1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

reuters mencatat, dan prihatin tukh … 171209 17 Desember 2009

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 11:25 pm

FACTBOX-Five political risks to watch in Indonesia
JAKARTA, Dec 15 (Reuters) – Indonesia has emerged
remarkably strongly from the global economic crisis, but hopes
among investors that the government would quickly push through
reforms have been dented by controversy over corruption.
Following is a summary of key Indonesia risks to watch:
* CORRUPTION AND GOVERNANCE
Corruption has emerged as the defining issue for Indonesia
at the start of the second term of President Susilo Bambang
Yudhoyono, with popular anger mounting over a power struggle
between the respected Corruption Eradication Commission (KPK)
and the police and attorney-general’s office. The KPK has made
significant progress in investigating corrupt officials, but
this has stirred powerful opposition. The state prosecutor has
dropped a case against two top anti-graft officials who were
apparently framed by officials in the police and
attorney-general’s office, removing one flashpoint for tension,
but Yudhoyono has so far appeared cautious about taking more
decisive action to end the feud and press ahead with decisive
reforms.
Key issue to watch:
— Pace of reform of Indonesia’s civil service, police and
courts. Yudhoyono’s cautious response to the power struggle
over the KPK suggests he will move much slower than markets had
hoped, confirming his reputation for preferring gradual change
to bold, sweeping reform. Investors betting on more decisive
reform during Yudhoyono’s second term have had to adjust their
expectations.
— Investor perceptions of progress in tacking corruption.
In Transparency International’s 2009 Corruption Perceptions
Index, released last month, Indonesia’s ranking improved to
111th out of 180 countries from 126th the previous year. But
recent events may cause investors to re-evaluate their
optimism.
* GOVERNMENT EFFECTIVENESS IN DRIVING REFORM
Yudhoyono, returned to a second term after a decisive
election win in July, is widely regarded as a progressive,
market-friendly reformer. Many investors hoped that his second
term would see a faster pace of reform, and hopes were raised
when he announced a cabinet in October that included top
technocrats Sri Mulyani Indrawati and Mari Pangestu in the key
economic posts, with a new presidential delivery unit headed by
Kuntoro Mangkusubroto and another technocrat, Boediono, as vice
president. But so far, the evidence suggests his second term
will, like the first, move slowly in implementing reform.
Controversy over the bailout of a small bank last year may
also damage reform prospects. Parliament said last week it
would investigate the bailout of Bank Century, which had been
backed by Indrawati and Boediono. Local media have reported
that among the bank’s depositors were several wealthy
businessmen who later donated money to Yudhoyono’s re-election
campaign. The president, vice president and finance minister
have all denied wrongdoing, saying that the bailout was crucial
to maintain confidence in the financial system as the global
credit crisis struck.
Key issues to watch:
— Developments in Bank Century case. The main risk at this
stage is that the case will distract the government from
policymaking, and damage the reputations of Indrawati and
Boediono, key pro-market members of the government. Analysts
say that for the moment, there appears little risk that they
could be forced to resign, or that Yudhoyono could face
impeachment. But powerful vested interests could try to use the
issue to force the government to go slower on economic reforms.
* HOT MONEY AND CAPITAL CONTROLS
The rupiah IDR=, Asia’s best performing currency, has
appreciated by around 16 percent this year and the central bank
is concerned about destabilising “hot money” inflows. Last
month the senior deputy governor said Bank Indonesia was
studying the possibility of curbing foreign ownership of its
short-term debt. Signs that capital controls are becoming more
likely could spur some investors to take profits after the
year’s strong rally in Indonesian assets.
Key issues to watch:
— Comments from officials on the threat from hot money.
Officials have played down the prospect of curbs in the short
run, but if they change their tone, some investors will be
scared off. Analysts say that Indonesia’s pro-market officials
are unlikely to introduce any drastic measures, however, and
any tightening of capital controls would most likely be mild.
* SECURITY
Suicide bombings at two luxury hotels in Jakarta in July
were the first major terror attacks in Indonesia since 2005 and
raised concerns that the threat from militants was again on the
rise. The killing of Noordin Mohammad Top and other key figures
— including the man who recruited the two suicide bombers for
the attacks in July — may significantly reduce that threat.
Analysts warn, however, that other dangerous militants remain
at large and further attacks cannot be ruled out.
Key issues to watch:
— Ability of the militants to regroup and launch more
attacks. Opinions vary on whether Top was leading a beleaguered
and shrinking team or whether he had managed to attract
considerable new manpower, funding and weaponry over recent
years. Police say there are signs some of Top’s funding was
coming from overseas. If the group managed to establish firm
enough links with al Qaeda to secure sustained funding,
expertise and recruits, the threat may be far from over.
* OVER-RELIANCE ON YUDHOYONO
Many analysts worry that Indonesia’s recent progress
towards greater political and economic stability has been very
reliant on the personal popularity and power of Yudhoyono. If
anything were to happen to him, much of Indonesia’s recent
gains could unravel. He has no obvious successor with the
support base and drive to continue the reform process. And if
popular anger over corruption and the Bank Century issue
significantly undermine his popularity, the perception among
investors that Indonesia’s political stability has greatly
improved would be threatened.
(Compiled by Andrew Marshall and Sara Webb)
Kamis, 17/12/2009 15:22 WIB

Intrik good vs bad governance

oleh : Arief Budisusilo

Jika Anda berbicara dengan pakar keuangan mana pun, apalagi pengamat ekonomi, tentang isu penyelamatan Bank Century, akan muncul banyak versi dan sudut pandang.

Termasuk ketika Anda meminta pemilahan yang jelas terkait dengan turunan kasus dari penyelamatan Century, jawabannya juga akan macam-macam, tergantung kaca mata masing-masing.

Satu praktisi keuangan mengatakan kasus itu harus dipilah tiga bagian, yakni pengawasan Bank Century sebelum diambil alih Lembaga Penjamin Simpanan, alasan kebijakan pemerintah menyelamatkan Century, dan pengelolaan Century setelah diambil alih LPS.

Ekonom lainnya mengemukakan pandangan berbeda, meskipun sama-sama memilah ke dalam tiga bagian, yakni Bank Century di bawah manajemen lama dalam kendali Robert Tantular, kebijakan bailout bank itu, lalu pencairan dana oleh LPS.

Ada pula yang memilah kasus Century dalam tiga episode. Pertama, periode sebelum bank itu diselamatkan (sejak proses merger, saat dalam pengawasan Bank Indonesia, dan perilaku Robert Tantular dan manajemen lama dalam mengelola bank itu). Kedua, kebijakan penyelamatan (bailout) bank itu sendiri, lalu ketiga adalah aliran dana setelah bank tersebut diselamatkan, atau ke mana saja duit pasca-bailout mengalir.

Bagi saya, keragaman cara melihat persoalan penyelamatan Bank Century itu menunjukkan friksi yang tajam bahkan dalam disiplin yang sama, untuk melihat konteks dan duduk persoalan penyelamatan Century secara benar.

Sebab di dalamnya ada sejumlah implikasi, baik dampak profesional maupun efek politik. Itu yang menjadikan cara pandang berbeda-beda, tergantung pada kepentingan masing-masing.

Ada sudut pandang yang didasari kepentingan politik untuk mengungkap -kalau ada-aktor intelektual dalam aliran dana penyelamatan bank itu ataupun pihak-pihak yang diuntungkan. Juga terdapat pandangan dengan latar belakang kepentingan profesional, yang cenderung membenarkan kebijakan bailout karena alasan teknis dan situasi saat itu.

Sebaliknya terdapat cara melihat adanya kesalahan prosedur kebijakan atau proses yang kurang proper karena informasi dalam pengambilan keputusan tidak lengkap, tidak up-to-date, bahkan-bisa jadi-tidak akurat. Sayangnya, ada juga pandangan spekulatif berlatar belakang kepentingan lainnya, termasuk ‘balas dendam’.

Gambaran besar

Dalam gambaran besar, helicopter view, ketika kasus ini kemudian melebar ke mana-mana, dapat dikatakan magnitude penyelamatan Bank Century yang heboh pada mulanya dan pada akhirnya bermuara pada pertarungan antara bad governance versus good governance.

Akibatnya, penyelesaian kasus Century pun hingga hari ini tampak berliku dan penuh intrik.

Apalagi kemudian banyak bumbu yang mencuat ke permukaan, terutama setelah pengakuan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengenai ‘ketidakharmonisan’ dengan Aburizal Bakrie, yang dianggapnya sebagai salah satu faktor politik di balik kasus ini.

Juga asumsi Menteri Keuangan bahwa Partai Golkar-sebagai salah satu aktor dalam hak angket, yang bahkan politisinya menjadi ketua Pansus Angket Century-tidak akan berlaku adil kepadanya.

Ini semua menambah noise dalam kasus itu, termasuk kemudian dugaan percakapan Menkeu dengan Robert Tantular saat rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan, yang dilansir Bambang Soesatyo, salah satu politisi Golkar.

Tak kurang, Wakil Presiden Boediono, yang bersama Menkeu dianggap paling bertanggung jawab atas kebijakan bailout ketika masih menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia, memberikan keterangan langsung pada Sabtu dan Minggu lalu untuk mendudukkan persoalan yang sebenarnya atas dugaan percakapan yang dilansir Bambang itu.

Intinya, keduanya membantah adanya percakapan Sri Mulyani dengan Robert dalam rapat KSSK tersebut. Orang yang oleh Bambang diduga sebagai Robert, kemudian terungkap adalah Marsilam Simandjuntak, yang saat itu menjabat ketua Unit Kerja Presiden (UKP) untuk pengendalian reformasi.

Klarifikasi tersebut, sengaja atau tidak, mengungkap informasi lain, yang kemudian diasumsikan banyak pihak bahwa kasus Century kian mengarah kepada Istana dengan keberadaan Marsilam.

Drama ini menyiratkan kepada kita bahwa kemelut kasus Century kian berlarut-larut, lantaran ketidakjelasan dari awal mengenai kebijakan penyelamatan bank itu, yang kebetulan timing-nya menjelang pemilihan umum. Banyak dugaan, terjadi pendomplengan-pendomplengan, meskipun kemudian dugaan-dugaan itu dibantah.

Berbeda dengan kasus Bibit-Chandra yang dapat dimengerti secara gamblang oleh publik sebab-akibat kasus itu, penyelamatan Bank Century sulit dipahami di mata masyarakat luas secara teknis maupun hubungan sebab-akibatnya.

Karena itulah, kita berkepentingan untuk mendesak agar kasus Century diselesaikan seterang dan segamblang mungkin. Barangkali akan sangat membantu jika Pansus Hak Angket Century dapat memperjelas duduk perkara kebijakan bailout, aliran dana dari bank itu, serta track record Century termasuk pengawasannya pada masa lalu.

Sebaliknya, jika kasus Century dibiarkan berlarut-larut, kita khawatir akan terus menjadi ajang spekulasi, saling serang, bahkan ajang balas dendam politik. Jika hal itu terjadi, tentu berdampak tidak sehat dalam kehidupan politik dan bisnis di Tanah Air.

Seorang adviser investor dari beberapa perusahaan besar Malaysia mengatakan kepada saya, “kita ini sekarang menunggu seperti apa ending kasus Century.”

Eksekutif sebuah perusahaan besar Indonesia, yang produknya banyak dijual ke mancanegara, juga mengatakan,” kita buang waktu karena kasus ini tidak selesai-selesai. Saya tidak penting siapa yang menjadi nakhoda…tetapi kepastian stabilitas ini yang kita perlukan.”

Intinya, pelaku bisnis pun mulai menunggu dan melihat perkembangan situasi politik saat ini. Mereka mulai mengerem rencana bisnis sambil menunggu kepastian kemelut politik ini. Kalau itu yang terjadi, sayang sekali momentum pemulihan ekonomi dan kepercayaan bisnis yang telah dilalui Indonesia selama semester kedua tahun ini. Momentum itu bisa kempes lagi.

Transparansi & disclosure

Banyak pertanyaan yang muncul kemudian, sejauh mana seharusnya peran Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam menyelesaikan kasus ini. “Where is the President?” Itu pertanyaan yang diajukan dengan bekernyit dahi oleh seorang ekonom, dalam sebuah diskusi hampir tengah malam.

Presiden memang sudah berkali-kali membantah dugaan-dugaan bahwa keluarganya dan terutama putranya, serta kegiatan kampanyenya pada pemilu Juli silam, terkait dengan aliran dana penyelamatan bank itu. Dugaan-dugaan itu, katanya, adalah fitnah yang kejam.

Namun, saya sebenarnya ingin pernyataan lebih firm lagi. Saya berkhayal, akan lebih tenang rasanya jika Presiden bilang: “Yes, ini adalah kebijakan pemerintah, di mana saya yang bertanggung jawab, karena para menteri menjalankan mandat kabinet yang saya tugaskan.”

Sebab, ketika kampanye lalu, prestasi keberhasilan ekonomi menjadi klaim kampanye yang luar biasa intensif dan massive.

Kita ingin transparansi dan, meminjam istilah Mar’ie Muhammad, full disclosure dari pucuk pimpinan negeri ini. Tak perlu rasanya kita mendengar setiap saat bantah-bantahan dan saling klarifikasi antara para elite dan pembantu presiden. Apalagi saling klarifikasi untuk sebuah isu yang secara kasat mata dan kategorial sulit untuk mengambil persepsi yang lain, karena memang begitu adanya yang terjadi. Tak perlu pula kemudian kita menilai bahwa kasus Century ini adalah pertempuran antara “bad versus good” governance.

Namun, sayangnya bukan itu yang terjadi saat ini, sehingga melahirkan aneka informasi yang ditafsirkan dari macam-macam persepsi. Sekadar contoh, adalah polemik mengenai kehadiran Marsilam Simandjuntak dalam rapat KSSK 21 November itu.

Menurut Wimar Witoelar, yang mendampingi Menkeu saat konferensi pers membantah percakapannya dengan Robert Tantular, “Soal Marsilam adalah isu sampingan.”

Sekretaris KSSK Raden Pardede mengatakan Marsilam datang, “….diminta Presiden untuk bekerja sama dengan KSSK.” Lalu menurut notulen rapat tanggal 21 November itu, “..Pak Marsilam sebagai UKP yang memang diminta oleh Bapak Presiden untuk bekerja dengan KSSK…”

Menurut Menteri Keuangan, ketika mengklarifikasi pemberitaan soal kehadiran Marsilam, “tidak mewakili Presiden tetapi diundang sebagai narasumber seperti yang lainnya [untuk memberikan pandangan hukum].”

Terserah persepsi Anda mengartikan kalimat-kalimat itu. Jangan sampai, dalam situasi yang rasanya tidak transparan ini, “public tend to expect the worst.” Dan yang mesti dipahami saat ini, masyarakat kita sudah semakin pintar. Seperti keyakinan dalam industri informasi, adalah dosa besar, “if you are bias…it’s insulting the intellectual capacity of your readers.” (arief.budisusilo@bisnis.co.id)

bisnis.com

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s