1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

imbas pelemahan us dollar ke bursa, carry trades, suku bunga amrik:280909 28 September 2009

Filed under: Investasi dan Risiko — bumi2009fans @ 8:07 am

Senin, 28/09/2009 00:00 WIB

CATATAN AWAL PEKAN
Volatilitas pasar akan tetap bersama kita

oleh :

Fundamental perekonomian Indonesia memang relatif kuat; tetapi perlu diingat bahwa menguatnya rupiah juga didorong oleh tren melemahnya dolar akibat rezim suku bunga rendah disana. Oleh sebab itu, potensi kenaikan suku bunga AS perlu diwaspadai.

Libur Lebaran telah usai, dan pasar keuangan di Tanah Air telah buka kembali. Alhamdulillah, keadaan paska-Lebaran tahun ini sangat berbeda dengan tahun lalu, dimana kita disambut oleh indeks saham yang terjun bebas dan nilai tukar rupiah yang melemah tajam.

Sejak awal tahun ini, rupiah telah menguat 11% ke kisaran Rp9.700 per dolar dan indeks saham naik sekitar 75% ke kisaran 2400. Imbal hasil obligasi 5-tahun pun kembali ke sekitar 9%, setelah sempat mencapai 20% setahun yang lalu.

Perbaikan di pasar keuangan ini memang ditunjang oleh fundamental ekonomi Indonesia yang ternyata cukup kuat.

Pertumbuhan ekonomi masih positif di atas empat persen pada semester pertama tahun ini, sementara neraca ekspor impor mengalami surplus yang cukup besar.

Peringkat utang jangka panjang Indonesia juga baru-baru ini dinaikkan oleh lembaga pemeringkat internasional Moody’s menjadi Ba2-yakni dua tingkat lagi menuju peringkat layak investasi (investment grade).

Namun terlepas dari itu, perlu diketahui juga bahwa pemulihan pasar keuangan Indonesia saat ini sangat terkait dengan perbaikan kondisi ekonomi dan pasar keuangan global.

Fenomena flight to safety dan proses deleveraging dunia yang semarak tahun lalu kini telah usai. Dolar AS sekarang berada dalam tren melemah.

Indeks tertimbang nilai tukar dolar terhadap mata-uang negara-negara besar dunia-atau lebih dikenal dengan dollar index-telah anjlok sekitar 6% sejak awal tahun.

Bahkan bisa dikatakan bahwa setelah krisis 2008, keterkaitan nilai aset-aset keuangan Indonesia dengan tren-tren global justru terlihat semakin erat.

Gejala ini tampak dari naiknya koefisien korelasi antara dollar index dan imbal hasil surat utang negara (SUN) jangka panjang serta nilai tukar rupiah.

Sebelum krisis 2008, misalnya, koefisien korelasi antara pergerakan dollar index dan imbal hasil SUN 10 tahun hanya sekitar 30%. Namun setelah krisis, korelasinya meningkat hingga 70%.

Gejala serupa juga tampak antara dollar index dan nilai tukar rupiah. (Koefisien korelasi mengukur kesamaan pergerakan antara 2 variabel; angka 100% menunjukkan hubungan sempurna).

Faktor dasar

Suatu fenomena yang terlihat mulai menyemarak seiring dengan rendahnya suku bunga di AS saat ini (yang berada di sekitar level 0.15%) adalah munculnya minat pasar untuk menggunakan dolar sebagai mata uang dasar untuk aktivitas carry trade.

Carry trade pada dasarnya merupakan kegiatan eksploitasi perbedaan suku bunga, yang dilakukan dengan meminjam dolar dengan bunga rendah untuk kemudian dijual dan ditukarkan dengan mata uang berbunga tinggi.

Nah rupiah sebagai salah satu mata uang dengan bunga tinggi (di samping mata uang negara-negara lain seperti Australia, Selandia Baru, dll.) jelas menjadi tujuan yang menarik untuk carry trade.

Masalahnya di sini adalah bahwa kegiatan carry trade bisa berdampak pada semakin tajamnya risiko volatilitas pasar.

Sebab pada saat sang spekulator menjual dolar, mata uang tersebut otomatis melemah terhadap mata uang lawannya.

Jadi sebenarnya tidak mengherankan bila dolar AS sekarang ini berada dalam tren melemah.

Bahayanya timbul pada saat suku bunga dolar meningkat. Biaya meminjam dolar menjadi lebih mahal sehingga bisa mendorong para pelaku carry trade untuk membalikkan posisinya secara bersamaan dan mengakibatkan dolar menguat tajam.

Bila proses ini terjadi, imbal hasil SUN, nilai tukar rupiah dan indeks saham sangat mungkin terkena imbas negatif (walaupun tidak akan sehebat koreksi pada waktu krisis 2008).

Sebab itulah kita harus senantiasa mengevaluasi kemungkinan naiknya suku bunga di Amerika Serikat.

Memang, ada pendapat bahwa dengan tingginya defisit fiskal serta pertumbuhan utang dan uang primer di Amerika Serikat, daya tarik dolar sebagai mata uang perdagangan dan penempatan cadangan devisa akan mulai sirna.

Selain itu dolar akan melemah secara terus-menerus dan berkesinambungan. Proses ini sekaligus menjadi penyesuaian alamiah untuk mengobati defisit neraca perdagangan AS.

Jalur pemikiran tersebut sangatlah masuk akal, dan sangat mungkin terjadi dalam jangka panjang.

Namun, dalam jangka pendek, realitanya masih sulit bagi dunia untuk melepaskan diri dari ketergantungan terhadap dolar AS.

Contoh kecilnya, inisiatif China menggunakan Yuan (sebagai pengganti dolar) dalam perdagangannya dengan Indonesia saja masih mengalami kendala.

Masalahnya beragam. Para eksportir memerlukan mata uang yang juga bisa dipakai untuk membeli bahan baku impor, dan Yuan China belum cukup dipercaya sebagai mata uang yang diterima di penjuru dunia.

Utang korporasi

Terlebih lagi, sebagian besar utang korporasi di Indonesia berdenominasi dolar, sehingga bila hasil ekspor diterima dalam mata uang nondolar, bisa terjadi ketidaksesuaian atau currency mismatch dalam neraca keuanganan para eksportir.

Sepertinya, mau tak mau, dibutuhkan waktu yang masih lama untuk mencari mata uang yang bisa menggantikan posisi dolar. Sementara itu, hari kiamat bagi dolar pun belum akan datang.

Selanjutnya dalam jangka pendek, ekspektasi pergerakan dan perbedaan suku bunga global masih bisa memengaruhi tren dollar index.

Terkait dengan itu, bila kita melihat leading indicators negara-negara G-7 yang dikeluarkan oleh OECD, tampak bahwa pemulihan perekonomian dunia saat ini memang dipimpin oleh negara-negara Asia dan Eropa. Sementara itu pemulihan ekonomi Amerika berjalan relatif lebih lambat.

Salah satu implikasinya adalah bahwa Amerika akan belakangan dalam menaikkan suku bunga dibandingkan dengan negara-negara Asia dan Eropa, sehingga selama tahun ini kemungkinan dolar masih berada dalam tren melemah.

Namun, kita harus terus memperhatikan perkembangan pemulihan ekonomi AS, sebab potensi kenaikan suku bunga di sana akan membesar seiring dengan terus membaiknya indikator-indikator sektor riil.

Terlebih lagi, penurunan harga rumah yang selama ini menjadi penghalang besar bagi kenaikan suku bunga pun tampak sudah usai.

Pada tahun 2001, Bank sentral AS (The Fed) dinilai terlalu lambat dalam menaikkan suku bunga dari level terendahnya pada saat itu.

Dengan alasan peningkatan produktifitas, suku bunga terlalu lama ditahan di level satu persen sehingga terjadi gelembung harga perumahan yang dampaknya dirasakan sekarang ini.

Semestinya Federal Reserve tidak akan jatuh ke lubang yang sama dua kali, sehingga sekarang ini akan lebih reaktif terhadap gejala-gejala pemulihan pertumbuhan ekonomi.

Pasar dikenal sering mendahului kejadian-kejadian di sektor riil. Kenaikan suku bunga the Fed mungkin tidak akan terjadi hingga pertengahan atau akhir 2010; bahkan banyak yang memprediksi hingga 2011.

Akan tetapi, ekspektasinya bisa muncul jauh sebelum itu dan termanifestasi pada harga-harga aset keuangan. Memang krisis keuangan global tampak hampir usai sudah. Namun, volatilitas pasar akan tetap bersama kita.

Oleh Helmi Arman

Ekonom Bank Danamon

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s