1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

ASIA THE PLACE FOR THE GROWTH (it’s not a bullshit statement) …131209 13 Desember 2009

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 11:46 pm

Recession’s End Won’t Make Investing Easier: Jane Bryant Quinn
Share Business ExchangeTwitterFacebook| Email | Print | A A A
Commentary by Jane Bryant Quinn

April 30 (Bloomberg) — After all the blood, tears and recriminations, is the Great Recession over?

“Not yet, but sooner than you think,” says economist Lakshman Achuthan, managing director of the Economic Cycle Research Institute in New York City. Only a small amount of government stimulus has reached the economy so far, but “the business cycle doesn’t wait for policy makers,” Achuthan says.

ECRI’s U.S. Long Leading and Weekly Leading indexes are up significantly from their December lows. In 16 of the past 17 downturns, this sequence of upturns has correctly forecast a recovery in about four months. (The exception: 1930, so there’s something in the record for pessimists, too.)

If growth does resume, you can thank the government’s massive policy response.

The Federal Reserve slashed the federal funds rate from 5.25 percent in August 2007 to 0.25 percent today. (That’s the rate banks charge for lending money to each other overnight.) The Treasury Department, for all the abuse it has taken in two administrations, saved the banking system from collapse. The stimulus package is boosting the natural, cyclical forces that bring recessions to an end.

These efforts in the U.S. have been mirrored everywhere in the industrial and developing world. No one is saying that the economy will return to robust health anytime soon. At the very least, however, businesses might begin to rebuild their depleted inventories. That would give manufacturing a better tone and, perhaps, create new jobs. Construction spending also starts up before a recession ends.

Alternatively, another financial accident might freeze credit again, and we would be back in the pits. Even a recovery might come too late for investors nearing retirement age whose investments are toast.

Impact on Investors

The big question about investors and consumers is whether the recession has marked them in any way. Was the suddenness of the global breakdown so shocking, and the consequences so painful, that Americans will change their saving and spending habits permanently? Or will they shake off their fright and return to life as it was B.C. (Before Collapse)?

At the moment, financial planners report that their clients — young and old — are behaving more conservatively. Families are curbing spending, paying down debt, increasing their savings and investing cautiously. Call this strategy Plan B, the place you retreat to in the face of uncertainty and loss.

Even among baby-boomer millionaires, 50 percent intend to hold more of their retirement portfolios in cash, according to a survey conducted by the Spectrem Group, a Chicago consulting firm. Whether that intention survives a new bull market remains to be seen. It probably should — if not in cash, then certainly in bonds.

Big Equity Bet

Odds are that you’ve been over-invested in equities. At the end of 2007, almost one in four workers between the ages of 56 and 65 held more than 90 percent of their 401(k) in stock, according to the Employee Benefit Research Institute in Washington. More than two in five held more than 70 percent in stock. They will be well into Social Security before recovering their losses.

Maybe these 401(k) holders managed their risk by owning a bond portfolio on the side, but I doubt it. More likely, they’re investing aggressively, in hope of making up for the fact that they started serious saving late. They gambled and lost. The market is no respecter of your personal need to make money in a hurry.

Continued Contributions

On the other end of the investment spectrum, younger and lower-paid employees with 401(k)s are doing better than you might think. Accounts worth less than $10,000 grew an average of 40 percent in 2008, because workers continued making contributions. The new money they put into their plans more than covered the market loss.

If the recession is indeed near its end, stocks will continue trending up. But “the past may not be prologue,” says market analyst Steve Leuthold of the Leuthold Group in Minneapolis. Future returns may lag behind the market’s historical returns, he says, because of the mature state of the U.S. economy.

In general, growth in corporate earnings and gross domestic product are the primary factors driving a nation’s long-term stock market performance. Leuthold sees annual GDP rising in the 2 or 3 percent range, compared with 5 or 6 percent during America’s days of emerging growth and global leadership.

Mature or Developing

Western Europe is also mature and, arguably, so is Japan. That leaves the developing countries in Asia, Latin America and Eastern Europe. You might have sworn off them, after they got clobbered last year. But they remain the parts of the world with the highest potential for growth. A Plan B investor will own them in moderation, balanced with safer investments such as quality bonds, including inflation-protected Treasuries.

If you lost your job or saw your income chopped, Plan B is the only way to go. For those still standing, the message is the same. There’s a lot of struggle left in the economy and the global financial system. When we muddle out of this recession, the Fed will have to fight inflation, with unknowable results. The times call for more savings, less debt and a ready-for- anything investment mix.

(Jane Bryant Quinn, a leading personal finance writer and author of “Smart and Simple Financial Strategies for Busy People,” is a Bloomberg News columnist. She is a director of Bloomberg LP, parent of Bloomberg News. The opinions expressed are her own.)

Ekonomi Kelompok Negara Asia Timur Optimistis Tumbuh 6,8%
Selasa, 15 Desember 2009 – 17:26 wib

Ilustrasi. Foto: Corbis
MANILA – Pertumbuhan kelompok negara-negara Asia Timur Utama optimistis tumbuh 6,8 persen tahun depan. Sedang tahun ini, perekonomian mereka optimistis mencapai 4,2 persen.

“Kelompok negara Asia Timur Utama melakukan pemulihan dengan sangat kuat, bahkan tahun depan. Tingkat pertumbuhan ekonomi sebagian besar mereka berpotensi melebihi tingkat pertumbuhan di 2008,” ujar Kepala Ekonom Bank Pembangunan Asia (ADB) Jong-Wha Lee, dalam paparannya di Asia Economic Moneter, di Manila, Selasa (15/12/2009).

Laporan ADB bertajuk Asia Economic Monitor (AEM) edisi Desember 2010 menyebutkan, perekonomian 14 negara kelompok ini optimistik bakal tumbuh 6,8 persen tahun depan, setelah di tahun ini mencapai 4,2 persen. Proyeksi ini lebih tinggi dibanding proyeksi AEM edisi September sebesar 6,5 persen dari 3,6 persen saat ini.
Perbaikan kondisi perekonomian kawasan lain global seperti AS dan Eropa memberi basis pertumbuhan ekonomi negara-negara anggota kelompok ini.

Selain itu, respons kebijakan cepat dan tepat dari otoritas ekonomi dan pemerintahan masing-masing dalam mengantisipasi efek negatif krisis finansial dan ekonomi global melalui kucuran stimulus fiskal dan kebijakan suku bunga yang disesuaikan menjadi dasar pemulihan tersebut.

Kedua kondisi tadi, catat laporan tersebut, membuat siklus pemulihan ekonomi Asia Timur mirip dengan kurva V karena pembalikan pertumbuhan positif pasca krisis yang cukup cepat.

“Dengan perbaikan kondisi eksternal dunia, pertumbuhan ekonomi yang cukup kuat di China, serta terjaganya pertumbuhan PDB agregat kawasan, membuat kelompok Asia Timur Utama ini akan mampu mencatatkan pertumbuhan 6,8 persen tahun depan setelah mencapai 4,2 persen tahun ini,” demikian dilansri dari data tersebut.

Merujuk data tersebut, dari 14 kelompok negara Asia Timur Utama beberapa negara diproyeksi bakal mencatatkan pertumbuhan di atas rata-rata. China misalnya, diproyeksi tumbuh 8,9 persen pada 2010 dari 8,2 persen tahun ini.

Posisi selanjutnya ditempati Vietnam yang diproyeksi tumbuh 6,5 persen dari saat ini 5,0 persen, Laos 5,7 persen dari 5,5 persen, disusul Indonesia sebesar 5,4 persen dari 4,2 persen tahun ini.

Sebagai catatan, kelompok negara Asia Timur Utama terdiri dari 10 negara yang tergabung dalam kelompok Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Singapura. Sedang empat negara lainnya adalah Republik Rakyat China, Hong Kong, Korea Selatan, dan Taiwan.

Lebih jauh, survei ekonomi ADB memperkirakan pertumbuhan negara-negara ekonomi berkembang Asia bakal mencapai 6,6 persen tahun depan dari 4,5 persen tahun ini. Proyeksi ini lebih tinggi dari realisasi 2008 sebesar 6,1 persen, meski belum menyamai rekor 9,5 persen pertumbuhan di 2007.
(Zaenal Muttaqin /Koran SI/ade)


jangan NEKAT dah … pake otak ya … 131209

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 11:38 pm

13/12/2009 – 13:25
Jumlah Investor Pasar Modal Belum Maksimal

INILAH.COM, Surakarta – Pertumbuhan jumlah investor di pasar modal yang belum optimal menjadi perhatian utama pemerintah. Walaupun kepercayaan masyarakat terhadap pasar modal tetap tumbuh.

Hal itu dikatakan Sekretaris Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) Ngalim Sawega di Surakarta, kemarin. “Untuk meningkatkan peran domestik kami melakukan berbagai kegiatan yang sifatnya seperti peningkatan kualitas pengawasan dan penegakan hukum, peningkatan kualitas pelaku pasar modal, upaya sosialisasi dan edukasi masyarakat dan lainnya,” jelasnya.

Menurut dia, pertumbuhan yang belum optimal itu mengharuskan Bapepam-LK bersama Self Regulatory Organization (SRO) dan pelaku pasar modal lain terus berupaya untuk meningkatkan peran pemodal domestik di pasar modal.

Ia menambahkan, beberapa arah kebijakan pasar modal ke depan di antaranya peningkatan perlindungan investor atau nasabah, peningkatan standar kualifikasi pelaku pasar modal dan lembaga keuangan nonbank, peningkatan good corporate governance (GCG) atau tata kelola perusahaan yang baik bagi pelaku bisnis dengan meningkatkan disiplin dan kepatuhan mereka terhadap peraturan Bapepam-LK.

Selain itu, lanjut dia, meningkatkan kepatuhan pelaku pasar modal dan lembaga keuangan nonbank terhadap perundangan-undangan tentang anti-money laundering, mendorong inovasi pengembangan produk pasar modal yang kompetitif pada tingkat risiko yang terkendali dan terukur.

Sementara itu jumlah subrekening yang tercatat di Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) selama lima tahun terakhir tumbuh 26,33 persen per tahun. Saat ini, jumlah subrekening efek mencapai 360.340 ribu. Pertumbuhan pemegang unit reksa dana selama periode itu sebesar 11,43 persen. “Kendati kedua indikator ini tumbuh dengan nilai yang terlalu tinggi tetapi masih kita dapat simpulkan bahwa dalam lima tahun terakhir ini kepercayaan masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal tetap tumbuh,” katanya.

Ia mengatakan, industri pasar modal dunia mengalami goncangan yang besar di 2008 sebagai dampak krisis keuangan dan ekonomi global yang dipicu oleh krisis subprime mortgage di Amerika Serikat telah menjatuhkan harga-harga efek yang tercatat di bursa kawasan Asia Pasifik tidak terkecuali dengan Indeks Bursa Efek Indonesia (BEI). “Hal itu mengakibatkan penurunan indeks BEI sangat signifikan antara minus 35 persen hingga minus 65 persen,” ujar Ngalim. [*/hid]


aturan baru memperpendek waktu penyelesaian transaksi… 131209

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 5:57 pm

Pengembangan Infrastruktur Pasar Modal
Integrasi Sistem Bisa Ubah Settlement T+3
Melalui single ID dan integrasi sistem, proses kliring dan settlement akan lebih cepat.
SABTU, 12 DESEMBER 2009, 17:28 WIB
Arinto Tri Wibowo

Bursa Efek Indonesia (VIVAnews/Tri Saputro)
Bapepam Kembali Tunda Aturan Transaksi Marjin
TINS Masuk Daftar Saham Marjin dan Short Sell
38 Saham Penuhi Syarat Transaksi Marjin
39 Saham Penuhi Syarat Transaksi Marjin
KSEI Jajaki Kerja Sama dengan 4 Bank
Web Tools

VIVAnews – Rencana penerapan identitas tunggal investor (single investor identity/single ID) dan straight through processing (STP) berpotensi memperpendek proses penyelesaian transaksi (settlement) di bursa efek dari sebelumnya T+3.

“Kemungkinan itu ada,” kata Kepala Biro Transaksi dan Lembaga Efek Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) Nurhaida pada Workshop Wartawan Pasar Modal di Hotel Best Western, Solo, Sabtu 12 Desember 2009.

STP merupakan integrasi sistem dan proses dengan mengotomasi semua proses dari mulai order, eksekusi transaksi, konfirmasi/afirmasi, serta settlement tanpa intervensi manual dan atau input data ulang.

Melalui STP, partisipan dapat melakukan proses order, eksekusi transaksi, kliring, konfirmasi/afirmasi, dan penyelesaian melalui sistem elektronik yang terintegrasi.

Meski demikian, Nurhaida mengatakan, saat ini Bapepam-LK belum mengkaji kemungkinan percepatan waktu penyelesaian transaksi dari sebelumnya T+3 itu. “Saat ini kami belum membicarakan itu,” ujarnya.

Dia menjelaskan, melalui single ID dan STP itu, proses kliring dan settlement akan lebih cepat. “Posisi transaksi nasabah juga lebih cepat diketahui,” katanya.

Bila proses settlement dapat diselesaikan segera, nasabah juga dapat melakukan transaksi selanjutnya lebih cepat. Proses tersebut juga akan mampu menekan biaya, sehingga transaksi lebih efisien.

“Kalau prosesnya cepat, otomatis biaya juga berkurang,” ujarnya.

Meski demikian, Nurhaida tidak menjelaskan detail efisiensi yang dimaksud tersebut, termasuk besaran nilai efisiensi yang dapat dilakukan dengan penerapan single ID dan STP itu.


• VIVAnews


Penipu di broker sekuritas, w-a-s-p-a-d-a-l-a-h (inget bang Napi)… 131209

Filed under: Investasi dan Risiko — bumi2009fans @ 5:39 pm

Bapepam Usut Penipuan oleh Sekuritas
Minggu, 13 Desember 2009 – 11:15 wib

Candra Setya Santoso – Okezone

SOLO – Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) mengakui ada beberapa pengaduan nasabah dari beberapa sekuritas, di antaranya karena tertipu oleh sekuritas.

“Masih kita proses pengaduan nasabah itu dan kita panggil untuk mengetahui permasalahnnya,” ujar Kepala Biro Transaksi dan Lembaga Efek Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Nurhaida, dalam acara Workshop Wartawan dalam rangka 32 tahun diaktifkannya kembali Pasar Modal Indonesia, di Solo, Minggu (13/12/2009).

Dijelaskannya, jika Bapepam telah mengetahui apa penyebab permasalahnnya maka akan dilimpahkan ke Biro Penyidikan dan Pemeriksaan untuk selanjutnya diserahkan ke Komite Pengenaan Sanksi (KKSK).

Berdasarkan penelusuran, satu dari beberapa pengaduan nasabah itu berasal dari nasabah PT Danareksa Sekuritas yang menggugat perusahaan itu untuk membayar ganti rugi sekira Rp745,7 juta.

Dalam gugatan yang terdaftar di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat No. 301/ PDT.G/2009/PN.JKT.PST, Muhamad Idris (mantan nasabah) menuding perusahaan itu dan salah satu karyawannya, Fani Gunawan, melakukan perbuatan melawan hukum, terkait dengan perjanjian transaksi efek. (wdi)(rhs)