1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

tren TURUN ihsg terimbas 3 faktor BESAR … : 211009 21 Oktober 2009

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 8:37 am

menurut pengamatan gw, berdasarkan analisis beberapa analis pro, maka 3 faktor UTAMA yang mendorong STAGNANSI ihsg adalah :
1. ekspektasi valuasi ihsg yang sudah kemahalan … sejak 2 bulan yang lalu, asing sudah menganggap ihsg sudah terlalu tinggi … itu sebabnya terjadi reposisi dana asing ke portofolio luar negeri dan obligasi/surat utang negara RI yang cukup signifikan
2. ekspektasi valuasi bumi sang index mover yang terimbas kebijakan berganti BANDAR ke china … sehingga para BULE kuciwa full … andalan utama mereka di bei dirampok … imbas hengkangnya investor raksasi asing amat signifikan bagi bumi dan bei
3. ekspektasi kabinet pro pasar ternyata HANYA SEBAGIAN KECIL TERBUKTI … sby dianggap PERAGU SEJATI karena terlalu BERAMBISI MEMPERTAHANKAN POSISI S/D ANAKNYA LEWAT KOALISI PERMANEN ALA SBY … koalisi parpol yang diuntungkan menyebabkan RONTOKNYA KEYAKINAN INVESTOR RAKSASI atas ekonomi dan portofolio berisiko ala saham indon
… lalu apakah sikap investor ritel? EGP 😛 … palingan rontok sebentar, NOVEMBER DAN DESEMBER AKAN MANTUL NAEK lage … karena resesi global sebenarnya maseh panjang ceritanya untuk kembali PULIH, sehingga investor RAKSASI ASING pun sebenarnya PUZZZZING MIKIRIN REPOSISI investasinya yang ruarrrrbiasa besarnya… itu sebabnya sby NEKAT MEMPERTARUHKAN KEYAKINAN INVESTOR ASING lewat serangkaian kebijakan prerogatifnya yang melawan pasar … well, liat aja dah 🙂
Kamis, 22 Oktober 2009 | 07:26

DANA ASING

Dana Asing Keluar dari Bursa Saham Indonesia dalam Tiga Hari Berturut-turut

JAKARTA. Perlahan tapi pasti, dana asing mulai keluar dari bursa saham Indonesia. Selama tiga hari berturut-turut, asing melakukan aksi jual bersih alias net sell di lantai bursa. Total nilainya mencapai Rp 1,07 triliun.

Asing mengambil untung lantaran IHSG sudah terbang lebih dari 70% sejak awal tahun ini. Selain itu, para analis melihat, dalam jangka pendek investor asing masih menunggu gebrakan tim ekonomi kabinet 2009-2014.

Yang pasti, keluarnya dana asing mempengaruhi laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Kemarin (21/10), indeks terlempar dari zona 2.500, dan ditutup melorot 1,02% menjadi 2.476,80. Net sell asing tercatat mencapai Rp 615,8 miliar, sementara rata-rata nilai transaksi harian sekitar Rp 3,7 triliun.

Direktur Paramitra Alfa Sekuritas Ukie Jaya Mahendra melihat, aksi jual investor asing di lantai bursa tak lepas dari pro-kontra posisi Hatta Rajasa sebagai Menteri Perekonomian. Pasar melihat Hatta Rajasa sebagai politisi, bukan seorang ekonom.

Maka itu, satu-satunya cara menepis keraguan itu adalah dengan pembuktiannya kinerja. “Asing sendiri masih wait and see, makanya dalam beberapa hari terakhir ini dan ke depan saya perkirakan ada tekanan jual oleh asing di bursa kita,” kata Ukie, kemarin.

David Ferdinandus, Senior Vice President Indomitra Securities menilai, perginya dana asing dari bursa Indonesia masih terbilang lumrah. Investor asing hanya melakukan aksi ambil untung atau profit taking dan hanya bersifat sementara.

Toh, secara umum investor asing masih getol menanamkan uangnya di Indonesia. Tengok saja, sejak awal tahun sampai kemarin, asing masih tercatat lebih banyak membeli (net buy) ketimbang menjual saham di bursa Indonesia. Per 21 Oktober 2009, investor asing membukukan net buy Rp 9,86 triliun.

Dari sisi kepemilikan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), asing juga cukup dominan. Merujuk data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), per 19 Oktober 2009, kepemilikan asing di saham senilai Rp 788,07 triliun, setara 67,55% total saham tercatat di KSEI.

Porsi kepemilikan ini naik 2,05% dari kepemilikan asing per akhir September 2009 yang senilai Rp 772,23 triliun. “Kepemilikan asing akan meningkat seiring naiknya bursa saham kita,” ujar Direktur KSEI Trisnadi Yulrisman, Selasa (20/10).

Menurut David, asing melihat Indonesia masih cukup potensial sebagai tempat untuk membiakkan dana investasi mereka. Ambil contoh, lembaga pemeringkat Moody’s Investor Service menaikkan peringkat utang Indonesia dari Ba3 menjadi Ba2, pada pertengahan bulan lalu. Bukan cuma itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga diperkirakan lebih tinggi di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi global. Hal itu jelas ikut mendongkrak pamor bursa saham domestik.

Ukie berpendapat, dalam waktu dekat, bursa saham Indonesia masih sepi sentimen baik. Saat ini, investor tinggal menunggu laporan kinerja emiten kuartal ketiga 2009. Selain itu, sentimen bursa regional juga bisa mempengaruhi laju indeks dalam negeri.

Jika rapor sebagian besar emiten berwarna biru, nilai tukar rupiah bergerak stabil, plus gebrakan tim ekonomi kabinet baru yang pro pasar, maka asing bisa terus mengakumulasi beli saham-saham di lantai bursa Indonesia.

Sebelum tutup tahun ini, Ukie memprediksi indeks bisa menembus 2.700. “Aksi window dressing yang mungkin terjadi juga bisa mengangkat indeks,” kata dia.

David meramal, indeks berpeluang menyentuh 2.800 sampai akhir 2009. “Dengan catatan, apabila data-data ekonomi domestik dan global membaik,” kata David.

Sandy Baskoro KONTAN

Kamis, 22 Oktober 2009 | 07:18

HARGA SAHAM

Menakar Harga Wajar Saham di BEI

JAKARTA. Harga saham emiten Bursa Efek Indonesia (BEI) kian mahal. Kenaikan rasio harga saham terhadap laba atau price earning ratio (PER) saham-saham anggota Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) jadi indikatornya.

Pertengahan tahun ini, PER saham-saham anggota IHSG masih di kisaran 15 kali. Kini, menurut data Bloomberg, PER anggota IHSG mencapai 16,9 kali, lebih tinggi ketimbang PER beberapa indeks saham bursa global. Contoh, PER saham-saham anggota Dow Jones Industrial Average hanya 14,1 kali. Tapi, PER bursa kita lebih rendah ketimbang PER anggota indeks Nikkei 225 Jepang serta indeks Hang Seng Hong kong.

Kenaikan PER IHSG ini berhubungan erat dengan lompatan IHSG sepanjang tahun ini. Sejak awal tahun sampai kemarin, IHSG telah naik lebih dari 70%. Bahkan IHSG sempat naik 101,3% jika menghitungnya dari level terendah 1.256,109 (2/3) hingga level tertinggi di 2.528,146 (6/10).

Kepala Riset Financorpindo Nusadana Edwin Sebayang menilai, kemampuan emiten mencetak laba sebenarnya belum mengimbangi lonjakan IHSG. Edwin pun berkesimpulan, harga saham di BEI sudah mahal. Edwin menghitung, posisi wajar IHSG saat ini di kisaran 2.400-an, dan PER-nya 14,98 kali.

Analis Infovesta PH Praska Putrantyo menambahkan, IHSG memang sudah di atas rata-rata. Ia menghitung, level wajar IHSG sampai akhir tahun hanya 2.450, dengan PER sekitar 14 kali.

Pengamat Pasar Modal Felix Sindhunata menilai sebaliknya. Baginya, PER IHSG sekarang masih wajar, karena masih berada di bawah angka 18 kali.

Patokan mahal bagi Felix adalah seandainya PER suatu bursa sudah lebih tinggi ketimbang 18 kali, meskipun ini juga bukan angka mutlak untuk mengukur mahal murahnya suatu saham. “Masih ada pertimbangan lain, yakni kondisi fundamental suatu bursa,” kata Felix, kemarin.

Faktor fundamental itu antara lain tercermin pada potensi pertumbuhan ekonomi negara, serta kinerja para emiten. “Jadi tidak bisa langsung mengatakan harga saham di BEI lebih mahal dari bursa lain hanya dengan melihat PER,” tandas Felix.

Direktur Paramitra Alfa Sekuritas Ukie Jaya Mahendra memilih jalan tengah. Menurutnya, PER IHSG relatif masih setara dengan bursa-bursa lain di Asia. Soalnya, kenaikan indeks mayoritas bursa Asia juga hampir serupa. Intinya, kinerja indeks saham maupun kinerja tiap saham emiten di bursa Indonesia masih mampu bersaing di regional.

Namun Ukie mewanti-wanti, kecemerlangan IHSG hanya bertahan jika kinerja emiten di BEI masih baik. Kalau hasilnya buruk, saham di BEI lebih mahal ketimbang saham emiten di bursa lain. “Tapi, kalau bagus, valuasi bursa kita masih oke,” ungkapnya.

Analis BNI Securities M Alfatih menilai justru PER IHSG masih cukup murah. Alasannya, ia yakin, potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan akan lebih baik ketimbang pertumbuhan tahun ini. Bahkan ekonomi kita mampu tumbuh lebih baik ketimbang ekonomi negara-negara lain di Asia, kecuali China.

“Pertumbuhan ekonomi dan kestabilan makroekonomi Indonesia menjadi dasar penilaian bahwa valuasi saham di BEI masih relatif murah,” tandasnya.

Sopia Siregar, Irma Yani, Sandy Baskoro KONTAN

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s