1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

lupakan CICAK, baca SEJENAK … 041109 4 November 2009

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 8:03 am

Rabu, 04 November 2009 | 10:28

PEMBUKAAN AWAL SESI

Dua Pemimpin KPK Keluar dari Tahanan, IHSG Kembali Menawan

JAKARTA. Pasar menyambut baik keputusan pihak Kepolisian Republik Indonesia (Polri) untuk mengeluarkan dua pemimpin nonaktif Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Chandra M.Hamzah dan Bibit Samad Rianto dari tahanan Bareskrim Mabes Polri, hari ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI) pun langsung bereaksi. Pada pembukaan awal sesi, IHSG kembali berada di zona hijau, setelah pada pembukaan di hari sebelumnya IHSG terjerembap di zona merah.

Pagi ini IHSG bertengger di posisi 2346.78, menguat 12.67 poin atau naik 0,54%. Berototnya IHSG di pagi ini, juga dipicu oleh menguatnya sebagian besar bursa saham di Asia yang didorong oleh membaiknya kinerja para emiten di sektor pertambangan.

Namun begitu, perdagangan saham di bursa efek Indonesia (BEI) pagi ini belum terlihat ramai. Pada pembukaan awal sesi ini, total volume saham yang diperdagangkan hanya sekitar 772,49 juta dengan nilai transaksi cuma sebesar Rp 576,54 miliar.

Pun demikian, dari sekitar 146 saham yang ditransaksikan pada awal sesi, sebanyak 98 saham mengalami penguatan. Tercatat hanya 19 saham yang mengalami penurunan. Sementara 39 saham lainnya tidak mengalami perubahan.

Lima emiten yang mengalami kenaikan terbesar di penutupan sesi pertama hari ini adalah PT Alfa Retailindo Tbk (ALFA) yang menguat Rp 500 menjadi Rp 3200, PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) naik Rp 400 menjadi Rp 22.600, PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) naik Rp 325 menjadi Rp 4100, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) naik Rp 200 menjadi Rp 11.300, dan PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) naik Rp 125 menjadi Rp 2300.

Sementara lima emiten yang mengalami penurunan terbesar adalah PT Gudang Garam Tbk (GGRM) yang turun Rp 550 menjadi Rp 15.000, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) turun Rp 150 menjadi Rp 6850, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) turun Rp 100 menjadi Rp 30.150, dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) turun Rp 50 menjadi 10.250.

Dikky Setiawan

http://sahambbri.wordpress.com/2009/11/04/ekspektasi-pulih-makin-sahih-obligasi-anti-inflasi-041109/
… posting terbaru gw dari sumber sahih mungkin akan menolong investor meneropong 2010
BI RATE TETAP DIPERTAHANKAN, 2009, Inflasi di Bawah Target
03/11/2009 23:53:48 WIB
Oleh Raja Hendrik Napitupulu

JAKARTA, INVESTOR DAILY
Tingkat inflasi sepanjang 2009 diperkirakan berada di bawah 4% atau lebih rendah dari target pemerintah sebesar 4,5%. Sebab, laju inflasi tahun kalender (Januari-Oktober) baru mencapai 2,48%. Namun, tingkat inflasi pada 2010 diprediksi bisa lebih tinggi seiring adanya tanda-tnada pemulihan ekonomi global, termasuk di Indonesia. Pemerintah diminta perlu mewaspadai lonjakan inflasi tahun depan.

Hal itu diungkapkan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan, ekonom CIMB Niaga Winang Budoyo, Guru Besar FEUI Bambang Brodjonegoro, dan ekonom Standard Chartered Bank (SCB) Eric Alexander Sugandi secara terpisah kepada Investor Daily di Jakarta, Senin (2/11).

BPS kemarin mengumumkan inflasi Oktober 2009 mencapai 0,19% (month-on-month/mom) dan 2,57% untuk year-on-year (yoy). Komponen inti pada Oktober mengalami inflasi 0,2% dan inflasi komponen inti tahun kalender 3,67%. Laju inflasi komponen inti Oktober 2009 terhadap Oktober 2008 atau year-on-year (yoy) mencapai 4,52%. Hal tersebut membuka peluang penurunan inflasi sepanjang tahun ini atau mencatat rekor terbaru sejarah inflasi Indonesia yang berada di bawah 4%.

”Daya beli masyarakat tidak berkurang, sehingga inflasi sampai akhir tahun menjadi babak baru, yakni di bawah 4%. Ini merupakan inflasi terendah sejak Indonesia berdiri,” kata Rusman.

Dia yakin, inflasi 2009 berpotensi berada di bawah target pemerintah sebesar 4,5%. Apalagi, kata dia, dalam waktu dekat pemerintah tidak mungkin melakukan sejumlah kebijakan yang dapat mendongkrak inflasi hingga melebihi target. Faktor-faktor yang bisa mendorong laju inflasi adalah kenaikan harga bahan bakar monyik (BBM) dan tarif dasar listrik (TDL). “Tapi, kenaikan BBM dan TDL tidak mungkin terjadi dalam dua bulan mendatang. Saya tidak tahu, kalau hal itu akan dilaksanakan tahun depan,” tandas Rusman.

Dia mengakui, kebijakan menaikkan harga BBM dan TDL akan memicu lonjakan inflasi di atas 4,5%. Oleh karena itu, pemerintah bakal terus menjaga target inflasi.

Terkait kenaikan harga elpiji ukuran 12 kilogram (kg), Rusman menyatakan, meski harganya dinaikkan sekitar Rp 100/kg, dampaknya tidak begitu signifikan terhadap tekanan inflasi. Sebaliknya, harga cabe rawit yang dianggap tidak terlalu penting justru seringkali bisa berdampak besar terhadap kenaikan inflasi. Pasalnya, cabe rawit dan cabe merah merupakan kebutuhan pokok masyarakat.

BPS juga mencatat, dengan inflasi Oktober 0,19%, Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 116,68. Dari 66 kota yang disurvei, 45 kota mengalami inflasi dan 21 kota deflasi. Inflasi tertinggi terdapat di Padang 1,78% pascagempa akhir September lalu.

Inflasi dipicu oleh kenaikan harga pada beberapa kelompok. Pertama, kelompok bahan makanan tercatat 0,28% dan makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0,70%. Kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar mencapai 0,24%, serta kelompok sandang 0,37%. Adapun kelompok kesehatan tercatat0,20%, pendidikan, rekreasi, dan olahraga 0,34%. Sebaliknya, kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan justru mencatat deflasi 0,71%.

Pendapat senada diungkapkan Winang Budoyo dan Eric Alexander Sugandi. Keduanya memperkirakan, inflasi keseluruhan pada 2009 bisa berada di bawah 4%. “Perkiraan inflasi keseluruhan tahun ini berkisar 4%, bahkan bisa lebih rendah lagi kalau melihat downside risk-nya. Namun, hal itu sangat tergantung pada inflasi November dan Desember mendatang,” kata Eric.

Bambang Brodjonegoro juga optimistis, inflasi keseluruhan 2009 bisa menyentuh di bawah 5%, karena inflasi November dan Desember diduga tidak begitu besar.

Pendapat berbeda diungkapkan ekonom senior BNI Ryan Kiryanto. Dia menyatakan, inflasi keseluruhan tahun 2009 berpotensi berkisar 4,2-4,4% atau tetap di bawah target inflasi pemerintah. Karena itu, kata dia, pemerintah harus mengupayakan penyediaan pasokan barang konsumsi masyarakat guna menjaga inflasi hingga akhir 2009 tetap berada dalam target. Terlebih, perekonomian global, termasuk Indonesia, tahun 2010 mulai menunjukkan adanya tanda pemulihan.

BI Rate Ditahan

Sementara itu, Eric memperkirakan, Bank Indonesia (BI) kemungkinan besar tetap mempertahankan suku bunga acuan (BI rate) pada level 6,5% sampai akhir tahun. BI rate tidak akan dipangkas, karena hal itu dianggap tidak efektif dalam mempercepat pertumbuhan kredit perbankan.

Selain itu, bank sentral akan mengantisipasi tekanan inflasi akhir tahun. ”BI rate tidak akan dinaikkan, karena inflasi masih dapat dikendalikan. BI rate saat ini tidak membahayakan nilai rupiah,” tandas Eric.

Winang menilai, BI kemungkinan akan menahan BI rate pada level 6,5%, mengingat tekanan inflasi yang lebih tinggi tahun depan.

Terkait BI rate, Ryan berpendapat, BI tetap mempertahakan pada level 6,5% sebagai terendah atau paling dasar. Sebab, bank sentral sulit menurunkannya, karena ekspektasi inflasi meningkat tahun 2010. Hal tersebut didorong pertumbuhan ekonomi global, sehingga turut mendongkrak kenaikan konsumsi masyarakat.

“Dengan mempertahankan BI rate seperti saat ini, kebijakan itu akan memberikan sentimen positif terhadap rupiah di tengah penguatan dolar AS seiring pertumbuhan ekonomi AS sebesar 3,5% pada triwulan III-2009,” ujar dia.

Dia memprediksi, hingga akhir 2009, Bank Indonesia tetap mempertahanakn BI rate pada level 6,5%, menyusul perkiraan inflasi tahunan sekitar 4,2-4,4%.

Sebelumnya, Chief Economist Bank Negara Indonesia A Tony Prasetiantono menyatakan, kenaikan inflasi pada 2010 bisa dianggap sebagai ancaman dan sekaligus pemulihan ekonomi. Tony menjelaskan, perekonomian bergairah seringkali diekspresikan dengan peningkatan konsumsi, sehingga menyebabkan kenaikan harga (inflasi). “Kondisi seperti bakal terjadi di Indonesia tahun depan,” tutur dia.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pernah mengatakan, meskipun ekonomi dunia tahun depan diprediksi lebih stabil, tidak berarti risiko atas perekonomian Indonesia dan APBN 2010 menurun. Beberapa faktor eksternal harus diwaspadai pemerintah, antara lain ancaman inflasi dunia untuk jangka menengah.

Menurut dia, melonjaknya ekspansi fiskal dan moneter yang dilakukan di hampir seluruh negara dunia guna memerangi krisis finansial global bakal menyebabkan peningkatan likuiditas di pasar. Kondisi ini berpotensi menimbulkan ancaman inflasi dunia tahun depan.

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s