1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

analisis fundamental perusahaan … lage : 181009 19 Oktober 2009

Filed under: Teknik Maen Saham — bumi2009fans @ 1:14 am

Wahyu Sidarta
Associate Analyst Vibiz Research Center
Prinsip-Prinsip Dasar Penilaian Emiten; Analisis Fundamental Untuk Investasi Saham
Rabu, 12 Mei 2010 15:16 WIB

(Vibiznews – Stocks) – Sebelum melakukan investasi saham, para calon investor harus terlebih dahulu melakukan analisis yang mendalam terhadap perusahaan yang sahamnya ingin dibeli. Analisis pertama yang harus dilakukan adalah analisis fundamental, di mana salah satunya adalah mempelajari neraca dan laporan keuangan perusahaan tersebut.

Ada beberapa macam metode yang dapat digunakan oleh para investor dalam menilai sebuah perusahaan dan memilih saham apa yang akan mereka investasikan, seperti
Price to Book Value (PBV), Price to Earning (PER), Price to Sales, Price to Earnings Growth dan Price to Cash Flow. Namun yang paling umum digunakan adalah Price to Earning Ratio (PER) dan Price to Book Value (PBV).

Book Value (BV)

Book Value atau Nilai Buku suatu perusahaan adalah modal pemegang saham (shareholder’s equity). Modal pemegang saham adalah jumlah total aset perusahaan dikurangi dengan total kewajiban perusahaan dan hak minoritas.

Sedangkan Book Value per Share menunjukkan aktiva bersih per lembar saham yang dimiliki oleh para pemegang saham. BV/Share tidak menunjukkan kinerja saham secara langsung, namun lebih mencerminkan dua hal, yaitu:
1. Berapa besar jaminan yang akan diperoleh oleh para pemegang saham apabila perusahaam (emiten) mereka dilikuidasi.
2. Menjadi indikasi pembanding terhadap nilai pasar perusahaan lain, yaitu apakah harga saham perusahaan masih murah atau sudah terlalu mahal.

Price to Book Value (PBV)

Price to Book Value (PBV) adalah suatu nilai yang digunakan untuk membandingkan apakah sebuah saham relatif lebih mahal atau lebih murah dibandingkan dengan saham lainnya. Emiten-emiten yang dibandingkan harus berasal dari sektor yang sama, misalnya sektor perkebunan.

Berikut contoh/ilustrasi penggunaan PBV:

Tabel di atas menunjukkan bahwa harga saham yang paling murah dibandingkan yang lain adalah saham TBLA. Hal tersebut tercermin dari angka PBV UNSP yang lebih kecil dibandingkan rata-rata industri dan emiten lainnya. Sedangkan saham yang paling mahal adalah AALI.

Namun bukan berarti harga saham yang mahal tidak bagus dan tidak berpotensi naik lagi, bisa saja harga saham emiten tersebut mahal karena kinerjanya yang cemerlang, sehingga banyak peminatnya. Sebaliknya, saham yang murah juga belum tentu menjanjikan jika kinerja emiten tersebut kurang baik.

Maka, bagi para investor yang ingin mengetahui kinerja keuangan emiten yang bagus, investor perlu mempertimbangkan earning per share (EPS) dan price to earning ratio (PER).

Earnings per Share (EPS)

Earning per share (EPS) atau laba per saham laba bersih yang diterima dari setiap lembar saham emiten. Cara penghitungan EPS adalah laba bersih emiten dibagi jumlah saham beredar.

Price to Earning Ratio (PER)

Rasio ini digunakan untuk menghitung tingkat pengembalian modal yang diinvestasikan dalam suatu saham, dengan begitu, investor dapat memperkirakan jangka waktu pengembalian modalnya.

Cara perhitungan PER adalah harga saham di pasar dibagi dengan laba per saham (EPS). Semakin kecil PER suatu saham, maka semakin cepat pengembalian modal investor. Sama seperti PBV, saham-saham yang dibandingkan harus berasal dari sektor usaha yang sama.

Berikut contoh/ilustrasi penggunaan PER:

Berdasarkan tabel di atas, maka beberapa saham dengan tingkat pengembalian paling cepat adalah UNSP, GZCO dan TBLA karena berada di bawah rata-rata industri.

… data per bisa lihat di link bisnis indonesia e-paper (sila dicek halamannya lagi sendiri) :   http://epaper.bisnis.com/PUBLICATIONS/BISNISINDONESIA/BI/2010/07/04/index.shtml

Jika digabungkan dengan analisa price to book value (PBV), maka saham yang cukup menjanjikan berdasarkan contoh di atas adalah saham UNSP. Karena selain PER-nya termasuk yang paling kecil, PBV-nya juga mencerminkan bahwa saham tersebut masih relatif murah jika dibandingkan dengan emiten sejenis lainnya. Sedangkan saham seperti SMAR, walaupun harga sahamnya masih tergolong murah (PBV 2,29x), kinerjanya kurang baik (PER 15,16x).

Sejak awal tahun 2010 sampai saat ini, harga saham UNSP justru mengalami tekanan dan pergerakannya masih terlihat cenderung flat, hal ini karena terpengaruh sentimen negatif group Bakrie. Namun jika nanti UNSP jadi mengakuisisi group Domba Mas dalam melebarkan bisnisnya ke bisnis oleochemical, diperkirakan tren saham UNSP ke depannya masih naik dan akan kembali aktif mewarnai dinamika pergerakan bursa saham Indonesia.

Semoga bermanfaat !!

(Wahyu Sidarta/WS/vbn)
Ratio Laporan Keuangan
Senin, 12 Oktober 2009 – 08:07 wib

Investor di pasar modal minimal memahami pengatahuan dasar mengenai analis laporan keuangan. Hal ini merupakan suatu kewajiban yang perlu dipahami oleh semua investor, mengingat laporan keuangan merupakan gambaran yang dihasilkan perusahaan dari waktu-kewaktu.

Hal yang penting dilakukan investor mengenai neraca rugi laba perusahaan. Analisa laporan keuangan, bukan pekerjaan mudah, tapi bukan berarti tak bisa dilakukan.

Karena dengan berpedoman pada rasio yang diungkap laporan keuangan investor dapat menyimpulkan kondisi keuangan emiten. Beberapa rasio yang lazim menjadi patokan dalam meng-analisis laporan keuangan, sehingga dapat memutuskan kebijakan investasi.

Secara umum rasio laporan keuangan dibagi dalam berberapa kelompok, seperti rasio likuiditas, rasio aktivitas, rasio utang atau leverage, rasio kemampuan laba serta rasio saham. Beberapa rasio penting yang umum digunakan dalam menganalisis laporan keuangan di antaranya, current ratio (rasio lancar), rasio ini menunjukkan sejauhmana aktiva lancar dapat menutupi kewajiban lancar.

Semakin besar hasil perbandingan aktiva lancar dengan hutang lancar, semakin tinggi kemampuan perusahaan dalam menutupi kewajiban jangka pendek.

Debt to equity ratio (rasio utang atas modal). Rasio ini sering disebut dengan istilah rasio leverage, menggambarkan struktur modal yang dimiliki oleh perusahaan, dengan demikian dapat dilihat struktur risiko tidak tertagihnya hutang. Semakin kecil angka rasio ini maka akan semakin baik total debt to total assets merupakan penggambaran aktiva yang dipergunakan oleh perusahaan untuk menutupi hutang baik jangka pendek maupun jangka panjang yang dihitung dengan rumus total hutang dibagi total aktiva, maka akan diperoleh rasio, debt to capital assets.

Operating profit margin (OPM), rasio ini mengukur seberapa besar kontribusi penjualan terhadap laba operasi. Makin besar rasio ini maka akan semakin baik.

Rumus mencari OPM dengan cara membagi laba operasi dengan penjualan. Net profit margin, rasio yang mengukur kontribusi penjualan terhadap laba bersih. Makin besar rasio ini maka akan semakin baik, karena rumus yang digunakan laba bersih dibagi dengan penjualan.

Return on equty (ROE) menggambarkan kontribusi keuntungan bagi pemegang saham, laba bersih dibagi ekuitas. Erning per share merupakan penggambaran jumlah laba yang dihasilkan perusahaan untuk tiap pemegang saham yang diterbitkan. Price earning ratio (PER) menggambarkan apresiasi pasar terhadap kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba. PER dihitung dalam satuan kali. Sebagai contoh jika status saham memiliki PER sebesar 10 kali berarti kemampuan perusahaan menghasilkan laba sebanyak 10 kali.

Bagi investor semakin keci PER berarti saham tersebut relatif murah. PER dihitung berdasarkan hasil pembagian harga saham dengan erning per share (laba per saham). Disamping itu sejumlah rasio lain yang juga layak diperhatikan adala nilai buku (book value) dan, price to book value.

Book value merupakan penggambaran perbandingan total dana pemegang saham terhadap jumlah saham, sedangkan price to book value menggambarkan seberapa besar pasar menghargai nilai buku saham sebuah perusahaan. Makin tinggi rasio ini berarti pasar percaya pada prospek perusahaan. (tim bei)(//rhs)

Iklan
 

2 Responses to “analisis fundamental perusahaan … lage : 181009”

  1. […] price earning ratio juga penting dalam analisis fundamental :  https://transaksisaham.wordpress.com/2009/10/19/analisis-fundamental-perusahaan-lage-181009/ […]

  2. […] sebuah cara memantau sinyal fundamental saham :  https://transaksisaham.wordpress.com/2009/10/19/analisis-fundamental-perusahaan-lage-181009/ […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s