1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

ikut-ikutan, jalan pintas PALING GOBLOK … : 211009 22 Oktober 2009

Filed under: Investasi dan Risiko — bumi2009fans @ 12:31 am

21/10/2009 – 18:55
Investor Harus Waspadai Hedging
Agustina Melani

(inilah.com/Agung Rajasa)
INILAH.COM, Jakarta – Saat indeks sudah mulai naik perilaku psikologis investor perlu dicermati karena mungkin dapat membahayakan investasi investor seperti hedging atau overtrading.

Hal itu dikatakan Vice President-invesment Head, Citibank N.A Harsya Prasetyo, Rabu (21/10) di Jakarta. “Kondisi perekonomian saat ini memberikan peluang yang baik bagi para investor dalam berinvestasi, namun beberapa perilaku investasi mereka seringkali menjadi penyebab tidak maksimalnya keuntungan yang mereka peroleh,” ujar Harsya.

Lebih lanjut, dia menjelaskan eberapa perilaku investasi yang dapat menganggu investor antara lain hedging, overtrading, dan naive diversification of invesment. Ketiga perilaku investor tersebut termasuk bersifat alamiah. Saat ini kecenderungan investor baik global dan domestik termasuk herding. Hal ini dilihat dari penurunan indeks pada 2008. “Banyak nasabah tidak berani masuk pada 2008, sehingga perilaku herding lebih dominan. Pada indeks Januari-Maret di posisi 1100 hingga 2300 banyak investor yang belum berani masuk, pada saat indeks naik investor mulai masuk,” jelasnya.

Perilaku hedging yaitu perilaku investor yang tanpa disadari dapat menyebabkan peningkatan risiko pada portofolio investasi antara lain ikut-ikutan. Perilaku ini dapat dianggap tidak masuk akal, namun bila situasi yang dihadapi memerlukan kombinasi antara keahliaan dan kemujuran seperti perdagangan saham maka perilaku ini dapat dianggap wajar dan alamiah. Yang perlu dicermati dari sikap ini jika terdapat cukup banyak investor dengan kepercayaan yang sama maka harga sebuah aset atau saham dapat bergerak sesuai dengan kepercayaan para investor tersebut.

Sementara itu, perilaku overconfidence yaitu perilaku investor yang cenderung untuk melakukan aksi jual beli secara berlebihan. Sedangkan perilaku naive diversification yaitu investor cenderung untuk melakukan diversifikasi dengan cara yang terlalu sederhana yaitu secara merata ke setiap produk investasi tanpa mengindahkan jenis aset dari produk tersebut. Yang menjadi penyebab perilaku ini, investor cenderung tidak ambil pusing ketika dihadapkan dengan beragamnya produk investasi yang ada.

Harsya menambahkan, memberikan pengetahuan atau pendidikan kepada investor sangat penting. Dengan mengetahui tujuan, komitmen investasi, portofolio nasabah diharapkan bisa digunakan untuk mencapai tujuan investasi dibandingkan naluri alamiah. “Dengan diversifikasi resiko dan investasi dilakukan secara berkala untuk berinvestasi,” kata Harsya.

Menurut Harsya, sebelumnya masyarakat di Indonesia cenderung berinvestasi dalam deposito. Baru akhir-akhir ini masyarakat mulai berinvestasi. Sehingga memerlukan waktu untuk meyakinkan investor untuk mulai beralih dari deposito ke saham. [hid]

22/10/2009 – 12:46
Investasi Bisa Buntung
Waspadai ‘Herding & Overtrading’
Yusuf Karim

(inilah.com /Agung Rajasa)
INILAH.COM, Jakarta – Jumlah transaksi investasi kian meningkat seiring pulihnya kondisi perkonomian. Namun waspadalah terhadap perilaku psikologis investor yang membahayakan investasi mereka.

Perilaku tersebut di antaranya adalah herding, overtrading dan naive diversification of investment. Sepanjang 2009, IHSG telah menunjukkan performa yang baik melalui pertumbuhan, hingga awal Oktober 2009 naik sebesar 81,20%.

Hal ini menunjukkan kuatnya pemulihan kondisi perekonomian Indonesia dibandingkan dengan negara-negara lainnya. Karenanya dapat dikatakan bahwa peluang berinvestasi telah kembali terbuka lebar.

Vice President-Investment Head, Citibank NA Harsya Prasetyo menjelaskan bahwa kondisi perekonomian saat ini memberikan peluang yang baik bagi para investor dalam berinvestasi.

“Namun beberapa perilaku investasi mereka seringkali menjadi penyebab tidak maksimalnya keuntungan yang mereka peroleh,” ujarnya dalam seminar di Jakarta, kemarin (21/10).

Ketika dihadapkan pada sebuah ketidakpastian, manusia secara alamiah berasumsi bahwa orang lain dengan kondisi serupa akan memiliki ide yang lebih baik dibandingkan dengan ide mereka sendiri. Ia mengutip tulisan Martin L Leibowittz, Alpha Hunters and Beta Gazers Financial Analyst Journal, Sep/Oct 2005, seperti tertulis pada CFA Program Curriculum Volume 2, level III 2008.

Asumsi inilah yang menyebabkan rendahnya kepercayaan diri investor, sehingga mengakibatkan kecenderungan pembuatan keputusan yang serupa antara orang yang satu dengan yang lainnya.

Dalam investasi, perilaku seperti ini dikenal dengan istilah herding. Bagi orang-orang pada umumnya, herding mungkin terlihat seperti perilaku yang tidak masuk akal.

Namun akan berbeda halnya dengan sebuah keadaan dimana keberuntungan dan keahlian sama-sama diperhitungkan, seperti halnya dalam perdagangan bursa, dimana herding menjadi suatu hal yang sepertinya memang terjadi secara alamiah.

Beberapa dampak negatif dari perilaku herding ini adalah para investor mungkin saja melakukan jenis investasi yang sebenarnya tidak mereka pahami dan mengambil risiko yang sebenarnya tidak diperlukan.

“Perlu diingat bahwa suatu investasi yang berhasil di masa lalu, dan/atau cocok dengan orang-orang tertentu, belum tentu akan cocok juga bagi orang yang lain,” tambah Harsya.

Sebagai tambahan, sebuah penelitian yang dilakukan Lopes (1987) mengindikasikan bahwa saat keahlian dan keberuntungan diperlukan secara bersamaan, maka ia akan mempunyai keinginan lebih tinggi untuk memegang kendali. Keinginan untuk memegang kendali disalurkan melalui frekuensi transaksi yang terlalu sering.

Namun, sebuah penelitian pada 60 ribu investor dalam kurun waktu enam tahun yang dilakukan Barber and Odean, memperlihatkan bahwa menjadi terlalu aktif dalam bertransaksi dapat memberatkan index sampai 60 basis points sebelum biaya transaksi.

“Ironisnya, biaya transaksi dapat memangkas 240 basis points dari performa portfolio tersebut,” papar Harsya mengutip tulisan Hersh Shefrin, Beyond Greed and Fear: Understanding Behavioral Finance and the Psychology of Investing, Oxford University Press 2002, seperti terungkap dari CFA Program Curriculum Volume 2, level III 2008.

Penelitian tersebut memperlihatkan bahwa walaupun berlebihan dalam bertransaksi adalah hal yang sangat manusiawi yang dapat membatasi keuntungan dari berinvestasi. Perilaku berisiko yang ketiga adalah kecenderungan investor dalam menyederhanakan pola diversifikasi investasi mereka.

Bernartzi and Thaler menyimpulkan bahwa investor seringkali menyederhanakan diversifikasi dengan membagi rata jumlah investasi mereka atas setiap produk, tanpa mempertimbangkan jenis dari investasi tersebut.

“Naive diversification seperti ini dapat membuat investor memegang portfolio yang belum cukup tingkat diversifikasinya. Selain dapat mengarahkan investor untuk memiliki produk investasi dengan tingkat korelasi tinggi, perilaku seperti ini juga dapat menyebabkan investor harus menanggung risiko portfolio yang sebenarnya di luar batas kemampuan mereka,” lanjutnya.

Kesempatan untuk berinvestasi akan selalu terbuka, selama para investor mampu berinvestasi secara bertanggung jawab. Oleh karena itu diperlukan, financial advisor yang memahami kondisi psikologis para investor ini, dan oleh karenanya selalu menjalankan risk-profiling sebelum memulai jenis investasi apapun. [mdr]

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s