1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

balon emas SIAP-siap meletus … : 101009 10 Oktober 2009

Filed under: Investasi dan Risiko — bumi2009fans @ 10:20 pm

Beware the gold bubble
The run-up in price to more than $1,000 an ounce has investors excited. But market fundamentals point to a decline.

By Scott Cendrowski, reporter
Last Updated: October 8, 2009: 3:55 PM ET

Elko, Nevada: Good as gold

The small Nevada town has been able to dodge the recession. What’s the secret of its success? Gold – and lots of it.

Subscribe to Fortune

NEW YORK (Fortune) — Signs of gold fever are everywhere. TV commercials scream, “Sell your baubles, prices are reaching the sky!” Investors have poured more than $12 billion this year into SPDR Gold Trust (GLD), the big exchange-traded fund.

Top-ranked manager John Hathaway of the Tocqueville Gold Fund (TGLDX) offers this astounding prediction: The price of the precious metal could rise to more than $5,000 an ounce.

And if that’s not enough to convince you, gold futures for December delivery rose $27 to an intraday record high of $1,045 an ounce in New York trading Tuesday.

But amid the buying frenzy and after a decade-long run-up that has seen the price quadruple, is gold still a smart investment? The simple answer: Wherever the price of gold is headed in the long term, several market watchers say the fundamentals indicate that gold is poised to fall.

And even if you fret that the government’s pullout- all-stops effort to rescue the financial system and revive the economy will lead to inflation, there are better hedges than the yellow metal.

Gold has moved in huge swings since the economy started to crack in 2007. The price closed above $1,000 for the first time on March 14, 2008, just before Bear Stearns was sold to J.P. Morgan (JPM, Fortune 500), then fell to near $700 last November before rising again past $1,000 last month.

0:00 /02:51Is the gold rush for real?
Bulls argue that gold still has more to gain: As the national debt balloons, the result is bound to be a weaker dollar and higher inflation — both traditionally bullish for gold. Jim Rogers, the investor who predicted the commodities boom earlier this decade, expects gold to pass its inflation-adjusted 1980 peak of $2,312.

“Gold is going to be much higher over the course of the bull market, in a decade or however long it lasts,” he says. Rogers, who in the past has criticized the Federal Reserve for being lax on inflation, considers gold the ultimate safe haven in times of financial stress. But he thinks other commodities trading far from their all-time highs — cotton and lead, for example — might offer better returns, along with inflation protection.

Hathaway, who manages $1 billion at the Tocqueville fund, sees gold soaring for several reasons, including rising inflation and the rather curious fact that in two previous instances the price of an ounce of gold and the level of the Dow Jones industrial average have come close to converging.

In 1933, when gold traded at $32 an ounce, the Dow bottomed out at 50 in February. In 1980 gold climbed to its high of $850 on Jan. 21, when the Dow closed at 873. Today Tocqueville sees something similar happening, with gold rocketing to $5,000 or $10,000 an ounce (the Dow is now at about 9700).

Those projections are tantalizing. But when you look at supply and demand, gold loses some of its luster. Gold miners have poured more than $40 billion into new projects since the bull market began in 2001, according to Montreal-based bullion dealer Kitco. Like Big Oil explorations started earlier this decade amid rising energy prices, new gold projects are now bearing fruit.

Mining output was up 7% in the first six months of 2009, after several years of declines, as China, Russia, and Indonesia have ramped up production. Kitco predicts that new mining will add 450 tons annually, or 5%, to the gold supply through 2014, enough to move prices lower.

On top of that, $1,000 gold brings out gold scrap sellers. In the first half of 2009 alone, high prices attracted 900 tons of gold jewelry, old coins, and other scrap. Industrial and jewelry demand, meanwhile, has fallen 20% in the past year, according to GFMS, a precious-metals research group.

Kitco analyst Jon Nadler says gold is setting record prices amid “some of the poorest fundamentals I’ve seen in the market for a long time.” He suspects the recent rise has been driven by large hedge funds and institutional investors making momentum-driven trades. As for fears of financial collapse, “The sky did actually fall last year — and it was good for $1,035 gold,” says Nadler. “But that’s about where the worst ends.”

So the short-term outlook is not promising. But what about long-term protection against inflation?

Money manager Rob Arnott, chairman of Research Affiliates, whose strategies are used to manage $43 billion in assets, believes the inflation rate could climb above 5% in two to three years and that investors should dedicate a quarter to a third of a portfolio to inflation protection.

But he’s not a fan of gold, which, he says, basically tracks inflation over the long term, leaving you a loser after taxes. “Gold is not a sensible core holding,” he says.

Like Rogers, Arnott thinks common commodities are a smarter choice. He suggests iShares GSCI (GSG), an ETF that tracks the broad S&P commodities index. Arnott also likes using Treasury Inflation- Protected Securities, real estate investment trusts (REITs), and emerging-market bonds, which you can buy through the PowerShares Emerging Market Sovereign Debt ETF (PCY). Many developing countries are commodities producers, so if U.S. inflation kicks in, their currencies will gain strength and their debt will rise in value.

First Published: October 6, 2009: 11:46 AM ET
Sabtu, 10/10/2009 16:17 WIB
Investasi Emas, Investasi Anti Krisis
Ramdhania El Hida – detikFinance

Foto: Reuters Jakarta – Emas, selain sebagai perhiasan rupanya bisa dijadikan instrumen investasi yang dapat bertahan pada situasi dan kondisi apapun, termasuk pada saat krisis.

Hal ini disampaikan CEO Managing Partner Vibiznews Alfred Pakasi dalam Seminar Investasi Properti dan Emas di Hotel Ciputra, Jakarta, minggu (10/10/2009).

Menurut Alfred, investasi dengan emas memiliki beberapa keuntungan. Pertama, emas memiliki likuiditas yang sangat mudah. Banyak toko yang menjual dan membeli emas di mana-mana.

“Kini, emas bisa dianggap sebagai mata uang. Semua mata uang di dunia mempunyai emas sebagai back up,” ujar Alfred.

Kedua, harga emas akan selalu naik sehingga bisa menjadi pilihan saat krisis. Bahkan saat perang, inflasi tinggi, dan gejolak finansial. Selain itu, terdapat aspek fundamental dalam emas. Alfred menambahkan emas memiliki 2 cara keuntungan, baik saat harga emas sedang naik maupun saat turun. Emas juga memiliki manfaat jangka panjang dan jangka pendek.

Saat harga naik, masyarakat bisa menjual emasnya tetapi saat harga emas turun, masyarakat bisa kembali membeli emas. Hal ini merupakan manfaat jangka pendek investasi emas.

Namun, jika masyarakat ingin invesatasi emas secara jangka panjang, emas bisa dibeli saat harga turun kemudian disimpan saja sampai berpuluh-puluh tahun. Hal ini tetap mendatangkan keuntungan karena harga emas akan selalu naik.

“Manfaatkan 2 ways opportunity, untuk long term kita buy and hold, untuk short term kita jual saat koreksi. Jadi, selalu untung,” tegas Alfred.

Saat ini harga emas sedang tinggi karena harga per troy ounce emas mencapai angka di atas Rp 1000. Fenomena harga emas di Indonesia sempat mencapai harga paling tinggi pada Maret 2008 yang mencapai level Rp 311.300 per gram.

Hal ini dicapai atas dolar menguat hingga Rp 12.000. Pada 8 Oktober 2009 ini, harga emas mencapai Rp 317 ribu karena rupiah menguat tetapi harga per troy ounce emas tinggi. Pada jangka panjang, Alfred yakin harga per troy ounce emas bisa mencapai US 1250 sehingga harga jualnya kembali naik.

Meski demikian, emas juga bukan bebas risiko. Alfred menyatakan, investasi dengan emas juga memiliki potensi kerugian. Hal ini karena kurangnya pengetahuan tentang pasar emas.

Kita tidak bisa membaca peluang kapan waktu yang tepat untuk menjual dan membeli. Oleh karena itu, perlunya mencari tahu informasi terbaru mengenai pasar emas dan rekomendasi yang dianjurkan para pelaku ekonomi dari media-media.

“Bisa juga rugi karena high risk, high gain. Ini karena kita tidak tahu tentang pasar emas. Oleh karena itu update terus berita tentang emas dan rekomendasi,” ujar Alfred.

Alex menyarankan, seluruh masyarakat tetap bisa berinvestasi dalam keadaan apapun. Baik sedang krisis, ketidakpastian (bencana alam), maupun saat inflasi tinggi. Hal ini untuk keperluan masa depan. Untuk itu, diperlukan investasi yang aman, tepat, dan stabil. Emaslah yang menjadi peluang emas berinvestasi. (nia/ang)
Muhaimin Iqbal, Pemilik dan Pengelola Gerai Dinar, Dinar Emas Alternatif Investasi Anti Inflasi
12/10/2009 00:18:01 WIB
Krisis ekonomi global selalu berimbas pada perekonomian negeri yang menganut sistem nilai tukar bebas, seperti Indonesia. Begitu ekonomi AS ambruk, diterpa kehancuran instrumen investasi di pasar modal dan uang, Indonesia terseret-seret dengan melemahnya nilai tukar rupiah, dan ambruknya pasar saham.

Hampir seluruh instrumen investasi konvensional yang mengandalkan perubahan harga dari transaksi semu, mata uang, saham, obligasi dan lainnya melorot tajam. Hanya instrumen investasi emas yang bertahan dari penurunan nilai.

Banyak instrumen investasi yang ada saat ini, seperti saham dan nilai tukar menurut Muhaimin Iqbal, sebagai bentuk penjajahan ekonomi baru, dimana ternyata uang kertas yang selama ini kita gunakan seperti, rupiah, dollar, euro atau yen ternyata tidak sepenuhnya dijamin oleh sesuatu yang riil. Dengan kata lain, uang kertas itu benar-benar ‘kertas’ yang ditulis dengan sejumlah angka dan dinyatakan sebagai pembayaran sah oleh pemerintah bersangkutan.

Atas dasar itulah, Muhaimin Iqbal pemilik dan pengelola Gerai Dinar berupaya mengajak pemerintah dan seluruh masyarakat untuk menggunakan dinar sebagai mata uang yang memiliki nilai riil. Dalam perbincangannya dengan Drajad Satrio Purnomo dan pewarta foto Tino Oktaviano dari Investor Daily, dia menegaskan keinginannya berusaha mengembangkan kembali solusi dinar sebagai solusi riil untuk ketahanan ekonomi umat. Dengan berbekal pengetahuan di bidang finansial, asuransi selama lebih dari 20 tahun, maka Iqbal memberanikan diri untuk terjun secara totalitas dalam mengembangkan dinar. Berikut petikannya :

Bagaimana awalnya Anda mengembangkan dan memasarkan gerai dinar ini?
Pada awalnya, dinar di Indonesia dipelopori oleh Gerakan Murabitun Nusantara. Namun sejak awal pengembangannya mulai tahun 1999, belum sanggup memenuhi permintaan dinar yang cenderung meningkat melalui wakala-wakala yang ada di Indonesia. Setelah mempelajari kesulitan maupun kelemahan yang ada dalam pengembangan dinar selama ini, maka ditangani melalui metode yang lebih baik dengan terutama mengembangkan Gerai Dinarnya baik melalui situs gerai dinar maupun melalui kerjasama-kerjasama dengan asuransi syariah, lembaga pembiayaan, properti maupun solusi investasi syariah bernama iQirad.

Bisa Anda jelaskan mengenai mata uang dinar dan dirham ini? Dinar Iraq dan sejenisnya adalah tidak sama dan bukan Dinar Islam. Dinar Iraq adalah uang kertas biasa, sedangkan Dinar Islam adalah uang emas 22 karat 4.25 gram. Di belahan dunia lainnya di Dunia Islam, uang emas dan perak yang dikenal dengan Dinar dan Dirham juga digunakan sejak awal Islam baik untuk kegiatan muamalah.

Berat 1 Dinar ini sama dengan 1 mitsqal atau kurang lebih setara dengan berat 72 butir gandum ukuran sedang yang dipotong kedua ujungnya. Dari Dinar-dinar yang tersimpan di musium setelah ditimbang dengan timbangan yang akurat, di ketahui bahwa timbangan berat uang 1 Dinar Islam yang diterbitkan pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan adalah 4.25 gram, berat ini sama dengan berat mata uang Byzantium yang disebut Solidos dan mata uang Yunani yang disebut Drachma.

Atas dasar rumusan hubungan berat antara Dinar dan Dirham dan hasil penimbangan Dinar di musium ini, maka dapat pula dihitung berat 1 Dirham adalah 7/10 x 4.25 gram atau sama dengan 2.975 gram.

Di Indonesia saat ini, Dinar dan Dirham hanya diproduksi oleh Logam Mulia – PT. Aneka Tambang, Tbk. Saat ini Logam Mulia-lah yang secara teknologi dan penguasaan bahan mampu memproduksi Dinar dan Dirham dengan Kadar dan Berat sesuai dengan Standar Dinar dan Dirham di masa awal-awal Islam.

Standar kadar dan berat inipun tidak hanya di sertifikasi secara nasional oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN), tetapi juga oleh lembaga sertifikasi logam mulia internasional yang sangat diakui yaitu London Bullion Market Association (LBMA). Seperti di awal Islam yang menekankan Dinar dan Dirham pada berat dan kadarnya – bukan pada tulisan atau jumlah/ukuran/bentuk keping – maka berat dan kadar emas untuk Dinar serta berat dan kadar perak untuk Dirham produksi Logam Mulia di Indonesia saat ini memenuhi syarat untuk kita sebut sebagai Dinar dan Dirham Islam zaman sekarang. Seluruh Dinar dan Dirham yang diperkenalkan & dipasarkan oleh Gerai Dinar adalah produksi langsung dari Logam Mulia – PT. Aneka Tambang.

Mengapa pilihannya mata uang emas?
Banyak hal-hal yang tidak diungkapkan khalayak umum mengenai kondisi keuangan moneter Indonesia. Sebagai contoh, cadangan emas bank sentral (BI) yang sedianya digunakan untuk menopang uang rupiah kita ternyata telah menurun secara drastis dari 96 ton menjadi sekitar 73 ton. Ini hanya terlihat dari neraca keuangan BI, bahwa ternyata 23 ton emas telah dijual untuk melunasi utang LN Indonesia.

Sayangnya, anggota legislatif tidak ada yang perhatikan terhadap hal ini. Cadangan emas suatu negara menentukan kekuatan riil ekonomi negara tersebut. Ada korelasi positif, yakni negara yang dekat dengan ‘kapitalis’ Amerika Serikat (AS), cadangan emasnya cenderung rendah bahkan ada yang nol alias simpanan mereka ada dalam bentuk dolar.

Sedangkan negara yang tidak dekat atau bertolak belakang dengan Amerika, cadangan emasnya akan tinggi. Inilah yang secara cerdik dilakukan Cina. Dibandingkan negara-negara lain dalam mengatasi krisis, Cina secara diam-diam meningkatkan cadangan emasnya, dan diperkirakan pada tahun 2009 akan mencapai 4.000 ton emas atau lebih besar dari cadangan emas IMF. Kecilnya cadangan emas Indonesia, merupakan salah satu indikator lemahnya kekayaan negara maupun mata uang rupiah kita.

Dengan nilai emas 22 K 1 gramnya sekitar 280 ribu rupiah (30 des 2008), maka dibutuhkan cadangan emas 22 K sebesar hampir 2.000 ton untuk menggantikan seluruh uang rupiah yang beredar!. Dengan kata lain, uang rupiah kita hanya dilindungi secara riil dengan 1% cadangan emas yang tersedia. Seandainya uang kertas rupiah terus beredar, nilainya baru akan mencapai nilai riil setelah berkurang sampai 1% atau merosot sampai 99%.

Bagaimana membuktikan kuatnya nilai dinar ini secara sederhana?
Harga kambing/domba ukuran sedang sejak jaman Nabi (abad 6 M) sampai sekarang (abad 20) berkisar 1 dinar. Selama 14 abad, ternyata nilai kambing itu tetap, dan dinar tidak mengalami inflasi sama sekali alias 0%. Waktu membeli kambing untuk qurban tahun 2.000, harganya sekitar 200 ribuan ukuran sedang. Sedangkan harga kambing tahun 2008, harganya sudah mencapai 1.2 juta untuk yang ukuran sedang (25-30 kg). Cepat sekali naiknya, sekitar 25% per tahun. Nah, inilah realita mata uang kertas rupiah kita.

Sehingga harga kambing sebenarnya tidak berubah selama 1.400 tahun. Tapi tidak demikian halnya dengan uang kertas, baik rupiah atau dolar. Dengan kecenderungan harga kambing yang naik sekitar 23.3% pertahun, maka harga kambing yang sekarang sekitar 1.2 jt rupiah, dalam 5 tahun akan menjadi 3.4 juta rupiah dan 40 tahun lagi akan menjadi Rp 5,22 milyar rupiah. Tentu harga tersebut terjadi selama masih digunakannya uang kertas rupiah. Cukup dengan rumus finansial sederhana FV=PV*(i+1). Ketika masih kecil, masih ingat harga kambing masih Rp 13 ribu rupiah. Tentu gak kebayang hampir 30 tahun kemudian harga kambing sudah mencapai Rp 1.2 juta, tetapi memang inilah kenyataan yang terjadi.

Apakah dinar ini akan memberi perlindungan nilai asset?
Coba sekarang lihat, sudah banyak yang menderita akibat korban inflasi. Bapak-bapak, mertua atau orangtua kita yang sudah lebih dahulu memasuki usia pensiun, mendapati bahwa uang pensiun yang diterima tidak sebanding dengan kebutuhan hidup sekarang. Uang pensiun sekitar Rp 1.5 juta, ternyata hanya cukup untuk hidup sendiri, apalagi untuk menghidupi istri, anak atau tanggungan lainnya. Rupiah yang dikumpulkan menjadi tidak bernilai, karena andaikata upah meningkat 30x lipat, ternyata harga kambing telah meningkat 300x lipat.

Apa harapan Anda dengan konsep dalam perdagangan dinar emas?
Dengan gerai dinar yang dikembangkan, harapan saya masyarakat kembali dapat menikmati kesejahteraan dengan proteksi terhadap nilai ataupun penghasilan yang mereka peroleh. Pada dasarnya, investasi terbaik untuk melindungi nilai atau meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran adalah melalui aset riil, bisa melalui perkebunan, perikanan, peternakan ataupun dinar emas. Namun, berdasarkan ketentuan, dilarang menimbun emas, sesuai dengan petunjuk Al-Quran dan hadits, agar emas yang ada bisa beredar dalam perdagangan riil. Batasannya adalah nizab zakat emas atau sekitar 83 gram emas setara dengan 20 keping dinar.

Bagaimana cara membuka gerai dan di kota-kota manakah bisa melakukan pembelian dinar?
Silahkan saja mengajukan proposal kepada saya. Tentunya dengan syarat dan ketentuan berlaku seperti, harus memberikan account dengan jumlah tertentu. Sedangkan untuk membeli dinar bisa dilayani di 10 kota-kota besar di Indonesia. Untuk pengiriman kami bekerjasama dengan perusahaan logistik terkemuka dunia RPX Holding/ Federal Express. Insya Allah pengiriman dapat dilakukan dengan cepat, aman dan ekonomis.

Sedangkan kota-kota besar yang dapat langsung dilayani adalah Balikpapan, Bandung, Batam, Cirebon, Denpasar, Jakarta (Jabodetabek), Medan, Palembang, Pekanbaru, Pontianak,Semarang, Solo, Surabaya, Maksar dan Jogjakarta. Di kota-kota besar ini, tanpa menunggu keberadaan agen Gerai Dinar setempat, Dinar bisa diperoleh melalui pesanan ke kantor pusat kami.

Biaya pengiriman saat ini berkisar antara Rp 50,000 – Rp 65,000 tergantung kota tujuan. Biaya tersebut berlaku untuk pengiriman Dinar maksimal 1 kg atau 235 Dinar namun perlindungan asuransi-nya hanya sampai senilai Rp 20 juta. Untuk perlindungan asuransi diatas Rp 20 juta akan ada tambahan biaya sekitar 0.5% dari nilai Dinar yang dikirim. Biaya pengiriman dan asuransi menjadi tanggungan pembeli.

Record gold price makes Jim Rogers wary
The renowned gold bull said he does see further gains in the long term but doesn’t like to buy things at record prices
Posted: Thursday , 08 Oct 2009
Renowned investor Jim Rogers, one of the biggest bulls on this decade’s commodities rally, is not so bullish on gold a day after the precious metal set a record high, although he does see further gains in the long term.
Gold has hit a new high and I don’t like to buy something at record prices unless there are extremely strong fundamental reasons. I am not jumping on board,” said Rogers, whose bearish views on the dollar and bullish views on commodities and China have been widely broadcast for years.
“I can’t say what will happen to gold tomorrow or next month. But if you ask me whether gold will go up in the long term, maybe in the next decade, I would say yes,” he told Reuters by telephone in Singapore, where he now lives as an independent investor.
Spot gold prices surged to a record above $1,040 an ounce on Tuesday, topping the previous March 2008 peak as investors moved to preserve the value of their dollar-denominated assets against the weakening currency and the risk of inflation.
Rogers has long been down on the dollar, which he has called ‘terribly flawed’. Dollar weakness has been one of the main drivers of the recovery of commodity prices this year, and also cited as one of the factors explaining the strength of gold.
He is also renowned as a long-time commodities bull, repeatedly predicting higher prices for raw materials and also author of a book titled ‘Hot Commodities’.
Rogers rose to fame after co-founding the now-closed Quantum Fund with George Soros nearly four decades ago. The fund returned 4,200 percent over the 1970s and famously bet against the pound in the 1990s.
(Reporting by Sambit Mohanty; Editing by Clarence Fernandez)


One Response to “balon emas SIAP-siap meletus … : 101009”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )


Connecting to %s