyepakati jaminan sebesar 90% untuk mengantisipasi risiko kerugian aset sebesar US$ 118 milik bank dan Merrill Lynch.
Kendati demikian, Lewis secara terus terang menentang intervensi pemerintah di berbagai perusahaan yang mendapat bantuan masyarakat.

Dalam pernyataan pada Senin (21/9) waktu setempat, bank itu menyebutkan bahwa mereka telah mengambil berbagai langkah untuk menguranngi ketergantungan mereka terhadap bantuan pemerintah dan kembali ke dana pasar yang normal. Upaya tersebut sebagian besar ditempuh dengan cara meningkatkan modal dan mengeluarkan obligasi senilai US$ 10 miliar yang tidak didukung pemerintah. (afp/did)

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s