1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

daripada maen saham, mendingan (5) …301209 30 Desember 2009

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 8:46 am

PROFIL
26DES20090
KETIKA KAMPIUN FOREX MERANCANG MUTUMANIKAM
Queen of the South Sea melingkar anggun di leher. Setiap jengkalnya terajut indah dari rose gold yang kemerahan. Seperti namanya, “Nyi Roro Kidul”, kalung ini menebarkan pesona magis lewat untaian emas dengan mutiara Laut Selatan di tiap ujungnya. Tak pelak, perhatian orang bak tersedot sesaat, ketika memandang kalung itu.
“Cantik sekali, Bu,” celetuk seorang pengunjung pameran Mutumanikam 2009 akhir pekan silam, setelah ia memandang Queen of the South Sea. “Terimakasih, Ibu,” jawab Delia Yunita Moeprapto, riang.
Delia adalah pencipta kalung seharga Rp 1,5 miliar tersebut. Lewat gairah seninya, wanita yang juga dikenal sebagai Delia von Rueti ini menciptakan karya perhiasan bermutu tinggi.
Tak heran, kalangan elite dan pejabat menjadi pelanggan setia Delia, seperti Ani Yudhoyono dan Miranda Goeltoem. Artis Hollywood seperti Uma Thurman, Michelle Yeoh, dan keluarga Al Fayed juga ikut kepincut pada rancangan Delia.
Delia, kelahiran Pematang Siantar, 13 Juni 1966, mengaku bahwa merancang perhiasan telah menjadi hasratnya sejak kecil. Bahkan, sebenarnya, perempuan berdarah Jawa dan Batak ini berniat menekuni ilmu seni secara serius.
Namun, ibu Delia, Eunice Pakpahan yang pengusaha perkebunan CPO dan karet, menahan niat Delia. “Kamu cari sekolah yang jelas-jelas sajalah, inang, nanti kalau sudah bisa cari makan sendiri, barulah kamu terusin art-art-mu itu,” Delia menirukan ibunya.
Eunice telah menjadi orangtua tunggal bagi Delia, sejak ia berusia 12 tahun. Berbekal nasihat ini Delia lantas mengambil jurusan ekonomi di New York University. Kemudian, tahun 1993, Delia menamatkan master bidang pemasaran di San Diego State University.
Ternyata, menjadi mahasiswa ekonomi membuat Delia tertantang terjun di industri pasar modal. Sembari kuliah, Delia pun menyambi menjadi broker saham di JP Morgan.
Semula Delia mengaku sangat sulit melakoni profesi itu. Namun, lambat laun ia berhasil menggaet investor setiap bulan. Saat Delia berhenti empat tahun kemudian, ia sudah berhasil mengumpulkan penghasilan US$ 25.000. “Modal saya
US$ 3.000, dan saya membuatnya berlipat-lipat di usia muda. Tentu saya senang,” tutur ibu dari tiga anak ini.
Setia dalam pameran
Ia lantas menggunakan hasil jerih payahnya sebagai modal mendirikan d’Unlimited, sebuah perusahaan yang berbasis di Indonesia ini bergerak di bisnis impor dan produsen sarung tangan. Selain itu, d’Unlimited juga mengimpor reverse osmosis, alat penghasil air bersih.
Pada tahun 1994 Delia menikah dengan Patrick von Rueti, kawan kuliahnya.
Tahun 1995, Delia dan Patrick sepakat mendirikan perusahaan trading bernama PT Kaya Capital. Pasangan ini menggelontorkan modal US$ 6 juta untuk mendirikan perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan valas (forex trading) itu.
Tapi, gempuran krisis ekonomi 1997 membuat d’Unlimited gulung tikar. Tinggal Kaya Capital yang masih tegak.
Meski telah sukses jadi pengusaha, Delia tak pernah melepaskan hobi merancang perhiasan. Alhasil, pada tahun 2000 Delia mendirikan PT Tapak Mas di Bali. Delia semakin tekun menghasilkan perhiasan premium. Dalam perkembangannya, Tapak Mas juga mengembangkan bisnis batubara dan usaha perkebunan.
Menurut Delia, merancang perhiasan bukanlah bisnis. Ia melakukan hal ini karena telanjur jatuh hati pada desain perhiasan. Jadi, Delia tak mau memamerkan perhiasannya ke khalayak. Sikap Delia ini membuat rekan-rekannya gemas. Sampai kemudian seorang rekan membuatkan pameran untuk Delia di Paris.
Tak disangka, pameran pertama di Paris sukses. Semua perhiasan karyanya ludes terjual. Ini membuat Delia pede. Selanjutnya, Delia memamerkan karyanya di Hotel Dharmawangsa. Lagi-lagi pameran ini juga sukses berat.
Melihat antusiasme masyarakat yang tinggi, Delia pun rajin ikut pameran. Ia memang berusaha konsisten hanya menjual perhiasan di pameran. “Saya sangat disiplin menjaga prinsip ini karena karya saya berbeda,” tutur Delia.
Wajar saja. Sebab, dalam satu untaian perhiasan, Delia bisa memakai material pilihan dari berbagai belahan dunia. Delia banyak menggunakan emas, rose gold, palladium, rhodium, dan perak. Tak lupa ia menaburkan aneka batuan mulia seperti safir, amethyst, rubi, dan mutiara. Yang tak kalah unik, Delia selalu menggunakan teknik wax carving. Ini adalah pembuatan perhiasan dengan menggunakan lilin khusus.
Lewat tangan Delia, harga sebuah gantungan kalung berbentuk jaring laba-laba bisa mencapai Rp 200 juta. Lalu, sebuah gelang emas bertahta bebatuan mulia harganya sekitar Rp 75 juta.
Jangan heran, dalam setiap pameran, penjualan Delia selalu tembus Rp 1 miliar. o
15DES20090
ASRI TADDA, PEBISNIS ONLINE DARI MAKASSAR

Tidak ada yang istimewa dari sosok Asri Tadda. Sepintas, ia terlihat seperti anak muda pada umumnya yang doyan mengobrol, penuh semangat dan energik. Tapi, jangan salah, di balik penampilan sederhananya, ia merupakan salah satu pengusaha muda yang sudah membuktikan kepiawaiannya dalam berbisnis.

Bahkan, Asri meraih penghargaan sebagai pemenang kedua tingkat nasional kategori pengusaha muda mandiri dalam ajang Wirausaha Muda Mandiri (WMM) 2008. Ini merupakan ajang tahunan yang diadakan PT Bank Mandiri Tbk untuk mendorong wirausaha di kalangan anak muda.

Kini, Asri sukses memimpin dan mengelola AstaMedia Group yang bermarkas di Makassar. Perusahaannya ini membawahi sejumlah cabang usaha, yang bergerak di bidang online marketing.

Asri mempunyai ratusan blog. Salah satunya, http://www.astamediagroup.com. Bisnis Asri meliputi penjualan iklan per klik di dalam blog, optimalisasi search engine, dan jual beli artikel online.

Tapi, setahun belakangan, Asri juga mulai mengembangkan bisnis konvensional sebagai pendamping bisnis utamanya yang berada di dunia kasat mata ini. Antara lain, bisnis kafe dan membuka sekolah.

Sukses Asri tidak dibangun dalam sesaat. Pemuda kelahiran Malili, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan itu mengaku membangun bisnisnya dari nol. Kendati lahir dari keluarga mampu, Asri dikenal sebagai sosok anak muda yang mandiri. Hasratnya untuk mandiri tampak sejak remaja. Setamat pendidikan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) di Malili, Asri memilih merantau ke Kota Makassar untuk menamatkan pendidikan Sekolah Menengah Umum-nya (SMU). Jadi, ia sudah mulai merasakan betul terbatasnya uang bulanan kiriman orang tuanya.

Setamat SMU tahun 1999, Asri berhasil masuk ke jurusan Kedokteran Umum di Universitas Hasanuddin Makassar (Unhas). “Bukan main bangganya orang tua saya melihat saya menjadi calon dokter,” tutur pria kelahiran 3 April 1981 itu.

Tapi dasar Asri, ia tidak kerasan hanya duduk diam menuntut ilmu. Ia malah aktif mengikuti seabrek kegiatan organisasi intra kampus, serta mengikuti organisasi kepemudaan lainnya.

Ia pernah menjabat sebagai Ketua Umum Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakul-tas Kedokteran Universitas Hasanuddin Makassar tahun 2001-2002.

Pada masa yang sama, ia juga menjabat sebagai Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Fakultas Kedokteran Unhas, serta Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Makassar Timur.

Tak hanya itu aktivitasnya. Ia juga menjabat sebagai Pengurus Besar Ikatan Pelajar Mahasiswa Indonesia Luwu Raya (PB IPMIL RAYA), Pengurus Pusat Ikatan Pelajar Mahasiswa Luwu Timur (PP IPMA-LUTIM), Ketua Umum Lembaga Kesehatan Mahasiswa Islam (LKMI) HMI Cabang Makassar Timur. Serta, Direktur Program Sawerigading Institute. “Pengalaman berorganisasi telah menempa jiwa kepemimpinan saya,” tukasnya.

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s