1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

abu dhabi penyelamat dubai world … 141209 14 Desember 2009

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 9:18 pm

14/12/2009 – 20:48
Abu Dhabi Suntik US$10 Miliar
Dubai World Beri Sinyal Positif
Ahmad Munjin

(istimewa)
INILAH.COM, Jakarta – Suntikan dana US$10 miliar dari Abu Dabi ke Dubai World menjadi sinyal positif bagi recovery ekonomi global. Bahkan, disinyalir bisa mendongkrak saham perbankan.

Chief Economist Danareksa Research Institute Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, kucuran dana senilai US$10 miliar pemerintah Abu Dabi terhadap Dubai Wolrd akan memberikan rasa percaya diri bagi Dubai. Karena itu, tingkat kepercayaan terhadap perekonomian dan iklim investasi di negara itu akan kembali pulih.

Artinya, lanjut Purbaya, menyusul keberanian Abu Dabi melakukan bailout membuktikan tentang kuatnya komitmen pemerintahan negara itu terhadap pemulihan ekonomi. “Ini menjadi sinyal positif bagi rasa percaya diri pelaku pasar di Dubai sendiri dan pasar global,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Senin (14/12)

Pemerintah Dubai dalam pernyataannya seperti dikutip dari AFP mengumumkan pemerintah Abu Dhabi menyuntikkan US$10 miliar ke Dubai World untuk pembayaran surat utangnya yang akan segera jatuh tempo. Implikasinya, Dubai World bakal terbebas dari gagal bayar.

“Pemerintah Abu Dhabi setuju untuk mendanai US$ 10 miliar ke Dubai Financial Support Fund yang akan digunakan untuk membayar sejumlah kewajiban Dubai World yang jatuh tempo,” ujar pemerintah Dubai.

Pemerintah Dubai juga mengumumkan, utang sukuk milik anak usaha Dubai World, Nakheel sebesar US$ 4,1 miliar yang jatuh tempo hari ini akan segera dibayar setelah mendapatkan suntikan dana tersebut.

“Sebagai langkah pertama pendanaan baru ini, pemerintah Dubai telah melakukan otorisasi US$ 4,1 miliar untuk membayar kewajiban sukuk Nakheel yang jatuh tempo hari ini,” tambahnya. Uni Emirat Arab memiliki tujuh wilayah yang dinamakan emirat yakni Dubai, Abu Dhabi, Sharjah, Ajman, Umm al-Quwain, Ras al-Khaimah, dan Fujairah.

Purbaya kembali mengatakan, utang Dubai senilai US$59 miliar tidak semuanya jatuh tempo dalam waktu singkat. Karena itu, suntikan US$10 miliar cukup untuk menutupi utang jangka pendek. Artinya, kewajiban pembayaran yang gagal bayar tahun ini akan bisa ditutup dengan US$10 miliar itu. “Bahkan mungkin agak berlebih,” paparnya.

Ini juga lanjutnya, akan menambah sentimen positif bagi saham-saham sektor perbankan. Pasalnya, Dubai World sangat terkait dengan persoalan perbankan. “Memang indeks tidak tiba-tiba naik ke atas, tapi paling tidak ekspektasi akan terjadinya kebangkrutan perusahaan-perusahan besar semakin berkurang,” tukasnya.

Meski ini bukan satu-satunya alasan, menurutnya, Dubai World tetap akan mendorong membaiknya saham-saham sektor perbankan. “Apalagi, semua indikator perekonomian sedang dalam pemulihan,” timpalnya.

Pada saat yang sama, harapan terhadap pemulihan ekonomi menjadi semakin besar. Apalagi, indeks ekonomi AS, memungkinkan untuk pulih dengan berbentuk V. Jadi, pada saat terjadi pemulihan, akan sangat kencang.

Artinya, imbuh Purbaya, pertumbuhan AS di level 3,5% pada triwulan ketiga memberikan kemungkinan positif juga pada triwulan berikutnya. “Ini merupakan sinyal yang sangat kuat kepada proses pemulihan ekonomi yang terjadi saat ini berkesinambungan,” pungkasnya. [mdr]

 

auto rejection itu menggiurkan … 141209

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 8:06 pm

Senin, 14/12/2009 14:15 WIB
Saham Dian Swastatika Halting 3 Hari Berturut-turut
Indro Bagus SU – detikFinance

(foto: dok detikFinance) Jakarta – Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) mencatat kinerja pergerakan saham memukau sejak listing 10 Desember 2009. Harga sahamnya menyentuh batas atas auto rejection alias halting selama 3 hari perdagangan berturut-turut.

Pada perdagangan perdana, Kamis (10/12/2009), saham DSSA dibuka naik Rp 250 ke Rp 1.750. Sesaat sempat ke Rp 1.650. Namun tak lama, saham DSSA langsung melejit naik hingga menyentuh batas halting saham perdana sebesar 50% yakni di level Rp 2.250 atau naik Rp 750.

Saham DSSA ditransaksikan sebanyak 7.452 lot dengan nilai transaksi sebesar Rp 8,127 miliar pada hari perdana.

Sebagai catatan, untuk rentang harga saham Rp 200 hingga Rp 5.000, batas atas auto rejection atau halting ditetapkan sebesar 25%. Namun khusus saham perdana di rentang harga yang sama, batas halting -nya hingga 50%.

Pada perdagangan Jumat (11/12/2009), saham DSSA dibuka naik Rp 200 ke level Rp 2.450. Selama perdagangan, harga saham tak pernah menembus harga pembukaan dan kemudian ditutup halting 25% atau naik Rp 550 ke level Rp 2.800.

Itu artinya, dorongan beli sangat kuat sehingga membentuk pola candle dengan body tanpa ekor. Volume perdagangan pada hari kedua menurun drastis, hanya sebanyak 1.358 lot dengan nilai transaksi sebesar Rp 1,901 miliar.

Pada perdagangan ketiga hari ini, Senin (14/12/2009), saham DSSA kembali halting 25% hanya dalam waktu singkat. Padahal, IHSG sedang berada di zona merah alias turun mengikuti tren bursa-bursa regional yang juga sebagian besar mengalami koreksi.

Perdagangan saham DSSA sudah tak bergerak sejak sesi I tadi pagi lantaran telah mencapai level Rp 3.500, naik Rp 700 (25%). DSSA hanya ditransaksikan sebanyak 175 lot senilai Rp 299,66 juta. Meskipun volume dan nilai transaksi tipis, namun harga saham telah menyentuh batas atas perdagangan hari ini.

Secara kumulatif, harga saham DSSA telah mengalami kenaikan sebesar Rp 2.000 atau mencapai 133,33% hanya dalam 3 hari perdagangan sejak listing . Itu berarti, sebesar itu pula kenaikan yang terjadi pada nilai perusahaan dan potensi keuntungan yang akan diterima pemegang saham, terutama yang membeli saham DSSA saat IPO. (dro/dnl)

 

saat isu politis punya sesuatu, ihsg liat windows dressing … 141209

Filed under: JUAL beli HARIAN — bumi2009fans @ 7:08 am

Suhu Politik Bikin Gundah Para Investor
Senin, 14 Desember 2009 | 17:19 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta – Turunnya harga minyak mentah ke US$ 69 per barel memicu jatuhnya harga saham komoditas, terutama sektor pertambangan yang membuat indeks sedikit tertekan. Menghangatnya suhu politik dalam negeri belakangan ini juga iktu andil dalam menurunnya indeks saham.

Alhasil, pada perdagangan hari ini indeks harga saham gabungan (IHSG)di Bursa Efek Indonesia merosot 12,713 poin atau 0,5 persen ke level 2.506,386 dari pentupan akhir pekan lalu di 2.519,099. Volume perdagangan kali ini mencapai 5,32 miliar saham dengan nilai Rp 3,5 triliun, serta frekeuensi 73,74 ribu kali.

Sebanyak 132 saham mengalami koreksi, dan hanya 55 saham yang berhasil membukukan keuntungan, serta sisanya 54 saham tidak mengalami perubahan harga. Namun, investor asing mencatat pembelian bersih yang cukup besar senilai Rp 614,9 miliar.

Analis dari PT Paramitra Alfa Sekuritas, Pardomuan Sihombing, menjelaskan jatuhnya harga saham komoditas seiring turunnya harga minyak di bawah US$ 70 per barel di pasar internasional membuat indeks ditutup di teritori negatif. “Meskipun, sebagian bursa regional bergerak positif hari ini,” ujarnya.

Dari faktor domestik, menghangatnya situasi politik mengenai rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) terkait dana talangan (bailout) Bank Century juga turut menghambat kenaikan indeks saham domestik.

Menurut Pardomuan, aksi window dressing (upaya memperbaiki portofolio investasi dengan menaikkan harga saham) kemungkian tidak akan terjadi tahun ini. Karena sepanjang tahun indeks saham sudah naik sangat tinggi. Pasar saat ini sudah mulai sepi karena sebagian investor sudah ke luar dari pasar mengantisipasi libur panjang Natal dan Tahun Baru.

Saham-saham yang mengganjal pergerakan indeks antara lain: Bumi Resources turun Rp 150 menjadi Rp 2.425, Telkom jatuh Rp 300 menjadi Rp 9.500, Bank BRI melemah Rp 50 menjadi Rp 7.800, Astra International tergelincir Rp 50 menjadi Rp 33.950, serta United Tractor merosot Rp 100 menjaid Rp 15.200 per saham.

Untuk perdagangan Selasa (15/12) indeks harga saham diperkirakan masih akan cenderung melambat dengan kisaran antara 2.450 hingga 2.530.

VIVA B. KUSNANDAR

Saham Adro Harga Transaksi Hasil Transaksi
14/12/09 Order Jual …… ……
14/12/09 Order Beli …… ……
Saham ELSA Harga Transaksi Hasil Transaksi Harga Transaksi Hasil Transaksi
14/12/09 Order Jual 335 full matched 340 full matched
14/12/09 Order Beli 305 …..
Saham INDY Harga Transaksi Hasil Transaksi Harga Transaksi Hasil Transaksi
14/12/09 Order Jual 2200 …..
14/12/09 Order Beli 2100 full matched 2075 full matched
Saham ANTM
Order Jual 2325 …..
Order Beli 2225 full matched
Saham BUMI
Order Jual 2425 ….. 2450 ….. 2475 …..
Order Beli 2400 full matched
Saham TRUB
Order Jual …..
Order Beli 132 full matched 133 full matched

Sepanjang Hari Merah, 132 Saham Turun

KRISTIANTO PURNOMO

Artikel Terkait:

Efek Ani Vs Ical

Dow Jones Sentuh Rekor Tertinggi Tahun 2009

Akhir Pekan Ceria, IHSG Melaju di Atas 2.500

IHSG Masih Mantap di 2.500

IHSG Langsung Tembus 2.500

SENIN, 14 DESEMBER 2009 | 16:15 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Saham-saham di Bursa Efek Indonesia pada perdagangan Senin (14/12/2009), seharian berada di jalur negatif. Indeks Harga Saham Gabungan pun sempat tergelincir di bawah 2.500.

IHSG ditutup turun 0,50 persen atau 12,713 poin pada 2.506,386. Sektor pertambangan dan infrastruktur menjadi pemberat utama indeks tenggelam di zona merah. Adapun sektor consumer menahan indeks melorot telbih dalam.

Sementara indeks Kompas100 melemah 0,54 persen, kemudian indeks LQ45 turun 0,48 persen, serta Jakarta Islamic Index berkurang 0,88 persen.

Sebanyak 132 saham turun mendominasi perdagangan hari ini dibandingkan 55 saham naik dan 54 saham stagnan. Nilai transaksi mencapai RP 3,513 triliun dari 73.740 kali transaksi dengan volume 5,316 miliar saham.

Editor: Edj

14/12/2009 – 16:07

Kasihan, IHSG Berakhir Terpuruk 12,71 Poin

Susan Silaban

INILAH.COM, Jakarta – Awal pekan yang sepi, emiten kesebelas Latinusa yang menapakkan kakinya di BEI tak mampu menopang indeks. IHSGpun berakhir rontok 2,71 poin (0,50%) ke posisi 2.506,39.

Analis pasar modal Surya Wijaya memprediksi, awal pekan kejatuhan indeks seiring dengan kasus Bank Century yang semakin hangat dan mulai terkuaknya inti dari permasalahan ini. “Ini masih menjadi sentimen buruk bagi pasar kita termasuk investor yang akan berinvestasi,” kata Surya WIjaya hari ini.

Mengakhiri hari ini, nilai transaksi di lantai bursa mulai bergairah Rp2,448 miliar dengan volume perdagangan yang semakin menipis hanya 3,515 miliar lembar saham. Adapun saham-saham yang menguat sebanyak 59, 140 saham turun dan 59 saham masih dalam posisi stagnan.

Sore ini, indeks saham JII  ditutup turun tipis 3,69 poin ke level 413,87 dan indeks saham LQ45 pun koreksi 2,29 poin ke level 716,03. Sementara itu, sektor condumer good dan manufakture yang mantap menghijau, sayang sektor pertambangan terperosok 30,79 poin ke level 2.180 serta sektor perkebunan pun terperosok 9,83 0 poin ke level 1.821.

Adapun saham-saham yang mencatat penurunan terbanyak, yakni Astra Otopart Tbk (AUTO) anjlok Rp300 ke Rp5.700, Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) pun anklok Rp300 ke Rp9.500, Bumi Resources Tbk (BUMI) pun anjlok pun ikut terpuruk Rp150 ke Rp2.450, United Tractor Tbk (UNTR) anjlok Rp100 ke Rp15.200, Indosat Tbk (ISAT) pun ikut anjlok Rp75 ke Rp4.850 dan Astra Interantional Tbk (ASII) pun terpuruk Rp50 ke Rp33.950.

Di sisi lain, masih ada beberapa saham yang menguat antara lain, Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) ditutup melonjak tajam Rp700 ke Rp3.500, Gudang Garam Tbk (GGMR) pun melonjak Rp150 ke Rp20.050, Schering Plough Indonesia Tbk (SCPI) pun melonjak Rp2.000 ke Rp39.000, Unilever Indonesia Tbk (UNVR) pun ikut melonjak Rp200 ke Rp29.500. [san/cms]

14/12/2009 – 05:51

Prediksi Bursa Pekan Ini

Global Membaik, IHSG Bangkit

Ahmad Munjin

(inilah.com /Dokumen)

INILAH.COM, Jakarta – Pergerakan IHSG pekan ini diprediksikan menguat seiring membaiknya harapan akan recovery ekonomi. Positifnya data-data yang dirilis di AS menjadi katalisnya.

Gina Novrina Nasution, riset analis dari Reliance Securities mengatakan potensi penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ^JKSE) pekan ini karena positifnya data-data yang dirilis di AS.

Salah satunya adalah Initial Jobless Claim yang mengalami penurunan. Selain itu, penjualan ritel yang meningkat pada November 2009 seiring bertambahnya pengeluaran untuk bensin dan produk lainnya juga turut memperkokoh sentimen positif yang ada.

Karena itu, pasar menilai recovery ekonomi 2010 sudah mulai tampak. Pasar meyakini data-data tersebut menambah harapan stabilnya pemulihan ekonomi. “Indeks pekan ini akan menguat ke level resistance 2.568 dan 2.471 sebagai level support-nya,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Minggu (13/12).

Pada perdagangan Jumat (11/12), IHSG ditutup menguat hingga 32,662 poin (1,31%) ke level 2.519,099. Indeks LQ 45 menguat 6,991 poin (1,42%) ke level 498,408 dan Jakarta Islamic Indeks naik 6,44 poin ke 417,56.

Lebih jauh Gina mengatakan penjualan ritel di AS naik 1,3%. Angka ini lebih baik dari prediksi 0,7% dan revisi publikasi sebelumnya yang meningkat 1,1 %. Publikasi data ini mengurangi kekhawatiran kurangnya tenaga pemulihan ekonomi karena rapuhnya belanja konsumen.

Ekonomi AS kembali tumbuh di kwartal ketiga, meskipun masih didominasi pengeluaran pemerintah. “Dengan stabilnya pasar tenaga kerja dan naiknya kekayaan konsumen, pasar semakin optimistis belanja konsumen akan meningkat lagi,” paparnya.

Kemudian, indeks juga mendapat dukungan dari potensi positifnya bursa regional sebagai technical rebound. Pasalnya, bursa regional sudah sepekan lebih mengalami koreksi. “Orang sudah mulai masuk ke bursa karana harga saham sudah terkoreksi,” imbuhnya.

Hanya saja, lanjut Gina, kasus Bank Century di dalam negeri memberikan pengaruh negatif di pasar. Namun hal ini tidak menyebabkan pelaku pasar asing keluar dari bursa Indonesia . “Hanya saja, bagi investor lokal menyebabkan wait and see terlebih dahulu,” ungkapnya.

Sedangkan asing, tegas Gina masih tetap berharap pada fundamental ekonomi Indonesia. Salah satu buktinya adalah penguatan nilai tukar rupiah yang saat ini berada di kisaran level 9.430-an.

“Hal ini, mengindikasikan tidak terjadinya capital outflow yang diakibatkan memanasnya skandal Bank Century yang melibatkan Wapres Boediono dan Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati belakangan ini,” ucapnya.

Investor asing masih bersikap normal dan biasa. Menurutnya, asing lebih konsisten terhadap data perekonomian masing-masing. “Kasus yang sedang berkembang di dalam negeri, tidak begitu berpengaruh di pasar saham,” tuturnya.

Sementara itu, penurunan harga minyak dunia ke level US$69 per barel , tidak lagi berpengaruh negatif pada pergerakan indeks. Pasalnya, sentimen negatifnya sudah tergantikan window dressing menjelang tutup tahun 2009. “Selain itu, laporan keuangan emiten-emiten sudah dirilis sehingga pelaku pasar sudah bisa memperkirakan target di akhir tahun di level berapa,” tandasnya.

Adapun sektor saham yang akan menjadi penggerak indeks pekan ini adalah infrastruktur, otomotif, pertambangan, dan perbankan. Saham-saham pilihannya adalah untuk sektor pertambangan adalah PT Perusahaan Tambang Bukit Asam (PTBA), PT Adaro Energy (ADRO), PT Perusahaan Gas Negara (PGAS), dan PT Bumi Resources (BUMI). Untuk sektor perbankan direkomendasikan PT Bank Negara Indonesia (BBNI) dan PT Bank Mandiri (BMRI).

Untuk sektor infrastruktur disarankan PT Jasa Marga (JSMR), PT Telkom (TLKM), PT United Tractors (UNTR), PT Holcim Indonesia (SMCB), PT Semen Gresik (SMGR), dan PT Indocement (INTP). Lalu, PT Astra Internasional (ASII) untuk sektor otomotif. “Saya rekomendasikan buy on weakness untuk saham-saham tersebut,” pungkasnya. [mdr]

14/12/2009 – 11:18

Wahai Presiden, Tolong Selamatkan Pasar

Jagad Ananda

(inilah.com /Dokumen)

INILAH, Jakarta – Hari pasar semakin pendek. Transaksi pun semakin tipis karena banyak investor yang mulai mengerem transaksi. Dalam suasana seperti ini, instabilitas politik di dalam negeri kian menebal.

Desember 2009 ini, tampaknya, akan menjadi akhir tahun yang paling buruk bagi bursa saham. Selain pemulihan ekonomi global masih belum jelas juntrungannya, gonjang-ganjing kasus Bank Century malah kian memanas.

Menurut para pelaku pasar, untuk sementara ini, kasus tersebut belum sampai menganggu iklim berusaha. Tapi, kalau terus dibiarkan berlarut-larut, bentrokan antar elit politik ini akan menjadi bom waktu yang membahayakan.

“Apalagi kalau Golkar benar-benar bertarung melawan Sri Mulyani-Boediono, ini akan menambah ruwet suasana,” kata seorang analis asing. Siapapun yang kalah dalam pertikaian tersebut, kata dia, akan menimbulkan dampak negatif bagi pasar. Yang lebih parah lagi kalau, Sri-Boediono benar-benar terpental dari Kabinet SBY, maka ketidakpastian akan semakin mengental

Namun itu bukan berarti pasar berpihak pada dua petinggi negeri itu. Tapi coba pikirkan, kalau mereka berdua turun. “Siapa yang bisa mengantikannya? Apakah pasar harus membangun kepercayaan dari bawah lagi,” timpal analis lainnya dalam sebuah acara makan pagi, Sabtu lalu.

Itu sebabnya, para analis yang mewakili investor asing itu menyarankan agar Presiden SBY segera bertindak sebagai penengah. “Jangan biarkan anak buahnya bertempur sendiri, damaikan mereka,” lanjutnya.

Usul lainnya adalah agar masa kerja Pansus Skandal Bank Century di DPR tidak terlalu panjang. Kata mereka, tiga bulan merupakan waktu yang panjang. “Apakah investor harus menunggu pasar stabil selama itu?” tuturnya.

Dua saran yang tampaknya, penting untuk dipertimbangkan. Soalnya, sentimen eksternal yang mungkin muncul dari berbagai negeri pun sedang tidak menguntungkan. Harga minyak mentah yang turun ke bawah level US$70 misalnya, merupakan sinyal bahwa pemulihan ekonomi di berbagai negeri maju belum menunjukkan peningkatan signifikan.

Menimbang kondisi yang sedang kurang bersahabat, ditambah waktu pasar yang sempit dan volume perdagangan yang kian menipis, seorang kepala riset menyarankan investor untuk wait and see. Soalnya, kata dia, harga saham-saham (terutama yang unggulan) sudah terlalu tinggi.

Bahkan, “Kalau saham Anda sudah menghasilkan gain segera realisasikan. Jangan ditunda-tunda,” katanya. Baru setelah ada sentimen positif dari dalam maupun luar negeri, investor disarankan mulai melakukan koleksi.

Pilihannya ada beberapa. Misalnya, dari sektor perbankan ada PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), PT Bank Mandiri (BMRI) dan PT Bank Negara Indonesia (BBNI) yang layak dikoleksi setelah harganya terkoreksi minimal 5%.

Sementara dari sektor pertambangan, saham batubara masih pantas dibeli, terutama untuk efek yang diterbitkan PT Bukit Asam (PTBA) dan PT Bumi Resources (BUMI). [mdr]
Suhu Politik Bikin Gundah Para Investor
Senin, 14 Desember 2009 | 17:19 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta – Turunnya harga minyak mentah ke US$ 69 per barel memicu jatuhnya harga saham komoditas, terutama sektor pertambangan yang membuat indeks sedikit tertekan. Menghangatnya suhu politik dalam negeri belakangan ini juga iktu andil dalam menurunnya indeks saham.

Alhasil, pada perdagangan hari ini indeks harga saham gabungan (IHSG)di Bursa Efek Indonesia merosot 12,713 poin atau 0,5 persen ke level 2.506,386 dari pentupan akhir pekan lalu di 2.519,099. Volume perdagangan kali ini mencapai 5,32 miliar saham dengan nilai Rp 3,5 triliun, serta frekeuensi 73,74 ribu kali.

Sebanyak 132 saham mengalami koreksi, dan hanya 55 saham yang berhasil membukukan keuntungan, serta sisanya 54 saham tidak mengalami perubahan harga. Namun, investor asing mencatat pembelian bersih yang cukup besar senilai Rp 614,9 miliar.

Analis dari PT Paramitra Alfa Sekuritas, Pardomuan Sihombing, menjelaskan jatuhnya harga saham komoditas seiring turunnya harga minyak di bawah US$ 70 per barel di pasar internasional membuat indeks ditutup di teritori negatif. “Meskipun, sebagian bursa regional bergerak positif hari ini,” ujarnya.

Dari faktor domestik, menghangatnya situasi politik mengenai rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) terkait dana talangan (bailout) Bank Century juga turut menghambat kenaikan indeks saham domestik.

Menurut Pardomuan, aksi window dressing (upaya memperbaiki portofolio investasi dengan menaikkan harga saham) kemungkian tidak akan terjadi tahun ini. Karena sepanjang tahun indeks saham sudah naik sangat tinggi. Pasar saat ini sudah mulai sepi karena sebagian investor sudah ke luar dari pasar mengantisipasi libur panjang Natal dan Tahun Baru.

Saham-saham yang mengganjal pergerakan indeks antara lain: Bumi Resources turun Rp 150 menjadi Rp 2.425, Telkom jatuh Rp 300 menjadi Rp 9.500, Bank BRI melemah Rp 50 menjadi Rp 7.800, Astra International tergelincir Rp 50 menjadi Rp 33.950, serta United Tractor merosot Rp 100 menjaid Rp 15.200 per saham.

Untuk perdagangan Selasa (15/12) indeks harga saham diperkirakan masih akan cenderung melambat dengan kisaran antara 2.450 hingga 2.530.

VIVA B. KUSNANDAR