1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

harga saham2 yg gw ikutan … 310110 31 Januari 2010

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 10:24 am
^JKSE 2,610.80 -8.77 -0.33%
ANTM.JK 2,125.00 -25.00 -1.16%
ADRO.JK 1,890.00 -10.00 -0.53%
BUMI.JK 2,475.00 -75.00 -2.94%
BBRI.JK 7,650.00 0.00 0.00%
BNII.JK 305.00 0.00 0.00%
TRUB.JK 123.00 -3.00 -2.38%
ELSA.JK 325.00 -5.00 -1.52%
INDY.JK 2,425.00 -100.00 -3.96%

total jumlah “harga saham” = 17318
rata2 “harga saham” = 17318/8 = 2164.75
indeks 8 “harga saham” gw secara kasar = 2164.75 (per tgl 290110)
^JKSE 2,610.80 -8.77 -0.33%
ANTM.JK 2,125.00 -25.00 -1.16%
ADRO.JK 1,890.00 -10.00 -0.53%
BUMI.JK 2,475.00 -75.00 -2.94%
BBRI.JK 7,650.00 0.00 0.00%
BNII.JK 305.00 0.00 0.00%
TRUB.JK 123.00 -3.00 -2.38%
ELSA.JK 325.00 -5.00 -1.52%
INDY.JK 2,425.00 -100.00 -3.96%

Iklan
 

kedewasaan investor 4.0 : 300110 30 Januari 2010

Filed under: Mentalitas Investor — bumi2009fans @ 4:21 pm

Riyanto:
Getol Investasi untuk Persiapan Pensiun
Kamis, 10 Desember 2009
Oleh : Eva Martha Rahayu
Sebagai profesional, Riyanto sadar bahwa penghasilannya akan segitu-gitu saja sehingga bakal membahayakan di masa pensiun. Maka, dia rajin berinvestasi sejak dini. Komposisi investasinya: 40% sektor riil, 30% properti, 20% deposito dan 10% saham.

Anda khawatir mengalami post power syndrome saat pensiun tiba? Ketakutan seperti itu tidak akan terjadi jika Anda mengikuti strategi yang dilakukan Riyanto. Dirut Bank Syariah Bukopin ini berprinsip: seseorang harus pandai-pandai melakukan investasi demi kebutuhan masa depan keluarga. Itulah sebabnya, sejak dini dia telah mempersiapkan investasi sedikit demi sedikit. Hal itu berlangsung hingga sekarang di usia produktif.

Bagi Riyanto, bila tidak mulai mempersiapkan investasi, masalah besar bakal muncul waktu pensiun nanti. Maklum, sebagai orang gajian, penghasilannya sudah terukur dan stabil. Sementara kebutuhan hidup bakal makin besar untuk membiayai kuliah anak. Jadi, seandainya ingin memperoleh pendapatan lebih, wajib membiakkan dana melalui pengelolaan investasi di beberapa instrumen.

Besarnya dana yang dialokasikan Riyanto untuk berinvestasi bersifat fleksibel. Artinya, ketika tanggung jawab keluarga belum besar atau biaya hidup masih sedikit, porsi investasi bisa mencapai 50% dan 50% konsumsi. Namun, kini dengan tanggungan seorang istri dan tiga anak, duit yang disisihkan investasi tinggal 30% dari penghasilan dan 70% habis untuk konsumsi keluarga.

Jenis investasinya tidak asal tubruk. “Investasi yang saya pilih adalah yang mampu memberikan penghasilan saat saya pensiun kelak,” kata pria kelahiran Bandung, 31 Juli 1961, ini. Selain itu, investasi tersebut harus mampu melawan atau menahan laju inflasi agar memberikan imbal hasil yang memadai.

Dengan pertimbangan itu, Riyanto menempatkan dananya ke empat keranjang investasi. Mula-mula dia memilih investasi properti. Aktiva tetap yang pertama kali dia miliki adalah sebuah rumah yang dibeli secara kredit waktu awal bekerja di Bank Bukopin, saat umurnya masih 24 tahun. Setelah karier dan jabatan menanjak, dia membeli ruko dan vila. Mengapa? “Saya ingin mengamankan uang cash dengan opportunity investasi yang ada saat itu. Misalnya, membeli aset properti yang dilelang Badan Penyehatan Perbankan Nasional kala itu,” tambah lulusan S-1 Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran, Bandung, ini.

Strategi eksekutif yang suka menghiasi ruangan kantornya dengan beberapa kaligrafi ini dalam memilih properti adalah memilih lokasi yang strategis, membeli saat harga miring plus mencari properti yang memberikan passive income. Makanya, dia membeli rumah dan ruko di Jakarta Timur yang dianggapnya strategis, lalu ruko itu disewakan lagi. Juga, membeli vila di Puncak, Bogor, saat harganya turun. “Kalau ruko itu, tujuan awalnya mau dipakai istri untuk buka butik, tapi nggak jadi sampai sekarang. Akhirnya disewakan saja,” tutur pemilik ruko di salah satu pusat perbelanjaan itu.

Lantaran letak ruko itu di prime area pertokoan, tidak sulit baginya mencari penyewa.
Selain properti, Riyanto juga masuk ke sektor pendidikan sebagai ajang membiakkan uangnya. Dia mendirikan sekolah. Pertimbangannya, pertama, dia mencari bidang usaha yang pengelolaannya tidak terlalu menyita waktu penuh. Sebab, dia masih bekerja seharian di kantor, sedangkan istrinya sibuk mengurus rumah tangga. Kedua, bidang usaha itu harus mempunyai risiko yang terukur. Ketiga, mesti yakin dan percaya mampu mengelola bisnis tersebut.

Nama sekolah yang dikibarkan Riyanto tahun 2002: Azzahra. Jenjang pendidikan yang ditawarkan lembaga pendidikan Islam terpadu itu mulai dari playgroup hingga sekolah dasar. Pengelolaan sehari-hari diserahkan kepada sang istri. “Istri saya keluar dari Bank Muammalat untuk mengelola Azzahra,” ucap suami Dwi Shinta Wiatiya ini. Sekarang sekolah tersebut memiliki kurang-lebih 500 murid.

Berapa modal awal pendirian sekolah? “Bertahap, dari satu lokasi tanah seluas sekitar 1.000 m2 dengan luas bangunan 1.600 m2. Nilai gedungnya saja kisaran Rp 1,3 miliar,” kata ayah Rangga (siswa SMA), Gilang (murid SD) dan Raisya (umur 1 tahun) ini. Kendati Riyanto tidak bisa memaparkan angka persis nilai investasinya, yang jelas kini sekolah Azzahra berkembang menjadi tiga cabang. Sekolah perdana dibuka di Citereup, lalu ekspansi ke Cibinong dan Cibubur.

Instrumen investasi ketiga: bermain saham. Aktivitas investasi sahamnya diakui Riyanto bersifat on off. Dia mulai terjun ke saham pada 1997. “Saya tertarik saham karena memberikan capital gains lebih baik ketimbang deposito,” ungkap eksekutif berkacamata ini. Apalagi, saat itu dia mendapat jatah saham ESOP dari Bank Bukopin. Akibat krisis moneter, trading sahamnya istirahat dulu. Baru tahun 2000 dia aktif lagi ke bursa lantaran kondisi saham mulai booming.

Bagaimana jurusnya berinvestasi saham? Sebelumnya dia selalu bermain saham konvensional, tetapi sejak bergabung dengan Bank Syariah Bukopin pada Oktober 2008, dia mulai melirik dan beralih ke saham-saham berbasis syariah. Baginya, saham syariah itu membuatnya selamat dunia-akhirat karena halal. Wajarlah, karena saham-saham tersebut menjauhi sektor rokok, perhotelan, minuman keras dan riba. Potensi capital gains-nya, diklaim Riyanto, juga tidak kalah dari saham konvensional. Selain itu, dia selalu memonitor pergerakan harga saham, juga mendengarkan masukan dari pialang untuk mengambil keputusan transaksi: sell, buy atau hold. Jurus lain, segera out dari posisi jika harga saham trennya melandai dan begitu harga balik normal, segera masuk lagi. Ini untuk menyiasati agar tidak terjebak arus pasar negatif.

Bentuk investasi terakhirnya adalah deposito. Lagi-lagi karena masuk dalam jajaran manajemen bank berbasis syariah, otomatis jenis depositonya pun yang berbau syariah Islam. Menurutnya, dengan pola bagi hasil, kadang-kadang keuntungan deposito syariah juga lebih tinggi ketimbang bank konvensional.

Gambaran hasil investasi Riyanto ada plus-minusnya. Andaikan dipukul rata, Riyanto mengaku mayoritas investasinya menguntungkan. Dia memilah, untuk investasi propertinya, rata-rata untung semua. Sebab di atas kertas, harga rumah, ruko dan vila yang dia beli sudah naik semua. Apalagi, sebagian properti itu dibeli waktu harga jatuh. Sayangnya, sampai sekarang belum ada aset propertinya yang dijual, menunggu kenaikan harga yang signifikan dulu.

Namun, pengalaman buntung pun dialami Riyanto. Cerita menyedihkan ini terjadi manakala krismon 1998 menerpa pasar modal juga. Akibatnya, harga saham-saham yang dibelinya di Bursa Efek Jakarta lebih dari 11 tahun silam itu berguguran. Dia mencontohkan harga saham Bank Bukopin waktu itu anjlok dari Rp 650 menjadi Rp 200.

Untuk investasi sektor riil, Riyanto menjelaskan, keuntungannya tidak berupa uang tunai. Melainkan, diakumulasikan lagi dalam bentuk pengembangan aset. Jadi, dulu Azzahra hanya dimulai dari satu sekolah, sekarang berkembang menjadi tiga sekolah. Dia bersyukur bisa membuka lapangan kerja dengan memiliki sekitar 100 karyawan di lembaga pendidikan bernafas Islam tersebut.

Kelak, bila sudah pensiun, Riyanto berniat mengubah strategi dan porsi investasinya. Saat pensiun, alokasi investasinya ditambah untuk deposito menjadi 40% dan sektor riil menjadi 60%. Alasannya, pada usia tidak produktif, dibutuhkan dana tunai lebih banyak dan investasi yang lebih likuid.

BOKS:

Trik Riyanto Mengelola Investasinya

Untuk properti, pilih lokasi yang strategis dan prime area.
Waktu beli properti, usahakan cari harga yang miring, misalnya dari proses lelang.
Pilih properti yang memberikan peluang passive income.
Strategi investasi sektor riil (Sekolah Azzahra) ada tiga: cari bidang usaha yang pengelolaannya tidak terlalu menyita waktu dan harus mempunyai risiko yang terukur, serta mesti yakin dan percaya mampu mengelola usaha tersebut.
Untuk saham, pilih saham berbasis syariah yang menjauhi sektor rokok, riba, minuman keras dan perhotelan.
Selalu memonitor pergerakan harga saham serta mendengarkan masukan dari pialang untuk mengambil keputusan transaksi: sell, buy atau hold.
Segera out dari posisi jika harga saham trennya melandai; begitu harga balik normal, segera masuk lagi. Ini untuk menyiasati supaya tidak terjebak arus pasar negatif.
Pilih deposito syariah yang jauh dari riba dan imbal hasil tidak kalah dari bank konvensional.

 

koreksi itu mendebarkan, mungkin SEHAT seh … 300110

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 12:08 am

29/01/2010 – 20:49
Bursa Asia Akhir Pekan Anjlok 1,7%
Vina Ramitha

INILAH.COM, Tokyo – Indeks MSCI Asia Pacific kembali letoy dan membukukan kerugian terbesar sejak Maret 2009. Kekhawatiran defisit Yunani, tingkat pengangguran AS dan kebijakan perbankan China, India, serta AS menjadi katalisnya.

Pada perdagangan Jumat (29/1), indeks MSCI Asia Pasifik menyerah 1,6% ke level 117,18 atau turun 4,34% selama pekan ini. Dan turun 7,6% dari titik tertinggi pada 15 Januari lalu.

Tujuh saham jatuh untuk setiap satu yang naik di indeks MSCI APAC. Sektor produsen material dan perusahaan teknologi mengalami kejatuhan terbesar.

Wakil Presiden Investasi di JPMorgan Asset Management Hong Kong, Grace Tam, mengatakan dunia memang telah melalui yang terburuk dari krisis global. Namun ia tak berharap ada rally kuat, seperti yang terjadi tahun lalu. “Masih ada downside,” katanya.

Euro jatuh ke level terendahnya selama enam bulan terakhir terhadap dolar AS. Hal ini akibat meningkatnya resiko default korporasi di Eropa akibat kondisi finansial Yunani. Peralihan kredit gagal (credit-default swap) yang terkait utang, berada di level yang sama, seperti ketika Dubai menerima dana talangan sebesar US$10 miliar pada Desember 2009.

Bank Sentral AS The Fed mulai menghentikan program stimulus. Sedangkan dana ekuitas pasar negara berkembang memposting laba pertama mereka dalam 12 pekan terakhir di masa China memperketat likuiditas. Bank Sentral India juga mengumumkan penambahan proporsi pinjaman deposit, dari 5% ke 5,75%.

Menurut ahli strategi di Nomura Holdings, Juichi Wako, bank sentral global memiliki ruang yang sempit untuk kebijakan yang lebih longgar. Pasar pun tak bisa begitu saja berharap ada kelebihan likuiditas terus melimpah dan menstabilkan harga saham. “Investor khawatir dengan outlook perekonomian AS,” katanya kepada Bloomberg, Jumat (29/1).

Indeks Shanghai turun 4,85 poin (0,16%) , indeks Hang Seng turun 234,38 poin (1,15%) , dan indeks Nikkei-225 turun 216,25 poin (2,08%) . Demikian pula KOSPI turun 40 poin (2,44%) ke level 1.602,43.

Epilda Memory Inc. produsen memori komputer terbesar di Jepang, jatuh 9% ke 1.601 yen, terbesar dalam lima tahun terakhir. Demikian pula produsen tester memori terbesar dunia, Advantest Corp. yang anjlok 10,2% ke 2.253 yen, penurunan terbesar sejak 26 Februari 2009.

Penguatan yen atas dolar AS, mengurangi nilai penjualan emiten di luar negeri, yang mengkontribusi 10% pemasukan total.

Perusahaan pertambangan terbesar ketiga di dunia, Rio Tinto Group, anjlok 4,8% ke S$68,43 yang merupakan penurunan terbesar mereka selama empat bulan terakhir. Sementara pesaing terbesar Rio, BHP Billiton Ltd., turun 3,2% ke A$39,40. Indeks enam logam, termasuk tembaga dan nikel, turun 3,6% di London pada perdagangan kemarin. Penurunan itu yang terbesar sejak 1 September 2009.

Indeks Nikkei 225 di bursa Tokyo pun turun 216,25 poin (2,1%) ke level 10.198,04, level terendah sejak 21 Desember. Indeks Topix turun 13,20 poin (1,4%) menjadi 901,12. Sepekan ini, Nikkei kehilangan 3,7% dan sejak awal 2010 telah turun 3,3%. “Investor selektif memilih perusahaan-perusahaan yang mengumumkan kenaikan tahun fiskal penuh setelah penutupan pasar sebelumnya,”kata pengamat pasar modal Daiwa Securities, Yumi Nishimura.

Di bursa Korea, indeks Kospi turun 40 poin (2.4%) ke level 1602.43, terendah sejak Desember 2009. Pasar khawatir adanya indikasi pelambatan pertumbuhan ekonomi beberapa bulan mendatang akibat pengetatan moneter global.

Laporan keuangan Samsung Electronics yang solid, gagal mengangkat bursa. Samsung pun turun 3% ke KRW784.000, Hynix Semiconductor turun 3.6% pada level KRW22.750, KT Corp. turun sebesar 0.4% ke KRW49.800, Kia Motors turun 0.5% ke KRW19.550 dan Hyundai Motor turun 0.4% ke KRW113.000.

Indeks Shanghai turun 4,85 poin (0,2%) ke 2.989,29. Sepekan ini, indeks turun 4,5%, membukukan kerugian mingguan terbesar secara persentase dalam dua bulan terakhir.

Volume pasar anjlok mencapai CNY489.3 miliar pekan ini.

Bursa saham China berakhir turun, akibat ketidakpastian bank sentral tentang arah suku bunganya. Selain memburuknya kinerja perusahaan-perusahaan yang terdaftar di bursa.

“Ketidakpastian tentang waktu kemungkinan kenaikan suku bunga tersebut membuat masyarakat gugup,” kata Wang Junqing, seorang analis di Guosen Securities.

Saham perbankan terus melemah atas ketidakpastian kebijakan moneter di China. Bank of China turun 0,2% menjadi CNY4.10 dan ICBC turun 0,2% di CNY4.85. Meskipun China Merchants Bank berhasil naik 0,3% ke CNY15.17, setelah otoritas bursa berencana meninjau rights issue bank CNY22 miliar pekan depan.

Sedangkan saham properti jatuh atas profit-taking dan keprihatinan peningkatan pengawasan pinjaman properti. Pasar juga terpukul atas penawaran saham baru bulan ini, yang telah menyebabkan krisis likuiditas di pasar. Sebanyak 35 perusahaan akan meluncurkan IPO mereka pada Januari, menjadikan bulan tersibuk sejak China membuka kembali pasar primer pada Juni. [ast/mdr]
Sesi II Tutup
Tekanan Jual Mereda, IHSG Hanya Turun 8 Poin
IHSG sempat menyentuh level tertinggi 2.619,26 dan terendah 2.569,26.
JUM’AT, 29 JANUARI 2010, 16:13 WIB
Arinto Tri Wibowo

Papan perdagangan saham (ANTARA)
BERITA TERKAIT
Tak Gubris Demo, IHSG Naik 55 Poin
Antisipasi Demo Besok, IHSG Tertekan
IHSG Terimbas Pelemahan Bursa Asia
IHSG Turun Tipis, Rupiah Menguat
Penurunan IHSG Mereda
Web Tools

VIVAnews – Pergerakan indeks bursa regional Asia yang terpuruk hingga di atas dua persen, memicu sentimen negatif di pasar saham domestik.Meski demikian, penurunan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) tidak sebesar sejumlah bursa Asia.

Pada akhir transaksi Jumat 29 Januari 2010, IHSG terkoreksi 8,76 poin (0,33 persen) menjadi 2.610,79.

IHSG sempat menyentuh level tertinggi 2.619,26 dan terendah 2.569,26. Volume transaksi mencapai 6,89 juta lot senilai Rp 3,23 triliun dengan frekuensi 71.207 kali.

Sebanyak 131 saham melemah, 49 menguat, dan 73 saham stagnan. Sementara itu, sebanyak 232 saham tidak terjadi transaksi.

Riset PT CIMB Securities Indonesia menilai, meski melemah, IHSG berhasil ditutup di atas level 2.575. “Jadi, masih ada kebenaran mengenai January Effect,” tulis riset itu di Jakarta.

Sementara itu, analis PT BNI Securities M Alfatih mengatakan, meski tren naik masih ada di pasar, IHSG cenderung bergerak mendatar (sideways) di kisaran 2.550-2.640.

Saham-saham yang mengontribusi penurunan IHSG di antaranya PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) melemah Rp 600 (1,87 persen) menjadi Rp 31.400, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) turun Rp 450 (1,85 persen) ke posisi Rp 23.850, dan PT United Tractors Tbk (UNTR) terkoreksi Rp 350 (2,03 persen) menjadi Rp 16.850.

Selama transaksi, pemodal asing membukukan pembelian saham senilai Rp 728,29 miliar, dengan penjualan mencapai Rp 901 miliar.

Di bursa Asia, indeks Hang Seng berada di level 20.121,99 atau melemah 234,38 poin (1,15 persen), Nikkei 225 turun 216,25 poin (2,08 persen) ke posisi 10.198,04, dan Straits Times terkoreksi 10,88 poin (0,39 persen) menjadi 2.746,8.

arinto.wibowo@vivanews.com

• VIVAnews
Three Reasons to Shrug Off Stock-Market Sell-Off: William Pesek
Share Business ExchangeTwitterFacebook| Email | Print | A A A
Commentary by William Pesek

Jan. 29 (Bloomberg) — Window ledges are becoming crowded places around Asia these days as investors panic over stocks.

They shouldn’t. Remember that the Asian growth story remains intact and that 2010 is not 2008, when the MSCI Asia Pacific Index plunged more than 43 percent amid worries we would all be homeless by now. By comparison, the index dropped 6.9 percent during a decline of eight straight days this month.

No one is saying this will be an easy year — not with central bankers reacquainting themselves with the risks of inflation. Interest rates will rise, as they must given all the hot money sloshing around the globe. And Asian equities tend to take the first round of rate increases badly.

Yet there are three reasons to take a deep breath and step back from the brink.

One, Asia is still the most dynamic economic region. Sure, some of the 34 percent rebound in the MSCI index in 2009 reflected asset bubbles. That’s inevitable when monetary authorities in Frankfurt, London, Tokyo and Washington slash rates toward zero.

There’s a reason money rushed to Asia. Reforms following the 1997 Asian crisis positioned the region well for the last 18 months of turmoil. These efforts were rewarded not just because traders were looking to make a quick buck. They made Asia the markets of choice because this is where the energy is.

Losing Streak

Yesterday’s rally may have been a case in point. It snapped the longest losing streak since 2004 and offered a respite from the stampede out of the stock market. The sell-off may resume, though, and might get worse before it gets better. Think of it as a correction, not a bear market.

We’re talking about Asia, ex-Japan, of course. Japan’s deflation is accelerating, consumption is stagnant, and Standard and Poor’s threatens to lower the nation’s AA credit rating.

The crisis at Toyota Motor Corp. is another blow to Japanese stocks. Perhaps no corporate name is more emblematic of Japan’s impressive post-World War II revival than the world’s largest carmaker. Yesterday its stock fell almost 4 percent amid concerns its reputation for quality may be permanently tarnished by recent recalls. Toyota shares have shed 12 percent this week.

Nothing that has happened in the last few weeks changes ex- Japan Asia’s outlook. Remember, as Niall MacLeod, Hong Kong- based strategist at UBS AG, points out, Asia typically responds badly at first to interest-rate increases, especially in the 40 days around when they begin.

Least Ugly

The process is just beginning, meaning that stocks may well grind lower in the weeks ahead. But Asia is still the least-ugly region in the stock-market beauty contest at the moment.

Two, policy makers are addressing the bubbles of 2009. Since the collapse of Lehman Brothers Holdings Inc. in September 2008, the Group of 20 nations has spent more than $2.2 trillion trying to restore growth.

Efforts are afoot to take back some of the fiscal and monetary stimulus, and that’s healthy. China, where banks have begun restricting new loans, is responding to a push by regulators to contain credit after a surge in lending.

Investors such as Mark Mobius, chairman of Templeton Asset Management Ltd. in Singapore, have a point when they argue that such steps may benefit China’s economy. At a minimum, they will reduce overheating risks and make markets more stable.

Good-News Story

This is really a good-news story for Asia. Money isn’t about to get tighter so much as it’s about to become less loose. The trick is not to go too far. Central bankers from South Korea to India need to act forcefully, yet wisely.

The key is for Asia to avoid replays of 1994 and 2004, when monetary tightening devastated asset markets. It won’t be easy for policy makers and it won’t always be pretty for investors, yet less liquidity will serve markets well over time. And besides, valuations in Asia are cheaper now than on Jan. 1.

Three, the U.S. won’t steal Asia’s thunder. One reason Asian markets stumbled in recent weeks is that there is more optimism the U.S. economy will recover markedly.

Normally, such perceptions would be great news for Asia’s export-dependent economies. After the sheer financial chaos of 2008 and 2009, though, many international investors are anxious to pile their money into the most developed economies. While better U.S. growth can be good for Asia, it reduces the relative attraction of emerging-market stocks.

The U.S. won’t be a major competitor for Asia’s stock money for some time. More likely, the U.S. will muddle along this year, limiting corporate profits and restraining wage growth.

That’s hardly a comforting scenario for the world economy. Yet Asian markets have proven over the last year that they can stand their ground as the U.S. limps along.

Don’t forget that Asia also benefits from 10 percent growth in China, 6 percent in India and a general sense of dynamism that’s lacking in the U.S. and Europe. In a rather ugly world economy, Asia still looks pretty good.

(William Pesek is a Bloomberg News columnist. The opinions expressed are his own.)

 

resesi berakhir di amrik … 290110 29 Januari 2010

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 9:39 pm

… ekonomi amrik di kuartal IV 2009 mencatatkan 2 hal: RESESI AMRIK BERAKHIR, dan ANGKA 5 ITU LEBE GEDE DARIPADA ANGKA 4% DI INDONESIA … ternyata YANG PALING TERPURUK LEBE MUDAH MERAIH GAPAIAN YANG LEBE GEDE …

Economy in U.S. Grew at 5.7% Pace, Most in Six Years (Update2)

By Timothy R. Homan

Jan. 29 (Bloomberg) — The economy in the U.S. expanded in the fourth quarter at the fastest pace in six years as factories cranked up assembly lines and companies increased investment in equipment and software.

The 5.7 percent increase in gross domestic product, which exceeded the median forecast of economists surveyed by Bloomberg News, marked the best performance since the third quarter of 2003, figures from the Commerce Department showed today in Washington. Efforts to rebuild depleted inventories contributed 3.4 percentage points to GDP, the most in two decades.

Manufacturers such as Intel Corp. may keep leading the recovery as increasing sales prompt companies to restock. A slowdown in consumer spending last quarter is a reminder that 10 percent unemployment is causing Americans to hold back, one reason why the Federal Reserve is keeping interest rates low and the Obama administration is proposing new plans to create jobs.

“The economy is still healing and improving,” said John Silvia, chief economist at Wells Fargo Securities LLC in Charlotte, North Carolina, who projected a 5.6 percent gain in GDP. “I think this is a sustainable recovery.”

Stock-index futures added to earlier gains after the report. The contract on the Standard & Poor’s 500 Index climbed 0.7 percent to 1,086.4 at 8:57 a.m. in New York. Treasuries dropped, pushing the yield on the benchmark 10-year note up to 3.67 percent from 3.64 percent late yesterday.

Exceeds Forecast

The economy was forecast to grow at a 4.7 percent annual pace, according to the median estimate of 84 economists in a Bloomberg News survey. Estimates ranged from gains of 3 percent to 7.5 percent.

For all of 2009, the economy shrank 2.4 percent, the worst single-year performance since 1946.

Consumer spending, which comprises about 70 percent of the economy, rose at a 2 percent pace, more than anticipated following a 2.8 percent increase in the previous three months. Economists projected a 1.8 percent gain, according to the survey median.

Third-quarter purchases received a boost from the government’s auto-incentive program that offered buyers discounts to trade in older cars and trucks for new, more fuel- efficient vehicles. The plan expired in August.

Household purchases dropped 0.6 percent last year, the biggest decrease since 1974.

Stemming Slide

Increases in production last quarter stemmed the slide in inventories. Stockpiles dropped at a $33.5 billion annual pace following a $139.2 billion decline the previous three months. Inventories declined at a record $160.2 billion pace in the second quarter.

Today’s report showed purchases of equipment and software increased at a 13 percent pace in the fourth quarter, the most since 2006. The gain helped offset a 15 percent drop in commercial construction, leaving total business investment up 2.9 percent over the past three months.

Intel, the world’s largest chipmaker, posted its biggest quarterly revenue in more than a year last quarter, a sign the computer industry has emerged from last year’s global recession.

“My expectation for 2010 is that we’re going to see robust unit growth,” Chief Financial Officer Stacy Smith said in an interview this month. “The consumer segments of the market will stay pretty strong, and I do believe we’re going to see a resurgence in PC client sales.”

Investment Pickup

A report yesterday showed companies ordered more capital goods such as machinery and computers in December, indicating business investment will keep expanding.

Jobs is one area where a rebound is still not evident. Payrolls fell by 85,000 last month after a 4,000 gain in November that was the first increase in almost two years. The U.S. has lost 7.2 million since the start of the recession in December 2007, the most of any slowdown in the post-World War II era.

The jobless rate held at 10 percent in December, the Labor Department said on Jan. 8. A jump in the number of discouraged workers leaving the labor market kept the rate from rising.

President Barack Obama this week said job creation will be the “number one focus in 2010.” Speaking during his first State of the Union address, Obama called on Congress to deliver a new jobs bill to his desk.

Fed Action

Fed policy makers, after their meeting this week, said the recovery is gaining strength and business investment “appears to be picking up.” They also repeated a pledge to keep the benchmark interest rate low for an “extended period.” The central bankers held the overnight lending rate between banks in the range near zero, where it has been for more than a year.

In other areas of the economy, today’s report showed a smaller trade gap contributed 0.5 percentage point to fourth- quarter growth, while government spending was little changed, dropping at a 0.2 percent pace.

Residential construction climbed at a 5.7 percent rate last quarter after expanding at a 19 percent pace in the previous three months.

Inflation held below the Fed’s long-term forecast. The central bank’s preferred price gauge, which is tied to consumer spending and strips out food and energy costs, rose at a 1.4 percent annual pace following a 1.2 percent increase in the prior quarter.

The GDP price gauge climbed at a 0.6 percent pace, less than the 1.3 percent median forecast of economists surveyed.

Today’s GDP report is the first for the quarter and will be revised in February and March as more information becomes available.

 

ekonomi SELALU dibilang TIDAK PASTI, biasa lah … 290110

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 9:26 pm

Rapor Ekonomi 2009
Senin, 15 Februari 2010 – 09:18 wib

MINGGU lalu Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan kinerja perekonomian pada kuartal IV-2009. Laporan tersebut ditunggu banyak orang untuk memastikan apakah perkembangan perekonomian Indonesia mulai mengalami percepatan kembali di tengah proses pemulihan perekonomian global. Sebagaimana diketahui, ternyata laporan BPS itu memperkuat dugaan sebagian orang bahwa ternyata percepatan pertumbuhan ekonomi telah kembali terjadi di Indonesia.

Perkembangan PDB Tahun 2009

Beberapa waktu sebelum dikeluarkannya laporan tersebut, kita melihat beberapa data yang menunjukkan bahwa perekonomian pada kuartal IV-2009 memang mengalami perbaikan. Penjualan mobil, misalnya, mengalami kenaikan 5,7 persen dibandingkan dengan kuartal yang sama 2008. Demikian juga penjualan sepeda motor yang bahkan telah mengalami pertumbuhan penjualan sejak kuartal III/2009.

Berbagai industri yang memproduksi barang konsumsi melaporkan permintaan yang kuat pada kuartal tersebut. Terakhir, yang membuat kita semakin yakin adalah mulai terjadinya pertumbuhan tahunan ekspor pada kuartal IV-2009 yang mengalami pertumbuhan sebesar hampir 24 persen dibandingkan dengan kuartal yang sama tahun sebelumnya.

Atas perkembangan tersebut, dalam tulisan saya minggu lalu, saya memprediksi pertumbuhan ekonomi sepanjang 2009 akan mencapai 4,5 persen (lihat tulisan: Prospek Ekspor 2010), sedangkan PDB nominal akan mencapai sekitar Rp5.600 triliun. Sebagaimana kita ketahui dari laporan BPS pada Rabu 10 Februari lalu, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2009 ternyata memang mencapai 4,5 persen, sedangkan untuk kuartal IV mencapai pertumbuhan 5,4 persen.

Sementara itu,PDB nominal bahkan sedikit lebih tinggi dari prediksi saya yang sebetulnya sudah optimistis, yaitu mencapai Rp5.613,4 triliun. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2009 tersebut terjadi merata di semua sektor (broad-based). Sektor transportasi dan telekomunikasi mengalami pertumbuhan yang paling tinggi,yaitu 15,4 persen, diikuti sektor listrik, air, dan gas yang mengalami peningkatan sebesar 13,8 persen.

Sementara itu,sektor konstruksi mengalami pertumbuhan 7,1 persen dan sektor jasa-jasa meningkat 6,4 persen. Sektor tradable, yaitu sektor pertanian,mengalami pertumbuhan 4,1 persen, cukup tinggi dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, sementara sektor pertambangan juga mengalami pertumbuhan yang tinggi,yaitu sebesar 4,4 persen.

Sektor manufaktur mengalami pertumbuhan yang terendah, yaitu 2,1 persen. Kinerja semacam ini tentu akan semakin memperkuat polemik tentang terjadinya deindustrialisasi . Saya akan mengulas secara khusus tentang fenomena tersebut, terutama dicocokkan dengan perkembangan di lapangan.

Prospek 2010

Dengan melihat kinerja tahun 2009 tersebut, bagaimana prospek perekonomian Indonesia di tahun 2010? Kuartal IV-2009 yang lalu memunculkan perkembangan yang menarik karena terjadinya pertumbuhan ekonomi tahunan pada kuartal IV sebesar 5,4 persen.Angka ini mengalami pelonjakan dibandingkan dengan pertumbuhan tahunan kuartal III yang sebesar 4,2 persen.

Perkembangan ini memiliki kemiripan dengan kinerja industri mobil dan sepeda motor yang mengalami pelonjakan tajam pada kuartal IV. Dengan kinerja tersebut, industri mobil, misalnya, merasakan optimisme baru dalam melihat prospek penjualan mobil pada 2010. Jika tahun 2009 penjualan mobil hanya mencapai 486.000 unit, tahun 2010 para pengusaha industri mobil memprediksi penjualan sebesar 550.000 unit.

Saya sendiri optimistis akan terjadi penjualan antara 610.000– 650.000 unit. Optimisme ini diperkuat lagi dengan data penjualan mobil pada Januari 2010 yang mencapai lebih dari 53.000 unit. Dengan melihat analogi tersebut, kita pantas untuk memiliki optimisme yang lebih besar pada 2010 karena bahkan sebelum memasuki 2010 tersebut ternyata perekonomian kita mampu mengalami pertumbuhan sebesar 5,4 persen pada kuartal IV-2009.

Ini berarti momentum yang terbangun akan lebih meringankan lagi pencapaian pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.Jika pemerintah optimis mencapai pertumbuhan sekitar 5,5 persen,saya yang semula yakin bahwa pertumbuhan ekonomi kita akan mencapai di atas 5,5 persen saat ini memiliki optimisme yang lebih besar akan terjadinya pertumbuhan antara 5,5–6,5 persen pada 2010 tersebut.

Sementara itu,dari sisi PDB nominal, pertumbuhan yang terjadi mencapai angka 13,3 persen. Pertumbuhan PDB nominal tersebut penting untuk dapat membandingkan kinerja perekonomian nasional dengan laporan keuangan banyak perusahaan,terutama perusahaan publik (listed companies). Pada kuartal IV sendiri, pertumbuhan PDB nominal mencapai 16,3 persen,melonjak dibandingkan dengan 10,9 persen pada kuartal sebelumnya.

Ini berarti telah terjadi pembalikan dalam kecepatan pertumbuhan PDB nominal dari yang semula mengalami penurunan menjadi mengalami percepatan kembali. Dengan tingkat pertumbuhan tersebut, bukan tidak mungkin tahun 2010 akan menghasilkan pertumbuhan PDB nominal antara 15–20 persen sehingga mengalami kemiripan dengan tahun 2007 lalu. Pada 2009 lalu, PDB nominal mencapai Rp5.613,4 triliun.

Dengan mengikuti alur data yang ada di BPS,PDBnominalinimenghasilkan PDB dalam dolar sekitar USD598 miliar sehingga menghasilkan PDB per kapita sebesar USD2.590. Ini merupakan suatu prestasi tersendiri karena peningkatan pendapatan per kapita adalah sekitar 12 persen, sedangkan kecepatan pertumbuhan jumlah penduduk sebesar 1,3 persen.Tahun 2009 yang lalu jumlah penduduk Indonesia diperkirakan sekitar 231 juta di tengah tahun.

Tahun 2010 ini,perekonomiankitaakanmampu menghasilkan PDB nominal sekitar Rp6.300–6.700 triliun. Jumlah ini, dengan melihat perkembangan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS saat ini, diperkirakan dapat menghasilkan PDB sekitar USD700 miliar atau pendapatan per kapita di sekitar USD3.000.

Jika tingkat ini tercapai,kelas menengah yang dihasilkan akan membantu mempercepat proses pertumbuhan ekonomi lebih lanjut.Banyak pihak mengatakan bahwa perekonomian dengan pendapatan per kapita di atas USD3.000 akan melahirkan gelombang baru dalam perekonomian. Saya yakin, masyarakat dunia usaha kita akan bisa memanfaatkan perkembangan tersebut dalam rangka pengembangan bisnis mereka. (*)

CYRILLUS HARINOWO HADIWERDOYO
Pengamat Ekonomi
(Koran SI/Koran SI/rhs)
Kamis, 28/01/2010 10:02 WIB
Prospek IHSG Ditengah Gelisah Ekonomi Dunia 2010
Indro Bagus SU – detikFinance

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah mencetak prestasi luar biasa sejak kejatuhan pasar modal dunia tahun 2008 dan setidaknya sejak 3 bulan terakhir.

Sikap optimistis disertai proyeksi ekonomi fundamental yang lumayan, apalagi jika dibandingkan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi negara-negara tetangga dan negara maju, telah membuat investor-investor domestik maupun global menjadikan Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai salah satu tempat investasi prioritas di 2010.

Sayangnya, sikap optimistis tersebut mendadak mulai berbalik arah. Proyeksi ekonomi dunia di 2010 yang sudah dihitung, sontak menemui kendala dan mungkin harus dihitung ulang.

China mulai ketar-ketir terhadap bahaya inflasi yang berujung pada penerapan kebijakan pengetatan moneter. Beberapa waktu lalu, China menaikkan rasio Giro Wajib Minimum (GWM) yag diiringi dengan pembatasan kredit perbankan di negaranya.

Amerika Serikat (AS) pun berecana melakukan pengetatan kebijakan moneter. Presiden AS Barrack Obama berencana memisahkan industri perbankan dari hedge fund. Obama mengisyaratkan akan melarang perbankan AS memiliki, mensponsori dan memiliki keterkaitan dengan hedge fund.

Kebijakan Obama yang berbau anti liberalisme ini mendapat reaksi keras dari kalangan kapitalis AS. Bahkan Partai Demokrat AS yang mengusung Obama ke pucuk pimpinan negara paman Sam itu pun mengindikasikan penolakan.

Akan tetapi, pelaku pasar modal global mulai melakukan antisipasi guna memantau terlebih dahulu dampak rencana kebijakan ini dalam jangka pendek. Aksi jual mendadak melanda seluruh bursa-bursa di dunia.

Duet maut isu kebijakan moneter dua negara adidaya tersebut sukses merontokkan indeks-indeks saham di seluruh dunia.

Apalagi ditambah realisasi ekonomi Korea yang tak sesuai harapan. Tiba-tiba, seluruh dunia khawatir kalau tahun 2010 ternyata bukan tahun pemulihan ekonomi gobal seperti yang diperkirakan sebelumnya.

Benarkah demikian?

Jika benar, konsekuesinya adalah negara-negara di dunia akan melakukan penghitungan ulang atas proyeksi ekonominya masing-masing, yang tentunya berujung pada revisi angka ke bawah alias revised down.

“Saat ini kita tidak tahu pasti apakah ini transisi menuju pemulihan atau sebaliknya transisi menuju tren penurunan,” ujar Kepala Riset PT Recapital Securities, Poltak Hotradero di hotel Shangri-La, Jakarta, Rabu (27/1/2010).

Menurut Poltak, masih terlalu dini menyimpulkan apakah situasi sekarang merupakan sinyal pembalikan arah menuju penurunan atau hanya transisi sesaat sebelum akhirnya kembali positif.

“Indikator-indikator ekonomi dunia mungkin harus dihitung kembali. Data Korea yang tidak sesuai harapan, serta rencana pengetatan kebijakan moneter AS dan China mungkin saja bisa menjadi indikator terjadinya pembalikan arah, kita belum tahu pasti,” ujarnya.

Meski demikian, reaksi sudah muncul terlebih dahulu di pasar saham. Selama dua pekan terakhir, bursa-bursa dunia mengalami tekanan jual yang cukup berat. Koreksi mulai mendominasi perdagangan harian.

Selama 5 hari terakhir, IHSG terus menerus ditutup turun. Pada perdagangan kemarin, Rabu (27/1/2010), IHSG ditutup turun 13,861 poin (0,53%) ke level 2.564,554.

Pada perdagangan 20 Januari 2010, IHSG masih berada di posisi 2.667,266. Itu berarti, selama 5 hari perdagangan berturut-turut IHSG mengalami koreksi kumulatif sebanyak 102,712 poin (3,85%).

Apakah tren penurunan masih berlanjut di 2010 ini? Belum dapat dipastikan. Sebab, prospek fundamental ekonomi dunia 2010 mulai diragukan.

Sebagai catatan, aspek fundamental perekonomian domestik dan global, biasanya menjadi indikator utama dalam mengukur prospek pasar saham. Kalau proyeksi ekonomi dunia bakal direvisi ke bawah, konsekuensinya perkiraan harga-harga saham pun bakal mengalami hal yang sama.

“Kalau proyeksi pertumbuhan ekonomi domestik dan dunia direvisi, target harga-harga saham pun ikut direvisi,” jelas Poltak.

Menurut Poltak, level IHSG saat ini pun sebenarnya sudah berada di atas nilai wajar. Perhitungan Poltak menyimpulkan kalau level yang wajar untuk IHSG berkisar antara 2.200 hingga 2.400.

“Itu artinya level IHSG sekarang lebih tinggi 300-400 poin dari nilai wajarnya,” ujar Poltak.

Atas alasan itu, Poltak meragukan kalau IHSG bisa menembus dan bertahan di level 3.000 di tahun 2010. Sebab, belum ada sentimen ekonomi global yang positif untuk membuat IHSG bertaha di level 3.000.

“Kelihatannya bertahan di 3.000 cukup sulit. Kalau menyentuh sekali dua kali mungkin saja, tapi kalau bertahan di level 3.000 saya rasa tidak. Belum ada sentimen positif global yang bisa membuat IHSG bertahan di level 3.000,” ujar dia.

Kendati demikian, ia melihat adanya sentimen temporer yang cukup positif untuk membuat bursa-bursa saham dunia kembai bergairah di 2010, termasuk IHSG.

“AS akan melakukan sensus tahun ini. Sensus di AS itu biasanya menyerap tenaga kerja sekitar 850 ribu orang. Cukup besar untuk mengurangi persentase pengangguran di AS yang saat ini sebesar 10%. Itu bisa menjadi sentimen positif yang bersifat temporer di 2010,” ungkap Poltak.

Sensus AS menurut perkiraan Poltak akan dilakukan sekitar pertengahan tahun 2010. Perkiraan Poltak, pasar saham dunia akan kembali bergairah sekitar periode tersebut.

“Kalau sekarang kelihatannya masih bergejolak. Dan kelihatannya ini baru awalnya saja, mungkin sekitar Maret akan mencapai puncak gejolaknya,” ujar Poltak.

(dro/qom)
01/02/2010 – 10:07
Selama 2010, IHSG Dalam Trend Menguat

(inilah.com/Agus Priatna)
INILAH.COM, Jakarta – Pergerakkan IHSG tahun 2010 diperkirakan berada dalam sebuah trend menguat dan tanpa volume yang lebih besar belum cukup kuat untuk melakukan breakout dari resisten di level 2.749.

Demikian dikutip dari hasil riset Reliance Securities tentang outlook IHSG 2010. “Jika breakout terjadi maka akan membuat kemungkinan-kemungkinan baru,” tulis riset tersebut.

Sedangkan untuk tahun 2009, IHSG berada di level 2.534 dan berhasil mengalami penguatan year to dare sebesar 86,98%. Untuk memperkirakan perjalanan IHSG selama 2010 memiliki dua kemungkinan. Untuk kemungkinan pertama, jika rally terus berlangsung pad aakhri tahun 2010, IHSG berada di trading range 2.170-2749.

IHSG akan menguji titik resistance di 2.689 pada kuartal I. Jika tembus maka titik resistance selanjutnya berada di 2.749 yang menungkinan tercapai pada semester I dengan titik support di 2.431. “Kami perkirakan IHSG dapat mengalami koreksi yang cukup jika menembus batas bawah (2.431) maka IHSG akan menyentuh batas bawah selanjutnya di 2.170. Setelah itu IHSG akan kembali ke dalam uptrend channel dan berada di kisaran 2.431-2.749,” tulisnya.

Untuk kemungkinan kedia, Bila rally yang sekadang sedang berlangsung tidak berlanjut, maka IHSG akan bergerak dalam sebuah trand sideway dan berada pada trading range 2.431-2.749. “Secara teknikal, kami berpendapat kemungkinan IHSG bergerak dalam trend sideway lebih besar dibandingkan dengan kemungkinan IHSG bergerak dalam trend menguat,” ujarnya. [hid]
… yang murah, yang mahal, IHSG MAH KINCLONG TUKH :https://transaksisaham.wordpress.com/2010/02/05/murah-mahal-muraaaaaah-050210/

 

transaksi pra-pembukaan uda jamak dah … 290110

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 8:07 pm

… transaksi saham 5 menit sebelum pembukaan bursa saham yang normal disebut sebagai transaksi saham pra-pembukaan … maksudnya mungkin untuk meningkatkan jumlah transaksi sehingga fee yang terjaring bisa lebe besar, tapi sekaligus bwat investor adalah momen yang cukup menentukan dalam hal ekspektasi tren naek atawa turun suatu saham …
29/01/2010 – 19:26
Inilah Daftar Saham Diperdagangkan Pra Pembukaan

(Inilah.com/Agung Rajasa)
INILAH.COM, Jakarta – Sebanyak 45 saham emiten diijinkan diperdagangkan para pembukaan untuk periode Februari-Juli 2009, dan hanya ada satu pendatang baru, yaitu Hexindo Adiperkasa Tbk (HEXA).

Hal ini tertuang dalam pengumuman BEI terbaru yang dirilis Jumat (29/1). Adapun daftar lengkap saham emiten yang bisa diperdagangkan pada pra pembukaan perdagangan bursa meliputi PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Adaro Energy Tbk (ADRO), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Astra Internasional Tbk (ASII), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Negara Indoensia Tbk (BBNI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Danamon Tbk (BDMN), PT Bisi International Tbk (BISI), PT Berlian Laju Tanker Tbk (BLTA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), PT Barito Pacifik Tbk (BRPT), PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Darma Henwa Tbk (DEWA), PT Elnusa Tbk (ELSA), PT Bakrieland Development Tbk (BTEL), PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG).

Selanjutnya PT Gudang Garam Tbk (GGRM), PT International Nickel Indonesia Tbk (INCO), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Indika Energy Tbk (INDY), PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP), Indocement Tunggal Prakasa Tbk (INTP), PT Indosat Tbk (ISAT), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), PT Jasa Marga Tbk (JSMR), PT Kalbe Farma Tbk (KLBF).

Kemudian PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR), PP London Sumatera Tbk (LSIP), PT Medco Energi International Tbk (MEDC), PT Mitra Rajasa Tbk (MIRA), PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGAS), PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Sampoerna Tbk (SGRO), PT Holcim Indonesia Tbk (SMCB), PT Semen Gresik (Persero) Tbk (SMGR), PT Timah Tbk (TINS), PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), PT Truba Alam Manunggal Engineering Tbk (TRUB), PT United Tractors Tbk (UNTR), dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR). [cms]

 

setelah plus, minus … kapan kalinya:290110

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 7:46 am

… yang penting gain ihsg Januari 2010 tetap positif dan lumayan, yaitu +1,35% …
Jumat, 29/01/2010 16:12 WIB

Menutup pekan ini, IHSG kembali ke atas 2.600

oleh : Pudji Lestari

JAKARTA (Bisnis.com): Menutup pekan ini, indeks harga saham gabungan (IHSG) berhasil bertahan di atas level psikologis 2.600 terdorong kenaikan harga sejumlah saham perbankan.

IHSG ditutup di level 2.610,80, turun 0,33% atau 8,77 poin. Penurunan ini berkurang dibandingkan dengan akhir sesi I yang sebesar 1,20% atau 31,41 poin ke level 2.588,15. Pada perdagangan sesi II, indeks menanjak setelah menyentuh level terendahnya di 2.569,27. Namun, kenaikan itu belum menyamai level tertinggi saat pembukaan di 2.619,26.

Sebanyak 123 saham terlihat merugi, tiga kali lebih banyak dari 40 saham yang membukukan keuntungan. Namun, dikarenakan yang membukukan kenaikan itu adalah saham unggulan, yang mempunyai bobot besar terhadap IHSG, indeks berhasil kembali ke atas level 2.600.

Sebanyak 233 saham masih stagnan dibandingkan dengan penutupan sebelumnya. Volume transaksi tercatat sebanyak 2,17 miliar saham.

Hanya indeks sektor keuangan yang bergerak berlawanan arah, naik menyumbang 50,41% bagi indeks, sedangkan delapan indeks sektoral lainnya turun. Indeks sektor pertambangan menggerus indeks 55,48%, indeks barang konsumer mengurangi 23,43%, dan indeks perdagangan dan jasa turun 21,57%.

Secara individu, saham Bumi Resources menyeret IHSG turun 1,88 poin setelah harganya terkoreksi 2,94% atau Rp75 ke level Rp2.475. Saham United Tractors menyusul dengan mengurangi indeks sebesar 1,50 poin setelah harganya turun 2,03% atau Rp350 menjadi Rp16.850. Keduanya adalah perusahaan yang berbasis batu bara.

Penurunan harga saham batu bara lainnya yang ikut membebani IHSG adalah Indo Tambangraya Megah dan Indika Energy. Saham Perusahaan Gas Negara dan International Nickel Indonesia ikut menyeret indeks turun.

Di sisi lain, saham Bank Central Asia mengurangi tekanan turun indeks setelah harganya naik 2,56% atau Rp125 menjadi Rp5.000. Saham Telkom ikut menyumbang kenaikan sebesar 1,30 poin setelah harganya naik 0,54% ke level Rp9.350.

Indeks BISNIS-27 juga ditutup melemah 0,28% atau 0,68 poin ke level 240,78. Penurunan ini juga menyempit dari siang tadi yang sebesar 1,30% atau 3,13 poin ke level 238,34.

Indeks yang disusun oleh harian Bisnis Indonesia ini dibuka di level 241,43 untuk kemudian bergerak turun hingga menyentuh level terendah di 236,62. Penggerak indeks ini serupa dengan penggerak IHSG.

Sentimen negatif kembali mewarnai indeks bursa saham di kawasan. Sebanyak enam dari 20 indeks bursa di Asia Pasifik yang dipantau Bloomberg terlihat menghijau, lainnya memerah. Bursa Sri Lanka libur hari ini.

Penurunan terdalam dialami oleh indeks Kospi sebesar 2,44% ke level 1.602,43, disusul oleh indeks S&P ASX 200 Australia sebesar 2,22% ke level 4.569,60.

Indeks Ho Chi Minh, Karachi 100, Thai Exchange, New Delhi N&P CNX Nifty, Sensex Bombay, dan Shenzhen bergerak melawan tren dengan kenaikan tertinggi dibukukan oleh indeks Sensex sebesar 0,38% ke level 16.369,37.

Indeks acuan regional seperti Straits Times Singapura hingga pukul 16.03 WIB tercatat turun 0,39% ke level 2.747,02, Nikkei 225 di Jepang turun 2,08% ke level 10.198,04, Hang Seng di Hong Kong turun 1,15% ke level 20.121,99.

bisnis.com
29/01/2010 – 16:51
Penutupan IHSG
Tertekan, Masih di Atas 2.600
Asteria

INILAH.COM, Jakarta – IHSG berada di area negatif pada perdagangan akhir pekan ini. Investor memanfaatkan momentum pelemahan bursa Asia untuk melakukan profit taking.

Pada perdagangan Jumat (29/1), IHSG ditutup turun 8,769 poin (0,33%) ke level 2.610,796. Indeks saham unggulan LQ 45 turun 2,178 poin (0,42%) ke level 510,447.

Bursa saham Indonesia dibuka langsung anjlok 1,09% ke level 2.591 dan terus negatif sepanjang perdagangan, dimana pada sesi siang bertengger di angka 2.588. Upaya penguatan indeks hanya mampu mengangkat bursa ke level 2.610, masih di teritori negatif. “IHSG yang dibuka minus, tetap bertahan di posisi negatif hingga penutupan,” kata seorang analis pasar modal.

Menurutnya, koreksi IHSG disebabkan penurunan pada bursa Asia dan global. Investor pun merealisasikan keuntungan pada saham-saham unggulan, setelah kemarin menguat cukup signifikan.

Wall Street terkoreksi setelah perusahaan teknologi menurunkan prediksi penjualan dan mengecewakannya data ekonomi AS. Durable goods orders dan angka pengangguran dirilis di bawah perkiraan. Sementara itu, Ben Bernanke kembali terpilih untuk kedua kalinya sebagai Chairman Federal Reserve.

Hampir semua sektor melemah, dimana properti dan tambang memimpin penurunan dengan anjlok 1,3%, disusul sektor agri dan perdagangan yang turun 1,1%. Kemudian sektor konsumsi 0,6%, industri dasari 0,5%, manufaktur 0,4$, infrastruktur 0,2% dan aneka industri 0,1%. Hanya sektor perbankan yang terpantau masih menghijau.

Perdagangan di Bursa Efek Indonesia berjalan moderat, dimana volume transaksi tercatat 3,446 miliar lembar saham, senilai Rp3,239 triliun dan frekuensi 71.207 kali. Sebanyak 49 saham naik, 131 saham turun dan 73 stagnan.

Beberapa emiten yang melemah antara lain PT Indo Tambangraya Megah (ITMG) turun Rp600 ke Rp31.400, PT Astra Agro Lestari (AALI) melemah Rp450 ke Rp23.850, PT United Tractor (UNTR) turun Rp350 menuju Rp16.850, PT HM Sampoerna (HMSP) turun Rp250 ke Rp13.500, PT Bukit Asam (PTBA) turun Rp100 ke Rp 17.200, dan PT Bumi Resources (BUMI) melemah Rp75 ke Rp2.475.

Sedangkan emiten-emiten yang menguat antara lain PT Bank Ekonomi (BAEK) naik Rp300 ke Rp3.000, PT Matahari Department Store (LPPF) naik Rp275 ke Rp3.000, PT Bank Central Asia (BBCA) naik Rp125 ke Rp5.000, serta PT Telekomunikasi Indonesia (TLKM) naik Rp50 ke Rp9.350.

Koreksi IHSG juga didukung koreksi bursa regional Asia, dimana indeks Shanghai turun 4,85 poin (0,16%) ke level 2.989,29, indeks Hang Seng turun 234,38 poin (1,15%) ke level 20.121,99, dan indeks Nikkei-225 turun 216,25 poin (2,08%) ke level 10.198,04. Demikian pula indeks Straits Times yang turun 9,86 poin (0,36%) ke level 2.749,83, indeks KOSPI turun 40 poin (2,44%) ke level 1.602,43. [mdr]
Jumat, 29/01/2010 16:13 WIB
BCA Dongkrak IHSG di Atas Level 2.600
Indro Bagus SU – detikFinance

(foto: dok detikFinance) Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya ditutup di atas level 2.600, hanya mengalami koreksi 8 poin karena terangkat oleh kenaikan tajam saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).

IHSG dibuka turun hingga sempat menyentuh level 2.569,266. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG terus bertahan di zona negatif. Hampir seluruh saham-saham berkapitalisasi besar mengalami koreksi cukup dalam.

Rentang pergerakan IHSG hari ini antara 2.569,266 hingga 2.619,261. Tipisnya nilai transaksi dengan koreksi cukup besar menunjukkan tekanan jual menguasai lantai perdagangan tanpa adanya daya beli yang mampu mengangkat level IHSG.

Aktivitas transaksi investor asing mendominasi perdagangan hari ini. Total nilai transaksi investor asing hari ini mencapai Rp 2,182 triliun, terdiri dari transaksi jual asing sebesar Rp 1,171 triliun dan transaksi beli asing sebesar Rp 1,011 triliun. Nilai transaksi jual bersih asing (foreign net sell) tercatat sebesar Rp 160 miliar.

Total nilai transaksi asing tersebut mencapai 67,36% dari total nilai transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini sebesar Rp 3,239 triliun.

Aksi jual mendadak kembali melanda bursa-bursa dunia setelah investor-investor di AS khawatir prospek perekonomian dunia di 2010 tidak seperti yang diharapkan, ditambah potensi gagal bayar Yunani.

Koreksi saham-saham tambang, terutama sektor batubara terutama disebabkan adanya kecenderungan penurunan harga batubara seiring dengan segera berakhirnya musim dingin.

Pada perdagangan Jumat (29/1/2010), IHSG turun 8,769 poin (0,33%) ke level 2.610,796. Indeks LQ 45 turun 2,178 poin (0,42%) ke level 510,447.

Sementara nilai tukar rupiah ditutup melemah tipis ke level 9.365 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level 9.355 per dolar AS.

Bursa-bursa regional Asia anjlok cukup dalam.

Indeks Shanghai turun 4,85 poin (0,16%) ke level 2.989,29.
Indeks Hang Seng turun 234,38 poin (1,15%) ke level 20.121,99.
Indeks Nikkei-225 turun 216,25 poin (2,08%) ke level 10.198,04.
Indeks Straits Times turun 9,86 poin (0,36%) ke level 2.749,83.
Indeks KOSPI turun 40 poin (2,44%) ke level 1.602,43.
Indeks TSEC turun 54,14 poin (0,7%) ke level 7.640,44.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi mencapai 71.207 kali pada volume 3,446 miliar lembar saham senilai Rp 3,239 triliun. Sebanyak 49 saham naik, 131 saham turun dan 73 saham stagnan.

Saham-saham lain yang berada di jajaran top gainer antara lain : Bank Ekonomi (BAEK) naik Rp 300 ke Rp 3.000, Matahari Dept Store (LPPF) naik Rp 275 ke Rp 3.000, BCA (BBCA) naik Rp 125 ke Rp 5.000, Telkom (TLKM) naik Rp 50 ke Rp 9.350.

Sedangkan saham-saham yang berada di jajaran top loser antara lain : Indo Tambang (ITMG) turun Rp 600 ke Rp 31.400, Astra Agro (AALI) turun Rp 450 ke Rp 23.850, United Tractor (UNTR) turun Rp 350 ke Rp 16.850, HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 250 ke Rp 13.500, Bukit Asam (PTBA) turun Rp 100 ke Rp 17.200, Bumi Resources (BUMI) turun Rp 75 ke Rp 2.475.

(dro/qom)
Jumat, 29/01/2010 16:12 WIB

Menutup pekan ini, IHSG kembali ke atas 2.600

oleh : Pudji Lestari

JAKARTA (Bisnis.com): Menutup pekan ini, indeks harga saham gabungan (IHSG) berhasil bertahan di atas level psikologis 2.600 terdorong kenaikan harga sejumlah saham perbankan.

IHSG ditutup di level 2.610,80, turun 0,33% atau 8,77 poin. Penurunan ini berkurang dibandingkan dengan akhir sesi I yang sebesar 1,20% atau 31,41 poin ke level 2.588,15. Pada perdagangan sesi II, indeks menanjak setelah menyentuh level terendahnya di 2.569,27. Namun, kenaikan itu belum menyamai level tertinggi saat pembukaan di 2.619,26.

Sebanyak 123 saham terlihat merugi, tiga kali lebih banyak dari 40 saham yang membukukan keuntungan. Namun, dikarenakan yang membukukan kenaikan itu adalah saham unggulan, yang mempunyai bobot besar terhadap IHSG, indeks berhasil kembali ke atas level 2.600.

Sebanyak 233 saham masih stagnan dibandingkan dengan penutupan sebelumnya. Volume transaksi tercatat sebanyak 2,17 miliar saham.

Hanya indeks sektor keuangan yang bergerak berlawanan arah, naik menyumbang 50,41% bagi indeks, sedangkan delapan indeks sektoral lainnya turun. Indeks sektor pertambangan menggerus indeks 55,48%, indeks barang konsumer mengurangi 23,43%, dan indeks perdagangan dan jasa turun 21,57%.

Secara individu, saham Bumi Resources menyeret IHSG turun 1,88 poin setelah harganya terkoreksi 2,94% atau Rp75 ke level Rp2.475. Saham United Tractors menyusul dengan mengurangi indeks sebesar 1,50 poin setelah harganya turun 2,03% atau Rp350 menjadi Rp16.850. Keduanya adalah perusahaan yang berbasis batu bara.

Penurunan harga saham batu bara lainnya yang ikut membebani IHSG adalah Indo Tambangraya Megah dan Indika Energy. Saham Perusahaan Gas Negara dan International Nickel Indonesia ikut menyeret indeks turun.

Di sisi lain, saham Bank Central Asia mengurangi tekanan turun indeks setelah harganya naik 2,56% atau Rp125 menjadi Rp5.000. Saham Telkom ikut menyumbang kenaikan sebesar 1,30 poin setelah harganya naik 0,54% ke level Rp9.350.

Indeks BISNIS-27 juga ditutup melemah 0,28% atau 0,68 poin ke level 240,78. Penurunan ini juga menyempit dari siang tadi yang sebesar 1,30% atau 3,13 poin ke level 238,34.

Indeks yang disusun oleh harian Bisnis Indonesia ini dibuka di level 241,43 untuk kemudian bergerak turun hingga menyentuh level terendah di 236,62. Penggerak indeks ini serupa dengan penggerak IHSG.

Sentimen negatif kembali mewarnai indeks bursa saham di kawasan. Sebanyak enam dari 20 indeks bursa di Asia Pasifik yang dipantau Bloomberg terlihat menghijau, lainnya memerah. Bursa Sri Lanka libur hari ini.

Penurunan terdalam dialami oleh indeks Kospi sebesar 2,44% ke level 1.602,43, disusul oleh indeks S&P ASX 200 Australia sebesar 2,22% ke level 4.569,60.

Indeks Ho Chi Minh, Karachi 100, Thai Exchange, New Delhi N&P CNX Nifty, Sensex Bombay, dan Shenzhen bergerak melawan tren dengan kenaikan tertinggi dibukukan oleh indeks Sensex sebesar 0,38% ke level 16.369,37.

Indeks acuan regional seperti Straits Times Singapura hingga pukul 16.03 WIB tercatat turun 0,39% ke level 2.747,02, Nikkei 225 di Jepang turun 2,08% ke level 10.198,04, Hang Seng di Hong Kong turun 1,15% ke level 20.121,99.

bisnis.com

Indeks Turun Akibat Pengaruh Luar, Bukan Isu Pemakzulan
Jum’at, 29 Januari 2010 | 18:37 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta – Isu pemakzulan Wakil Presiden Budiono dinilai tidak terlalu mempengaruhi penurunan indeks harga saham gabungan yang dilontarkan oleh Fraksi Partai Golkar. Melemahnya harga saham lokal lebih disebabkan oleh sentimen negatif dari luar.

Pada penutupan Jumat (29/1), indeks harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, ditutup pada posisi 2.610, turun 8,77 poin atau 0,3 persen ketimbang posisi sebelumnya. “Indeks Dow Jones dan harga komoditas turun sehingga memberikan tekanan bagi bursa Indonesia,” ujar Muhammad Alfatih, analis BNI Sekuritas, kepada Tempo, Jumat (29/1).

Sentimen negatif tersebut didukung dengan penguatan harga dolar yang melemahkan rupiah. Harga saham tidak rontok terlalu drastis karena pada sesi kedua terpengaruh bursa Eropa. Bursa Eropa rata-rata dibuka positif sehingga memberikan sentimen yang baik bagi indeks harga saham.

Isu pemakzulan Wakil Presiden Budiono yang dilontarkan oleh Fraksi Partai Golkar dinilai tidak terlalu mempengaruhi. Sebab, para pelaku pasar belum percaya bahwa upaya pemakzulan didukung sebagian besar anggota Dewan Perwakilan Rakyat.

Meski demikian, perubahan pada tim ekonomi yang memimpin Indonesia diakuinya dapat memicu sentimen negatif. Sebab pemimpin ekonomi saat ini telah mendapat kepercayaan pasar. “Saat ini belum terlalu berpengaruh, karena hasil rekomendasi Pansus (Panitia Khusus Angket Bank Century) juga belum muncul,” ucap Alfatih.

FAMEGA SYAVIRA
Sesi I Buka
Tekanan Jual Seret IHSG ke Level Negatif
Pelaku pasar diperkirakan melakukan aksi ambil untung setelah kenaikan 55 poin kemarin.
JUM’AT, 29 JANUARI 2010, 09:36 WIB
Arinto Tri Wibowo

Pialang sedih setelah BEI menghentikan perdagangan (AP Photo/Achmad Ibrahim)
BERITA TERKAIT
Jelang Demo, IHSG Malah Rebound
Bursa Asia Rebound, IHSG Kembali Positif
IHSG Kembali Bermain di Level 2.600
Awal Transaksi, IHSG Turun 27 Poin
IHSG Terkoreksi di Awal Transaksi
Web Tools

VIVAnews – Minimnya sentimen positif di dalam negeri dan bergerak melemahnya indeks bursa regional Asia, memicu tekanan jual di pasar saham domestik.

Pada awal transaksi Jumat 29 Januari 2010, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka melemah 19,15 poin (0,74 persen) ke level 2.600,41.

Pelemahan indeks sudah mulai terlihat sejak sesi prapembukaan. Saat itu, IHSG sudah tergelincir dengan penurunan 18,52 poin (0,71 persen) ke posisi 2.601,03.

Tim riset PT Reliance Securities memperkirakan IHSG hari ini melemah karena tekanan sentimen negatif dari melemahnya bursa global dan regional.

Bursa regional Asia dibuka melemah setelah factory production di Jepang naik 2,2 persen, atau di bawah perkiraan yaitu 2,5 persen. “Pada hari terakhir perdagangan pekan ini, aksi profit taking (ambil untung) juga diperkirakan terjadi,” tulis riset itu.

Indeks Nikkei 225 sempat melemah 162,13 poin (1,56 persen) ke level 10.252,16 dan Straits Times bergerak ke level 2.734,48 atau terkoreksi 23,2 poin (0,84 persen). Indeks Hang Seng juga turun 242 poin (1,19 persen) menjadi 20.114,37.

Sedangkan bursa Wall Street pada perdagangan Kamis sore waktu New York, atau Jumat dini hari WIB kembali negatif.

Indeks harga saham Dow Jones terempas 115,70 poin (1,13 persen) menjadi 10.120,46, Standard & Poor’s 500 turun 12,97 poin atau 1,18 persen ke level 1.084,53, dan Nasdaq melemah 42,41 poin (1,91 persen) di posisi 2.179.

arinto.wibowo@vivanews.com

• VIVAnews
Jumat, 29/01/2010
PREDIKSI
Indeks menguat

JAKARTA: Pemodal pada perdagangan hari ini diperkirakan melanjutkan penguatan ke atas (rebound), menyusul meredanya kekhawatiran investor terhadap dampak kebijakan bank sentral China.

Terkendalinya aksi demonstrasi 100 hari kinerja pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjaga indeks harga saham gabungan (IHSG) di wilayah positif.

“Kami memperkirakan rebound indeks berpeluang untuk berlanjut. Kekhawatiran investor terhadap dampak kebijakan bank sentral China mulai mereda,” tutur analis PT Panin Sekuritas Tbk Purwoko Sartono, kemarin.

Dia memproyeksikan indeks bergerak dengan kisaran titik penopang 2.596 dan titik resistan 2.638. Kemarin, IHSG menguat 2,15% (55,01 poin) ke level 2.619,565.

Pulihnya sentimen positif pemodal juga terjadi di pasar uang, dengan kenaikan nilai tukar rupiah ke level Rp9.355 per dolar AS, dibandingkan dengan hari sebelumnya pada level Rp9.420.

Bursa regional mayoritas bergerak menguat mengikuti penguatan bursa Wall Street. Indeks Shanghai menguat 0,25%, disusul Hang Seng yang naik 1,61%, Nikkei-225 tumbuh 1,58%, dan KOSPI bertambah 1,04%.

Nilai transaksi kemarin mencapai Rp3,76 triliun dengan kenaikan 146 saham, dan koreksi 29 lainnya.

Saham yang menguat antara lain PT Astra International Tbk (ASII) naik Rp1.650 menjadi Rp36.000, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) naik Rp700 menjadi Rp13.500, dan PT Perusahaan Tambang Bukit Asam Tbk (PTBA) naik Rp850 menjadi Rp17.300.

Pembalikan arah indeks BISNIS-27 terjadi kemarin dengan menguat sebesar 2,31% di level 241,47 setelah terkoreksi sebesar 4,6% sejak Kamis pekan lalu hingga perdagangan Rabu pekan ini. Rebound indeks kemarin ditopang sentimen positif dari indeks DJIA dan indeks regional Asia Pasifik seperti Hang Seng, Nikkei-225 dan STI Singapura.

Indeks DJIA ditutup menguat 0,41% pada perdagangan Rabu waktu setempat. Dari dalam negeri, tindakan Bank Indonesia melepas dolar AS untuk menjaga stabilitas rupiah disambut positif oleh investor.

Penguatan indeks DJIA dan regional merembet ke bursa komoditas minyak dan emas yang bergerak positif di level US$73,95 per barel dan US$1.089 per ounce.

Naiknya indeks DJIA dianggap sebagai sinyal positif perbaikan ekonomi di negara tersebut yang tentunya akan bedampak positif bagi negara-negara Asia Pasifik yang bermitra dagang utama dengan AS (counterpart). Sinyal positif tersebut segara mengimbas bursa komoditas energi dan logam mulia yaitu minyak dan emas yang terdongkrak oleh motif lindung nilai.

Oleh Arif Gunawan S.
Bisnis Indonesia
&
Harry Setiadi Utomo
Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit