1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

3 aturan baru right issue di bapepam-lk … 111209 11 Desember 2009

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 6:23 pm

Bapepam Revisi 3 Aturan Soal HMETD
Jum’at, 11 Desember 2009 – 15:24 wib

Ade Hapsari Lestarini – Okezone

JAKARTA – Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) mengeluarkan tiga pokok perubahan yang diatur dalam peraturan mengenai penambahan modal tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD).

Hal tersebut diungkapkan Ketua Bapepam-LK Fuad Rahmany, seperti dikutip dalam situs resmi Bapepam-LK di Jakarta, Jumat (11/12/2009).

Pokok perubahan yang diatur dalam peraturan tersebut, pertama mengubah persyaratan bagi emiten atau perusahaan publik yang dapat menambah modal tanpa memberikan HMETD menjadi penambahan modal hanya dapat dilakukan dalam jangka waktu dua tahun dengan penambahan modal paling banyak 10 persen dari modal disetor.

Kedua, mengubah nilai persentase bagi bank yang akan menambah modal tanpa memberikan HMETD dengan persyaratan bank tersebut menerima pinjaman dari Bank Indonesia (BI) atau lembaga pemerintah lain yang jumlahnya lebih dari 100 persen dari modal disetor atau kondisi lain yang dapat mengakibatkan restrukturisasi bank oleh instansi pemerintah yang berwenang.

Kemudian, ketiga, menambah ketentuan baru mengenai kewajiban memberitahukan kepada Bapepam-LK serta mengumumkan kepada masyarakat mengenai waktu pelaksanaan penambahan modal tanpa HMETD dan hasil pelaksanaan penambahan modal tersebut.

Ini sesuai dengan peraturan Nomor IX.D.4 lampiran Keputusan Ketua Bapepam-LK Nomor: Kep-429/BL/2009 tentang penambahan modal tanpa HMETD.

Peraturan tersebut merupakan perubahan atas peraturan yang telah ada sebelumnya dalam rangka meningkatkan akses pembiayaan dari pasar modal bagi emiten atau perusahaan publik, sehingga dapat membuat pasar modal sebagai pilihan alternatif sumber pembiayaan yang lebih kompetitif bagi dunia usaha dan mendorong peningkatan kepemilikan publik secara lebih meluas atas perusahaan terbuka. (ade)

Iklan
 

akhir pekan kedua desember 09 ditutup hepi lah … 111209

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 6:04 pm

11/12/2009 – 16:51
Sentimen Eksternal Kompak Angkat IHSG
Asteria

… ihsg 2500 maseh menjadi TARGET baek bwat analis pro yang optimis maupun yang pesimis, coba baca 2 link ini : http://sahambbri.wordpress.com/2009/12/11/pertumbuhan-kredit-bonsai-2009-111209/; https://transaksisaham.wordpress.com/2009/10/13/di-bawah-2500-ihsg-bermanuver-ria-131009/

… yang pesimis cuma ihsg 2500 karena alasan tingkat penyerapan kredit usaha yang rendah yaitu jauh di bawah 15% p.a.
INILAH.COM, Jakarta – Akhir pekan ini di lantai bursa cukup menggembirakan, karena IHSG berhasil ditutup di zona hijau. Sentimen positif eksternal dan internal secara kompak mengangkat bursa.

Pada perdagangan Jumat (11/12), IHSG ditutup menguat hingga 32,662 poin (1,31%) ke level 2.519,099. Indeks LQ 45  menguat 6,991 poin (1,42%) ke level 498,408 dan Jakarta Islamic Indeks  naik 6,44 poin ke 417,56.

Bursa saham Indonesia dibuka menguat 0,74% ke level 2.504 dan bergerak flat hingga sesi siang. Namun, pada sesi siang, aksi beli mulai marak. IHSG pun bergerak naik dan ditutup di level 2.519. IHSG menguat, didukung kenaikan bursa regional yang merespon positifnya bursa AS.

Data tentang defisit perdagangan AS yang turun sepanjang Oktober, mengindikasikan bahwa recovery ekonomi bertahan. “Dow Jones menguat, membawa regional naik. Hal ini berimbas positif bagi IHSG,” ujar Budi Ruseno, analis dari Bhakti Securities.

Saham-saham di Wall Street menguat, seiring defisit perdagangan Oktober yang turun 7,6% menjadi US$32,9 miliar. Sementara analis memperkirakan defisit naik menjadi US$36,8 miliar. Total defisit perdagangan Oktober mencapai US$304 miliar dari US$611 miliar. Ekspor naik 2,6% menjadi US$136,8 miliar dan impor naik 0,4% menjadi US$169,8 miliar.

Selain itu, lanjutnya, meredanya kekhawatiran akibat memanasnya kondisi politik dalam negeri, serta aksi korporasi emiten dan penawaran saham perdana dua emiten baru, mengiringi penguatan indeks lebih lanjut. “Pelaku pasar pun lebih bergairah melakukan aksi beli,” ujarnya.

Bursa menguat dengan semua sektor menghijau. Sektor infrastruktur memimpin penguatan dengan naik 2,65%, manufaktur 1,2%, properti 1,1%, finansial dan perdagangan 0,9%. Demikian pula sektor tambang yang naik 0,8%, konsumsi dan industri dasar terangkat 0,7% serta perkebunan naik 0,25%.

Perdagangan terpantau cukup tipis, dengan volume transaksi tercatat 3.529 juta lembar saham senilai Rp2.414 triliun dan frekuensi 70.660 kali. Sebanyak 119 saham naik, 54 turun dan 74 stagnan.

Beberapa emiten yang menguat antara lain PT Astra International (ASII) naik Rp750 menjadi Rp34.000, PT Dian Swastatika Sentosa (DDSA) naik Rp600 ke posisi Rp2.800,PT Telkom (TLKM) naik Rp350 menjadi Rp9.800, PT Gudang Garam (GGRM) naik Rp600 menjadi Rp19.900, dan PT Bukit Asam (PTBA) naik Rp250 menjadi Rp17.300.

Demikian juga saham PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) berakhir naik naik Rp100 menjadi Rp7.850, PT Semen Gresik (SMGR) naik Rp100 menjadi Rp7.350, PT United Tractors (UNTR) naik Rp100 menjadi Rp15.300, serta PT Indo Tambangraya (ITMG) naik Rp300 ke Rp29.000.

Sedangkan emiten-emiten yang melemah antara lain PT Samudera Indonesia (SMDR) turun Rp200 ke posisi Rp3.850, PT Tri Polyta (TPIA) melemah Rp125 ke Rp2.450, PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN) terkoreksi Rp100 menjadi Rp3.750, dan Tunas Ridean (TURI) anjlok Rp60 menjadi Rp1.750.

Demikian pula saham PT Lippo Karawaci (LPKR) turun Rp10 menjadi Rp520, PT Energi Mega Persada (ENRG) melemah Rp5 menjadi Rp205, dan PT Bakrie Sumatera Plantations (UNSP) terkoreksi Rp10 ke Rp700.

Penguatan IHSG didukung terapresiasinya bursa regional Asia. Indeks Komposit Shanghai naik 6,95 poin (0,21%) ke level 3.247,32, indeks Hang Seng menguat 202,07 poin (0,93%) ke level 21.902,11, indeks Nikkei-225 menguat 245,05 poin (2,48%) ke level 10.107,87 dan indeks KOSPI naik 4,17 poin (0,25%) ke level 1.656,9. [mdr]

Jumat, 11/12/2009 16:10 WIB

IHSG naik 32,66 basis poin menjadi 2.519,18

oleh : Sylviana Pravita R.K.N.

JAKARTA (bisnis.com): Penutupan perdagangan saham hari ini yang ditopang oleh kenaikan harga saham TLKM dan ASII sejak pembukaan sesi I akhirnya berujung pada kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 32,66 basis poin (1,3%) menjadi 2.519,18.

Nilai ekspor AS dan China yang di atas ekspektasi menjadi katalis bagi pergerakan regional dan turut berkontribusi mendongkrak IHSG pada perdagangan hari ini.

Sebanyak 117 saham naik, 54 saham turun dan 222 saham tidak berubah pada perdagangan saham hari ini. Saham-saham yang naik yaitu, TLKM naik Rp350 menjadi Rp9.800, ASII naik Rp750 menjadi Rp34.000, BBCA naik Rp75 menjadi Rp4.825, PGAS naik Rp75 menjadi Rp3.975, BBRI naik Rp100 menjadi Rp7.850.

Selanjutnya, GGRM naik Rp600 menjadi Rp19.900, BMRI naik Rp50 menjadi Rp4.675, ADRO naik Rp20 menjadi Rp1.750, SMGR naik Rp100 menjadi Rp7.350 dan PTBA naik Rp250 menjadi Rp17.300.

Saham-saham yang mengalami penurunan adalah BNLI turun Rp90 menjadi Rp810, RMBA turun Rp30 menjadi Rp630, KLBF trun Rp10 menjadi Rp1.270 dan TPIA turun Rp125 menjadi Rp2.450.

bisnis.com

Jumat, 11/12/2009 16:14 WIB
IHSG Melaju ke 2.519 dalam Transaksi Minimalis
Nurul Qomariyah – detikFinance

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menguat signifikan ditengah menguatnya bursa-bursa regional. IHSG berhasil bertahan di level 2.500 dalam transaksi yang tipis.

Pada perdagangan Jumat (11/12/2009), IHSG ditutup menguat hingga 32,662 poin (1,31%) ke level 2.519,099. Indeks LQ 45 juga menguat 6,991 poin (1,42%) ke level 498,408.

Bursa-bursa regional juga bergerak menguat mengikuti jejak Wall Street tadi malam:
Indeks Komposit Shanghai naik 6,95 poin (0,21%) ke level 3.247,32.
Indeks Hang Seng menguat 202,07 poin (0,93%) ke level 21.902,11.
Indeks Nikkei-225 menguat 245,05 poin (2,48%) ke level 10.107,87.
Indeks KOSPI naik 4,17 poin (0,25%) ke level 1.656,9.
Perdagangan di seluruh pasar sangat tipis dengan frekuensi transaksi hanya 70.660 kali pada volume 3.529 juta lembar saham senilai Rp 2.414 triliun. Sebanyak 119 saham naik, 54 saham turun dan 74 saham stagnan.

Saham-saham paling aktif yang naik harganya di top gainer antara lain Astra International (ASII) naik Rp 750 menjadi Rp 34.000, Telkom (TLKM) naik Rp 350 menjadi Rp 9.800, Gudang Garam (GGRM) naik Rp 600 menjadi Rp 19.900, PTBA naik Rp 250 menjadi Rp 17.300, BRI (BBRI) naik Rp 100 menjadi Rp 7.850, Semen Gresik (SMGR) naik Rp 100 menjadi Rp 7.350, United Tractor (UNTR) naik Rp 100 menjadi Rp 15.300, Indo Tambangraya (ITMG) naik Rp 300 menjadi Rp 29.000.

Sedangkan saham paling aktif yang turun harganya di top loser antara lain Tunas Ridean (TURI) turun Rp 60 menjadi Rp 1.750, Lippo Karawaci (LPKR) turun Rp 10 menjadi Rp 520, Energi Mega Persada (ENRG) turun Rp 5 menjadi Rp 205, Bakrie Sumatera Plantations (UNSP) turun Rp 10 menjadi Rp 700. (qom/qom)

 

daripada maen saham, mendingan (5)… 111209

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 7:47 am

Jumat, 11 Desember 2009 | 06:15

BISNIS CETAK FOTO 3D

Bisnis Cetak Foto 3 Dimensi Terus Berkembang

Bisnis fotografi semakin berkembang seiring makin majunya teknologi. Contohnya adalah cetak foto digital tiga dimensi (3D). Teknologi ini sebenarnya sudah ada sejak lama, namun harus diproduksi secara massal karena mesinnya terlampau mahal.

Tapi, di tangan Hendri Jana, teknologi 3D bisa ia kembangkan untuk mencetak foto dan lukisan 3D tanpa harus memproduksinya secara massal. Untuk mendukung usahanya, ia mendirikan usaha cetak foto tiga dimensi sejak Maret 2009. “Namun baru saya mulai tawarkan ke pelanggan sejak satu bulan ini,” katanya.

Hendri membanderol harga foto 3D ditempatnya mulai dari Rp 25.000 sampai Rp 1,5 juta per unit. Adapun untuk lukisan 3D ia berikan harga Rp 10.000 sampai Rp 500.000. “Tergantung dari ukuran foto dan kualitas ketajaman gambar,” katanya. Meski baru satu bulan Hendri mengkomersialkan usahanya, Hendri sudah mampu meraup omzet tak kurang dari Rp 50 juta di bulan pertamanya ini.

Agar usahanya lebih berkembang, seiring peluncuran usaha cetak 3D nya ini, Hendri sekaligus menawarkan sistem peluang bisnis atau business opportunity (BO). Hendri menyediaan dua paket BO, paket mini studio senilai Rp 35 juta, dan paket studio foto dengan nilai Rp 59 juta.

Saat ini, Hendri mengaku sudah ada beberapa calon mitra yang tertarik bekerjasama dengannya. “Awal tahun depan, mungkin sudah ada cabang baru yang dikelola mitra,” ungkap Hendri.

Rizki Caturini kontan
… coba liat2 link ini : http://www.3dphoto.net/world/latin_america/chile/easter/easter.html; http://www.3dphoto.net/

 

saat pemulihan global dipertanyakan, maseh, light @ the end of tunnel seen…

Filed under: JUAL beli HARIAN — bumi2009fans @ 7:39 am

order jual antm:
2350
order beli antm:
2175
———————————- saham lain
order jual bumi:
2700
order beli bumi:
2425
order beli bumi tambahan:
2500
———————————- saham lain
order jual adro:
1770
order beli adro:
1700
order beli adro tambahan:
1720
order jual adro tambahan:
1750
order beli adro tambahan:
1730
order jual adro revisi:
1780
———————————- saham lain
order jual bbri:
7900
order beli bbri:
7600
———————————- saham lain
order jual bnii:
360
order beli bnii:
345
———————————- saham lain
order jual elsa:
320
order beli elsa:
305
order jual elsa:
320 full matched
———————————- saham lain
order jual trub:
139
order beli trub:
132
———————————- saham lain
order jual indy:
2200
order beli indy:
2025
order beli indy revisi:
2075
———————————- saham lain
———————————- saham lain
Jumat, 11 Desember 2009 | 12:11

PASAR SAHAM

IHSG Kembali ke Level Psikologis di 2.500

JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil kembali ke zona psikologisnya di level 2.500. Sentimen dari global dan regional yang positif dan aksi beli di saham-saham unggulan menjadi pemicu. IHSG pada penutupan perdagangan sesi I Jumat (11/12), naik 0,74% ke level 2.504,781.

Setelah bahan bakar baru dari perdagangan perdana saham PT Bumi Citra Permai Tbk (BCIP) di Bursa Efek Indonesia (BEI) terhenti, karena BCIP mengalami auto rejection. Bahan bakar lain muncul dari aksi beli investor terhadap saham-saham unggulan seperti PT Astra International Tbk (ASII) dan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM).

Perdagangan membukukan 82 saham harganya naik, 37saham harganya turun, dan 82 saham harganya tidak mengalami perubahan. Volume transaksi perdagangan sebesar 1,848 miliar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp 1,2 triliun.

Selain itu, membaiknya data perekonomian Amerika Serikat (AS) ikut mendongkrak Wall Street. Angka klaim pengangguran rata-rata yang masih sesuai ekspektasi dan menyusutnya defisit neraca perdagangan AS sebesar 7,6% membuat indeks Dow Jones naik 0,67% ke level 10.405,83.

Mayoritas bursa utama Asia juga masih melanjutkan menguat. Indeks Nikkei 225 naik 1,71% ke level 10.031,39, indeks Hang Seng naik 1,68% ke level 22.063,81, indeks Shanghai naik 0,19% ke level 3.260,413, indeks Kospi naik 0,36% ke level 1.658,66, dan indeks Strait Times naik 0,55% ke level 2.797,23.

Saham-saham yang harganya naik dan berhasil masuk daftar saham top gainers dalam rupiah adalah; PT Gudang Garam Tbk (GGRM) naik 3,11% menjadi Rp 19.900, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) naik 24,44% menjadi Rp 2.800, PT Astra International Tbk (ASII) naik 1,5% menjadi Rp 33.750, PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) naik 0,7% menjadi Rp 28.900, dan PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP) naik 1,95% menjadi Rp 10.450.

Sedang saham-saham yang harganya turun paling besar dan masuk jajaran top losers dalam rupiah adalah; PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) turun 4,49% menjadi Rp 3.850, PT Intikeramik Alamsari Industri Tbk (IKAI) turun 17,17% menjadi Rp 820, PT Tri Polyta Indonesia Tbk (TPIA) turun 5,83% menjadi Rp 2.425, PT PP London Sumatera Tbk (LSIP) turun 1,18% menjadi Rp 8.400, dan PT Bank Tabungan Pensiun Negara Tbk (BTPN) turun 1,95% menjadi Rp 3.775.

Sopia Siregar
11/12/2009 – 13:27
Regional Dongkrak Bursa Tembus 2.500
Ahmad Munjin

(inilah.com /Wirasatria)
INILAH.COM, Jakarta – Indeks harga saham gabungan (IHSG) menjelang akhir pekan ini terus menunjukkan penguatan, menembus level 2.500. Hal ini didukung sentimen positif dari bursa regional dan global.

Pada perdagangan Jumat (11/12) sesi pertama, IHSG menguat hingga 18,344 poin (0,74%) ke level 2.504,781. Indeks LQ 45 naik 3,896 poin (0,79%) ke level 495,313. Perdagangan masih sepi dengan volume transaksi 1,847 miliar lembar, senilai Rp 1,198 triliun dan frekuensi 37.048 kali. Sebanyak 82 saham naik, 37 turun dan 82 stagnan.

Hampir semua sektor menguat, kecuali perkebunan yang masih memerah. Sedangkan sektor aneka industri terpantau naik 1,5%, disusul sektor infrastruktur menguat 1,1%, konsumsi dan manufaktur 0,9%, finansial dan properti 0,8%, perdagangan 0,4%, tambang 0,3% dan industri dasar 0,25%.

Gina Novrina Nasution, riset analis dari Reliance Securities memperkirakan pergerakan indeks pada sesi siang akan menguat lebih tinggi, ketimbang sesi pertama. Positifnya sentimen dari market regional dan global menjadi penopangnya. “IHSG akan berada di level resistance 2.518 dan 2.488 sebagai level support-nya,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Jumat (11/12).

Penguatan indeks regional Asia dipicu data-data perekonomian global yang positif. Salah satunya adalah respon terhadap Menteri Keuangan AS, Timothy Geithner yang memperpanjang program dana talangan US$700 miliar hingga Oktober 2010. “Meski hanya menggunakan US$550 miliar dari total dana tersebut, pasar merespons positif,” ujarnya.

Perpanjangan program tersebut adalah Troubled Asset Relief Program (TARP) hingga 3 Oktober 2010. Geithner mengatakan, Pemerintahan Obama akan menggunakan dana tersebut untuk memerangi penyitaan rumah dan meningkatkan penyaluran kredit ke pelaku usaha kecil.

Perpanjangan program dapat membantu keluarga Amerika dan menstabilkan pasar keuangan. Selain melanjutkan kebijakan yang bertujuan memulihkan pasar perumahan, membantu pelaku usaha, dan antisipasi menghadapi ancaman yang mungkin datang.

Selain itu, lanjut Gina, indeks global juga mendapat angin segar dari data kepercayaan konsumen di Inggris yang tetap mendekati level tertinggi 1,5 tahun pada November terkait pembeli yang sangat mengharapkan prospek ekonomi di 2010. “Nationwide Building Society merilis indeks sentimen konsumen di level 73 atau sama seperti Oktober,” imbuhnya.

Sedangkan di pasar domestik, IHSG mendapat topangan dari penguatan nilai tukar rupiah yang saat ini berada di level 9.430. “Artinya, capital inflow ke pasar domestik sedang berlangsung dan sangat positif bagi pasar,” tandasnya.

Saham-saham yang menjadi penggerak indeks siang ini berasal dari sektor pertambangan dan infrastruktur. Sedangkan saham-saham pilihannya adalah PT Adaro Energy (ADRO), PT Bank Mandiri (BMRI), PT Astra Internasional (ASII), PT United Tractors (UNTR), PT Bumi Resources (BUMI), dan PT International Nickel (INCO). “Saya rekomendasikan akumulasi buy untuk saham-saham tersebut,” pungkasnya.
Siang ini, emiten-emiten yang menguat antara lain PT Gudang Garam (GGRM) naik Rp600 menjadi Rp19.900, PT Dian Swastatika Sentosa (DSSA) menguat Rp550 ke Rp2.800, PT Astra International (ASII) terangkat Rp500 menjadi Rp 33.750, PT Indo Tambangraya Megah (ITMG) naik Rp200 ke Rp28.900, PT Telkom (TLKM) naik Rp150 menjadi Rp9.600, PT Semen Gresik (SMGR) menguat Rp100 menjadi Rp7.350, dan PT Bank Central Asia (BBCA) naik Rp100 menjadi Rp4.850.

Sedangkan bursa-bursa regional mayoritas juga bergerak menguat. Indeks Nikkei-225 naik 73,59 poin ke level 9.936,4, indeks Hang Seng menguat 96,791 poin ke level 21.796,83 dan indeks Straits Times menguat 7,22 poin ke level 2.789,08. [ast/mdr]
———————————- saham lain
Jumat, 11/12/2009 08:05 WIB
Istana Bantah Ada Perpecahan di Kabinet
Rachmadin Ismail – detikNews

Jakarta – Tekanan bertubi-tubi kepada Sri Mulyani dan Boediono dalam kasus Bank Century dikabarkan membuat sebagian menteri yang mendukung keduanya gerah. Bahkan sempat beredar isu ada yang anggota Kabinet Indonesia Bersatu II (KIB II) yang akan mundur. Benarkah?

“Nggak ada, itu isu liar. Kabinet masih kompak,” kata juru bicara Presiden SBY, Julian Aldrin Pasha, saat dikonfirmasi lewat telepon, Jumat (11/12/2009).

Isu perpecahan tersebut beredar lewat pesan singkat pada wartawan tentang adanya perpecahan serius di kalangan para menteri. Mereka yang pro terhadap Sri Mulyani dan Boediono mengancam akan mengundurkan diri. Sementara, terkait isu ini, Presiden SBY dan Menko Perekonomian Hatta Rajasa mulai panik. Belum jelas darimana pesan singkat tersebut berhembus.

Julian menegaskan, kondisi terakhir kabinet tetap solid. Dalam pembicaraannya dengan Presiden SBY dan Menko Perekonomian Hatta Rajasa Kamis malam, tidak ada pembahasan soal kabar perpecahan tersebut.

“Saya tadi malam ngobrol-ngobrol biasa saja. Tidak ada apa-apa,” tegasnya.

(mad/nrl)

———————————- saham lain
Jumat, 11/12/2009 07:27 WIB
IHSG Tak Mau Banyak Gerak
Nurul Qomariyah – detikFinance

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin akhirnya ditutup menguat setelah sempat terjatuh-jatuh ke teritori negatif. Penguatan saham Telkom dan Astra memberi kontribusi besar bagi penguatan IHSG.

Pada perdagangan Kamis (10/12/2009), IHSG ditutup menguat 5,140 poin (0,21%) ke level 2.486,437. Penguatan IHSG hanya didorong transaksi yang sangat tipis yakni senilai Rp 2,743 triliun.

Pola pergerakan IHSG yang tipis diprediksi akan kembali terulang pada perdagangan akhir pekan ini. IHSG pada perdagangan Jumat (11/12/2009) diprediksi bergerak sempit dengan kecenderungan menguat tipis.

Investor memilih untuk wait and see menjelang akhir tahun di tengah kabar pasar yang tidak signifikan. Namun potensi penguatan IHSG masih ada dari sentimen penguatan bursa-bursa utama dunia. Bursa Wall Street kemarin ditutup menguat berkat angka pengangguran yang membaik dan menyempitnya defisit neraca perdagangan AS.

Pada perdagangan Kamis (10/12/2009), indeks Dow Jones naik 68,78 poin (0,67%) ke level 10.405,83. Indeks Standard & Poor’s 500 juga menguat tipis 6,40 poin (0,58%) ke level 1.102,35 dan Nasdaq menguat 7,13 poin (0,33%) ke level 2.190,86.

Bursa Tokyo juga membuka perdagangan akhir pekan ini dengan menguat, setelah kemarin terpuruk akibat menguatnya yen. Indeks Nikkei-225 dibuka naik 95,18 poin (0,97%) ke level 9.958.

Wall Street Berpacu Mengejar Ketertinggalan
Jum’at, 11 Desember 2009 – 07:16 wib

Rani Hardjanti – Okezone
NEW YORK – Indeks saham di Bursa Wall Street menapaki rebound dengan rasa percaya diri. Kepercayaan itu timbul menyusul baiknya data ketenagakerjaan dan birunya rapor neraca perdagangan.

Berdasarakan data yang dirilis Departemen Tenaga Kerja Amerika, jumlah pengangguran memang mengalami kenaikan. Namun, kenaikan itu tidak signifikan dan secara keseluruhan masih dalam tren membaik. Di mana pada bulan sebelumnya mengalami kejatuhan terburuk sejak September 2009.

Secara terpisah, defisit neraca perdagangan Amerika tercatat mengalami penurunan 7,6 persen. Penurunan ini disebabkan hikmah dari pelemahan dolar Amerika. Pasalnya, dengan murahnya harga dolar justru mampu mendongkrak nilai ekspor. Dengan demikian, mampu menggenjot permintaan produk Amerika di pasar dunia.

“Klaim data pengangguran yang pasti mampu mendorong pasar bergerak menguat dan saham konsumer. Sentimen ini benar-benar mengatur arah pasar hari ini,” kata Pialang Senior Wedbush Morgan Michael James, di Los Angeles, seperti dikutip Reuters, Jumat (11/12/2009).

Akibatnya, Indeks Dow Jones pada perdagangan Kamis 10 Desember waktu setempat mengalami penguatan 68,78 poin atau 0,67 persen ke posisi 10.405,83. Penguatan yang cukup tajam ini mendorong bursa Wall Street untuk mengejar ketertinggalan, setelah pada awal pekan ini sempat terpuruk. Sementara Indeks S&P 500 ditutup naik tipis 6,4 persen atau 0,58 persen ke posisi 1.102,35. Sedangkan Nasdaq naik 7,13 poin atau 0,33 persen ke 2.190,86.(rhs)

 

belum gelembunk, maseh prospek … 111209

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 7:31 am

Even after gains, emerging markets are top picks

5:11pm EST
By Steven C. Johnson
NEW YORK (Reuters) – A growing middle class unburdened by the excessive debt plaguing Western consumers means emerging markets still offer plenty of opportunities to make money next year even after a meteoric rise in 2009.
Money managers at the Reuters Investment Outlook 2010 Summit this week were particularly bullish on Asian economies with high savings rates and on Brazil. Some said the maturity of Brazil’s financial markets means it almost has “emerged” and joined the ranks of more developed economies.
Bob Doll, vice chairman of Blackrock Inc , said the “absence of the debt noose around the neck that much of the developed world has” makes emerging economies promising places to invest, despite a 70 percent gain in the broad MSCI emerging markets index <.MSCIEF> in 2009.
Others highlighted a growing middle class, a high savings rate, commodities wealth and room for increased consumer spending as factors favoring emerging market exposure in 2010.
Economies with low levels of consumption as a percentage of gross domestic product such as Brazil and China “are economies that can grow and grow and grow,” said Bill Gross, co-chief investment officer at Pacific Investment Management Co., the world’s biggest bond fund.
In Brazil, “less than 20 percent of the population uses the financial service system,” said Diane Garnick, investment strategist at Invesco. “They don’t even have a bank account, so that in my mind creates a scenario where they are going to grow a lot faster.”
GIFT THAT KEEPS GIVING
Such enthusiasm is hardly new. In the darkest days of the financial crisis in 2008, investors dumped all emerging market assets and currencies with abandon and sought safety in short-dated U.S. Treasuries and cash.
But since March, emerging assets have been in high demand as investors began betting that the biggest emerging economies would lead a global recovery.
Brazil’s benchmark stock index, the Bovespa <.BVSP>, has gained nearly 80 percent this year and still has a 12-month forward price/earnings ratio below that of the S&P 500, according to Thomson Reuters data.
According to fund tracker EPFR Global, as of mid-November, emerging market equity funds had attracted a net inflow of $60 billion in 2009, shattering 2007’s record of $54.3 billion.
Metals and oil have also had a steady run higher, which along with high interest rates helped boost currencies of commodity-rich countries such as Brazil, South Africa, Chile and others.
Of course, while high savings, low debt and mature debt markets have certainly helped burnish emerging markets’ appeal, all the easy money the Federal Reserve and other developed central banks have poured into the economy hasn’t hurt either.
“I view those flows as speculative,” said veteran Wall Street economist Henry Kaufman. “You will notice that when there is a period of tightening credit conditions those emerging countries do very poorly.”
CAPITAL CONTROLS vs EASY MONEY
Tighter conditions may still be quite a ways off, though, according to most money managers at the summit. Gross said sluggish U.S. growth means the Fed likely won’t hike rates from record lows near zero percent until 2011. Few expected imminent hikes in the euro zone or Japan, either.
Not all emerging markets are of equal appeal, either. Jim Rogers, who rose to fame after co-founding the Quantum Fund with George Soros nearly four decades ago, said he likes Brazil and fiscally prudent countries such as China but dislikes India because the bureaucracy is stifling.
He also said he avoids Russia because investors can end up “broke and dead.”
Punitive taxes and other capital controls designed to slow “hot money” inflows are also a risk and are looming larger on investors radar screens after Brazil slapped a 2 percent tax on foreign equity and fixed-income purchases last month.
Brazil said the economy grew 1.3 percent in the third quarter this year, below a 2 percent forecast, and some economists have blamed the strong real, up about 24 percent against the dollar this year.
Taiwan and Korea have adopted similar measures and many emerging central banks have intervened to weaken their currencies relative to the dollar.
A strong currency can increase the cost of exports, which many emerging economies rely on to drive growth.
Capital controls are points of pretty significant concern,” said Max Darnell, chief investment officer of First Quadrant, with $18 billion in assets under management. “Impediments to trade in these markets is very worrisome to me.”
Still, Darnell said First Quadrant plans to open a fund that invests in emerging market currencies and is particularly bullish on Brazil’s real.
Jonathan Xiong, who helps manage about $18 billion in currency assets at Mellon Capital Management, said the impact of recent capital controls should be short-lived.
“I think a lot of these investors who are investing in emerging markets — hopefully they realize some of the risks — are in for the longer-term play,” he said.
(For summit blog: blogs.reuters.com/summits/)
(Additional reporting by Daniel Bases, Herb Lash, Jennifer Ablan, Wanfeng Zhou and John Parry; Editing by Leslie Adler)

Barclays Wealth gives recipes for Asia exposure
Manuela Badawy and Walter Brandimarte
NEW YORK
Thu Dec 10, 2009 4:09pm EST
NEW YORK (Reuters) – A “fusion portfolio” with Western ingredients and Asian techniques is among Barclays Wealth’s favorite recipes for investing in fast-growing Asian economies.

The money management firm, with $221 billion in assets, advises its affluent clients to have “substantial exposure” to the economic growth of Asia excluding Japan — which it forecasts to remain the most dynamic region for “years to come.”

In the first half of this year, all clients had to do was buy an exchange-traded fund indexed to Asian equities, said Aaron Gurwitz, managing director and head of investment strategy at the firm.

But now that regional stock indexes such as the Shanghai Composite .SSEC have rallied nearly 80 percent so far this year, more complex strategies are required.

“Now you have to find other ways, be more selective,” Gurwitz said on Thursday at the Reuters Investment Summit in New York.

He recommends investors seek active fund managers to map opportunities still remaining in Asia or indirect forms of exposure to the region.

And he gives one recipe of his own — the Asian Fusion Portfolio:

– Look at the list of recommended stocks by Barclays Capital, those with a “buy” rating, and that belong to a sector with at least “neutral” rating;

– Rank those companies by a portion of their revenues generated in Asia ex-Japan;

– Cut the list off at 50 percent.

“That gave us a list of 11 companies that we like for lots of reasons and also give you exposure to non-Japan Asia,” Gurwitz said.

He did not want to name specific companies, but said they are mostly technology and infrastructure suppliers.

“Everybody has a mental checklist that they use when deciding whether to make a particular investment — what is the valuation, yield, liquidity, market share,” Gurwitz said.

“I want to add a question: Does this investment give me exposure to economic growth in Asia?”

BRAZIL, COMMODITIES

Brazil gets a lot of “yes checks” on Gurwitz’s expanded checklist, for its sound macroeconomic policies, high interest rates, central bank practical independency, and exports to Asia.

“Interestingly, the Brazilian and the Chinese economy fit like two pieces of the same puzzle,” he said, recommending investors focus especially on local-currency government bonds.

A diversified commodities portfolio is another favorite investment at Barclays Wealth not only because it provides exposure to Asia, but also because commodities “have not done so well as they should in the early stages of the recovery.”

Barclays Wealth sees commodity and stock prices being able to keep rising because it sees benchmark interest rates remaining at historic lows for a very long period.

Gurwitz is not worried about potential bubbles resulting from an extended period of low interest rates.

“The thing that concerns me about all the liquidity that has been created, particularly in the developed countries, it’s that it’s sitting as excess reserves in central banks, it’s not being used to generate economic growth or job creation,” he said.

“Before I start worrying about bubbles I have to stop worrying about the fact that the banks aren’t lending the money to anybody.”

Still, Gurwitz said he would love to figure out where the next bubble will be to profit from it before it bursts. (For summit blog: blogs.reuters.com/summits/) (Editing by Leslie Adler)