1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

krisfinalo ala dubai, glap akh … 021209 2 Desember 2009

Filed under: GREAT depression — bumi2009fans @ 8:09 am

Krisis Global Jilid II?
Rabu, 2 Desember 2009 – 07:44 wib

Dunia telah berulang kali mengalami krisis.Dari yang sifatnya regional ke yang bersifat global. Indonesia, misalnya, pernah mengalami krisis Asia pada 1997-1998.

Krisis ini bermula dari Thailand yang meski tidak menyebar jauh dari Asia Timur dan Asia Tenggara. Pemulihan krisis tersebut terjadi pada 1999 dan kemudian kita melihat kondisi perekonomian di Asia Timur dan Tenggara termasuk Indonesia terus membaik.Namun,pada 2008 dunia kembali dilanda krisis global yang dimulai dari negara maju yaitu Amerika Serikat. Seluruh dunia merasakan dampaknya. Krisis Asia Timur dan Asia Tenggara (termasuk Indonesia) pada 1997-1998 dimulai dengan krisis finansial yang kemudian menjalar ke krisis ekonomi. Untuk Indonesia, krisis ekonomi ini juga menjalar ke krisis sosial dan politik. Sementara krisis global 2008-2009 juga bermula dengan krisis finansial, kemudian diikuti dengan krisis ekonomi.Untungnya, tak ada dampak sosial dan politik yang berarti.

Sekarang banyak yang mengatakan bahwa krisis global sudah usai. Pendapatan nasional sudah meningkat lagi.Namun,sering pula dikatakan bahwa pemulihan baru terasa untuk sektor finansial. Sementara pemulihan sektor ekonomi terasa lebih lamban. Bahkan dampak sosial dari krisis ini masih terasa sampai sekarang. Dalam laporan UNDP yang terbaru (The Global Financial Crisis and the Asia-Pacific Region, 2009) dikatakan bahwa pemulihan sosial biasanya lebih lambat dari pemulihan ekonomi. Bahkan dampak sosial seperti nutrisi yang rendah pada anak-anak dapat berlangsung selama-lamanya.

Sementara itu, banyak pihak yang masih merisaukan kepulihan ekonomi ini.Sistem finansial dunia yang menjadi penyebab semua krisis masih sama dengan sebelum krisis. Sektor finansial selalu tumbuh cepat,jauh lebih cepat dari pertumbuhan sektor produksi.Padahal sektor finansial diperlukan untuk membantu tumbuhnya sektor produksi. Sektor finansial bagaikan minyak agar kendaraan bermotor dapat berjalan dengan baik.Ketika minyaknya terlalu banyak, kendaraan bermotor pun akan berjalan terseok-seok dan mungkin malah mogok. Itulah yang terjadi ketika sektor finansial melaju dengan pesat,meninggalkan pertumbuhan di sektor produksi. Hal ini telah berulang terjadi.

Pertumbuhan sektor finansial yang luar biasa, yang juga dicerminkan dengan pertumbuhan pendapatan nasional,akhirnya diikuti dengan krisis finansial. Lebih parah lagi, dinamika sektor finansial sering amat tergantung pada ?gosip?di kalangan investor di sektor keuangan.Ketika para investor ini kehilangan confidence, mereka beramai-ramai menjual surat berharga mereka. Sektor finansial jatuh dan akibatnya membuat confidencejatuh lebih jauh.Bank dapat berjatuhan sehingga perekonomian kena getahnya.

Ketika confidence para investor pulih, sektor finansial pun pulih kembali. Namun, tidak otomatis sektor produksi pulih. Memulihkan sektor produksi membutuhkan waktu yang lebih lama dari sekadar memupuk confidencepara investor. Sayangnya,sampai sekarang kita belum berhasil mengatur sektor yang dikuasai oleh ?gosip? para investor ini. Maukah perekonomian kita dan sektor sosial kita terus menerus dipengaruhi oleh gosip para investor ini? Kalau gosip mereka membuat sektor finansial berantakan, sektor ekonomi berantakan, dan sektor sosial kena dampak yang lama.

Kalau gosip mereka membaik, sektor finansial membaik, para investor berjaya lagi.Namun, sektor perekonomian mengikuti dengan lambat, dan sektor sosial akan mengikuti dengan jauh lebih lambat lagi. Tanpa perubahan fundamental dalam struktur finansial dunia, pola yang sama akan terus berulang. Sektor finansial tumbuh pesat,kemudian krisis,lalu terjadi pemulihan. Kemudian sektor finansial tumbuh pesat lagi, dan krisis lagi. Demikian seterusnya.Dengan integrasi finansial dan perekonomian yang makin kuat,krisis pun akan terjadi lebih meluas dan mendalam.Jarak dari satu krisis ke krisis lain pun akan makin pendek.

Krisis finansial dan ekonomi dikhawatirkan akhirnya membawa krisis sosial dan politik. Saat ini di beberapa negara sektor properti telah memberikan gejala memanas. Orang berlomba berspekulasi di sektor properti.Di beberapa negara inflasi mulai dikhawatirkan menjadi bahaya yang baru. Ini semua memberi tanda bahaya.Akan segera terjadi krisis lagi? Krisis global jilid II? Dan, tiba-tiba saja,Rabu yang lalu (25 November 2009), Dubai World, suatu konglomerasi milik Pemerintah Dubai, mengumumkan penundaan pembayaran utang mereka.

Hal ini menandakan konglomerasi ini mengalami kesulitan keuangan.Sontak berita ini membuat panik para investor. Mereka berlomba menjual surat berharga mereka.Namun, karena tanggal 27 hari libur (Idul Adha), disusul week-end, pasar finansial tutup dan tidak banyak informasi yang didapat dari Dubai. Pada Minggu (29 November) Pemerintah Uni Emirat Arab mencoba menenangkan para investor dengan mengatakan bahwa mereka akan membantu likuiditas sektor finansial di Dubai. Pekan ini adalah pekan yang menentukan. Kita akan melihat apakah krisis Dubai ini akan tetapdi Dubai saja, atau akan meluas ke Asia, Eropa, dan seluruh dunia.

Apakah menjadi krisis global jilid II? Semoga saja, krisis Dubai ini dapat ditahandiDubaidantidakmenjalar ke mana-mana.Apa pun hasilnya, tampaknya kita harus sudah segera membuat tatanan finansial dunia yang baru, yang tidak bergantung pada gosip para investor. Indonesia, pada khususnya, tidak perlu terburu buru mengintegrasikan sektor finansial kita ke sektor finansial dunia. Indonesia dapat memberi contoh untuk mengatur sektor finansial agar tidak tumbuh meninggalkan pertumbuhan sektor produksi. Sektor finansial perlu dikembalikan pada fungsi semula yaitu membantu pertumbuhan sektor produksi.

Janganlah sektor finansial menjadi sumber keuntungan tersendiri, terlepas dari sektor produksi, seperti yang selama ini terjadi, dan selalu menghasilkan krisis. Selain itu, untuk berjaga-jaga terhadap kemungkinan terjadinya krisis global jilid II, entah karena krisis Dubai atau krisis lainnya, Indonesia perlu untuk makin memperhatikan ekonomi dalam negeri. Pengintegrasian ekonomi dalam negeri menjadi jauh lebih penting daripada integrasi regional atau pun integrasi global. Dengan ketergantungan pada pasar dan faktor produksi yang besar di dalam negeri, kita dapat mengurangi dampak krisis global pada perekonomian dan sektor sosial kita.Krisis global jilid I jelas memperlihatkan bahwa kita diuntungkan karena dua hal.

Pertama, sektor finansial kita belum benar-benar terintegrasi ke sektor finansial dunia. Kedua, sumbangan ekspor kita juga masih rendah. (*)

Aris Ananta
Ekonom (Koran SI/Koran SI/rhs)
Pasar Keuangan dan Gaduhnya Politik

AFP/KARIM SAHIB
Seorang lelaki berjalan di depan kawasan bisnis Dubai di Teluk, Minggu (29/11). Krisis Dubai, yang dipicu penundaan pembayaran utang Pemerintah Dubai, diperkirakan akan berpengaruh pada pembukaan hari setelah libur panjang Lebaran Haji kali ini.
Artikel Terkait:
Perusahaan-perusahaan Dubai Jadi “Sampah”
Pemerintah Siapkan Insentif untuk Sektor Energi
Menkeu: Pelaku Pasar Tak Perlu Risaukan Krisis Dubai
Data Ekonomi Positif, Dubai Mereda, Rupiah Ceria
Kekhawatiran Dubai Mereda, Wall Street Terbang
SENIN, 7 DESEMBER 2009 | 07:16 WIB

MIRZA ADITYASWARA

KOMPAS.com – Dua pekan lalu, pasar keuangan internasional terkejut dengan permohonan penundaan pembayaran utang oleh Dubai World. Penundaan pembayaran utang sebesar 59 miliar dollar AS itu dapat memengaruhi kepercayaan kreditor kepada negara berkembang. Pasar keuangan di sejumlah negara sempat jatuh.

Syukurlah, pasar bangkit kembali setelah Pemerintah Abu Dhabi, tetangga Dubai, mengatakan siap membantu likuiditas perbankan akibat krisis Dubai World. Pemerintah Dubai lantas menyatakan, yang direstrukturisasi jadwal pembayaran utangnya hanya 26 miliar dollar AS sehingga pasar keuangan menjadi lebih lega.

Dalam situasi krisis, yang harus ditangani terlebih dahulu oleh otoritas perbankan adalah masalah psikologis pemilik dana, investor, dan deposan. Dalam situasi panik, kejatuhan bank kecil bisa menyebabkan krisis kepercayaan pada sistem perbankan. Contoh, Bank Sentral Inggris pada awal krisis kredit subprime, September 2007, terpaksa menginjeksi ”bank kecil”, Northern Rock, sebesar 3 miliar poundsterling. Karena krisis berlanjut, pada Januari 2008, injeksinya sudah mencapai 26 miliar poundsterling.

Di Amerika Serikat, Bank Sentral menginjeksi 1,4 triliun dollar AS, atau setara 10 persen dari PDB, ke sejumlah institusi selama September 2008-Februari 2009. Tujuannya demi stabilisasi sistem keuangan. Gubernur Bank Sentral Ben Bernanke juga dicecar oleh Kongres soal kebijakan penyelamatan itu.

Namun, langkah Kongres ini bukan untuk menjatuhkan Bernanke, hanya untuk menyempurnakan prosedur injeksi likuiditas. Bernanke bahkan akan dipilih kembali tahun 2010. Mungkin politisi di AS jauh lebih dewasa daripada di negara berkembang.

Setelah masalah Dubai beres, pasar keuangan akhir minggu lalu kembali menunjukkan optimisme oleh data pemulihan ekonomi global. Namun, utang Pemerintah AS yang naik tajam dengan suku bunga rendah (0,25 persen) membuat investasi di AS tidak menarik. Investor pun memindahkan dana jangka pendeknya ke negara berkembang dan pasar komoditas.

Akibatnya mulai timbul kekhawatiran. Jika aliran dana jangka pendek ke pasar keuangan negara berkembang terus bertambah, tetapi karena tidak didukung oleh pertumbuhan ekonomi, mungkin dua tahun atau lima tahun mendatang akan terjadi bubble economy seperti tahun 1996-1997, yaitu inflasi, kenaikan impor, kenaikan utang luar negeri, sehingga menimbulkan defisit neraca pembayaran. Selanjutnya para investor akan menarik dana dari negara berkembang, termasuk keluar dari Indonesia.

Pertumbuhan kredit perbankan Indonesia pada semester II-2009 ternyata di bawah perkiraan karena situasi politik kembali memanas. Situasi bubble ekonomi jangan sampai terjadi karena kita tidak mau setiap 5-10 tahun terkena krisis. Dalam 10 tahun ini, krisis keuangan di Indonesia telah terjadi tiga kali, yaitu yang pertama pada 1998-1999. Krisis kedua pada tahun 2005 yang disebabkan oleh krisis reksadana dan kenaikan harga minyak. Krisis ketiga pada September 2008-Maret 2009 yang disebabkan oleh krisis keuangan di AS.

Setiap krisis keuangan, yang menderita adalah rakyat kecil. Bukan politisi, bukan individu debitor hitam. Pelajaran dari perdebatan politik pro-kontra kebijakan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia atau BLBI (1998) dan penyelamatan Bank Century (November 2008), jika ada lagi krisis keuangan global, tidak akan ada Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia yang berani mengambil keputusan menyelamatkan sistem perbankan karena takut kebijakannya dipersalahkan di kemudian hari.

Pengalaman kasus BLBI 1998, para politisi dan penegak hukum cenderung mengejar pengambil kebijakan stabilisasi di BI dan Departemen Keuangan daripada mengejar para penyeleweng dana BLBI, yaitu para debitor hitam dan para eks pemilik bank bermasalah.

Kini datang era ketidakpastian stabilitas sektor keuangan di Indonesia. Dana jangka pendek investor asing di Sertifikat Bank Indonesia (SBI) saat ini Rp 46 triliun. Yang ada di Surat Utang Negara (SUN) Rp 100 triliun. Belum termasuk di pasar saham.

Tes pertama yang akan dihadapi nanti pada Februari 2010 adalah hasil investigasi politik di DPR atas kasus Bank Century, yaitu siapa pejabat yang dipersalahkan.

Tes kedua adalah pada saat Bank Sentral AS melakukan exit strategy, yaitu menaikkan suku bunga, mungkin pada semester II-2010. Perlu kita waspadai jika terjadi capital outflow dana jangka pendek kembali ke AS sehingga dikhawatirkan membuat kurs negara berkembang melemah.

Tes ketiga adalah pada saat harga minyak kembali menembus 100 dollar AS per barrel. Mungkin pada tahun 2011.

Tes keempat saat Pemerintah Indonesia harus memutuskan menurunkan penjaminan dana masyarakat di perbankan dari Rp 2 miliar kembali ke Rp 100 juta per nasabah. Kebijakan pada kuartal IV-2008 menaikkan penjaminan hanya sementara, demi menenangkan masyarakat pada saat krisis.

Investigasi kasus Century harus dilanjutkan, tetapi jangan dipolitisasi. Ada tiga hal yang dipisahkan, yaitu investigasi pada kelemahan pengawasan Bank Century periode 2003-2007, alasan kebijakan penyelamatan Bank Century pada November 2008, dan aliran dana likuiditas pascapenyelamatan.

Pasar keuangan paham bahwa kasus Century berbeda dengan kasus murni pembelaan masyarakat atas eksistensi Komisi Pemberantasan Korupsi (kasus Bibit-Chandra). Pada kasus investigasi Century, muatan politiknya kental karena dimulai dari DPR, bukan oleh lembaga hukum KPK.

Namun, pasar keuangan percaya bahwa DPR yang dipilih rakyat akan mengedepankan kebenaran dan hati nurani. Pemilu sudah selesai. Jabatan kabinet sudah juga usai, maka berikanlah stabilitas politik dan keamanan di negeri ini. Marilah kita lanjutkan reformasi tetapi juga bangun ekonomi, yaitu memberikan kecukupan pangan dan infrastruktur, pendidikan, kesehatan, serta kesempatan kerja kepada rakyat yang masih tertinggal.

Mirza Adityaswara, Analis Perbankan dan Pasar Modal

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s