1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

quo vadis, ke eropa bo … 121209 12 Desember 2009

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 2:01 pm

Sabtu, 12/12/2009 00:54 WIB

POJOK KAFE
Dewan perwakilan rakyat digital

oleh :

Tak terbayangkan negeri kita jadi seperti sekarang ini. Orang bertanya-tanya, akan ke mana nasib pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Pemilihan umum telah kita lalui dengan sukses dan mendapatkan pujian dari seluruh dunia. Indonesia sangat dikagumi di forum-forum internasional karenanya. Great country!

Di tengah perekonomian global yang mandek gara-gara krisis finansial 2008, Indonesia termasuk dalam deretan sedikit negara di muka bumi ini yang mencatat pertumbuhan ekonomi mengesankan dengan tren yang terus membaik.

Pendeknya, orang asing membicarakan Indonesia dengan senyum di bibir. Kita mungkin ikut tersenyum juga, walau di hati terasa getir. Bagaimanapun tak patut mengumbar urusan di dalam negeri kita ke pihak luar…

Begitu pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono memenangi pemilihan presiden/wakil presiden 2009-2014 secara mutlak, beberapa orang sampai kehilangan rasa malu dengan menggadang-gadangkan dirinya agar bisa menjadi menteri.

Wajar jika mereka membayangkan nikmatnya duduk dalam pemerintahan yang mendapatkan dukungan begitu besar dalam pemilihan umum, yang menguasai suara mayoritas di parlemen. Segalanya bakal berjalan mulus.

Siapa duga, tepat pada awal pemerintahan SBY jilid II-masa 100 hari yang disebut sebagai periode bulan madu itu-kasus cicak vs buaya mencuat, disusul persoalan bailout Bank Century.

Mungkin kekecewaan hati mereka yang tak dilirik oleh SBY untuk menjadi menteri sedikit terobati. Ternyata jalannya pemerintahan kali ini tak mudah. Belum-belum sudah tersandung persoalan besar, yang bisa menyeret nama-nama top di negeri ini tercebur ke ‘laut’.

SBY jilid II baru saja start, tapi orang sudah mulai membicarakan akhirnya…

Bagi warga kebanyakan, persoalan Century cukup sulit dipahami. Atun, pembantu di rumah adik saya, berkomentar singkat ketika mendengarkan siaran berita di televisi tentang pengucuran dana talangan Rp6,7 triliun untuk ‘menyelamatkan’ Century. “Bu, enam triliun itu duit semua ya?”

Persoalan bagi Atun sederhana saja, bagaimana dia tetap bisa menerima gaji dan mengirimkannya ke kampung untuk membantu keluarga.

Kalaupun dia mengomentari Century, itu karena hampir semua stasiun televisi nasional menyiarkan kasus itu terus-menerus. Dia sebenarnya lebih tertarik nonton sinetron, gosip artis, atau ajang cari jodoh Take him out daripada ‘teka-teki silang’ Century. Tapi dia tak punya pilihan. Televisi di rumah majikannya cuma satu.

Bicara pilihan, perjalanan kasus cicak vs buaya memperlihatkan bagaimana warga menentukan sikap. Satu benang merah dari reaksi masyarakat atas friksi antara Kepolisian dan Komisi Pemberantasan Korupsi adalah-syukurlah-sikap antikorupsi yang kental.

Warga menyampaikan aspirasi mereka itu lewat dewan perwakilan rakyat digital, suatu pelesetan dari DPR beneran yang berkantor di Senayan.

Memang, dalam sejarah modern bangsa kita revolusi tak berasal dari parlemen, tapi dari jalanan. Dan yang terbaru: dari dunia maya.

Awal November lalu, ratusan facebooker dari berbagai kalangan dan usia melakukan unjuk rasa mendukung cicak di bundaran HI Jakarta. Demo itu berlangsung setelah terkumpul 1 juta pendukung cicak di jejaring sosial maya tersebut.

Cukup beralasan untuk mengatakan bahwa gerakan facebooker berperan besar dalam mendorong kembalinya Chandra Hamzah dan Bibit Samad Rianto ke Komisi Pemberantasan Korupsi.

Gerakan biru-warna facebook-kembali tokcer menggalang dukungan bagi Prita Mulyasari, dalam bentuk sumbangan uang koin untuk membantu dia membayar denda Rp204 juta kepada Rumah Sakit Omni. Tujuannya, mempermalukan pengadilan, dalam hal ini Pengadilan Tinggi Banten, dan Omni.

Dari tadinya bersikap sangat tegas kepada Prita, dengan alasan prosedur hukum harus dijalankan karena telah terjadi pencemaran nama baik, pimpinan Omni akhirnya meminta maaf kepada ibu dua anak itu dan mengajak damai.

Suara rakyat, katanya, suara Tuhan. Suara facebooker, suara Tuhan juga?

Sejauh ini belum terjadi penggalangan suara secara ‘resmi’ di facebook terkait Century. Nama-nama yang diduga terlibat dalam kasus itu banyak dan berkelindan. Sulit melihat kasus itu secara cukup hitam putih sebagaimana persoalan cicak versus buaya maupun Prita Mulyasari vs Omni.

Begitu banyak kepentingan berada di balik bailout Century dan kemunculan hak angketnya di parlemen.

Kasus Century merupakan pertarungan para elite, sedangkan konflik cicak versus buaya dan Prita vs rumah sakit begitu dekat dengan keseharian kita. Pengalaman tak enak dengan polisi pernah dialami hampir semua orang. Citra lembaga itu sebagai sarang korupsi dan suap pun masih kuat.

Ditolak rumah sakit karena tak mampu membayar uang di muka, tarif dokter yang terlalu mahal, atau geram karena obat tidak tepat, yang membuat penyakit malah bertambah parah, juga hal yang tak asing.

Namun, patgulipat dana bank? Hanya segelintir orang memiliki keahlian itu.

Kalaupun ada aksi dukung-mendukung terkait Century di dewan perwakilan rakyat digital, pastilah alasannya lebih karena faktor kedekatan personal, bukan perasaan senasib.

Ah, betapa sepinya dunia mereka yang terlibat dalam skandal itu…(huberta.linda@bisnis.co.id)

Oleh linda tangdialla

Wartawan Bisnis Indonesia

bisnis.com

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s