1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

peristiwa yang dibuang sayang di investor summit : 021209 2 Desember 2009

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 7:36 pm

Sri Mulyani Narsis di Acara Investor Summit
Rabu, 2 Desember 2009 – 10:45 wib
TEXT SIZE :
Candra Setya Santoso – Okezone

Menkeu Sri Mulyani. Foto: Heru Haryono/Okezone.com
JAKARTA – Menteri Keuangan Sri Mulyani sangat tersanjung pada kesempatan membuka acara Investor Summit. Apa pasal? Ini karena wajah serta suaranya diperhatikan seluruh masyarakat dan investor di Indonesia.

Kendati demikian, permasalahan yang dihadapi seorang Sri Mulyani cukup banyak, khususnya keterlibatan dirinya dalam kasus Bank Century dan penonaktifannya.

“Saat ini wajah saya, suara saya diperhatikan seluruh pihak. Inilah konstituen saya, menurut Pak Fuad Rahmany (Ketua Bapepam-LK), tapi menurut saya inilah komunika saya,” ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani, dalam kata sambutannya, dalam acara Investor Summit and Capital Market Expo 2009 “Strategi Investasi di Pasar Modal Indonesia 2009”, di Hotel Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, Rabu (2/12/2009).

Dirinya mengharapkan mampu mengantarkan sejumlah investor dan perusahaan tercatat untuk keluar dari krisis. “Saya berusaha semulus mungkin akan menghantarkan seluruhnya keluar dari krisis yang ada,” katanya.

Selain itu, neraca keuangan yang paling rapuh pun saat ini mulai membaik. “Jika neraca Anda sehat maka kondisi keuangan Anda sehat pula bukan?” katanya.

Sri Mulyani mengatakan, dirinya telah menjadi pejabat pemerintah selama empat tahun terakhir. “Setidaknya Anda tahu kredibiltas dan track record saya selama ini,” ujarnya.

Dirinya juga meyakini, bisa menceritakan permasalahan dan pemulihan ekonomi saat ini, baik versi panjang seperti yang di laporkan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). “BPK bisa mengeluarkan laporan versi panjang atau pendek,” katanya, diiringi tepuk tangan sejumlah hadirin yang hadir.

Tercatat, jelasnya, terjadi penurunan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tajam pada 9 Januari 2008 dari level 2.830 menjadi 1.155 pada 20 November 2008. “Turun lebih dari 50 persen dan saya bisa membayangkan nilai kapitalisasi pasar anda turun dan jatuh miskin,” katanya.

Selain itu, yield Surat Utang Negara (SUN) naik tajam dari rata-rata sekira 10 persen (SUN 10 tahun) sebelum krisis menjadi 17,1 persen. Credit Default SWAP (CDS) Indonesia mengalami peningkatan secara tajam dari skira 250 bps awal tahun 2008 menjadi diatas 1.000 bps pada November 2008.

Sebagai informasi turut hadir dalam acara ini selain Sri Mulyani, tampak hadir Direktur Bursa Efek Indonesia (BEI) Ito Warsito, serta 60 emiten besar Indonesia. (ade)

Iklan
 

25% itu sulit sekali lho … 021209

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 7:32 pm

Jika EPS 25%, IHSG Bisa 3.000
Rabu, 2 Desember 2009 – 18:36 wib
TEXT SIZE :
Nurfajri Budi Nugroho – Okezone

(Foto: Koran SI)
JAKARTA – Indeks harga saham gabungan (IHSG) bisa menembus level 3.000 pada tahun 2010. Syaratnya, rata-rata laba per saham (earning per share/EPS) mencapai 25 persen, dan price earning ratio (PER) tidak mengalami perubahan di kisaran 14-15 persen.

“Saya optimistis 2010 bisa 3.000. Syaratnya tidak ada cateris paribus, tidak ada kejadian yang mengguncang Indonesia, dunia, maka bisa mencapai angka itu,” kata praktisi pasar modal Rizal Bambang Prasetijo dalam seminar di acara Investor Summit and Capital Market Expo 2009, di Ritz-Carlton Pacific Place, Jakarta, Rabu (2/12/2009).

Tahun ini, menurut dia, tingkat pengembalian investasi di Tanah Air mengalami peningkatan. Pada 2008, equity return mengalami penurunan 59 persen, sementara pada tahun ini meningkat 108 persen.

“Hal ini tidak terlepas karena adanya asset reflation, dan karena investor tertarik dengan posisi Indonesia yang ada kestabilan politik. Berbeda dengan negara-negara tetangga seperti Thailand, Filipina, atau Malaysia yang mengalami kegempaan politik,” papar dia.

Pria yang menjabat sebagai Senior Country Officer JP Morgan ini juga menjelaskan, saat ini peringkat rating utang Indonesia menurut Standard and Poor’s berada di level BB-. Padahal paling tidak Indonesia bisa memperoleh rating BB+. Mengenai ini, Rizal melihat ada ketidakadilan dari lembaga pemeringkat.

“Padahal ini pengaruhnya besar. Karena untuk mendapatkan status investment grade (layak investasi), maka cost of capital seharusnya bisa lebih rendah lagi,” jelas dia.(jri)

 

krisfinalo ala dubai, glap akh … 021209

Filed under: GREAT depression — bumi2009fans @ 8:09 am

Krisis Global Jilid II?
Rabu, 2 Desember 2009 – 07:44 wib

Dunia telah berulang kali mengalami krisis.Dari yang sifatnya regional ke yang bersifat global. Indonesia, misalnya, pernah mengalami krisis Asia pada 1997-1998.

Krisis ini bermula dari Thailand yang meski tidak menyebar jauh dari Asia Timur dan Asia Tenggara. Pemulihan krisis tersebut terjadi pada 1999 dan kemudian kita melihat kondisi perekonomian di Asia Timur dan Tenggara termasuk Indonesia terus membaik.Namun,pada 2008 dunia kembali dilanda krisis global yang dimulai dari negara maju yaitu Amerika Serikat. Seluruh dunia merasakan dampaknya. Krisis Asia Timur dan Asia Tenggara (termasuk Indonesia) pada 1997-1998 dimulai dengan krisis finansial yang kemudian menjalar ke krisis ekonomi. Untuk Indonesia, krisis ekonomi ini juga menjalar ke krisis sosial dan politik. Sementara krisis global 2008-2009 juga bermula dengan krisis finansial, kemudian diikuti dengan krisis ekonomi.Untungnya, tak ada dampak sosial dan politik yang berarti.

Sekarang banyak yang mengatakan bahwa krisis global sudah usai. Pendapatan nasional sudah meningkat lagi.Namun,sering pula dikatakan bahwa pemulihan baru terasa untuk sektor finansial. Sementara pemulihan sektor ekonomi terasa lebih lamban. Bahkan dampak sosial dari krisis ini masih terasa sampai sekarang. Dalam laporan UNDP yang terbaru (The Global Financial Crisis and the Asia-Pacific Region, 2009) dikatakan bahwa pemulihan sosial biasanya lebih lambat dari pemulihan ekonomi. Bahkan dampak sosial seperti nutrisi yang rendah pada anak-anak dapat berlangsung selama-lamanya.

Sementara itu, banyak pihak yang masih merisaukan kepulihan ekonomi ini.Sistem finansial dunia yang menjadi penyebab semua krisis masih sama dengan sebelum krisis. Sektor finansial selalu tumbuh cepat,jauh lebih cepat dari pertumbuhan sektor produksi.Padahal sektor finansial diperlukan untuk membantu tumbuhnya sektor produksi. Sektor finansial bagaikan minyak agar kendaraan bermotor dapat berjalan dengan baik.Ketika minyaknya terlalu banyak, kendaraan bermotor pun akan berjalan terseok-seok dan mungkin malah mogok. Itulah yang terjadi ketika sektor finansial melaju dengan pesat,meninggalkan pertumbuhan di sektor produksi. Hal ini telah berulang terjadi.

Pertumbuhan sektor finansial yang luar biasa, yang juga dicerminkan dengan pertumbuhan pendapatan nasional,akhirnya diikuti dengan krisis finansial. Lebih parah lagi, dinamika sektor finansial sering amat tergantung pada ?gosip?di kalangan investor di sektor keuangan.Ketika para investor ini kehilangan confidence, mereka beramai-ramai menjual surat berharga mereka. Sektor finansial jatuh dan akibatnya membuat confidencejatuh lebih jauh.Bank dapat berjatuhan sehingga perekonomian kena getahnya.

Ketika confidence para investor pulih, sektor finansial pun pulih kembali. Namun, tidak otomatis sektor produksi pulih. Memulihkan sektor produksi membutuhkan waktu yang lebih lama dari sekadar memupuk confidencepara investor. Sayangnya,sampai sekarang kita belum berhasil mengatur sektor yang dikuasai oleh ?gosip? para investor ini. Maukah perekonomian kita dan sektor sosial kita terus menerus dipengaruhi oleh gosip para investor ini? Kalau gosip mereka membuat sektor finansial berantakan, sektor ekonomi berantakan, dan sektor sosial kena dampak yang lama.

Kalau gosip mereka membaik, sektor finansial membaik, para investor berjaya lagi.Namun, sektor perekonomian mengikuti dengan lambat, dan sektor sosial akan mengikuti dengan jauh lebih lambat lagi. Tanpa perubahan fundamental dalam struktur finansial dunia, pola yang sama akan terus berulang. Sektor finansial tumbuh pesat,kemudian krisis,lalu terjadi pemulihan. Kemudian sektor finansial tumbuh pesat lagi, dan krisis lagi. Demikian seterusnya.Dengan integrasi finansial dan perekonomian yang makin kuat,krisis pun akan terjadi lebih meluas dan mendalam.Jarak dari satu krisis ke krisis lain pun akan makin pendek.

Krisis finansial dan ekonomi dikhawatirkan akhirnya membawa krisis sosial dan politik. Saat ini di beberapa negara sektor properti telah memberikan gejala memanas. Orang berlomba berspekulasi di sektor properti.Di beberapa negara inflasi mulai dikhawatirkan menjadi bahaya yang baru. Ini semua memberi tanda bahaya.Akan segera terjadi krisis lagi? Krisis global jilid II? Dan, tiba-tiba saja,Rabu yang lalu (25 November 2009), Dubai World, suatu konglomerasi milik Pemerintah Dubai, mengumumkan penundaan pembayaran utang mereka.

Hal ini menandakan konglomerasi ini mengalami kesulitan keuangan.Sontak berita ini membuat panik para investor. Mereka berlomba menjual surat berharga mereka.Namun, karena tanggal 27 hari libur (Idul Adha), disusul week-end, pasar finansial tutup dan tidak banyak informasi yang didapat dari Dubai. Pada Minggu (29 November) Pemerintah Uni Emirat Arab mencoba menenangkan para investor dengan mengatakan bahwa mereka akan membantu likuiditas sektor finansial di Dubai. Pekan ini adalah pekan yang menentukan. Kita akan melihat apakah krisis Dubai ini akan tetapdi Dubai saja, atau akan meluas ke Asia, Eropa, dan seluruh dunia.

Apakah menjadi krisis global jilid II? Semoga saja, krisis Dubai ini dapat ditahandiDubaidantidakmenjalar ke mana-mana.Apa pun hasilnya, tampaknya kita harus sudah segera membuat tatanan finansial dunia yang baru, yang tidak bergantung pada gosip para investor. Indonesia, pada khususnya, tidak perlu terburu buru mengintegrasikan sektor finansial kita ke sektor finansial dunia. Indonesia dapat memberi contoh untuk mengatur sektor finansial agar tidak tumbuh meninggalkan pertumbuhan sektor produksi. Sektor finansial perlu dikembalikan pada fungsi semula yaitu membantu pertumbuhan sektor produksi.

Janganlah sektor finansial menjadi sumber keuntungan tersendiri, terlepas dari sektor produksi, seperti yang selama ini terjadi, dan selalu menghasilkan krisis. Selain itu, untuk berjaga-jaga terhadap kemungkinan terjadinya krisis global jilid II, entah karena krisis Dubai atau krisis lainnya, Indonesia perlu untuk makin memperhatikan ekonomi dalam negeri. Pengintegrasian ekonomi dalam negeri menjadi jauh lebih penting daripada integrasi regional atau pun integrasi global. Dengan ketergantungan pada pasar dan faktor produksi yang besar di dalam negeri, kita dapat mengurangi dampak krisis global pada perekonomian dan sektor sosial kita.Krisis global jilid I jelas memperlihatkan bahwa kita diuntungkan karena dua hal.

Pertama, sektor finansial kita belum benar-benar terintegrasi ke sektor finansial dunia. Kedua, sumbangan ekspor kita juga masih rendah. (*)

Aris Ananta
Ekonom (Koran SI/Koran SI/rhs)
Pasar Keuangan dan Gaduhnya Politik

AFP/KARIM SAHIB
Seorang lelaki berjalan di depan kawasan bisnis Dubai di Teluk, Minggu (29/11). Krisis Dubai, yang dipicu penundaan pembayaran utang Pemerintah Dubai, diperkirakan akan berpengaruh pada pembukaan hari setelah libur panjang Lebaran Haji kali ini.
Artikel Terkait:
Perusahaan-perusahaan Dubai Jadi “Sampah”
Pemerintah Siapkan Insentif untuk Sektor Energi
Menkeu: Pelaku Pasar Tak Perlu Risaukan Krisis Dubai
Data Ekonomi Positif, Dubai Mereda, Rupiah Ceria
Kekhawatiran Dubai Mereda, Wall Street Terbang
SENIN, 7 DESEMBER 2009 | 07:16 WIB

MIRZA ADITYASWARA

KOMPAS.com – Dua pekan lalu, pasar keuangan internasional terkejut dengan permohonan penundaan pembayaran utang oleh Dubai World. Penundaan pembayaran utang sebesar 59 miliar dollar AS itu dapat memengaruhi kepercayaan kreditor kepada negara berkembang. Pasar keuangan di sejumlah negara sempat jatuh.

Syukurlah, pasar bangkit kembali setelah Pemerintah Abu Dhabi, tetangga Dubai, mengatakan siap membantu likuiditas perbankan akibat krisis Dubai World. Pemerintah Dubai lantas menyatakan, yang direstrukturisasi jadwal pembayaran utangnya hanya 26 miliar dollar AS sehingga pasar keuangan menjadi lebih lega.

Dalam situasi krisis, yang harus ditangani terlebih dahulu oleh otoritas perbankan adalah masalah psikologis pemilik dana, investor, dan deposan. Dalam situasi panik, kejatuhan bank kecil bisa menyebabkan krisis kepercayaan pada sistem perbankan. Contoh, Bank Sentral Inggris pada awal krisis kredit subprime, September 2007, terpaksa menginjeksi ”bank kecil”, Northern Rock, sebesar 3 miliar poundsterling. Karena krisis berlanjut, pada Januari 2008, injeksinya sudah mencapai 26 miliar poundsterling.

Di Amerika Serikat, Bank Sentral menginjeksi 1,4 triliun dollar AS, atau setara 10 persen dari PDB, ke sejumlah institusi selama September 2008-Februari 2009. Tujuannya demi stabilisasi sistem keuangan. Gubernur Bank Sentral Ben Bernanke juga dicecar oleh Kongres soal kebijakan penyelamatan itu.

Namun, langkah Kongres ini bukan untuk menjatuhkan Bernanke, hanya untuk menyempurnakan prosedur injeksi likuiditas. Bernanke bahkan akan dipilih kembali tahun 2010. Mungkin politisi di AS jauh lebih dewasa daripada di negara berkembang.

Setelah masalah Dubai beres, pasar keuangan akhir minggu lalu kembali menunjukkan optimisme oleh data pemulihan ekonomi global. Namun, utang Pemerintah AS yang naik tajam dengan suku bunga rendah (0,25 persen) membuat investasi di AS tidak menarik. Investor pun memindahkan dana jangka pendeknya ke negara berkembang dan pasar komoditas.

Akibatnya mulai timbul kekhawatiran. Jika aliran dana jangka pendek ke pasar keuangan negara berkembang terus bertambah, tetapi karena tidak didukung oleh pertumbuhan ekonomi, mungkin dua tahun atau lima tahun mendatang akan terjadi bubble economy seperti tahun 1996-1997, yaitu inflasi, kenaikan impor, kenaikan utang luar negeri, sehingga menimbulkan defisit neraca pembayaran. Selanjutnya para investor akan menarik dana dari negara berkembang, termasuk keluar dari Indonesia.

Pertumbuhan kredit perbankan Indonesia pada semester II-2009 ternyata di bawah perkiraan karena situasi politik kembali memanas. Situasi bubble ekonomi jangan sampai terjadi karena kita tidak mau setiap 5-10 tahun terkena krisis. Dalam 10 tahun ini, krisis keuangan di Indonesia telah terjadi tiga kali, yaitu yang pertama pada 1998-1999. Krisis kedua pada tahun 2005 yang disebabkan oleh krisis reksadana dan kenaikan harga minyak. Krisis ketiga pada September 2008-Maret 2009 yang disebabkan oleh krisis keuangan di AS.

Setiap krisis keuangan, yang menderita adalah rakyat kecil. Bukan politisi, bukan individu debitor hitam. Pelajaran dari perdebatan politik pro-kontra kebijakan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia atau BLBI (1998) dan penyelamatan Bank Century (November 2008), jika ada lagi krisis keuangan global, tidak akan ada Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia yang berani mengambil keputusan menyelamatkan sistem perbankan karena takut kebijakannya dipersalahkan di kemudian hari.

Pengalaman kasus BLBI 1998, para politisi dan penegak hukum cenderung mengejar pengambil kebijakan stabilisasi di BI dan Departemen Keuangan daripada mengejar para penyeleweng dana BLBI, yaitu para debitor hitam dan para eks pemilik bank bermasalah.

Kini datang era ketidakpastian stabilitas sektor keuangan di Indonesia. Dana jangka pendek investor asing di Sertifikat Bank Indonesia (SBI) saat ini Rp 46 triliun. Yang ada di Surat Utang Negara (SUN) Rp 100 triliun. Belum termasuk di pasar saham.

Tes pertama yang akan dihadapi nanti pada Februari 2010 adalah hasil investigasi politik di DPR atas kasus Bank Century, yaitu siapa pejabat yang dipersalahkan.

Tes kedua adalah pada saat Bank Sentral AS melakukan exit strategy, yaitu menaikkan suku bunga, mungkin pada semester II-2010. Perlu kita waspadai jika terjadi capital outflow dana jangka pendek kembali ke AS sehingga dikhawatirkan membuat kurs negara berkembang melemah.

Tes ketiga adalah pada saat harga minyak kembali menembus 100 dollar AS per barrel. Mungkin pada tahun 2011.

Tes keempat saat Pemerintah Indonesia harus memutuskan menurunkan penjaminan dana masyarakat di perbankan dari Rp 2 miliar kembali ke Rp 100 juta per nasabah. Kebijakan pada kuartal IV-2008 menaikkan penjaminan hanya sementara, demi menenangkan masyarakat pada saat krisis.

Investigasi kasus Century harus dilanjutkan, tetapi jangan dipolitisasi. Ada tiga hal yang dipisahkan, yaitu investigasi pada kelemahan pengawasan Bank Century periode 2003-2007, alasan kebijakan penyelamatan Bank Century pada November 2008, dan aliran dana likuiditas pascapenyelamatan.

Pasar keuangan paham bahwa kasus Century berbeda dengan kasus murni pembelaan masyarakat atas eksistensi Komisi Pemberantasan Korupsi (kasus Bibit-Chandra). Pada kasus investigasi Century, muatan politiknya kental karena dimulai dari DPR, bukan oleh lembaga hukum KPK.

Namun, pasar keuangan percaya bahwa DPR yang dipilih rakyat akan mengedepankan kebenaran dan hati nurani. Pemilu sudah selesai. Jabatan kabinet sudah juga usai, maka berikanlah stabilitas politik dan keamanan di negeri ini. Marilah kita lanjutkan reformasi tetapi juga bangun ekonomi, yaitu memberikan kecukupan pangan dan infrastruktur, pendidikan, kesehatan, serta kesempatan kerja kepada rakyat yang masih tertinggal.

Mirza Adityaswara, Analis Perbankan dan Pasar Modal

 

kalo elo mo punya VISI SAHAM NGEJOSS, datang aja : 021209

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 7:55 am

Investor Summit 2009
28 Emiten Siap Paparkan Kinerja
Untuk acara tersebut, tiga SRO menggelontorkan dana hingga Rp 1 miliar.
RABU, 2 DESEMBER 2009, 06:26 WIB
Arinto Tri Wibowo

BERITA TERKAIT
Gelar Investor Summit, 3 SRO Kucurkan Rp 1 M
Web Tools

VIVAnews – Sebanyak 28 emiten hari ini mulai memaparkan kinerja dan rencana strategis perusahaan ke depan dalam ajang Investor Summit and Capital Market Expo 2009.

Presentasi dari sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang digelar 2-3 Desember 2009 itu akan terbagi dalam dua kelompok.

Kelompok pertama yang terdiri atas 12 emiten akan mempresentasikan kinerjanya pada Rabu 2 Desember 2009. Presentasi emiten hari pertama akan dimulai pukul 14.00 hingga 17.15 WIB di Ballroom, The Ritz-Carlton, Pacific Place, Jakarta.

Emiten yang akan memberikan paparan pada hari pertama adalah PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), dan PT Kalbe Farma Tbk (KLBF).

Selain itu, terdapat PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT United Tractors Tbk (UNTR), PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA), dan PT Bakrieland Development Tbk (ELTY).

Emiten lainnya adalah PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP), PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Jasa Marga Tbk (JSMR).

Sementara itu, untuk hari kedua, Kamis 3 Desember 2009, sebanyak 16 emiten yang akan memberikan presentasi mulai pukul 13.00-16.15 WIB adalah PT Astra International Tbk (ASII), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), dan PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC).

Perusahaan lainnya adalah PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT Elnusa Tbk (ELSA), PT Indosat Tbk (ISAT), PT Adhi Karya Tbk (ADHI), dan PT Bank Danamon Tbk (BDMN).

Sedangkan PT Adaro Energy Tbk (ADRO), PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO), PT Semen Gresik Tbk (SMGR), dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) juga akan memberikan paparannya.

Selanjutnya giliran PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI).

Acara Investor Summit 2009 itu direncanakan dibuka Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

Dalam acara itu juga digelar seminar yang menghadirkan beberapa pejabat publik, seperti Pjs Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution, praktisi pasar modal Rizal B Prasetijo, serta Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa.

Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) Fuad Rachmany juga akan menjadi pembicara, selain cerita sukses dari Chairul Tanjung.

Untuk menggelar acara tersebut, tiga self regulatory organization (SRO) menggelontorkan dana hingga Rp 1 miliar. Acara tersebut diharapkan mampu meraup 1.500 pengunjung per hari.

Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Ito Warsito mengatakan, biaya sebesar Rp 1 miliar ditanggung bersama antara BEI, PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), dan PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI).

Dia menambahkan, acara Investor Summit and Capital Market Expo 2009 merupakan upaya sosialisasi dan edukasi terhadap pasar modal Indonesia.

“Siapa pun yang berminat mengikuti acara tersebut, berarti memiliki perhatian terhadap industri pasar modal,” kata dia pada konferensi pers di gedung bursa efek, Jakarta, Senin 30 November 2009.

Selain itu, Ito menambahkan, acara Investor Summit merupakan program untuk mencapai target Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) otoritas bursa, seperti target penambahan 25 emiten baru sepanjang 2010.

Investor Summit 2009 merupakan acara rutin tahunan yang telah digelar sejak 2006. Acara tersebut diselenggarakan atas kerja sama tiga SRO dan Bapepam-LK.

arinto.wibowo@vivanews.com

• VIVAnews

 

D(elicious)ECEMBER follows N(yaman)OVEMBER, it seems that : 021209

Filed under: JUAL beli HARIAN — bumi2009fans @ 7:19 am

order jual antm:
2375
2400
order jual antm:
2375 full matched
2400 full matched
————————————- saham lain
order jual trub:
133
135
order jual trub:
133 full matched
————————————- saham lain
order jual elsa:
310
315
————————————- saham lain
order jual indy:
2250

————————————- saham lain
order jual bbri:
7850
order jual bbri:
7850 full matched
————————————- saham lain
02/12/2009 – 17:25
Hore…IHSG Ditutup Naik 19,06 Poin
Wahid Ma’ruf

(inilah.com /Dokumen)
INILAH.COM, Jakarta – Pergerakan IHSG pada perdagangan Rabu (2/12) ditutup naik 19,06 poin (0,78%) di level 2.471,56 karena sebagian investor melakukan aksi profit taking.

Hal itu dikatakan analis saham Ciptadana Securities, Syaiful Adrian kepada INILAH.COM Rabu (2/12). “Setelah beberapa hari mengalami kenaikan sebagaian investor melakukan aksi profit taking namun hanya untuk keseimbangan saja,” katanya.

Hal ini dilakukan karena kalau tidak dilakukan sekarang dikhawatirkan nanti malam indeks Wall Street turun. Aksi sebagian investor ini yang menyebabkan indeks tidak melanjutkan penguatan lebih tinggi. Walaupun tetap terjada di area positif yang ditopang sektor pertambangan yang naik 34,4 poin dan perkebuhan naik 35 poin.

Volume perdagangan mencapai 4,9 miliar unit saham senilai Rp3,6 triliun, dengan 109 saham naik, 63 saham turun dan 77 saham stagnan. Untuk LQ45 naik 4,1 poin ke 488,97 dan Jakarta Islamic Index (JII) naik 1,8 poin ke 406,8.

Untuk saham-saham yang naik antara lain Brstol-Myers Squibb Indonesia SQBI) naik Rp19.000 ke Rp114.000, Delta Djakarta (DLTA) naik Rp6.000 ke Rp55.000, Astra Agro Lestari (AALI) naik Rp800 ke Rp23.750, Gudang Garam (GGRM) naik Rp800 ke Rp18.500, Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) naik Rp400 ke Rp17.200, Indocement Tunggal Prakasa (INTP) naik Rp350 ke Rp11.600.

Sedangkan untuk saham-saham yang turun antara lain Indo Tambangraya Megah (ITMG) turun Rp450 ke Rp29.050, Goodyear Indonesia (GDYR) turun Rp400 ke Rp9.100, Unilever Indonesia (UNVR) turun RP400 ke Rp11.300, Bank Mega (MEGA) turun Rp300 ke Rp2.000, Astra Otoparts (AUTO) turun Rp100 ke Rp5.750. [hid/cms]
————————————- saham lain
Rabu, 02/12/2009 08:25 WIB
IHSG Mulai Waspadai Profit Taking
Nurul Qomariyah – detikFinance

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin berhasil menguat signifikan di tengah menguatnya bursa-bursa regional. Investor mulai melupakan efek gagal bayar Dubai World dan mulai berburu saham-saham lagi.

Pada perdagangan Selasa (1/12/2009), IHSG pun akhirnya ditutup menguat 36,664 poin (1,51%) ke level 2.452,501. Indeks LQ45 naik 8,571 poin (1,79%) ke 484,828. Penguatan IHSG terjadi setelah BPS secara mengejutkan mengumumkan terjadinya deflasi selama November sebesar 0,03%.

Sentimen positif kembali hadir dari menguatnya saham-saham di Wall Street. Investor global mulai melupakan efek gagal bayar Dubai World setelah perusahaan raksasa itu mengumumkan restrukturisasi utangnya senilai US$ 26 miliar. Data positif dari AS justru membuat invetor lebih bersemangat.

Pada perdagangan Selasa (1/12/2009), indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) menguat hingga 126,74 poin (1,23%) ke level 10.471,58. Indeks Standard & Poor’s 500 juga menguat 13,23 poin (1,21%) ke level 1.108,86 dan Nasdaq menguat 31,21 poin (1,46%) ke level 2.175,81.

Sementara Bursa Tokyo pada perdagangan Rabu (2/12/2009) mengalami koreksi setelah terus menerus menguat. Indeks Nikkei-225 dibuka melemah tipis 20,41 poin (0,21%) ke level 9.551,79.

Para investor di lantai Bursa Indonesia pun tampaknya harus mulai mewaspadai terjadinya profit taking. IHSG dalam 2 hari terakhir sudah menguat cukup besar, dan sebagian saham-saham unggulan sudah mulai overbought.

Namun potensi penguatan IHSG sejauh ini masih cukup besar. Saham-saham perbankan akan mendapatkan dorongan setelah terjadinya deflasi 0,03% yang akan membuat BI tidak akan mengubah kebijakan BI Rate-nya. Sementara saham-saham pertambangan akan mendapatkan peluangnya kembali menyusul naiknya harga-harga komoditas akibat melemahnya dolar AS.
————————————- saham lain

… secara historis, seharusnya Desember bukan bulan saham buruk rupa, tapi justru dengan ekspektasi POSITIVE GAIN YANG PALING TINGGI :  https://transaksisaham.wordpress.com/2009/11/01/sesuai-prediksi-historik-oktober-bulan-misteri-ihsg-011109/
————————————- saham lain
Rabu, 02/12/2009 07:01 WIB

Chart for Composite Index (^JKSE)

Stochastic golden cross buka peluang IHSG menguat

oleh : Lahyanto Nadie

JAKARTA (bisnis.com): Indeks menguat tajam 36 poin atau 1,5% ke level 2.452 tetapi kurang didukung oleh nilai transaksi menandakan investor wait & see terhadap Dubai World.

Optima Sekuritas menilai pendorong indeks yakni UNVR, BBCA, BBRI, dan BUMI yang sebelumnya terkoreksi tajam. Indeks di bursa diperkirakan di level 2.420-2.470.

Trimegah Securities berpendapat bahwa pengumuman inflasi sebesar 2,41% dan ekspor Indonesia yang naik 10,1%, di atas ekspektasi pelaku pasar membuat IHSG melanjutkan penguatan. Hal ini didukung oleh sentimen bursa Asia yang naik didukung oleh data pemulihan ekonomi.

Stochastic yang golden cross membuka peluang bagi IHSG untuk menguat dan diperkirakan di kisaran 2.482-2.430

Sementara itu, Kresna Securities mengemukakan bahwa setelah menembus titik resistan di 2423, IHSG masih melanjutkan penguatan dan menguji titik resistan baru di 2480.

Posisi RSI yang berada mid point di 52,6 dan posisi stochastic oscillator yang masih rendah di 37,9 mendukung penguatan indeks. Trading range pada hari ini di 2.426-2.466. Rekomendasi untuk saham ANTM, AALI, CTRA.

PREDIKSI INVESTOR DAILY 1 Desember 2009: Indeks Fluktuatif
01/12/2009 07:34:43 WIB
Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) diperkirakan bergerak berfluktuasi pada perdagangan hari ini. Namun, indeks masih rawan penurunan dalam waktu dekat.

“Secara umum, dalam jangka menengah, indeks masih berada dalam tren penurunan,” ujar analis Reliance Asset Management Deni Hamzah kepada Investor Daily di Jakarta, Senin (30/11).

Deni menjelaskan, tren penurunan indeks tercermin dari indikator teknikal stochastic oscillator yang masih mengarah ke bawah. Selain itu, level indeks yang masih di bawah moving average (MA) 20 hari, EMA10, dan Par SAR terlihat masih turun.

Pelaku pasar akan terus mencermati dampak krisis utang Dubai World ke institusi keuangan internasional. Apabila dampaknya semakin meluas, berita itu akan menjadi sentimen negatif bagi bursa saham.

Menurut Deni, penggerak indeks akan datang dari saham-saham Grup Astra, perbankan, dan infrastruktur. Saham-saham tersebut berpotensi menguat, setelah harganya turun tajam pada pekan lalu.

Indeks dalam jangka pendek akan berfluktuasi dengan menguji batas bawah (support) di level 2.393. Sedangkan batas atas pergerakan indeks (resistance) berada di level 2.450. Investor disarankan fokus pada saham-saham BUMN di sektor perbankan, infrastruktur, dan pertambangan. Selain itu, investor dapat memanfaatkan saham-saham emiten yang akan membagikan dividen interim. (epa)
————————————- saham lain
02/12/2009 – 06:13
Wow! Dow Melejit ke Level Terbaru
Mosi Retnani Fajarwati

INILAH.COM, New York – Indeks terdongkrak pada perdagangan Selasa (1/12), Dow pun berada pada level terbarunya dan kekawatiran akan Dubai mulai menguap.

Indeks naik lebih dari 1%, termasuk Dow Jones yang melonjak 126 poin dan ditutup pada level di atas 10.500 untuk pertama kalinya sejak Oktober tahun lalu.

Pelemahan nilai tukar dolar AS menjadi pemicu pergerakan indeks, pola yang telah ada sejak berbulan-bulan lalu. Semakin murah nilai tukar mata uang AS maka akan semakin mendongkrak harga komoditas, dan berdampak pada kenaikan harga saham sektor energi dan material.

Para analis menyatakan, laporan ekonomi yang baik dan terhapusnya kekawatiran akan potensi gagal bayar Dubai World, memicu para investor untuk kembali ke lantai bursa.

The Institute for Supply Management mengatakan, aktivitas manufaktur masih tumbuh lambat pada November namun jumlah pesanan baru meningkat dan hal ini berhubungan dengan ketenagakerjaan.

Selain itu, pemberitaan mengenai grup industri Cina tentang meningkatnya aktivitas manufaktur pada November, juga menjadi pemicu naiknya indeks.

Sementara itu, the National Association of Realtors melaporkan, penjualan rumah naik pada Oktober dan menduduki level tertinggi sejak Maret 2006. Para ekonom memprediksikan sebaliknya.

Sedangkan Departemen Perdagangan memaparkan, belanja konstruksi berada pada level tertinggi dibulan Oktober lalu. Ini merupakan kenaikan pertama kalinya dalam enam bulan terakhir.

Pada penutupan perdagangan Selasa, Dow Jones naik 126,74 poin (1,2%) ke 10.471,58, S&P 500 naik 13,23 poin (1,2%) ke 1.108,86 dan Nasdaq naik 31,21 poin (1,5%) ke 2.175,81. [mre]