1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

capital outflow is usually normal … : 131009 13 Oktober 2009

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 8:20 am

Kelesuan Pasar Modal Dinilai Masih Wajar
Selasa, 13 Oktober 2009 – 07:08 wib

JAKARTA – Pasar modal baik saham maupun obligasi awal pekan ini mengalami tekanan setelah mencetak rekor pada pekan lalu. Hal ini diiringi oleh sepinya perdagangan saham dan surat utang.

Meski demikian,analis menilai hal ini masih wajar. Indeks harga saham gabungan (IHSG) kemarin kembali melemah 17,7 poin ke level 2.480,7, dipicu aksi jual pada saham-saham perbankan. “Transaksi juga relatif sepi jika dibandingkan dengan rata-rata perdagangan pada pekan lalu,”kata Research Analyst Panin Sekuritas Purwoko Sartono di Jakarta kemarin. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), frekuensi transaksi saham kemarin hanya 78.105 kali dengan volume 3,3 miliar lembar saham senilai Rp3,2 triliun.Sebanyak 62 saham naik, 126 saham turun,dan 80 saham tetap.

Saham-saham perbankan yang menjadi unggulan seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) turun Rp250 ke Rp7.800. Begitujuga dengan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang terkoreksi masingmasing Rp75 dan Rp25. Tekanan juga dialami sahamsaham kelompok pertambangan yang secara total minus 26 poin. Tak jauh berbeda dengan pasar saham, volume perdagangan surat utang juga susut. Perdagangan surat utang negara (SUN) yang pekan lalu mencapai Rp7 triliun kemarin hanya menyentuh Rp1,99 triliun, sedangkan obligasi korporasi Rp122 miliar.

“Ini wajar karena pasar memang sedang menunggu lelang SUN pekan ini,dan beberapa laporan mengenai suku bunga di luar negeri,” ujar analis obligasi Trimegah Securities Ariawan. Senada dengan Ariawan,analis Paramitra Alfa Sekuritas Ukie Mahendra mengatakan, lesunya perdagangan tidak bisa dijadikan indikasi menunjukkan pelarian modal (capital outflow). Menurut dia, investor cenderung menahan diri,menunggu sejumlah laporan ekonomi Amerika Serikat kuartal III-2009.”Bagaimanapun kita adalah market yang tumbuhnya tinggi,”kata dia.

Ariawan menambahkan, komitmen pemodal asing untuk bertahan tampak pada prilaku mereka mengoleksi SUN bertenor jangka panjang.Masih bertahannya investor asing dalam pasar modal Indonesia, menurut Ariawan, juga dapat dikonfirmasi oleh jumlah kepemilikan mereka atas SUN di pasar sekunder.Berdasarkan data Ditjen Pengelolaan Utang Departemen Keuangan, jumlah kepemilikan asing sejak awal bulan ini sampai 9 Oktober lalu telah naik Rp6,27 triliun menjadi Rp99,5 triliun.
(Muhammad Ma’ruf/Koran SI/css)

13/10/2009 – 10:49
Pengamat: Dana Asing Bisa Jadi Pedang Bermata Dua

(inilah.com/Agung Rajasa)
INILAH.COM, Jakarta – Aliran dana jangka pendek atau hot money dapat menjadi pedang bermata dua karena dapat memberikan dampak positif atau maupun negatif, sehingga pemerintah harus menjaga volatilitasnya.

Hal itu dikatakan pengamat ekonomi Dr.A Prasetyantoko di Jakarta (13/10). “Pemerintah harus membuat modal asing jangka pendek tersebut menjadi awal dari investasi yang sifatnya jangka panjang (foreign direct investment), kata dosen Unika Atma Jaya ini.

Pemerintah Indonesia harus menjaga semaksimal mungkin supaya aliran jangka pendek tidak cepat keluar agar tidak menimbulkan gonjang-ganjing atau volatilitas. Fenomena masuknya aliran dana asing jangka pendek yang bersifat sementara (Hot Money) bisa menjadi pedang bermata dua yaitu peluang sekaligus ancaman yang membahayakan.

Dijelaskannya, sebagai peluang karena mampu mengangkat nilai tukar Rupiah hingga ke level kisaran Rp9.300 per dolar, mengangkat indeks menembus level 2.500 (naik sekitar 80 persen) serta memperkuat cadangan devisa yang kini sudah mencapai 62.287 miliar dolar AS.

Dalam konteks tersebut dibutuhkan strategi dan kebijakan, baik yang bersifat jangka panjang maupun pendek oleh Pemerintah Indonesia khususnya Bank Indonesia.

Aliran hot money di Indonesia didorong oleh dua faktor yakni perekonomian global yang ditandai masih suramnya pemulihan ekonomi di negara maju. Investor global mengalihkan investasinya ke negara berkembang, termasuk Indonesia. “Faktor domestik Indonesia yang dinilai sangat potensial, terutama karena bursa ditopang oleh kinerja perusahaan berbasis komoditas primer seperti batu bara dan minyak sawit mentah yang harganya melambung di pasar internasional juga menjadi salah satu faktor penentu,” paparnya.

Namun, hot money ini akan menjadi ancaman pelarian modal besar-besaran yang bisa menganggu stabilitas ekonomi. Untuk itu pihaknya berharap pemerintah terutama kabinet yang akan datang bisa mengantisipasi dengan pola kebijakan pemerintah yang profesional dan akuntabel.

Momentum pembentukan Kebinet menjadi sangat penting yang menjadi penentu sikap investor. “Kita berharap SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) bersikap jernih dan mementingkan kepentingan bangsa, di atas kepentingan kelompok dan golongan yang akhir-akhir ini terkesan muncul di permukaan pada saat ini,” katanya.

Ujian pertama adalah pengumuman Susunan Kabinet pada 21 Oktober 2009 mendatang. Jika ternyata susunan kabinet terlalu akomodatif, bisa jadi justru memudarkan optimisme pasar dan bisa diprediksi ‘hot money’ akan keluar. Kedua, kalaupun kabinet meyakinkan pasar, pertanyaannya apakah mereka mampu mengembangkan program-program yang berorientasi pada peningkatan daya saing perekonomian.

Proyek infrastruktur, energi dan isu desentralisasi, akan menjadi tiga hal pokok yang selalu dicermati investor khususnya asing. “Rezim devisa bebas yang dianut pemerintah kita memang memberi keuntungan dan kelemahan, persoalannya adalah bagaimana mengubah ancaman menjadi peluang,” jelasnya. [*/hid]

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s