1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

daripada MAEN SAHAM, mendingan (4) … 061209 6 Desember 2009

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 4:20 pm

Sukses di Usia Muda dengan Marketing yang Dahsyat
Minggu, 6 Desember 2009 – 13:34 wib
TEXT SIZE :

Tung Desem Waringin (Foto: dahsyat.com)
BERAPA besar modal yang Anda butuhkan untuk memulai dan membangun bisnis yang dahsyat? Kira-kira berapa usia yang ideal untuk bisa mulai membangun bisnis tersebut? Banyak orang masih ragu-ragu dan tidak segera beraksi untuk memulai sebuah bisnis antara lain karena dua hal terebut.

Merasa tidak memiliki modal yang cukup besar dan merasa usia masih terlalu muda atau sebaliknya, merasa terlalu tua. Untuk memulai suatu bisnis yang dahsyat, kita bisa memulainya dari modal yang kecil terlebih dahulu, bahkan di usia muda sekalipun.

Yang penting, kita harus benar-benar bertindak (action) untuk mewujudkannya, kemudian dalam perkembangannya kita bisa melakukan perbaikan dan pengembangan yang lebih dahsyat untuk jangka panjang yang lebih sukses. Hal ini telah dibuktikan oleh salah satu murid saya yang dahsyat, Hendy Setiono.

Di usia yang masih muda, 20 tahun, dia memulai untuk membangun bisnisnya dengan hanya bermodal Rp4 juta. Itu pun uang pinjaman. Namun, Hendy adalah pemuda yang sangat ulet, tangguh, dan berkomitmen (suka duka dijalani). Dengan modal yang seadanya, dia memulai real action dan membuka bisnisnya, baru kemudian melakukan perbaikan-perbaikan yang diperlukan untuk meningkatkan bisnisnya.

Yang tak kalah penting, dia senantiasa melakukan suatu kombinasi strategi marketingyang dahsyat. Pada akhirnya, seiring berjalannya waktu, dia bisa memperoleh perkembangan dan prestasi yang sangat dahsyat dalam bisnisnya.

Seperti yang pernah diutarakannya, “Saya Hendy Setiono, presiden direktur dari PT Babarafi Indonesia sekaligus pemilik kebab Turki Babarafi. Dengan belajar langsung dari motivator terheboh dan terbaik di Indonesia Bapak Tung Desem Waringin, saya juga ketularan virus menjadi dahsyat. Saya terpilih sebagai People of The Year 2006 versi majalah Tempo, mendapat liputan eksklusif dari BBC World sebagai 5 Entrepreneur Muda Sukses dari seluruh dunia dan Asia Best Entrepreneur under 25 Year old –majalah Business Week. Kalau saya bisa, Anda pun pasti bisa.”

Dari tahun ke tahun, semakin banyak prestasi yang diraih Hendy karena dia senang untuk belajar dari yang terbaik dan segera mempraktikkan ilmu yang didapatkannya, termasuk ilmu marketing. Salah satu aktivitas marketing yang dilakukan Hendy adalah membuat tagline yang dahsyat, “tak cukup hanya sekali”, sehingga orang/pelanggan akan mudah mengingatnya dan memberikan respons yang lebih positif bagi peningkatan penjualannya.

Kalau kita perhatikan hingga kini, tidak banyak pengusaha yang memperhatikan dengan serius mengenai hal tersebut. Perlu diketahui, untuk membuat tagline yang dahsyat memang bukan pekerjaan mudah.

Tentu saja, untuk meningkatkan pemasarannya, Hendy Setiono juga melakukan suatu totalitas yang dahsyat dalam menjalankan bisnisnya. Meskipun bukan keputusan yang mudah untuk memulai suatu bisnis dengan modal yang kecil di usia yang masih muda, Hendy sangat tangguh untuk berusaha membuka cabang selanjutnya dari keuntungan yang didapatkannya dari gerainya yang pertama.

Ini penting untuk kita ATM (amati, tiru, dan modifikasi) karena masih banyak orang ketika mendapatkan hasil dari bisnisnya yang pertama, hasilnya habis untuk keperluan yang mungkin sebenarnya tidak penting atau bahkan konsumtif, tidak disisihkan terlebih dahulu untuk pengembangan bisnis selanjutnya.

Filosofi “Berbuat untuk Berbagi” dari Hendy Setiono merupakan filosofi yang memungkinkan bisnisnya untuk bisa berkembang dengan lebih dahsyat. Keberhasilan suatu bisnis bukan hanya karena kerja keras dari owner-nya, tetapi juga karena kontribusi dari tim, karyawan, dan seluruh manajemen. Dengan filosofi seperti ini, kebab Turki Babarafi bisa berkembang lebih solid dan dahsyat. Oleh karena itu, di usia yang masih muda pun seseorang bisa memulai bisnisnya dan meraih kesuksesan. Anda harus yakin dan berkomitmen dengan apa yang ingin Anda lakukan.

Ketika Anda sudah action, perbaikan bisa dilakukan seiring berjalannya bisnis Anda. Praktikkan ilmu yang ada dalam Marketing Revolution secara detail dan dengan penuh komitmen. Niscaya, meski Anda masih muda, Anda bisa mendapatkan kesuksesan yang Anda impikan seperti yang telah banyak dialami peserta-peserta seminar saya. Ingat, “Learn from the best, do the best, miracle happens.”(*)

TUNG DESEM WARINGIN
Pelatih Sukses No 1 di Indonesia The most Powerful People and Ideas in Business 2005(Koran SI/Koran SI/jri)

Mahasiswa Enggan Geluti Bidang Usaha Mikro
Selasa, 01 Desember 2009 | 15:46 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta -Pusat Pengembangan Wirausaha Universitas Hasanuddin menyayangkan keengganan mahasiswa dan sarjana di Sulawesi Selatan untuk menggeluti usaha mikro.

Jumlah mereka yang serius terjun ke dunia usaha modal kecil ini tidak lebih dari satu persen setiap tahun. Ketua Pusat Pengembangan Wirausaha Unhas, M Asdar menjelaskan keengganan mengelola usaha mikro akan memperlambat pertumbuhan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah di Sulawesi Selatan.

Asdar memaparkan dari delapan ribu wisudawan setiap tahun, hanya satu persen yang menjadi wirausaha. Sisanya memilih mencari menjadi pegawai negeri dan swasta, atau lebih senang bersaing dengan 35 ribu pengangguran setiap tahun.

“Mahasiswa dan sarjana hanya bercita-cita menjadi pegawai ketimbang terjun di usaha mikro. Ini sangat disayangkan ketika potensi daerah lagi giat-giatnya digali,” kata Asdar kepada Tempo, Selasa (1/12).

Dari data 2005 – 2008 di Pusat Pengembangan Wirausaha Unhas, terlihat jumlah mahasiswa, sarjana dan masyarakat umum yang terjun di usaha mikro hanya mencapai 500 orang.

Kondisi ironis itu akan membuat potensi daerah yang kaya dengan hasil bumi tidak terkelola dengan baik. Bahkan dikhawatirkan daerah penghasil semen itu, akan diserbu pengusaha mikro dari Pulau Jawa dan Jakarta yang terbukti ulet dalam mengelola sumber alam dan limbah industri.

Melorotnya keinginan menjadi pengusaha mikro, jelas dia, karena faktor budaya dan mental yang dibenamkan sejak di bangku sekolah. Para pelajar dan mahasiswa diarahkan menjadi pekerja di lembaga pemerintah dan swasta.

“Tidak heran kalau setiap tahun banyak penggangguran potensial harus berlomba menjadi PNS atau pegawai swasta,” ungkap dia. Keengganan mahasiswa dan sarjana di Sulawesi Selatan itu, juga disebabkan tidak ada skema pembentukan usaha mikro dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah masing-masing.

Padahal skema usaha sangat dibutuhkan untuk menciptakan wiraswasta yang akan menyerap dan membuka lapangan kerja. Pembentukan skema usaha, tutur dia, harus mendapatkan stimulus dari anggaran negara atau APBN, Departemen Koperasi, dan perguruan tinggi dalam bentuk pelatihan dan pembinaan.

Saat ini ada beberapa komoditi unggulan Sulawesi Selatan yang menunggu sentuhan dari pengusaha mikro, yakni beras, jagung, kakao, rumput laut, tambak, peternakan, dan udang. Termasuk sektor pertambangan marmer, semen, dan batu bara.

Mahasiswa dan sarjana, sambung dia, juga dihadapkan pada masalah modal awal untuk memulai usaha mikro yang sulit diperoleh melalui perbankan. Dikatakannya, rata-rata pengusaha mikro pemula membutuhkan modal kerja antara Rp10 juta – Rp25 juta.

Termasuk belum ada lembaga penjamin khusus menangani pengusaha mikro pemula yang belum visible dan bankabel. Padahal sudah ada aturan dari Keppres Nomor 2/2008 dan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 222/2008, tentang pembentukan lembaga penjaminan dengan modal minimal Rp50 miliar.

“Kalau dari 23 kabupaten di daerah ini mengucurkan sedikitnya Rp2 miliar per daerah maka sudah bisa dibentuk lembaga penjamin dibawah kontrol pemerintah provinsi,” jelasnya.

Sebelumnya, Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo mengatakan, untuk menanggulangi kelangkaan wirausaha baru maka dibentuk Lembaga Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah yang bekerjasama dengan Bank Indonesia Cabang Makassar.

Lembaga dan bank akan bekerja untuk menjalankan program satu juta pengusaha 2010 – 2013. Program yang dikordinir Dinas Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah itu, untuk meningkatkan jumlah pelaku usaha menjadi dua persen dari total penduduk 7,2 juta jiwa setiap tahun.

SULFAEDAR PAY

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s