1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

arus BESAR dilawan arus KONTRARIAN … 231009 23 Oktober 2009

Filed under: Investasi dan Risiko — bumi2009fans @ 12:22 pm

23/10/2009 – 10:27
Investor Harus Lebih Cermat
Ketika Pasar Mulai Cemas
Bastaman

(inilah.com /Agung Rajasa)
INILAH.COM, Jakarta – Kekhawatiran pelaku pasar modal akhirnya jadi kenyataan. Dana asing, yang dalam beberapa pekan terakhir menguyur Bursa Efek Indonesia (BEI), kini pergi tanpa basa-basi.

Akibatnya, nilai tukar rupiah langsung babak belur. Hiruk pikuk yang terjadi di pasar modal pun sungguh memprihatinkan. Sehingga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun melorot cukup dalam beberapa hari terkahir ini.

Kamis (22/10), indeks melorot 43,613 poin (1,76%) menjadi tinggal 2.433,18. Sehari sebelumnya, indeks juga turun 1%. Penurunan terjadi pada hampir semua saham unggulan. Inilah yang membuat banyak pemodal mengerem langkahnya.

Alasannya, mereka tidak bisa menduga sampai kapan longsornya harga saham akan berlangsung. “Dari pengalaman pemerintahan yang lalu-lalu, penurunan itu biasanya berlangsung selama 12 hari sejak pengumuman kabinet,” kata seorang analis.

Selain susunan Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II yang memang kurang memberikan angin positif, penurunan indeks juga sebagian diakibatkan oleh loyonya bursa regional. “Terutama Amerika, karena 85% pergerakan indeks bursa Asia dipengaruhi oleh sentimen dari Dow Jones,” kata seorang pialang.

Sayangnya, indeks Dow kembali turun 92,12 (0,92%) ke level 9.949,36. Sehingga, ada kemungkinan IHSG melorot lagi. Yang menjadi pertanyaan, apa yang harus dilakukan investor?

Untuk investor jangka pendek dan menengah, para analis menyarankan agar menahan saham yang dipegang. Tapi jika harga terus menukik, harus segera dijual. Tetapi untuk investor jangka panjang, sarannya adalah membeli saham-saham unggulan dengan selektif. [mdr]

… WHERE BLOOD IN THE STREETS, I AM AVAILABE TO SUCK IT … kalo SAHAM2 PADA BERGUGURAN, GW SIAP TAMPUNG DAH secara kontrarian … ITU RUMUS DAYA TAHAN SANG INVESTOR AGUNG, WARREN BUFFETT … sudah terlalu banyak bukti menyinggahi saku finansial doi 🙂

Jumat, 23/10/2009 16:17 WIB
Outlook RI Positif, IHSG Loncat 34 Poin
Indro Bagus SU – detikFinance

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan akhir pekan ini dengan penguatan yang cukup signifikan berkat rebound saham-saham unggulan. Kenaikan outlook Indonesia ke positif oleh lembaga pemeringkat Standard & Poor’s (S&P) semakin mengukuhkan penguatan IHSG.

Pada perdagangan Jumat (23/10/2009), IHSG ditutup menguat 34,764 poin (1,43%) ke level 2.467,948. Indeks LQ 45 naik 7,927 poin (1,66%) ke levle 485,097. IHSG sempat bergerak melemah, dengan titik terendah pada 2.429,557.

Perdagangan berjalan cukup moderat, dengan frekuensi di seluruh pasar mencapai 86.907 kali pada volume 4.942 juta lembar saham senilai Rp 3,97 triliun. Sebanyak 143 saham naik, 46 saham turun dan 68 saham stagnan.

Menurut Direktur Utama PT Finan Corpindo Nusa, Edwin Sinaga, kenaikan tajam IHSG hari ini terutama didorong oleh dua faktor yaitu sentimen positif bursa-bursa regional dan naiknya outlook Indonesia menjadi positif dengan peringkat sovereign utang valas jangka panjang ke BB- dan peringkat utang rupiah ke BB+ seperti diumumkan oleh S&P.

“Tentu saja pengaruh naiknay peringkat Indonesia memberikan dorongan kuat IHSG untuk naik, selain naiknya indeks-indeks bursa-bursa regional tentunya,” ujarnya saat dihubungi detikFinance, Jumat (23/10/2009).

Kendati demikian, Edwin melihat sentimen positif ini hanya akan bersifat temporer jangka pendek. Menurutnya, faktor fundamental masih diselimuti sentimen negatif.

“Saya kok melihatnya situasi masih nggak enak, meski banyak isu positif. Tapi ada capital outflow, kemudian suku bunga yang kelihatannya tidak mungkin turun serta tren kenaikan harga minyak yang terus berlanjut. Ini akan menjadi sentimen negatif ke depannya,” ujar Edwin.

Bursa-bursa regional juga bergerak menguat:
Indeks Komposit Shanghai naik 56,44 poin (1,85%) ke level 3.107,85.
Indeks KOSPI naik 9,84 poin (0,60%) ke level 1.640,17.
Indeks Nikkei-225 naik 15,82 poin (0,15%) ke level 10.282,99.
Indeks Hang Seng menguat 379,46 ke level 22589.981.

Saham-saham unggulan berada di jajaran top gainer seperti Astra International (ASII) naik Rp 1.300 menjadi Rp 32.650, PTBA naik Rp 250 menjadi Rp 14.950, United Tractor (UNTR) naik Rp 200 menjadi Rp 15.900, Bank Danamon (BDMN) naik Rp 200 menjadi Rp 4.800, BRI (BBRI) naik Rp 200 menjadi Rp 7.600, Bumi Resources (BUMI) naik Rp 100 menjadi Rp 2.750, Adaro (ADRO) naik Rp 100 menjadi Rp 1.620, Bank Mandiri (BMRI) naik Rp 125 menjadi Rp 4.700.

Sedangkan saham-saham yang turun harganya di top loser antara lain Indosat (ISAT) turun Rp 50 menjadi Rp 5.500, Lippo Karawaci (LPKR) turun Rp 10 menjadi Rp 650, Bisi Internasional (BISI) turun Rp 40 menjadi Rp 1.800, Delta Dunia Petroindo (DOID) turun Rp 10 menjadi Rp 1.840.

(qom/dro)
Konservatisme Kabinet Ekonomi
Jum’at, 23 Oktober 2009 – 11:22 wib
TEXT SIZE :

Foto: Ist.
Akhirnya pengumuman para menteri yang ditunggutunggu telah terjadi dan menghasilkan beberapa catatan yang bisa disampaikan dalam berbagai sudut pandang.

Secara umum, melihat nama para menteri yang mengisi pos kabinet, kesan yang tidak bisa dihindari adalah kuatnya pengaruh partai politik sehingga sebagian besar nama berasal dari orang-orang partai dan tim sukses. Hal ini barangkali sebuah keniscayaan karena naiknya SBY menjadi presiden ditopang oleh koalisi besar, bahkan koalisi itu masih ditambah menjelang penyusunan kabinet (Partai Golkar).

Berikutnya, untuk pos menteri ekonomi cukup banyak kejutan yang terjadi (meskipun saat drama “audisi” dilakukan sudah dapat ditebak nama-nama yang bakal mengisi pos kementerian). Namanama yang selama ini diperkirakan akan masuk kabinet ekonomi justru terempas dari kursi kabinet. Sebaliknya, nama yang tidak pernah muncul ke permukaan malah melenggang masuk kabinet.Pada titik ini menarik untuk melihat bagaimana prospek kinerja menterimenteri ekonomi ini lima tahun mendatang.

Rintangan yang Menghadang

Menilai prospek kinerja menteri (ekonomi) rasanya tidak cukup membandingkan antara kompetensi yang dimiliki dengan jenis pekerjaanyangmestidilakukan. Lebih dari itu, perlu juga mengamati kesesuaian antara kecakapan pengetahuan yang dipunyai dengan tantangan ekonomi yang menghadang.

Di sinilah kita akan menjumpai setumpuk persoalan ekonomi yang selama ini menggelayut dalam pundak struktur perekonomian. Pertama,dalam beberapa tahun terakhir sumbangan pertumbuhan ekonomi dari sektor tradeable kian merosot dan digantikan dengan sektor non-tradeable.

Secara umum perubahan sumber pertumbuhan ekonomi tersebut memang tidak mengganggu pencapaian pertumbuhan ekonomi, tetapi dampak yang ditimbulkan akibat perubahan itu luar biasa besar.Implikasi itu tidak lain adalah tingginya angka pengangguran karena sektor yang selama ini banyak menyerap tenaga kerja adalah tradeable sector(sektor riil). Kedua, perubahan juga terjadi pada jenis investasi asing yang datang ke Indonesia.

Dulu investasi asing langsung (PMA) mendominasi jenis investasi, tapi sekarang portfolio investment(PI) meningkat sangat cepat. Fakta ini juga mencemaskan karena PI nyaris tidak memiliki implikasi terhadap penyerapan tenaga kerja.Ini berbeda dengan penanaman modal langsung (baik asing maupun domestik) yang berpotensi menyerap tenaga kerja.

Lebih dari itu,secara keseluruhan investasi di Indonesia masih didominasi investasi asing (meskipun penyebutan jenis investasi asing ini menjadi perdebatan) sehingga mengganggu upaya peningkatan kemandirian/kedaulatan ekonomi nasional dalam jangka panjang. Ketiga, infrastruktur ekonomi yang amat menyedihkan karena lambatnya penambahan infrastruktur baru sehingga meng-hambat investasi.

Infrastruktur listrik, jalan, pelabuhan, telekomunikasi, dan lain-lain tidak mengalami penambahan yang memadai untuk menopang aktivitas investasi. Keempat, penciptaan nilai tambah ekonomi atas kegiatan produksi. Sebagian komoditas yang diproduksi, baik untuk pasar domestik maupun ekspor,adalah bahan mentah atau setengah jadi sehingga nilai ekonominya sangat rendah.

Komoditas itu umumnya berada di sektor pertanian (dalam pengertian yang luas) dan sumber daya alam lain (misalnya pertambangan) di mana Indonesia memiliki keunggulan yang meyakinkan. Oleh karena itu, tantangan ke depan adalah menciptakan pohon industri yang berbasis input pangan dan SDA (energi) sehingga dapat mendongkrak nilai ekonomi barang/ jasa yang diperdagangkan.

Kelima,tantangan ini menyangkut perluasan dan intensitas sumber penerimaan negara yang tidak hanya bersumber dari utang, khususnya utang luar negeri.Tiadanya upaya yang besar untuk mengatasi ketergantungan sumber pendanaan negara yang berasal dari utang akan membuat negara terjebak dalam siklus ketergantungan yang terus-menerus.

Portofolio Kabinet

Dengan mencermati masalahmasalah pokok perekonomian dan dibandingkan dengan nama-nama menteri yang mengisi pos ekonomi, memang pesimisme publik bukannya tanpa dasar.Tumpuan utama yang diharapkan dari kabinet ekonomi adalah figur yang memiliki konsep dan jejak rekam yang mengkilap untuk memperkuat peran sektor riil (pertanian,pertambangan, dan industri).

Hal ini juga didukung roadmap investasi yang dikeluarkan BKPM dan Kadin yang menempatkan pangan,energi,dan industri sebagai prioritas di masa depan (didukung dengan infrastruktur ekonomi). Menko Perekonomian di sini memegang peran vital untuk memandu dan mengoordinasikan departemen- departemen sektoral agar berjalan sesuai dengan prioritas tersebut.

Tentu, sebagai pemandu, Menko Perekonomian harus memiliki perspektif dan pemihakan yang kuat terhadap isuisu itu. Tanpa penguasaan sudut pandang tersebut,sulit pemihakan akan terjadi. Berikutnya, menteri-menteri ekonomi (termasuk Kepala BKPM) harus berkontribusi terhadap penguatan pelaku ekonomi domestik.

Kenaikan investasi yang diperoleh dari investasi asing bukanlah prestasi yang dapat dibanggakan karena sumber daya perekonomian nasional memiliki banyak keunggulan. Buktinya, meskipun infrastruktur sangat terbatas,Indonesia masih menjadi negara dengan pesona investasi yang cukup bagus. Sayangnya, melihat menterimenteri yang mengisi pos ekonomi, sebagian besar belum memiliki pengalaman dan konsep mengenai masalah ini.

Fadel Muhammad barangkali perkecualian karena prestasinya yang cukup bagus membangun perekonomian Provinsi Gorontalo. Adapun Kementerian Koperasi dan UMKM, Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal, serta Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi selama ini cuma dibuat layaknya “mainan” sehingga penempatan orang di pos-pos tersebut kurang mempertimbangkan aspek kompetensi.

Padahal, dari pos-pos itulah persoalan pengangguran dan kemiskinan punya potensi dipecahkan secara substansial. Terakhir, tampak juga ketidakselarasan antara menteri yang dipilih dengan komitmen untuk mengurangi ketergantungan terhadap utang (domestik dan luar negeri).Kita memerlukan menteri keuangan yang tidak hanya tangkas menyusun asumsi ekonomi makro, tetapi juga mendesain penerimaan anggaran yang tidak membuat negara terjerembab dalam pusaran utang yang tiada henti.

Negara ini sudah sampai pada level “kecanduan” terhadap utang sehingga nyaris tidak pernah melewati tahun tanpa berutang. Beban utang itu sudah ditanggung sejak lama, bahkan mulai 1985 jumlah utang luar negeri yang harus dibayar (bunga dan cicilan pokok) lebih besar daripada utang baru yang didapat (debt-trap).

Seluruh deskripsi ini akan berujung pada kesimpulan bahwa watak kebijakan ekonomi lima tahun ke depan rasanya tidak akan banyak mengalami perubahan,padahal masalah yang dihadapi menghendaki karakter kebijakan yang berbeda. Sayang sekali Presiden terjebak dalam konservatisme yang berlebihan dalam pemilihan menteri kali ini, khususnya di bidang ekonomi. (*)

Ahmad Erani Yustika
Wakil Dekan Bidang Akademik FE Unibraw,
Direktur Indef(Koran SI/Koran SI/rhs)

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s