1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

imink-iming doank (16) … 281209 28 Desember 2009

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 7:34 pm

Perekonomian Indonesia bisa disebut tegar sepanjang 2009. Di saat negara-negara lain berjuang karena sempat mencatat pertumbuhan ekonomi minus, Indonesia tetap melaju dengan pertumbuhan ekonomi di tahun 2009 diperkirakan sebesar 4,4%.

Perekonomian Indonesia selama 2009 bisa selamat karena tidak terlalu menggantungkan ekspor dan lebih bertopang pada konsumsi dalam negeri. Sehingga ketika pasar ekspor luar negeri lesu, perekonomian RI tidak terlalu banyak terkena dampak.

Namun sepanjang tahun 2009 ini, cukup banyak hal yang mengganggu perekonomian RI. Selain faktor eksternal dari pemulihan ekonomi global yang masih berjalan, perekonomian RI juga terganggu masalah politik. Yang terakhir dan sempat memanas adalah masalah bailout Bank Century (kini Bank Mutiara) yang menelan dana Rp 6,7 triliun.

Masalah tersebut kini sedang ditangani Pansus Hak Angket Bank Century di DPR. Pada awal Januari, Pansus rencananya akan meminta keterangan dari Komite Stabilitas Sektor Keuangan yang dulu diketuai Menkeu Sri Mulyani.

Bagaimana wajah perekonomian Indonesia di tahun 2010? Akankah masalah politik terus menerus menggoyang perekonomian? Sejauh mana pengaruh faktor eksternal?

Berikut wawancara detikFinance dengan Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Mirza Adityaswara di Plaza Mandiri, Jakarta, Selasa (29/12/2009).

Proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun depan asumsinya dilihat dari faktor apa saja?

Pada waktu kita membuat forecast 2010, asumsi yang dipakai adalah kondisi politik itu akan jalan atau tetap stabil. Bahwa riak-riak gejolak politik ini hanya proses demokrasi. Artinya akan stabil kembali, kita melihat bahwa momentum membaiknya perekonomian dunia akan terjadi di 2010.

Asumsinya politik stabil dan pemulihan ekonomi dunia berlanjut.

Dengan asumsi pertumbuhan ekonomi seperti itu, bagaimana proyeksi di 2010?

Jadi dengan memakai asumsi-asumsi itu, Mandiri punya forecast bahwa 2009 itu pertumbuhan ekonomi 4,3% dan di 2010 pertumbuhan ekonomi mencapai 5,2% . kalo politik aman keamanan aman itu didukung pemulihan ekonomi dunia, ekspor yang di 2009 tumbuh negatif di 2010 itu bisa positif. Faktor ekspor tinggi sumbangannya di PDB indonesia. Impor juga sama.

Pengusaha-pengusaha yang tahun 2009 itu di semester I itu mendapat pendanaan, karena krisis global dan pemilu di semetser II dapat pendanaan karena belum dipakai tapi di 2010 nanti sudah mulai memakai pendanaan. Maka undisbursed loan juga akan turun sehingga menjadi realisasi kredit.

Pertumbuhan Kredit sendiri potensinya berapa?

Kredit kita asumsikan tumbuh 15%-20% di 2010. Kalau kita mengambil sampel dari 2004-2005 dan 2007 pada waktu BI Rate 7,5% itu Pertumbuhan kredit diatas 25% bahkan sampai 30%. Jadi jika dipakai 15%-20% di 2010 itu reasonable.

Tahun 2004-2007 permintaannya banyak? Kenapa hanya 20% di 2010?

Jika lihat realisasi sampai dengan Kuartal III-2009 memang dibawah ekspektasi. Tadinya Mandiri memperkirakan setelah Pemilu ada pencairan kredit, karena jika dilihat kenaikan permintaan kepada motor, mobil, alat berat itu membaik di kuartal III dan kuartal IV. jika dilihat pencairan kredit di Oktober baru sampai 7%, berarti sampai akhir tahun cuma tumbuh berapa? paling 9%-10%.

Padahal Desember biasanya orang nge-push untuk merealisasikan kredit mereka, dan bank juga mencarikan debitur untuk mencairkan kredit itu untuk kejar target. Tapi nanti Januari 2010 negatif lagi, pertumbuhan MoM negatif karena sudah di Desember 2009.

Dan itu rendah dibawah perkiraan, kita sendiri memperikrakan tadinya bisa sampai 15% di 2009, karena kita ambil sampel dari 2006. Padawaktu BBM tinggi, di 2006 semester I tidak ada grwoth, di Kuartal III dan IV itu tumbuh 14% kreditnya. Jadi jika 2009 Desember sekitar 10% ya dibawah ekspektasi.

Apa Penyebabnya?

Orang melihat kondisi politiknya. Orang memperkirakan kasus Century tidak sampai menjadi faktor krusial yang tidak mempengaruhi investasi orang, sekarang jadi krusial. Orang khawatir jika ada sesuatu, atau ada apa-apa, jadi orang lebih menunda terlebih dahulu.

Benar hanya karena Century?

Iya, mempengaruhi, karena kondisi poltik sedang tidak sehat. Namun memang agak susah jika dilihat pada bulan Desember 2009 ini, orang cenderung sudah tutup buku. Investor sudah membukukan pada minggu kedua Desember dan sudah ditutup, seperti pedagang valas dll. Nanti baru terlihat jelas di 2010, apakah signifikan atau tidak.

Memang kita tertolong oleh faktor ekonomi Amerika yang pertumbuhan ekonominya rendah, orang nggak mau berinvestasi di Amerika.

Pertumbuhan Ekomomi 2009 bisa tumbuh penopangnya apa?

Yang mempengaruhi kuartal I dan II tumbuh ya Pemilu, bisa tumbuh sampai 4,4% waktu itu. Luar negeri itu kuartal I dan II itu masa terburuk tapi tidak bagi kita.

Penopang Pertumbuhan Ekonomi di 2010?

Investasi sektor swasta dan BUMN serta recovery dari ekspor. Semua sektor, komoditi, infrastruktur mulai jalan dan sektor swasta juga.

Mandiri Sekuritas mengadakan riset dari 45 BUMN Capex tumbuh 22% di 2010. Capex dari 45 perusahaan emiten nai 22% BUMN dan Non BUMN, Capexnya 10,3 miliar atau Rp 3 triliun.

Namun itu baru rencana Capex dan berdasarkan asumsi, asumsi yang cenderung sama seperti diatas. Panas-panasnya Century apakah orang cuek atau memang mempengaruhi sekali.

Investasi dari Capex itu di Kuartal berapa tahun 2010?

Baru bisa jalan di pertengahan tahun, makin cepat makin baik namun itu tergantung kondisi politik.

Untuk tingkat inflasi sendiri bagaimana?

Inflasi tahun ini dibawah ekspektasi, tahun ini kita menargetkan 4% saat ini memang berada dikisaran tersebut atau dibawah ekpektasi yakni sampai bulan November 2009 masih dibawah 3%. dan memang harga-harga komoditi yang masih rendah.

2010, kan ada akselerasi ekonomi dan bagi suatu negara yang infrastruktur distribusi jelek itu bisanya memacu kenaikan cost distribusi dan akhirnya menaikkan inflasi.

Ditambah jika dolar rendah, uang-uang panas didunia ini yang belum ditarik The Fed, Bank Of Japan dan Bank Of England sampai beratus ratus miliar dan uang-uang ini pasti mencari negara emerging market dimana suku bunga lebih tinggi. Dan ini menyebabkan harga harga komoditi di negara berkembang naik.

Kisarannya?

Inflasi 6,3% di 2010. Tahun ini katakan saja 3%. kalau kembali menjadi 6,3% ya kenaikannya wajar karena akselerasi ekonomi dan harga-harga komoditi naik.

The Fed isunya menaikkan suku bunga dalam waktu dekat bagaimana impact ke Indonesia sendiri?

Pernyataan The Fed akhir-akhir ini, justru mereka akan menaikkan suku bunga jika pengangguran akan turun. Pengagguran bisa turun jika mereka sudah mulai meng-hired pegawai, namun itu setelah penjualan normal, dan ekonomi stabil. Pengaruhnya BI Rate di semester I tidak akan ada kenaikan.

BI Rate Berapa sampai akhir Tahun 2010?

Sampai akhir 2010, 7,25%. saya kira naik 75 bps dari 6,5% saat ini masih wajar. Australia sudah naik 75 bps juga diperkirakan masih ada kenaikan di Indonesia ini dan posisi 7,25% dengan ekspektasi pertumbuhan ekonomi 5,2% sangat reliable.

Suku bunga BI Rate sudah paling rendah saat ini kenapa tidak membuat kredit tumbuh, masih mandek, berarti dengan mematok di Suku Bunga rendah belum tentu kredit bisa tumbuh tinggi? kenapa?

Kalau dilihat bank sudah menandatangani akad kredit banyak sekali tapi tidak terpakai berarti bukan banknya.

Yang pertama adalah permintaannya, para debiturnya. Kedua yakni kredit investasi misalnya jalan tol, dll masalah perijinan memang susah. Namun saya yakin kredit bisa mencapai 20% tahun depan seiring adanya akselerasi tadi.

Namun balik lagi jika kondisi politik kita membaik. Jika kuartal I belum juga selesai kasus Century bisa tertunda juga pertumbuhan kreditnya. Makanya Bank Indonesia pun revisi dari 20% jadi 15%.

Kredit Valas sendiri bagaimana? Karena sekarang masih negatif, bagaimana di tahun 2010?

Kredit valas itu negatif karena bank nya sendiri cenderung tidak ingin menambah kredit valas karena khawatir kredit valas ini biasanya bank-bank luar negeri yang yang memang belum pulih. Kredit valas juga penggunanya kan eksportir dan importir jika ekspor impor turun ya akan membuat kredit valas turun.

Di 2010 sendiri apa akan positif?

Ekspor yang tumbuh serta impor pastinya kredit valas akan tumbuh positif. Saat ini kredit valas kecil porsinya karena Kita tidak mau seperti tahun 1996 yakni mencapai 35% dari total kredit secara keseluruhan.

Kontribusi secara nasional Kredit valas itu saat ini hanya 14,6% per September 2009. padahal tahun 1996 ini mencapai 35% sehingga jika dolar melambung maka akan jebol semua.

Komposisi stabilnya?

Seharusnya 20% Valas dan sisanya Rupiah yaitu 80%. Itu yang baik. Intinya saat ini akses likuditas perbankan sangat baik jadi bukan dari banknya tapi demand.

Permintaan dalam negeri masih seret, di 2010 yang menopang yakni kredit modal kerja dan konsumsi masih akan mendominasi serta investasi. Dan seharusnya harus jalan semua di 2010.

Harga Minyak dunia seperti apa di 2010?

Seiring perbaikan ekonomi global, IMF saja memprediksikan dari minus 1,1% menjadi 3,1% naik tiga kali lipat jadi pasti permintaan terhadap minyak naik. Dari sisi permintaan naik, maka spekulasi juga naik. Orang menggunakan carry trade, pinjem dolar beli minyak, beli CPO, Nikel, pasti naik harga minyak.

Kenaikannya di kuartal berapa?

Kita pakai rata-rata US$ 80 per barel di tahun 2010. Kalau saya jika The Fed suku bunganya rendah terus maka 2010 harga minyak akan terus naik.

Harga BBM dalam negeri bakal naik?

BBM di dalam negeri, di 2010 belum tentu akan naik, paling di 2011 asumsi nya minyak dunia naik terus, kemudian The Fed suku bunganya rendah paling mencapai 1%.

Perkembangan industri Pasar Modal sendiri bagaimana di 2010?

Pasar modal kembali lagi kepada asumsi dimana politik tenang stabil, kredit jalan permintaan naik barang konsumsi naik sehingga harusnya saham-saham yang related kepada domestik demand seperti saham rokok, mobil, semen, motor, energi akan tetap tumbuh. Tetapi naiknya sudah banyak di 2009 ini, jadi di 2010 naik tinggi itu susah, paling IHSG akan mencapai 2700-2800 saja di 2010. Tidak akan banyak naiknya hanya 10%.

Rupiah sendiri?

Suku bunga AS yang rendah, dan ekonomi yang masih lemah di AS sehingga likuiditas masih mengejar ke negara berkembang apalagi yang mempunyai komoditi terutama asia dan Indonesia.

Pasar saham masuk ke konsumsi, domestik demand. Kalau di pasar obligasi, yieldnya SBI dan SUN masih lebih menarik dibandingkan AS.

SUN 10% dibanding SUN Amerika hanya 3,8% sehingga terjadi Capital Inflow maka akan menaikkan Cadangan Devisa menjadi dari saat ini US$ 65 miliar menjadi US$ 72 miliar. Sehingga rupiah juga menguat, sampai akhir tahun 2010 ke 8.927 per dollar AS.

Intinya asumsi ke tingkat kondisi politik. Dimana kasus Century ini memang tidak menggoyang kabinet pos menteri keungan, karena orang melihat kebijakan moneter dan fiskal para investor asing. Jangan sampai menggoyang kabinet.

Jika maksudnya hanya mencari rasa penasaran saja ya silahkan saja, tapi jika dipolitisir maka akan cukup serius dampaknya.

Sampai kapan investor wait and see?

Masyarakat atau investor bisa melihat mana yang murni dan mana yang dipolitisir, jika memang mencari kebenaran sah-sah saja. Tapi orang melihat jika ada lagi yang dipolitisir setelah century misalnya maret selesai apalagi.

Orang melihat pemerintahan sekarang lebih kuat, dipilih 65% rakyat dan 75% parlemen serta kabinet yang solid.

Kasus Century ke Perbankan Sendiri?

Satu yang jelas dampaknya adalah, kita mengambila pelajaran dari BLBI dan Century. Jika di AS bernanke mengucurkan 1,6 triliun dolar menyelamatkan ekonomi AS saja bisa masuk Man Of The Year majalah Times, ini menyelamatkan satu bank kecil yang menyelamatkan ekonomi Indonesia malah di gonjang-ganjingkan.

Padahal ini masalah serius, ancaman serius. Jika masa depan ada krisis lagi, maka tidak akan adalagi yang meu ambil keputusan pasti pada bodo amat atau tidak peduli daripada dikejar-kejar. Itu sangat serius nanti akan menyebabkan hal seperti itu dan para pengambil kebijakan tidak akan mau ambil risiko.

Terkait Pengawasan sendiri di Perbankan? penting tidak Otoritas Jasa Keuangan?

Kuncinya itu, integritas, transparansi dan kompetensi. Tidak peduli siapa yang mengurus, baik BI, Bapepam melalui OJK atau siapapun intinya hanya tiga itu saja.

Sumber: detikcom

2010, Indonesia Tumbuh Lebih Cepat!
Senin, 28 Desember 2009 – 11:47 wib

Prospek perekonomian Indonesia tidak dapat lepas dari pergerakan perekonomian dunia. Ada indikasi bahwa proses pemulihan perekonomian dunia juga akan berkesinambungan.

Keadaan ini, yang didukung pula oleh perkembangan positif di dalam negeri, membuat prospek perekonomian Indonesia pada 2010 akan lebih cerah dibandingkan 2009. Data-data ekonomi akhir-akhir ini menunjukkan bahwa proses pemulihan ekonomi global sedang terjadi. Hal ini antara lain ditunjukkan oleh pertumbuhan positif yang mulai terjadi di beberapa negara.

Perekonomian Amerika Serikat (AS) misalnya pada triwulan ketiga 2009 lalu tumbuh dengan laju 2,8 persen (annualized). Australia bahkan sudah menaikkan bunga acuannya sebanyak tiga kali, satu kali di awal Oktober, satu kali di awal November, satu kali di awal Desember (saat ini suku bunga acuan di sana berada pada level 3,75 persen).Langkah ini dilakukan karena bank sentral negara tersebut melihat proses pemulihan yang terjadi cukup berkesinambungan dan akan terus berlanjut sampai 2010.

Namun, angka pengangguran yang masih tinggi di beberapa negara membuat banyak kalangan masih khawatir terhadap kesinambungan proses pemulihan yang terjadi. Angka pengangguran di AS misalnya saat ini masih berada di kisaran 10 persen. Perkembangan ekonomi AS amat memengaruhi perekonomian kita karena pada dasarnya sampai saat ini AS masih merupakan mesin utama perekonomian dunia.

Sulit sekali mengharapkan perekonomian dunia yang cerah bila ekonomi AS masih terpuruk. Meski begitu,ada indikasi bahwa pemulihan perekonomian di AS akan berkesinambungan. Hal ini antara lain terlihat dari indikator siklus bisnis perekonomian AS. Ada dua indikator utama yang biasa digunakan oleh ekonom untuk menentukan posisi perekonomian yaitu coincident economic index (CEI) dan leading economic index (LEI).

CEI adalah indeks yang mengukur keadaan ekonomi pada setiap saat.Sedangkan LEI adalah indeks yang dapat melihat prospek perekonomian enam sampai dua belas bulan ke depan. CEI yang naik menggambarkan aktivitas perekonomian yang meningkat. Sebaliknya, CEI yang turun menggambarkan aktivitas perekonomian yang menurun. Sedangkan LEIyangnaikmenggambarkanprospek aktivitas perekonomian yang membaik,dan LEI yang turun menggambarkan prospek perburukan aktivitas perekonomian.

Seperti kita ketahui, untuk mencegah agar keterpurukan di AS tidak terlalu dalam dan lama, baik bank sentral maupun pemerintahnya sudah memberikan stimulus dalam jumlah cukup besar. The Fed misalnya sudah menurunkan bunga acuan sampai 0-25 bps. Stimulus yang diberikan tampaknya mulai memperlihatkan hasilnya. Sejak Juni 2009 CEI tidak turun lagi (gambar 1).

Artinya,penurunan aktivitas perekonomian di sana sudah mulai reda. Selain itu, LEI juga sudah mengalami kenaikan terus-menerus sejak Maret 2009. Pada Oktober 2009 level LEI sudah melampaui level di September 2007.Tren kenaikan LEI yang terjadi tampaknya cukup kuat dan berkesinambungan. Hal ini mengisyaratkan prospek perbaikan perekonomian AS yang berkelanjutan.

Dengan demikian, dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi CEI (indeks yang menggambarkan keadaan ekonomi pada suatu saat) diperkirakan akan naik dengan lebih signifikan mengikuti tren kenaikan LEI.Artinya, proses pemulihan ekonomi di AS tampaknya akan berkesinambungan.

Sebagian besar ekonom dunia memang memperkirakan perekonomian AS akan tumbuh dengan laju 2,5 persen pada 2010 (diperkirakan mengalami kontraksi sebesar 2,4 persen pada 2009).Bukan itu saja,perekonomian global secara keseluruhan pun diperkirakan akan tumbuh dengan lebih cepat. Jepang misalnya diperkirakan akan tumbuh 1,2 persen (kontraksi 5,7 persen pada 2009). Sedangkan Eropa diperkirakan tumbuh dengan laju 1,1 persen (kontraksi 3,8 persen pada 2009).

Prospek Ekonomi Indonesia

Indonesia akan menerima dampak positif dari ekspansi perekonomian global. Pertumbuhan ekonomi global yang lebih cepat akan meningkatkan permintaan terhadap produk-produk dari Indonesia. Artinya, ekspor kita yang selama ini tampak agak loyo akan segera meningkat lagi, yang pada gilirannya akan memberikan dampak positif terhadap aktivitas perekonomian.

Dengan keadaan yang demikian, laju pertumbuhan ekspor Indonesia tahun depan diperkirakan mencapai sekitar 12,9 persen. Selain itu,daya beli masyarakat kita pun tampaknya masih cukup baik.Harga yang relatif terkendali sepanjang 2009 membuat daya beli masyarakat tidak tergerus signifikan. Pada 2010 tampaknya tingkat harga masih akan relatif terkendali. Laju inflasi diperkirakan masih akan berada pada kisaran satu digit, di sekitar 6 persen.

Dengan prospek inflasi yang demikian,ada peluang Bank Indonesia (BI) tidak akan mengubah bunga acuannya sampai akhir 2010. Suku bunga akan pun tetap cukup kondusif bagi pertumbuhan ekonomi. Walaupun saat ini belum turun ke level yang seharusnya, bunga pinjaman diperkirakan turun ke level yang lebih rendah lagi.Bila ini terjadi,daya dorong tambahan terhadap perekonomian akan timbul.

Belanja konsumen akan lebih kuat lagi karena suku bunga yang rendah akan membuat konsumen menjadi tidak enggan lagi untuk meminjam uang dari bank. Hal yang sama juga terjadi pada perusahaan. Dengan suku bunga yang lebih rendah,perusahaan menjadi tidak enggan untuk meminjam dari bank dan meningkatkan realisasi rencana investasi. Dengan keadaan demikian,belanja rumah tangga pada 2010 diperkirakan tumbuh dengan laju sekitar 3,9 persen.

Sedangkan investasi diperkirakan akan tumbuh dengan laju sekitar 12,2 persen, jauh lebih tinggi dari perkiraan laju pertumbuhan sekitar 4,3 persen pada 2009. Impor pun diperkirakan tumbuh dengan laju sebesar 17,3 persen atau jauh lebih cepat dibandingkan dengan kontraksi sebesar 18,5 persen pada 2009.

Kenaikan permintaan di dalam negeri seiring dengan semakin cepatnya laju pertumbuhan ekonomi domestik, ditambah pula oleh kenaikan permintaan bahan baku untuk produksi yang berorientasi ekspor, diperkirakan memicu peningkatan impor yang signifikan pada 2010.

Secara keseluruhan perekonomian Indonesia diperkirakan tumbuh dengan laju sebesar 6,0 persen pada 2010. Angka ini cukup signifikan lebih tinggi dari angka pertumbuhan ekonomi pada 2009. Perkiraan pertumbuhan pada 2010 yang disebutkan di atas mungkin dianggap sebagian kalangan terlalu optimistis.

Kala perekonomian global sedang terpuruk dan perekonomian kita pun tumbuh di bawah 5 persen, prediksi pertumbuhan 6 persen memang akan dirasakan terlalu tinggi.Meski begitu,tren jangka panjang laju pertumbuhan perekonomian kita saat ini ada di sekitar 6 persen.Apabila tidak ada kejutan negatif yang terlalu besar (seperti resesi perekonomian global) dan apabila kita tidak melakukan kesalahan kebijakan yang terlalu konyol, pertumbuhan ekonomi kita akan cenderung bergerak ke arah 6 persen.

Pertumbuhan ekonomi kita bahkan sebenarnya dapat tumbuh di atas 6 persen bila pemerintah dapat merealisasikan janji-janjinya dalam membangun proyek-proyek infrastruktur seperti listrik, jalan, dan pelabuhan. Kurang tersedianya infrastruktur inilah antara lain yang membuat biaya distribusi barang menjadi mahal (membuat inflasi tinggi dan suku bunga tinggi), mengurangi daya saing produk kita di luar negeri, sekaligus memperburuk iklim investasi di negara kita.

Diskusi di atas menunjukkan bahwa prospek perekonomian Indonesia pada 2010 akan lebih cerah dari keadaan ekonomi pada 2009. Pulihnya perekonomian global, rendahnya inflasi dan suku bunga, terpeliharanya daya beli masyarakat, dan meningkatnya aktivitas investasi diperkirakan mendukung ekspansi perekonomian kita pada 2010. (*)

Purbaya Yudhi Sadewa
Chief Economist Danareksa
Research Institute

Iklan
 

2500 itu hadir lagi dah… 281209

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 7:03 pm

IHSG Lompat 1,41% ke Level 2.509
Senin, 28 Desember 2009 – 16:07 wib
TEXT SIZE :
Candra Setya Santoso – Okezone

Foto: Koran SI
JAKARTA – Indeks harga saham gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan saham sesi sore berhasil melonjak 34,809 poin atau 1,41 persen ke posisi 2.509,692.

Penguatan indeks dimotori oleh saham-saham unggulan. Selain itu, bursa Asia Pasifik yang ikut menguat menjadi indikator pendukung rebound-nya indeks saham sore ini.

Volume perdagangan saham Senin (28/12/2009) tercatat sebanyak 3,844 miliar lembar saham senilai Rp3,380 triliun, dengan total transaksi mencapai 66.046 kali. Saham yang ditutup menguat 126 jenis saham, melemah 48 jenis saham, dan stagnan 69 jenis saham.

Jakarta Islamic Indeks (JII) naik 5,263 poin ke posisi 415,923 dan indeks LQ45 naik 7,002 poin ke posisi 495,040. Penguatan ini didukung oleh menghijaunya semua sektor di berbagai bidang dengan dipimpin oleh sektor pertambangan yang menguat paling tajam sebesar 70,75 poin.

Saham-saham yang ditutup menguat atau top gainer, antara lain PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) naik Rp1.400 ke posisi Rp32.000, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) naik Rp750 menjadi Rp22.950, PT Gudang Garam Tbk (GGRM) naik Rp450 ke level Rp20.450, serta PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) naik Rp400 ke posisi Rp17.400.

Saham-saham yang ditutup melemah atau top loser, antara lain PT Goodyear Indonesia Tbk (GDYR) turun Rp700 ke posisi Rp9.100, PT Mandom Indonesia Tbk (TCID) turun Rp200 ke posisi Rp7.600, PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) turun Rp50 ke posisi Rp11.100, dan PT Leo Investments Tbk (ITTG) turun Rp40 ke posisi Rp151.
(css)

Senin, 28/12/2009 16:08 WIB
Sambut Tahun Baru, IHSG Tembus 2.500
Indro Bagus SU – detikFinance

(foto: dok detikFinance) Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya kembali menyentuh level 2.500 setelah jatuh ke level 2.400 selama pekan kemarin. Aktivitas transaksi mendadak ramai didominasi kekuatan daya beli yang semakin mengangkat level IHSG.

Pergerakan saham mendadak agresif seiring dengan masuknya arus modal yang cukup besar. Perburuan saham-saham tambang dan perkebunan mendongkrak IHSG cukup tinggi dibanding bursa-bursa di kawasan Asia pada umumnya.

IHSG tak sempat menyentuh teritori negatif sama sekali pada perdagangan hari ini. Rentang pergerakan IHSG berkisar antara 2.475,087 hingga sempat menyentuh level 2.512,224.

Pada perdagangan Senin (28/12/2009), IHSG ditutup menguat 34,809 poin (1,40%) ke level 2.509,692. Indeks LQ 45 menguat 7,002 poin (1,43%) ke level 495,040. Indeks saham tambang naik tertinggi mencapai 70 poin (3,34%), sedangkan indeks saham perkebunan di urutan kedua naik 43 poin (2,57%).

Bursa-bursa regional Asia sebagian besar menguat, mengiringi bursa Eropa yang juga dibuka menguat tipis. Hanya bursa Hang Seng yang mendadak berbalik arah ke teritori negatif setelah sempat naik 166 poin.

Indeks Komposit Shanghai naik 47,43 poin (1,51%) ke level 3.188,78.
Indeks Hang Seng turun 36,78 poin (0,17%) ke level 21.480,22.
Indeks Nikkei 225 naik 139,52 poin (1,33%) ke level 10.634,23.
Indeks KOSPI naik 3,25 poin (0,19%) ke level 1.685,59.
Indeks Straits Times naik 16,43 poin (0,58%) ke level 2.854,13.

Perdagangan berjalan lambat di sesi I dan mendadak aktif di sesi II dengan frekuensi transaksi di seluruh pasar sebanyak 66.046 kali dengan volume 3,844 miliar saham senilai Rp 2,379 triliun. Sebanyak 126 saham naik, 48 saham turun dan 69 saham stagnan.

Saham-saham paling aktif yang mengalami kenaikan harga antara lain Indo Tambang (ITMG) naik Rp 1.400 ke Rp 32.000, Astra Agro (AALI) naik Rp 750 ke Rp 22.950, Astra International (ASII) naik Rp 200 ke Rp 34.200, Bukit Asam (PTBA) naik Rp 400 ke Rp 17.400, Gudang Garam (GGRM) naik Rp 450 ke Rp 20.450, BRI (BBRI) naik Rp 200 ke Rp 7.700.

Sedangkan saham-saham paling aktif yang mengalami penurunan harga antara lain Goodyear (GDYR) turun Rp 700 ke Rp 9.100, Ancora Resources (OKAS) turun Rp 235 ke Rp 485, Unilever (UNVR) turun Rp 50 ke Rp 11.100, Mandom Indonesia (TCID) turun Rp 200 ke Rp 7.600.
(dro/qom)

Senin, 28/12/2009 16:03 WIB

Transaksi tipis, IHSG naik 34,81 basis poin

oleh : Sylviana Pravita R.K.N.

JAKARTA (bisnis.com): Indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup dengan meraih kenaikan 1,4% atau 34,81 basis poin menjadi 2.509,69, meski volume perdagangan saham hari ini tipis.

Sebanyak 116 saham naik, 40 saham turun dan 240 saham tidak berubah. Saham BBRI naik Rp200 menjadi Rp7.700, BUMI naik Rp125 menjadi Rp2.400, PGAS naik Rp100 menjadi Rp3.925, INCO naik Rp175 menjadi Rp3.575.

Selanjutnya, ITMG naik Rp1.400 menjadi Rp32.000, BMRI naik Rp75 menjadi Rp4.625, AALI naik Rp750 menjadi Rp22.950, PLIN naik Rp320 menjadi Rp1.620, ANTM naik Rp100 menjadi Rp2.200 dan PTBA naik Rp400 menjadi Rp17.400.

Saham-saham yang mencetak penurunan terbesar adalah UNVR turun Rp50 menjadi Rp11.100, OKAS tuun Rp235 menjadi Rp485, BSDE turun Rp20 menjadi Rp850, LPKR turun Rp10 menjadi Rp500 dan KBRI turun Rp25 menjadi Rp320.

bisnis.com

28/12/2009 – 16:08
Awal Pekan, IHSG Ditutup Ngijo
Mosi Retnani Fajarwati

INILAH.COM, Jakarta – Perdagangan hari ini ditutup gemilang, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 34,81 poin (1,41%) ke 2.509,69.

Penguatan juga terjadi pada LQ45 dan JII masing-masing sebesar 7 poin ke 495,04 dan sebesar 5,26 poin ke 415,92.

Sementara dari sisi transaksi perdagangan hari ini mencapai Rp1.643.802.986.000 dengan volume 2.641.143.040. Untuk jumlah saham turun 48, saham naik 126, dan saham stagnan 69. Semua sektor pun bertahan di zona hijau hingga penutupan hari ini.

Beberapa saham yang menyumbang gain antara lain, saham PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) naik Rp1.400 ke Rp32.000, saham PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) naik ke Rp750 ke Rp22.950, saham PT Gudang Garam Tbk (GGRM) naik Rp450 ke Rp20.450, saham PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) naik Rp400 ke Rp17.400, saham PT Astra International Tbk (ASII) naik Rp200 ke Rp34.200, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) naik Rp200 ke Rp7.700, dan saham PT International Nickel Ind. Tbk (INCO) naik Rp175 ke Rp3.575.

Sementara untuk saham yang melemah, antara lain saham PT Good Year Tbk (GDYR) turun Rp700 ke Rp9.100, saham PT Mandom Indonesia Tbk (TCID) turun Rp200 ke Rp7.600, saham PT Ancora Indonesia Tbk (OKAS) turun Rp22 ke Rp485, dan saham PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) turun Rp10 ke Rp500. [mre/hid]

 

manuver2 pamunkass 2500 bulat … 281209

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 8:48 am

Saham Masih Bisa 2.500

KOMPAS/RIZA FATHONI
Pialang menjalankan aktivitas perdagangan saham di lantai Bursa Efek Indonesia, Jakarta.
Artikel Terkait:
Wall Street Kembali Capai Level Tertinggi
Wall Street Pertahankan Kenaikan pada Hari Keempat
Perdagangan Terakhir, IHSG Naik Tipis
Saham Naik Tipis, Rupiah Masih Lemas
Ini Dia Pemberi Untung Terbesar di Bursa
SENIN, 28 DESEMBER 2009 | 08:31 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com – Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa Efek Indonesia pekan ini sekaldiperkirakan masih bisa menggapai level psikologis 2.500. “Beberapa hari menjelang penutupan perdagangan akhir tahun bursa, kami melihat indeks masih memiliki peluang untuk kembali ke level 2.500-an,” sebut analis riset Panin Sekuritas Purwoko Sartono.

IHSG pada perdagangan Rabu (23/12/2009) berhasil ditutup menguat tipis 0,29 persen di 2.474,883, ditengah nilai transaksi yang minim yakni Rp 1,92 triliun seiring dengan libur panjang Natal. “Kami melihat saham-saham consumer goods, farmasi yang cenderung relatif lebih defensif, akan menjadi pilihan trading untuk pekan ini, dibandingkan dengan saham komoditas yang cenderung lebih volatile,” tambah Purwoko.

Sementara untuk hari ini ia perkirakan indeks akan bergerak pada kisaran support-resistance 2.462-2.496.

EDJ

Editor: Edj
IHSG Awal Pekan Rebound 0,3%
Senin, 28 Desember 2009 – 09:36 wib

Candra Setya Santoso – Okezone

JAKARTA – Indeks harga saham gabungan (IHSG) awal pekan sesi pagi dibuka rebound. Pergerakan bursa di kawasan regional yang menguat serta pergerakan saham-saham unggulan, memberi imbas positif terhadap saham-saham unggulan. Seluruh saham cenderung menguat, dipimpin saham sektor pertambangan yang mengalami lonjakan 18,97 poin.

Indeks saham pada perdagangan Senin (28/12/2009) pagi rebound 7,975 poin atau setara 0,32 persen ke level 2.482,858. Sementara itu indeks LQ45 naik 1,874 poin ke posisi 489,912 dan Jakarta Islamic Indeks (JII) menguat 1,189 poin ke posisi 411,849.

Sementara itu, nilai perdagangan dibuka sebanyak 29,0 juta lembar saham senilai Rp71,8 miliar. Sedangkan total frekuensi mencapai 530 kali transaksi. Terdapat 21 saham yang menguat, tiga melemah, dan 13 stagnan.

Sedangkan saham yang dibuka menguat atau top gainer, hanya PT Astra International Tbk (ASII) naik Rp300 ke Rp34.300 PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (ITMG) naik Rp100 ke Rp30.700, dan PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) menguat Rp100 menjadi Rp22.300.

Saham-saham yang dibuka melemah atau top loser, antara lain PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) terkoreksi Rp250 ke Rp10.900, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) turun Rp25 ke posisi Rp4.525, dan PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) melemah Rp10 ke Rp500.

Seperti dikutip dari buletin Samuel Sekuritas Indonesia, IHSG sempat terkoreksi tajam pada awal minggu lalu, turun hingga 78,19 poin terkait dengan kekhawatiran pasar terhadap permintaan Pansus DPR agar Wapres Boediono dan Menkeu Sri Mulyani non aktif selama periode konsultasi. “Kendati Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menegaskan dalam pidatonya di Kopenhagen sabtu malam, tetapi reaksi negatif pasar tetap terjadi pada perdagangan Senin tersebut,” ungkapnya, di Jakarta, Senin (28/12/2009).

Sementara, bursa regional bergerak menguat, antara lain indeks Nikkei 255 berhasil menguat 110,19 poin atau setara 1,05 persen ke posisi 10.604,9, indeks Shanghai Composite di China juga naik 50,302 poin ke posisi 3.191,655, dan indeks Hang Seng menguat 144,25 poin ke posisi 21.661,25. Begitu pula indeks Seoul Composite naik 4,61 poin ke level 1.686,95.
(css)
28/12/2009 – 10:27
Teroris Northwest Airlines Siap Rontokkan IHSG
Ahmad Munjin

(inilah.com /Dokumen)
INILAH.COM, Jakarta – Pergerakan IHSG tiga hari terakhir di 2009 diprediksikan anjlok. Sentimen negatif dari insiden teroris di Northwest Airlines siap mewarnai indeks dengan tekanan jual.

Pengamat pasar modal, Irwan Ibrahim mengatakan, pelemahan indeks tiga hari terakhir perdagangan tahun ini karena terpengaruh negatif dari berita baru pesawat Amerika yang nyaris diledakan. Pelaku, Umar Farouk Abdulmutallab yang mengklaim anggota kelompok Al-Qaidah berusaha meledakkan pesawat.

Menurut Irwan, aksi terorisme ini merupakan berita yang sangat gawat bagi laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Karena itu, indeks domestik akan terpengaruh negatif oleh faktor regional itu.

“Untuk tiga hari ke depan IHSG akan bergerak pada kisaran support 2.300 dan 2.480 sebagai level resistance-nya,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Minggu (27/12).

Karena dipastikan indeks di AS akan anjlok nanti malam, hari ini pasar Asia pun akan anjlok termasuk IHSG. Senin (28/12) ini indeks akan mengarah ke level support pertama 2.420 dan 2.350 (kedua), serta 2.480 sebagai level resistance-nya. “Tapi, bisa saja indeks mengarah ke level resistance terlebih dahulu, namun setelah itu akan turun tajam,” ujarnya.

IHSG (^JKSE), Rabu (23/12) pekan lalu ditutup menguat tipis 7,24 poin (0,29%) ke level 2.474,88. Sementara volume perdagangan mencapai 2,220 miliar senilai Rp1,2 triliun. Saham yang mengalami penurunan mencapai 105 emiten, naik 74, dan 75 saham stagnan.

Lebih jauh, Irwan mengatakan, berita dari AS itu menandakan mewabahnya kembali aksi terorisme. Northwest Airlines merupakan anak usaha Delta Air Lines yang coba diledakan meskipun usaha itu gagal. “Investor di Asia sudah tahu, bahwa indeks AS akan jatuh tajam karena itu indeks regional akan tergelincir,” paparnya.

Aksi teror ini sangat berpengaruh negatif karena terjadi di pesawat. Menurutnya, pasar masih trauma dengan kejadian 11 September 2001 (nine-eleven). Dua pesawat telah menabrak dua menara kembar kebanggaan AS, World Trade Centre (WTC). “Teroris di Pesawat Delta kemungkinan akan menjadi sinyal awal terulangnya peristiwa 11 September 2001 silam,” imbuhnya.

Di sisi lain, lanjut Irwan, indeks juga mendapat tekanan dari sentimen negatif skandal Bank Century senilai Rp6,7 triliun. Kejahatan perbankan ini menurutnya telah melebar ke mana-mana. Pada Januari 2010 Pansus DPR akan memanggil 15 saksi skandal Bank Century termasuk Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

“Karena itu, di pasar akan terjadi tekanan jual dan bukan lagi profit taking,” tukasnya. Apalagi nantinya, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang akan mengambil tindakan. Pada saat yang sama Goerge Junus Aditjondro, seorang pengajar di Universitas Salatiga, sudah merilis sebuah buku ‘Membongkar Gurita Cikeas di Balik Skandal Bank Century’.

Berita lain yang berpengaruh negatif ke pasar adalah Ketua Unit Kerja Presiden untuk Pengelolaan Program dan Reformasi (UKP3R), Marsilam Simanjuntak yang pada akhirnya mengakui kehadirannya dalam rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) 20-21 November 2008 lalu, bukan representasi Presiden SBY melainkan sebagai penasihat Menteri Keuangan.

“Jadi sudah kacau ini. Pernyataannya berbeda-beda. Mana yang benar kita nggak tahu!” timpalnya. Sementara Presiden SBY sendiri mengaku tidak tahu-menahu perihal kucuran dana talangan senilai Rp6,7 triliun itu.

Menurut Irwan, Presiden mustahil tidak mengetahui bailout itu. Pasalnya, SBY sendiri yang menandatangai Perpu No 4 tahun 2008 tentang bailout Bank Century. “Mana mungkin nggak tahu,” ucapnya.

Irwan menandaskan, polemik politik terkait skandal Bank Century menjadi sentimen negatif di pasar. Indeks pun susah untuk naik karena sentimennya sudah sangat negatif. “Sudah kacau balau!” tandasnya. Dalam kondisi ini, pelaku pasar sebaiknya melakukan akumulasi beli dengan orientasi jangka panjang untuk sektor pertambangan.

Saham-saham pilihannya adalah PT Bumi Resources (BUMI), PT Aneka Tambang (ANTM), PT International Nickel Indonesia (INCO), PT Timah (TINS), PT Perusahaan Gas Negara (PGAS), PT Bukit Asam (PTBA), PT Adaro Energy (ADRO), dan PT Indo Tambangraya Megah (ITMG).

Menurutnya, rekomendasi beli, karena suku bunga di tingkat global dan regional masih sangat rendah. Akibatnya, meski saat ini terjadi tekanan jual, IHSG berpeluang kembalirebound. Asal, situasi dalam negeri berangsur membaik. “Setelah kasus skandal Bank Century selesai, dalam dua bulan ke depan, indeks akan kembali naik,” pungkasnya. [mdr]

 

iming-imink doank (15)… 281209

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 7:01 am

Wahyu Sidarta
Associate Analyst Vibiz Research Center
Prospek Bursa Saham Global di Tahun 2010; Indonesia Tetap Menarik di Mata Investor
Kamis, 24 Desember 2009 12:15 WIB

(Vibiznews – Stocks) – Positifnya pemulihan ekonomi global, masih rendahnya tingkat suku bunga global, dan perekonomian Amerika Serikat yang mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan, merupakan resep yang ampuh bagi bursa saham global untuk terus terdongkrak naik. Kita melihat sebelumnya bahwa krisis global yang mencuat di tahun 2008 lalu telah menenggelamkan sektor ekspor, namun menjelang tahun baru 2010, sektor pengeksporan dari negara-negara pengekspor seperti China, Australia, Jerman telah menunjukkan pemulihan yang sangat signifikan.

Pesatnya pertumbuhan ekonomi di zona Asia membuat mereka menjadi primadona investasi oleh para investor asing. Aliran dana asing terus mengalir deras ke bursa saham Asia, IHSG tercatat melesat 112,67% sepanjang tahun ini. Sri Lanka berada di posisi kedua sebesar 89,18%, disusul Vietnam (78,49%), dan India (76,41%). Secara global, bursa Indonesia menduduki peringkat tertinggi kedua setelah bursa Peru yang membukukan gain 139,15%.

Langkah The Fed Selanjutnya Akan Menentukan Pergerakan Bursa Saham Global di Tahun 2010

Federal Open Market Committee (FOMC) sampai saat ini masih bertahan dengan suku bunga acuannya pada posisi 0% sampai 0,25%. The Fed menyebutkan ekonomi AS yang mulai tumbuh ke arah positif masih belum cukup kuat untuk mulai menarik stimulus moneter di negara Amerika Serikat.

Bank sentral AS akan tetap melanjutkan penggunaan sejumlah instrumen moneter untuk mendorong pemulihan ekonomi dan menjaga stabilitas harga. Dengan keputusan itu, The Fed memberikan sinyal memperpanjang masa kebijakan suku bunga rendah yang sudah dimulai sejak Desember 2008. FOMC juga memperpanjang masa berlaku program pembelian pinjaman dan surat berharga berbasis perumahan sampai Maret 2010 dari Desember 2009.

Sedangkan harga-harga komoditas yang terus melambung tinggi dan diperkirakan akan terus berlanjut di tahun 2010 nanti, tentu akan membantu mendongrak saham-saham komoditas, terutama di zona Asia. Seiring pemulihan ekonomi global, di mana tingkat permintaan global akan terus membaik, perusahaan-perusahaan pun diperkirakan akan membukukan laporan keuangan yang terus membaik. Sehingga potensi penguatan bursa saham global lebih lanjut di tahun 2010 nanti, sangatlah mungkin.

Pada saat diumumkan adanya krisis finansial di Dubai World, Uni Emirat Arab, memang bursa saham secara global terperosok cukup dalam karena kekhawatiran akan terjadinya resesi gelombang ke-2. Namun ternyata hal tersebut hanya suatu kepanikan yang terlalu berlebihan, di mana krisis finansial di Dubai ternyata tidak mempunyai pengaruh yang signifkan terhadap perekonomian zona Asia. Lagipula negara Arab merupakan negara yang sangat kaya, yang di mana pemerintahan Abu Dhabi akhirnya memutuskan untuk mengucurkan dana sebesar US$ 10 milyar untuk membantu mencegah potensi gagal bayar di Dubai World.

Lalu isu yang kedua adalah masalah perkreditan di Yunani yang diperkirakan akan membahayakan perekonomian Eropa. Namun ternyata hal tersebut diperkirakan tidak akan berpengaruh banyak terhadap perekonominan Eropa, yang di mana Jerman, Perancis dan Italia sebagai jantung perekonomian Eropa telah menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang positif. Diperkirakan sampai tahun 2010 nanti, kinerja perusahaan-perusahaan Eropa akan terus membaik mengiringi optimisme ekonomi di Amerika Serikat.

Jika kita melihat data ketenagakerjaan Amerika di awal bulan Desember 2009 ini, memang memperlihatkan hasil yang sangat sensasional, sehingga membuat banyak yang menilai bahwa ekonomi Amerika menunjukkan tanda-tanda pemulihan ekonomi yang kuat. Tetapi perlu diingat, tingkat pengangguran AS di level 10% masih merupakan angka yang sangat buruk.

Di tahun 2009, perusahaan – perusahaan di Amerika mampu survive melalui pemotongan biaya, yaitu salah satunya adalah pengurangan tenaga kerja. Sehingga saat ini tingkat pengangguran di AS masih bertengger di level 10%. Bukan saja di Amerika, tetapi negara-negara Eropa dan Asia juga mengalami masalah yang sejenis. Hal tersebut merupakan masalah yang cukup mengkhawatirkan investor, karena tingkat pengangguran yang tinggi akan menghambat tingkat konsumsi dan tentunya memperlambat pemulihan ekonomi global.

Maka pertanyaannya adalah seberapa cepat pemulihan ekonomi di tahun 2010 nanti dan apa yang akan dilakukan Amerika untuk mengatasi tingkat penganggurannya yang masih sangat tinggi tersebut? Langkah The Fed di tahun 2010 dan solusi dari tingkat pengangguran global yang tinggi, akan berperan penting dalam menentukan pergerakan bursa saham secara global di tahun 2010.

Melihat masih ada sejumlah hal penting yang kontra dengan pemulihan ekonomi global, terutama masalah pengangguran, maka diperkirakan pergerakan bursa saham secara global di tahun 2010 nanti akan cukup volatil, dengan kecenderungan masih dalam tren naik. Sehingga bursa saham di tahun 2010, lebih cocok diperuntukkan bagi investor dengan mental baja.

Indonesia Masih Dilirik Asing, Namun Kondisi Politik Sedikit Mengkhawatirkan

Tahun 2009 sebentar lagi berakhir dan kita akan segera menyambut tahun yang baru. Prospek bursa saham Indonesia di tahun 2010 masih cukup baik, namun tampaknya akan ada banyak rintangan yang berpotensi menghambat laju IHSG. Perekonomian Indonesia saat ini masih terus bertumbuh. Pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal ke III-2009 berada pada kisaran 4,0%-4,5%, sedangkan pemerintah memprediksikan tahun 2010 nanti akan meningkat menjadi 5,5%.

Tetapi ada banyak hal yang dapat memberikan sentimen negatif terhadap bursa saham di dalam negeri, yaitu antara lain :

1. Faktor politik, di mana pemerintah saat ini ternyata tidak sestabil seperti yang diharapkan, di mana pemerintah terus dihantui oleh kasus Bank Century. Di awal tahun 2010 diperkirakan kasus Bank Century akan membuahkan solusi, bila hasilnya berakhir buruk, maka tentu investor asing akan memilih angkat kaki dari Indonesia.

2. Perdagangan bebas ASEAN-China (ACFTA). Tahun 2010, ASEAN (termasuk Indonesia) akan melakukan pasar bebas dengan China. Hal ini mendapat banyak kritik, pemerintah disarankan untuk tidak terburu-buru untuk masuk dalam kesepakatan perdagangan bebas tersebut. Karena diperkirakan, efeknya akan cenderung jangka panjang, di mana manufaktur Indonesia akan kalah bersaing, terlindas produk Cina. Benar-benar hal yang buruk bagi kemajuan perekonomian Indonesia ke arah lebih mandiri, apalagi Indonesia sama sekali belum ada persiapan untuk menghadapi perdagangan bebas tersebut, sedangkan China sudah menyusun strategi sejak 8 sampai 10 tahun lalu.

3. Potensi kenaikan suku bunga di tahun 2010. Seiring pemulihan ekonomi, inflasi akan meningkat, dan The Fed akan menaikkan suku bunganya. Potensi kenaikan cukup besar di tahun 2010, saat ini sudah mulai terlihat dari penguatan US Dollar yang signifkan. Secara jangka panjang naiknya suku bunga berpengaruh baik bagi AS, tetapi secara jangka pendek akan mengakibatkan capital outlow dari negara-negara di luar AS, termasuk Indonesia.

IHSG di tahun 2010 prospeknya masih cukup baik, namun disertai potensi koreksi yang cukup besar. Berbeda dengan 2009 yang kenaikannya cukup stabil, IHSG 2010 mungkin akan lebih bergejolak. Kalau mengenai potensi kembali ambruknya bursa saham Indonesia di tahun 2010, tampaknya sangat kecil kemungkinannya untuk terjadi. Walaupun inflasi tinggi, suku bunga BI akan dinaikkan, hal tersebut merupakan penyesuaian dari kondisi tahun lalu. Sehingga jika terjadi koreksi, para investor tidak perlu panik yang berlebihan.

Selamat Berinvestasi dan Semoga Beruntung !!!

(Wahyu Sidarta/WS/vbn)
Buku Ramalan Dicari
Sejumlah Peristiwa Politik dan Ekonomi Diduga Ikut Jadi Pemicu
Minggu, 27 Desember 2009 | 04:50 WIB

Jakarta, Kompas – Penjualan buku mengenai ramalan tahun 2010 meningkat tajam menjelang pergantian tahun dari 2009 ke 2010. Kondisi yang rutin terjadi setiap akhir tahun ini diduga karena masyarakat ingin memperoleh gambaran yang mungkin terjadi pada tahun depan.

Di Toko Buku Gramedia Matraman, Jakarta Pusat, Sabtu (26/12), tidak kurang dari 20 judul buku bertema penerawangan masa depan dipajang di sejumlah meja dan rak. Buku bertema ramalan yang mulai banyak dipajang sejak akhir November lalu itu terbagi menjadi tiga topik, yaitu tarot, fengshui, dan primbon.

Buku tentang ramalan juga dijual di Toko Buku Kharisma di Plaza Gadjah Mada, Jakarta Pusat. Buku itu, antara lain, berjudul Indonesia Rawan Bencana 2010-2014 karangan Made Sandiago, Kiamat 2012 karya Lawrence E Joseph, Cinta dan Perkawinan Menurut Shio, dan Meramal dengan Kartu Tarot. Turut juga dijual buku Ramalan Nostradamus Milenium Ke-3 karya Irwin Lin Nan Sen.

Asisten Manajer Toko Buku Karisma Gadjah Mada Plaza Osha Khosiyati mengatakan, dibandingkan dengan hari biasa, penjualan buku-buku yang bertema ramalan meningkat lebih dari dua kali lipat pada bulan Desember ini.

Misalnya, buku Cinta dan Perkawinan Menurut Shio, yang pada hari biasa hanya terjual sekitar 30 eksemplar per bulan, sejak awal Desember lalu hingga sekarang sudah terjual sekitar 100 eksemplar. Sementara buku Kiamat 2012 banyak terjual saat film 2012 karya Roland Emmerich diputar di sejumlah bioskop di Indonesia pada pertengahan November lalu.

”Konsumen kami sebagian besar dari etnis Tionghoa sehingga yang dicari umumnya buku tentang shio atau fengshui,” kata Osha.

Menurut Osha, konsumen umumnya membandingkan shio dirinya dan shio pada tahun depan dengan shio Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

”Mungkin karena sepanjang tahun ini Indonesia banyak dihebohkan oleh peristiwa politik dan kasus besar yang melibatkan negara. Karena itu, orang ingin tahu peristiwa apa lagi yang akan terjadi tahun depan dan bagaimana cara menyikapinya,” kata Osha.

Rima, penyelia Toko Buku Gramedia Matraman, mengatakan, buku ramalan, terutama yang bertema fengshui, memang punya pasar tersendiri. Setiap tahun pasti ada judul baru. Namun, penulisnya tetap itu-itu saja.

Namun, menurut Rima, sekarang yang paling diminati adalah buku untuk membaca tarot.

Pada tahun ini ada empat judul buku baru untuk membaca tarot, di antaranya The Real Art of Tarot karangan Hisyam A Fachri dan Easy Tarot yang disusun Lidia Pratiwi. Semua buku tentang tarot yang dijual dengan harga Rp 95.000 ini memberi bonus satu pak kartu tarot.

Di Toko Buku Gramedia saat ini juga dijual kalender peruntungan berdasarkan fengshui. Kalender meja ini dijual dengan harga Rp 98.000.

Sementara buku primbon terbitan baru yang dijual di Toko Buku Gramedia, antara lain, berjudul Primbon Masa Kini. Buku tersebut dilengkapi dengan bonus cakram padat yang berisi cara membaca watak diri sendiri dan orang lain.

Namun, buku bertema ramalan tidak ditemukan di Toko Buku Gunung Agung di kawasan Kwitang, Jakarta Pusat.

”Saya bermaksud membaca buku ramalan. Jika bagus, akan saya beli. Karena tak ada di toko ini, saya akan mencarinya di tempat lain,” kata Alfian, pengunjung Toko Buku Gunung Agung di Kwitang. (HEI/WSI/YOP/WIE)

 

ganti aturan lagi, investor fokus ke laba aja dah… : 281209

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 6:38 am

Senin, 28/12/2009 00:00 WIB

Pedoman akuntansi perusahaan efek akan diganti

oleh :

JAKARTA: Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) berencana mengganti pedoman akuntansi perusahaan efek (PAPE) yang sudah ada. Otoritas pasar modal berniat menerbitkan pedoman yang baru tersebut pada 2011.

Kepala Biro Standar Akuntansi dan Keterbukaan Bapepam-LK Etty Retno Wulandari mengatakan selama ini PAPE yang ada merupakan produk PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dan belum diperbarui sejak diterbitkan pada 1998.

“Kami ingin menggantinya dengan yang baru, dan nantinya merupakan produk Bapepam-LK, bukan lagi dari BEI lagi agar dasar hukumnya lebih kuat,” ujarnya kepada Bisnis pekan lalu.

Etty yang juga merupakan salah satu anggota Dewan Standar Akuntansi Keuangan menjelaskan penggantian PAPE itu dilakukan sekaligus untuk menggantikan dasar akuntansi yang digunakan perusahaan efek selama ini, yaitu pernyataan standar akuntansi dan keterbukaan (PSAK) No.42 tentang Akuntansi Perusahaan Efek.

PSAK tersebut baru saja dicabut oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan pada pekan ini bersama dengan beberapa PSAK lain.

Menurut dia, pembuatan PAPE itu sudah mulai dilakukan dengan pembahasan awal dengan manajemen BEI. Penerbitan itu, tuturnya, masih menunggu penerbitan beberapa pernyataan standar akuntansi dan keterbukaan yang akan menjadi acuan dalam pembentukan PAPE.

“Beberapa PSAK itu akan menjadi dasar PAPE, dan rencananya baru diterbitkan tahun depan.”

Etty menjelaskan salah satu poin yang akan masuk di dalam PAPE baru itu yaitu tentang tata cara penghitungan modal kerja bersih disesuaikan (MKBD). Belum disahkannya peraturan BEI yang mengatur MKBD, lanjutnya, menjadi salah satu faktor yang ditunggu oleh pembahasan PAPE.

Awalnya otoritas pasar modal berharap peraturan BEI dan Bapepam-Lk tentang MKBD dapat diterbitkan tahun ini, tetapi hingga saat ini peraturan itu belum diterbitkan.

Ketua Dewan Standar Akuntansi Keuangan Rosita Uli Sinaga menambahkan lembaganya juga mencabut PSAK 49 tentang Akuntansi Reksa Dana pekan lalu.

Awalnya, Bapepam-LK memprediksi pencabutan tersebut dilakukan bersamaan dengan diterbitkannya peraturan otoritas pasar modal tentang akuntansi reksa dana. Hingga saat ini peraturan baru No. VIII.G.10 tentang Pedoman Penyajian Laporan Keuangan Reksa Dana Berbentuk Kontrak Investasi Kolektif belum disahkan.

Sehingga, terjadi kekosongan hukum yang secara khusus mengatur pencatatan akuntansi produk investasi pasar modal itu.

Etty mengatakan otoritas pasar modal tidak mengkhawatirkan belum adanya peraturan khusus tentang akuntansi reksa dana dan laporan keuangan manajer investasi karena pelaku industri dapat menggunakan peraturan yang lama.

Selain PSAK 1, Rosita menambahkan IAI juga mengesahkan sembilan PSAK lain yang akan berlaku penuh pada 2011. (21)

Bisnis Indonesia

bisnis.com

 

akh, uda tau … 281209

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 6:29 am

Senin, 28/12/2009 00:00 WIB

IHSG terbaik di Asia Pasifik
Penggalangan dana segar turun jadi Rp38 triliun

oleh :

JAKARTA: Kinerja indeks harga saham gabungan Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang tahun ini menempati posisi terbaik dibandingkan dengan indeks saham di pasar Asia Pasifik.

Dari Januari hingga Rabu pekan lalu, IHSG mencetak keuntungan 118,13%, posisi teratas, setelah pada tahun lalu terhempas 58,65% akibat krisis finansial global.

Kenaikan indeks harga saham gabungan (IHSG), yang disesuaikan dalam dolar AS tersebut, selama ini berada di posisi empat terbesar dunia, bersaing dengan indeks saham emerging market lain seperti Rusia, Brasil, dan Peru.

Bursa saham emerging market di Asia seperti China dan India tidak mampu menandingi lonjakan gain IHSG, meski sama-sama mencatatkan pertumbuhan ekonomi positif di tengah resesi.

Associate Director for Equity Market PT Reliance Securities Tbk Andy Porman Tambunan mengatakan lonjakan pertumbuhan keuntungan dari indeks saham bursa nasional itu menunjukkan tingginya keuntungan investasi dalam jangka pendek.

“Market kita lebih berkembang dibandingkan dengan China dan India dengan laba jangka pendek yang lebih menjanjikan. Namun, pertumbuhan jangka pendek itu juga mudah goyah jika ada sentimen negatif dari ranah politik seperti skandal PT Bank Century Tbk,” tuturnya kepada Bisnis, kemarin.

Imbas negatif dari kasus itu, lanjutnya, terindikasi menekan gejala tahunan window dressing. Akibatnya, kenaikan IHSG sepanjang tahun berjalan ke level penutupan 2.474,88 tidak sesuai dengan ekspektasi pasar yang memproyeksikan level 2.700-2.800.

Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Ito Warsito mengatakan kenaikan IHSG itu wajar terjadi, mengingat indeks tertimpa sentimen negatif dari bursa global sehingga terkoreksi 50,6% pada tahun lalu.

“Jadi, ini wajar saja. Tingginya kenaikan tahun ini lebih disebabkan oleh kondisi fundamental ekonomi dan emiten Indonesia yang sebenarnya masih kuat meski dunia mengalami resesi global,” tuturnya kemarin.

Jika pertumbuhan keuntungan bursa di Asia pasifik tidak dihitung dalam dolar AS, pertumbuhan return bursa Indonesia berada di posisi kedua dengan kenaikan sepanjang tahun berjalan hanya 82,59%, jauh di bawah kenaikan indeks Shenzen bursa saham China sebesar 111,12%.

Indeks Shenzen pada 24 Desember berada di level 1.168,17 dari posisi awal tahun 571,14, sedangkan IHSG hingga penutupan 23 Desember berada di posisi 2.474,88, melompat dari posisi 5 Januari di level 1.437,34.

“Namun, kita perlu memahami bahwa Pemerintah China mengintervensi bursa dengan menyuntik dana mereka ke pasar saham dan mewajibkan banyak orang untuk masuk ke bursa. Jika aspek pergerakan wajar dipertimbangkan, IHSG kemungkinan bisa lebih tinggi,” ujar Andy.

Investor asing hanya mencatatkan total pembelian bersih Rp488,45 miliar pada pekan lalu dari transaksi akumulatif sepekan itu Rp8,83 triliun. Pada Senin 21 Desember, pembelian bersih oleh pemodal asing mencapai Rp200,54 miliar, pembelian bersih Selasa Rp139,07 miliar, dan pada Rabu Rp148,84 miliar.

Kapitalisasi pasar

Seiring dengan pertumbuhan keuntungan, nilai kapitalisasi bursa pun tumbuh 66,58% dari Rp1.143,19 triliun pada 5 Januari 2009 menjadi Rp1.904 triliun pada 23 Desember. Selama 2009, sebanyak 13 emiten baru mencatatkan sahamnya dengan nilai Rp3,835 triliun.

“Kenaikan itu dipicu kenaikan harga saham yang sudah ada maupun pencatatan saham baru. Saham PT Bank BTN Tbk menyumbang kapitalisasi lumayan besar karena posisinya sebagai emiten berkapitalisasi terbesar delapan di antara emiten-emiten bank,” ujar Andy.

Dia menilai pemerintah dan BEI perlu menggenjot jumlah investor pasar modal, agar tingginya keuntungan bursa dan kenaikan indeks itu bisa dinikmati lebih banyak investor domestik.

Penggalangan dana di pasar modal pada sepanjang tahun ini mencapai Rp38,04 triliun, hanya 40,78% dibandingkan dengan akumulasi pencarian modal pada tahun lalu Rp93,26 triliun.

Data Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan menunjukkan penyebab utama rendahnya penggalangan dana tahun ini karena nilai IPO tahun lalu relatif lebih besar dibandingkan dengan 2009.

PT Bank Tabungan Negara Tbk merupakan penjual saham perdana terbesar pada tahun ini yaitu Rp1,88 triliun. Rights issue terbesar berasal dari PT Bank Danamon Tbk Rp3,99 triliun.

Emisi obligasi terbesar dicatatkan oleh PT Bank Mandiri Tbk sebesar Rp3,5 triliun, PT Bank Ekspor Indonesia sebesar Rp2,5 triliun, Bank Rakyat Indonesia Rp2 triliun, Indofood Rp1,61 triliun.

Kepala Riset PT Paramitra Alfa Sekuritas Pardomuan Sihombing menjelaskan penurunan aksi korporasi tahun ini dipengaruhi kondisi ekonomi global dan masih ada kekhawatiran dari pelaku pasar.

“Umumnya mereka baru melakukan aksi pada semester II/2009, memang terlambat, karena semua pelaku industri memerlukan konfirmasi terhadap kondisi ekonomi tahun depan,” ujarnya kemarin. (21) (arif.gunawan@bisnis.co.id)

Oleh Arif Gunawan S.

Bisnis Indonesia

bisnis.com