1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

analis pro aja dag dig dug seharga 2600 … : 071009 8 Oktober 2009

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 1:14 am

07/10/2009 – 21:48
Level IHSG 2.600, Selangkah Lagi
Bastaman

(inilah.com /Dokumen)
INILAH.COM, Jakarta – Luar biasa! Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memecahkan rekor tertinggi dalam setahun terakhir. Selasa kemarin (6/10), harga saham-saham mengalami kenaikan 47,73 poin (1,9%) dan ditutup di level 2.528.

Sejumlah pengamat memperkirakan, indeks akan melanjutkan pergerakan positifnya walaupun dalam kisaran sempit. “Indeks akan menembus level 2.547, sebelum akhirnya bergerak ke level 2.645,” kata seorang analis dari Kresna Securities.

Optimisme yang berlebihan? Mungkin saja. Sebab, dengan kenaikan indeks berturut-turut selama enam hari terakhir, harga sejumlah saham unggulan kini sudah masuk ke area “kemahalan”.

Sehingga, koreksi yang terjadi diperkirakan akan cukup dalam. Kalau itu terjadi, maka angka 2,645 yang disebutkan analis tadi sulit dicapai dalam waktu dekat. “Kalau indeks terus menerus mencetak rekor, investor mesti waspada,” kata seorang direktur dari sebuah perusahaan securitas.

Menurut dia, indeks mungkin saja tembus 2.600, tetapi tidak akan berlangsung lama. Dugaannya, indeks akan terkoreksi cukup besar sehingga akan kembali ke habitatnya di level 2.500-an.

Terlepas dari pro-kontra kaum optimistis dan pesimistis, perkembangan Bursa Efek Indoensia (BEI) akan tergantung akan tergantung perkembangan bursa Amerika dan regional Asia.

Betul, tadi malam waktu Jakarta, bursa saham di Wall Street menguat kencang 131,5 poin (1,37%) dan ditutup pada level 9.731,25. Pagi ini, bursa-bursa di kawasan Asia Pasifik mengikuti perkembangan indeks Dow Jones dengan kisaran 0,3% – 1,5%.

Namun, ya itu tadi, prestasi itu belum bisa dijadikan pegangan. “Ekonomi Amerika belum stabil, bisa saja kondisinya sewaktu-waktu memburuk,” kata seorang analis. Lantas, akan seperti apa konsidi BEI sepekan ini?

Jangan khawatir. Analis tadi melihat kelebihan likuiditas di pasar global masih akan terus mengalir ke Indonesia. Hal ini bisa dilihat dari peningkatan cadangan devisa di BI yang sampai pekan ini sudah mencapai US$ 63 miliar lebih.

Dengan kondisi seperti itu, ia menyarankan investor mengoleksi saham-saham pertambangan dan perbankan. Ia melihat, sektor ini masih berpotensi memberikan gain. “Pertumbuhannya akan bagus hingga akhir tahun,” katanya. Anda percaya? Silahkan tentukan sendiri. [mdr]
IHSG BAKAL MENUJU LEVEL 2.600, Dana Asing Serbu Indonesia
07/10/2009 23:53:21 WIB
Oleh Parluhutan Situmorang

JAKARTA, INVESTOR DAILY
Dana investor asing diperkirakan terus mengalir ke pasar finansial di Indonesia tahun ini, menyusul membaiknya fundamental ekonomi. Derasnya aliran dana asing tercermin dari penguatan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia dan rupiah pada Selasa (6/10). Sejumlah analis memprediksi, IHSG berpotensi menembus di atas 2.600 sampai akhir tahun. Sedangkan rupiah berpotensi menyentuh Rp 9.200 per dolar AS.

Data Bank Indonesia (BI) menyebutkan, selama kuartal III-2009 aliran dana asing ke Tanah Air tercatat US$ 2,78 miliar. Dana yang masuk ke pasar saham mencapai Rp 6,07 triliun (US$ 608,7). Sisanya ditempatkan pada sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan Surat Utang Negara (SUN) masing-masing US$ 1,58 miliar dan US$ 620,25 juta. Selain itu, cadangan devisa negara per September mencapai US$ 62,29 miliar.

IHSG kemarin kembali mencatat rekor terbaru sepanjang tahun ini seiring menguatnya indeks di sejumlah bursa utama di Asia, antara lain Nikkei, Hang Seng, dan Straits Times. IHSG ditutup menguat pada level 2.528,15, naik 47 poin. Indeks dalam negeri sudah meningkat 86,52% sejak awal Januari hingga 6 Oktober 2009 atau year-to-date (ytd), tertinggi di Asia, setelah bursa Shenzen (71,56%) dan Taiwan (64,14%). Perdagangan saham di semua bursa Tiongkok tutup sejak 30 September lalu.

Bursa Nikkei naik 0,18%, Hang Seng (1,87%), dan Straits Times 1,09%. Sedangkan bursa Kospi (Korsel) dan Kuala Lumpur masing-masing terkoreksi 0,53% dan 0,31%.

Pemicu utama lonjakan IHSG kemarin ditopang tren penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Rupiah kemarin menguat ke level Rp 9.443 per dolar AS dibandingkan sehari sebelumnya, naik 120 poin (1,3%) atau rekor psikologis tahun ini. Sejak awal Januari-Selasa (6/10), rupiah sudah menguat 17,76% terhadap dolar AS.

Saham-saham yang menjadi pendorong lonjakan IHSG adalah grup Astra, telekomunikasi, dan sejumlah saham perbankan berkapitalisasi besar. Harga saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) naik menjadi Rp 8.600 per unit dari sebelumnya Rp 8.500 per unit. Adapun harga saham PT Astra International Tbk (AASI) melonjak tajam 7,5% dari Rp 32.000 menjadi Rp 34.600 per unit.

Harga saham anak usaha Astra, PT United Tractors Tbk (UNTR), juga meningkat 5,2% menjadi Rp 16.100 per unit. Sedangkan harga saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) naik menjadi Rp 5.150 per unit, dan harga saham PT Bank Danamon Tbk 1,6%. Harga saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masing-masing naik 1,2% dan 4%.

Sentimen positif lainnya yang turut mendorong pelaku pasar kemarin adalah kenaikan harga sejumlah komoditas, seperti harga minyak mentah. Harga minyak mentah untuk pengiriman November di New York Stock Exchange ditutup naik 1,1% menjadi US$ 71,2 per barel. Akibatnya, harga saham beberapa emiten berbasis komoditas di Indonesia ikut terkerek naik.

Investor asing di BEJ membukukan net buying senilai Rp 256,56 miliar kemarin, pertama kali selama Oktober. Padahal, awal Oktober sampai Senin (5/10) asing terus membukukan net selling. Tapi, sejak Januari hingga kemarin atau year-to-date (ytd), asing masih mencetak net buying sebesar Rp 10,33 triliun di bursa domestik.

Di pasar regional, keputusan bank sentral Australia menaiikan suku bunga acuan kemarin diyakini membawa sentimen positif baru

bagi investorl. Sebab, Australia merupakan negara yang tergabung dalam kelompok G-20 pertama kali menaikkan suku bunga setelah resesi ekonomi melanda dunia. Kebijakan ini menunjukkan, ekonomi Australia bisa pulih lebih cepat dari ekspektasi sebelumnya. Selama ini, mayoritas bank sentral di dunia berlomba-lomba untuk memangkas suku bunga acuan agar cepat keluar dari krisis.

Hal itu diungkapkan pengamat pasar modal David Cornelis, Felix Sindhunata, dan Ketua Asosiasi Analis Efek Indonesia Haryajid Ramelan secara terpisah kepada Investor Daily di Jakarta, Selasa (6/10).

David Cornelis mengatakan, potensi penguatan indeks menuju level 2.800 sampai akhir tahun terbuka, jika kinerja keuangan emiten pad kuartal tiga sesuai ekspektasi pelaku pasar. “Penguatan indeks akan ditopang oleh saham-saham yang memiliki likuditas dan volume besar. Penguatan indeks juga dipicu capital inflow yang terlihat dari penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS beberapa bulan terakhir,” ujar dia.

Meskipun tren penguatan masih terlihat, menurut David, pemodal perlu mewaspadai terjadinya profit taking dalam jangka pendek, setelah indeks berhasil menembus level di atas 2.500. Sebab, investor ingin merealisasikan keuntungan dari kenaikan harga saham beberapa hari terakhir.

Kinerja Emiten

Felix Sindhunata menambahkan, kenaikan indeks hingga akhir tahun sangat tergantung pada kinerja keuangan emiten per September 2009. Apabila kinerja keuangan emiten sesuai ekspektasi pelaku pasar, indeks berpotensi terus menguat. Namun, lanjut dia, jika kinerja keuangan emiten di bawah performa sahamnya, penguatan indeks bakal tertahan.

Berdasakan analis teknikal, menurut dia, indeks berpeluang menuju level sekitar 2.620-2.650 sampai akhir tahun. Hal itu bisa tercapai jika fundamental ekonomi dalam negeri tetap terjaga dan penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berlanjut.

Dia mengakui, tren pelemahan dolar AS dapat memicu hedge funds asing mengalihkan dananya ke pasar dalam negeri. Selain itu, indikasi kenaikan imbal hasil (yield) T-Bonds dan T-Bills dalam beberapa bulan terakhir mengindikasikan adanya aliran dana keluar (capital outflow) dari AS menuju negara-negara emerging markets, termasuk Indonesia.

Felix menyatakan, return investasi di pasar modal negara maju, khususnya Amerika Serikat kian tipis. Hal tersebut turut mendorong hedge fund asing mulai mendiversifikasikan portofolionya ke emerging markets yang memberikan keuntungan lebih besar dengan keamanan dana yang terukur seperti Indonesia.

“Pemodal lokal juga mulai mengalihkan dananya dari perbankan ke pasar saham. Aksi itu memicu kenaikan indeks, terlebih fundamental ekonomi Indonesia relatif baik dibandingkan negara-negara lain di pasar emerging markets,” ujar dia.

Waspada Profit Taking

Namun, Haryajid Ramelan mengingatkan, pemodal sebaiknya mewaspadai kemungkinan terjadinya aksi ambil untung (profit taking) karena kenaikan indeks terlalu cepat. Dia memprediksi, target IHSG sampai akhir tahun maksimal 2.600, sehingga memperbesar kemungkinan terjadinya koreksi dalam waktu dekat.

Dia menilai, koreksi indeks akan dipicu pelemahan harga saham sektor komoditas, seperti pertambangan dan perkenbunan. Pasalnya, rasio rata-rata harga dibandingkan keuntungan per saham (price to earning ratio/PER) saham pertambangan batubara, logam, dan batu-batuan masing-masing mencapai 10,36 kali, 69 kali, dan 55,93 kali. Adapun PER pertambangan migas tercatat -13,25 kali.

Meski demikian, PER subsektor migas tidak serta-merta mencerminkan valuasi masing-masing saham, karena selisih (spread) PER antarsaham sangat tinggi. Dari lima saham tambang migas, tiga saham memiliki PER 15,91 kali, 28,01 kali, dan 34,72 kali. Adapun satu saham memiliki PER 7,40 kali dan satu saham lainnya memiliki PER -152,26 kali.

“Perekonomian global juga belum sepenuhnya pulih dan masih menyisakan sejumlah kekhawatiran. Ada indikasi stimulus ekonomi AS tidak berjalan sesuai ekspektasi, sehingga bisa berdampak negatif terhadap pemulihan ekonomi dunia,” tandas dia.

Dihubungi terpisah, ekonom Standard Chartered Bank Indonesia Fauzi Ichsan berpendapat, penguatan rupiah disebabkan kenaikan bursa saham regional yang juga diikuti pelemahan dolar AS. Derasnya aliran masuk dana asing ke Indonesia turut mendukung penguatan rupiah. Pasalnya, Indonesia dipandang sebagai tempat investasi yang menjanjikan, menyusul pertumbuhan ekonomi yang positif dan suku bunga yang masih tinggi.

“Penguatan tidak hanya dialami rupiah, tapi juga beberapa mata uang Asia lainnya. Apalagi, bursa saham regional menguat dalam beberapa hari terakhir. Inilah membuat rupiah terus menguat,” jelas Fauzi.

Fauzi yakin, penguatan rupiah terus berlanjut hingga akhir tahun. Bahkan, Standard Chartered Bank telah merevisi prediksinya dari semula menargetkan Rp 9.500 menjadi Rp 9.200 per dolar AS tahun ini. Meski dolar AS sedang terpuruk, dia melihat tidak ada aksi memborong oleh masyarakat, termasuk pengusaha. “Mereka melepas dolar AS untuk membeli saham,” kata dia.

Pendapat senada diungkapkan pengamat valas Farial Anwar. Menuru dia, rencana beberapa negara yang ingin mengganti komposisi cadangan devisanya dari dolar AS ke mata uang lain, seperti euro dan poundsterling turut membuat mata uang Paman Sam itu mendapat sentimen negatif. Hal itu memicu rupiah terus menguat dalam beberapa pekan terakhir. “Jika dilihat, penguatan rupiah sudah terjadi dalam jangka waktu yang cukup panjang,” kata dia.

Farial melihat, fundamental ekonomi AS yang masih lemah membuat dolar AS terpuruk. Ekonomi negara tersebut tengah menghadapi defisit anggaran dan defisit neraca perdagangan, sehingga menyebabkan dolar AS melemah terhadap euro atau poundsterling. Dia memprediksi, rupiah bisa kembali menuju level sekitar Rp 9.000– 9.500 tahun ini. (c129)

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s