1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

PERINGATAN: waspada lah … (bang napi berujar…:P) : 061009 6 Oktober 2009

Filed under: Investasi dan Risiko — bumi2009fans @ 8:39 am

Selasa, 06/10/2009 07:20 WIB

Harga saham terlalu cepat meroket
‘Laju ekonomi dunia 3,1% masih terlalu lemah’
….. memang rumus bahwa INVESTASI PORTOFOLIO BIASANYA MENDAHULUI FAKTA EKONOMI RIIL tetap berlaku … dalam hal ini saham, komoditas dan valas sudah BEREAKSI MENDAHULUI PERTUMBUHAN EKONOMI … itu sebabnya, banyak analis keuangan dan ekonom global sudah mulai mencemaskan 3 hal itu, apalagi di bulan MISTERI OKTOBER ini … jadi, kemungkinan koreksi cukup dahsyat bisa saja terjadi … itu sebabnya TUNAI SEBAIKNYA JUGA TETAP DIPEGANG … TAPI JANGAN CEMAS BERLEBIHAN, tetap terukur saja … koreksi di ihsg s/d 10% maseh jamak lah yaow … itu kalo terjadi, tapi setiap hari sebenarnya ihsg selalu dikoreksi intraday trading … jadi ekspektasi koreksi 10% sudah bukan hal yang terlalu mencemaskan INVESTASI JANGKA PANJANG …
oleh :

ISTANBUL: Profesor Universitas New York Nouriel Roubini menilai harga saham dan komoditas yang meroket sejak Maret 2009 akan melorot secara bertahap dalam beberapa bulan mendatang, seiring dengan kekecewaan investor terhadap pemulihan ekonomi.

“Pasar sudah berkembang terlalu besar, dini, dan cepat. Saya melihat risiko terjadinya koreksi, terutama ketika pasar menyadari pemulihan tidak terlalu pesat dan cenderung berbentuk U, bukan V. Perlambatan pasar bisa saja terjadi pada kuartal IV/2009 atau kuartal I/2010,” katanya dalam sebuah wawancara, akhir pekan lalu.

Kinerja pasar saham dalam 6 bulan terakhir, kata Roubini, yang memprediksikan terjadinya krisis keuangan saat ini, bergerak cepat sebagai bukti adanya pemulihan ekonomi dari resesi terburuknya sejak dekade 1930.

Sejak Maret 2009 atau titik terendah dalam 12 tahun terakhir, indeks Standard & Poor’s 500 naik 50%, sementara Dow Jones Stoxx 600 Eropa melonjak 48%.

Luapan semangat dalam pasar saham dan komoditas itu berbanding terbalik dengan kecemasan para pembuat kebijakan negara-negara maju yang tergabung dalam G-7, yang menilai prospek pertumbuhan ekonomi belum stabil.

“Ekonomi riil nyaris pulih, sementara pasar mengikuti. Jika pertumbuhan tidak segera pulih, pasar akhirnya hanya akan mendatar. Saya melihat ada perbedaan yang makin besar antara apa yang terjadi di pasar dan aktivitas ekonomi riil yang melemah,” kata Roubini.

International Monetary Fund (IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia pada 2010 diperkirakan mencapai 3,1%, membaik dibandingkan dengan perkiraan Juli, yaitu 2,5%. Adapun negara berkembang di Asia diperkirakan tumbuh 7,3%, dari 7%.

Sementara itu, ekonomi China tumbuh 9% pada 2010. Lebih tinggi dibandingkan dengan angka yang dikeluarkan pada Juli, di mana produk domestik bruto (PDB) China diperkirakan naik 8,5%.

Asia memimpin dunia keluar dari resesi terburuk sejak 1930-an, setelah pembuat kebijakan memangkas suku bunga ke rekor terendah dan pemerintah di kawasan ini mengumumkan pengalokasian anggaran stimulus lebih dari US$950 miliar.

IMF memproyeksikan PDB negara berkembang di Asia akan naik dua kali lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi negara-negara maju.

“Ekonomi global menunjukkan sinyal kembali tumbuh positif dengan adanya dorongan dari kinerja ekonomi yang kuat di negara-negara berkembang Asia. Ada stabilisasi ekonomi dan pemulihan yang lamban di beberapa kawasan,” tulis IMF.

Masih lemah

Meski demikian, Roubini menilai laju pertumbuhan ekonomi dunia sebesar 3,1%, dari proyeksi awal 2,5%, masih relatif lemah.

Apalagi sepanjang pekan lalu, saham-saham di AS berguguran setelah kebangkitan kinerja manufaktur lebih rendah dari yang diperkirakan semula dan tingkat pengangguran naik hingga level tertinggi dalam 26 tahun terakhir. Akibatnya, pemulihan ekonomi lebih lambat dari yang diproyeksikan sebelumnya.

Data terakhir menyebutkan dana kelolaan dunia berupa saham mencapai US$20,1 triliun sejak titik terendahnya pada 9 Maret.

Sementara itu, berbagai negara mengucurkan dana stimulus senilai lebih dari US$2 triliun dan bank-bank sentral mengadopsi rezim suku bunga rendah guna mendongkrak laju perekonomian.

“Dalam jangka pendek dunia butuh stimulus fiskal dan moneter untuk menghindari terjadinya krisis lanjutan dan mencegah deflasi, tetapi sekarang semua uang tunai itu mulai menciptakan gelembung aset berupa saham, komoditas, dan pasar kredit,” ungkapnya.

Roubini menilai guna memperoleh kestabilan dalam pertumbuhan ekonomi dan mencegah terjadinya deflasi, negara-negara di dunia perlu menciptakan siklus lanjutan pemulihan ketidakstabilan keuangan. (gak)

Bloomberg

bisnis.com
Awasi Bahaya Kejatuhan Ekonomi Jilid Dua!
Selasa, 6 Oktober 2009 – 15:40 wib
TEXT SIZE :
Rani Hardjanti – Okezone

Foto: AP.
HONG KONG – Pelaku pasar diminta untuk berhati-hati atas pemulihan ekonomi yang terlalu cepat. Dikhawatirkan ini akan memicu kejatuhan ekonomi kedua kalinya, setelah diguncang krisis ekonomi Amerika Agustus 2008 silam.

Bahayanya, ekonomi kedua bisa memaksa bank untuk melakukan write-down. Jika benar keseimbangan ekonomi akan lebih terganggu lagi. Demikian dikatakan oleh Chief Executive HSBC Michael Geoghegan, dalam sebuah wawancara dengan Financial Times, Selasa (6/10/2009).

Menurutnya, pemulihan yang terjadi saat ini akan membentuk kurva W dan bukan kurva V. Kurva W mencerminkan bahwa kejatuhan ekonomi akan terjadi dua kali, di mana titik terbawah ada dua. Sedangkan kurva V terdapat satu titik.

“Kita harus hati-hati. Neraca masih belum seimbang dan masih jauh sebelum sebelum pemulihan datang. Aku berhati-hati tentang tumbuh terlalu cepat,” ujar dia.

Secara terpisah, data yang diungkapkan Analis PT Infovesta Utama Dewi Fajar Mayang Sari, indeks harga saham gabungan (IHSG) mengalami kenaikan yang cukup signifikan sepanjang 2009 sebesar 82,05 persen per 30 September 2009.

Penurunan terdalam sebesar -31,42 persen terjadi pada Oktober 2008 dan kenaikan tertinggi sebesar 12,05 persen terjadi pada Oktober 2007. Penurunan yang terjadi jauh lebih dalam dibanding kenaikannya.

Dengan rata-rata return sebesar -1,36 persen dan standar deviasi dari return sebesar 10,92 persen, estimasi return pada Oktober 2009 memiliki kisaran yang cukup besar yaitu – 12,28 persen (-1,36 persen, -10,92 persen) sampai 9,56 persen (-1,36 persen +10,92 persen).

Karena itu, investor harus siap dengan potensi penurunan hingga -12,28 persen dengan potensi keuntungan yang diraih hanya 9,56 persen.(rhs)

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s