1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

kayanya ipot masuk lapisan besar … : 300909 30 September 2009

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 8:25 am

Menyoal Visi Reformasi Pasar Modal
Selasa, 29 September 2009 – 08:23 wib
TEXT SIZE :

Foto: Corbis.
SEORANG pimpinan di salah satu perusahaan sekuritas mengeluh. Dia yang tidak mau disebutkan namanya itu menyesalkan sejumlah perubahan drastis regulasi yang ditempuh Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) pascakrisis keuangan global.

Hal pertama yang disorotinya adalah dasar pikir perubahan itu yaitu munculnya kasus semisal Sarijaya Permana Sekuritas dan Antaboga Delta Sekuritas. Menurut dia, pijakan berpikir ini sama saja menuding semua pelaku pasar modal adalah maling. Ini tentu tidak fair mengingat kasus-kasus itu selalu merujuk kepada oknum,katakanlah Robert Tantular dan dua rekan asingnya pada kasus Bank Century dan Herman Ramli dalam penggelapan dana nasabah Sarijaya.

“Mata otoritas pascakejadian itu memandang seolah-olah kami semua maling,” kesalnya. Salah satu yang disesali dan kemudian terbukti dilakukan adalah pernyataan tidak ada lagi ruang untuk pelaku pasar seperti manajer investasi (MI) dan broker sekelas usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di ranah bisnis jasa keuangan pasar finansial.Simpulan yang disebut Ketua Bapepam- LK Ahmad Fuad Rahmany pada sebuah seminar pasar modal yang diselenggarakan broker asing pada pertengahan bulan ini merujuk kepada rencana menaikkan pagu investasi minimal MI dan memisahkannya dari unit usaha broker.

Suka tidak suka, draf usulan kenaikan modal minimal MI menjadi Rp25 miliar dalam amandemen Undang- Undang Tahun 1995/8 tentang Pasar Modal seperti diramalkan banyak pelaku dan diakui oleh hitung-hitungan matematis otoritas, akan menggerus jumlah MI yang saat ini berjumlah 90-an. Tanpa bertendensi, semua yakin, pemodal asing yang akan banyak diuntungkan oleh kebijakan ini. Pemain asing akan dengan mudah menyesuaikan regulasi ini bila akhirnya diterapkan. Sementara mayoritas MI lokal berkantong tipis akan sulit beradaptasi dan berpotensi menjual kepemilikannya ke asing.

Di samping itu, menyandingkan MI lokal bermodal besar dengan MI asing akhirnya akan menempatkan pelaku domestik tetap kalah ukuran. Seorang direktur perusahaan sekuritas pun mempertanyakan dasar pijakan mengenai relevansi tidak bisanya MI atau broker sekelas UMKM berbisnis di pasar modal. Baginya, logika ini sangat salah bila mengingat-ingat pengalaman krisis global. “Kurang besar apa lagi Lehman Brothers, tetapi justru dia yang menyebabkan kebangkrutan,” kata dia yang juga tidak bersedia disebutkan namanya.

Belum lagi, siapa yang tidak kenal dengan reputasi Bernard Lawrence “Bernie” Madoff, sebelum akhirnya bekas Chairman Nasdaq Stock Exchange ini diketahui menjadi penipu terbesar sepanjang masa pasar modal dunia. Contoh paling anyar adalah kasus wanprestasi yang menimpa nasabah Bakrie Life yang membeli produk Diamond Investa. Meski merupakan anak usaha grup yang ?menguasai? pasar saham, dan memiliki triliunan aset, mereka tetap saja tidak mampu mengembalikan dana nasabah sebesar Rp370 miliar.

Jika menoleh lagi ke kasus Sarijaya, siapa yang tidak kenal dengan nama perusahaan sekuritas yang tergolong papan atas tersebut pada masanya. Toh, mereka juga akhirnya melakukan kecurangan. Perlu diingat, pada bisnis jasa keuangan, konsumen tidak selamanya membutuhkan penyedia jasa berkantong tebal. Untuk jasa penjamin emisi misalnya, emiten kecil umumnya juga akan berurusan dengan investment banking seukuran karena alasan-alasan skala ekonomi.

Jadi, amat disesalkan bila kemudian otoritas pasar modal mengedepankan entitas-entitas bertipe kapitalis murni yang mendewakan akumulasi modal karena gagasan eksistensi mereka adalah untuk mendorong pelaku-pelaku kecil tumbuh menjadi besar,bukan justru mematikan seketika. Reformasi pasar modal dan kasus-kasus yang bermunculan sudah sepantasnya dipisahkan menjadi dua persoalan berbeda sehingga revisi puluhan aturan yang digenjot pascakrisis tidak sematamata melahirkan regulasi yang reaktif, tetapi lebih bervisi jangka panjang.

Karena itu, tidak ada salahnya Bapepam-LK justru mencontek arsitektur perbankan seperti diprakarsai Bank Indonesia. Arsitektur pasar modal pada akhirnya, mau tidak mau, menempatkan Bapepam-LK untuk mengklasifikasi pelaku pasar berdasarkan tebal tipis permodalan yaitu membagi MI,sekuritas,atau bahkan asuransi berdasarkan besar,sedang, dan kecil.

Dengan begitu, langkah memperkuat pasar modal tidak menimbulkan isu tidak sedap bahwa reformasi yang bertujuan baik diboncengi oleh pembisik-pembisik asing.

Muhammad Ma’ruf
Jurnalis Koran SI (Koran SI/Koran SI/rhs)

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s