1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

order transaksi gw pasca gonjang ganjing kabinet lesu darah … 221009 22 Oktober 2009

Filed under: JUAL beli HARIAN — bumi2009fans @ 8:50 am

order jual bumi:
2925
2975
chartBUMI_3m_221009
simak tgl 23, 24 sep 09 dan 25 sep 09 terjadi full gap down : sentimen2 negatif bertumpuk-tumpuk … langsung ihsg disergap down trend s/d 20 Okt (saat sby dilantik malah) … namun simak pula tgl 15 dan 16 Okt terjadi 2 kali doji yang menunjukkan ketidakpastian dalam pasar lalu disertai volume lot transaksi yang minim … saham bumi tampaknya tampak mengalami koreksi dalam volume besar pada tgl 20 Okt dalam posisi partial gap down terhadap 19 Okt … sehingga bisa dikatakan telah terjadi technical rebound pada 21 Okt dan nyaris mendekati yang disebut partial gap down terhadap 20 Okt … ini berarti memang sentimen negatif dikonfirmasi secara teknikal masih akan berlanjut … namun serentak sentimen global membaik, seharusnya koreksi teknikal bisa mantul naek lage di November 09 …
———————————– saham lain
order jual elsa:
360
———————————– saham lain
order jual trub:
159
161
———————————– saham lain
order jual bbri:
7950
———————————– saham lain
———————————– saham lain
Kamis, 22/10/2009 08:47 WIB

Cermati BUMI, FASW, ANTM, ELTY, PTBA, INDY, BBNI

oleh : Berliana Elisabeth S.

JAKARTA (Bisnis.com): Harga saham sejumlah emiten Bursa Efek Indonesia pada perdagangan hari ini setidaknya akan terpengaruh aksi korporasi, kondisi keuangan maupun berita-berita seputar perusahaan seperti BUMI, FASW, ANTM, ELTY, PTBA, INDY dan BBNI.

Harian Bisnis Indonesia pada edisi hari ini, Kamis 22 Oktober 2009 memberitakan ketujuh emiten yakni:

PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menjajaki utang US$500 juta untuk membiayai kemungkinan akuisisi rangka ekspansi bisnis menjadi perusahaan pertambangan terdiversifikasi. Senior Vice President Investor Relations Bumi Dileep Srivastava tidak membantah kabar mengenai pemrosesan obligasi senilai US$500 juta yang merebak pada Senin.

Menurut dia, perseroan terus mengeksplorasi semua peluang pendanaan dalam rangka ekspansi. “Belum tentu obligasi, tetapi kami memang membutuhkan pendanaan untuk memulai proyek Herald [Resources Ltd] dan proyek tambang lainnya seperti bijih besi, emas atau akuisisi baru bila memungkinkan,” tuturnya saat ditemui di sela-sela halalbihalal Asosiasi Emiten Indonesia, kemarin.

Sejumlah eksekutif mengatakan Bumi telah menunjuk Deutsche Bank dan Credit Suisse untuk melihat peluang penjualan obligasi dolar AS. (Bisnis, 20 Oktober 2009). Bumi melalui anak usahanya Calipso Investment Pte Ltd telah menguasai 98,39% saham Herald, perusahaan tambang asal Australia yang mengendalikan PT Dairi Prima Mineral. Dairi mempunyai konsesi pertambangan zinc dan timah hitam di Dairi, Sumatra Utara.

Hingga kini, proses eksplorasi di Dairi belum terlaksana karena masih menunggu izin dari Departemen Kehutanan. Kendati demikian, Dileep bilang kebutuhan pendanaan bagi Herald mendesak dengan harapan Dairi segera memperoleh izin. Selain itu, kata dia, Bumi juga mempunyai kewajiban untuk menyetorkan dana ke PT Multi Capital Indonesia terkait akuisisi 10% saham Newmont Nusa Tenggara. Bumi melalui PT Bumi Resources Investment memegang 5% saham di Multi Capital, yang merupakan perusahaan milik Bakrie Capital Industries. Multi Capital bersama dengan Pemda NTB membentuk PT Multi Daerah Bersaing untuk mengakuisisi 10% saham Newmont tersebut. Dileep menambahkan Bumi memang mempunyai kesepakatan strategis dengan China Investment Corporation (CIC), yang telah sepakat mengucurkan pinjaman senilai US$1,9 miliar pada 23 September 2009.

PT Fajar Surya Wisesa Tbk (FASW) pada kuartal III/2009 mencatatkan laba kurs sebesar Rp146,48 miliar melonjak hingga 1.376,61% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yaitu Rp9,92 miliar. Tingginya perolehan laba kurs tersebut mendorong kenaikan laba bersih hingga menjadi Rp177,78 miliar lebih tinggi dibandingkan dengan kuartal III/2008 yaitu Rp172,01 miliar. Dalam laporan manajemen kepada Bursa Efek Indonesia kemarin, disebutkan pada kuartal III/2009 perseroan berhasil membukukan penjualan sebesar Rp2 triliun turun 17,72% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yaitu Rp2,43 triliun.

Presiden Direktur Fajar Surya Winarko Sulistyo mengatakan produk yang dihasilkan perseroan dijual kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa yaitu PT Wira Mustika Agung sebesar Rp400,49 miliar, industri dalam negeri sebesar Rp1,44 triliun dan ekspor Rp178,20 miliar. “Wira Mustika merupakan distributor produk perusahaan. Penjualan ke perusahaan itu mencapai 19,8% dari total keseluruhan atau lebih tinggi dibandingkan dengan tahun lalu yaitu 21,6%,” ujarnya dalam keterangan tertulis kepada otoritas bursa.

Hingga September 2009, perseroan membukukan kewajiban lancar sebesar Rp531,99 miliar turun dibandingkan dengan posisi kuartal III/2008 yaitu Rp640,33 miliar. Adapun total kewajiban tidak lancar perseroan mencapai Rp2,07 triliun turun dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yaitu Rp2,41 triliun.

PT Aneka Tambang Tbk (Antam/ANTM) optimistis dapat menjual hingga 11 ton emas pada akhir tahun menyusul realisasi penjualan pada kuartal III/2009 yang sudah melampaui 8 ton. Pada saat yang sama, perseroan juga telah mencapai 75% target penjualan feronikel pada tahun ini yang sebanyak 14.000 ton. Direktur Utama Antam Alwin Syah Loebis mengatakan dalam 9 bulan pertama tahun ini perseroan telah menjual lebih dari 8 ton emas. Padahal, Antam menetapkan target penjualan logam berharga ini pada 2009 sebanyak 9 ton.

Dengan terealisasinya penjualan emas hingga 8 ton pada September, dia mengharapkan penjualan tahun ini bakal melebihi target. “Sepertinya bisa lebih dari 10 ton, ya sekitar 11 ton,” ujarnya kemarin. Realisasi penjualan emas hingga September itu jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan kinerja kuartal III/2008 yang sebanyak 6,42 ton.

Kendati volume penjualan emas melonjak, Alwin menilai hal itu tidak berkontribusi banyak perolehan laba bersih perseroan. Pasalnya, margin dari kegiatan perdagangan emas melalui anak usaha yakni PT Logam Mulia tidak besar. “Harga jual secara keseluruhan rata-rata masih US$900 per tray ounce,” ujarnya. Pada semester I/2009, Antam mencatat harga jual rata-rata emas naik tipis 2% menjadi US$924,87 per tray ounce. Hingga 30 Juni 2009, Antam menjual sebanyak 7,45 ton emas bernilai Rp2,56 triliun, di mana 82% disumbangkan dari kegiatan perdagangan. Penjualan emas ini menyumbang 58% penjualan perseroan.

Alwin menambahkan perseroan juga telah berhasil menjual sebanyak 10.500 ton ferronikel. “Sudah 75% dari target tahun ini yang sebanyak 14.000 ton.” Antam menjual sebanyak 12.616 ton feronikel pada kuartal III/2008 dan sebanyak 7.075 ton pada semester I/2009. Sekretaris Perusahaan Antam Bimo Budi Satriyo mengatakan perseroan mengharapkan tambang emas Cibaliung dapat segera beroperasi pada kuartal III/2010. Antam juga masih menunggu tawaran PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk terkait dengan rencana mengakuisisi tambang milik BHP Billiton. “Kami masih menunggu dari pihak penjual, berapa nilai yang ingin mereka lepas.”

PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) mengincar dana sekitar Rp2 triliun dari divestasi anak usahanya di tiga sektor usaha pada tahun depan. Masing-masing kepemilikan saham yang dilepas maksimal sebesar 30%.

Direktur Utama Bakrieland Development Hiramsyah S. Thaib mengatakan ketiga sektor yang akan dilepas yaitu hotel dan resor, city property, serta jalan tol. Perseroan, lanjutnya, sedang menjajaki investor baru asal Timur Tengah, AS, Australia, dan Inggris yang diawali melalui road show ke London dan New York. “Rencana itu mensyaratkan kondisi perekonomian yang lebih baik,” ujarnya kemarin.

Perusahaan memiliki lima sektor usaha yaitu hotel dan resor, city property, jalan tol, landed residential, serta pengolahan air yang seluruhnya berjumlah 13 perusahaan. Dari sektor city property, Bakrieland memiliki tiga anak usaha yaitu PT Bakrie Swasakti Utama, PT Bakrie Bangun Persada, dan PT Bakrie Pangripta Loka. Lima anak usaha perusahaan dari sektor hotel dan resor yaitu PT Samudera Asia Nasional, PT Berkah Puhu Lestari, PT Krakatau Lampung TD, PT Libratindo Gemilang, serta PT Bali Nirwana Resort. Dari sektor landed residential, perusahaan memiliki PT Graha Andrasentra, PT Dutaperkasa, dan PT Mutiara Permata Biru.

Perusahaan juga memiliki anak usaha PT Semesta Marga Raya di sektor jalan tol. Sedangkan PT Aetra Air Jakarta merupakan anak usaha Bakrieland di sektor Pengolahan air. Dia menjelaskan pascapenerbitan obligasi I/2008 dan sukuk I/2009, perusahaan juga membuka opsi penerbitan surat utang sejenis pada tahun depan apabila suku bunga dan imbal hasil (yield) surat utang negara masih rendah seperti saat ini. Dalam risetnya yang dirilis pada 31 Agustus, Analis JP Morgan Chase & Co Stevanus Juanda meningkatkan prediksi harga saham perusahaan menjadi Rp530 dalam 12 bulan ke depan.

PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) segera menyuntikkan dana sebesar US$31,8 juta atau sekitar Rp315 miliar kepada perusahaan patungan yang akan membangun jalur kereta api Tanjung Enim-Lampung. Langkah itu dilakukan menyusul telah disetujuinya izin prinsip untuk pembangunan jalur kereta api itu dari Menteri Perhubungan.

Sekretaris Perusahaan PTBA Achmad Sudarto menuturkan pihaknya masih menggunakan dana dari internal untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Sementara itu, konsorsium yang membangun jalur sudah memperoleh komitmen pinjaman dari satu bank asal China.

Dari perseroan sudah siap untuk menyetorkan dana untuk modal awal joint venture yang akan membangun jalur kereta api itu. “Untuk sementara, dana dari kas internal masih mencukupi.PTBA memiliki 10% dalam joint venture tersebut,” ujarnya kemarin. Menurut dia, konsorsium akan memenuhi 30% dari total dana yang dibutuhkan untuk membangun jalur kereta api sepanjang 307 kilometer itu. Sisanya sebanyak 70% akan dipenuhi dari pinjaman.

Dalam siaran pers perseroan yang dikeluarkan kemarin, PTBA menyebutkan anggota konsorsium yang ikut dalam pembangunan jalur kereta api itu adalah PTBA sebesar 10%, Transpacific Railway Infrastructure 80%, serta China Railway Engineering 10%. Sementara itu, dalam pengumuman yang dipublikasikan beberapa waktu lalu, Transpacific telah melepas kepemilikannya di konsorsium tersebut kepada Thelveton Global Asset Management.

Saat ditanya mengenai hal itu, Achmad Sudarto mengatakan sampai saat ini belum ada perubahan konsorsium tetap demean Transpacific Railway. Seperti diberitakan sebelumnya, konglomerat Prajogo Pengestu baru saja membeli mayoritas saham PT Transpacific Railway Infrastructure yang segera membangun proyek angkutan batu bara senilai US$1,06 miliar.

Prajogo, mengakuisisi saham Transpacific Railway dari tiga pemegang saham sebelumnya melalui Thelveton Global Asset Limited dari Coral Moon Resources, PT Handayani Bara Dinamika, dan PT Transpacific Investama milik Suganda Setiadi Kurnia. Sebelumnya, melalui Thelveton, Prajogo memiliki 100% saham Magna Resource Corporation Pte Ltd yang menguasai 52,13% saham Barito Pacific.

PT Indika Energy Tbk (INDY) berencana menerbitkan obligasi senilai US$230 juta atau setara dengan Rp2,18 triliun untuk menutup kebutuhan belanja modal, terutama untuk mengembangkan PT Petrosea Tbk. Seorang eksekutif yang mengetahui informasi itu mengatakan penerbitan obligasi itu dilaksanakan melalui anak perusahaannya Indo Integrated Energy II BV dengan dibantu oleh penjamin emisi Citi.

Surat utang itu dijamin oleh Indika Energy dan anak perusahaan lainnya PT Indika Inti Corpindo. “Hari ini Indika dijadwalkan roadshow penerbitan obligasi itu di luar negeri,” ujarnya kepada Bisnis kemarin. Indo Integrated pada April 2007 menerbitkan obligasi US$250 juta dengan bunga 8,5% per tahun. Penjualan obligasi yang bertenor 5 tahun ini dibantu oleh ING dan JP Morgan Securities.

Hingga berita ini diturunkan, Vice President & Investor Relations Indika Energy Retina Rosabai tidak bisa dikonfirmasi terkait dengan rencana penerbitan obligasi tersebut. Analis obligasi PT Trimegah Securities Tbk Octavianus Bramantya menilai penerbitan surat utang berdenominasi dolar AS tersebut tidak akan mengganggu penerbitan serupa yang dilakukan beberapa emiten akhir tahun ini.

“Untuk obligasi dolar, basis investornya tidak terbatas karena itu sebaiknya tidak melulu dipasarkan kepada investor regional saja, tetapi lebih luas misalnya ke Asia atau Eropa dan Amerika.” Menurut dia, dana institusi seperti manajer investasi, hedge fund, private equity, dan investor global lain masih cukup besar dibandingkan dengan pasar regional dan pasar dalam negeri. Dia menilai masuknya aliran dana investor asing khususnya dari negara maju ke negara berkembang seiring dengan suku bunga yang rendah dapat membuat penjualan obligasi itu dan beberapa korporasi lain sukses.

Lembaga pemeringkat Fitch Ratings pada hari ini menaikkan peringkat jangka panjang mata uang asing dan mata uang lokal Indika Energy dari B menjadi B+ dengan prospek stabil. Fitch juga menaikkan peringkat obligasi senior US$250 juta yang jatuh tempo pada 2012 seiring dengan penetapan peringkat ekspektasi B+ terhadap rencana penerbitan obligasi Indo Integrated Energy II. Kenaikan peringkat tersebut mencerminkan peningkatan dividen yang signifikan dari PT Kideco Jaya Agung, perusahaan batu bara terbesar ketiga di Indonesia yang 46% sahamnya dimiliki Indika, dari US$90 juta pada 2008 menjadi US$210 juta pada tahun ini.

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) memperoleh pendapatan nonbunga (fee based income) pada September 2009 sebesar Rp2,3 triliun yang terdongkrak dari peningkatan layanan elektronik dan layanan perbankan.

Berdasarkan publikasi BNI, fee based income rata-rata tumbuh Rp255 miliar per bulan sehingga pada akhir tahun ditargetkan bisa mencapai Rp3,75 triliun.

Kadiv Jaringan dan Layanan BNI Rudhyanto Mooduto mengatakan pihaknya akan terus meningkatkan layanan elektronik yang tahun ini telah ditambah 1.000 ATM. “Kami targetkan penambahan ATM setiap tahun sedikitnya 1.000 mesin, dengan investasi sekitar Rp115 juta-Rp120 juta per lokasi, lebih murah dibandingkan dengan membuka outlet,” ujarnya, kemarin.

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s