1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

7 gorengan anyar taon paceklik 09 … 241009 24 Oktober 2009

Filed under: Investasi dan Risiko — bumi2009fans @ 11:01 pm

Berburu Untung dari Saham Baru
Senin, 14 September 2009
Oleh : Eva Martha Rahayu
Hingga Agustus 2009 terdapat 7 saham yang listing di Bursa Efek Indonesia dari berbagai sektor industri. Bank Tabungan Negara dan PT Pembangunan Perumahan segera menyusul. Bagaimana peluang untung dan risikonya?

Tahun ini Bursa Efek Indonesia (BEI) menargetkan 15 emiten anyar yang listed. Namun, hingga Agustus hanya 7 emiten yang memiliki nyali bertarung di pasar modal. Jumlah emiten pendatang baru itu tergolong kecil dibanding tahun 2008 yang tercatat 12 emiten new comer dan pada 2007 ada 22 perusahaan yang go public.

Toh, minat calon emiten untuk menjadi perusahaan publik masih tinggi. Lihat saja Bank Tabungan Negara (BTN), menargetkan initial public offering (IPO) dilaksanakan pada kuartal IV/2009. Dirut BTN Iqbal Latanro mengatakan, rencana IPO tergantung pada kebijakan pemegang saham, yaitu Kementerian Negara BUMN. Yang jelas, besaran saham yang bakal dilepas sekitar 30% atau senilai Rp 1,5-2 triliun untuk target dana segar yang akan diraih.

Sebelumnya, Menneg BUMN Sofyan Djalil mengisyaratkan, pelaksanaan IPO BUMN tahun ini sejalan dengan pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) BEI yang diharapkan berada di kisaran 2.000 poin. Sesuai dengan rencana, selain BTN, saham PT Pembangunan Perumahan (PP) juga akan dilepas ke pasar sebesar 30%. Sekadar informasi, saham PP yang dilepas merupakan bagian dari saham karyawan yang sudah dihibahkan untuk IPO.

Nah, sembari menunggu IPO BTN dan PP, mari kita tengok performa 7 saham baru yang sudah lebih dulu melangkah ke lantai bursa. Ke-7 emiten baru itu: PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (Alfamart); PT Trikomsel Oke Tbk.; PT Batavia Prosperindo Finance Tbk.; PT Inovisi Infracom Tbk.; PT Garda Tujuh Buana Tbk.; PT Metropolitan Kentjana Tbk.; dan PT Katarina Utama Tbk.

Rata-rata dana hasil IPO bakal digunakan emiten untuk biaya operasional dan ekspansi. Katarina misalnya, berencana menggunakan 36% dana IPO buat pembelian alat, perlengkapan testing, survei dan keamanan. Sementara itu, 54,05% porsi dana dialokasikan untuk modal kerja dan 9,91% untuk pembukaan kantor-kantor proyek baru. Lantas, dari Rp 199,5 miliar dana IPO yang diperoleh Metropolitan, sebesar 50% buat merampungkan pembangunan Apartemen Golf Pondok Indah 3. Lalu, 25% dana itu ditujukan untuk renovasi dan penambahan fasilitas Pondok Indah Mal 1. Sisanya, 25% buat membiayai modal kerja, yaitu pemeliharaan dan perbaikan mesin plus fasilitas di mal serta apartemen Pondok Indah. Adapun Inovisi berencana menggunakan 85% dana IPO untuk investasi infrastruktur telekomunikasi dan 15% buat modal kerja.

Dari ke-7 saham tersebut, saham mana saja yang layak dimasukkan dalam portofolio investor? Bagaimana potensi capital gains dan risikonya? Menurut Pardomuan Sihombing, Head of Research PT Paramita Alfa Sekuritas, untuk menentukan layak-tidaknya saham dimasukkan dalam keranjang investasi, pemodal seharusnya mempertimbangkan minimum empat faktor yang memengaruhi.

Pertama, bagaimana perkembangan pasar global. Saat ini beberapa emiten baru IPO, karena tren kondisi global memang sedang membaik. Bandingkan dengan kondisi pasar pada semester II/2008, yang tidak ada emiten baru lantaran bursa tengah drop.

Kedua, keadaan pasar domestik. Membaiknya kondisi makro membawa dampak positif di bursa domestik, sehingga banyak emiten yang IPO pada semester I/2009. Apalagi dari Januari hingga pertengahan Agustus 2009 IHSG naik di atas 70% karena didukung kondisi ekonomi Indonesia yang tumbuh positif.

Ketiga, sektor industri perusahaan masih tumbuh atau tidak (sunrise atau sunset). Untuk saham yang masuk kategori sunrise berasal dari sektor infrastruktur (utilitas, jalan tol, pipa), komoditas (plantation, mining), dan perbankan. Sebaliknya, saham yang sunset biasanya dari sektor bisnis yang banyak aturan atau resisten, misalnya saham rokok, industri kayu dan olahan.

Keempat, bagaimana fundamental perusahaan tersebut. Ini bisa dicermati dari berapa banyak saham yang dilepas, likuiditas saham, historical perusahaan, kinerja keuangan, dan sebagainya. Dari keempat faktor itu, yang terpenting fundamental perusahaan.

Selain empat faktor – kondisi bursa global, bursa domestik, sektor industri perusahaan, fundamental perusahaan – Ikhsan Binarto menambahkan bahwa harga saham yang ditawarkan juga menjadi penentu layak-tidaknya saham IPO dibeli. “Tolok ukurnya dengan menghitung berapa price to earning ratio (PER) dan price to book value (PBV) saham itu,” ungkap analis PT Optima Kharya Capital Securities ini. Biasanya PBV dipakai untuk memvaluasi saham perbankan dan keuangan, sedangkan PER untuk nonkeuangan dan nonperbankan. Jika mengacu pada PER 7 saham IPO itu, Ikhsan menyebut PER Alfamart 28 kali, Trikomsel 11 kali, Batavia 11 kali, Inovisi 39 kali, Karina 70 kali, Garda 51 kali, dan Metropolitan 1.352 kali. Menurut Ikhsan, PER saham emiten perlu dibandingkan pula dengan PER industrinya. Idealnya PER emiten harus lebih rendah dari PER sektor industri.

Saham yang memiliki PER tinggi tidak selalu lebih mahal dari yang PER-nya rendah. Contoh saham X pada perdagangan 28 Agustus 2009 ditutup di harga Rp 490 dengan PER 113,68 kali, sedangkan saham Y ditutup di harga Rp 1.225 dengan PER hanya 10,32 kali, dan saham Z ditutup di harga Rp 3.925 dengan PER 9,98 kali. Jika mengacu pada PER mestinya saham X tidak diminati investor karena PER terlalu tinggi. Investor pasti akan memilih saham Y dan Z yang PER-nya jauh lebih rendah. Faktanya, justru investor memburu saham X dengan PER tinggi karena X memiliki prospek bagus. Dengan kata lain, ketika melihat PER, investor juga mempertimbangkan faktor peluang investasi yang dimiliki oleh emiten bersangkutan.

Harga 7 saham IPO rata-rata ditawarkan di bawah Rp 500. Hanya saham Metropolitan yang berani mematok angka Rp 2.100. Lebih lengkapnya harga perdana 7 saham IPO: Alfamart Rp 395; Trikomsel Rp 225; Batavia Rp 110; Inovisi Rp 125; Katarina Rp 160; dan Garda Rp 115. Di hari pertama perdagangan ada saham yang naik signifikan, sebaliknya ada pula yang tergerus. Saham Metropolitan naiknya paling gede. Dibuka dengan harga Rp 2.100, saham perusahaan ini lalu naik 30,95% menjadi Rp 2.750 di hari pertama perdagangan di BEI. Kemudian, saham Inovisi terkerek 16%, dan saham Batavia meningkat 10%. Sementara itu, saham Alfamart dan Trikomsel mengalami stagnasi di hari pertama perdagangan. Celakanya, ada dua saham yang terjungkal, yakni saham Katarina yang minus 3,13% dan Garda turun 8,70%.

Jeblok-tidaknya harga saham IPO di hari perdana listing mencerminkan kondisi fundamental perusahaan. Menurut Pardomuan, ketika indikator layak-tidaknya saham dibeli menunjukkan tren ciamik, bisa dipastikan pergerakan harga saham itu tidak mengecewakan. “Namun, berdasarkan penelitian investor juga bisa memanfaatkan ajang IPO untuk strategi investasi jangka pendek,” ucap Pardomuan. Alasannya, sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak terjadi euforia saham yang IPO. Istilahnya ada abnormal return di hari pertama. Biasanya kenaikan harga saham di hari pertama rata-rata 15%. Toh, ada juga yang minus dan naik hingga 40%.

Untuk time horizon investasi saham IPO bisa dilihat dari prospek perusahaan. Andaikan emiten tergolong growth company maka time horizon investasi bisa jangka menengah-panjang. Sebaliknya, jika perusahaan itu belum menunjukkan kinerja yang bagus, dapat digunakan strategi jangka pendek (short-term).

Pardomuan menambahkan, ada dua risiko yang harus diperhatikan investor: risiko fundamental dan risiko likuiditas. Bila fundamental rapuh, harga saham terancam mudah merosot. Adapun jika jumlah saham yang dilepas kecil, likuiditas kurang aktif dan berpotensi kuat “digoreng”. Maklum, kapitalisasi pasarnya relatif kecil. Sebagai gambaran, kapitalisasi pasar Katarina hanya Rp 118 miliar, Garda Rp 257 miliar, dan Trikomsel Rp 900 miliar. Hanya Metropolitan yang kapitalisasi pasarnya tembus di atas Rp 1 triliun, tepatnya Rp 2,64 triliun. Bandingkan dengan market capitalization Telkom Rp 175 triliun dan Astra International Rp 119 triliun.

Yang tak kalah penting, soal likuiditas. Likuid-tidaknya suatu saham tergantung seberapa besar jumlah saham yang dilepas. Mari kita simak gambaran likuiditas ke-7 saham tersebut. Alfamart menawarkan 10% (343,17 juta saham) dari 3,43 miliar saham yang dicatatkan di BEI. Lalu, Trikomsel melepas 10,11% (450 juta saham); Batavia 45% (450 juta saham); Inovisi 34,78% (320 juta saham); Garda 73,39% (1,83 miliar saham); Metropolitan 10,02% (95 juta saham); dan Katarina 25,93% (210 juta saham). Dari sisi likuditas, ke-7 saham IPO ini cenderung “seret”. Sebab jumlah saham yang dilepas rata-rata masih di bawah 50% dari total saham perusahaan. Hanya saham GTBO yang mencapai 73,39%.

Untuk prospek ke-7 saham IPO, baik Pardomuan maupun Ikhsan sepakat mengatakan, tergantung pada kinerja emitennya. Apakah manajemen emiten itu mampu membawa performa perusahaan lebih baik atau tidak. Ini akan ditopang oleh kondisi bursa kita yang termasuk emerging market, sehingga masih bisa tumbuh.

Akan tetapi, rata-rata manajemen emiten baru itu optimistis akan masa depan perusahaannya. Coba perhatikan penuturan manajemen Katarina. “Dalam waktu dekat, perusahaan kami akan menjadi perusahaan di Indonesia yang memiliki kapasitas solusi enjiniring mulai dari akuisisi, konstruksi menara telekomunikasi, dan instalasi base transceiver station (BTS), sehingga prospek bisnis kami lebih menjanjikan,” ujar Fazli Zainal Abidin, Presdir Katarina Utama. Toto Sosiawanto mengamini pendapat Fazli. “Kami yakin saham Katarina akan menarik bagi investor karena memiliki kredibilitas baik dan prospek bisnis bagus sebagai salah satu pemain bidang penyedia jasa enjiniring telekomunikasi,” kata VP Senior Investment Banking PT Optima Kharya Capital Securities, penjamin emisi Katarina.

Sayang, tidak semua pelaku bursa menyambut hangat kehadiran saham IPO. “Saya belum tertarik membeli 7 saham yang IPO tahun ini karena bukan BUMN yang menjadi target saya,” kata Rizka Baely, investor perorangan yang juga penasihat investasi. Dia sedang menunggu listing saham PLN, Pertamina, Garuda Indonesia dan BUMN lainnya yang lebih prospektif. Senada dengan Rizka, Fajar R. Hidayat pun belum melirik saham fresh di BEI. Alasannya, “Masih banyak saham lama yang harganya lebih menarik dibanding 7 saham IPO tahun 2009 ini,” kata Head of Asset Management Trimegah Securities yang mengelola dana nasabah Rp 3,5 triliun itu.

Riset: Dumaria Manurung

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s