1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

optimisme di saku RI 01, atawa pesimisme : 131009 13 Oktober 2009

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 7:47 am

Selasa, 13/10/2009
PEMBACA MENULIS

Hot money, peluang atau bahaya

Fenomena masuknya aliran dana asing jangka pendek yang bersifat sementara (hot money) bisa menjadi pedang bermata dua yaitu peluang sekaligus ancaman yang membahayakan.

Peluang karena mampu mengangkat nilai tukar rupiah hingga ke level Rp 9.300-an per dolar AS, mengangkat indeks menembus level 2.500-an (naik sekitar 80%) serta memperkuat cadangan devisa yang kini sudah mencapai $ 62.287 miliar. Dalam konteks tersebut, dibutuhkan strategi dan kebijakan, baik yang bersifat jangka panjang maupun pendek oleh Pemerintah Indonesia khususnya Bank Indonesia.

Aliran hot money di Indonesia didorong oleh dua faktor, yaitu perekonomian global yang ditandai masih suramnya pemulihan ekonomi di negara maju. Investor global mengalihkan investasinya ke negara berkembang, termasuk Indonesia.

Faktor domestik Indonesia yang dinilai sangat potensial, terutama karena bursa ditopang oleh kinerja perusahaan berbasis komoditas primer seperti batu bara dan minyak sawit mentah yang harganya melambung di pasar internasional juga menjadi salah satu faktor penentu.

Indonesia adalah satu-satunya negara Asean yang masuk dalam G-20. Indonesia juga menjadi negara terbesar demokratis ketiga setelah India dan AS, yang tentunya memiliki implikasi yang besar terhadap aktivitas ekonomi.

Fakta ini lebih diperkuat dengan stabilitas politik Indonesia yang termasuk kategori paling stabil di Asia. Ini masih diperkuat dengan fakta lain bahwa di tengah krisis global, Indonesia masih mengalami angka positif pertumbuhan ekonomi sebesar 4,2% dan hanya kalah dari China dan India di Asia. Secara umum dapat dikatakan perekonomian Indonesia memiliki potensi sangat besar.

Tidak mengherankan jika kemudian lembaga rating Moody’s Investor meningkatkan rating obligasi Pemerintah Indonesia dari level Ba3 menjadi Ba2. Morgan Stanley dalam rilis Juli 2009 mengatakan Indonesia layak masuk dalam klub BRIC.

CLSA juga mengatakan Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi kawasan bersama China dan India (Chindonesia). Standard Chartered Bank menyebut Indonesia is a Power House in Asia. Media terkemuka The Economist (edisi September 2009) juga menulis laporan khusus dengan judul Indonesia : A Golden Chance.

Penilaian positif dari banyak lembaga internasional ini sangat memengaruhi ‘psikologi’ investor, ditandai dengan meningkatnya hot money. Berkaitan dengan hal tersebut menurut A. Prasetyantoko, ekonom independen, dosen Unika Atma Jaya, pemerintah Indonesia harus menjaga semaksimal mungkin agar aliran jangka pendek tidak cepat keluar agar tidak menimbulkan gonjang-ganjing (volatilitas). Serta membuat sedemikian rupa sehingga modal asing jangka pendek tersebut menjadi awal dari investasi yang sifatnya jangka panjang (foreign direct investment).

Ujian pertama adalah pengumuman susunan kabinet pada 21 Oktober 2009 mendatang. Jika ternyata susunan kabinet terlalu akomodatif, bisa jadi justru memudarkan optimisme pasar. Bisa diprediksi hot money akan keluar. Kedua, kalaupun Kabinet meyakinkan pasar, pertanyaannya apakah mereka mampu mengembangkan program-program yang berorientasi pada peningkatan daya saing perekonomian. Proyek infrastruktur, energi dan isu desentralisasi, akan menjadi tiga hal pokok yang selalu dicermati oleh investor, khususnya asing.

Audy WMR Wuisang
Program Director Strategic Indonesia

Hot Money, Peluang Atau Bahaya?
Senin, 12 Oktober 2009 – 16:51 wib
TEXT SIZE :
Nurfajri Budi Nugroho – Okezone

(Foto: Koran SI)
JAKARTA – Fenomena masuknya aliran dana asing jangka pendek yang bersifat sementara (hot money) bisa menjadi pedang bermata dua, yaitu peluang sekaligus ancaman yang membahayakan.

Peluang karena mampu mengangkat nilai tukar rupiah hingga ke level Rp9.300-an per dolar, mengangkat indeks menembus level 2.500-an (naik sekitar 80%), serta memperkuat cadangan devisa yang kini sudah mencapai USD62,287 miliar.

“Dalam konteks tersebut, dibutuhkan strategi dan kebijakan, baik yang bersifat jangka panjang maupun pendek oleh Pemerintah Indonesia khususnya Bank Indonesia,” papar lembaga kajian Strategic Indonesia dalam keterangannya tertulisnya yang dikirim kepada okezone, Senin (12/10/2009).

Aliran hot money di Indonesia didorong oleh beberapa faktor, yaitu perekonomian global yang ditandai masih suramnya pemuilhan ekonomi di negara maju. Selain itu investor global mengalihkan investasinya ke negara berkembang, termasuk Indonesia.

Faktor domestik Indonesia yang dinilai sangat potensial, terutama karena bursa ditopang oleh kinerja perusahaan berbasis komoditas primer seperti batu bara dan minyak sawit mentah yang harganya melambung di pasar internasional juga menjadi salah satu faktor penentu.

“Indonesia adalah satu-satunya negara ASEAN yang masuk dalam G20. Indonesia juga menjadi negara terbesar demokratis ketiga setelah India dan Amerika Serikat, yang tentunya memiliki implikasi yang besar terhadap aktivitas ekonomi,” urainya.

Fakta ini lebih diperkuat dengan stabilitas politik Indonesia yang termasuk kategori paling stabil di Asia. Ini masih diperkuat dengan fakta lain bahwa di tengah krisis global, Indonesia masih mengalami angka pertumbuhan ekonomi positif sebesar 4,2% dan hanya kalah dari China dan India di Asia.

“Secara umum dapat dikatakan perekonomian Indonesia memiliki potensi sangat besar,” imbuhnya.

Tidak mengherankan jika kemudian Lembaga Rating Moody’s Investor meningkatkan rating obligasi Pemerintah Indonesia dari level Ba3 menjadi Ba2. Morgan Stanley dalam rilis Juli 2009 mengatakan Indonesia layak masuk dalam klub BRIC. CLSA juga mengatakan Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi kawasan bersama China dan India (Chindonesia). Standard Chartered Bank menyebut “Indonesia is a Power House in Asia”. Media terkemuka The Economist (edisi September 2009) juga menulis laporan khusus dengan judul “Indonesia: A Golden Chance”.

Penilain positif dari banyak lembaga internasional ini sangat mempengaruhi “psikologi” investor, ditandai dengan meningkatnya hot money. Berkaitan dengan hal tersebut menurut Dr A Prasetyantoko, ekonom independen yang juga dosen Unika Atma Jaya, Pemerintah Indonesia harus menjaga semaksimal mungkin agar aliran jangka pendek tidak cepat keluar agar tidak menimbulkan gonjang-ganjing (volatilitas). Selain itu juga membuat sedemikian rupa sehingga modal asing jangka pendek tersebut menjadi awal dari investasi yang sifatnya jangka panjang (foreign direct investment).

Ujian pertama adalah pengumuman susunan kabinet pada 21 Oktober 2009 mendatang. Jika ternyata susunan kabinet terlalu akomodatif, bisa jadi justru memudarkan optimisme pasar. Bisa diprediksi hot money akan keluar.

Kedua, kalaupun kabinet menyakinkan pasar, pertanyaannya apakah mereka mampu mengembangkan program-program yang berorientasi pada peningkatan daya saing perekonomian. Proyek infrastruktur, energi, dan isu desentralisasi, akan menjadi tiga hal pokok yang selalu dicermati oleh investor, khususnya asing.(jri)

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s