1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

imink-iming doank (19) … 301209 30 Desember 2009

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 9:26 am

Wajah Pasar Modal 2010
Senin, 28 Desember 2009 – 11:52 wib

Setahun lalu, masih ingatkah Anda bagaimana membayangkan pasar modal Indonesia di 2009? Sebagian besar pelaku pasar, analis dan investor menatap 2009 dengan sikap was-was, penuh keraguan, bahkan ada yang pesimis dan menatap tanpa gairah.

Maklum, memasuki 2009 lalu, semua pelaku pasar baru saja menghadapi dampak psikologis yang amat dasyat akibat pasar tertekan sangat hebat oleh krisis keuangan yang menjalar seantero dunia. Bayangan suram, bukan hanya menghinggapi pelaku pasar, tetapi pelaku ekonomi pada umumnya. Tahun 2009 dipandang sebagai tahun yang penuh ketidakpastian.

Fakta rupanya bicara lain. Bayangan suram yang ditakutkan hanya berlangsung pada tiga pertama 2009. Indikator pasar pada tiga bulan pertama sesuai dengan bayangan suram yang menggelayuti benak pelaku pasar. Transaksi saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) minim. Nilai rata-rata transaksi harian selalu di bawah Rp 2 Triliun. Januari tercatat Rp 1,65 Triliun, Februari Rp 1,23 Triliun dan Maret sedikit bergerak naik menjadi Rp 1,85 Triliun. Rata-rata saham yang berpindah tangan juga kecil, tidak lebih dari 2 miliar saham sehari. Begitupun dengan frekwensi transaksi, ada di kisaran 40.000-an per hari. IHSG pada Januari dan Februari tercatat terus terkoreksi. Pendek kata, kondisi pasar tiga bulan pertama mewakili perasaan pelaku pasar yang pesimis.

Bulan ke empat, April dan seterusnya, tanpa diduga pasar seperti mendapat suntikan energi besar, tiba-tiba bergerak kencang dan melaju cepat. Semua indikator perdagangan mengalami peningkatan yang tidak disangka-sangka. Hingga tulisan ini dibuat, pasar masih memperlihatkan kegairahannya, meskipun sesekali agak terganggu oleh faktor-faktor di luar pasar yang mendatangkan sentiment negatif. Catatan BEI, sampai 11 Desember lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah bertengger di level 2.519,10 atau tumbuh 85,86% dibandingkan penutupan 2008 di titik 1.355,41.

Pertumbuhan IHSG sebesar itu sekaligus menempatkan BEI di peringkat pertama sebagai Bursa Efek yang mencatat prestasi atau return tertinggi di dunia. Posisi kedua dan ketiga ditempat bursa Shanghai (78,34%) dan Bursa Mumbai India (77,45%). Nilai rata-rata transaksi harian mencapai Rp 4,1 Triliun dan volume rata-rata 6,33 Miliar lembar saham dengan frekwensi rata-rata mencapai 88.000 kali transaksi per hari.

Pendek kata, nuangsa pasar di 2009 sama sekali berbeda 180 derajat dibandingkan dengan suasana pasar 2008. Pada 2008, investor diliputi suasana ‘berkabung’, sedangkan pada 2009 perasaan investor berbunga-bunga ibarat menikmati angin surga.

2010

Bagaimana dengan 2010, Tahun Macan yang sebentar lagi datang? Tahun 2008 dan 2009 memberikan pelajaran berharga bagi investor untuk menghadapi 2010. Apakah 2010 akan diwarnai aksi profit taking besar-besaran setelah sepanjang 2009 investor menangguk untung 85,86%? Ataukah pencapaian selama 2009 masih akan terus berlanjut hingga 2010?

Harus diingat pada awal 2008, IHSG pernah mencapai puncaknya di level 2.830-an. Jika ini dijadikan sebagai tolok ukur puncak prestasi, maka sebenarnya pertumbuhan IHSG 2009 yang amat gemilang tadi belum mengembalikan pasar modal pada posisi puncak yang pernah dicapai. Artinya masih ada peluang untuk meneruskan pertumbuhan nilai portofolio. Apalagi faktor untuk mencapai pertumbuhan itu amat mendukung.

Dari sisi makro ekonomi, diperkirakan pertumbuhan ekonomi akan mencapai kisaran 5,3% hingga 5,5%. Bahkan ada yang berani menaksir hingga 6%. Untuk mencapai pertumbuhan sebesar itu tentu saja dibutuhkan investasi yang juga besar. Ekonom dari Universitas Indonesia Chatib Basri dalam sebuah presentasinya mengatakan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 1% dibutuhkan investasi sebesar 4,5% APBN. Bisa dihitung berapa dana investasi yang dibutuhkan untuk mencapai pertumbuhan 5,3%. Dari mana sumbernya? Salah satu andalannya adalah sektor swasta dan pasar modal.

Maka jangan heran jika pada 2010 akan banyak Emiten baru dan akan banyak Emiten yang akan menambah modalnya melalui penerbitan saham baru atau obligasi. BEI sendiri menargetkan Emiten baru sebanyak 25 perusahaan. Jumlah perusahaan yang akan mencatat emisi saham tambahan sebanyak 35 perusahaan.

Dari sisi moneter, posisi nilai tukar Rupiah juga diramal akan semakin kuat di kisaran Rp 9.300 per dolar AS hingga Rp 9.500 per dolar AS. Tingkat suku bunga acuan diperkirakan sekitar 7% dan laju inflasi ditaksir berkisar 6,5%.

Dengan indikator makro yang lebih baik, pemodal boleh menaruh asa pada 2010. Hilangkan sikap putus asa akibat runtuhnya pasar pada 2008. Jika Anda belum merasakan nikmatnya pertumbuhan saham pada 2009, maka masih ada peluang untuk merasakannya di 2010. (Tim BEI)(//rhs)
Menkeu: Waspadai Ekonomi 2010
Kamis, 31 Desember 2009 – 08:09 wib

JAKARTA – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengingatkan para investor untuk mewaspadai pergerakan ekonomi nasional dan global, meski tren pertumbuhan 2010 diperkirakan lebih baik.

Dia juga meminta investor tidak terhanyut dalam sentimen positif tersebut. “Kami tidak boleh mengalami euforia berlebihan pada semester II 2009 ini. Ada beberapa hal yang perlu diwaspadai dan diantisipasi,” ujar Sri Mulyani Indrawati saat acara penutupan perdagangan saham 2009 di Jakarta kemarin.

Menkeu menuturkan, sinyal pembalikan tren pertumbuhan ekonomi ke arah lebih positif ini mulai terlihat pada semester II-2009.Perekonomian nasional dinilai sudah berhasil melewati masa terburuk akibat krisis keuangan global pada akhir 2008 yang berlanjut hingga dua kuartal pertama di tahun ini.

Melihat itu, Menkeu mengingatkan, semua relaksasi kebijakan yang dibuat pemerintah sehingga bisa menjaga pertumbuhan ekonomi tidak bisa berlangsung selamanya. Perubahan kebijakan pemerintah inilah yang harus diwaspadai dan diantisipasi oleh pelaku pasar.

Relaksasi kebijakan yang juga mewabah di negara-negara lain ini, di antaranya menambah anggaran belanja negara,membuat berbagai fasilitas pajak. Lalu dari sisi moneter, Bank Indonesia bersama bank sentral lainnya memotong secara agresif suku bunga acuan. Namun, Sri Mulyani melanjutkan, kebijakan seperti ini tidak mungkin berlangsung selamanya.

Begitu perekonomian membaik, setiap negara,juga Indonesia pasti akan kembali menerapkan kebijakan normal. Persoalannya di sini, kata dia, menormalkan kembali kebijakan luar biasa tersebut berisiko mengganggu pemulihan perekonomian. Apalagi pemulihan perekonomian global tahun depan masih rentan. “Kalau semuanya menerapkan exit strategy lalu tiba-tiba ekonomi terpelanting lagi.

Maka dari itu,kami perlu koordinasi,”paparnya. Terkait hal ini, negara-negara anggota G-20 sepakat untuk saling berkoordinasi sebelum menetapkan exit strategy. “Exit strategy itu artinya pendapatan negara harus naik, belanja dari sisi APBN dipotong,” kata Menkeu. Jika pendapatan negara harus naik, ujarnya, berarti keringanan pajak tidak akan ada lagi.

Lalu seiring menyusutnya belanja negara, proyek-proyek infrastruktur juga tidak akan segencar tahun ini. Lebih lanjut Sri Mulyani menuturkan, tahun ini bukan periode yang mudah bagi pelaku pasar. Meski demikian, di tengah itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih mampu mencapai hasil terbaik.Penguatan IHSG tahun ini tercatat terbaik di kawasan Asia Tenggara.

“Di Asia Pasifik yang bisa mengalahkan kami hanya Shen Zen. Prestasi yang sangat baik ini merupakan hasil dari teman-teman di Bursa Efek Indonesia,” paparnya. Pada tahun depan,Menkeu berharap kinerja IHSG bisa lebih dan para pelaku bursa lebih fokus dalam menjaga kinerja.“Kalau kami tujuannya baik,Insya Allah,Tuhan memberikan jalan yang baik,” katanya.

Menanggapi peringatan dari Menkeu tersebut, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Ninasapti Triaswati mengatakan, optimisme pasar dalam negeri sangat ditentukan oleh situasi pasar internasional.“Pasar kita di dalam negeri sebenarnya masih sangat tergantung pada isu yang ada di luar.Misalnya jika Wall Street bergolak, baru pasar dalam negeri kita bergolak,” katanya.

Adapun situasi di dalam negeri, Nina menambahkan, tidak terlalu berpengaruh terhadap kondisi pasar.Kecuali,kata dia,jika terjadi pergantian kabinet (reshuffle kabinet) ataupun pergantian pemerintah.“ Seperti tahun 1998, pasar sangat bergolak karena kondisi internal dalam negeri tidak kondusif. Kalau situasi sekarang kondisi politik sudah mulai terpisah dari kebijakan makro ekonomi,” tambahnya.

Pasar dalam negeri, kata Nina, akan menjadi lebih optimistis,jika pemerintah tidak menaikkan tarif dasar listrik (TDL), bahan bakar minyak (BBM), dan harga bahan pokok lainnya. “Saya pikir pasar dalam negeri masih bisa optimistis menghadapi kejadian dalam dan luar negeri yang tidak terlalu mengkhawatirkan,”ujarnya.

Sementara itu, pengamat ekonomi dari Econit Hendri Saparini mengatakan, Indonesia pada 2010 harus mencermati perekonomian 2010. Ini karena negara yang memiliki hubungan ekonomi dengan Indonesia seperti Amerika Serikat (AS) dan Jepang masih sangat labil. Meski AS dan Jepang sudah membaik, tapi bukan jaminan bagi Indonesia untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

“Indonesia sebenarnya tidak siap menghadapi era keterbukaan yang lebih kompetitif saat ini.Meski Indonesia merupakan satu dari tiga negara di dunia yang memiliki pertumbuhan ekonomi positif saat ini,namun kualitas pertumbuhannya tidak bisa diharapkan dan itu berbeda dengan China dan India,” katanya.Menurutnya, pada tahun depan, potensi perbaikan perekonomian bukan terjadi di Indonesia, tapi juga di negara-negara seperti China dan India.
(Meutia Rahmi /Koran SI/css)
30/12/2009 – 08:52
Wow, 2010 IHSG Bisa di Level 3.000
Agustina Melani

INILAH.COM, Jakarta – IHSG pada 2010 bisa mencapai level 3.000. Investor asing akan melihat valuasi secara keseluruhan mulai dari macro hingga mikro ekonomi.

Hal itu dikatakan pengamat pasar modal David Cornelis di Jakarta kemarin. “Pasar kita masih sangat menarik. Pertumbuhan ekonomi Indonesia sangat baik dibandingkan Negara lain dan tawaran imbal hasil di pasar kita masih prospektif untuk mendapat aliran dana yang masuk,” jelas David.

Bursa saham 2009 ditutup pada Rabu (30/12). Bursa saham Indonesia pun salah satu bursa saham di Asia yang cukup menguat pada 2009 sekitar 85%.

Lebih lanjut David mengatakan, IHSG pada 2009 merupakan tahun pemulihan buat pasar modal global. Hal ini dilihat dari level indeks saham Indonesia menuju level 2.500 dan indeks Dow Jones sekitar 10.500. “Sepertinya agak relatif terlalu cepat untuk bergerak positif dan melakukan technical rebound dengan rapid movement, memang kenaikkan sudah diproyeksikan tetapi kenaikannya tidak sebesar yang terjadi,” tutur David, pada Selasa (29/12).

Menurut David, pada awal 2009 sebagai fase equity recovery dan akhir tahun 2009 sebagai fase transisi menuju kenaikan indeks. “Penurunan yang sangat ‘rapid n radical’ membuat market ‘touch’ level bawah sehingga teradi juga pembalikan arah yg begitu cepat momentumnya yang sama dengan reaksi ketika terjadi crash 2008,” kata David.

Kenaikan IHSG ini juga didukung dari factor macro dan fundamental ekonomi yang berjalan baik sehingga valuasi bursa saham pun kembali menarik. Pengamat pasar modal Felix Sindhunata mengatakan, kenaikan IHSG pada 2009 juga didukung oleh masuknya dana asing ke emerging market termasuk Indonesia dan kenaikan harga komoditas juga mempengaruhi kinerja emiten di Indonesia.

Menurut David, indeks saham mencapai level 2.500 juga telah sangat cukup untuk valuasi market sepanjang tahun 2009. Banyak bad news telah terjadi di pasar sehingga fase equity recovery yang dimulai pada 2009 dan mendorong kenaikan di 2010,” jelas David.

David pun optimis dengan IHSG pada 2010. “Biasanya dana akan lebih banyak masuk pada awal tahun dan kita harus melihat tahun baru dengan optimis demikian juga IHSG meski pun persentase kenaikannya tidak sebesar 2009,” kata David. [hid]

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s