1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

daripada maen saham, mendingan … 031109 3 November 2009

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 8:00 am

Pensiun dalam Damai
Selasa, 03 November 2009 | 07:42 WIB

TEMPO Interaktif, Jonathan Suryokusumo–sebut saja demikian–menikmati secangkir kopi hangat di halaman rumahnya nan rindang di kawasan Bogor, Jawa Barat. Pagi itu, pria 51 tahun ini sedang menunggu seorang tamu, mahasiswa tingkat akhir jurusan arsitektur kenalan putranya. “Saya mau bikin kos-kosan,” kata Jonathan.

Pria yang sehari-hari bekerja di salah satu perusahaan BUMN ini tengah bersiap menghadapi masa pensiunnya yang tinggal empat tahun lagi.

Mulanya Jonathan tak merasa perlu mempersiapkan masa pensiunnya. “Ketika rapat, saya menyadari ternyata anak-anak muda, karyawan di bawah saya lebih punya visi dalam menggerakkan perusahaan,” kata Jonathan.

Hal itu membuat Jonathan sedikit iri dan menyadari posisinya. “Saya mulai tua. Mungkin memang waktunya saya bersiap untuk pensiun,” katanya. Sejak itu Jonathan mulai bersiap diri. Dia berencana meneruskan hobi lamanya: berkebun. Sedangkan untuk mempersiapkan diri secara finansial, dia memilih membangun rumah kos.

Apa yang dilakukan Jonathan, menurut Psikiater Prof Dr Dadang Hawari S.Kj, adalah tindakan tepat. Pensiun memang harus dipersiapkan. Persiapan matang sebelum pensiun dapat memberikan kepuasan dan rasa percaya diri pada seseorang ketika menghadapinya. Agar pensiun bisa tenang dan nyaman.

Jika tidak, beragam masalah memungkinkan terjadi. Secara psikologis, misalnya, dapat mengalami post power syndrome. Ini gejala yang terjadi, ketika seseorang hidup dalam bayang-bayang kebesaran masa lalunya, hingga seolah tidak bisa memandang perubahan keadaan yang terjadi. Post power syndrome akan muncul bila seseorang tidak siap dengan perubahan rutinitas.

“Dahulu memegang kuasa, banyak pekerjaan, kegiatan, tiba-tiba tak ada. Ini akan menimbulkan perasaan tak berguna,” kata Dadang. Ini kerap kali terjadi pada orang yang pensiun atau orang yang tiba-tiba dipecat atau mengalami pemutusan hubungan kerja.

Pada kasus-kasus tertentu, ketika seseorang tidak mampu menerima perubahan yang ada, ditambah dengan tuntutan hidup yang terus mendesak, risiko terjadinya post power syndrome semakin besar, seperti depresi berat, introvert, dan psikosomatik.

Tak hanya psikologis, menurut guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini, post power syndrome juga berpengaruh terhadap kesehatan seseorang. Mulanya hanya depresi, marah-marah, dan menyalahkan orang lain. “Namun, kalau dibiarkan, lama-lama bisa menimbulkan gangguan kesehatan, seperti darah tinggi, jantung, dan sakit pernapasan,” kata Dadang.

Cara mengatasinya, menurut Dadang, adalah dengan mengalihkan rutinitas biasa ke rutinitas lain. “Misalkan seseorang yang dulunya manajer keuangan, bisa mencoba bisnis lain. Atau seorang guru membuka les atau kursus,” Dadang melanjutkan.

Terutama untuk mereka yang mendapat uang pensiun dalam jumlah tidak cukup besar, sebisa mungkin ada usaha menambah pemasukan atau mengurangi pengeluaran. Ini karena biaya kesehatan orang lanjut usia akan lebih besar.

Perencanaan pensiun juga tak bisa dilakukan secara mendadak. Harus ada persiapan lebih terencana. Andaikan ingin berbisnis, perhitungan tentunya harus matang. Kalau salah perhitungan, bukan hanya uang melayang, tapi juga masa pensiun bisa tambah tak menyenangkan.

Selain itu, persepsi seseorang tentang hidup dan dirinya mempengaruhi bagaimana dia menghadapi masa pensiun. Orang yang kurang percaya terhadap potensi diri dan kurang punya kompetensi sosial yang baik akan cenderung pesimistis dalam menghadapi masa pensiunnya karena merasa cemas dan ragu.

Sedangkan orang yang mempunyai status sosial tertentu sebagai hasil prestasi dan kerja keras selama dia bekerja akan lebih menghadapi masa pensiunnya dengan adaptasi yang baik dan percaya diri.

Yang jelas, pensiun bukan berarti akhir dari sebuah rutinitas. Ada banyak pilihan rutinitas menyenangkan baru yang bisa dilakukan.

Beda Pria dan Wanita Ketika Pensiun

1. Wanita yang baru pensiun cenderung mengalami depresi lebih tinggi dibandingkan dengan wanita yang sudah lama pensiun atau bahkan yang masih bekerja, terutama jika sang suami masih bekerja.

2. Pria yang baru pensiun cenderung lebih banyak mengalami konflik perkawinan dibandingkan dengan yang belum pensiun.

3. Pria yang baru pensiun namun istrinya masih bekerja cenderung mengalami konflik perkawinan lebih tinggi dibandingkan dengan pria yang sama-sama baru pensiun namun istrinya tidak bekerja.

4. Pria yang pensiun lalu kembali bekerja, dan mempunyai istri yang tidak bekerja, keduanya memiliki semangat lebih tinggi dibandingkan dengan pasangan yang keduanya sama-sama tidak bekerja

5. Pria yang sudah berusia setengah abad cenderung memiliki kepuasan hidup lebih tinggi jika istrinya menjalankan peran sebagai ibu rumah tangga.

AMANDRA MM | PENELITIAN JUNGMEEN E. KIM, PhD & PHYLLIS MOEN PhD dari CORNELL UNIVERSITY

Iklan
 

2 Responses to “daripada maen saham, mendingan … 031109”

  1. wahyu am Says:

    nice post gan 😆

    • bumi2009fans Says:

      prinsip diversifikasi di investasi AMAT PENTING secara teoritis dan PENGALAMAN gw … karena switching antar investasi akan MEMPERBESAR GAIN dan MENGURANGI RISIKO RUGI … siapa pun harus pensiun, baik itu dini atawa lambat … saat VONIS itu dijatuhkan oleh pengadilan abadi, maka SIAP atawa tidak siap, ada SATU kenyataan pahit, PENGHASILAN TETAP HILANG …


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s