1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

REAL THING: pedagang saham INDON : 261210 26 Desember 2010

Filed under: Investasi dan Risiko — bumi2009fans @ 3:17 pm

Pengusaha Trading Saham Bermental Baja
Minggu, 26 Desember 2010 – 11:42 wib

HENRY SETIAWAN, 30, adalah sosok muda kreatif yang memiliki semangat tak kunjung padam. Ide-ide segarnya selalu muncul atas dorongan rasa keingintahuan.

Sudah tak terhitung yang berhasil bahkan mampu untuk membuka peluang usaha dengan strategi baru. Kemandirian yang ditunjukkannya menjadi jawaban atas keraguan para generasi tua pada umumnya. Sepak terjang di dunia bisnis yang dilakukannya dimulai pada saat dia kuliah di Ohio State University, Amerika Serikat.

Saat itu dia mengenal sesuatu yang baru dalam hidupnya, yakni jual beli (trading) saham. Walau hanya bermodalkan “uang jajan”, namun dia bisa mengumpulkan uang sampai USD40 ribu. Proses itu memang tidak gampang, sekira tahun 2000-an dia sempat jatuh bangun hingga harus bekerja di sebuah perusahaan produk makanan ternama di Amerika. “Waktu itu nilai dolar mencapai Rp17 ribu per dolar. Saya bisnis trading saham sambil kuliah, cuma iseng-iseng saja. Sempat jatuh sampai hancur juga, sampai uang sekolah, uang makan semua dipakai. Tapi saya tidak kapok biarpun harus kerja menjadi pelayan,”tutur Henry, dalam wawancara di sebuah factory outlet di Jalan Setia Budhi, Kota Bandung, beberapa waktu lalu.

Proses itu memang tidak gampang, sekira tahun 2000-an dia sempat jatuh bangun hingga harus bekerja di sebuah perusahaan produk makanan ternama di Amerika. “Waktu itu nilai dolar mencapai Rp17 ribu per dolar. Saya bisnis trading saham sambil kuliah, cuma iseng-iseng saja. Sempat jatuh sampai hancur juga, sampai uang sekolah, uang makan semua dipakai. Tapi saya tidak kapok biarpun harus kerja menjadi pelayan

… well, GW SALUT ATAS KETABAHANNYA … karena pengalaman gw sejak April 2009, laba maseh berdatangan … sejak Januari 2010, gw mah uda ga nambah modal maen … laba maseh berdatangan 🙂 … SALUT BWAT KETABAHAN ORANG MUDA INI 🙂

Menjadi trader saham merupakan pelajaran pertamanya dalam memahami dunia bisnis. Namun naluri bisnis yang diwariskan dari orang tuanya, Edhi Setiawan dan Anne Setiawan, tertanam cukup kuat. Meski dalam keadaan terpuruk dia tidak pernah mengeluhkan hal itu kepada orang tua. Semua dihadapi sendiri hingga bisa mengembalikan modal plus keuntungan dalam bisnis saham tersebut. Walau hanya iseng, tetapi justru dari pengalaman itu Henry mengenal bisnis saham.

“Saya juga sampai bekerja di perpustakaan sekolah, karena jatuh dan harus mengembalikan keuntungan. Orang tua saya tidak tahu.Memang mereka tidak usah tahulah; saya yang berbuat,maka saya pula yang bertanggung jawab,” katanya. Setelah lulus pada akhir 2001, Henry menyandang gelar bachelor science of bussines administration in finance. Pehobi sepak bola, basket, dan voli itu sempat bekerja di sebuah perusahaan broker saham ternama di Amerika. Pengalaman yang dijalaninya membawa Henry ke dalam satu dinamika hidup yang sempurna. Walau masih muda, tapi anak pertama dari tiga bersaudara itu tidak pernah ceroboh dalam mengambil keputusan.

Hal itu didasari oleh kematangan sikap hingga mencapai kesuksesan dalam kariernya. Sebelum pulang ke Tanah Air, pada 2002 hingga 2003, Henry bekerja di sebuah perusahaan industri plastik di Fujian, China, dengan jabatan VP Marketing. Setelah itu pindah ke Hong Kong, bekerja di Wing Crown Co,Ltd, dengan jabatan yang sama hingga 2004. Kemudian pekerjaan itu dia lepas lantaran lebih terpanggil untuk mengurus perusahaan keluarga, yakni PT Muara Teguh Persada milik sang ayah Edhie Setiawan. Dia mengaku, rasa tanggung jawab untuk melanjutkan dan mengembangkan perusahaan milik ayahanda yang bergerak di bidang pendistribusian Pupuk Kujang cukup besar. Padahal Henry merasa ilmu dan pengalamannya belum cukup untuk melanjutkan secara penuh perusahaan tersebut.

“Saya butuh gemblengan untuk mengembangkan perusahaan ini. Karena itu saya sengaja menggali pengalaman dengan membuka bisnis sendiri, agar suatu saat benar-benar sudah matang untuk mengembangkan perusahaan tersebut,” katanya. Mencapai kesuksesan ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pahit getir selama menggeluti dunia bisnis dirasakan pula oleh Henry. Tak tanggung-tanggung, sekira tahun 2007 dia harus mengganti sendiri uang milik para kliennya sebesar Rp10 miliar,setelah modal dan keuntungan perusahaan yang bergerak di bidang investasi dibawa kabur oleh rekannya sendiri. Perusahaan yang dibinanya bergerak di bidang investasi tersebut didirikan pada 2004 lalu.

“Tapi saya tidak boleh merugikan para investor, kerugian para klien saya hadapi sendiri sampai uang saya terkuras habis,” terang Henry yang enggan menyebutkan nama perusahaan tersebut. “Saya berguru pada papa saya dalam menggeluti dunia bisnis. Dia orangnya sangat ulet dan tidak ada kata menyerah, walau seberat apa pun cobaannya,” ungkap Henry. Setelah beberapa tahun mengelola perusahaan tersebut, kemudian dia menjualnya. Bukan karena ketidakseriusan, tapi ayah dari Axton Setiawan (tiga bulan) ini selalu ‘gatal’ untuk mencari tantangan demi menggali pengalaman baru. “Perusahaan itu dijual sekira tiga tahun yang lalu. Saya lakukan itu dengan sebuah pertimbangan yang matang setelah saya dengan tangan sendiri mengatasi kemelut di tubuh perusahaan. Saya yakin itu adalah sebuah keputusan yang tepat,” ucap Henry.

Henry tentu cukup cerdik dalam menggeluti dunia usaha. Beruntung perusahaan itu bukan satu-satunya yang didirikan Henry. Dia pun mendirikan PT Muara Teguh Persada yang berkembang hingga sekarang. Selain itu, pada 2005, dia juga mendirikan perusahaan yang bergerak di bidang keuangan, Founder Weston Financial Group.Dalam mengelola dana para investor besar yang dipercayakan kepadanya, transparansi menjadi kunci yang senantiasa dipegang teguh untuk memelihara kepercayaan orang lain.

Dana para investor itu pun dikelola secara terbuka, dan saling menguntungkan. Alumnus SMA St Aloysius Bandung tahun 1998 itu membentuk sebuah team work yang solid dalam menjalankan perusahaan. Untuk memperkokoh target keberhasilan, dia lebih mengedepankan edukasi terhadap nasabah atau investor yang akan mempercayakan uangnya.Dia mengaku enggan mengumbar janji muluk yang belum tentu akan membuahkan kepercayaan. Benih kesuksesan yang lebih besar mulai tampak pada diri Henry. Sosok muda ini dipercaya orang tua untuk menjadi salah satu pewaris PT Muara Teguh Persada, sebuah perusahaan distributor Pupuk Kujang yang terbesar di Jawa Barat.

Bukan hanya itu, dia pun dipercaya untuk mengelola PT Jawimas Trans, perusahaan expeditur Pupuk Kujang yang berbasis di Bandung Jawa Barat.Meski saat ini belum terjun secara penuh, Henry cukup konsisten dalam menjalani kariernya di bidang tersebut. Kini dia tengah berkonsentrasi penuh mengelola bisnisnya sendiri di Zivaro Production, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa label rekaman, konsultan musik, event organizer, dan manajemen artis.Henry mengambil peran sebagai chief executive office (CEO) di perusahaan tersebut. Bahkan dalam waktu dekat Zivaro Record akan mempromosikan artisnya, yaitu EX-MEMBER Band. Henry pun terlibat di dalamnya sebagai penggebuk drum.

“Menjalankan perusahaan label ini sebetulnya terdorong oleh hobi saya di dunia musik. Ya mengelola, ya main musik juga,” papar laki-laki kelahiran Bandung, 5 Juni 1980,ini. Kakak dari Erwin Setiawan dan Felix Setiawan ini boleh dibilang sebagai generasi muda yang multitalenta. Dia merupakan salah satu contoh produk keluarga pebisnis yang sukses. Sosok yang tahu akan keadaan dan tanggung jawab keluarga di masa yang akan datang itu lebih dulu menggali potensi diri semaksimal mungkin dengan pengalaman dan pemahaman ilmu yang beragam, dari pendidikan formal hingga mempraktikkan bisnisnya sendiri.

“Walau harus jatuh bangun, saya lakukan semua ini demi sebuah kematangan secara lahir maupun batin sebelum diberikan tongkat estafet oleh ayah saya untuk memimpin perusahaan keluarga,” kata Henry.

Life is gambling (hidup adalah tebakan),” demikian moto hidup yang dipegang Henry Setiawan, suami dari Astrid Teadi. Baginya, bisnis apa pun adalah masa depan. (atep abdillah kurniawan)(adn)(Koran SI/Koran SI/rhs)

 

… untuk melengkapi WAWASAN sebagai INVESTOR: 4 KOTAK KEHIDUPAN

Iklan
 

bursa dan bbm, PASTI PUYENK 2011 … 23 Desember 2010

Filed under: Investasi dan Risiko — bumi2009fans @ 3:43 pm

Profesor Harvard Ingatkan Ancaman Krisis 2012
Pola krisis ekonomi terjadi setiap 15 tahun sekali. Krisis telah terjadi pada 1982 & 1997.
JUM’AT, 11 MARET 2011, 16:14 WIB Hadi Suprapto, Nur Farida Ahniar

VIVAnews – Profesor dari Universitas Harvard, Jeffrey Frankel, menjelaskan bahwa jika sesuai pola sejarah, pada 2012 bakal terjadi krisis ekonomi di negara-negara berkembang. Hal tersebut berdasarkan pola krisis ekonomi yang terjadi setiap 15 tahun sekali.

Ramalan Frankel ini berdasarkan krisis ekonomi sebelumnya yang terjadi pada 1982 dan 1997. Frenkel membagi tiga putaran besar dunia pada negara berkembang. Pertama, yaitu 1975-1981, di mana pada 1982 terjadi krisis utang internasional.

Kedua, yaitu saat negara berkembang mulai melambung pada 1990-1996. Krisis pada era itu terjadi pada 1997-1998 di negara Asia, dan pada 1998-2002 di Rusia, Brazil, Argentina, dan Turki.

Ketiga, terjadi saat pasar modal melambung pada 2003-2008, yang menyebabkan krisis finansial global (KRISFINALO, gw) pada 2008-2009. “Jika saya seolah-olah paranormal, saya katakan putaran krisis terjadi setiap 15 tahun sekali, dan krisis di negara berkembang akan terjadi pada 2012,” kata Frankel pada seminar Coping With Asia’s Large Capital Inflows in A Multi Speed Global Economy di Bali, Jumat 11 Maret 2011.

Dalam seminar itu, Frankel membahas bagaimana mengelola arus modal masuk (capital inflow), yaitu melalui dua cara: menumpuk cadangan devisa dan memperkuat nilai tukar. Dia menegaskan, yang berhasil hanyalah negara yang menerapkan dua kebijakaan itu.

Gubernur Bank Indonesia, Darmin Nasution, mengatakan Indonesia melakukan berbagai kebijakan agar dana asing ini tak mengganggu ekonomi domestik.

Dia menjelaskan ada lima kebijakan kunci yang dilakukan bank sentral. Pertama, kebijakan suku bunga yaitu BI rate ditetapkan untuk mencapati stabilitas harga, dengan mempertimbangkan outlook ekonomi makro dan stabilitas sistem keuangan.

Kedua, fleksibilitas nilai tukar. Bank Indonesia mengendalikan rupiah untuk menolong pencapaian stabilitas harga.

Ketiga, akumulasi cadangan devisa, dengan melakukan perlindungan terhadap risiko pembalikan modal yang besar-besaran.

Keempat, kebijakan pengawasan makro stabilitas keuangan dan perekonomian secara umum (macroprudential) terhadap aliran modal agar tepat sasaran.

Kelima, memperkuat operasi moneter dan kebijakan macroprudential dalam sistem stabilitas finansial untuk manajemen pengelolaan likuiditas domestik dalam menghadapi serbuan capital inflow.
• VIVAnews
Urgensi Pengurangan Subsidi BBM
Oleh Vid Adrison | Rabu, 26 Januari 2011 | 10:05

Dalam beberapa bulan belakangan ini, harga minyak dunia naik cukup tinggi. Sejak Oktober 2010, rata-rata harga minyak mentah dunia berada di atas US$ 80 per barel. Bahkan pada akhir Desember, harganya mencapai US$ 90 per barel. Kenaikan tersebut jelas akan memengaruhi subsidi BBM, dan “lampu kuning” bagi perekonomian.

Angka realisasi harga minyak dunia yang melebihi angka asumsi yang digunakan oleh pemerintah dalam APBN tersebut jelas berimplikasi pada meningkatnya dana subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang diharus digelontorkan oleh pemerintah. Semakin jauh harga minyak dunia di atas asumsi harga yang digunakan oleh pemerintah, semakin besar pula subsidi yang harus diberikan. Ini tentunya sangat mengganggu perekonomian.

Dalam anggaran, ada dua faktor yang berada di luar kontrol pemerintah yang bisa memengaruhi besaran subsidi BBM, yaitu harga minyak mentah dunia dan nilai tukar rupiah. Harga minyak dunia memiliki dampak dua arah terhadap anggaran. Di satu sisi, penerimaan negara meningkat dengan meningkatnya penjualan minyak, namun di sisi lain subsidi yang harus dikeluarkan negara juga meningkat. Sampai saat ini, dampak netonya – mana yang lebih besar, kenaikan penerimaan atau subsidi — masih menjadi perdebatan antara pemerintah dan pengamat ekonomi energi.

Seperti halnya harga minyak dunia, nilai tukar rupiah juga memiliki dampak dua arah terhadap anggaran. Namun, jangan dilupakan, bahwa nilai tukar rupiah bisa juga dipengaruhi oleh harga minyak dunia secara tidak langsung.

Mekanismenya sebagai berikut; jika harga minyak dunia melonjak drastis, subsidi BBM menurut perhitungan pemerintah akan meningkat drastis. Jika peningkatan ini sampai ke titik yang dianggap tidak sustainable, pasar akan memandang pemerintah tidak memiliki anggaran untuk mendanai kenaikan subsidi tersebut.

Ini selanjutnya akan memberikan tekanan terhadap rupiah. Jika hal ini terjadi, akan terjadi pula efek bola salju, karena jika rupiah terdepresiasi, otomatis biaya subsidi akan meningkat juga karena nilai tukar juga merupakan komponen penting dalam penentuan besaran subsidi.

Keberhasilan Konversi
Kekhawatiran melonjaknya subsidi BBM akibat melambungnya harga minyak mentah dunia telah mengundang pemikiran untuk mencari cara-cara penghematan subsidi agar tidak membahayakan perekonomian. Salah satunya adalah wacana pembatasan premium bersubsidi.

Banyak kalangan begitu skeptis dengan munculnya wacana ini. Mereka khawatir, bagaimana menjamin agar tidak terjadinya re-sale (penjualan kembali) dari pihak-pihak yang tidak terkena kebijakan ini. Jika tidak ada mekanisme yang baik dan lawenforcement yang tegas, sangat terbuka kemungkinan pemilik atau sopir kendaraan umum beralih profesi menjadi “penjual” premium.

Bisa jadi mereka mengisi kendaraan mereka di pom bensin, dan kemudian mereka menjualnya kembali. Jika ini terjadi, kebijakan ini bisa dikatakan gagal total, karena bukan saja tidak memecahkan masalah, tapi justru menimbulkan masalah baru.

Upaya lain yang dilakukan oleh pemerintah dalam mengurangi beban subsidi BBM adalah konversi minyak tanah ke elpiji. Program ini telah dilaksanakan secara bertahap sejak tahun 2007-2008 di beberapa wilayah di Jawa, Bali, dan Sumatera Selatan.

Program konversi minyak tanah ke elpiji ini awalnya menuai banyak tantangan. Hal ini sangat wajar mengingat fakta yang terjadi di lapangan selama ini, seperti kelangkaan elpiji yang terjadi di beberapa tempat dan mengakibatkan kenaikan harga elpiji.

Kritik semakin bermunculan seiring seringnya terjadi kasus ledakan yang diakibatkan oleh aksesori dari tabung elpiji dan human error. Namun, permasalahan-permasalahan tersebut kini sudah mulai teratasi dengan penanganan yang intensif. Langkah konversi malah kini boleh dibilang sukses besar.

Dari sisi ekonomi, program konversi minyak tanah ke elpiji merupakan sebuah langkah tepat. Walaupun subsidi minyak tanah jauh lebih tepat sasaran dibandingkan dengan subsidi BBM lainnya, alangkah baiknya jika subsidi yang besar bisa dihemat lagi dan diarahkan untuk pengeluaran lainnya.

Penghematan subsidi melalui program konversi minyak tanah ini – sebagaimana diklaim oleh pemerintah– mencapai angka sekitar Rp 19,34 triliun. Ini sebuah angka yang sangat signifikan. Angka besar dari hasil penghematan tersebut tentu saja akan sangat bermanfaat jika danadana tersebut dialokasikan untuk pos pengeluaran lain yang memberikan dampak pengganda (multiplier) yang besar, seperti untuk memperbaiki kualitas infrastruktur Indonesia yang cukup memprihatinka

Hindari Pemborosan
Pengurangan subsidi BBM secara keseluruhan merupakan hal penting yang harus dilakukan pemerintah. Agar kebijakan ini mendapat dukungan publik, komunikasi yang baik antara pemerintah dan masyarakat harus terus dilakukan.

Untuk kasus elpiji, misalnya, pemerintah harus memberikan jaminan bahwa pemanfaatan elpiji tetap jauh lebih aman dan hemat dibandingkan dengan penggunaan minyak tanah. Ini sekaligus meredam rasa khawatir dan waswas masyarakat atas sejumlah kasus peledakan tabung gas elpiji. Tugas pemerintahlah untuk terus meyakinkan masyarakat akan rasa aman dari penggunaan gas elpiji untuk keperluan energi rumah tangga mereka.

Di luar upaya untuk terus mengurangi subsidi BBM, pemerintah perlu mengambil langkah-langkah penting lainnya agar anggaran Negara tak mudah digerogoti. Hal yang sangat mungkin dilakukan adalah penghematan pada pos-pos anggaran tertentu. Jika pemerintah boros, hal ini akan mengurangi kredibilitas terhadap pemerintah sendiri.

Hal yang tak kalah pentingnya adalah penuntasan kasus-kasus penyelewengan atau penyalahgunaan anggaran negara. Kasus mafia pajak, yang mengakibatkan raibnya miliaran bahkan triliunan rupiah penerimaan negara, juga harus dituntaskan segera. Jika pemerintah tidak bisa menuntaskan kasus tersebut dan kasus-kasus korupsi lainnya, akan timbul kesan di masyarakat bahwa pemerintah ternyata hanya berani kepada rakyat kecil, tapi tidak berani pada mafia dan koruptor kakap

Penulis adalah ekonom LPEM dan pengajar FEUI
Mengelola Banjir Likuiditas
Senin, 10 Januari 2011 – 11:48 wib

Sepanjang 2010 terdapat masalah unik yang harus dikelola oleh pemerintah dan bank sentral (Bank Indonesia), yakni banjir likuiditas akibat arus dana asing yang meluap ke dalam negeri (capital inflow).

Disebut unik ini karena sebetulnya hal ini tidak cukup pantas disebut persoalan. Bukankah arus dana masuk harus disyukuri di tengah kelangkaan sumber uang domestik untuk mengongkosi pembangunan?

Jika dana asing itu diinvestasikan dalam wujud pembangunan infrastruktur jalan, pabrik-pabrik baru, pembukaan lahan pertanian/perkebunan, atau sekurangnya ekspansi industri yang lama itu akan menjadi berkah, tentu kita dapat mengalkulasi berapa kesempatan kerja baru yang dapat dibuka, potensi ekspor yang bisa diraih, dan pertumbuhan ekonomi yang bakal diperoleh.

Di sinilah soal itu muncul sebab sebagian dana itu ternyata hanya diparkir di Sertifikat Bank Indonesia (SBI) yang tidak dapat dipakai menggerakkan sektor riil, sementara di sisi lain menciptakan ongkos yang sangat besar (karena BI harus membayar bunga).

Menciptakan Pagar

Krisis keuangan pada akhir 2008 ternyata menimbulkan masalah yang pelik untuk diantisipasi oleh, khususnya, negara berkembang. Pascakrisis tersebut,negaranegara maju menjalani proses pemulihan ekonomi yang lambat, sementara negara-negara berkembang yang prospektif (dikenal sebagai emerging markets) sukses melewati krisis dalam waktu yang lebih cepat.

Implikasinya, dana global terus mencari wilayah yang dianggap paling menguntungkan sebagai tempat yang aman dan nyaman untuk berinvestasi. Inilah yang menjadi sebab dana asing secara deras mengalir ke negara-negara prospektif tersebut, termasuk ke Indonesia (fenomena ini diperkirakan akan berlanjut pada 2011 ini).

Liberalisasi keuangan yang diterapkan Indonesia sejak 1960-an (khususnya peniadaan kontrol modal) turut menjadi faktor yang mempercepat mobilitas aliran dana itu. Lebih khusus lagi, selisih bunga yang tinggi menjadi amunisi tambahan yang menggiring dana asing memasuki pasar keuangan Indonesia.

Sayangnya, tidak banyak kanal/irigasi yang bisa diciptakan oleh pemerintah dan bank sentral untuk mengalirkan dana itu ke banyak penjuru. Praktis di sektor keuangan kanal itu hanya bertumpu kepada surat utang pemerintah (SUN) dan SBI. Mengharapkan korporasi menyerap dana itu juga tidak realistis karena hanya sedikit perusahaan di Indonesia yang telah masuk pasar modal.

Sementara itu, sektor riil yang diharapkan menjadi penikmat paling besar dari banjir likuiditas sedang mengalami sakit parah akibat kondisi infrastruktur yang jelek, perizinan yang bertele-tele, pembebasan lahan yang semrawut, kapasitas birokrasi yang lemah, dan aneka masalah kelembagaan lainnya.

Akhirnya, dana itu hanya mengalir ke instrumen sektor keuangan (SUN dan BI). Kedua instrumen ini jelas menimbulkan biaya yang besar, serta pemanfaatannya kurang fleksibel sehingga tidak berpengaruh besar dalam menggerakkan perekonomian nasional. Pada titik inilah diperlukan serangkaian kebijakan yang diharapkan tidak terlampau merugikan perekonomian domestik.

Pada saat diskusi dengan bank sentral AS (The Fed) di Washington DC pada 9 Desember 2010 lalu, mereka tidak menyarankan kontrol modal sebagai instrumen untuk mengatasi banjir likuiditas tersebut karena mereka tidak yakin cara itu akan efektif dalam jangka pendek.

Sebaliknya, IMF justru membuka ruang lebih lebar bagi Indonesia untuk menerapkan kontrol modal jika dianggap cara itu lebih menjanjikan seperti yang dikerjakan China, Thailand, dan Malaysia. Saya kira, kontrol modal dalam beragam instrumen tetap perlu dipertimbangkan karena tidak mungkin pemerintah dan BI membiarkan persoalan ini terus berlangsung.

Padahal, tahun depan diperkirakan capital inflow itu akan terus berlangsung. Instrumen pajak, kewajiban dana parkir dalam sekian waktu (misalnya satu tahun), dan penjerengan (pemanjangan waktu) jual-beli SBI merupakan “pagar” yang perlu dikaji penerapannya.

Mengurai Sektor Riil

Seperti disampaikan di atas, jika capital inflow itu cuma dipajang di SBI, hal itu akan menjadi racun perekonomian. Tentu saja upaya kebijakan moneter saja tidak akan memadai untuk mengatasi persoalan ini sehingga diperlukan dukungan pemerintah untuk menghadapinya. Terdapat tiga masalah kunci untuk memuluskan upaya tersebut.

Pertama, bunga SBI harus diturunkan agar insentif di portfolio investment menjadi berkurang. Langkah ini baru berjalan apabila inflasi rendah.

Soalnya, inflasi domestik tidak pernah bisa ditekan di bawah lima persen (inflasi 2010 mencapai 6,96 persen), di mana sebagian penyumbangnya berasal dari sisi nonmoneter (harga pangan, minyak, listrik, dan lain-lain). Jadi, di sini dituntut peran sigap pemerintah mengatasi problem inflasi agar suku bunga panduan (SBI) dapat diturunkan.

Kebijakan produksi dan pasokan pangan, penetapan kebijakan harga minyak dan listrik yang tepat, dan reduksi ekonomi biaya tinggi merupakan pilar penting mengatasi inflasi. Kedua, segera mengurai dan menyelesaikan persoalan di sektor riil.

Masalah usang yang telah kerap disuarakan adalah kelambanan pemerintah membangun infrastruktur baru (jalan, jembatan, pelabuhan, irigasi, dan sebagainya), merampingkan prosedur dan mengurangi biaya izin usaha, dan kejelasan proses pembebasan lahan.

Jika soal-soal ini cepat dirampungkan sehingga insentif di sektor riil menjadi lebih besar, dengan sendirinya dana asing tidak akan berputar-putar di instrumen keuangan semata. Inilah yang dilakukan negara-negara tetangga, termasuk China dan India, sehingga problem banjir likuiditas tidak terlalu menjadi persoalan akibat banyaknya kanal yang telah dibangun di sektor riil.

Pokok soal yang harus dirampungkan di sini adalah efektivitas birokrasi yang selama ini menjadi menyumbat akselerasi kegiatan ekonomi. Birokrasi harus menjadi bagian yang memperlancar aktivitas ekonomi, bukan malah sebagai pemicu persoalan.

Ketiga, mendorong korporasi (menengah dan besar) untuk masuk ke pasar modal sebagai upaya untuk membesarkan usahanya. Proses ini akan menguntungkan dari dua sisi: (i) pasar modal akan berkembang sehingga konsentrasi sektor keuangan bukan hanya di sektor perbankan seperti yang terjadi di negara-negara tetangga.

(ii) Korporasi mendapatkan sumber pembiayaan alternatif yang lebih murah di saat sektor perbankan memberikan bunga kredit yang cukup tinggi. Jika pola ini berhasil dilakukan, capital inflow itu bisa dimanfaatkan untuk memperbesar peran pasar modal, sekaligus mendorong dunia usaha melakukan ekspansi.

Seluruh upaya ini memang tidak mudah, tapi bukanlah sesuatu yang mustahil dicapai. Karena itu, tahun ini merupakan momentum penentuan apakah perekonomian kita cekatan memanfaatkan capital inflow tersebut atau justru tenggelam akibat banjir likuiditas yang dipicu dari ”tumpukan sampah” yang mengendap di kanal-kanal sektor riil.(*)

Prof Ahmad Erani Yustika
Direktur Eksekutif Indef, Dosen Fakultas Ekonomi Unibraw, Malang (Koran SI/Koran SI/ade)
Strategi Investasi 2011, Saham atau Obligasi
Investasi jenis saham merupakan langkah yang baik, terutama sektor domestik dan batu bara.
Kamis, 30 Desember 2010, 06:03 WIB
Nur Farida Ahniar

VIVAnews – Tahun 2011 tinggal hitungan hari. Namun, apakah Anda sudah memanfaatkan investasi secara maksimal?

Agar dapat mempunyai strategi investasi yang tepat, Bahana TCW Investment Management memberikan beberapa strategi. Strategi utama adalah meminimalisasi alokasi likuiditas baik berupa kas maupun deposit.

Alasannya, kelebihan likuiditas menjaga suku bunga tetap rendah, sehingga perolehannya tidak dapat menutup inflasi. Investasi jenis saham merupakan langkah yang baik, terutama sektor domestik dan terkait faktor eksternal yaitu batu bara. Namun keuntungan saham tahun depan diperkirakan tidak sebesar tahun ini.

“Kami sarankan untuk menekan harapan kenaikan saham (tone down expectation). Harapkan saja keuntungan saham mengikuti rata-rata historis sekitar 20 persen sesuai dengan long-term GDP (gross domestic product) nominal growth Indonesia,” tulis Bahana dalam Catatan Akhir Tahun 2010.

Investor juga dapat memilih obligasi korporasi yang memiliki credit rating bagus ketimbang obligasi negara. Caranya, investor harus tetap fokus untuk mengamankan dari risiko inflasi.

Bila harga saham dan obligasi dianggap sudah mahal, sedangkan bunga deposito terjaga rendah, pertimbangkan untuk berinvestasi pada perusahaan nonlisted melalui private equity fund. Selain mendapatkan dividen, keuntungan besar diraup saat bisnis tersebut dilepas ke pasar modal sebagai perusahaan publik.

“Investor berkesempatan mengkapitalisasi momentum percepatan ekonomi Indonesia,” ujarnya. (art)
• VIVAnews
Para analis ekonomi memperkirakan masalah kenaikan harga pangan dan isu bahan bakar minyak (BBM) terutama dalam hal pembatasan BBM bersubsidi menjadi peluang ancaman pertumbuhan ekonomi di 2011. Kedua-duanya bisa memicu inflasi tinggi, yang berujung pada kenaikan BI Rate yang berlanjut pada kenaikan suku bunga yang berujung pada perlambatan ekonomi.

“Kalau pembatasan BBM ini, praktiknya salah bisa berdampak seperti kenaikan BBM, lalu berdampak pada inflasi lalu berpengaruh pada BI rate dan mempengaruhi perlambatan ekonomi,” kata Kepala Ekonom Danareksa Analis Purbaya Yudhi Sadhewa di acara HIPMI Economic Outlook 2011, di Jakarta, Kamis (23/12/2010).

Purbaya menambahkan faktor pembatasan subsidi BBM harus benar-benar bisa dilakukan secara mulus. Ia memperkirakan jika pembatasan ini berjalan secara liar, tidak mustahil dampaknya akan setara seperti kenaikan BBM.

Mengenai pangan, Purbaya menambahkan kondisi kenaikan harga pangan masih menjadi ancaman inflasi di 2011. Terlebih lagi kondisi harga pangan di Indonesia mengalami anomali, misalnya harga kebutuhan pokok Januari-Mei 2010 di Indonesia sudah mengalami kenaikan justru di negara lain tak terjadi.

Ia mengharapkan pemerintah agar masalah pangan ini harus benar-benar diantisipasi sehingga tak mengganggu inflasi. Meski ia memperkirakan jika masalah pangan ini tetap tak terkontrol di tahun 2011, imbasnya tak akan mengerek inflasi sampai 2 digit kecuali jika pembatasan BBM subsidi bermasalah.

Sementara itu analis Mirza Adityaswara di tempat yang sama mengatakan masalah inflasi tahun 2011 akan lebih tinggi dari tahun 2010 ini karena faktor kenaikan harga komoditi dan pangan. Seperti diketahui berdasarkan data BPS inflasi November 2009-November 2010 mencapai 6,3%.

“Memang inflasi di 2011 kemungkinan akan tinggi, karena harga komoditi akan naik,” katanya.

Mengenai pertumbuhan ekonomi di 2011, kedua analis tersebut sepakat pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tembus di atas 6%. Purbaya berpendapat ekonomi Indonesia bisa mencapai 6,4% sementara Mirza berpendapat pertumbuhan ekonomi tahun depan mencapai 6,3-6,5%.

Sumber: detikcom
Banjir Dana Asing Bisa Sebabkan Krisis
Kamis, 23 Desember 2010 | 21:33 WIB
Shutterstock

JAKARTA, KOMPAS.com – Aliran modal asing yang masuk (capital inflow) ke Indonesia yang cukup deras perlu diwaspadai. Pasalnya, banjir capital inflow itu bisa menyebabkan krisis bila tak dikelola dengan baik.

“Terutama yang arus jangka pendek, sebab akan ada aksi ambil untung dari spekulan. Arus balik itulah yang bisa menyebabkan krisis,” kata Sekertaris Komite Ekonomi Nasional (KEN) Avilliani, hari ini.

Apalagi, lanjut Avilliani, sebagian besar atau 60 persen kepemilikan pasar modal sudah dikuasai asing. “Kondisi ini dinilai berbahaya, sebab aktivitas perekonomian di luar perbankan, turut terpengaruh,” ucapnya.

Dia menambahkan, sejauh ini belum ada langkah baik berupa regulasi maupun strategi untuk mengantisipasi kondisi terburuk yang suatu saat bisa menimpa perekonomian nasional lantaran aksi pembalikan arus modal asing itu.

Apalagi, jaring pengaman sistem keuangan (JPSK) saat ini pun belum ada. Ia khawatir, akan timbul persoalan seperti Century. “Lebih baik, sebelum undang-undang otoritas jasa keuangan (OJK), dahulukan undang-undang sistem keuangan,” tandasnya.

Hal senada diungkapkan oleh Pengamat Valas Farial Anwar mengungkapkan, kondusifnya perekonomian Indonesia dan belum pulihnya perekonomian dikawasan Eropa dan Amerika Serikat memicu pergerakan arus modal asing secara besar-besaran ke kawasan Asia, termasuk Indonesia. Kondisi ini diperkirakan masih akan terus berlangsung di tahun 2011. “Tapi kondisi ini bisa berakibat buruk jika tidak dikelola dengan baik,” katanya.

Farial mengatakan, saat ini pasar keuangan dikuasai spekulator global atau hedge fund yang mengejar keuntungan semaksimal mungkin dengan memainkan uang pada berbagai instrumen keuangan dan komoditi berbagai negara. “Kondisi ini menjadi pemicu guncangan ekonomi yang dapat menyebar cepat ke negara lain dan semakin sulit diatasi,” terangnya.

Menurutnya, selain kondisi perekonomian global yang belum pulih, penyebab lain yang melatarbelakangi derasnya arus modal asing ke Indonesia adalah pasar modal dalam negeri yang brelatif kecil dan mudah didikte pemain asing. “Apalagi Indonesia menganut rezim devisa bebas. Jadi, tidak ada pola pengaturan dan pengelolaan arus modal yang keluar-masuk,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur riset ekonomi dan kebijakan moneter Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan pemerintah untuk mengatasi tiga hal penting dalam perekonomian nasional.

Pertama, koordinasi kebijakan untuk memperkuat sisi penawaran. Kedua, koordinasi untuk pengendalian inflasi. Ketiga, koordinasi pengelolaan capital inflow. “Kita akan tetap menghadapi capital inflow, dan akan terus diperhatikan sebab ini berpengaruh pada makro perekonomian dan nilai tukar rupiah,” jelasnya. ( Irma Yani/Kontan)

 

keajaiban ekon indon 2010 21 Desember 2010

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 7:31 am

Indonesia Si Putri Cantik
Jumat, 6 Mei 2011 | 9:38
investor daily

Indonesia menjadi negara tujuan investasi kedua yang paling difavoritkan oleh investor dunia. Indonesia hanya kalah oleh Vietnam yang berada di peringkat pertama, tiga tahun berturut-turut.

Pada 2030, kata Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa, RI bagaikan Putri Cantik di mata investor. Hal ini menyangkut banyaknya investor yang akan berbondong-bondong ke Indonesia, khususnya dari AS.

Kita harus bisa memanfaatkan secara maksimal masuknya para investor itu untuk terbukanya lapangan kerja dan mengatasi pengangguran. Setiap negara memiliki minat pada sektor tertentu. Contohnya investor Taiwan dinilai memiliki minat besar pada sector industri alas kaki, elektronik, tenaga surya, dan infrastruktur.

Kemudian, pemodal India cenderung meminati proyek infrastruktur, seperti pembangunan rel kereta api. Sedangkan, investor Korsel lebih meminati sektor industri manufaktur, otomotif, elektronik, dan infrastuktur. JP Morgan Chase Co menilai Indonesia sebagai tujuan investasi paling menarik di antara negara-negara emerging economy lainnya, khususnya untuk investasi portofolio dan asing langsung.

Daya pikat itu tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat, membeludaknya animo investor membeli obligasi global Indonesia, pengelolaan fiskal yang bijaksana, dan kondisi ekonomi yang stabil.

Semoga dengan rasa percaya para investor asing yang tinggi terhadap Indonesia, investasi mereka di Indonesia pun bisa terus meningkat. Di sisi lain, pemerintah juga harus menjaga iklim investasi di Indonesia agar negeri kita ini tetap diincar orang asing yang ingin menanamkan modalnya di Indonesia.

Adya Pramesthi
Masyarakat Konsumtif, Pengutang, dan Spekulatif
Rabu, 16 Maret 2011 – 08:35 wib

TOPIK yang diajarkan dalam mata kuliah ekonomi makro salah satunya adalah perbedaan antara kepentingan mikro dan makro. Apa yang baik untuk seorang individu belum tentu baik untuk perekonomian.

Dari sisi individu, menabung dan berhemat adalah kegiatan sehat. Seorang individu memang sebaiknya membeli barang hanya bila punya uang, bukan berutang. Seorang individu sebaiknya juga tidak melakukan kegiatan spekulasi. Sebab, jika salah berhitung, kondisi keuangannya dapat menjadi berantakan. Namun, dalam pelajaran ekonomi makro disebutkan bahwa masyarakat yang hidup hemat,tidak suka berutang dan tidak mau berspekulasi justru merugikan perekonomian.

Semakin besar keinginan untuk mengonsumsi, semakin baiklah perekonomian. Jika masyarakat suka berhemat, bisnis akan lesu. Sebab, tidak banyak pembeli. Jika bisnis lesu, ekonomi tidak akan tumbuh. Artinya, kita memang diajari hidup boros. Lihatlah betapa berbagai reklame terus memupuk hasrat konsumsi kita. Lebih lanjut,dalam pelajaran teori ekonomi makro kita juga belajar betapa perluasan kredit baik untuk pertumbuhan ekonomi.

Semakin banyak orang mau berutang, semakin besar tingkat konsumsi mereka dan semakin bergairahlah perekonomian. Selain itu,semakin banyak orang mau berutang, semakin maju sektor keuangan. Kemajuan sektor keuangan ini biasanya juga membantu pertumbuhan ekonomi yang cepat. Artinya, kita memang diajari untuk hidup dengan pola berutang.Lihatlah betapa agresifnya bank mengajak kita untuk berutang. Lebih parah lagi, kegiatan spekulasi juga mendorong pertumbuhan ekonomi.

Kalau orang berani berspekulasi, masyarakat tidak perlu meningkatkan produksi. Barang yang sama dapat diperjualbelikan dengan harga yang makin tinggi. Masyarakat secara umum memang tidak memperoleh keuntungan dari spekulasi ini karena barang yang diproduksi tidak bertambah.

Namun, secara individu para pelaku spekulasi mendapatkan keuntungan banyak sekali.Keuntungan para spekulan ini dihitung dalam pertumbuhan ekonomi.Dengan demikian, kegiatan spekulasi (yang sesungguhnya tidak ada gunanya untuk masyarakat) dapat tercatat sebagai penyumbang penting dalam pertumbuhan ekonomi. Artinya, kita memang diajari hidup dengan melakukan tindakan spekulasi.

Peningkatan Inflasi

Harga yang terus naik (inflasi) juga baik untuk bisnis. Harga yang turun (deflasi) pertanda bisnis suram.Pertumbuhan ekonomi pun akan melambat, bahkan dapat negatif. Jadi, dari yang dibahas di teori ekonomi makro, konsumen memang tidak boleh berharap menikmati harga yang menurun. Sebab, harga yang lebih murah berarti bisnis yang lesu dan pertumbuhan ekonomi yang menurun.

Celakanya, untuk individu, harga yang naik dengan makin cepat (inflasi yang meningkat) menyebabkan individu malas menabung. Uang yang ditabung akan berkurang nilainya. Kalau pun mendapat bunga, suku bunga sangat kecil, lebih rendah dari inflasi.Akibatnya, secara netto nilai tabungan justru menurun. Lebih parah, jika terkena biaya administrasi dan pajak, nilai tabungan akan makin kecil.

Akibatnya, dengan inflasi yang makin tinggi,orang makin malas menabung. Kalau orang menduga harga barang akan terus menaik, mereka akan terdorong untuk meningkatkan konsumsi. Sebab, menunda konsumsi berarti mereka akan harus membayar konsumsi dengan harga yang lebih mahal. Saat inflasi meningkat, berutang menjadi pilihan yang makin menarik,walau pengutang harus membayar bunga. Karena itu, orang terpicu untuk berutang, ketika harga belum naik lebih lanjut.

Utang biasanya diberikan lembaga keuangan, baik bank maupun bukan bank. Namun, akhir-akhir ini kita juga makin melihat adanya lembaga perdagangan eceran yang menjual barang secara kredit, bahkan tidak melayani penjualan tunai. Lembaga eceran ini sesungguhnya telah mendorong orang untuk berutang. Mereka juga telah berfungsi sebagai lembaga keuangan dan bukan lembaga perdagangan.

Lebih serius lagi,ketika orang kemudian juga terpacu untuk berspekulasi. Mereka membeli barang dengan harapan harga barang akan meningkat. Mereka kemudian akan mendapatkan keuntungan dari peningkatan harga itu.Dalam keadaan demikian, harga yang makin mahal bukan menurunkan permintaan, melainkan justru meningkatkan permintaan. Harga yang naik memberi tanda bahwa harga akan terus naik. Dengan demikian, orang akan berlomba membeli sebelum harga naik lebih lanjut.

Tingkah laku ini kemudian benar-benar memacu harga untuk naik lagi.Kenaikan harga ini kembali memicu orang untuk membeli lebih banyak lagi. Harga makin naik. Para spekulator makin diuntungkan, sedangkan masyarakat secara makro tidak mendapatkan keuntungan apa-apa. Tingkah laku spekulasi ini dapat dilakukan untuk barang yang “nyata” seperti tanah dan rumah.Namun, ini juga dapat terhadap barang yang “tidak nyata” seperti surat utang, saham, dan berbagai turunan (derivatif) dalam pasar keuangan.

Selanjutnya, lihatlah betapa bisnis terus menerus mendorong orang untuk konsumsi, konsumsi, dan konsumsi. Bersamaan dengan itu,lembaga keuangan terus mendorong orang untuk pinjam, pinjam, dan pinjam. Perhatikanlah pula cara para investor mengajari masyarakat melakukan tindakan spekulasi ,misalnya, dengan membeli rumah karena harga rumah diharapkan akan meningkat dengan pesat.

Semua kegiatan yang mendorong masyarakat untuk makin boros, berani berutang, dan bertingkah laku spekulatif ini telah dilakukan dengan semakin agresif, yang semuanya diharapkan dapat memicu pertumbuhan ekonomi. Namun sampai kapan? Pernah melihat orang yang mampu bekerja keras, tidak mengenal lelah, dengan bantuan kopi? Sampai kapan orang dapat bekerja keras dengan bantuan kopi? Tubuh sebenarnya telah lelah,sudah harus beristirahat.

Namun, pemilik tubuh tidak merasa lelah,berkat kafein dalam kopi.Namun,suatu ketika, orang ini akan ambruk. Demikian juga dengan perekonomian. Gaya hidup boros, suka berutang,dan spekulatif memang dapat meningkatkan gairah bisnis, tetapi sampai kapan? Di negara yang tidak ada jaminan sosial bagi seluruh masyarakat, termasuk bagi para lansia, gaya hidup semacam ini sangat penuh risiko.

Kalau terjadi sesuatu pada mereka (tiba-tiba sakit, menjadi cacat, kehilangan pekerjaan, atau pun menjadi lansia), dari mana mereka akan dapat hidup jika mereka tidak mempunyai tabungan dan justru punya utang? Sudah saatnya kita mengkaji ulang yang diajarkan di teori ekonomi makro.Betulkah para konsumen harus selalu menjadi pahlawan ekonomi melalui pola hidup boros, suka berutang,dan berspekulasi?

ARIS ANANTA
Ekonom

(Koran SI/Koran SI/wdi)
Ekspor 2010 dan Prospek 2011
Senin, 7 Maret 2011 – 08:14 wib
okezone

2010 ternyata menghasilkan kinerja ekspor yang sangat membanggakan bagi Indonesia. Sepanjang 2010, ekspor tercatat sebesar USD157,7 miliar, jauh melampaui ekspor 2009 yang mencapai USD116,5 miliar.

Ini berarti terdapat kenaikan lebih dari 35 persen, suatu peningkatan yang sangat tinggi. Kendati demikian, untuk fair-nya, kita juga harus melihat, ekspor yang relatif rendah pada 2009 terjadi karena pada tahun itu terjadi krisis global.

Sebelumnya, pada 2008, ekspor Indonesia juga meningkat tajam. Pada 2008 ekspor Indonesia mencapai USD137 miliar. Ini berarti kenaikan ekspor pada 2010 bukan hanya mengalami pemulihan (recovery) dari penurunan pada 2009, melainkan mulai meneruskan tren yang dibangun kinerja ekspor sampai 2008.

2010, ekspor naik 14 persen dari 2008. Dalam kinerja ekspor 2010, kita melihat ekspor komoditas naik cukup tinggi. Sebagian di antaranya tentu karena kenaikan harga komoditas global seperti minyak bumi, minyak sawit, karet, dan batu bara.

Kendati demikian, dari kenaikan ekspor tersebut, sebagian besar lagi berupa peningkatan volume dari ekspor itu sendiri, misalnya minyak sawit. Pada 2010, produksi minyak sawit Indonesia mencapai 22,3 juta ton, jauh melampaui Malaysia yang 17 juta ton.

Lantaran konsumsi di dalam negeri hanya sekira lima juta ton, ekspor minyak sawit Indonesia akhirnya mencapai sekira 17 juta ton, baik dalam bentuk minyak sawit mentah (crude palm oil) maupun produk jadi. Demikian juga batu bara yang mengalami kenaikan produksi.

Beberapa perusahaan batu bara besar bahkan sudah menguji ulang berapa besar depositnya dan ternyata mendapatkan deposit yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan yang diperhitungkan sebelumnya.

Sementara itu, kenaikan produksi batu bara PT Bukit Asam sangat tergantung dari sarana pengangkutannya. Begitu sarana pengangkutan mampu mengangkut lebih banyak, produksi juga mengalami kenaikan.

Satu hal yang menarik dari ekspor kita adalah ekspor minyak sawit dan karet yang masing-masing mencapai USD16,3 miliar dan USD9,4 miliar pada 2010 telah mendekati ekspor minyak dan gas yang pada tahun tersebut mencapai USD28 miliar.

Akan tetapi jika kita memilih batu bara ditambah karet, ekspor kedua komoditas tersebut telah menyamai ekspor seluruh minyak dan gas pada 2010 tersebut. Bagaimanapun, hal tersebut merupakan suatu kinerja yang sangat bagus dari komoditas nonmigas.

Saya bahkan meyakini minyak sawit ditambah karet Indonesia akan melampaui ekspor minyak dan gas dalam waktu tidak terlalu lama. Hal ini penting dikemukakan karena bagaimanapun minyak dan gas bumi adalah komoditas yang tidak renewable.

Jika mereka habis, kita tidak akan memperolehnya kembali. Adapun karet dan sawit adalah produk renewable. Selain komoditas, Indonesia berhasil meningkatkan ekspor produk industrinya. Di masa lalu, produk industri yang banyak kita ekspor adalah tekstil dan pakaian jadi.

Ekspor produk tersebut pada 2010 mencapai sekira USD10,5 miliar meskipun ekspor produk tersebut tidak termasuk dalam daftar 10 barang ekspor utama Indonesia. Dewasa ini ekspor barang industri telah semakin meningkat macam ragamnya.

Produk mesin/peralatan listrik (HS 85),misalnya, mengalami kenaikan ekspor dari USD8 miliar menjadi USD10,3 miliar. Kita mengetahui, selain perusahaan domestik, banyak investor asing yang memproduksi berbagai hal di Indonesia. Sebagian produk mereka diekspor.

Samsung dan Lucky Goldstar, dua raksasa elektronik Korea, selain melakukan ekspansi di pasar domestik, juga terus meningkatkan ekspor. Demikian juga berbagai perusahaan Jepang di Indonesia. Panasonic, misalnya, telah meningkatkan kapasitas produksi untuk pembuatan komponen elektronik yang diekspor ke seluruh dunia.

Perusahaan tersebut bahkan akan menambah kapasitas pabriknya lagi dengan melakukan relokasi lebih lanjut dari pabriknya di China dan Vietnam ke Indonesia. Dalam suatu pertemuan Pacific Economic Cooperation Council (PECC) di Jepang baru-baru ini, seorang teman delegasi dari Indonesia mengagumi kamera Nikon yang dipergunakan seorang anggota delegasi dari Jepang.

Setelah diperhatikan secara teliti, ternyata kamera yang dikagumi tersebut adalah buatan Indonesia. Bahkan berdasarkan penelitian lebih lanjut, ternyata kamera Olympus, Canon, dan Nikon (mungkin juga merek lain) untuk sebagian produknya memang dibuat di Bandung.

Produk-produk inilah yang akhirnya ikut meningkatkan ekspor Indonesia di bidang elektronik. Produk industri lainnya yang meningkat adalah mesinmesin dan pesawat mekanik (HS 84).

Ekspor produk ini naik dari USD4,7 miliar pada 2009 menjadi hampir USD5 miliar pada 2010. Sementara itu ekspor kendaraan dan bagiannya (HS 87) juga naik tajam, yaitu dari USD1,957 miliar menjadi USD2,899 miliar, suatu kenaikan hampir separuhnya. Indonesia memang banyak mengekspor komponen kendaraan bermotor atau kendaraan yang diekspor dalam bentuk terurai (completely knocked down atau CKD) dan mobil jadi atau completely built up (CBU).

Nilai ekspor hampir USD3 miliar tersebut berarti sekira 300 ribu unit kendaraan roda empat. Kendaraan roda empat yang kita ekspor banyak ditemui di Timur Tengah maupun negara-negara ASEAN.

Bagaimana prospek ekspor pada 2011? Beberapa faktor yang menentukan ekspor Indonesia pada 2011 adalah prediksi harga komoditas serta kapasitas yang memungkinkan pertumbuhan volume produksi. Dari sisi harga, fluktuasi yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir ini rasanya mempersulit upaya untuk melakukan prediksi tersebut.

Namun dengan semakin kuatnya pemulihan ekonomi global, rasanya harga komoditas dunia akan meningkat. Sementara itu hasil penanaman beberapa tahun yang lalu akan meningkatkan volume produksi minyak sawit dan karet lebih lanjut.

Demikian juga produksi batu bara juga akan meningkat. Investasi yang terus berlanjut juga akan memungkinkan ekspor produksi barang industri naik. Dengan melihat tren pada tahun-tahun lalu serta kinerja ekspor Januari 2011 yang mencapai sekira USD14 miliar, bisa diperkirakan ekspor Indonesia pada 2011 akan mencapai USD170 miliar–180 miliar. Kendati demikian, saya tidak akan terkejut jika ekspor tersebut melebihi kisaran itu.(*)

CYRILLUS HARINOWO HADIWERDOYO
Pengamat Ekonomi(Koran SI/Koran SI/ade)

Faisal Basri: Ekonomi Indonesia Bergerak Naik
Sabtu, 12 Februari 2011 | 22:42

JAKARTA- Pengamat Ekonomi Faisal Basri mengatakan, tren ekonomi nasional akan bergerak naik dan baru memulai periode ekspansi, seiring dengan meningkatnya kepercayaan asing pada prospek investasi di Indonesia.

“Ekonomi kita sekitar 99% akan naik terus, setidaknya sampai tahun 2012,” kata dosen pasca-sarjana Universitas Indonesia (UI) itu pada diskusi industri manufaktur berbasis elektronika dan telematika, di Jakarta, Jumat.

Oleh karena itu, ia meminta kalangan dunia usaha khususnya di sektor elektronik dan telematika, optimistis dan melakukan ekspansi agar bisa mendapat keuntungan dari membaiknya ekonomi nasional.

“Jangan sampai salah prediksi, karena tren ekonomi Indonesia ekspansif,” kata dia. Apalagi, pada tahun ini semua lembaga asing maupun dalam negeri memprediksi ekonomi Indonesia tumbuh lebih dari 6,1% yang dicapai tahun lalu.

Ia menyebut Lembaga Keuangan Internasional (IMF) memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2011 sebesar 6,2%, Bank Pembangunan Asia (ADB) memprediksi sebesar 6,3%, serta Bank Danamon dan Danareksa lebih optimistis yaitu 6,4%.

Diakuinya pertumbuhan ekonomi nasional lebih ditopang pada konsumsi sektor swasta dibandingkan pemerintah. Ia mencontohkan pada 2010, kontribusi pemerintah terhadap GDP hanya sekitar 0,3%, sedangkan konsumsi swasta mencapai 4,6%, ditambah kontribusi investasi sebesar 8,5%.

Faisal menyebut industri elektronik dan telematika menjadi salah satu industri yang memberi kontribusi besar dalam pertumbuhan industri nasional pada 2010 yang mencapai 5,1%.

“Industri elektronika yang berada dalam cabang industri alat angkut, permesinan, dan peralatan memberi kontribusi yang besar, setelah otomotif,” katanya.

Berdasarkan data BPS, cabang industri alat angkut, permesinan, dan peralatan memiliki pertumbuhan tertinggi yaitu 10,4%, dibandingkan cabang industri lainnya seperti industri pupuk, kimia, dan barang dari karet (4,7%), serta industri makanan, minuman, dan tembakau (2,7%).

“Yang sangat disayangkan justru industri yang berbasis sumber daya alam tidak tumbuh signifikan. Pertumbuhan industri Indonesia justru ditopang industri yang minim kaitannya dengan sumber daya alam yaitu otomotif dan elektronik,” ujar Faisal.

Sementara itu, Ketua Umum Federasi Gabungan Elektronika (Gabel) Rachmat Gobel mengatakan untuk mendorong investasi sektor elektronika, pemerintah perlu menghilangkan disparitas harga di dalam negeri, melalui penghapusan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) barang elektronik.

“Semakin rendah pajaknya, maka semakin besar dampaknya bagi pemerintah, berupa meningkatnya permintaan pasar dan masuknya investasi,” ujarnya.

Ditambahkan Ketua Gabel Ali Subroto, selama ini akibat penerapan PPnBM yang masih tinggi, maka banyak barang elektronik illegal yang masuk ke Indonesia tanpa membayar berbagai pajak.

Ia memperkirakan barang elektronik illegal yang masuk ke Indonesia mencapai 30% dari total pasar elektronik nasional.

“Namun dengan penerapan SNI berbagai produk elektronik, banyak produsen juga kini mulai membangun pabrik di Indonesia, terutama untuk barang elektronik yang besar seperti kulkas dan mesin cuci,” kata Ali. (gor/ant)
Nasib Sektor Pertanian dan Industri
Senin, 14 Februari 2011 – 10:35 wib

Kecemasan terhadap masa depan ekonomi nasional telah mendapatkan konfirmasi yang meyakinkan dari Badan Pusat Statistik (BPS) beberapa hari lalu.

Para pengamat ekonomi sudah lama mengingatkan bahaya involusi pertanian dan gejala deindustrialisasi sehingga diharapkan pemerintah memberikan perhatian yang serius terhadap persoalan ini.

Namun, data yang disampaikan BPS menyodorkan fakta yang kian membuat prihatin karena sektor pertanian hanya tumbuh 2,9 persen dan sektor industri tumbuh 4,5 persen (padahal pertumbuhan ekonomi sepanjang 2010 mencapai 6,1 persen).

Seperti tahun-tahun sebelumnya, penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi Indonesia didominasi sektor-sektor non-tradeable seperti pengangkutan dan komunikasi (13,5 persen), konstruksi (7 persen), perdagangan, hotel dan restoran (8,7 persen). Jika dibuat rata-rata, sektor non-tradeable mencapai pertumbuhan 7,7 persen sepanjang 2010.

Tragedi Pertanian

Sektor pertanian merupakan kisah sukses perekonomian nasional pada masa lampau. Secara tegas GBHN yang pernah dimiliki Indonesia menempatkan sektor pertanian sebagai fondasi pembangunan ekonomi.

GBHN itu kemudian diperinci berdasarkan Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) yang berisi tahap-tahap modernisasi pembangunan sektor pertanian. Tidak mengherankan bila sejak dekade 1980-an Indonesia telah bisa swasembada beras dan memproduksi beberapa komoditas penting dalam jumlah yang besar seperti gula, kedelai, dan jagung.

Di kawasan Asia, Indonesia dianggap sebagai pemain penting sektor pertanian, bahkan dapat memasok kebutuhan negara-negara lain lewat ekspor yang dilakukan, khususnya di kawasan Asia Tenggara.

Pendeknya, selama kurang lebih 15-20 tahun Indonesia telah menempatkan dirinya sebagai pemain besar sektor pertanian di dunia. Namun, setelah krisis 1997/1998 keadaan tiba-tiba berubah sangat cepat.

Secara nasional Indonesia tidak memiliki lagi panduan strategi pembangunan ekonomi yang tegas untuk mendudukkan sektor pertanian sebagai basis perekonomian.

Secara teknis, kebijakan ekonomi banyak didikte oleh asing, khususnya melalui perjanjian letter of intent dengan IMF, yang meliberalisasi sektor pertanian secara drastis. Kenyataan itu membuat insentif melakukan kegiatan produksi di sektor pertanian menjadi menurun karena banjir produk impor.

Implikasinya, produksi beberapa komoditas andalan seperti kedelai dan jagung turun drastis. Sejak saat itu pula, Indonesia telah menjadi importir untuk beberapa komoditas pangan penting.

Pada semester pertama 2008 Indonesia pernah mengalami keadaan yang pahit ketika harga pangan internasional melonjak sangat tajam dan kita sudah menjadi importir pangan. Pada periode 2000-2004 sektor pertanian sempat tumbuh lumayan, rata-rata 3,9 persen, tetapi pada 2005 pertumbuhan sektor pertanian anjlok menjadi 1,79 persen.

Pada periode itu terdapat anomali yang aneh karena pada 2001 pertumbuhan ekonomi sebesar 3,81 persen dan meningkat menjadi 5,76 persen pada 2005, tetapi saat bersamaan sektor pertanian malah merosot pertumbuhannya dari 4,08 persen (2001) menjadi 1,79 persen (2005).

Pola ini seperti berulang saat ini ketika pertumbuhan ekonomi 2010 sebesar 6,1 persen, tetapi sektor pertanian hanya mampu tumbuh 2,9 persen. Celakanya, sampai saat ini sektor pertanian masih menyerap sekitar 41 persen dari total tenaga kerja.

Kehancuran ini bisa terjadi karena sektor pertanian tidak dinafkahi dengan kebijakan dan kelembagaan yang memadai untuk menghidupkannya kembali, bahkan untuk sekadar bertahan dari gempuran komoditas luar negeri pun sudah sangat sulit.

Cetak Biru Pembangunan

Sektor industri juga menyumbang penyerapan tenaga kerja yang cukup besar,yakni sekira 12 persen, dan berkontribusi terhadap PDB pada kisaran 26–27 persen (turun dari masa lalu yang hampir mencapai 29 persen).

Deskripsi ini, ditambah dengan kontribusinya terhadap ekspor, membuat sektor industri memiliki posisi strategis dalam konstelasi pembangunan ekonomi nasional. Namun, sebangun dengan yang dialami sektor pertanian, dalam beberapa tahun terakhir ini pertumbuhan sektor industri merosot sehingga kontribusinya terhadap PDB juga menurun.

Realitas inilah yang kemudian disebut dengan fenomena deindustrialisasi. Dalam subsektor industri, sebetulnya terdapat potensi yang besar untuk dikembangkan seperti industri makanan dan minuman, elektronik, tekstil, alas kaki, kimia, dan semen. Industri makanan dan minuman sampai sekarang masih menjadi penopang sektor industri nasional.

Sementara itu, industri tekstil mengalami kemunduran karena terlambat melakukan peremajaan teknologi (mesin) sehingga saat ini kalah bersaing dengan negara-negara lain semacam China, India, dan AS.

Industri kimia potensi ekspornya bagus, tetapi juga terjebak dengan impor bahan baku yang besar. Pola yang sama juga terjadi pada industri baja yang selama bertahun-tahun tidak melakukan ekspansi produksi. Untuk industri elektronik dan automotif tidak ada insentif yang jelas dari pemerintah untuk penguatan industri nasional sehingga Indonesia hanya menjadi pasar empuk negara-negara lain, khususnya Jepang, Eropa, dan AS.

Dengan situasi seperti ini, jelas sangat sulit mengharapkan sektor industri tumbuh tinggi karena tidak ada kebijakan dan investasi yang memadai selama beberapa tahun belakangan. Jadi, fenomena deindustrialisasi merupakan keniscayaan yang tidak bisa dihindari.

Cetak biru pengembangan sektor pertanian dan industri merupakan kebutuhan mendesak yang tidak bisa ditunda sebagai jalan pengembalian arah pembangunan ekonomi nasional.

Melihat potensi dan sumber daya ekonomi yang dimiliki, sebetulnya pembangunan sektor pertanian dan industri merupakan satu kesatuan. Strategi industrialisasi nasional harus dikembalikan pada tumpuan sektor pertanian (dan sumber daya alam lainnya) karena di sinilah keunggulan yang dimiliki Indonesia.

Terlalu banyak kesalahan yang dibuat dengan menjual murah (ekspor) komoditas penting di sektor pertanian dan SDA tanpa melalui pengolahan terlebih dulu seperti ikan, buah-buahan, batu bara, kelapa sawit. Jika semua itu diolah terlebih dulu, sektor industri bergerak, lapangan kerja tercipta, nilai tambah diperoleh,dan ekspor menjulang. Hal yang sangat sederhana ini pun tidak kunjung pemerintah lakukan!(*)

Ahmad Erani Yustika
Guru Besar FE Universitas Brawijaya,
Direktur Eksekutif Indef(Koran SI/Koran SI/ade)
Minggu, 06/02/2011 16:10 WIB
BPS : Pertumbuhan Ekonomi 2010 Tembus 6%
Herdaru Purnomo – detikFinance

Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) optimistis pertumbuhan ekonomi RI pada 2010 bakal menembus 6%. Hal ini didorong oleh pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV-2010 yang mendekati 7%.

Demikian disampaikan Kepala BPS Rusman Heriawan melalui pesan singkatnya kepada detikFinance di Jakarta, Minggu (6/2/2011).

“Secara keseluruhan selama 2010 pertumbuhan ekonomi bisa menembus 6%, angka tepatnya sedang difinalkan,” jelas Rusman.

Menurut Rusman, walau pertumbuhan ekonomi selama triwulan IV-2010 cukup tinggi namun belum bisa menembus angka 7%. “Triwulan IV-2010 itu belum bisa menembus 7% tetapi memang mendekati,” terangnya.

BPS sendiri akan merilis angka pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2010 pada Senin, 7 Februari 2011.

Sebelumnya, Bank Indonesia juga optimistis perekonomian Indonesia pada 2010 dapat tumbuh sekitar 6%. Capaian ini didukung oleh pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV-2010 yang diperkirakan mencapai 6,1%, lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya.

Untuk 2011, prospek ekonomi dunia terus membaik dan diperkirakan lebih tinggi dari perkiraan semula. Kecenderungan ini memperkuat keyakinan bank sentral terhadap prospek perekonomian Indonesia sehingga diperkirakan mencapai kisaran 6,0%-6,5% pada tahun 2011. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan I-2011 diperkirakan dapat mencapai 6,4%, ditopang oleh masih kuatnya permintaan domestik dan membaiknya sisi eksternal. Kinerja ekspor masih cukup tinggi sejalan dengan pemulihan ekonomi global.

(dru/dru)
Selamat Datang, Tahun Kelimpahan!

Thursday, January 6th, 2011
oleh : Harmanto Edi Djatmiko

2011 bakal menjadi tahun kelimpahan bagi Indonesia: menikmati boom bisnis yang kini menjadi barang mewah. Inilah saatnya Anda, para pemimpin bisnis, menyusun agenda bisnis yang brilian.

“Anomali” tampaknya masih akan terus kita akrabi. Di mana-mana, dari kedai kopi pinggiran jalan hingga ruang diskusi serius di hotel berbintang, orang masih saja sibuk berkatarsis dan mencaci maki karut-marutnya kondisi sosial politik negara-bangsa yang disebut Indonesia ini. Anehnya, pada saat bersamaan, situasi ekonomi dan kegiatan bisnis jalan terus. Aman-aman saja.

Bahkan, selama setahun lalu, kinerja perekonomian dan bisnis negeri ini bisa dibilang kinclong. Simak saja sejumlah indikator penting berikut ini. Pertumbuhan ekonomi 2010 yang baru saja kita lalui mencapai sekitar 6% – lebih tinggi dari prediksi para ekonom yang dulu rata-rata menyebut angka 5,3%. Laju pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia 2010 sekitar 6,2% (tahun 2011 diperkirakan naik lagi ke angka 6,5%). Pertumbuhan PDB ini didorong oleh konsumsi domestik yang kuat berkat meningkatnya daya beli masyarakat, rendahnya tingkat bunga global, dan tingginya harga komoditas.

Sementara itu, ekspor nasional pada 2010 menembus angka US$ 150 miliar, mencatat rekor tertinggi sepanjang sejarah ekspor Indonesia. Indikator penting lain, praktis sepanjang 2010, perdagangan saham di lantai bursa Indonesia bullish. Indeks harga saham gabungan (IHSG), selama bulan Desember 2010 sudah menembus level 3.700 poin. Melesat 1.000 poin lebih dibanding penutupan IHSG tahun lalu, persisnya pada 30 Desember 2009, di level 2.534 poin.

Memang, teoretis, kalau kondisi sosial politik suatu negara berantakan, perekonomian dan bisnisnya pasti ambles. Dalam konteks Indonesia, setelah menyimak paparan fakta di atas, asumsi tersebut nyatanya tak berlaku. Sejumlah ekonom menyebut fenomena tersebut sebagai decoupling, yakni terlepasnya kaitan antara kehidupan sosial politik dan ekonomi. Betulkah demikian? Menurut saya, istilah decoupling yang sempat amat populer itu terlalu menyederhanakan persoalan: fakta yang terjadi di berbagai realitas sosial dilihat secara terkotak-kotak.

Dengan pikiran dingin, cobalah kita lihat mozaik-mozaik fakta sosial itu secara gestalt, menyeluruh. Niscaya terlihatlah, dalam konteks Indonesia, yang tengah berlangsung sekarang justru kaitan yang begitu erat antara dinamika sosial politik dan kehidupan ekonomi. Yang perlu dicurigai justru cara pandang masyarakat kita (termasuk kaum intelektualnya) terhadap realitas sosial yang belakangan tampaknya (sekali lagi: tampaknya) semakin karut-marut.

Untuk mudahnya, sejenak, mari kita bayangkan kehidupan yang sama sekali lain. Bayangkanlah, di tengah masyarakat yang baru belajar berdemokrasi ini, para warganya lebih suka berdiam diri, seolah-olah segalanya serba aman tenteram. Tak ada gejolak apa-apa. Sepi dari silang pendapat. Tak ada lagi lembaga independen yang berani bersuara lantang mempertanyakan kebobrokan di berbagai sendi kehidupan. Media massa, asal menyentil sedikit kebijakan penguasa, langsung diberedel. Demo-demo, sekecil apa pun, tahu-tahu digelandang tentara – belakangan, para pelakunya pulang tinggal nama. Bahkan, seorang penyair (yang audiensnya pasti sangat terbatas) dianggap berbahaya dan bisa hilang kapan saja tak tentu rimbanya. Maukah Anda kembali ke zaman seperti itu?

Tak bisa dimungkiri, masih banyak kekurangan – bahkan mungkin kebobrokan – pada pilar-pilar demokrasi kita. Baik di level eksekutif, legislatif, maupun yudikatif. Di level eksekutif, misalnya, hampir setiap hari terdengar keluhan dan kritik dari masyarakat atas lambannya pemerintah mengatasi beragam persoalan yang muncul di tengah masyarakat. Di level legislatif tak kalah menyedihkan: masih banyak anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang suka disuap oleh pihak tertentu untuk menggolkan RUU. Demikian pula di level yudikatif, masih kita saksikan aparat penegak hukum yang doyan sekali duit sehingga menyulitkan upaya penegakan hukum.

Sangat manusiawi jika kemudian banyak orang berteriak, “Kami butuh pemerintahan yang kuat.” Sedemikian frustrasinya, mereka lupa bahwa ekesekutif yang terlalu kuat, tanpa dibentengi lembaga legislatif dan yudikatif yang kuat, justru mengundang bangkitnya kediktatoran.

Bagaimanapun, sejelek-jeleknya kondisi sekarang, masih jauh lebih bagus dibanding era-era sebelumnya. Indonesia telah memilih dan menyambut dengan gegap gempita datangnya era keterbukaan, yang meniscayakan fungsi kontrol dari segala lapisan masyarakat. Kebobrokan memang masih menyeruak di sana sini, tetapi kontrol sosial dan tawaran jalan keluar yang konstruktif pun tak henti-hentinya mengalir. Baik dari lembaga swadaya masyarakat, pers, organisasi profesi, kaum intelektual, institusi keagamaan, perorangan, maupun komunitas dunia maya. Maka, tak usahlah terlalu merisaukan masa depan negeri ini. Yang kita butuhkan sekarang adalah kesabaran dan tanggung jawab bersama untuk berpartisipasi membangun infrastruktur demokrasi yang lebih kokoh lagi.

Itulah kabar baik bagi Anda, para pemimpin bisnis Indonesia. Dan, melihat semakin bergairahnya perekonomian Asia (terutama Cina dan India), plus pulihnya perekonomian negara-negara maju pascakrisis global, percayalah, tahun ini Indonesia bakal menikmati boom bisnis yang selama beberapa tahun terakhir tak pernah kita nikmati.

Maka, sudah seharusnya, Anda menyambut tahun yang penuh kelimpahan ini dengan agenda bisnis yang brilian dan – tentu saja – penuh optimisme.

Perbaikan Rating dan Anomali Bursa
Rabu, 19 Januari 2011 | 10:06

Indonesia baru saja mendapat kado dari lembaga pemeringkat internasional, Moody’s Investor Service. Peringkat utang domestic dan luar negeri Indonesia dinaikkan dari Ba2 menjadi Ba1, dengan prospek stabil. Peringkat baru ini satu level di bawah investment grade (peringkat layak investasi).

Ibarat sebuah rapor, kenaikan peringkat ini merefleksikan pengakuan internasional atas pencapaian pengelolaan ekonomi makro Indonesia. Moody’s menaikkan peringkat setelah melihat ketahanan ekonomi Indonesia disertai keseimbangan ekonomi makro yang berkelanjutan.

Selain itu, pengelolaan utang pemerintah membaik, cadangan devisa memadai, serta prospek aliran investasi asing kian membaik, didukung kuatnya permintaan domestik. Kita berharap perbaikan peringkat tersebut berdampak positif terhadap penurunan biaya pinjaman (cost of borrowing) maupun bunga surat utang. Bunga obligasi, baik yang diterbitkan pemerintah maupun korporasi akan lebih rendah. Hal ini terjadi karena adanya penurunan risiko.

Perbaikan peringkat diharapkan mendorong semakin derasnya aliran modal yang masuk ke Indonesia, baik yang masuk ke portofolio maupun dalam bentuk investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI). Di tengah kecemasan banyak pihak tentang potensi pembalikan secara tiba-tiba arus modal asing (sudden reversal), kenaikan peringkat oleh Moody’s tentu bisa meredam. Asing diharapkan masih betah dan nyaman untuk berinvestasi di portofolio.

Namun, harapan acap kali tidak sesuai dengan kenyataan. Berita segar yang digulirkan Moody’s tak sanggup membangun sentiment positif di lantai bursa. Saat Moody’s mengumumkan kenaikan peringkat, Senin (17/1), indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia justru terpangkas 33 poin.

Tekanan jual oleh asing masih berlangsung. Kemarin, IHSG juga terus berada di teritori negatif sepanjang sesi pertama, meski ditutup positif 12 poin karena terangkat oleh membaiknya indeks saham di bursa regional. Padahal, data empiris selama ini menunjukkan bahwa perbaikan peringkat cenderung berdampak positif terhadap pergerakan harga saham.

Situasi anomali tersebut bisa dimaknai bahwa pelaku pasar dan investor cenderung mengabaikan hasil pemeringkatan. Semenjak krisis finansial global 2008, kredibilitas lembaga pemeringkat memang mulai diragukan. Mereka kerap mengecoh investor dengan hasil pemeringkatan yang tidak menggambarkan kondisi riil.

Kejatuhan bank-bank investasi di Amerika Serikat yang ternyata menyandang peringkat bagus adalah contoh gamblang bagaimana kredibilitas lembaga pemeringkat internasional mulai dipertanyakan. Hal sama berlaku pada surat-surat utang di negara-negara Eropa, yang ternyata belakangan menimbulkan krisis baru di kawasan tersebut.

Namun, ada pula faktor lain yang membuat IHSG tidak berjalan paralel dengan kenaikan peringkat Indonesia. Para analis menyebut bahwa isu-isu domestik saat ini begitu kuatnya memengaruhi keputusan investor. Ketakutan terhadap kenaikan inflasi dan belum jelasnya sikap Bank Indonesia soal BI rate membuat investor diliputi ketidakpastian.

Hal itu diperburuk lagi oleh berbagai isu politik yang sensitif. Kendati demikian, penilaian lembaga pemeringkat tetap harus dijadikan pegangan. Setidaknya, keputusan sebuah investasi oleh asing tetap membutuhkan referensi, salah satunya hasil pemeringkatan. Lagi pula, pemeringkatan dilakukan secara periodik dan hasilnya dipublikasikan secara internasional.

Justru yang terpenting adalah bagaimana Indonesia mengejar peringkat layak investasi yang tinggal selangkah lagi. Aspek-aspek yang harus dituntaskan untuk meraih peringkat tersebut adalah bagaimana mengatasi hambatan infrastruktur, baik jalan, bandara, pelabuhan, dan listrik. Termasuk juga hambatan investasi lain seperti birokrasi, perizinan, serta ekonomi biaya tinggi lainnya. ***

Refleksi Perekonomian 2010
Kamis, 30 Desember 2010 – 10:37 wib

Perekonomian 2010 sebetulnya berada dalam kondisi yang menguntungkan bagi perekonomian Indonesia. Pertama, perekonomian global secara umum menunjukkan tren membaik sehingga terdapat peluang bagi Indonesia memanfaatkan situasi tersebut, misalnya melalui ekspor.

Kedua, modal asing mengalir deras ke pasar domestik (capital inflow) sehingga secara teoretis perekonomian nasional mendapatkan keuntungan seperti ekspansi korporasi atau mendongkrak investasi di sektor riil.

Ketiga, stabilitas makroekonomi domestik terjaga dengan baik sehingga terbuka oportunitas untuk mengurus soal-soal yang lebih mikro seperti penguatan daya saing.

Peluang-peluang itu sebagian bisa dimanfaatkan, namun sebagian besar justru menguap, bahkan menjadi masalah karena ketidaksiapan pemerintah menggunakan kesempatan tersebut. Hasilnya, portofolio ekonomi domestik tidak banyak mengalami perbaikan berarti.

Inefisiensi Birokrasi

Keterlambatan pemerintah yang paling mencolok adalah perbaikan pembangunan infrastruktur dan kapabilitas birokrasi untuk mendukung investasi. Daya saing perekonomian pada 2010 mengalami perbaikan yang berarti, yakni dari peringkat 54 ke 44 (menurut versi WEF), tapi hal itu tidak diikuti perbaikan pada aspek pembangunan infrastruktur dan kapabilitas birokrasi.

Studi WEF 2010 juga menyatakan bahwa hambatan investasi terbesar Indonesia berturut-turut adalah inefisiensi birokrasi, korupsi, dan keterbatasan infrastruktur.

Ditambah dengan kebijakan ekonomi dalam negeri yang kurang menguntungkan, seperti kenaikan tarif dasar listrik pada Juli 2010, membuat kemampuan daya saing produk di pasar internasional menjadi merosot. Untungnya pasar komoditas primer, misalnya kelapa sawit, sedang bagus sehingga mendongkrak nilai ekspor dan membuat neraca perdagangan tetap positif.

Keterlambatan pemerintah memperbaiki mesin birokrasi dan membangun infrastruktur juga berakibat modal asing yang masuk terperangkap di sektor keuangan (SBI dan SUN).

Akibatnya, capital inflow itu bukan menjadi berkah, tapi kutukan. Disebut kutukan karena modal asing itu tidak dapat menggerakkan sektor riil (akibat infrastruktur dan birokrasi yang tidak mendukung), serta membebani sektor keuangan (membayar bunga tinggi).

Bank Indonesia (BI) sampai akhir tahun ini diperkirakan defisit sebesar Rp30 triliun, yaitu antara lain defisit itu berasal dari pembayaran bunga SBI. Modal asing yang deras itu juga menyebabkan penguatan nilai tukar rupiah, yang dalam beberapa hal juga membuat daya saing komoditas nasional menjadi lebih merosot.

Jadi, modal asing yang masuk ke pasar domestik itu lebih banyak menciptakan masalah ketimbang manfaat, sehingga tahun depan mestinya mendapatkan perhatian lebih saksama dari pemerintah.

Sementara itu, kebijakan domestik untuk membangun ekonomi yang benar-benar melayani kepentingan sebagian besar masyarakat tidak juga segera dimulai. Sektor tradeable (pertanian, industri, dan pertambangan) yang menjadi tumpuan sebagian besar hidup masyarakat tumbuh sangat lemah, misalnya pada kuartal I 2010 hanya tumbuh 3,4 persen, kuartal II-2010 3,8 persen, dan kuartal III 2010 2,1 persen.

Sebaliknya, sektor non-tradeable melesat dengan pertumbuhan kuartal I 8,3 persen, kuartal II 8,8 persen, dan kuartal III 8,1 persen (BPS,2010). Kesenjangan pertumbuhan ini berakibat sangat serius karena menjadi sumber pengangguran dan ketimpangan kesejahteraan.

Sektor non-tradeable memiliki ciri padat modal sehingga pertumbuhannya tidak banyak menyerap tenaga kerja. Ini membuat program pengurangan pengangguran (pro-job) menjadi sulit direalisasikan. Berikutnya, kesenjangan pendapatan makin terjadi karena yang tumbuh hanya sektor nontradeable yang dihuni oleh sedikit tenaga kerja.

Navigasi Solusi

Seterusnya, problem klasik lain yang tidak mengalami perbaikan adalah penurunan kemiskinan. Pada 2009 pemerintah menganggarkan dana Rp66 triliun untuk mengurangi kemiskinan, sementara pada 2010 angkanya mencapai Rp94 triliun.

Namun, dari 2009 ke 2010 persentase kemiskinan hanya turun dari 14,2 persen menjadi 13,3 persen. Bahkan di pedesaan persentase kemiskinan meningkat. Dengan anggaran sebesar itu jumlah penduduk miskin yang berhasil dientaskan hanya turun sangat sedikit. Kalkulasi yang dilakukan LIPI (2010) menunjukkan rata-rata setiap penduduk miskin mendapat dana sebesar Rp47 juta.

Tentu ini menjadi pertanyaan besar, ke mana saja larinya anggaran itu? Secara teoretis, dengan dana sebesar itu mestinya jumlah penduduk miskin dapat dikurangi dalam jumlah yang besar.

Faktor korupsi dan ketidakjelasan konsep pengurangan kemiskinan diduga menjadi penyebab utama menguapnya anggaran tersebut. Melihat neraca ekonomi 2010 tersebut, bisa dikatakan kita gagal memanfaatkan peluang yang baik buat mendongkrak perekonomian nasional.

Pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan berada pada kisaran enam persen tidak banyak menimbulkan manfaat bagi masyarakat akibat situasi seperti yang dijelaskan di muka. Karena itu, pada 2011 perlu ada perubahan besar-besaran agar struktur perekonomian mengalami perbaikan yang berarti.

Pertama, pembangunan infrastruktur dan efisiensi birokrasi harus menjadi agenda prioritas demi menyelamatkan investasi. Reformasi birokrasi harus dipacu lebih kencang jika ingin ada dukungan yang berarti bagi kegiatan ekonomi. Kedua, dukungan kepada tradeable sektor harus makin ditunjukkan, baik ditopang dengan kebijakan fiskal maupun nonfiskal.

Tanpa pertumbuhan besar di sektor tradeable mustahil pengurangan kemiskinan dan pengangguran dapat dicapai. Ketiga, bank sentral dan pemerintah perlu duduk bersama merumuskan pembatasan capital inflow sehingga tidak menjadi racun perekonomian.

Insentif bunga yang sangat tinggi, misalnya SBI yang mencapai 6,5 persen, menjadi salah satu motif terbesar masuknya modal asing ke Indonesia, di samping tidak bagusnya dukungan di sektor riil. BI dan pemerintah perlu mencari jalan keluar pembatasan, misalnya dengan pemajakan atau regulasi pemanjangan waktu beli jual (minimal satu tahun).

Alternatif lain yang bisa dipertimbangkan adalah percepatan pembayaran utang (luar negeri) di saat nilai tukar sedang menguat seperti sekarang. BI saat ini memiliki cadangan devisa hampir USD100 miliar, sehingga cukup memadai jika sebagian dipakai untuk membayar utang.

Tidak ada gunanya juga jika cadangan devisa hanya ditumpuk tanpa dipakai untuk hal yang bermanfaat. Beberapa solusi ini bisa dimatangkan untuk memastikan tahun depan kita tidak akan membuang kesempatan bagus lagi yang ada di depan mata.(*)

Ahmad Erani Yustika
Direktur Eksekutif Indef,
Dosen FE Universitas Brawijaya(Koran SI/Koran SI/ade)

Rp 2.242 Triliun Dana Asing Masuk Indonesia Tahun Depan (2)
Tribunnews.com – Minggu, 26 Desember 2010 15:40 WIB

Rp 2.242 Triliun Dana Asing Masuk Indonesia Tahun Depan (2)

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Kalangan pengamat dan Bank Indonesia (BI) berpendapat aliran modal masuk (capital inflow) ke Indonesia masih akan berlanjut hingga 2011. Perekonomian Indonesia pada tahun 2010 memang banyak didominasi sektor keuangan terutama oleh inflow.

Para Peneliti Indef dalam presentasenya pada ‘Prospek Ekonomi Indonesia 2011″ di Jakarta akhir pekan lalu menyebutkan pada 2011 mendatang, total aliran modal masuk ke Indonesia bisa mencapai 200-250 miliar dolar AS atau sekitar Rp 2.242 triliun.

Ini setara dengan 25-30 persen dari todal modal yang diperkirakan masuk ke emerging market (pasar negara berkembang) yakni keseluruhan mencapai 833,5 miliar dolar AS.

Indef mencatat derasnya hot money ke Indonesia didorong beberapa faktor. Diantaranya kondisi makroekonomi yang saat cukup stabil, banyaknya IPO (penawaran saham perdana) yang menarik seperti saham BUMN serta masih tingginya imbal hasil (yield) dipasar uang Indonesia.

Peneliti Indef Deniey Adi Purwanto mengatakan derasnya inlfow ini selain mendatangkan banyak manfaat namun juga dapat menimbulkan sejumlah efek samping yang dapat mengganggu stabilitas perekonomian. “Potensi arus pembalikan modal patut diwaspadai,” kata Deniey.

Dana yang sifatnya jangka pendek (hot money) ini umumnya ditempatkan dalam investasi portofolio atau surat berharga yang bisa dijual cepat dan uangnya ditarik lagi keluar setiap saat jika sudah menguntungkan pemiliknya.

“Bagi pemilik dana (hegde fund) dana itu harus bisa paling gampang masuk dan gampang keluar,” kata Pengamat Pasar Uang Farial Anwar pekan lalu.

Karena itu dia meminta perlu ada pembatasan jumlah maksimal hot money yang bisa ditolerir supaya jangan terlambat untuk mengatasi atau bisa dikendalikan dampak negatifnya. “Dengan merubah rezim bebas dari devisa bebas menjadi devisa terkendali. Misalnya dana yang masuk harus bertahan jangka waktu tertentu. Mengenakan pajak atas investasi asing di portofolio dan tidak menerima dana asing di SBI,” kata Farial.

Sementara itu Bank Indonesia tidak mau tinggal diam. Direktur Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI Perry Warjiyo menjelaskan jika inflow terus mengalir dan berdampak pada apresiasi rupiah yang sangat kuat maka BI telah mengantisipasi itu dengan menyiapkan langkah macroprudential maupun manajemen terhadap inflow jika pada waktunya diperlukan.

“Pengelolaan inflow akan dilakukan misalnya mendorong ke arah lebih panjang termasuk PMA, IPO saham dan penerbitan obligasi korporasi di pasar modal,” kata Perry. Meski demikian, katanya, BI tidak bisa sendiri dalam menjaga inflow dimana Pemerintah perlu sangat terlibat didalamnya

Penulis: Hasanuddin Aco | Editor: Prawira Maulana
Bahana: Enam Keajaiban Ekonomi RI 2010
Optimisme penguatan ekonomi telah melandasi kemeriahan di lantai bursa nasional tahun ini.
Selasa, 21 Desember 2010, 06:30 WIB
Heri Susanto
Penjualan Mobil Melonjak (Antara)

VIVAnews – Bahana TCW Investment Management mencatat kondisi perekonomian 2010 telah memancarkan momentum sejumlah keajaiban seperti yang diproyeksikan pada akhir 2009.

“Optimisme penguatan ekonomi telah melandasi kemeriahan di lantai bursa nasional tahun ini dan kami yakin beberapa tahun di depan,” ujar ekonom Bahana, Budi Hikmat dalam Laporan Catatan Akhir 2010 yang diterima VIVAnews di Jakarta.

Bahana mencatat beragam statistik menunjukkan momentum keajaiban (annus mirabilis) yang merona sepanjang 2010.

Pertama, per akhir November 2010, IHSG melonjak 39% atau 46% dalam dolar AS dibanding awal tahun. Kenaikan tertinggi sekawasan setelah Thailand. Pada periode yang sama, ABTRINDO sebagai indeks harga surat utang negara naik 21,9%.

Kedua, arus masuk modal asing meningkat tercermin dari posisi kepemilikan asing di dalam surat utang negara yang mencapai Rp 191,2 triliun per 30 November 2010. Angka ini melonjak dari Rp 108 triliun akhir Desember 2009. Lonjakan ini menurunkan yield SUN 10 tahun pada periode tersebut dari 10,9% menjadi 7,6%.

Ketiga, meski ikut terseret krisis fiskal Eropa, kurs rupiah terhadap dolar AS sepanjang tahun nampak stabil pada kisaran 9000 atau menguat 4%. Menarik dicermati bahwa penguatan rupiah tidak sebesar mata uang regional lainnya yang membuka peluang ekspor Indonesia tetap kompetitif.

Keempat, meski sempat melonjak akibat kenaikan harga pangan, laju inflasi tahunan November 2010 mencapai 6,3%. Angka ini lebih rendah ketimbang rata-rata sepuluh tahun terakhir yang berkisar 8,3%.

Kelima, terkendalinya rupiah dan kelebihan likuiditas memungkinkan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga tetap 6,5% sejak Desember 2008.

Keenam, yang menggembirakan adalah kestabilan makroekonomi itu juga diikuti oleh pertumbuhan sejumlah indikator bisnis utama yang menegaskan percepatan pemulihan ekonomi.

Indikator tersebut jelas tercermin melalui lonjakan penjualan otomotif, barang eceran, semen, properti, barang elektronik, pemakaian listrik, akselerasi penyaluran kredit hingga impor bahan baku dan modal.

• VIVAnews
Ini Dia Risiko & Tantangan Ekonomi di 2011
Senin, 20 Desember 2010 – 12:31 wib
Martin Bagya Kertiyasa – Okezone

JAKARTA – Komite Ekonomi Indonesia (KEN) melihat prospek ekonomi Indonesia di 2011 akan cerah. Meski begitu ada beberapa tantangan yang perlu diantisipasi dan diperhatikan.

Dalam seminar Prospek Ekonomi Indonesia 2011, di Graha Bank Mega, Jakarta, Senin (20/12/2010), KEN menilai ada sembilan faktor yang akan menjadi tantangan dan risiko domestik serta lima tantangan dan risiko global.

Adapun tantangan dan risiko domestik tersebut adalah tantangan atas kemungkinan terjadinya gelembung nilai aset (asset bubble) dan inflasi karena kurangnya daya serap ekonomi nasional terhadap masuknya modal asing, termasuk jangka panjang.

Kemudian risiko terhentinya arus modal masuk dan bahkan terjadi penarikan kembali modal masuk dalam jumlah besar. Selanjutnya terdapat subsidi energi dan alokasi yang tidak efisien.

Selain itu, patut juga diwaspadai risiko inflasi terutama dipicu oleh komponen makanan, pendidikan, dan ekspektasi inflasi. Hal ini juga harus didukung oleh infrastruktur dan interkoneksi (transportasi) yang kurang memadai.

Selanjutnya terdapat peningkatan daya saing, perbaikan pendidikan dan pelatihan serta penambahan pasokan tenaga tehnik terdidik. Ini yang masih menjadi penghambat bagi perusahaan untuk melakukan ekspansi produksi (terutama padat karya), menghambat investasi dan mengurangi penciptaan nilai tambah dan lapangan pekerjaan.

Di sisi lain, terdapat tiga faktor lain yang menjadi tantangannya yakni daya serap yang belum maksimal, risiko terkait politik dan hukum, risiko akan perubahan iklim, bencana alam, dan krisis keuangan.

Sedangkan untuk tantangan dan risiko global antara lain pemulihan ekonomi negara maju masih lama, penyelesaian perang kurs dan potensi perang Korea sangat tergantung pada G2 (China-AS). Kebijakan banjir likuiditas AS dan memperlemahkan dolar Amerika terhadap mata uang dunia, dan risiko gagal bayar utang negara-negara Eropa.(ade)

Pamor Indonesia Meningkat di Investor Dunia
Pasar modal Indonesia tiba-tiba menjadi menarik perhatian dan masuk radar investor.
Senin, 20 Desember 2010, 12:16 WIB
Heri Susanto, Agus Dwi Darmawan
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

VIVAnews – Memasuki akhir tahun 2010, Komite Ekonomi Nasional (KEN) membuat review perekonomian Indonesia selama 2010. Menurut KEN, Pemerintah Indonesia telah berhasil menjaga perekonomian stabil meski belum optimal.

Catatan Komite Ekonomi Nasional memperlihatkan keberhasilan Indonesia mengatasi krisis perekonomian global 2008/2009 telah menaikkan pamor Indonesia di mata investor, terutama investor asing.

“Ini bisa terlihat dari kondisi pasar modal Indonesia yang tiba-tiba menjadi menarik perhatian dan masuk dalam radar investor internasional,” tulis laporan singkat KEN yang dipublikasikan hari ini, Senin 20 Desember 2010. Tak heran bila kemudian pasar modal di Indonesia mengalami kenaikan signifikan. Bahkan, kata KEN, tatkala Indonesia dapat menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan semakin banyak investor asing yang masuk ke pasar modal Indonesia.

Menjelang akhir 2010, indeks harga saham gabungan (IHSG) juga telah menembus 3500, bahkan pada 19 November 2010 IHSG berhasil naik ke level 3724 atau naik 46,98 persen dibandingkan dengan level terakhir 2009. Kinerja IHSG ini merupakan salah satu yang tertinggi du dunia. Penguatan IHSG terjadi karena dukungan perbaikan ekonomi yang terjadi.

Namun demikian, KEN merekomendasikan kehati-hatian pemerintah diperlukan atas penguatan ini. Tantangan yang perlu dipecahkan saat ini adalah, bagaimana mengalirkan modal asing ini masuk ke sektor produksi atau sektor riil.

Hal yang menguntungkan bagi Indonesia adalah masuknya dana asing, pada November 2010, yield surat utang Indonesia berhasil turun sampai di kisaran 6,44 persen. Rendahnya imbal hasil ini memberikan dampak positif ke pembayaran bunga surat utang baru yang diterbitkan karena lebih murah.

Khusus untuk pertumbuhan kredit investasi, Indonesia pada awal tahun juga ada di kisaran 12 persen. Namun langkah Bank Indonesia selama berjalannya tahun anggaran telah membuahkan hasil. Tercatat pada September 2010 laju pertumbuhan kredit dinilai telah normal dengan porsi pertumbuhan kredit sudah sampai 21,5 persen dengan kredit modal kerja tumbuh sebesar 21 persen dan kredit investasi tumbuh 17,6 persen. Untuk total dana pihak ketiga di perbankan sampai September 2010 tercatat mencapai Rp2.144,1 triliun atau naik 15,5 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

KEN mencatat memasuki tahun 2010 Indonesia sebenarnya memiliki modal yang cukup meyakinkan, yakni inflasi 2,8 persen pada tahun 2009. Tekanan inflasi yang relatif rendah ini sempat membuat semua pihak optimis. “Namun tekanan harga pangan membuat inflasi 2010 berada di atas target pemerintah maupun Bank Indonesia,” tulis KEN.

Selain itu, pertumbuhan kredit yang mulai meningkat dan kenaikan tarif listrik di pertengahan tahun 2010 turut memberikan tekanan inflasi tambahan. Akibatnya, inflasi 2010 diperkirakan berada pada kisaran 6-6,5 persen.

Sepanjang 2010, Bank Indonesia tetap mempertahankan BI Rate pada 6,5 persen karena tekanan inflasi masih relatif terkendali. Suku bunga dunia masih berada pada level yang rendah sehingga mengurangi tekanan terhadap Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga. Menaikkan suku bunga tidak menjadi pilihan BI karena dikhawatirkan justru akan mendorong arus modal masuk lebih deras. Artinya, BI rate akan bertahan pada 6,5 persen sampai dengan akhir tahun 2010.

Untuk rupiah, memasuki 2010, melanjutkan tren penguatan yang terjadi sejak 2009. Optimisme terhadap perekonomian Indonesia yang berhasil mengatasi tekanan krisis perekonomian global telah memicu aliran modal ke Indonesia. Ini sekaligus memberikan sentiment positif terhadap rupiah. Selain itu, pelemahan dolar terhadap hampir seluruh mata uang dunia juga memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap rupiah.

Pada Agustus rupiah menguat ke level Rp9000 per dolar. Pada akhir tahun 2010 nilai tukar diperkirakan masih akan ada di kisaran Rp9000 per dolar.
• VIVAnews

 

Asien-K MASEH ga kap0k … 150311 18 Desember 2010

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 11:26 am

Dana Asing Masih Deras
Senin, 14 Maret 2011 | 10:21

Likuiditas yang membanjiri pasar global bagaikan pedang bermata dua. Di satu sisi, aliran dana asing itu mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi dan karenanya sangat didambakan. Tapi, di lain sisi, capital inflows yang menyerbu emerging market bisa membawa petaka jika terjadi sudden reversal.

Pasar global kini sedang kebanjiran likuiditas. Setelah krisis likuiditas tahun 2008 yang dipicu kasus subprime mortgage di AS, berbagai negara berlomba menerbitkan surat utang untuk menstimulasi perekonomian. Angka pengangguran yang membengkak akibat kelesuan dunia usaha harus diatasi dengan suntikan likuiditas. Harapan pun diletakkan di pundak negara ketika perbankan belum bisa diandalkan untuk meningkatkan kredit.

Penerbitan surat utang dalam jumlah besar oleh negara maju memicu masalah baru, yakni krisis fiskal. Negara terancam tidak mampu membayar bunga dan cicilan pokok surat utang. Bukan hanya Portugal, Italia, Irlandia, Greece (Yunani), dan Spanyol (PIIGS) yang didera krisis fiskal. Negara besar seperti AS dan Inggris pun mengalami masalah serupa. Untuk mengatasi masalah ini, lahirlah quantitative easing. Bank sentral memompakan likuiditas ke pasar dengan membeli surat utang pemerintah agar terhindar dari masalah default.

Pemompaan dana dalam jumlah besar oleh bank sentral negara maju sedikit menolong perekonomian negara bersangkutan. Tapi, bagi pasar global, banjirnya likuiditas akibat quantitative easing mengundang masalah baru lagi. Para manajer investasi dan hedge funds yang kebanjiran dana masuk pasar komoditas. Kelebihan likuiditas digunakan untuk spekulasi di pasar komoditas. Aksi mereka melambungkan harga komoditas pangan dan minyak mentah dunia.

Lonjakan harga komoditas pangan tidak semata-mata disebabkan oleh perubahan iklim ekstrem. Begitu pula dengan melesatnya harga minyak mentah. Krisis politik di Tunisia, Mesir, dan kini perang saudara di Libya, belum mengganggu pasokan. Tapi, masuknya para spekulan yang memiliki kelebihan dana meningkatkan permintaan berlebihan. Harga minyak mentah pun terus merangkak naik.

Potensi krisis baru kini terpampang di depan mata dengan naiknya harga minyak mentah. Bila harga minyak mentah menembus batas toleransi, 10% dari harga patokan APBN, US$ 80 per barel, pemerintah kemungkinan akan menaikkan harga BBM. Jika harga BBM dinaikkan, inflasi akan melaju kencang dan bisa jadi tidak terkontrol. Inflasi tinggi harus diikuti kenaikan suku bunga. Bila kenaikan suku bunga tidak memenuhi ekspektasi para pelaku pasar, sudden reversal akan terjadi. Para pemodal akan melepaskan surat utang negara (SUN). Dengan kepemilikan yang sudah cukup besar, pelepasan SUN secara tiba-tiba oleh pemodal asing bisa meruntuhkan pasar finansial.

Kondisi inilah yang kini sangat dikhawatirkan oleh otoritas moneter dan para pelaku pasar. Berbeda dengan krisis 1998, BI kini tidak lagi mudah diminta untuk menalangi kebutuhan dana pemerintah. SUN yang dilepas asing pada harga murah tidak serta-merta harus dibeli oleh bank sentral. UU Perbankan tidak lagi membolehkan. Belajar dari kasus Bank Century, BI takkan memberikan dana talangan. Oleh karena itu, kehadiran jaring pengaman system keuangan (JPSK) sangat mendesak.

Pemerintah dan DPR RI harus segera membahas RUU JPSK yang pernah ditolak ini agar Indonesia memiliki bantalan saat terjadi krisis finansial. Untuk mengantisipasi pembalikan arah capital inflows, BI sudah memiliki sejumlah instrumen yang teruji. Nilai tukar rupiah dibiarkan menguat terhadap dolar AS. Agar dana asing lebih lama bertahan di Indonesia, tenor SBI dan term deposit diperpanjang. Giro wajib minimum (GWM) valas dinaikkan, dan GWM rupiah dikaitkan dengan loan to deposit ratio (LDR). Cadangan devisa yang dikuasai BI saat ini sudah menembus US$ 101 miliar.

Langkah paling ideal untuk menahan capital inflows adalah foreign direct investment (FDI). Dana yang digunakan untuk membangun pabrik dan berbagai jenis perusahaan di Indonesia tidak akan mudah untuk ditarik kembali. Kita menghargai kenaikan FDI dalam beberapa tahun terakhir. Tapi, melihat tingginya kebutuhan dalam negeri dan besarnya dana asing yang masuk, FDI di Indonesia masih terlalu minim.

Infrastruktur dan kepastian hukum adalah kendala investasi langsung yang belum bisa terurai hingga saat ini. Pemerintah diharapkan fokus pada pembangunan infrastruktur, perbaikan kepastian hukum, dan birokrasi agar FDI meningkat lebih cepat.
Selasa, 04/01/2011 19:02 WIB
Dana Asing Rp 119,5 Triliun Banjiri RI di 2010
Herdaru Purnomo – detikFinance

Jakarta – Sepanjang 2010 aliran dana asing secara net yang masuk ke Indonesia nilainya mencapai Rp 119,5 triliun. Aliran dana ini masuk ke semua aset keuangan dan terbesar adalah ke instrumen Surat Berharga Negara (SBN).

Demikian hasil Operasi Pasar Terbuka (OPT) pekan terakhir Desember 2010 yang disampaikan oleh Kepala Biro Hubungan Masyarakat BI Difi Ahmad Johansyah melalui surat elektroniknya di Jakarta, Selasa (4/1/2011).

“Hal tersebut didorong oleh sentimen global yang positif terkait rilis data ekonomi AS yang membaik dan optimisme pasar akan pemulihan ekonomi global di 2011,” tutur Difi.

Di akhir 2010, porsi kepemilikan asing di Surat Utang Negara (SUN) naik daro 29,76% atau Rp 194,83 triliun menjadi 29,93% atau Rp 195,75 triliun.

Sedangkan kepemilikan asing di Sertifikat Bank Indonesia (SBI) hingga akhir 2010 meningkat dari 26,95% atau Rp 53,92 triliun menjadi 27,45% atau Rp 54,93 triliun.

Difi mengatakan, sepanjang 2010 jumlah obligasi yang diterbitkan mencapai Rp 38,4 triliun, naik dari 2009 yang sebesar Rp 29,1 triliun. Hal ini didorong oleh kondisi ekonomi yang kondusif serta suku bunga yang rendah.

“Emiten masih didominasi oleh lembaga pembiayaan dan bank dengan porsi keduanya melebihi 50%,” jelas Difi.
(dnl/qom)
BEI Lakukan Diversifikasi Investor Global
Oleh: Agustina Melani
Pasar Modal – Kamis, 30 Desember 2010 | 20:07 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) akan melakukan diversifikasi investor global untuk mengantisipasi dana asing yang terus masuk ke Indonesia.

Hal itu disampaikan Direktur Utama BEI Ito Warsito, Kamis (30/12). “Kita terus melakukan road show untuk diversifikasi investor global. Selama ini investor global Asia dari Eropa dan Amerika Serikat. Sekarang kita banyak lakukan road show kepada investor Jepang,” ujar Ito.

Selain itu, Ito menuturkan, korporasi dan industri keuangan biasanya masuk ke Indonesia. Saat ini, pihaknya akan melakukan diversifikasi investor kepada asuransi dan dana pensiun Jepang jadi tidak hanya Eropa dan Amerika Serikat. Hal ini dilakukan untuk menggantikan bila ada investor yang membalikkan dana.

Untuk mengantisipasi dana asing yang terus masuk ke Indonesia, BEI akan terus mencoba memperbanyak emiten baru. Hal ini dilakukan untuk mengendalikan capital inflow. Dana asing yang masuk tersebut dapat masuk ke sektor riil..

Seperti diketahui, net buy asing di pasar modal mencapai Rp20 triliun pada 2010. Dana dari pasar modal yang masuk ke sektor riil mencapai Rp118 triliun terdiri dari penerbitan saham baru, rights issue dan obligasi pada 2010. [hid]

Dana Asing Dorong IHSG Berjaya di 2010
Rabu, 29 Desember 2010 – 16:34 wib
R Ghita Intan Permatasari – Okezone

SEPANJANG tahun 2010 ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tampak mengikuti tren penguatan. Bahkan, IHSG pun sempat menyentuh level tertingginya pada 8 Desember lalu yang mencapai 3.769,99.

IHSG pada awal tahun 2010 (4 Januari 2010) ditutup di 2.575,41. Pada penutupan IHSG akhir tahun 2009, indeks berada di posisi 2.534,356. IHSG pun berhasil mencatatkan level tertinggi dengan menyentuh level 3.769,99 pada 8 Desember 2010.

Jika dibandingkan dua periode tersebut maka persentase pertumbuhan 19,69 persen. Hal ini menjadikan pasar modal Indonesia pada penutupan kemarin mengalami pertumbuhan tertinggi se-Asia Pasifik dengan persentase pertumbuhan 19,69 persen.

Kenaikan IHSG apada awal tahun 2010 ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) Eddy Sugito mengatakan, kenaikan IHSG didukung arus dana asing yang masuk dan performa emiten yang baik pada kuartal III-2010. Selain itu, suplai emiten baru pada semester kedua yang cukup besar juga turut menyerap dana asing yang masuk ke pasar saham.

Analis Eko Kapital Cece Ridwanullah menuturkan penguatan indeks saham ini tak lepas dari pengaruh Januarry effect. Itulah, lanjutnya yang menyebabkan naiknya IHSG di awal tahun ini dibandingkan pada penutupan IHSG di 2009.

Sementara, jelang libur Natal kali ini, IHSG bergerak di zona merah. Investor cenderung bersikap wait and see menanggapi sentimen negatif global sehingga perdagangan menjadi lesu. Menurut Cece, lesunya perdagangan diakibatkan oleh regional yang variatif, selain itu menyambut long weekend karena disertai dengan libur natal menyebabkan investor masih wait and see untuk melihat apakah di pekan keempat bulan Desember 2010 ini ada harapan atau tidak untuk IHSG kembali menguat.

Selain itu, cuaca yang buruk di Eropa dan Amerika Serikat menyebabkan ada harapan bahwa harga minyak akan naik. Harga batu bara juga diprediksi akan naik di pekan keempat ini.

Cece pun berpendapat bahwa pada 2011 negara Indonesia akan menjadi masuk dalam kategori investment grade, di mana Indonesia dipandang layak untuk Negara-negara lain untuk menanamkan investasinya. Dengan pertumbuhan ekonomi yang baik, tingkat inflasi yang cenderung stabil, lalu pergerakan rupiahnya juga stabil.(adn)(rhs)
Sabtu, 18/12/2010 10:31 WIB
Dana Asing US$ 833 Miliar Bakal ‘Serbu’ Negara Berkembang di 2011
Herdaru Purnomo – detikFinance

Jakarta – Aliran dana asing yang memasuki negara berkembang atau emerging ekonomi di 2011 jumlahnya diperkirakan mencapai US$ 833 miliar. Lebih tinggi dari prediksi di tahun ini yang sebesar US$ 825 miliar.

Demikian disampaikan oleh Direktur Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo di kantornya, Jalan MH. Thamrin, Jakarta, Jumat (17/12/2010).

“Kalau prediksi internasional institusi finansial, tahun ini, capital inflow seluruh emerging ekonomi sekitar US$ 825 miliar. Tahun depan US$ 833 miliar tak bisa dibayangkan betapa besarnya capital inflow ke seluruh emerging ekonomi,” tutur Perry.

Dikatakan Perry, BI terus memantau perkembangan capital inflow ini serta memperkuat pengendalian likuiditas di dalam negeri sehingga tidak tiba-tiba keluar dan mengguncangkan perekonomian.

“Jadi kita akan tetap bermain, merumuskan bauran kebijakan yang terdiri dari responsif hubungan nilai tukar, memperkuat cadangan devisa, makro prudential capital inflow,” jelas Perry.

Diakui Perry saat ini ketidakpastian ekonomi global masih tinggi terutama karena krisis utang di Eropa yang masih berlanjut. Sehingga dana-dana di negara maju akan lari ke negara-negara berkembang.

“Dalam waktu dekat akan ada pengumuman paket kebijakan apakah itu instrumen moneter atau perbankan termasuk soal GWM (Giro Wajib Minimum) valas. Bagaimana kita memperkuat visi ketahanan,” tukas Perry.

(dru/dnl)

 

2010: tutup buku dengan tinta emas @bursa :) 17 Desember 2010

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 8:10 pm

Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengatakan, pertumbuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tumbuh 46% menjadi 3.073 pada 30 Desember 2010 tertinggi di Asia Pasifik.

“IHSG mencatat pertumbuhan yang membesarkan hati naik 46% menjadi 3.073 pada 30 Desember 2010. Level tersebut merupakan level tertinggi di kawasan Asia Pacifik,” ujar Agus, Senin (3/1).

Lebih lanjut ia mengatakan, kapitalisasi pasar menjadi Rp3.240 triliun pada 2010 atau rasio sebesar 50% terhadap PDB, dan sekitar 30% pada 2009. Selain itu, jumlah perusahaan Indonesia yang tercatat di
Indonesia sebesar 23 emiten pada 2010 dibandingkan tahun sebelumnya hanya 13 emiten tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 2009.

Seperti diketahui, IHSG juga sempat mencapai level tertinggi pada 9 Desember 2010. Nilai kapitalisasi pasar saham di akhir Desember 2010 mencapai nilai Rp3.243,8 triliun mengalami kenaikan sebesar 60,63%
dibanding akhir Desember 2009 sebesar Rp2019,4 triliun. Demikian seperti dikutip INILAH.COM dari siaran pers BEI yang diterbitkan Kamis (30/12).

Rata-rata nilai transaksi harian saham pada 2010 senilai Rp4,8 triliun naik sebesar 18,74% dari 2009 senilai Rp4,05 triliun. Sedangkan rata-rata frekuensi transaksi harian saham pada 2010 mencapai 5,44
miliar saham atau turun sebesar 10,76% dari 2009 yang sebesar 6,09 miliar saham.

Selain itu, aktifitas perdagangan di pasar obligasi konvensional, syariah, dan sukuk korporasi serta efek beragun aset mencapai Rp90,01 triliun atau naik 132% dari 2009 sebesar Rp38,86 triliun. Frekuensi
transaksi mencapai 15.017 kali atau naik 51% dari 2009 yang sebesar 9.936 kali. Rata-rata volume transaksi harian naik 128% dari Rp160,58 miliar per hari pada 2009 menjadi Rp365,90 miliar per hari pada
2010.

Sedangkan aktifitas perdagangan Surat Berharga Negara (SBN) termasuk SBSN, ORI, dan sukuk ritel mencapai Rp1.429,55 triliun atau naik 79% dari 2009 yang sebesar Rp799,89 triliun. Frekuensi transaksi pada
2010 mencapai 81.484 kali atau naik 55% pada 2009 yang sebesar 52.693 kali. Rata-rata transaksi harian naik Rp3,31 triliun per hari pada 2009 menjadi Rp5,81 triliun pada 2010 atau naik 76%. [

Sumber : INILAH.COM
Kapitalisasi Pasar Bursa RI Tembus Rp3.243 T
“Peningkatan ini terjadi karena kenaikan harga saham di bursa dan penambahan emiten baru.”
Kamis, 30 Desember 2010, 15:06 WIB
Antique, Purborini

VIVAnews – Kapitalisasi pasar PT Bursa Efek Indonesia (BEI) meningkat sebesar 60,63 persen dari Rp2.019 triliun pada akhir 2009 menjadi Rp3.243 triliun tahun ini.

“Peningkatan ini terjadi karena kenaikan harga saham di bursa dan penambahan emiten baru sebanyak 23 perusahaan,” kata Direktur Utama BEI, Ito Warsito, di Jakarta, Kamis 30 Desember 2010.

Sebanyak 22 saham emiten baru ditutup naik pada perdagangan hari pertama. Rata-rata penguatan saham-saham baru tersebut sebesar 29 persen.

Namun, hanya satu saham, yakni PT Wintermar Offshore Marine Tbk yang ditutup turun tujuh persen menjadi Rp335 dari harga penawaran Rp380 pada hari pertama perdagangannya.

Sementara itu, untuk rata-rata perdagangan harian juga menciptakan rekor baru sebesar Rp4,8 triliun. “Terakhir, rekor diciptakan pada 2008 sebesar Rp4,46 triliun per hari,” ujar Ito.

Bursa juga telah melakukan delisting atau penghapusan pencatatan saham terhadap satu emiten yang melakukan merger yaitu PT BAT Indonesia Tbk.

Sedangkan total dana yang berhasil dihimpun pada tahun ini sebesar Rp79,36 triliun, terdiri atas penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) Rp29,67 triliun, rights issue Rp48 triliun, dan waran Rp1,52 triliun. (art)
• VIVAnews
Menebak Level Indeks Bursa Akhir 2010
Aksi beli pelaku pasar terhadap sejumlah saham di bursa diprediksi tetap tinggi.
Kamis, 30 Desember 2010, 09:13 WIB
Antique

VIVAnews – Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam tiga hari terakhir berhasil ditutup menguat, meski sudah mendekati hari terakhir perdagangan saham 2010, hari ini, Kamis 30 Desember 2010.

Namun, apakah pada perdagangan tutup tahun hari ini indeks masih berpeluang menguat seperti pada hari terakhir transaksi 2008 dan 2009? Berikut, penuturan para analis dalam prediksinya.

Seperti diketahui, pada transaksi terakhir tahun lalu atau 30 Desember 2009, IHSG ditutup menguat 15,36 poin atau 0,60 persen ke level 2.534,36. Sedangkan di hari terakhir perdagangan 30 Desember 2008, indeks menguat 14,52 poin (1,08 persen) di posisi 1.355,41.

Satrio Utomo, kepala riset PT Universal Broker Indonesia berpendapat, peluang IHSG ditutup positif di hari terakhir tahun ini cukup besar. Sebab, aksi beli pelaku pasar terhadap sejumlah saham di bursa diprediksi tetap tinggi.

“Terutama, pada saham-saham blue chips (unggulan) yang memiliki fundamental menjanjikan dan rencana aksi korporasi,” tuturnya kepada VIVAnews.com di Jakarta.

Saham-saham tersebut, menurut dia, antara lain PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), dan PT United Tractors Tbk (UNTR).

Selain itu, Tomi, panggilan akrab Satrio Utomo menambahkan, biasanya di hari terakhir akan ada saham-saham yang mengalami window dressing atau cenderung naik hingga akhir tahun.

“Bahkan, harga minyak yang bisa menembus US$100-105 per barel yang akan diikuti harga komoditas turut memberikan sentimen positif ke bursa,” ujarnya.

Dia memperkirakan, IHSG berakhir menguat di akhir transaksi 2010 dan berpotensi menembus level 3.700. Sebab, bursa regional Asia yang positif dan harga minyak mentah dunia yang cenderung naik bisa menjadi pemicunya.

“Namun, kalau untuk menembus rekor tertinggi yang pernah dicapai indeks tahun ini di level 3.777 agak susah ya. Bahkan, untuk mencapai level 3.750,” tutur Tomi.

Pada transaksi kemarin, Rabu 29 Desember 2010, IHSG ditutup naik 39,22 (1,07 persen) ke level 3.699,22.

Sementara itu, Pardomuan Sihombing, kepala riset PT Recapital Securities berpendapat, indeks diperkirakan bergerak mendatar (mixed) karena window dressing sudah terealisasi dan kalau pun terjadi kenaikan relatif terbatas.

“Sebab, tetap diwaspadai adanya aksi profit taking (ambil untung) investor di akhir tahun,” ujarnya.

Dia memperkirakan IHSG pada hari ini bergerak pada kisaran batas bawah (support) di posisi 3.670 dan batas atas (resistance) pada level 3.723. (art)
• VIVAnews
Penguatan Indeks Saham Bakal Berlanjut pada 2011
Selasa, 21 Desember 2010 | 16:03

investordaily

JAKARTA – Situasi kondusif di pasar modal yang ditandai dengan kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia pada 2010, dinilai akan berlanjut pada 2011.

“IHSG diperkirakan bergerak naik pada kisaran 20-25 persen dibanding tahun sebelumnya (2010). Ini prediksi saya,” kata Direktur Utama PT Danareksa (Persero) Edgar Ekaputra, di sela Publik Ekspose Emisi Obligasi V, di Jakarta, Selasa.

Menurut Edgar, pasar modal Indonesia selama 2010 menunjukkan kinerja yang sangat positif.

IHSG yang ditutup pada level 2.534,3 poin pada akhir 2010, menembus kisaran 3.000 poin pada pertengahan tahun, serta ditutup pada tingkat 3.568 poin pada 20 Desember 2010.

Dengan begitu, IHSG selama tahun 2010 naik di atas 40 persen. Bahkan pertumbuhan Bursa Efek Indonesia mengungguli Bursa Saham China dan India.

Menurut Edgar, pertumbuhan itu memberi dampak positif terhadap pelaku pasar yang dapat memicu bertambahnya pelaku pasar, baik lokal maupun asing, untuk berinvestasi di pasar modal Indonesia.

Menurutnya, berdasarkan data, investor yang masuk ke pasar modal saat ini cukup besar atau mencapai 70 persen, sedangkan sisanya investor asing. “Secara keseluruhan ekonomi Indonesia sangat bagus, tercermin dari indikator-indikator ekonomi,” ujarnya.

”Dengan begitu, tidak ada alasan apapun untuk investor asing keluar. Justru asing juga sangat gencar untuk masuk ke dalam negeri,” ujarnya.

Meski begitu, Edgar berpendapat yang perlu diwaspadai adalah adanya tekanan inflasi terutama dari kenaikan harga bahan pangan. “Bank Indonesia menganut sistem `targeting inflation,` yang menggunakan instrumen suku bunga untuk mengendalikan inflasi,” katanya.

Ia menuturkan, sejumlah sektor yang akan aktraktif meliputi konsumer hingga 70 persen, infrastruktur tumbuh 15 persen, dan termasuk sektor perbankan.

Untuk itu, Edgar meminta pelaku pasar dan investor lebih percaya diri dan tidak justru menjelekkan kondisi ekonomi yang sudah dicapai. “Pelaku pasar harus memiliki `confidence` yang besar terhadap ekonomi Indonesia,” ujarnya.

Secara keseluruhan, membaiknya indeks pada 2010 dipicu meningkatnya saham berkapitalisasi besar, dan akan terus berlanjut pada tahun depan. (tk/ant)

Hiruk Pikuk Peristiwa Ekonomi 2010
Headline

Oleh: Wahid Ma’ruf
Ekonomi – Jumat, 24 Desember 2010 | 15:30 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Geliat ekonomi tahun ini tidak hanya perkembangan pencapaian target dalam APBN 2010 saja. Namun juga terpengaruh situasi politik dengan pergantian Menteri Keuangan.

Meskipun panasnya kasus bailout Bank Century terjadi pada 2009, tetapi dampaknya terjadi di tahun ini. Bahkan Sri Mulyani yang meninggalkan kursi menteri keuangan menjadi catatan penting tahun ini. Selain keputusan kenaikan TDL 10% pada bulan Juli lalu.

Pada 1 Januari 2010, mulai berlakunya perdagangan bebas di kawasan ASEAN dan China. Isinya memerlakukan 7.306 pos tarif yang menjadi nol persen.

Pada 4 Maret, pengumuman Hasil Pansus Century DPR yang isinya cenderung menyalahkan keterlibatan Gubernur BI saat dijabat Boediono dan Menkeu Sri Mulyani.

Tanggal 31 Maret, presiden menyerahkan dua nama calon pengganti Miranda Goeltom untuk dipilih DPR sebagai Geputi Senior Gubernur BI, yaitu Darmin Nasution dan Gunarni Soewarno.

Untuk 1 April, pertama kalinya, Badan Pusat Statistik mengumumkan pada Maret 2010 terjadi deflasi 0,14 persen. Penyebabnya karena adanya penurunan harga yang ditunjukkan oleh penurunan indeks pada kelompok bahan makanan 0,91 persen. Akibat deflasi, inflasi tahun kalender 2010 mencapai 0,99 persen.

Tanggal 3 Mei, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mensahkan perubahan Undang-Undang 47 tentang perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2010. Perubahan untuk asumsi dasar APBNP 2010 tersebut mencakup pertumbuhan ekonomi disepakati sebesar 5,8% dari sebelumnya 5,3 %. Inflasi meningkat menjadi 5,3% dari 5%. Nilai tukar rupiah yang semula diasumsikan Rp10 ribu turun menjadi Rp9.200. Tingkat suku bunga acuan tetap pada tingkat 6,5%.

Asumsi harga rata-rata minyak mentah ditingkatkan hingga US$80 per barel dari harga sebelumnya US$65 per barel. Perkiraan produksi minyak tetap 965 ribu barel per hari.

Pada 5 Mei, Menkeu Sri Mulyani terpilih menjadi Direktur Pengelola (Managing Director) menggantikan Juan Jose Daboub, yang akan habis masa kerjanya per 30 Juni 2010. Sri Mulyani akan berperan untuk memperkuat dukungan dan implementasi reformasi Bank Dunia.

Bertepatan dengan 11 Mei, Darmin Nasution terpilih menjadi Deputi Senior Gubernur BI oleh Komisi XI DPR mengalahkan calon lain Gunarni Soewarno dan menggantikan Miranda Goeltom.

Untuk 19 Mei, Presiden umumkan Agus Martowardojo terpilih sebagai menteri keuangan menggantikan Sri Mulyani.

Tanggal 20 Mei, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melantik Agus Martowardojo dan Anny Ratnawati sebagai Menteri Keuangan dan Wakil Menteri Keuangan di Istana Negara Jakarta.

Pada 17 Juni, Halim Alamsyah dilantik dan diambil sumpahnya sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia untuk masa jabatan 2010 – 2015.

Selain itu 17 Juni, Menteri ESDM telah menandatangani pengembangan gas bumi Donggi Senoro memberikan prioritas gas bumi untuk kebutuhan dalam negeri.

Untuk 27 Juli Darmin Nasution dilantik sebagai Deputi Gubernur Senior (DGS) Bank Indonesia (BI) yang baru, menggantikan Miranda Goeltom.

Bertepatan dengan 1 Juli, pemerintah menaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) 10%.

Pada 18 Agustus Menkeu dan DPR sepakat membahas RUU OJK lagi setelah seluruh fraksi di Komisi XI DPR RI menyetujui RUU Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dilanjutkan pembahasannya.

Pada 1 September, Darmin Nasution dilantik menjadi Gubernur Bank Indonesia (BI) mengisi kursi BI-1 setelah ditinggalkan Boediono yang mengikuti Pemilu 2009 menjadi cawapres dari capres SBY.

Pada 3 September, BI mengumumkan keenaikan Giro Wajib Minimum (GWM), sebagai alat untuk mengendalikan arus likuiditas yang saat ini besar. Rasio GWM, atau jumlah dana minimum yang wajib disimpan oleh suatu bank, naik menjadi 8% dari 5%. Peraturan ini mulai berlaku 1 November 2010.

Pada 24 September, Komisi VII dan pemerintah membatalkan rencana kenaikan TDL 2011 sebesar 15% yang akan menghemat dana subsidi listrik Rp12,7 triliun.

Pada 25 September, Suryo Bambang Sulisto terpilih menjadi Ketua Umum Dewan Pengurus Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia periode 2010 – 2015 setelah memenangkan perolehan suara putaran kedua pemilihan.

Untuk 26 Oktober 2010, APBN 2011 disetujui DPR, yang terdiri dari asumsi yang lain seperti asumsi pertumbuhan ekonomi 6,1%-6,4%, inflasi 4,9 -5,3%, rupiah Rp9.100-Rp9.400 per US$ dan suku bunga SBI 3 bulan 6,2% -6,5% dan harga minyak diasumsikan sebesar US$75-90 per barel.

Sedangkan pada 21 November, PT Garuda Indonesia Persero mengalami gangguan sistem Integrated Operating Control System (IOCS) yang mengakibatkan jadwal penerbangan menjadi kacau. Akibatnya Garuda harus membatalkan jadwal penerbangan hingga 25 November 2010.

Pada 1 Desember, BPS mengumumkan ekspor Oktober 2010 bukukan rekor baru dengan nilai US$14,22 miliar. Angka tersebut tembus pertama kalinya di atas US$14 miliar sejak akhir 2009.

Untuk 14 Desember, Komisi VII DPR dan pemerintah memutuskan untuk menunda pembatasan pemakaian BBM bersubsidi pada Maret 2011.

Haru Biru Peristiwa Penting IHSG 2010
Headline
inilah.com
Oleh: Ahmad Munjin
Pasar Modal – Kamis, 23 Desember 2010 | 17:35 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Perjalanan bursa saham Indonesia 2010 diwarnai haru birunya berbagai peritiwa penting. Mulai dari dihentikannya trading floor hingga pencapaian rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Pada Senin 4 Januari 2010, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono secara resmi membuka perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Tepat pukul 9.30 waktu JAT (Jakarta Automated Trading) presiden memencet tombol sebagai tanda dimulainya perdagangan awal 2010.

Selasa 12 Januari, saham pendatang baru PT Elang Mahkota Teknologi (Emtek) menjadi emiten pertama yang melantai di BEI. Anak usaha stasiun televisi SCTV tersebut mulai diperdagangkan di pasar sekunder.

Bulan berikutnya, Februari, kasus Grup Optima terus mencuat. Grup ini diduga melakukan penyelewengan dana nasabahnya. Menurut data Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan, kerugian nasabah Optima terdiri atas kerugian di Optima Securities Rp300 miliar dan di PT Optima Kharya Capital Management sebanyak Rp400 miliar.

Lalu, tepat 1 September 2010, aktivitas trading floor dihentikan. Padahal, sejarah trading floor sama panjangnya dengan sejarah berdirinya pasar modal sejak 1912. Kini semua transaksi beralih ke remote trading (jarak jauh) alias online trading.

Di bulan yang sama, Presiden SBY mempertanyakan libur panjang BEI pada Idul Fitri 2010. Namun, Direktur Utama BEI Ito Warsito menanggapinya secara santai. Bahkan, Ito justru merasa tersanjung dengan kritikan tersebut.

Menurutnya, masa libur bursa sejak 8-14 September 2010, tidak diputuskan secara sepihak oleh BEI. Melainkan sudah ditetapkan melalui konsultasi dengan para pelaku pasar serta anggota bursa.

14 Oktober 2010, BEI memutuskan untuk menghentikan sistem transaksi DMA (Direct Market Acces) PT Trimegah Securities (TRIM). Hal ini dipicu oleh nasabah luar negeri TRIM yang melakukan order saham hingga 18.000 kali. Namun, saham yang diorder secara bertahap itu juga dibatalkan secara bertahap.

Pada 10 November saham PT Krakatau Steel resmi dicatatkan di BEI sebagai emiten ke-16 di tahun 2010 dengan kode KRAS. Tahapan IPO emiten ini menuai kontroversi.

Penetapan harga saham perdana di level Rp850 per saham menuai pro-kontra. Ada yang menilai wajar tapi ada juga yang mengkritiknya sebagai obral saham pemerintah. Karena pemerintah bisa mematok harganya di atas Rp1.150 per saham.

Pada 15-22 November 2010, PT Bank Negara Indonesia (BBNI) melakukan proses pendaftaran pemesanan (book building) terkait rights issue. Penerbitan saham baru ini, menuai ketegangan dengan PT Bank Mandiri (BMRI). Masing-masing pihak ingin melakukan rights issue lebih dulu. Tapi, pemerintah akhirnya memutuskan rights issue BNI tahun ini dan Bank Mandiri baru di awal tahun depan.

Pada 16 November, PT Bakrie and Brothers (BNBR) melakukan share swap alias tukar guling saham dengan Rothschild untuk memiliki saham di Vallar Plc. BNBR melepaskan sebanyak 5,2 miliar saham PT Bumi Resources (BUMI) di harga Rp 2.500 per saham. BNBR melepas sahamnya di BUMI dengan nilai sebanyak Rp13 triliun.

Saham BUMI ini ditukar dengan 90,1 juta saham baru Vallar, di mana BNBR akan menerima 50,5 juta saham baru di Vallar. Aksi korporasi ini, kembali memulihkan kepercayaan investor terhadap emiten BUMI sehingga harganya kembali bertenger di atas Rp3.000.

Padahal, sebelumnya, saham ini terimbas sentimen negatif dari masalah pajak dan lilitan utang. Bahkan, dengan IPO anak usahanya, PT Bumi Resourses Minerals (BRMS) dan komitmen pembayaran utang jelang akhir 2010, saham BUMI berhasil mengubah sebagian utangnya jadi aset.

Pada 9 Desember 2010, IHSG ditutup di level tertingginya sepanjang sejarah bursa Indonesia di level 3.786,10. Level tertinggi sebelumnya di level 3.756 pada 10 November dan 3.769 pada 8 Desember. Setelah mecapai rekor tertinggi baru itu, indeks domestik kembali melemah ke level 3.568,81 pada 20 Desember. [mdr]

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencetak kinerja kemilau pada 2010. Sepekan sebelum tutup tahun, IHSG telah mencatatkan kenaikan sebesar 40,82% ke level 3.568 .

Pada 4 Januari 2010, IHSG dibuka di level 2.533,95. Seperti gelombang, IHSG pun berfluktuatif, meskipun terus menunjukkan tren penguatan. IHSG pun berhasil mencatatkan level tertinggi dengan menyentuh level 3.013 pada 21 Juli 2010.

Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) Eddy Sugito mengatakan, kenaikan IHSG didukung arus dana asing yang masuk dan performa emiten yang baik pada kuartal toga 2010. Selain itu, suplai emiten baru pada semester kedua yang cukup besar juga turut menyerap dana asing yang masuk ke pasar saham.

Jumlah emiten baru yang tercatat pada 2010 sebanyak 23 emiten dengan nilai penjaminan emisi mencapai Rp30 triliun. “IHSG mencatatkan rekor di level 3.786 dan year to date naik 48,89% tertinggi di kawasan dan dunia, kenaikan IHSG didukung arus dana asing dan performa emiten naik 25% pada kuartal ketiga 2010,” tegas Eddy.

Kalangan analis menilai, fundamental ekonomi Indonesia yang baik dan aliran dana asing yang terus masuk ke Indonesia memberikan sentimen positif untuk pasar modal. Perlahan-lahan tapi pasti, IHSG pun melaju hingga mencetak rekor tertinggi di level 3.786 pada 9 Desember 2010.

CEO Vibiz Consulting Alfred Pakasi mengatakan, dana asing terus masuk ke Indonesia. Dana asing tersebut masuk ke pasar Surat Utang Negara (SUN) sekitar 62%, Sertifikat Bank Indonesia (SBI) sekitar 23%, dan ke bursa saham Indonesia sekitar 15%. Dana asing yang masuk ke Indonesia mengingat keadaan ekonomi Amerika Serikat yang belum pulih dan krisis utang Eropa.

Sumber : INILAH.COM
Lima Saham yang Paling Menguat Hingga Kini
Peningkatan harga terlihat sejak 30 Desember 2009 hingga Senin 20 Desember 2010.
Selasa, 21 Desember 2010, 09:06 WIB
Antique

VIVAnews – Saham-saham apa saja yang menempati urutan teratas daftar saham yang mengalami peningkatan harga paling banyak sejak 30 Desember 2009 hingga transaksi awal pekan ini, Senin 20 Desember 2010?

Berikut, penjelasan Gifar Indra Sakti, analis PT Sucorinves Central Gani saat dimintai pendapatnya oleh VIVAnews mengenai saham-saham tersebut hari ini, Selasa 21 Desember 2010.

Menurut Gifar, berdasarkan data Bloomberg terlihat, saham PT Global Mediacom Tbk (BMTR), PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI), PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Indika Energy Tbk (INDY) menduduki peringkat teratas saham-saham yang mengalami penguatan harga terbesar.

“BMTR naik 190 persen, ASRI 176 persen, KLBF 140 persen, BBNI 95 persen, dan INDY sebanyak 87 persen,” ujarnya. FUNDAMENTAL SAHAM INDY

Lebih lanjut, dia menuturkan, kenaikan persentase saham-saham itu terlihat karena pada akhir 2009, harga BMTR hanya Rp210 tapi hingga Senin kemarin harganya sudah mencapai Rp610.

“ASRI per 30 Desember 2009 masih Rp105, tetapi pada 20 Desember 2010 sudah mencapai Rp290. KLBF, dari Rp1.300 menembus level Rp3.125. BBNI, dari Rp1.980 ke posisi Rp3.675. Sedangkan INDY, dari Rp2.225 ke Rp4.175,” kata Gifar.

Adapun alasanya, kata Gifar, BMTR berhasil mengalami peningkatan harga besar hingga saat ini sejak akhir tahun lalu terkait gencarnya aksi korporasi perseroan. ASRI, seiring proyek properti dan penyelesaian jalan tol yang menjadi akses ke proyek perumahaannya. KLBF, terkait aksi korporasi seperti divestasi anak usahanya PT Kageo Igar Jaya Tbk.

“Kalau BBNI, karena aksi penawaran saham terbatas (rights issue) dan INDY terkait harga komoditas yang cenderung meningkat,” tuturnya.
• VIVAnews

Artikel ini merupakan artikel kedua dalam blog ini yang membahas tentang window dressing. Artikel sebelumnya dapat dilihat pada link ini. Dalam artikel kedua ini, kami memberikan definisi baru untuk istilah window dressing tanpa terlalu mengubah arti dalam sebelumnya. Artikel ini juga merupakan artikel yang saya tulis bersama analis baru di Infovesta, Calvin M. Sidjaya. Selamat menikmati…

Menjelang akhir tahun, biasanya kata “Window Dressing” akrab terdengar di telinga para investor. Tidak hanya investor saham, tapi juga investor reksa dana. Apa yang sebenarnya dimaksud dengan “Window Dressing” dan apa manfaat fenomena ini bagi para investor?

Window dressing biasanya diartikan sebagai kondisi di mana harga saham akan cenderung menguat menjelang penutupan akhir tahun. Umumnya kenaikan tersebut terjadi pada bulan Desember. Momen ini dapat dimanfaatkan bagi investor untuk mengambil keuntungan jangka pendek karena harga saham diperkirakan akan naik pada bulan tersebut.

Penyebab terjadinya window dressing berasal dari beberapa hal, manajemen perusahaan menggenjot kinerja secara signifikan pada akhir tahun sehingga perusahaan mencatat laba di atas ekspektasi, positifnya data-data ekonomi menjelang akhir tahun, hingga pola anomali pasar saham yang secara historis sering terulang dan menjadi sebuah kebiasaan.

Selain terjadi di saham, fenomena window dressing juga terjadi di reksa dana khususnya reksa dana saham. Hal ini disebabkan karena Manajer Investasi berusaha mendongkrak kinerja reksa dana yang dikelolanya pada akhir tahun sehingga kinerja secara keseluruhan terlihat bagus di mata investor.

Untuk membuktikan apakah fenomena tersebut ada atau tidak, kami mencoba membuktikannya dengan melihat data IHSG selama 8 tahun terakhir. Caranya adalah dengan membandingkan return IHSG pada bulan Desember dengan rata-rata return bulanan pada tahun yang sama dari bulan Januari hingga November.

Kami memberikan definisi tersendiri terhadap fenomena window dressing yaitu:

1. IHSG membukukan return yang positif pada bulan Desember

2. Return tersebut minimal sama atau lebih besar dibandingkan dengan rata-rata return bulanan pada tahun yang sama.

Definisi Window Dressing secara umum adalah semata-mata return positif pada bulan Desember saja. Berdasarkan data return bulanan IHSG selama 8 tahun terakhir, kami mendapatkan informasi sebagai berikut:

Berdasarkan data di atas, maka dapat dilihat bahwa setiap bulan Desember, baik dalam kondisi market bullish ataupun bearish, IHSG selalu membukukan return positif. Namun jika ditilik dari definisi Window Dressing yang sudah ditetapkan di awal, dimana tingkat return juga harus lebih tinggi dari rata-rata return Januari – November, maka fenomena tersebut hanya terjadi selama 5 dari 8 tahun yaitu 2002, 2003, 2005, 2006, dan 2008.

Selanjutnya yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah apakah Window Dressing akan kembali terjadi di tahun ini? Ada beberapa kondisi yang perlu dipertimbangkan, antara lain:

1. IHSG sudah menguat secara signifikan dari awal tahun hingga akhir November 2010 dengan return mencapai 39,33%. Apakah masih tersisa energi untuk terus menguat lagi mengingat pada tahun 2007 dan 2009 dimana ketika IHSG melambung tinggi, return pada bulan Desember lebih rendah dibandingkan rata-rata Januari – November.

2. Faktor ketidakpastian ekonomi global antara lain seperti krisis hutang Eropa dan efek sampingnya, spekulasi kenaikan suku bunga China dan dampak perang Korea. Setiap saat, salah satu dari ketiga faktor tersebut dapat memicu penurunan harga saham apalagi mengingat kondisi bursa dunia terkait satu sama lain.

Berdasarkan data di atas, kami meyakini bahwa return pada bulan Desember masih akan positif seperti pada tahun-tahun sebelumnya. Dari sisi return, rata-rata return bulan Januari – November 2010 adalah sebesar 3.2%. Dengan harga penutupan IHSG per November 2010 pada 3531,21 , maka window dressing dikatakan terjadi jika IHSG mencapai level 3644,20. Pada saat artikel ini ditulis, harga penutupan IHSG telah mencapai 3571,74 (positif 1.15% per 16 Desember 2010). Supaya window dressing dapat terjadi pada tahun ini, IHSG masih harus naik 72.46 poin atau sekitar 2% lagi dari posisi per 16 desember 2010. Kami melihat kemungkinan ini masih tetap ada.

Ada beberapa cara bagi investor untuk memanfaatkan fenomena window dressing ini. Cara pertama adalah membeli saham-saham yang memiliki kinerja menyerupai dengan pasar. Salah satu cara untuk melihat apakah kinerja saham akan menyerupai pasar atau tidak adalah dengan melihat besaran angka beta. Beta 1,2 menunjukkan apabila IHSG mengalami kenaikan 10%, maka kenaikan saham adalah 12%.

Saham-saham yang memiliki beta 1 atau lebih besar dari 1, dapat menjadi pilihan investor. Sebab dengan beta 1 atau lebih dari 1, maka kenaikan saham tersebut akan sama atau lebih besar daripada kenaikan IHSG. Selain beta, investor juga harus memperhatikan kinerja fundamental perusahaan. Sebisa mungkin pilih perusahaan dengan fundamental yang kuat.

Cara kedua adalah dengan membeli reksa dana saham yang memiliki portofolio menyerupai pergerakan IHSG. Sama seperti saham, angka beta reksa dana juga dapat dihitung. Dengan memilih reksa dana yang memiliki beta 1 atau lebih besar dari 1 diharapkan dapat memperoleh tingkat return yang lebih besar dibandingkan dengan IHSG.

Faktor yang membedakan antara beta saham dengan beta reksa dana adalah bahwa fundamental dari kinerja suatu saham dapat diukur sementara fundamental reksa dana tidak. Hal ini disebabkan karena portofolio reksa dana dapat berubah sewaktu-waktu sehingga bisa saja portofolio yang hari ini terdiri dari saham bagus besoknya sudah tidak sama lagi.

Oleh karena itu, khusus untuk reksa dana, investor harus memperhitungkan faktor konsistensi. Selain return yang positif, reksa dana juga sebisa mungkin diharapkan secara konsisten membukukan kinerja return historis yang lebih baik dibandingkan IHSG pada bulan-bulan desember.

Kejadian masa lalu juga tidak akan selalu terulang pada masa mendatang. Investor juga perlu menyadari bahwa kegiatan investasi merupakan tindakan yang mengandung risiko. Semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi anda.

Selama 2010 Kinerja IHSG Fantastis
Jumat, 17 Desember 2010 | 14:47 WIB
KOMPAS/RIZA FATHONI

JAKARTA, KOMPAS.com Tak ada hal yang tak mungkin terjadi di dunia ini, termasuk pada Indeks Harga Saham Gabungan Bursa Efek Indonesia yang mengalami pertumbuhan hingga 40 persen lebih, mengungguli dominasi bursa China dan India.

Indeks Harga Saham Gabungan atau yang lebih dikenal dengan nama IHSG merupakan salah satu indeks pasar saham yang digunakan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI).

Sebagai catatan, IHSG sempat ditutup berada pada posisi tertinggi di 3.786,09 poin pada Kamis (9/12/2010). Pertumbuhan itu memberi dampak positif terhadap pelaku pasar. Kenaikan indeks tersebut dapat memicu bertambahnya pelaku pasar, baik lokal maupun asing, untuk berinvestasi di pasar modal Indonesia.

Pada penutupan perdagangan tahun lalu, tepatnya 30 Desember 2009, IHSG ditutup di level 2.534,3 poin. Sementara titik terendah penutupan IHSG pada 2010 terjadi pada 8 Februari 2010 di level 2.475,6 poin.

Pada kuartal pertama 2010 IHSG mengalami tren menguat (bullish) berada di posisi tertinggi di level 2.813,08 poin pada 26 Maret 2010. Setelah itu pada kuartal kedua di 30 April 2010 IHSG kembali mencetak rekor. IHSG berhasil naik ke level 2.971,25 poin.

Kenaikan IHSG terjadi seiring dengan kembali masuknya investor asing di lantai bursa dengan net buy foreign (beli bersih asing) tercatat sebesar Rp 550 miliar. Namun, pada kuartal yang sama pada 2010 IHSG juga sempat anjlok ke posisi 2.514,12 poin atau turun 18,17 persen dari penguatan tertinggi pada kuartal kedua.

Dari kuartal kedua sampai kuartal ketiga IHSG kembali mengalami trend bullish (tren naik) ke posisi tertinggi di 3.501,29 poin atau mengalami peningkatan sebesar 39,26 persen dibandingkan dengan posisi terendah pada kuartal kedua.

Sementara pada kuartal keempat 2010 IHSG kembali pada posisi tren naik di posisi 3.786,09 poin, tren naik pada kuartal keempat itu disebabkan oleh dana asing masuk ke pasar modal dalam negeri. Tercatat hingga Oktober 2010 selisih nilai beli bersih (net foreign buy) sebesar Rp 23,68 triliun.

Apakah jumlah selisih itu adalah uang panas atau lebih dikenal dengan hot money (arus modal jangka pendek), menurut Direktur Utama BEI Ito Warsito, masyarakat tidak perlu mengkhawatirkannya. Ia menambahkan, investasi di pasar modal sifatnya lebih untuk investasi jangka menengah dan jangka panjang, dana pihak asing yang masuk (capital inflow) jarang yang berinvestasi untuk jangka pendek. “Di pasar modal itu investasinya lebih ke jangka menengah dan panjang. Kalau jangka pendek, risikonya akan lebih besar sehingga kekhawatiran akan dipenuhinya pasar modal kita oleh hot money,” katanya.

Jika rata-rata transaksi harian dana asing ada yang keluar dengan cepat, ia mengatakan, hal itu tidak dapat dijadikan acuan bahwa dana asing berorientasi pada jangka pendek. “Rata-rata transaksi harian asing yang minus tidak bisa dijadikan patokan bahwa mereka berorientasi jangka pendek. Itu semata-mata hanya konsolidasi saja,” ujarnya.

Saat ini IHSG telah memperlihatkan kinerja yang fantastis sepanjang 2010, pertumbuhan itu merupakan yang terbesar di Asia mengungguli China dan India. Pertumbuhan indeks dalam negeri yang signifikan tersebut tidak lepas dari pelaku pasar lokal yang sudah mulai berkembang di pasar modal. Secara komposisi nilai transaksi asing sudah tidak dominan lagi dibandingkan dengan investor lokal.

Fantastisnya pertumbuhan IHSG dalam negeri itu tidak lepas dari fundamental emiten yang tercatat di bursa dalam negeri yang baik. Pertumbuhan yang fantastis tersebut dapat menunjukkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pasar modal domestik yang sangat tinggi.

Pertumbuhan IHSG yang sangat tinggi tahun ini merupakan modal baik menyambut tahun perdagangan baru pada tahun depan. Diharapkan pertumbuhan IHSG dapat terus berkelanjutan, termasuk jumlah investor yang melakukan investasi.

Bertambahnya jumlah investor merupakan cerminan investor saham kian yakin akan perekonomian nasional ke depan stabil dan akan terus terjadi kenaikan pertumbuhan ekonomi.

Untuk menambah jumlah investor, otoritas bursa saat ini telah melakukan pendekatan langsung kepada calon pelaku pasar melalui beberapa jalur. Salah satunya adalah dengan pendirian Pusat Informasi Pasar Modal (PIPM) di daerah-daerah yang potensial.

Kegiatan-kegiatan di PIPM meliputi berbagai usaha untuk meningkatkan jumlah pemodal lokal dan perusahaan tercatat dari daerah tempat PIPM berada dan sekitarnya. Hal lain yang dilakukan adalah membuka sekolah pasar modal yang dikhususkan bagi kalangan individu.

Fluktuasi IHSG Sepanjang tahun ini indeks BEI memang bergerak dengan kecenderungan menguat. Namun, dalam perjalanan IHSG itu tidak selamanya mulus. IHSG sempat bergerak anjlok hingga 3 persen dan IHSG pun sempat menguat hingga 3 persen juga, menunjukkan pasar yang bergerak berfluktuasi.

Seperti kita ketahui, pergerakan IHSG yang fluktuatif hanya ada tiga arah yakni, naik, turun, dan tidak bergerak atau stagnan.  Dengan IHSG yang berfluktuasi memberi sesuatu yang menarik untuk diperhatikan. Dapat dipastikan jika IHSG hanya bergerak satu arah, indeks tidak akan menarik. Saat harga saham menguat banyak pelaku pasar (investor) yang meraih keuntungan (gain) yang signifikan, tetapi tidak sedikit juga investor yang merugi.

Salah seorang pelaku pasar, Alex Marco, pernah bercerita, ia pernah menikmati keuntungan yang fantastis dari investasi saham perusahaan yang dimilikinya di bursa hingga ratusan juta rupiah saat harga sahamnya melambung tinggi. Saat itu, kisahnya, portofolionya yang berjumlah lebih kurang Rp 50 juta dapat menjadi Rp 250 juta dalam jangka kurang dari setahun.

Namun, keadaan berbalik, saat krisis finansial global yang terjadi pada 2008, ia juga pernah merasakan getirnya harga-harga saham yang jatuh hingga sampai menjual beberapa barang berharganya untuk menambah modal diportofolionya. “Waktu krisis 2008 saya menjual mobil dan dua rumah untuk menambah modal,” katanya.

Memang naik-turunnya saham tidak ada yang dapat mengetahui, sifatnya hanya prediksi dan sebuah prediksi dapat saja melenceng dari yang diharapkan.

Sementara, pelaku pasar lainnya, Aryadi, dalam tulisan blog-nya beberapa bulan lalu memutuskan untuk berhenti dari berinvestasi di pasar modal. “Masih terbayang-bayang jumlah uang ratusan juta yang pernah saya miliki, hasil menabung selama bertahun-tahun, yang sekarang telah sirna,” tulisnya. Ia mengaku telah mencoba membeli saham blue chip, saham lapis kedua, dan saham gorengan. Suatu saat berbuah untung, tetapi lain saat lebih banyak ruginya.

Saham blue chip merupakan sebuah istilah dalam pasar modal yang mengacu pada saham dari perusahaan besar yang memiliki pendapatan stabil dan liabilitas dalam jumlah yang tidak terlalu banyak. Saham blue chip biasanya memberikan dividen secara reguler kendati perusahaan itu mengalami kinerja yang agak buruk dibandingkan dengan sebelumnya. Sebenarnya pelaku pasar tetap berpeluang memperoleh keuntungan seperti yang dirasakan oleh Alex.

Salah satu yang wajib dicermati oleh kalangan pelaku pasar ataupun analis pasar modal Indonesia adalah mempelajari laporan keuangannya, serta kinerja harga saham emiten itu dalam beberapa periode terakhir. Selain itu, sikap optimis, sabar, dan berpikir jangka panjang. Sebab, panik karena melihat saham turun hanya akan membuat kita mengambil keputusan yang tergesa-gesa, akibatnya malah berisiko memperbesar kerugian. Orang yang baru melakukan investasi, khususnya di pasar modal, diharapkan berhati-hati. Sebagai pemula wajib mengerti akan kebutuhan investasi. Tekun dan geluti secara serius.

Pengamat pasar modal dari Millenium Danathama Securities, Ahmad Riyadi, menyarankan pelaku pasar pemula agar tidak mempunyai portofolio yang terlalu banyak. Hal itu, kata dia, agar si pelaku dapat fokus pada saham apa yang dipegang. Cukup tiga saham dan menahan 1-2 saham untuk tetap dipegang dalam jangka satu tahun. Sisanya satu saham itu untuk mencermati pergerakannya dan mengamati kinerja perusahaan saham tersebut.

Selain itu, kata dia, simak karakteristik unik bursa, misalnya, pada waktu tertentu suatu saham ada kecenderungan naik pada akhir tahun, sebagai antisipasi window dressing dan menyambut January effect. Pada Februari-Maret biasanya terjadi koreksi  setelah window dressing dan January effect.

Kemudian, April-Mei sebagai antisipasi publikasi laporan keuangan dan pembagian dividen. Sebaliknya, pada September-Oktober biasanya kecenderungan turun karena sepi, tidak ada berita dan aktivitas dan seterusnya.

Ahmad mengatakan, ketika indeks dengan posisi tren menurun, diharapkan pelaku pasar untuk membeli, begitupun sebaliknya. “Anda harus perdagangan apa yang Anda lihat, bukan apa yang Anda pikirkan,” ujar dia.

Ucapan selamat patut dilayangkan untuk kinerja IHSG BEI. Tapi, ucapan selamat datang patut disampaikan nanti pada 2011. Dengan perkembangan teknologi dan semangat baru pasar modal Indonesia, tentu kita semua berharap perkembangannya akan menjadi lebih baik.

ANTARA

 

101210: penghasilan gw sehari dari warteg saham 10 Desember 2010

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 7:42 am

… tingkat penghasilan rerata gw dari maen saham sehari-hari dalam 2010 jelas sudah di atas pendapatan perkapita indon, coba baca di link ini :

ATM HARIAN warteg saham ala gw

tingkat penghasilan rerata gw dari maen saham sehari-hari dalam 2010 jelas sudah di atas pendapatan perkapita indon, coba baca di link ini :
 

ATM HARIAN warteg saham ala gw

 

 

kaitan Peristiwa dan pageviews : 021210 30 November 2010

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 5:18 am

ada 4 gejala atawa peristiwa besar yang berpengaruh terhadap pageviews blog ini … sila simak dari tabel statistik pageviews yang gw posting ini :

DPR Resmi Bentuk Panja Krakatau Steel
Oleh: Agustina Melani
Pasar Modal – Kamis, 2 Desember 2010 | 06:44 WIB

Menteri BUMN Sambut Positif Panja KS
Oleh: Agustina Melani
Pasar Modal – Kamis, 2 Desember 2010 | 06:55 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Mustafa Abubakar berharap pembentukan panitia kerja (Panja) dapat memberikan penjelasan sedetil-detilnya mengenai penawaran umum saham perdana PT Krakatau Steel Tbk (KRAS).
“Sebetulnya Panja itu kesempatan memberikan penjelasan sedetil-detilnya,” ujar Mustafa, Rabu (1/12) malam sesuai Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR.
Dia menilai positif pembentukan Panja KS ini. Setiap pihak terlibat penawaran umum saham perdana KRAS mulai underwriter, emiten dan lainnya akan dipanggil sesuai kebutuhan. Dengan pembentukan panja ada pendalaman dengan mitranya. Mustafa juga mengharapkan Panja ini tidak berlangsung lama agar manajemen PT Krakatau Steel dapat bekerja.Selain itu, dengan polemik PT Krakatau Steel Tbk, Mustafa menuturkan komunikasi publik akan lebih diutamakan. “Komunikasi dan sosialisasi go public dan rights issue dijelaskan kepada DPR dan masyarakat,” tambah Mustafa. [cms]

INILAH.COM, Jakarta – Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) resmi membentuk panitia kerja untuk memperdalam penyelidikan penawaran umum saham perdana PT Krakatau Steel Tbk (KRAS).
“Panja sudah resmi. Data-data yang diminta DPR belum dapat. Dengan panja kita memperoleh data dan analisa,” ujar Ketua Komisi VI Airlangga Hartarto, Rabu (1/12).
Ia menilai ada data yang diminta belum diberikan oleh pemerintah. Keterbukaan data ini mulai dari proses penjatahan saham, penetapan harga dan distribusi saham KRAS. Airlangga menambahkan Panja ini diharapkan dapat dilakukan minggu depan. “Segera dan minggu depan. Kita maunya kemarin,” ujar Airlangga.
Selain itu, pihaknya akan meminta penjelasan penasihat laporan keuangan Price Water House Cooper mengenai valuasi saham. Penilaian valuasi saham ini sebagai acuan untuk pembanding. Airlangga juga belum dapat memastikan, kapan waktu panja selesai. “Tergantung data. Kalau data tidak keluar mau bagaimana,” kata Airlangga.
Airlangga mengataka panja ini tertutup dan terbuka tergantung undang-undang pasar modal. [cms]

Komisi XI DPR RI belum bisa memutuskan apakah polemik pelepasan saham perdana PT Krakatau Steel Tbk akan ditindaklanjuti dengan pemeriksaan audit investigasi atau berujung kepada pembentukan Panitia Kerja (Panja) atau Panitia Khusus (Pansus).

Sumber : BISNIS.COM
Selasa, 30/11/2010 06:31 WIB
DPR Ancam IPO KS Jadi ‘Century Jilid II’
Wahyu Daniel – detikFinance

Jakarta – Komisi XI DPR meminta manajemen PT Krakatau Steel Tbk (KS) untuk memberikan penjelasan yang transparan dan seterbuka mungkin. Jika tidak, DPR mengancam membuat Pansus dan ini bisa menjadikan kasus IPO KS seperti kasus Century.

Demikian disampaikan oleh Anggota Komisi XI DPR Maruarar Sirait dalam rapat dengan Direksi KS beserta 3 penjamin emisi (underwriter) yaitu Danareksa, Bahana Securities, dan Mandiri Sekuritas di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (29/11/2010) malam.

“Anda tahu konsekuensinya kalau dibentuk Pansus. Itu situasinya politis dan sangat bergesekan dengan hukum. Jika dibentuk Pansus, kasus ini bisa jadi Century kedua,” ancam anggota DPR dari FPDIP ini.

Maruarar mempertanyakan pembentukan harga IPO KS Rp 850 per saham, padahal saat itu kondisi pasar saham sedang bullish.

Sebelumnya, dalam rapat yang sama, Direktur Utama KS Fazwar Bujang mengatakan, ekspektasi awal manajemen dan komisaris soal harga IPO KS adalah Rp 950-1.000 per lembar. Namun ternyata penjamin emisi dan pemerintah menentukan harga di kisaran Rp 800-1.150, dan akhirnya harga saham ditentukan Rp 850 per lembar.

KS melepaskan 3.155.000.000 saham baru ke publik dan mencatatkannya di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 10 November 2010. Dengan harga Rp 850, maka total perolehan dana IPO sebesar Rp 2,681 triliun.

Dalam proses bookbuilding yang telah digelar dan berakhir pekan lalu, KS berhasil memperoleh pesanan hingga 30 miliar saham atau hampir 9 kali dari jumlah saham yang dilepas ke publik. Namun penetapan harga saham IPO Rp 850 itu dinilai sangat murah dan berpotensi merugikan negara. IPO KS ini juga menuai gugatan dari 13 ekonom.

(dnl/qom)