1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

fastens your seatbelt … for more : 281109 28 November 2009

Filed under: Investasi dan Risiko — bumi2009fans @ 7:39 am

Gagal Bayar Dubai Wold Menerjang hingga Bursa Efek Indonesia
Jumat, 27 2009 23:07 WIB
JAKARTA–MI: Gagal bayarnya Dubai World atas sebagian obligasinya yang jatuh tempo akan berimbas buruk pada Bursa Efek Indonesia. Hal itu diungkapkan pengamat pasar modal Felix Sindhunata, Jumat (27/11).

“Pengaruh ke market kita bisa sangat terjadi,” ungkap Felix. Menurutnya pelemahan kondisi pasar modal Indonesia dapat terlihat, Senin (30/11) mendatang, setelah pasar dibuka kembali.

Perkiraan kondisi bursa Indonesia yang memburuk disebabkan karena pelemahan-pelemahan yang terjadi di bursa Asia. “Kita lihat saja di Asia sudah melemah,” ujar Felix.

Namun dampak buruk yang berimbas pada pasar modal Indonesia, tidak akan berimbas pada kondisi ekonomi secara keseluruhan. “Saya kira kalau di ekonomi nggak,” pungkas Felix. (*/OL-03)
28/11/2009 – 09:00
Analis: Dubai World Berimbas ke Bursa Indonesia
Agustina Melani

(inilah.com /Dokumen)
INILAH.COM, Jakarta – Dubai World yang mengalami kesulitan pembayaran utang obligasi senilai US$60 miliar memberikan kesadaran kepada investor bahwa pasar masih berisiko.

Hal itu disampaikan Analis Reliance Securities, Andrew Siahaan saat dihubungi INILAH.COM, Jumat (27/11). “Kondisi perekonomian global memang sudah pulih namun masih risk recovery,” ujar Andrew.

Ia menambahkan, kasus Dubai World akan berimbas pada bursa saham Indonesia. Kasus Dubai World akan memicu investor untuk mencari investasi yang lebih aman selain di emerging market, seperti mata uang Yen, mata uang dolar AS dan obligasi pemerintah. Namun, dampak kasus Dubai World terhadap perekonomian tidak akan terlalu besar.

“Bursa saham Indonesia kemungkinan akan terkoreksi. Tetapi kasus Dubai World membuat kita melihat resiko pasar masih cukup tinggi,” tutur Andrew.

Andrew mengatakan, selama ini indeks saham menandakan fundamental di Asia lebih karena hot money yaitu investor mencari investasi imbal hasil tinggi dari yang memiliki rate rendah ke memiliki rate tinggi.

Hal senada diungkapkan Kepala Riset PT Financorpindo Nusa, Edwin Sebayang. Edwin mengatakan, kasus Dubai World memang memberikan dampak ke bursa saham.

Diprediksikan Dubai World akan memberikan sentimen negatif terhadap bursa saham Indonesia. Tetapi sentimen negatif tersebut tidak akan berlangsung lama. “Bursa saham Eropa sudah turun cukup parah, bursa saham global akan kena imbas termasuk Indonesia karena penundaan utang Dubai World,” ujar Edwin.

Ia menambahkan, kondisi perekonomian memang sudah pulih tetapi belum pulih benar sehingga pelaku pasar tetap waspada. “Kita sudah melewati masa terparah, kasus tersebut akibat krisis global yang timbul,” kata Edwin.

Seperti diketahui, Dubai World mengumumkan akan menunda pembayaran utang sebesar US$60 miliar hingga Mei 2010. Hal ini membuat bursa saham Asia melemah. [cms]

27/11/2009 – 21:00
Penutupan Bursa Asia
Dubai Seret Turun Bursa Regional
Asteria

INILAH.COM, Jakarta – Bursa Asia melemah, menyeret indeks MSCI Asia Pacific dalam penurunan terbesar dalam 8 bulan. Hal ini dipicu kekhawatiran membludaknya kerugian seiring upaya Dubai World menjadwal ulang utang lebih dari US$ 59 miliar utang.

Pada Jumat (27/11), indeks Asia Pacific jatuh 3.2% ke 113.78. Ini penurunan terbesar sejak 30 Maret, menyusul jatuhnya indeks MSCI dunia 1.4%. Namun, indikator ini naik 61% dari level terendahnya 5 tahun terakhir pada 9 Maret.

Kabar tentang Dubai World, perusahaan investasi emirat, mengguncang pasar. Dubai World diberitakan menunda pembayaran utang dan memperpanjang jatuh tempo hingga 30 Mei 2010 untuk menunda pembayaran utang lebih dari US$ 59 miliar.

Dubai, yang meminjam US$80 miliar dalam ledakan konstruksi empat tahun yang bertujuan mengubah perekonomian menjadi pariwisata daerah dan pusat keuangan, terimbas kejatuhan properti dunia seiring resesi global. Harga rumah anjlok 50% dari titik tertingginya pada 2008, menurut bank Deutsche AG. Ini mengindikasikan belanja pemerintah tidak cukup melindungi pasar finansial.

“Terlalu awal mengatakan hal ini akan menjadi titik balik di pasar, namun ini akan mengingatkan bahwa dislokasi tetap berada dalam sistem keuangan global,” ujar Tim Schroeders, di Pengana Capital Ltd., Melbourne. “investor perlu tetap waspada terhadap risiko.”

Perusahaan finansial menjadi motor penggerak indeks MSCI Asia Pacific hari ini. HSBC, bank terbesar Eropa, terguling 7.6% ke level HK$87. Standard Chartered, yang laba terbesarnya diperoleh dari negara berkembang, tenggelam 8.6% menjadi HK$185.50, setelah peringkatnya diturunkan CLSA menjadi “underperform” dari sebelumnya “buy”.

“Kenaikan modal tidak bisa ditentukan sejumlah bank karena masalah ini, kecuali Standard Chartered,” ujar analis CLSA Daniel Tabbush dan Suangsuda Pananiti dalam risetnya. Sedangkan analis Goldman Sachs Group Inc. memperkirakan, potensi kerugian kredit di HSBC akan mencapai US$611 juta, dan US$177 juta untuk Standard Chartered.

Pasalnya, HSBC menambah $ 15.9 miliar pinjaman kepada Uni Emirat Arab, lebih dari seperempat dari ekspektasi pendapatan 2010. Sedangkan pinjaman Standard Chartered ke UEA totalnya US$ 12.3 miliar, yang mewakili 22,4% dari perkiraan laba bersih 2010. Bank komersil Abu Dhabi PJSC, penyedia dana ketiga terbesar di Uni emirat Arab, kemungkinan meminjamkan dana US$1.9 miliar kepada Dubai World.

Pemerintah telah menurunkan biaya pinjaman dan memperkenalkan paket pembelanjaan untuk menenangkan pasar finansial dan memulihkan perekonomian global, pasca dilanda krisis finansial terburuk setelah Great Depression. Penurunan nilai dan kerugian dari krisis naik lebih dari US$1.7 triliun sejak 2007.

Kondisi ini pun menjadi efek domino bagi perbankan lain. Grup perbankan Australia dan New Zealand, misalnya, jatuh 3.6% ke A$21.19 setelah mengumumkan tidak terpapar masalah Dubai World. Sedangkan Westpac Banking Corp., yang berharap tidak ada kerugian material, turun 3.8% menjadi A$23.13.

“Pasar khawatir efek domino dari Dubai,” ujar Nader Naeimi, strategis di AMP Capital Investors yang berbasis di Sydney. “Hal ini membawa ingatan buruk dari krisis finansial global. Pasar berupaya bangkit cukup lama, sehingga berita buruk seputar kegagalan pembayaran dan masalah finansial, menjadi sangat sensitif.”

Saham Leighton Holdings Ltd., perusahaan konstruksi terbesar Australia, jatuh 4% menjadi A$34.77. Perseroan meyakini, dapat menutup kerugian pinjaman Dubai dari kepemilikan 45% saham di Al Habtoor Engineering.

Sentimen Dubai World ini beredar meluas di pasar dan menyebabkan bursa saham dunia, terutama Asia pasifik, anjlok terparah. Indeks S&P/ASX 200 di Australia turun 2.9%. Indeks Shanghai turun 74,72 poin (2,4%) ke 3.096,27 dan sepekan indeks turun 6,4%. “Meskipun insiden Dubai tidak berimbas praktis pada rekonomi China, saham utama berada di kondisi terlemah. Jadi, kebingungan investor tetap sama,” kata analis Capital Securities, Amy Lin.

Sedangkan indeks Hang Seng anjlok 1.075,91 poin (4,8%) ke 21.134,50, penurunan terbesar sejak 27 Oktober 2008. Hang Seng sepekan ini turun 6%.

DBS Vickers Securities mengatakan, dampak Dubai pada perbankan Hong Kong terbatas, karena kebanyakan sudah turun terbesar pada 2008, saat krisis finansial terjadi.

Demikian juga indeks Nikkei turun 301.72 poin (3.2%) ke 9081.52. Di Osaka Securities Exchange, indeks Nikkei 225 futures Desember turun 320 poin (3.4%) ke 9.070. “Setelah bursa saham eropa turun atas kekhawatiran krisis hutang Dubai, aksi jual juga terjadi akibat kecemasan bahwa Wall Street akan menghadapi satu tekanan aksi jual serupa”, ujar Yumi Nishimura, analis pasar dari Daiwa Securities SMBC.

Indeks Kospi jatuh 4,7% ke 1.524,50, terendah sejak 29 Juli atas kekhawatiran masalah Dubai. “Ukuran eksposur bank lokal dan perusahaan konstruksi atas Dubai World kecil, tetapi orang lebih khawatir ukuran exposure perusahaan finansial Eropa atas hutang Dubai,” kata Choi Seong-lak, analis di SK Securities. [mdr]
Jumat, 27/11/2009 20:21 WIB
Dubai: Penundaan Pembayaran Utang Direncanakan Matang
Nurul Qomariyah – detikFinance

Dubai – Dubai mengaku telah merencanakan dengan hati-hati terkait permintaannya kepada kreditur Dubai World untuk menunda pembayaran surat utang yang jatuh tempo. Lembaga pemeringkat Standard and Poor’s mengartikan permintaan penundaan pembayaran utang itu sebagai gagal bayar atau default.

Ketua Mahkamah Komite Fiskal Dubai, Sheikh Ahmed bin Saeed al-Maktoum mengatakan, pemerintah juga telah memperhitungkan dampak penundaan pembayaran utang tersebut ke pasar finansial.

“Intervensi atas Dubai World direncanakan dengan matang dan merefleksikan posisi finansialnya secara khusus. Informasi lebih lanjut akan dibuat pada awal pekan depan,” ujarnya seperti dikutip dari AFP, Jumat (27/11/2009).

“Pemerintah mengawali restrukturisasi dari operasi komersial ini dengan pengetahuan penuh tentang bagaimana pasar akan bereaksi. Kami mengerti kekhawatiran pasar dan kreditur secara khusus. Namun kami harus mengintervensi karena kebutuhan untuk mengambil keputusan ini terutama terkait beban utang,” tambahnya.

Dubai kini sebelumnya dilanda booming properti. Namun negara teluk itu juga tak luput dari krisis global. Sheikh Ahmed bersikukuh bahwa pertumbuhan yang luar biasa di Dubai dan hampir seluruh wilayan di Uni Emirat Arab dalam 1 dekade terakhir telah membarikan pondasi untuk perekonomian yang berkesinambungan di luar sumber daya alam.

“Seperti negara-negara lain di dunia, Dubai memiliki pengalaman untuk menghadapi tantangan ekonomi dan sosial di tengah krisis global. Tidak ada pasar yang imun dari isu ekonomi. Ini adalah keputusan bisnis yang wajar,” ujarnya.

Seperti diketahui, Pemerintah Dubai secara mengejutkan mengumumkan kondisi gagal bayar atas sebagian obligasi perusahaan terkemuka di negara tersebut, Dubai World yang jatuh tempo. Dubai World tercatat memiliki kewajiban hingga US$ 59 miliar, atau menguasai sebagian besar dari total utang Dubai yang mencapai US$ 80 miliar.

Nakheel, anak usaha Dubai World tercatat memiliki obligasi syariah US$ 3,5 miliar yang jatuh tempo pada 14 Desember dan utang lain senilai US$ 980 juta yang jatuh tempo 13 Mei 2010. Nakheel yang merupakan pengembang properti terkemuka itu sempat menjadi raja ketika terjadi booming konstruksi.

Limitless, pengembang yang juga anak usaha Dubai World lainnya tercatat memiliki utang obligasi syariah senilai US$ 1,2 miliar yang jatuh tempo pada 31 Maret 2010.

Keputusan itu telah menimbulkan guncangan di pasar finansial berbagai belahan dunia. Bursa Eropa dan Asia hari ini harus kocar-kacir karena investor khawatir gagal bayar Dubai World akan berimbas ke berbagai belahan dunia.

Gagal bayar utang obligasi tersebut kini menyeret sejumlah bank. Sejumlah nama bank-bank besar dari Jepang dikabarkan memiliki eksposure atas surat utang Dubai World tersebut.

Mitsubishi UFJ Financial dan Sumitomo Mitsui dikabarkan menjadi anggota konsorsium 11 investor yang memberikan pinjaman ke Dubai World.

(qom/qom)
Sabtu, 28/11/2009 09:04 WIB
Gagal Bayar Dubai World Juga Guncang Wall Street
Nurul Qomariyah – detikFinance

Foto: Reuters New York – Gagal bayar Dubai World turut mengguncang Bursa Wall Street. Sempat ‘selamat’ karena libur Thanksgiving, Wall Street akhirnya merosot tajam karena investor khawatir akan efek domino gagal bayar Dubai World.

Pada perdagangan Jumat (27/11/2009), indeks Dow Jones ditutup merosot 154,48 poin (1,48%) ke level 10.309,92. Indeks Standard & Poor’s 500 juga melemah 1,72% ke level 1.091,49 dan Nasdaq melemah 1,73% ke level 2.138,44.

Namun angka penutupan perdagangan itu lebih baik karena indeks Dow Jones sempat merosot hingga 200 poin pada awal perdagangan. Perdagangan juga berjalan sangat tipis karena sebagian investor memilih libur di hari kejepit tersebut. Sementara bursa Wall Street juga tutup lebih cepat pada pukul 13.00 waktu setempat.

Sementara kondisi bursa-bursa Eropa sudah membaik setelah mengalami kemerosotan usai Dubai World mengumumkan permintaan penundaan pembayaran utang. Indeks DAX Frankfurt naik 1,27%, CAC 40 Paris naik 1,15%, FTSE 100 London naik 0,99%.

“Permintaan Dubai pada Rabu lalu untuk menunda pembayaran utang telah mengguncang pasar di seluruh dunia dan meningkatkan kekhawatiran bahwa masalah gagal bayar masih akan menghambat pemulihan ekonomi global,” ujar Scott Marcouiller dari Wells Fargo Advisors seperti dikutip dari AFP, Sabtu (28/11/2009).

Gagal bayar Dubai World itu juga membuat investor berbondong-bondong memburu dolar AS yang dianggap sebagai tempat yang aman untuk investasi.

Euro melemah ke 1,4959 dolar, dibandingkan sebelumnya di 1,5019 dolar. Sementara dolar AS juga menguat atas yen ke 86,72 yen, dibandingkan sebelumnya di 86,59 yen. Pada perdagangan di Asia, dolar AS sempat merosot ke 84,82 yen, terendah sejak Juli 1995.

“Kekhawatiran yang merebak adalah bahwa (kegagalan bayar) ini akan berubah menjadi gaya gagal bayar Argentina atau mengulangi volatilitas pada kuartal IV-2008 ketika bangkrutnya Lehman Brothers menghempaskan pasar finansial global,” ujar Kathy Lien, analis dari Global Futures and Forex.

(qom/qom)

Armada Baru Garuda tidak Dibiayai DAE Capital
28 2009 03:17 WIB
JAKARTA-MI: PT Garuda Indonesia tidak akan melanjutkan kerja sama dengan Dubai Aerspace Enterprices (DAE) Capital untuk membiayai pembelian armada barunya.

“Kalau yang delapan (Boeing 737-800) dulu dari DAE. Kalau sekarang bukan dari DAE,” ungkap Vice President Corporate Communication PT Garuda Indonesia Pujobroto kepada Media Indonesia, Jumat (27/11).

Sebelumnya Direktur Utama PT Garuda Indonesia Emirsyah Satar menyatakan masih membuka lebar peluang bagi DAE Capital untuk membiayai pembelian armada barunya. Namun, dia tidak memungkiri tengah bernegoisasi dengan banyak leasor. Tapi akhirnya kerja sama dengan DAE Capital itu tidak dilanjutkan.

Garuda sebelumnya telah menyepakati pendanaan delapan pesawat Boeing 737-800 dengan nilai total sebesar US$360 juta dengan DAE Capital. Dana yang dikucurkan oleh DAE setara dengan Rp4,3 triliun pada kurs Rp 12.000 per dolar AS untuk membiayai delapan pesawat yang setiap unitnya dibandrol seharga US$45 juta atau sekitar Rp 540 miliar. Untuk pembiayaannya sendiri akan dilakukan selama 10 tahun.

Namun, ternyata kerja sama itu tidak berlanjut pada pembelian 23 pesawat yang akan didatangkan pada tahun 2010. Meski belum menyebutkan nama pasti dari leasor yang akan membiayai pembelian pesawat baru itu, Pujo sudah memastikan DAE Capital tidak lagi membiayai pembelian armada baru. “Nanti saya cek dulu yah (nama leasor yang baru),” ujar dia.

Garuda Indonesia tengah menanti kedatangan 23 pesawat baru pada tahun 2010, yang terdiri dari 22 Boeing 737-800 dan satu Airbus A330-200. Artinya, setiap bulan, maskapai itu akan menerima dua unit. Armada baru itu melengkapi sembilan armada baru yang terdiri dari lima Boeing 737-800 dan empat Airbus A330-200 yang didatangkan pada tahun 2009.

Armada baru itu digunakan untuk penambahan 18 rute domestik dan internasional pada tahun 2009. Sedangkan armada yang datang pada tahun 2010 akan digunakan untuk peningkatan frekuesi penerbangan ke berbagai tujuan plus penambahan 10 rute baru. “Di antaranya rute ke Amsterdam dan Brisbane,” ujar dia.

Sementara pada tahun 2011, 10 pesawat jenis Boeing 777-300ER yang akan didatangkan bertahap itu akan digunakan untuk rute penerbangan ke Eropa secara langsung dari Jakarta. “Pesawat itu akan digunakan secara nonstop ke Eropa karena mampu terbang 15 jam nonstop,” ucapnya.

Rute Jakarta-Amsterdam secara resmi akan dibuka 1 Juni 2010. Namun, untuk rute itu diterbangkan dengan terlebih dahulu transit di Dubai menggunakan Airbus A330-200. “Tahun depan kita transit dulu di Dubai, nanti 2011 baru kita direct flight ke Amsterdam,” katanya.

Selain terbang ke Amsterdam, maskapai itu juga akan menambah rute internasional ke Frankfurt, London, Paris, dan Roma. (*/OL-7)
Dubai debt crisis fuels fears as market loses $35bn
Scott Murdoch and Turi Condon From: The Australian November 28, 2009 12:00AM

A FRESH wave of fear swept through global financial markets yesterday as the Dubai debt crisis triggered a $35 billion sell-off of Australian shares and sent the dollar plunging more than US2c.

The sentiment towards equities was expected to worsen overnight, as the early futures market estimated Wall Street would plunge by up to 245 points in one of the worst sessions for six months.

As world markets appeared to be over the worst of the global financial crisis, the revelation that Dubai World, the government investment conglomerate, had requested a standstill on its $US60bn of debt until next year, provided a stark reality check by raising fears of the emergence of a damaging new phase.

Bank stocks were hammered around the globe, starting in Europe on Thursday night and extending into Australia and Asia yesterday as traders feared a new round of loan losses.

The concerns centre on the risk of Dubai, as a sovereign state, defaulting on its debt and triggering a second credit crunch two years after the first sub-prime saga emerged.

RELATED COVERAGE
US stocks dive on Dubai woes
The Australian, 11 hours ago
Banks coy on loans
Herald Sun, 14 hours ago
Dubai jitters wipe out $38b
Courier Mail, 14 hours ago
Stocks tumble on Dubai debt fear
The Australian, 14 hours ago
Debt, not terrorism, concern with P&O purchase
The Australian, 14 hours ago

In a key indication of fear, the credit default swaps on Middle Eastern debt immediately blew out, which analysts said showed global investors were worried about contagion.

The major Australian banks declared no material exposure or potential losses on loans linked to Dubai assets.

However, this failed to calm investors as the S&P/ASX200 slumped 136.5 points (2.9 per cent) to 4572.1, the worst one-day sell-off in five months, while the broader All Ordinaries index dropped 130.4 points to 4597.2.

Asia fared worse, with Hong Kong’s Hang Seng index plunging almost 5 per cent, or 1075 points, and Japan’s Nikkei closing 3.2 per cent lower. “It’s more about the potential fallout that could come,” RBS head of sales trading Justin Gallagher said.

“There is nervousness that it could break down further.

“It’s not about the ($US60bn) number. That is not the issue. The issue itself is the impact that this will have on global lending.”

The Australian dollar was caught in the crossfire as investors shifted into the ailing US greenback, which analysts said was a “flight-to-quality” strategy.

The currency was trading at US90.18c last night, down from its close of US92.20c on Thursday.

The major victims of the sell-off in Australia yesterday were the top four retail banks and Macquarie Group, which lost a combined $18.5bn in market capitalisation as stocks were dumped.

Macquarie slumped 5 per cent, or $2.41 to $45.34, while CBA was the hardest hit of the retail banks, plunging $1.78 to $50.60.

NAB was off $1.12 to $27.01, ANZ fell 79c to $21.19 and Westpac was down 92c to $23.14.

They are all understood to be involved in Dubai, as part of a syndicate of global banks.

Westpac said “no material loss was expected” while the nation’s largest bank, the CBA, refused to comment.

However, it is believed its Dubai exposures are similar to its rivals. ANZ opened a branch in Dubai more than a year ago while Macquarie is understood to have up to $100 million invested in Gulf Finance, which is headed by former National Australia Bank executive Ahmed Fahour.

“Macquarie Group advises that it has negligible exposure to Dubai World and to other Dubai-based organisations,” a Macquarie spokesman said.

But the chance of a firesale of Australian ports held by DPWorld, part of Dubai World, is lessening as the subsidiary and its debt are not included in the current negotiations with Dubai World’s bondholders.

The market also focused on property as a handful of Australian builders and developers, including contractors Leighton Holdings, Grocon, Brookfield Multiplex and Queenland-based developer Sunland Group, are active asset owners and developers in Dubai.

Leighton said it was confident of recovering money owed to it on Dubai projects, but the timing was uncertain.

Leighton shares slumped $1.45 to $34.77.

At June 30, Brookfield Multiplex had seven building projects in Dubai with a contract value of $1.95bn.

Melbourne-based builder Grocon has seven projects in Dubai and Abu Dhabi.
Jumat, 27 November 2009 | 22:39

KRISIS UTANG DUBAI

Menara Gading Dubai Itu Goyah

JAKARTA. Dubai mengguncang dunia. Pemerintah keemiratan terbesar kedua di Uni Emirat Arab (UEA) itu, Kamis (26/11) dinihari WIB, mengajukan permohonan penundaan pembayaran untuk seluruh utang Dubai World dan afiliasinya.

Dubai World, semacam BUMN milik keemiratan Dubai itu, memang memiliki tumpukan utang hingga US$ 59 miliar. Rontoknya pasar properti di kawasan Timur Tengah akibat krisis global, menjadi alasan Dubai mengajukan status standstill bagi seluruh utang Dubai World dan anak perusahaannya hingga 30 Mei 2010.Utang yang menjadi pemicu standstill itu adalah obligasi milik Nakheel PJSC, anak usaha Dubai World yang bergerak di sektor properti. Nakheel seharusnya melunasi obligasi senilai US$ 3,52 miliar pada 14 Desember 2009.

Gejala sakitnya Dubai sebetulnya sudah terbaca sejak tahun lalu. Deutsche Bank sempat menghitung, harga properti di Dubai itu merosot hingga 50% tahun lalu, gara-gara krisis global.Harga properti yang terjun bebas sangat menohok karena Dubai World berinvestasi besar-besaran di properti. Maklumlah, keemiratan yang dipimpin Sheik Mohammed bin Rashid Al Maktoum itu, berambisi menjadi pusat pariwisata dan bisnis di kawasan Timur Tengah.

Dubai, melalui Dubai World dan anak-anak perusahaannya, mengandalkan utang untuk membangun berbagai proyek menara gading. Dalam waktu hanya empat tahun saja, Dubai mencetak utang sebesar US$ 80 miliar. Utang senilai US$ 59 miliar berada di buku Dubai World. Awal tahun ini, Dubai yang tersengal-sengal mendapat pinjaman dari bank sentral Abu Dhabi senilai US$ 10 miliar. Sheikh Mohammed langsung yang turun melobi emir penguasa Abu Dhabi.

Di Indonesia, Dubai World juga memiliki bisnis properti melalui anaknya, Limitless. Perusahaan ini merupakan mitra utama PT Bakrie Development Tbk (ELTY) di proyek Rasuna Epicentrum.

Thomas Hadiwinata Bloomberg
US stocks close lower on Dubai debt fears
Donna Kardos Yesalavich From: Dow Jones Newswires November 28, 2009 9:21AM
Increase Text Size
Decrease Text Size
Print
Email
Share
US stocks fall on Dubai problems

Sorry, this video is no longer available.
US stocks fell in a thinly traded and shortened session overnight, as fears over the potential impact of debt problems at Dubai World sent investors fleeing a broad range of stocks including Caterpillar, Bank of America and Alcoa.

The Dow Jones Industrial Average closed down 154.48 points, or 1.48%, at 10309.92, retreating from the 13-month closing high it reached Wednesday and marking its biggest one-day drop since Oct. 30. For the week, the Dow ended down 0.08%, snapping a three-week winning streak and marking its worst week since that ending Oct. 30. But the measure is still up 6.15% for the month.

Bank of America was the Dow’s weakest component Friday, closing down 48 cents, or 3%, at 15.47, reflecting declines across the financial sector amid uncertainty over how much exposure U.S. banks could have to Dubai World. Caterpillar fell 1.59, or 2.7%, to 57.45.

Alcoa tumbled 34 cents, or 2.6%, to 12.66, hurt by sharp declines across metals futures due to the worries over Dubai World. Crude-oil futures also fell, hurting energy companies including Exxon Mobil, which slid 1.60, or 2.1%, to 74.87.

Related Coverage
US stocks dive on Dubai woes The Australian, 11 hours ago
Dubai jitters wipe out $38b Courier Mail, 15 hours ago
Stocks tumble on Dubai debt fear The Australian, 15 hours ago
No material losses, say banks Adelaide Now, 1 day ago
Stocks dive on Dubai debt fears Adelaide Now, 1 day ago

The declines across stocks and commodities came as investors fled to the safety of the dollar and Treasurys on concerns over the potential fallout from debt problems at Dubai World, the city-state’s largest corporate entity, which asked creditors late Wednesday for a six-month stay on repayment of its $60 billion in debts.

Still, a number of money managers considered Friday’s decline an overreaction, noting that the U.S. doesn’t appear to have a great deal of exposure to Dubai World. In addition, they noted that although the Dubai World news in itself was unexpected, the troubles in Dubai don’t come as a surprise.

“The fact that the Dubai real estate market right now is struggling is really no secret worldwide,” said Jay Leupp, senior portfolio manager of the Grubb & Ellis AGA Realty funds. “You have a lot of empty office space over there and that’s a well-known fact.”

Leupp said he sees Friday’s declines as presenting good buying opportunities. “This is a good day to be looking for bargains,” he said. “You would never want to ignore [the Dubai World news], but we don’t view it as a material event to our funds or the U.S. equity market,” he said.

Nevertheless, the Nasdaq Composite closed down 37.61, or 1.73%, at 2138.44, while the Standard & Poor’s 500 dropped 19.14, or 1.72%, to 1091.49.

The financial sector led Friday’s broad decline in stocks. Among the hardest-hit in the financial sector were American depositary shares of European banks. Lloyds dropped 49 cents, or 7.9%, to 5.71, while Royal Bank of Scotland fell 55 cents, or 4.6%, to 11.48, and HSBC Holdings slid 3.61, or 5.8%, to 58.46.

American depositary shares of Dutch financial company ING Groep NV fell even more sharply, closing down 2.44, or 20%, to 9.84, as ING priced a rights issue at a steep discount of 52% from its prior closing price, or 37.3% after taking into account the dilution once the new shares start trading.

Retailers were also down on Black Friday, the unofficial start of the holiday shopping season, a crucial period for the consumer-discretionary sector. Best Buy Chief Executive Brian Dunn said early reports from the electronics retailer’s stores indicate shopper traffic is up over last year and that shoppers are in a buying mood. Still, Best Buy shares fell 43 cents, or 1%, to 42.83.

Macy’s declined 59 cents, or 3.4%, to 16.97, although its chief executive, Terry Lundgren, said early indications of traffic and sales on Black Friday pointed to “very good signs” for the holiday shopping season.

Government-controlled insurer American International Group declined 1.38, or 4%, to 33.30, after it announced an agreement to settle all legal disputes with former Chairman Maurice Greenberg, former Chief Financial Officer Howard Smith and two companies Greenberg controls: C.V. Starr & Co. and Starr International Co. The parties agreed to release each other from all claims, while AIG could be required to pay up to $150 million for Greenberg’s and Smith’s legal fees and expenses.

India’s Central Bureau of Investigation said Thursday the accounting fraud at Satyam Computer Services is now estimated at 118.8 billion rupees ($2.56 billion), about 66% larger than the initial estimate. American depositary shares of the software services company tumbled 35 cents, or 7.5%, to 4.30.

American depositary shares of Sasol, the world’s largest producer of motor fuels from coal, fell 1.79, or 4.4%, to 39.26. The company said it is confident of submitting the plans for a proposed 80,000-barrel-a-day coal-to-liquids plant in China by the end of the year.

Frontline Ltd. dropped 33 cents, or 1.2%, to 26.66. The tanker ship company reported it swung to a third-quarter loss on weak demand for oil tankers and low spot-market prices.

– Dow Jones Newswires

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s