1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

kilas balek ihsg dalam ekspektasi PELUANG TRUSSSS donk … 061209 6 Desember 2009

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 9:23 am

Wahyu Sidarta
Associate Analyst Vibiz Research Center
Menyimak Perjalanan 5 Tahun IHSG
Jumat, 04 Desember 2009 11:01 WIB

Tutup Tahun 2005, Kinerja IHSG Terbaik di ASEAN

(Vibiznews – IDX Stocks) – Di tahun 2005, pasar saham mencatat prestasi yang cukup baik. Ini ditunjukkan dari kenaikan IHSG yang tertinggi wilayah Asean. IHSG sejak awal Januari sampai 28 Desember 2005 telah naik 16,39 persen. Melewati bursa Asean lain seperti Filipna yang naik 13,41 persen, Singapura naik 13,15 persen, Thailand naik 5,57 persen sedangkan Malaysia malah turun 1,31 persen.

Sedangkan untuk di wilayah Asia, indeks saham Indonesia mencatat peringkat terbaik ketiga setelah Jepang yang naik 40,96 persen dan Korea Selatan. IHSG di awal tahun di buka pada level 1.000,55 dan naik menjadi 1.162,64 sampai pada akhir perdagangan di tahun 2005.

Sedangkan di tahun 2006, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga mencatat prestasi yang luar biasa sepanjang tahun 2006. Pada penutupan perdagangan akhir tahun, IHSG ada di posisi tertingginya 1.805,52. Sedangkan pada penutupan tahun 2005 IHSG ada di level 1.162,64, ini berarti selama tahun 2006 IHSG mengalami kenaikan 642,88 poin atau 55,29 persen.

Pencapaian di penghujung 2006 ini menempatkan IHSG sebagai indeks saham tertinggi ketiga di dunia setelah Rusia dan China.

Menghadapi Kasus Subprime Mortgage, Investor Asing Mulai Mengincar Emerging Markets di Tahun 2007

Sentimen positif yang mendorong IHSG adalah BI rate masih stagnan di level 8,25%, antisipasi kinerja emiten akhir tahun 2007 yang bakal positif, dan window dressing. Sedangkan sentimen positif dari luar negeri diakibatkan oleh perkiraan akan diturunkannya suku bunga The Fed (Fed Fund Rate / FFR). Tetapi pada tanggal 6 Desember 2007, BI justru memutuskan untuk menurunkan suku bunganya sebesar 0,25 basis poin dari 8,25% menjadi 8,00%.

Di tengah kasus subprime mortgage yang terjadi di AS, bursa saham secara global mengalami tekanan, sehingga investor mulai mengincar investasi di emerging markets, yang salah satunya adalah Indonesia. Hal tersebut berakibat banyaknya dana asing terus mengalir ke Indonesia. IHSG dibuka pada level 1.813,45 di awal tahun dan ditutup pada level 2745,83 di akhir 2007 atau melejit 52,08 persen dari penutupan di tahun 2006.

Walaupun fundamental makro ekonomi di dalam negeri saat itu cukup stabil, namun tidak pada Amerika Serikat yang pada saat itu sedang menghadapi kesulitan ekonomi. Dan ternyata di tahun 2008, Amerika Serikat jatuh ke dalam resesi terparah sejak perang dunia ke-2 silam dan yang pastinya berimbas ke seluruh dunia, karena AS mempunyai peranan penting di perekonomian global.

Nasib IHSG di tahun 2008 Mengenaskan, Emiten Tambang Biang Keladinya

Secara keseluruhan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang 2008, cukup mengenaskan. Memang, IHSG sempat mencetak rekor tertingginya di level 2.830 pada Januari 2008, tetapi akhir tahun, indeks kembali tergeletak pada angka 1.340, atau tergerus 51,17 persen.

Jatuhnya IHSG tak terlepas dari merosotnya harga saham emiten papan atas (blue chips). PT Bumi Resources Tbk (BUMI) tercatat sebagai emiten yang paling banyak menggerus indeks. Pada awal tahun 2008, harga saham produsen batubara terbesar di Indonesia itu masih Rp 6.000 per saham. Tapi pada akhir 2008, harga saham BUMI hanya Rp 910 per saham. Artinya, harga saham BUMI tergerus 84,83 persen dalam jangka waktu setahun saja. Faktor utama penggerak harga BUMI adalah harga komoditas, dimana sewaktu harga komoditas meroket, saham BUMI mencetak rekor Rp 8.850 per saham di tahun 2008. Sebaliknya, ketika harga komoditas ambruk, saham BUMI pun terpuruk. Saham anak usaha PT Bakrie & Brothers ini pun sempat menyentuh Rp 710 per saham. Tercatat di tahun tersebut, BUMI telah menggerus IHSG sebanyak 128.53 poin.

Emiten kedua yang juga tercatat sebagai penggerus indeks terbesar adalah PT. International Nickel Indonesia Tbk (INCO). Produsen nikel ini berhasil menyumbang terhadap penurunan IHSG hingga 104,159 poin, dimana harga saham INCO melorot 79,63 persen dari Rp 9.625 per saham pada awal 2008 menjadi Rp 1.960 per saham pada akhir tahun.

Peringkat ketiga pemotong indeks adalah produsen otomotif Indonesia, PT Astra Internasional Indonesia Tbk (ASII). Ia berhasil memangkas 89,768 poin terhadap IHSG.

Secara umum, sepuluh emiten penggerus bursa dan sepuluh emiten dengan kinerja saham terburuk didominasi oleh emiten Grup Bakrie. Pada daftar sepuluh emiten berkinerja terburuk, tercatat nama PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), PT Darma Henwa Tbk (DEWA), BNBR hingga PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP). Artinya, empat saham emiten Grup Bakrie banyak menyumbang kerugian. PT Bakrie Development Tbk (ELTY) menempati urutan 11, dan BUMI menempati ranking 16 emiten berkinerja saham terburuk.

Awal Yang Cerah di Tahun 2009, Namun Sedikit Kelam di Akhir Tahun

Tahun 2009 sebentar lagi berakhir, banyak peristiwa penting yang mewarnai perjalanan IHSG sepanjang tahun ini. Setelah krisis 2008 lalu, awal tahun 2009 merupakan awal yang baik dimana ekonomi global mulai bangkit, namun mendekati akhir tahun justru ada kejadian yang mengejutkan yaitu ancaman krisis ekonomi global ke-2. Ancaman tersebut datang dari krisis finansial Timur Tengah yang terjadi di Dubai, Uni Emirat Arab (U.A.E).

Di awal bulan Maret 2009, secara keseluruhan pasar modal global mulai beranjak dari level terbawahnya akibat paket stimulus yang diluncurkan oleh hampir semua negara dalam upaya memerangi krisis yang terjadi. IHSG dibuka pada level 1.377,45 di awal tahun secara keseluruhan bergerak naik sampai akhir November ini, IHSG sempat menguat ke level tertingginya tahun ini di level 2.559,67 di bulan Oktober 2009 dan ditutup pada level 2.415,84 pada akhir November 2009.

Trend kenaikan yang terjadi lebih disebabkan oleh tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia yang telah membaik dengan menjadi peringkat ketiga setelah China dan India. Derasnya capital inflow yang masuk ke Indonesia juga membuat nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing cenderung menguat, yang dimana mengindikasikan bahwa capital inflow yang masuk ke Indonesia masih dikategorikan sebagai “Hot Money”.

Lalu terjadilah suatu peristiwa yang membuat dunia sport jantung pada tanggal 30 November lalu, yaitu krisis finasial di Dubai World, Uni Emirat Arab. Kasus gagal bayar Dubai World berpotensi menimbulkan terjadinya gelombang krisis ekonomi global ke-2 apabila kasus tersebut tidak diselesaikan dengan cepat dan tepat. Dampak krisis jelas mampu mempengaruhi perekonomian Indonesia mengingat Indonesia merupakan negara yang terbuka terhadap investasi asing, akan banyak investor yang memindahkan dananya dari Indonesia dan ini bisa menekan nilai tukar rupiah terhadap US Dollar.

Namun Bank Nasional U.A.E tidak tinggal diam, mereka menyatakan bahwa mereka akan membantu kesulitan likuiditas pada bank – bank di Dubai. Hal ini sedikit melegakan investor, IHSG sempat merosot ke level 2.370,53 pada tanggal 30 November lalu. Namun kondisi Dubai World saat ini masih belum sepenuhnya jelas, sehingga para investor di bursa saham lokal perlu berhati- hati.

Mari kita lihat selanjutnya apa yang akan terjadi di Dubai, apakah hanya kepanikan yang berlebihan? Atau justru dapat menenggelamkan dunia ke dalam krisis ekonomi global episode ke-2.

(Wahyu Sidarta/WS/vbn)

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s