1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

S1al …. 011209 1 Desember 2009

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 11:39 pm

Statistik: Sarjana Lebih Banyak Menganggur
Selasa, 01 Desember 2009 | 20:04 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta – Badan Pusat Statistik menyatakan angka pengangguran per Agustus 2009 sebanyak 7,87 persen, atau turun tipis ketimbang 8,14 persen pada Februari. Persentase itu diperoleh dari perbandingan angka penganggur sebanyak 8,96 juta orang dibagi angkatan kerja, 113,83 juta orang.

Penurunan tersebut didorong oleh naiknya jumlah pekerja dari 104,49 juta orang pada Februari menjadi 104,87 juta per Agustus lalu. Lapangan pekerjaan yang menempati porsi terbesar adalah pertanian dengan 41,61 juta pekerja.

Walaupun pekerja di sektor pertanian turun dari 43,03 juta orang per Februari, kenaikan angka pekerja didorong oleh naiknya pekerja di sektor lain. Mulai jasa yang naik dari 13,61 juta menjadi 14 juta, transportasi dari 5,95 juta menjadi 6,12 juta, perdagangan dari 21,84 juta menjadi 21,95 juta, dan sektor industri dari 12,62 juta menjadi 12,84 juta.

“Karena sedang tidak musim panen, banyak yang meninggalkan lapangan pertanian dan mencari pekerjaan di kota,” ucap Rustam. Sementara di kota terdapat banyak pekerjaan mulai dari buruh kasar, perdagangan, dan lainnya. “Apalagi mulai pertengahan tahun proyek pemerintah gencar karena anggaran sudah turun,” ujarnya.

Kebanyakan pekerja tercatat berkecimpung di sektor informal, yaitu 67,86 juta atau 69,35 persen. “Pekerja formal hanya 32,14 juta atau 30,65 persen,” ucap Rustam. Pekerja formal menunjukkan kenaikan 940 ribu orang dibandingkan Agustus tahun lalu. “(Hal ini) mengindikasikan terjadi pemulihan ekonomi dari dampak krisis global,” tutur dia.

Di balik kabar positif ini, yang perlu diperhatikan adalah masih dominannya pekerja dengan tingkat pendidikan rendah. Lulusan sekolah dasar mendominasi dengan 55,21 juta pekerja. Pekerja dengan pendidikan sarjana hanya 4,66 juta orang atau 4,44 persen.

Badan Statistik memasukkan orang yang bekerja minimal satu jam per pekan dengan penghasilan rutin sebagai pekerja. “Sesuai dengan ketentuan ILO (Organisasi Buruh Internasional),” ujar Rustam.

Jumlah pekerja dengan jam kerja 1 hingga 7 jam per pekan sangat minim, yaitu 1,31 juta atau sekitar 1 persen dari seluruh pekerja. Kebanyakan pekerja atau 73,30 juta, bekerja di atas 35 jam per pekan. “Ini menjawab kritik yang mengatakan data tenaga kerja BPS lemah karena memasukkan pekerja yang cuma bekerja satu jam seminggu,” kata Rustam.

REZA MAULANA

Mahasiswa Enggan Geluti Bidang Usaha Mikro
Selasa, 01 Desember 2009 | 15:46 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta -Pusat Pengembangan Wirausaha Universitas Hasanuddin menyayangkan keengganan mahasiswa dan sarjana di Sulawesi Selatan untuk menggeluti usaha mikro.

Jumlah mereka yang serius terjun ke dunia usaha modal kecil ini tidak lebih dari satu persen setiap tahun. Ketua Pusat Pengembangan Wirausaha Unhas, M Asdar menjelaskan keengganan mengelola usaha mikro akan memperlambat pertumbuhan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah di Sulawesi Selatan.

Asdar memaparkan dari delapan ribu wisudawan setiap tahun, hanya satu persen yang menjadi wirausaha. Sisanya memilih mencari menjadi pegawai negeri dan swasta, atau lebih senang bersaing dengan 35 ribu pengangguran setiap tahun.

“Mahasiswa dan sarjana hanya bercita-cita menjadi pegawai ketimbang terjun di usaha mikro. Ini sangat disayangkan ketika potensi daerah lagi giat-giatnya digali,” kata Asdar kepada Tempo, Selasa (1/12).

Dari data 2005 – 2008 di Pusat Pengembangan Wirausaha Unhas, terlihat jumlah mahasiswa, sarjana dan masyarakat umum yang terjun di usaha mikro hanya mencapai 500 orang.

Kondisi ironis itu akan membuat potensi daerah yang kaya dengan hasil bumi tidak terkelola dengan baik. Bahkan dikhawatirkan daerah penghasil semen itu, akan diserbu pengusaha mikro dari Pulau Jawa dan Jakarta yang terbukti ulet dalam mengelola sumber alam dan limbah industri.

Melorotnya keinginan menjadi pengusaha mikro, jelas dia, karena faktor budaya dan mental yang dibenamkan sejak di bangku sekolah. Para pelajar dan mahasiswa diarahkan menjadi pekerja di lembaga pemerintah dan swasta.

“Tidak heran kalau setiap tahun banyak penggangguran potensial harus berlomba menjadi PNS atau pegawai swasta,” ungkap dia. Keengganan mahasiswa dan sarjana di Sulawesi Selatan itu, juga disebabkan tidak ada skema pembentukan usaha mikro dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah masing-masing.

Padahal skema usaha sangat dibutuhkan untuk menciptakan wiraswasta yang akan menyerap dan membuka lapangan kerja. Pembentukan skema usaha, tutur dia, harus mendapatkan stimulus dari anggaran negara atau APBN, Departemen Koperasi, dan perguruan tinggi dalam bentuk pelatihan dan pembinaan.

Saat ini ada beberapa komoditi unggulan Sulawesi Selatan yang menunggu sentuhan dari pengusaha mikro, yakni beras, jagung, kakao, rumput laut, tambak, peternakan, dan udang. Termasuk sektor pertambangan marmer, semen, dan batu bara.

Mahasiswa dan sarjana, sambung dia, juga dihadapkan pada masalah modal awal untuk memulai usaha mikro yang sulit diperoleh melalui perbankan. Dikatakannya, rata-rata pengusaha mikro pemula membutuhkan modal kerja antara Rp10 juta – Rp25 juta.

Termasuk belum ada lembaga penjamin khusus menangani pengusaha mikro pemula yang belum visible dan bankabel. Padahal sudah ada aturan dari Keppres Nomor 2/2008 dan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 222/2008, tentang pembentukan lembaga penjaminan dengan modal minimal Rp50 miliar.

“Kalau dari 23 kabupaten di daerah ini mengucurkan sedikitnya Rp2 miliar per daerah maka sudah bisa dibentuk lembaga penjamin dibawah kontrol pemerintah provinsi,” jelasnya.

Sebelumnya, Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo mengatakan, untuk menanggulangi kelangkaan wirausaha baru maka dibentuk Lembaga Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah yang bekerjasama dengan Bank Indonesia Cabang Makassar.

Lembaga dan bank akan bekerja untuk menjalankan program satu juta pengusaha 2010 – 2013. Program yang dikordinir Dinas Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah itu, untuk meningkatkan jumlah pelaku usaha menjadi dua persen dari total penduduk 7,2 juta jiwa setiap tahun.

SULFAEDAR PAY

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s