1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

imink iming doank … (11): 201209 20 Desember 2009

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 10:32 pm

Minggu, 20/12/2009 17:44 WIB
IHSG Berpeluang Tutup Buku di Atas 2.500
Indro Bagus SU – detikFinance

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bakal tutup buku di atas level 2.500 pada akhir 2009. Kisruh Bank Century (sekarang Bank Mutiara) disinyalir sudah tidak memberi pengaruh besar pada pergerakan pasar menjelang tutup tahun.

“Saya kira IHSG cukup berpeluang tutup di level 2.500an,” ujar Ekonom Standard Chartered Bank, Fauzi Ichsan saat dihubungi detikFinance , Minggu (20/12/2009).

Menurutnya ada beberapa faktor positif yang bisa menjaga level IHSG tetap di atas level 2.500. Salah satunya adalah sikap pasar yang dinilai sudah lebih rasional dalam memandang kisruh seputar bail out Bank Century (sekarang Bank Mutiara).

“Pernyataan presiden yang mengatakan kalau Menkeu dan Wapres tidak perlu mundur, saya kira cukup untuk membuat pasar bersikap lebih rasional. Kelihatannya pasar saham akan aman-aman saja,” ujarnya.

Sebelumnya, memang banyak pelaku pasar menilai kisruh tersebut cukup mempengaruhi pergerakan pasar selama triwulan IV-2009, terutama memasuki bulan Desember 2009. Sampai-sampai, sejumlah pelaku pasar menggalang aksi unjuk rasa guna mendesak agar masalah bail out Century ini jangan berlarut-larut sehingga bisa mengganggu aktivitas pasar saham.

Pelaku pasar yang berunjuk rasa meminta agar pelaku pasar lainnya lebih bersikap rasional dalam memandang kisruh bail out Century, terlebih terkait desakan mundur Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Wakil Presiden Boediono oleh Pansus Century DPR.

Namun menurut Fauzi, pernyataan dukungan Presiden SBY bakal menjadi acuan pasar dalam mengambil langkah investasinya selama akhir periode 2009 yang tinggal beberapa hari ke depan. Fauzi optimistis pasar akan mampu bersikap lebih rasional selama beberapa hari ke depan hingga tutup tahun.

Selain itu, faktor lain yang dinilai juga bakal menahan laju penurunan IHSG dalam menghadapi aksi ambil untung (profit taking ) rutin akhir tahun adalah tipisnya nilai transaksi harian selama Desember 2009.

“Transaksi Desember sangat tipis-tipis sekali. Saya kira ini juga memberikan peluang pada dorongan beli dalam menjaga penurunan akibat profit taking akhir tahun.

Lagipula banyak fund-fund asing sudah melakukan tutup buku, sehingga peluang IHSG bertahan di 2.500an cukup besar,” ujarnya.

Transaksi selama Desember 2009 memang cukum minimalis. Nilai transaksi tertinggi Desember 2009 hanya sebesar Rp 4,031 triliun pada 2 Desember 2009. Transaksi terendah terjadi pada 11 Desember 2009 sebesar Rp 2,454 triliun.

Kendati demikian, IHSG masih mampu terangkat hingga level 2.509,576 pada 17 Desember 2009 atau naik 57,075 poin (2,32%) dari level 2.452,501 pada 1 Desember 2009.

Jika dibandingkan dengan posisi IHSG pada penutupan akhir 2008 di level 1.355,408, artinya telah terjadi kenaikan sebesar 1.154,168 poin (85,15%) hingga 17 Desember 2009.

“Sejauh ini tidak ada tanda-tanda yang bisa membuat IHSG kembali turun drastis. Pergerakan rupiah, yang sangat berkaitan erat dengan pergerakan di pasar saham juga tidak signifikan. Rupiah kelihatannya akan ditutup di kisaran Rp 9.400-9.500 terhadap dolar AS. Rupiah yang cenderung tidak fluktuatif menunjukkan kalau arus keluar masuk dolar AS melambat. Itu artinya, dana investasi asing sebagian besar sudah tutup buku. Jadi IHSG juga akan cenderung stagnan hingga akhir tahun,” paparnya.

(dro/dro)

 

peran matematika dalam dunia keuangan … 201209

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 7:11 am

 

2010 truz diteroponk, optimistik seh … 201209

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 6:47 am

Membaca Arah yang Semakin Jelas
Kamis, 10 Desember 2009
Oleh : Harmanto Edy Djatmiko
Meski kondisi sosial politik terus berkecamuk, perekonomian dan bisnis negeri ini berjalan normal-normal saja. Bahkan, tahun depan diperkirakan lebih bagus lagi. Gejala apa ini?

Sepanjang tahun 2009 ini, kita disuguhi beragam tontonan yang mengaduk-aduk emosi. Mulai dari kasus Bibit-Chandra, skandal Bank Century, hingga kisah Nenek Minah, pencuri tiga butir kakao seharga Rp 2.000 yang sempat diancam hukuman 6 bulan penjara. Kejadian-kejadian “kecil” ini sebetulnya hanyalah gunung es yang mengindikasikan betapa masih memilukannya institusi pengawal penegakan hukum di negeri ini, khususnya lembaga kepolisian dan kejaksaan.

Tak terlalu istimewa sebetulnya. Sejak dulu (zaman kolonial Belanda, penjajahan Jepang, Orde Lama, Orde Baru, Reformasi dan Pasca Reformasi), masyarakat Indonesia sudah sedemikian akrab dengan praktik-praktik tak terpuji di ranah hukum dan keadilan. Namun, karena kekerasan model begini sudah sedemikian terlembaga, sebagian besar anggota masyarakat tampaknya telah sampai pada tahap frustrasi dan akhirnya – tak ada pilihan lain – menerima saja, sebagian yang lain malah ikut arus. Johann Galtung, ahli perdamaian, menyebutnya sebagai proses berlangsungnya kekerasan struktural.

Melihat maraknya gejolak sosial akhir-akhir ini, sejumlah pakar (hukum, politik, sosial dan pakar lain yang relevan) sempat khawatir dan ramai angkat bicara. Intinya, kalau keadaan seperti sekarang dibiarkan terus, Indonesia bisa porak-poranda. Perekonomian hancur, pengangguran merebak, kemiskinan merajalela, dan rakyat hidup di bawah rezim penindasan. Singkat cerita, Indonesia bukan saja bisa bangkrut, lebih parah lagi berpotensi menjadi negara yang gagal.

Gambaran superseram itu ada benarnya juga, tentu saja jika di negeri ini sudah tidak ada satu pun lembaga lain yang berfungsi sebagaimana mestinya. Nyatanya, dengan segala kekurangannya, negeri ini masih memiliki sejumlah lembaga penting sebagai pilar demokratisasi seperti DPR, pemerintahan yang legitimated lewat pemilu, lembaga swadaya masyarakat, pers, organisasi keagamaan, berbagai organisasi profesi, hingga ratusan atau bahkan ribuan jenis komunitas yang terkoneksi lewat beragam media sosial. Energi, dinamika, tawar-menawar, proses perimbangan kekuatan, serta arah pergerakan pilar-pilar demokrasi ini sebetulnya sudah teramat jelas, yakni membangun masyarakat madani atau civil society.

Arah yang semakin jelas itulah, sangat boleh jadi, yang membuat para pelaku ekonomi tak risau akan masa depan negeri ini. Buktinya, meski situasi sosial dan politik tampak hiruk pikuk, kehidupan ekonomi dan bisnis di negeri ini berjalan normal-normal saja. Tahun ini ekonomi Indonesia mampu tumbuh sekitar 4,5% sementara negara-negara lain – kecuali Cina dan India – justru minus. Tahun depan (2010), ekonomi Indonesia diperkirakan tumbuh 5,3%. Angka ini lebih rendah dibanding Cina dan India yang masing-masing diperkirakan mencapai 10% dan 7,5%, tetapi masih di atas pertumbuhan ekonomi global yang tahun depan diprediksi paling tinggi 2,7% – 2010 memang diprediksi sebagai tahun pemulihan ekonomi global

Bahkan, Standard Chartered Bank, melalui Fokus Global bulanan yang dipublikasi 1 Desember 2009, berani menyimpulkan, bersama Cina dan India, Indonesia akan menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi global pada 2010. Argumennya, ekonomi yang berbasis kebutuhan domestik seperti Cina, India dan Indonesia akan berada di garis terdepan dalam proses pemulihan ekonomi global.

Memang, bara optimisme tetap menyala di dada para pelaku bisnis negeri ini. Sebanyak 87 responden (terdiri dari pengusaha dan pemimpin perusahaan di Indonesia) yang disurvei SWA bekerja sama dengan lembaga riset independen Deka Research, semua (100%) menyatakan bahwa kondisi usaha Indonesia tahun depan (2010) akan lebih baik dibanding tahun ini. Sementara untuk kondisi perekonomian, 97,47% responden menyatakan 2010 bakal lebih baik, tetapi tak ada satu pun responden yang menyatakan bahwa kondisinya akan lebih buruk.

Demikian pula kondisi sosial politik, 83,54% responden menyatakan kondisinya bakal lebih baik. Untuk kondisi penegakan hukum, 63,29% responden menyatakan kondisinya juga bakal lebih baik. Lagi-lagi, untuk kedua variabel ini (sosial politik dan penegakan hukum), tak ada satu pun responden yang mengatakan kondisinya akan lebih buruk.

Berangkat dari optimisme seperti itulah para pelaku bisnis kita menyusun agenda dan strategi bisnis menyongsong 2010. Nah, jika sebesar itu optimisme yang melekat di dada mereka, bisa dipastikan 2010 bakal menjadi tahun penuh gairah bagi dunia ekonomi dan bisnis negeri ini. Apalagi, Pemerintah RI dengan kabinet barunya telah mencanangkan 6 sektor strategis yang akan segera dibenahi: infrastruktur, transportasi, energi, pangan, usaha kecil dan koperasi, serta industri jasa. Keenam sektor ini diharapkan menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi sedikitnya 7% pada akhir 2014.

Di balik pembenahan keenam sektor vital tersebut, pastilah terhampar beragam peluang bisnis yang menggiurkan. Anda siap menubruknya?