1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

MEMINIMALISASI PENYESALAN … hmm … :d 24 Oktober 2009

Filed under: Investasi dan Risiko — bumi2009fans @ 1:58 pm

Jumat, 23/10/2009 09:25 WIB

Berinvestasi di atas paradigma

oleh : Budi Frensidy

Prinsip dasar investasi dalam semua aset, baik riil maupun finansial (saham dan obligasi) adalah sama untuk siapa, kapan, dan di mana saja. Pertama, kita selalu membandingkan antara nilai dan harga atau kita senantiasa berusaha untuk buy low and sell high. Yang dilakukan investor cerdas sesungguhnya juga mencari aset yang nilainya lebih besar daripada harganya. Nilai adalah worth dan harga adalah cost. Definisi lainnya, harga adalah sesuatu yang kita bayarkan sedangkan nilai adalah sesuatu yang kita peroleh.

Kedua, prinsip buy what you know and know what you buy. Jangan mau membeli sesuatu yang tidak Anda pahami. Ketiga, carilah aset yang turunan pertama dan keduanya positif. Tidak sulit mencari aset yang memenuhi turunan pertama positif karena aset yang harganya terus naik dari tahun ke tahun termasuk dalam kelompok ini. Aset yang pergerakan harganya Rp100 juta, Rp120 juta, Rp135 juta, Rp145 juta, dan seterusnya (turunan kedua negatif) atau Rp100 juta, Rp120 juta, Rp140 juta, Rp160 juta, dan seterusnya (turunan kedua nol) juga memenuhi syarat perlu di atas.

Yang tidak mudah adalah memburu aset yang harganya bertumbuh Rp100 juta, Rp120 juta, Rp145 juta, Rp175 juta, dan seterusnya. Aset yang terakhir inilah yang mempunyai turunan kedua juga positif (sufficient condition). Aset seperti ini tidak hanya membuat seorang investor menjadi richer, tetapi juga faster richer. Dari artikel saya Berhitung sederhana dalam investasi tahun lalu, Anda kini tentu tahu bedanya richer dan faster richer?

Selain tiga prinsip dasar di atas, Anda juga perlu memahami tiga paradigma investasi. Paradigma investasi ini akan menentukan alokasi aset yang cocok untuk Anda. Saya akan mulai dari paradigma investasi yang utama yaitu minimalisasi risiko atau yang juga sering disebut optimaisasi mean-variance.

Minimalisasi risiko

Investor dengan paradigma ini menginginkan return optimal pada tingkat risiko tertentu atau tingkat risiko minimum untuk return tertentu. Caranya adalah dengan diversifikasi yaitu tidak menaruh semua telur yang dimiliki dalam keranjang yang sama.

Paradigma ini sangat dianjurkan untuk manajer keuangan yang bertanggung jawab memutarkan kas menganggur perusahaan dan menjadi wajib untuk para manajer investasi reksa dana yang mengelola dana nasabahnya. Contohnya, seorang manajer investasi reksa dana saham tidak boleh menaruh lebih dari 10% dari total dananya dalam sebuah saham, betapa pun yakinnya dia akan prospek emiten itu.

Tak aneh jika diversifikasi hingga saat ini masih menjadi kaidah terpenting pembentukan portofolio. Investor umumnya percaya dan menerima ajaran ini. Banyak yang lupa kalau diversifikasi berangkat dari paradigma minimalisasi risiko dan menjadi tidak tepat jika seorang investor individu menggunakan paradigma lain.

Maksimalisasi return

Paradigma kedua adalah maksimalisasi return. Strategi investasi yang tepat untuk paradigma ini adalah fokus atau konsentrasi hanya dalam beberapa saham yang diyakini mempunyai potensi return tinggi. Alternatif ini dianjurkan untuk investor individual dan tidak dibahas dalam buku teks. Padahal banyak investor canggih seperti Robert Kiyosaki, William J. Oneil, mengaku telah menerapkan strategi ini.

Diversifikasi dalam pandangan kelompok ini mempunyai beberapa kelemahan. Bahwa hasil terbaik biasanya dicapai melalui konsentrasi yaitu dengan menaruh telur Anda hanya dalam beberapa keranjang yang Anda benar-benar pahami dan awasi dengan hati-hati.

“Bersediakah Anda pergi ke dokter gigi yang juga suka pekerjaan teknik atau pertukangan dan menulis musik serta merangkap tukang pipa dan perencana keuangan pada akhir pekan? The more you diversify, the less you know about any one area,” tulis Oneil dalam bukunya How to Make Money in Stocks: a Winning System in Good or Bad Times (2002).

Minimalisasi future regret

Terakhir, dengan berkembangnya behavioral finance, kita mengenal paradigma minimalisasi future regret atau penyesalan di masa depan. Paradigma ini mirip dengan rekomendasi alokasi aset berdasarkan expected utility dari pemenang nobel ekonomi William Sharpe dalam artikelnya pada 2007.

Inilah paradigma investasi yang diterapkan Harry Markowitz, penemu teori portofolio yang juga seorang pemenang nobel ekonomi. Banyak orang menduga Markowitz dengan segala kehebatannya akan berusaha untuk memanfaatkan tingginya return saham dengan menaruh seluruh dananya dalam ekuitas.

Kenyataannya, walaupun dia mengakui daya tarik return saham dibandingkan dengan aset lainnya dalam jangka panjang, dia hanya bersedia menempatkan separuh uangnya dalam aset berisiko ini. Separuhnya lagi dialokasikan dalam aset yang tidak atau kurang berisiko seperti obligasi pemerintah dan obligasi korporasi be-rating AAA.

Ketika ditanyakan alasannya, Markowitz hanya menjawab singkat kalau paradigma investasinya adalah minimalisasi penyesalan dan bukan maksimisasi return atau minimalisasi risiko. Dengan strategi berimbang ini Markowitz memastikan tidak akan mengalami penyesalan besar soal keputusan investasinya. Contoh lain tingkah laku dengan paradigma investasi ini adalah investor yang tidak bersedia menjual sebagian sahamnya untuk konsumsi, tetapi hanya bersedia membelanjakan dividen yang diterimanya.

Inilah paradigma dan strategi investasi yang juga saya rekomendasikan untuk Anda. Untuk bijak sebagai investor, jangan pernah tempatkan seluruh dana Anda dalam saham. Sisihkan 30% hingga 50% untuk ditaruh dalam ORI atau reksa dana pendapatan tetap atau aset riil lain. Dengan sepertiga hingga separuh portofolio Anda dalam sekuritas pendapatan tetap, Anda memastikan untuk tidak jatuh miskin atau turun kelas ke kelompok miskin atau menengah bawah. Selamat menjalankan panduan investasi Markowitz dan Sharpe.

bisnis.com

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s