1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

2009 berlalu, 2010 diburu … 040110 4 Januari 2010

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 4:57 pm

Senin, 04/01/2010 16:57 WIB
Kinerja Emiten 2009 Menentukan Laju IHSG di 2010
Indro Bagus SU – detikFinance

Foto: dok detikFinance Jakarta – Investor-investor pasar modal diperkirakan sedang menanti-nanti laporan keuangan akhir tahun 2009 perusahaan-perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pengumuman laporan keuangan 2009 bakal menjadi momentum penentu gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di 2010.

“Saya kira laporan keuangan emiten akhir tahun 2009 bakal menjadi momentum investor melakukan keputusan investasi di 2010,” ujar analis PT Bali Securities, Ketut Tri Bayuna saat dihubungi detikFinance, Senin (4/1/2010).

Menurut Ketut, saat ini investor dan suasana investasi di 2010 telah dipenuhi semangat optimisme. Namun Ketut mengatakan, investor masih menanti realisasi kinerja emiten di 2009 sebelum melakukan langkah investasi di 2010.

“Sebagian investor memang telah bersiap-siap dengan melakukan pembelian saham-saham di lantai bursa. Tapi nilai dan volumenya masih belum terlalu besar. Kebanyakan masih menunggu realisasi kinerja di 2009,” jelas Ketut.

Selama triwulan IV-2009, nilai transaksi harian memang berkisar antara Rp 1 triliun hingga Rp 3 triliun. Malah paling banyak bergerak antara Rp 1 triliun hingga Rp 2 triliun.

“Kelihatannya itu masih akan berlanjut di awal 2010, mungkin hingga akhir Januari 2010. Begitu laporan keuangan akhir 2009 keluar, saya kira nilai transaksi akan mulai meningkat, sekitar Februari 2010 kelihatannya sudah mulai meningkat,” ujarnya.

Pada pembukaan perdagangan perdana 2010, IHSG ditutup naik 41,057 (1,62%) ke level 2.575,413 dengan nilai transaksi sebesar Rp 2,374 triliun. Nilai tersebut masih dalam rentang nilai transaksi rata-rata IHSG selama triwulan IV-2009.

“Sikap optimisme investor jelas sudah sangat tampak. Tapi untuk merealisasikannya tentu investor membutuhkan acuan fundamental, yaitu laporan keuangan 2009. Selama ini banyak yang bilang krisis sudah lewat, sebagian lagi belum. Untuk membuktikannya, investor menunggu laporan keuangan akhir 2009,” kata Ketut.

Sebagai catatan, hingga triwulan III-2009, seluruh emiten yang telah menyerahkan laporan keuangannya berhasil membukukan angka laba bersih sebesar Rp 34 triliun, naik 48,5% dari periode yang sama tahun 2008 sebesar Rp 22,9 triliun.

Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani, kinerja tersebut sukses mengangkat IHSG naik dari level 1.300-an di awal 2009 hingga ke level 2.500-an di akhir 2009. Sri Mulyani mengatakan, kenaikan IHSG terjadi bukan karena sentiment positif belaka, melainkan berjalan beriringan dengan kinerja fundamental emiten yang kokoh.

Berangkat dari pola pikir yang sama, Ketut memperkirakan investor sangat menanti-menanti laporan keuangan akhir 2009 seluruh emiten di BEI. Dengan acuan itu, mereka bisa melakukan langkah investasi.

“Kalau hasilnya positif, dan kelihatannya akan cukup positif, IHSG berpotensi terangkat cukup tinggi tahun ini,” ujarnya.
(dro/ang)

Memperkuat Sendi Mikroekonomi
Senin, 4 Januari 2010 – 11:11 wib

Perekonomian Indonesia pada 2009 memiliki banyak warna. Paling pokok, krisis ekonomi global tanpa ampun juga menghajar ekonomi nasional, sehingga sebagian aktivitas ekonomi mengalami pengerutan yang tajam.

Kegiatan investasi, ekspor (impor), fluktuasi nilai tukar,dinamika tingkat bunga, dan lain-lain mengalami guncangan yang cukup berarti sehingga secara akumulatif membuat pertumbuhan ekonomi merosot menjadi sekitar 4,3 persen. Di luar itu, jika dikomparasikan dengan kinerja ekonomi negaranegara tetangga dan negara maju, Indonesia masih beruntung karena tidak sedikit negara-negara tersebut yang pertumbuhan ekonominya minus.

Sebagian analisis ekonomi menyimpulkan bahwa Indonesia diselamatkan oleh variabel konsumsi rumah tangga dan kontribusi ekspor yang tidak terlalu besar dalam perekonomian. Sebaliknya, stimulus fiskal yang diharapkan berperan lebih besar malah tidak efektif dalam implementasinya.

Refleksi Ekonomi 2009

Indonesia pada 2009 menjadi kisah penting bahwa kegiatan ekonomi yang substantif sebetulnya lebih banyak dipikul oleh para pelaku usaha kecil dan sektor pertanian. Lebih dari itu, pada saat sebagian besar inisiatif kebijakan pemerintah gagal diimplementasikan, aktivitas ekonomi pada level mikro tetap menunjukkan geliat yang nyata. Ini tentu berbeda dengan realitas yang dihadapi oleh perusahaan-perusahaan besar, di mana begitu kebijakan pemerintah gagal menjangkau kepentingannya sontak kinerja ekonominya menjadi ambruk.

Secara telanjang tahun ini kita diberi deskripsi yang nyata bahwa pertumbuhan ekonomi sebesar 4,3 persen merupakan aktivitas “genuine” yang dimiliki masyarakat, yang akan tetap bergerak dengan atau tanpa kebijakan pemerintah.

Dengan kata lain, jika mengasumsikan pemerintah tidak bekerja pun, modal tetap yang telah dimiliki oleh bangsa ini adalah pencapaian pertumbuhan ekonomi dalam kisaran 4 persen tersebut. Terdapat beberapa argumentasi yang dapat disampaikan untuk menunjukkan kegagalan pemerintah dalam menjalankan kebijakan secara efektif.

Pertama, kebijakan stimulus fiskal yang diluncurkan pemerintah gagal mencapai sasaran, baik dalam pengertian jumlah dana yang diserap maupun program-program yang didesain. Sejak awal kritik yang mengemuka adalah desain stimulus lebih condong kepada “tax saving” yang implikasinya terhadap peningkatan konsumsi sangat diragukan.

Analisis inilah yang kemudian terbukti di lapangan, ketika tax saving tersebut tidak berkontribusi terhadap pengeluaran konsumsi individu maupun badan. Sementara itu, dari sisi penyerapan, stimulus fiskal yang diharapkan bergerak sejak Triwulan I malah berjalan seperti keong sehingga baru berjalan mulai Triwulan III.

Sehingga, stimulus fiskal sebagai “papan luncur” yang akan mendorong perekonomian menjadi tidak tidak terbukti. Kedua, dari sisi moneter boleh dikatakan pemerintah dan otoritas moneter berhasil menjaga stabilitas makroekonomi, di antaranya ditunjukkan dengan nilai tukar yang berhasil diturunkan di bawah Rp10.000/USD, inflasi yang “super rendah” (sekitar tiga persen sampai akhir tahun), dan neraca pembayaran yang tetap positif.Namun, otoritas moneter gagal total berperan menggerakkan sektor riil karena perbankan tidak mau menurunkan tingkat bunga (deposito dan kredit) sehingga biaya investasi menjadi mahal.

Sulit dipahami,kebijakan bank sentral yang telah menurunkan BI rate hingga tinggal 6,5 persen tidak diikuti dengan penurunan bunga bank.Di sini,kredibilitas BI benarbenar jatuh karena tidak lagi dihormati oleh sektor perbankan.Pada situasi inilah kegiatan ekonomi yang dilakukan masyarakat benarbenar akibat usaha sendiri dan bukan oleh fasilitas yang didesain pemerintah dan otoritas moneter.

Prospek Ekonomi 2010

Meskipun tidak ada kepastian dalam kegiatan ekonomi, tetapi dapat diprediksi kegiatan ekonomi pada 2010 lebih cerah ketimbang 2009. Krisis keuangan global ternyata “berakhir” lebih cepat dari yang diperkirakan. Pernyataan ini tentu hanya menunjukkan pada level makro saja, namun belum bertumpu kepada pemahaman pada level mikro yang lebih detail. Secara umum, makroekonomi global banyak berpihak kepada pilihan untuk berpendapat “optimis” pada 2010.

Pasar komoditas global telah bergerak karena negara-negara maju dan emerging countries sudah membaik daya belinya, sehingga ekspor berpeluang untuk meningkat. Demikian pula dari sisi investasi, dana-dana asing kemungkinan besar akan merayap mencari peluang yang paling menguntungkan. Tentu saja, seperti tahun-tahun sebelumnya, Indonesia masih merupakan salah satu negara tujuan investasi yang prospektif bagi para investor tersebut.

Sungguh pun begitu,pekerjaan rumah Indonesia yang paling nyata bukanlah meningkatkan ekspor dan mendatangkan investasi asing. Sebab,jika itu memang tujuannya, pemerintah tidak perlu bekerja secara serius karena dua sasaran itu akan bergulir secara otomatis seiring pemulihan ekonomi global.

Agenda terpenting pemerintah sebetulnya berada pada level mikroekonomi yang menjamin peluang berusaha bagi setiap masyarakat terpenuhi. Pertama, secara umum “pasar distribusi” untuk banyak komoditas masih sangat terkonsentrasi (misalnya pada barang pertanian) sehingga keseimbangan harga pasar tidak pernah terjadi.

Tentu saja ini merugikan pelaku ekonomi di sektor hulu (petani) dan konsumen. Kedua, proyek legalisasi usaha mikro dan kecil mesti diprioritaskan agar kelompok usaha tersebut memperoleh kepastian usaha dan kemudahan berhubungan dengan lembaga keuangan formal (bank maupun nonbank).

Ketiga, persaingan usaha menjadi medan pertarungan yang sengit karena di balik kasus kakap yang melibatkan korporasi-korporasi asing maupun domestik (misalnya semen, telekomunikasi, dan perdagangan) tersimpan kasus serupa pada level usaha skala menengah dan kecil.

Praktek kartel wilayah maupun penutupan ruang berusaha tetap marak di lapangan akibat adanya mafia ekonomi. Ini bukan sekadar pekerjaan rumah pemerintah pusat (KPPU), tetapi juga menjadi fokus pemerintah daerah.

Keempat, infrastruktur ekonomi di luar Jawa harus segera dibangun, khususnya yang memfasilitasi UMKM dan sektor pertanian/ perkebunan. Apabila langkah-langkah ini dilakukan, maka kinerja makroekonomi yang cerah pada 2010 akan diikuti dengan perbaikan kinerja pada level mikroekonomi.

Impian inilah yang sudah ditunggu-tunggu sejak lama, namun selama ini selalu gagal dihadirkan pemerintah dalam dunia nyata. (*)

Ahmad Erani Yustika
Direktur Indef, Wakil Dekan (Akademik) FE Universitas Brawijaya
(Koran SI/Koran SI/rhs)

/ Home / Investasi

Senin, 04 Januari 2010 | 14:20

PASAR SAHAM

Ranjau-ranjau di Lantai Bursa

Tahun lalu, perdagangan di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup dengan senyum kebahagiaan. Pasalnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu tumbuh 86,98% dan berakhir di level 2.534,36. Sebuah prestasi di tengah belum pulihnya dunia dari terjangan badai krisis global.

Namun, sejatinya perdagangan di BEI ditutup dengan penuh rasa was-was. Kisruh penyelamatan Bank Century oleh pemerintah pada akhir 2008 bermuara pada gonjang-ganjing politik, yang ikut mewarnai perjalanan bursa sepanjang bulan ini.

Meski tahun sudah berganti, para analis dan pengamat pasar modal tetap meyakini, suhu politik yang memanas akan turut menghangatkan lantai bursa hingga medio tahun ini. Investor masih khawatir dan menunggu waktu berinvestasi alias wait and see.

Analis Bhakti Securities Budi Ruseno mengatakan, kasus itu harus segera dituntaskan. “Di semester satu, terutama kuartal satu masih menunggu penyelesaian kasus Century,” ujarnya. Karena itu, dia meramal prospek IHSG tahun ini dalam rentang yang lebar, yaitu 2.100 – 2.900.

Kepala Riset Mega Capital Indonesia Danny Eugene berpendapat, ketidakpastian kasus tersebut akan berdampak pada sepinya transaksi di bursa. “Perdagangan paling hanya sekitar Rp 3 triliun hingga Rp 4 triliun,” ujarnya.

Nah, memasuki semester kedua tahun ini, IHSG tetap menghadapi tantangan berat. Kala itu, pasar diramalkan akan terkoreksi akibat ekspektasi kenaikan inflasi yang mengerek peningkatan suku bunga.

Bila hal itu terjadi, konsekuensinya adalah pengetatan likuiditas. Ruang gerak sektor riil menjadi terbatas akibat kesulitan mendapatkan pinjaman bank. Dengan asumsi suku bunga patokan BI Rate tetap seperti saat ini 6,5%, Kepala Riset Paramitra Alfa Sekuritas Pardomuan Sihombing memperkirakan, IHSG bisa naik mencapai level 2.800. “Kalau suku bunga naik, IHSG turun hingga 2.000,” ujarnya.

Kepala Ekonom Mandiri Sekuritas Devry Damayanti berpendapat, inflasi akan terjaga di level 6% dengan pertumbuhan ekonomi 5,5%. Dengan kondisi tersebut, dia mematok IHSG tahun ini berada di level 2.767.

Butuh Emiten Baru

Sebenarnya, BEI membutuhkan suntikan emiten baru untuk menggerakkan perdagangan di tahun ini. Apalagi, tahun lalu hanya 13 emiten baru yang masuk bursa dengan penawaran umum saham perdana ke publik atau initial public offering (IPO). Jumlah ini lebih rendah dari 2008, yang sebanyak 17 emiten baru.

Tahun lalu, hanya satu perusahaan milik negara (BUMN) yaitu Bank Tabungan Negara (BBTN), yang masuk bursa. Investor menunggu masuknya BUMN lain, seperti Krakatau Steel, Pembangunan Perumahan, dan Garuda Indonesia.

Persoalannya, rencana itu bisa berantakan jika melihat minimnya minat investor atas IPO BTN pada akhir tahun lalu. “Pasar mulai menahan diri karena Century,” kata Pardomuan.
Di sisi lain, emiten yang menerbitkan saham baru alias rights issue bakal lebih ramai.

Maklum, aturan baru memungkinkan emiten menerbitkan 10% saham baru tanpa persetujuan pemegang saham lama. “Ini dipercaya bisa menyemarakkan perdagangan bursa,” katanya. Buat emiten, bisa jadi opsi penggalangan dana.

Veby Mega, Wahyu Tri Rahmawati KONTAN

Rapor Keuangan Pemerintah 2009
Senin, 4 Januari 2010 – 08:21 wib
TEXT SIZE :

Cyrillus Harinowo Hadiwerdoyo (Foto: Ist)
TANGGAL1 Januari 2010 lalu, Departemen Keuangan (Depkeu) melaporkan pencapaian realisasi APBN-P 2009. Berdasar laporan tersebut, kita bisa melihat lebih dalam berbagai hal yang berkaitan dengan kinerja fiskal Indonesia.

Poin terpenting dalam manajemen keuangan pemerintah adalah pengelolaan defisit APBN. Dalam APBN-P 2009 lalu, defisit ditargetkan sebesar Rp129,8 triliun atau 2,4 persen produk domestik bruto (PDB), tetapi ternyata realisasinya hanya Rp87,2 triliun (1,6 persen PDB).

Pembiayaan untuk defisit sebelumnya direncanakan Rp125,2 triliun. Jumlah tersebut berhasil diperoleh pemerintah melalui perencanaan dan pelaksanaan sangat matang dengan instrumen yang lebih bervariasi dibandingkan tahun sebelumnya.

Pada pertengahan November 2009, target pembiayaan sebesar itu sudah berhasil dipenuhi sehingga Depkeu tidak melakukan lelang surat utang negara (SUN) lagi selama sisa tahun 2009.

Dengan kinerja seperti itu, terdapat kelebihan pembiayaan dibandingkan angka defisit sehingga tercipta surplus anggaran Rp38 triliun. Jumlah inilah yang akhirnya menambah kekuatan arus kas pemerintah,yaitu dengan tercapainya peningkatan rekening pemerintah di Bank Indonesia maupun di bank-bank umum. Dari statistik Bank Indonesia,rekening pemerintah di Bank Indonesia dan bankbank umum mencapai Rp185,4 triliun pada 2008.

Jumlah ini tentu akan meningkat menjadi sekitar Rp223,4 triliun pada akhir 2009, lebih tinggi dari prediksi saya sebelumnya Rp200 triliun. Pencapaian defisit yang lebih rendah tersebut terutama disebabkan relatif tingginya pencapaian penerimaan pemerintah dan hibah, yaitu hanya 0,5 persen di bawah anggaran, sedangkan penyerapan pengeluaran berada 4,7 persen di bawah anggarannya.

Target penerimaan pemerintah biasanya dibuat cukup konservatif sehingga umumnya melampaui target.Kendati demikian, dalam pelaksanaan selama tahun 2009, krisis global telah memengaruhi harga-harga komoditas sehingga penerimaan pajak menjadi lebih sulit dibandingkan tahun sebelumnya.

Insentif perpajakan juga mulai berdampak di mana bagi perusahaan yang memiliki saham publik lebih dari 40 persen memperoleh insentif pajak 8 persen. Pajak pribadi juga menerima insentif 5 persen. Dampak pada insentif perpajakan tersebut berlaku sekali saja, yaitu pada saat pengenaan. Pada tahun-tahun selanjutnya, kinerja perpajakan akan kembali mengikuti tren pertumbuhan PDB nominal. Oleh karena itu pencapaian penerimaan pajak sebesar 1,7 persen di bawah target rasanya suatu kinerja yang bisa dikatakan cemerlang. Realisasi penggunaan anggaran belanja rasanya sudah lumayan tinggi.

Pada tahun-tahun sebelumnya, penyerapan anggaran tersebut memang berada pada level sekitar 95 persen. Bahkan pada perusahaan dan bank-bank swasta sekalipun, penyerapan anggaran umumnya juga selalu berada di bawah target. Selain tidak terealisasinya beberapa proyek, penyerapan di bawah anggaran juga sangat dimungkinkan karena terjadinya efisiensi di dalam penggunaannya. Realisasi anggaran memiliki dampak dalam mendorong perekonomian Indonesia. Peningkatan gaji PNS, misalnya, merupakan suatu stimulasi fiskal yang besar.

Jumlah gaji minimum yang lebih besar memungkinkan mereka mulai menyisihkan sebagian pendapatan untuk menabung ataupun membelanjakannya pada barangbarang modal rumah tangga seperti peralatan elektronik atau sepeda motor atau bahkan mobil. Semakin banyak pula PNS yang memiliki kemampuan mencicil pembelian rumah. Ketahanan ekonomi Indonesia pada 2009 pada akhirnya untuk sebagian memang didorong oleh keuangan pemerintah melalui upaya-upaya tersebut.

Input untuk RAPBN-P 2010

Dalam waktu dekat, pemerintah akan mengusulkan pembahasan RAPBN-P 2010. Usulan tersebut dipertimbangkan karena beberapa hal yang dirasakan mendesak. Oleh karena itu, pemerintah perlu melihat beberapa pelajaran dari kinerja sebelumnya yang bisa menjadi pertimbangan dalam penyusunan RAPBN-P 2010. Pertama, realisasi penyerapan anggaran senantiasa berada pada level sekitar 95 persen.

Ini berarti jika penerimaan sesuai atau melebihi target, maka realisasi defisit akan selalu berada di bawah target.Dalam APBN 2010,target defisit yang dirasakan mampu memberikan stimulasi adalah Rp98 triliun atau 1,6 persen PDB. Jika realisasi APBN sama baiknya dengan tahun 2009, maka realisasi defisit akan berada di bawah 1 persen PDB. Pertanyaannya, sebetulnya pada level defisit berapa pemerintah merasa nyaman? Jika 1,6 persen PDB tersebut dirasakan comfortable, pemerintah bisa meningkatkan rencana defisitnya sehingga pada akhirnya akan diperoleh angka tersebut.

Jika rencana defisit dinaikkan dengan 0,8 persen PDB (seperti pengalaman tahun 2009),maka tambahan anggaran pengeluaran sebesar Rp45-50 triliun akan bisa dilakukan. Kedua, bantalan kas pemerintah saat ini menjadi kuat,yaitu sekitar Rp220 triliun atau sekitar 4 persen PDB. Ini berarti bantalan yang dimiliki oleh pemerintah mampu untuk menjaga ketahanan fiskal jika terjadi shortfall dalam penerimaan pemerintah. Karena itu, pemerintah bisa lebih percaya diri untuk merencanakan anggaran yang lebih agresif. Ketiga,tambahan pengeluaran tersebut harus dimanfaatkan untuk sektor yang betul-betul produktif, terutama infrastruktur.

Penguatan keuangan PLN saya rasa sangat tepat. Demikian juga penyiapan anggaran jalan tol yang tidak akan dibiayai swasta, misalnya Cileunyi– Sumedang–Dawuan. Bahkan pemerintah bisa pula mengambil inisiatif pembangunan jalan tol pantura antara Semarang dan Surabaya yang dewasa ini memang tidak direncanakan.

Keempat, melakukan penguatan BUMN yang strategis, antara lain PT PAL, PTDI, PINDAD untuk visi jangka panjangnya serta penguatan institusi seperti LAPAN yang dewasa ini mampu mengembangkan roket dengan biaya sangat minimal. Dengan itu semua, saya yakin APBN-P 2010 akan lebih mampu menjadi pendorong perekonomian maupun dalam penajaman prioritas pengembangan sektor produktif pemerintah. (*)

Cyrillus Harinowo Hadiwerdoyo
Pengamat Ekonomi (Koran SI/Koran SI/rhs)

 

semoga bertahan, dan VOLUME NAEK donk … 040110

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 1:54 pm

… ternyata bertahan tukh … :
04/01/2010 – 16:53
Debut Perdana IHSG di 2010 Catat Rekor di 2.575
Asteria

(inilah.com /Agung Rajasa)
INILAH.COM, Jakarta – Pada perdagangan perdana awal 2010, IHSG berhasil ditutup di area positif. Investor kembali memburu saham-saham unggulan seiring ekspektasi membaiknya ekonomi global.

IHSG ^JKSE pada perdagangan Senin (4/1) ditutup menguat 41,057 poin (1,62%) ke level 2.575,413. Indeks saham unggulan LQ 45 ^JKLQ45 naik 9,626 poin (1,93%0 ke level 507,914 dan Jakarta Islamic Index (JII) ^JKII naik 1,5% ke level 423.41.
IHSG terus berada di zona positif sejak awal perdagangan. Setelah dibuka menguat 6,630 poin (0,26%) ke level 2.540, IHSG terus melaju hingga sesi siang bertengger di angka 2.556. Aksi beli yang marak terjadi, terus mengangkat indeks sehingga berhasil ditutup di level tertingginya, 2.575.

Seorang pengamat pasar modal mengatakan, IHSG berhasil mengawali debut perdagangan pertamanya, dengan mengukir rekor tertinggi baru serta menjadi bursa terbaik di kawasan Asia. Namun, penguatan ini belum didukung nilai transaksi yang terpantau masih minim.

“Transaksi masih terbatas. Pelaku pasar belum banyak yang masuk, sehingga perdagangan hari ini cukup sepi,” ujarnya. Sentimen lain berasal dari positifnya data ekonomi domestik, seperti terkontrolnya tingkat inflasi serta penguatan rupiah ke level 9.352 per dolar AS. “Hal ini mendorong pelaku pasar melakukan aksi beli,” ucapnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) siang tadi mengumumkan inflasi Desember 2009 sebesar 0,33%. Inflasi tahun kalender dari Januari hingga Desember 2009 sebesar 2,78%, dan inflasi year on year 2,78%. Hal ini sesuai estimasi sebelumnya, bahwa inflasi akan berada di bawah 3%.

Hampir semua sektor menguat, kecuali properti yang masih mencatatkan pelemahan. Sedangkan sektor perkebunan memimpin penguatan, dengan naik 2,9%, disusul finansial yang naik 2,6%, tambang 2,4%, aneka industri 1,7%, manufaktur dan perdagangan 1%. Demikian juga sektor industri dasar dan infrastruktur yang menguat 0,8%, dan sektor konsumsi yang naik 0,6%.

Perdagangan di Bursa Efek Indonesia masih sangat tipis, dimana volume transaksi tercatat sebesar 2,174 miliar lembar saham, senilai Rp 2,374 triliun dan frekuensi 63.604 kali. Sebanyak 104 saham naik, 70 saham turun dan 60 saham stagnan.

Beberapa emiten yang menguat antara lain PT Astra Agro Lestari (AALI) naik Rp1.100 ke level Rp23.850, PT Astra International (ASII) menguat Rp600 menjadi Rp35.300, PT Bukit Asam (PTBA) naik Rp550 ke Rp17.800, serta PT Indo Tambangraya (ITMG) terangkat Rp250 menjadi Rp32.050.

Demikian pula saham PT Bank Mandiri (BMRI) terapresiasi Rp225 ke Rp4.925, PT International Nickel (INCO) naik Rp225 menjadi Rp 3.875, serta PT United Tractor (UNTR) menguat Rp200 menjadi Rp15.700.

Sedangkan emiten-emiten yang melemah antara lain PT Goodyear (GDYR) turun Rp600 ke Rp9.000, PT Intikeramik Alamasri (IKAI) melemah Rp250 ke posisi Rp850, PT Mayora Indah (MYOR) terkoreksi Rp200 ke Rp4.300, PT Mandom (TCID) anjlok Rp200 ke posisi Rp7.900, PT Indosat (ISAT) merosot Rp25 menjadi Rp4.700, PT Bakrie Telecom (BTEL) turun Rp 5 menjadi Rp 142, PT BW Plantations (BWPT ) turun Rp10 menjadi Rp510.

Penguatan IHSG terjadi di tengah mixednya bursa regional. Indeks Hang Seng terkoreksi 49,22 poin (0,23%) ke level 21.823,28, indeks Nikkei-225 naik 108,35 poin (1,03%) ke level 10.654,79, indeks Straits Times terkoreksi 3,07 persen (0,11%) di posisi 2.894,55, dan KOSPI naik 10,29 poin ke level 1.682,77. [mdr]

04/01/2010 – 16:08
IHSG Terbaik di Asia
Fantastis, IHSG Berakhir Melambung 41,05 Poin
Susan Silaban

INILAH.COM, Jakarta – Berakhirnya pergerakan IHSG hari ini berhasil ditutup fantastis. IHSG  mampu melambung tinggi tembus 41,05 poin (1,62%) ke level 2.575.

Mengawali perdagangan IHSG hari ini, IHSG mencatat kenaikan terbaik di perdagangan Asia. Sayang, nilai dan volume perdagangan masih tipis, namun mampu memberikan gairah bagi penguatan indeks.

Nilai perdagangan di bursa hanya Rp2,957 triliun dengan volume perdagangan 204,635 miliar lembar saham yang ditopang oleh 110 saham menguat, 77 saham melemah, dan ada 63 saham dalam keadaan stagnan.

Tak ketinggalan indeks saham JII  pun berakhir naik 51,94 poin ke level 1.805,03 begitu juga dengan indeks saham LQ45  pun berakhir naik 9,61 poin ke level 507,91. Penguatan indeks ini pun didukung oleh sektor perkebunan yang tembus 51,94 poin ke level 1.805,03 serta sektor pertambangan pun tembus 52,68 poin ke level 2.256,17.

Adapun saham-saham yang menjadi top gainner, antara lain Astra Agro Lestari (AALI) berakhir tembus Rp1.100 ke level Rp23.850, Astra Internasional Tbk (ASII) pun tembus Rp600 ke Rp35.300, Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) naik Rp550 ke Rp17.800, Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) pun naik Rp250 ke Rp32.050.

Sementara itu, saham-saham yang masuk dalam top looser yakni, Goodyear Indonesia Tbk (GDYR) turun Rp600 ke Rp9.000, Intokeramik Alamsari Inds Tbk IKAI) turun Rp250 ke Rp850, Mayora Indah Tbk (MYOR) pun turun Rp200 ke Rp4.300, dan Indosat Tbk (ISAT) pun turun Rp25 ke Rp4.700. [san/cms]
Senin, 04 Januari 2010 | 17:09

PASAR SAHAM

IHSG Paling Perkasa se-Asia

JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan keperkasaannya. IHSG di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada penutupan perdagangan awal tahun, Senin (4/1), berhasil mempertahankan penguatannya. Bahkan, IHSG menjadi bursa yang paling tinggi kenaikannya dibanding bursa saham Asia lainnya. IHSG naik 1,62% ke level 2.575,413.

Kenaikan IHSG terdongkrak sentimen positif dari domestik, berupa kedatangan Presiden SBY untuk membuka perdagangan bursa awal tahun selama dua tahun berturut-turut. Optimisme investor direalisasikan dengan memburu saham-saham unggulan. Sementara dari regional, meski tidak begitu kuat, sentimen positif masih ada dengan mayoritas indeks bursa saham Asia masih positif.

Perdagangan di bursa mencatat 104 saham harganya naik, 70 saham harganya turun, dan 60 saham tidak mengalami perubahan harga. Volume transaksi perdagangan mencapai 2,174 miliar saham, dengan nilai transaksi mencapai Rp 2,374 triliun.

Sebagian besar bursa saham utama Asia masih positif. Indeks Nikkei naik 1,03% ke level 10.654,79, indeks Hang Seng turun 0,23% ke level 21.823,28, indeks Shanghai masih tutup libur akhir tahun, indeks Kospi naik 0,79% ke level 1.696,14, dan indeks Strait Times turun 0,11% ke level 2.894,55.

Saham-saham yang harganya naik dan masuk daftar top gainers dalam rupiah adalah; PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) naik 4,84% menjadi Rp 23.850, PT Astra International Tbk (ASII) naik 1,73% menjadi Rp 35.300, PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) naik 3,19% menjadi Rp 17.800, PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) naik 0,79% menjadi Rp 32.050, dan PT Gudang Garam Tbk (GGRM) naik 1,16% menjadi Rp 21.800.

Sedangkan saham-saham yang harganya turun dan masuk daftar top losers dalam rupiah adalah; PT Goodyear Indonesia Tbk (GDYR) turun 6,25% menjadi Rp 9.000, PT Intikeramik Alamsari Industri Tbk (IKAI) turun 22,73% menjadi Rp 850, PT Mayora Indah Tbk (MYOR) turun 4,44% menjadi Rp 4.300, PT Mandom Indonesia Tbk (TCID) turun 2,47% menjadi Rp 7.900, dan PT Bank Mayapada Tbk (MAYA) turun 4,19% menjadi Rp 1.600.

Sopia Siregar kontan

Senin, 04/01/2010 16:16 WIB
IHSG Terbaik di Asia Pada Perdagangan Perdana 2010
Indro Bagus SU – detikFinance

Foto Terkait
SBY Buka Perdagangan BEI
Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menutup perdagangan perdana tahun 2010 di teritori positif. IHSG bahkan mencatat kenaikan terbaik di Asia.

Saham-saham unggulan terus menanjak sejak awal perdagangan, namun belum disertai volume perdagangan yang besar. Sebagian investor belum kembali dari libur panjangnya.

Pada perdagangan Senin (4/1/2010), IHSG ditutup menguat hingga 41,057 poin (1,62%) ke level 2.575,413. Indeks LQ 45 naik 9,626 poin (1,93%0 ke level 507,914.

Ini adalah posisi IHSG tertinggi sejak 12 Maret 2008 ketika IHSG menembus 2.556. Untuk tahun 2009, Level tertinggi IHSG terjadi 6 Oktober 2009 ketika IHSG ditutup di level 2.528,146. Titik intraday tertinggi dicapai pada 7 Oktober 2009 ketika IHSG sempat menyentuh level 2.559.

Namun kenaikan IHSG hanya disertai dengan volume yang tipis, dengan frekuensi transaksi di seluruh pasar hanya 63.604 kali pada volume 2.174 juta lembar saham senilai Rp 2,374 triliun. Sebanyak 104 saham naik, 70 saham turun dan 60 saham stagnan.

“Saya pikir ini masih faktor liburan juga ya, jadi investor masih menunggu aktivitas perdagangan hari ini. Tapi kita lihat optimisme sudah ada dimana-mana. Saya kira begitu laporan keuangan akhir tahun sudah pada keluar, baru akan bullish. Investor menunggu momentum laporan keuangan,” ujar Ketut Tri Bayuna, analis Bali securities kepada detikFinance.

Bursa-bursa Asia mengawali perdagangan awal tahun ini dengan cukup variatif.

Indeks Hang Seng melemah 49,22 poin (0,23%) ke level 21.823,28.
Indeks Nikkei-225 naik 108,35 poin (1,03%) ke level 10.654,79.
Indeks Straits Times melemah tipis 3,41 poin ke level 2.894,21.

Bursa Asia-Pasifik lainnya: Shanghai melemah 0,38%, KOSPI naik 0,79%, Taipei naik 0,24%, Manila melemah 1,56%.

Sedangkan bursa-bursa Eropa hampir seluruhnya bergerak positif, Indeks FTSE 100 naik 0,29%, CAC 40 Paris naik 0,40% dan DAX 30 Frankfurt naik 0,30%.

Saham-saham paling aktif yang berada di jajaran top gainer antara lain Astra International (ASII) naik Rp 600 menjadi Rp 35.300, PTBA naik Rp 550 menjadi Rp 17.800, Indo Tambangraya (ITMG) naik Rp 250 menjadi Rp 32.050, Bank Mandiri (BMRI) naik Rp 225 menjadi Rp 4.925, International Nickel (INCO) naik Rp 225 menjadi Rp 3.875, United Tractor (UNTR) naik Rp 200 menjadi Rp 15.700.

Sedangkan saham-saham paling aktif yang turun harganya di top loser antara lain, Indosata (ISAT) turun Rp 25 menjadi Rp 4.700, Bakrie Telecom (BTEL) turun Rp 5 menjadi Rp 142, BW Plantations (BWPT) turun Rp 10 menjadi Rp 510.

(dro/qom)
Wow, IHSG Melesat 41,05 Poin
Senin, 4 Januari 2010 – 16:07 wib

Candra Setya Santoso – Okezone

JAKARTA – Penutupan indeks harga saham gabungan (IHSG) awal 2010 berhasil naik tajam 41,057 poin atau setara 1,62 persen ke posisi 2.575,413. Penguatan indeks dimotori oleh saham unggulan tertentu ini menjadi indikator pendukung rebound-nya indeks saham sore ini.

Selain itu, penguatan juga didukung oleh menghijaunya sejumlah sektor yang dipimpin oleh sektor perkebunan yang menguat sebesar 51,94 poin, sedangkan saham sektor pertambangan melonjak 52,68 poin. Sedangkan, Jakarta Islamic Indeks (JII) naik 6,224 poin ke posisi 423,406 dan indeks LQ45 menguat 9,626 poin ke posisi 507,914.

Volume perdagangan saham Senin (4/1/2010) sore tercatat sebanyak 2,174 miliar lembar saham senilai Rp2,374 triliun dengan total transaksi mencapai 63.604 kali. Saham yang ditutup menguat 110 jenis saham, melemah 77 jenis saham, dan stagnan 63 jenis saham.

Saham-saham yang ditutup menguat atau top gainer, antara lain PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) naik Rp1.100 ke posisi Rp23.850, PT Astra International Tbk (ASII) naik Rp600 menjadi Rp35.300, PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) naik Rp550 ke level Rp17.800, serta PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) naik Rp250 ke posisi Rp32.050.

Saham-saham yang ditutup melemah atau top loser, antara lain PT Goodyear Indonesia Tbk (GDYR) turun Rp600 ke posisi Rp9.000, PT Intikeramik Alamasri industri Tbk (IKAI) turun Rp250 ke posisi Rp850, PT Mayora Indah Tbk (MYOR) turun Rp200 ke posisi Rp4.300, dan PT Mandom Indonesia Tbk (TCID) turun Rp200 ke posisi Rp7.900.

Sementara itu bursa regional terpantau bergerak melemah, antara lain indeks Nikkei 255 anjlok 91,62 poin atau setara 0,86 persen ke posisi 10.546,44, indeks Shanghai Composite di China berhasil naik 50,84 poin ke posisi 3.262,60, dan indeks Hang Seng turun tipis 2,82 poin ke posisi 21.496,62. Namun, indeks Seoul Composite menguat 10,29 poin ke level 1.682,77.
(css)

Senin, 04/01/2010 16:05 WIB

IHSG di hari pertama naik 1,62% ke 2.575,41

oleh : Pudji Lestari

JAKARTA (Bisnis.com): Indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup naik 1, 62% atau 41,06 poin ke level 2.575,41 pada perdagangan perdananya hari ini, saham unggulan terutama perbankan menjadi penggerak utama kenaikan.

Sebanyak 103 saham membukukan kenaikan harga. Kenaikan dibatasi oleh penurunan sebanyak 68 saham lainnya, sedangkan 225 saham tak beranjak dari posisi sebelumnya.

Saham PT Bank Central Asia Tbk tercatat sebagai penggerak utama kenaikan IHSG dengan sumbangan sebesar 6,36 poin setelah harga sahamnya naik Rp200 menjadi Rp5.050 pada penutupan sore ini.

Kenaikan harga saham BCA itu menyalip saham PT Bank Mandiri Tbk yang pada sesi siang berada di posisi puncak. Harga saham Bank Mandiri naik Rp225 ke level Rp4.925 sehingga menyumbang kenaikan 6,08 poin bagi indeks.

bisnis.com
Sesi I Tutup
IHSG Menguat 22 Poin
Penguatan indeks tertopang positifnya bursa regional Asia dan kenaikan harga komoditas.
SENIN, 4 JANUARI 2010, 12:09 WIB
Antique

Masyarakat melihat data saham (Andika Wahyu)
BERITA TERKAIT
Sempat Merah, IHSG Tembus Level Tertinggi
Sempat Terkoreksi, IHSG Masih Kuat
Saham Komoditas Angkat IHSG
Sempat Berfluktuasi, IHSG Berakhir Naik Tipis
IHSG Terus Melaju, Kenaikan Tertinggi di Asia
Web Tools

VIVAnews – Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia masih bercokol di area positif, sejak awal transaksi tahun ini dibuka pagi tadi.

Menurut riset PT Reliance Securities Tbk yang diterima VIVAnews hari ini, IHSG pada perdagangan pertama di tahun 2010 ini diperkirakan menguat, karena tertopang positifnya bursa regional Asia dan kenaikan harga komoditas.

Namun, sekuritas tersebut mengakui, penguatan IHSG akan terbatas terpicu pengumuman data inflasi Desember tahun lalu yang bakal menjadi perhatian, di mana secara bulanan (MoM) diperkirakan terjadi inflasi sebesar 0,5 persen.

Indeks akhir sesi I hari ini, terangkat 22,04 poin atau 0,86 persen ke level 2.556,40, dari awal transaksi pagi tadi yang juga menguat 1,52 poin (0,06 persen) di posisi 2.535,88.

Total nilai transaksi yang dibukukan mencapai Rp 1,04 triliun dan volume tercatat 2,14 juta lot, dengan frekuensi 31.770 kali. Sebanyak 77 saham menguat, 70 melemah, 58 stagnan, serta 274 saham tidak terjadi transaksi.

Saham-saham komoditas yang menguat cukup besar antara lain PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) naik Rp 200 (1,15 persen) di posisi Rp 17.500 dan PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) yang terangkat Rp 150 atau 0,65 persen menjadi Rp 22.900.

Bursa Asia saat IHSG tutup juga bergerak positif seperti Shanghai Composite naik 14,54 poin (0,45 persen) di posisi 3.277,14 dan Nikkei 225 yang terangkat 99,04 atau 0,94 persen menjadi 10.645,48.

Sementara itu, berdasarkan data transaksi perdagangan Bloomberg, rupiah pukul 12.00 WIB, berada di posisi 9.350 per dolar AS. Sedangkan menurut data RTI, mata uang lokal tersebut berada di level 9.430/US$.

antique.putra@vivanews.com

• VIVAnews

 

bahkan GACOKAN bisa KETEPU … tukh: 040110

Filed under: Investasi dan Risiko — bumi2009fans @ 7:47 am

Senin, 04/01/2010 00:00 WIB

JP Morgan & Paribas gugat K1 Invest

oleh :

NEW YORK: JP Morgan Chase & Co dan BNP Paribas menggugat K1 Invest Ltd beserta pendiri Grup K1 Helmut Kiener dengan klaim menghilangkan uang mereka melalui skema investasi palsu oleh K1 dan rekanannya.

Gugatan tersebut diajukan melalui Mahkamah Agung New York di Manhattan belum lama ini. JPMorgan mengajukan gugatan mewakili Bear Stearns International Ltd yang diambil alih pada 2008 dan mengatakan perusahaan itu berutang tidak kurang dari US$82 juta. BNP Paribas mengatakan menderita kerugian lebih dari US$70 juta.

Menurut isi gugatan, skema tersebut bersandar pada bank-bank yang menginvestasikan uang tambahan pada perdagangan hedge leveraged option dengan dana K1.

“Bahkan pihak dari perpanjangan transaksi dapat tertipu oleh para pengusaha predator,” ujar pengacara JPMorgan dalam isi gugatannya.

Grant Thornton LLP yang melikuidasi K1 Invest mengatakan lewat suratnya pada awal Desember tahun lalu yang ditujukan kepada para kreditur kemungkinan dana tersebut tidak memiliki nilai. Treukapital AG, administrator K1 Invest, mengungkapkan perusahaan tersebut memiliki aset senilai 348 juta euro atau setara dengan US$500 juta hingga periode 31 Juli 2009.

K1, yang berbasis di Virgin Islands, Inggris, menjadi pusat penyelidikan kejahatan internasional setelah membebankan perbankan dengan kerugian sebesar US$400 juta, ungkap sejumlah sumber yang mengetahui proses jalannya penyelidikan.

Regulator Eropa dan AS tengah mencari tahu apakah Kiener mengelabui bank dengan meminjam uang untuk mendongkrak investasi.

Namun Kiener, yang telah ditahan oleh Pemerintah Jerman, menyangkal semua tuduhan yang dijatuhkan atas dirinya.

Pengacara pengusaha tersebut, Lutz Libbertz, masih belum bisa dihubungi. Petugas Grant Thornton yang terlibat dalam proses likuidasi dana K1 juga belum bisa dimintai komentar. Upaya untuk menghubungi K1 juga menemui kegagalan. (t02/elh)

Bloomberg/JIBI

bisnis.com

 

GELEMBUNK MELULU … dah : 040110

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 7:39 am

Senin, 04/01/2010 00:00 WIB

CATATAN AWAL PEKAN
Menyikapi risiko bubble

oleh :

Selama 2009 indeks harga saham Shenzhen China melonjak 115,78% yang diikuti oleh IHSG dengan kenaikan 86,98%. Apakah kenaikan ini bakal mengarah kepada bubble yang suatu saat bakal meletus menjadi krisis ekonomi baru?

Bubble umumnya terjadi apabila kenaikan harga saham melebihi fundamentalnya. Rasio harga saham terhadap laba (price-earning ratio/ PER) paling sering digunakan untuk mengendus potensi bubble. Rasio ini diperbandingkan baik secara historis maupun antarnegara.

Risiko bubble bakal meletus menjadi krisis ekonomi membutuhkan informasi yang lebih banyak. Seperti apakah kenaikan harga aset properti dan saham akan mendorong pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang secara persisten melebihi pertumbuhan pendapatan. Lalu apakah pembiayaan konsumsi juga dibiayai oleh lonjakan kredit perbankan secara berlebihan.

Pengalaman krisis keuangan 1997 juga menegaskan pentingnya faktor ‘asimetri informasi’ utang luar negeri terutama yang terkait negara. Ketiadaan informasi publik yang terbaru mempersulit perusahaan melakukan pengukuran risiko berutang. Lebih buruk lagi, perusahaan turut agresif menumpuk utang dengan pertimbangan sebagian besar risiko bakal ditanggung pemerintah (moral hazard). Kini kondisinya sudah jauh lebih baik. Kita dapat memperoleh informasi posisi utang negara terakhir melalui situs yang dikelola oleh Departemen Keuangan.

Selain itu apakah terjadi gapping dalam pembiayaan perbankan untuk membiayai kegiatan investasi. Sebelum krisis ke-uangan 1997, perbankan nasional agresif menyalurkan kredit properti berjangka panjang dalam rupiah yang dibiayai oleh pinjaman luar negeri bermata uang dolar AS berjangka pendek. Padahal saat itu tren penguatan dolar sulit dibendung sejalan dengan tren positif velocity of money di Amerika Serikat.

Terkait dengan kenaikan harga saham di China, kami sependapat dengan majalah The Economist bahwa sejauh ini belum dapat disebut bubble yang membahayakan.

Pasalnya PER indeks Shanghai A-share yang berkisar 25 masih lebih rendah dari rata-rata historis 37 dan jauh lebih rendah dari 65 selama periode bubble 2006-2007. Demikian juga dengan kenaikan properti. Meski memang terjadi kenaikan pesat di wilayah Shanghai, secara nasional kenaikan harga properti masih terbatas.

Indonesia

Bagaimana dengan Indonesia? Kami nilai valuasi saham Indonesia masih terbilang wajar. Tidak terlalu murah tetapi belum kemahalan. Ada beberapa alasan:

Pertama, PER Indonesia memang tidak semurah Thailand yang masih dirundung konflik internal dan ketidakstabilan politik. Tetapi valuasi Indonesia masih lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata indeks negara-negara tetangga seperti KLCI, Hang Seng, Shanghai dan Nikkei. Ada juga beberapa indeks dengan valuasi yang tidak jauh dari Indonesia seperti Dow Jones FTSE 100, dan Euro Stoxx. Namun dengan prospek ekonomi dan pertumbuhan laba perusahaan yang lebih baik, Indonesia akan lebih disukai oleh investor global.

Kedua, kami menilai rentang Forward PER kini masih di bawah rentang ‘mean plus satu standar deviasi’. Artinya ekspektasi pulihnya pendapatan perusahaan sebagian telah tecermin pada harga saham.

Namun, sangat bisa jadi belum memperhitungkan skenario the great asset reflation yang bakal terjadi di Indonesia terkait kenaikan harga komoditas dan tetap relatif rendahnya suku bunga.

Konsensus perusahaan sekuritas memproyeksikan laba perusahaan akan tumbuh 17% selama 2010. Tidak ada yang mustahil dari angka tersebut. Dengan tingkat pertumbuhan itu, laba perusahaan secara umum (market earning per share) hanya balik ke level 2007.

Kami pikir emiten bursa bisa merealisasikan ekspektasi konsensus, sedangkan angka ‘satu standar deviasi’ di atas rata-rata hanya mengimplikasikan bahwa pelaku pasar cuma menanti 3% tambahan revisi (upward revision) untuk estimasi laba perusahaan tahun depan. Lagi-lagi bukan sesuatu yang terlalu sulit. Kami duga pasar belum mengantisipasi pertumbuhan laba yang tinggi dalam skenario asset reflation.

Pertimbangan valuasi yang ketat masih bisa melonggar dengan beberapa katalis segar. Pertama, IPO ataupun penawaran saham sekunder lainnya. Masuknya perusahaan baru ke bursa bisa mencegah banjir likuiditas global terkonsentrasi pada sektor ataupun saham tertentu.

Pada 2010 kita menantikan beberapa penawaran saham perdana (IPO) dari Pembangunan Perumahan, Krakatau Steel, Bank Jabar-Banten, Garudafood, Waskita Karya dan beberapa perusahaan lainnya dengan total penyerapan dana lebih dari Rp10 triliun.

Selain itu beberapa perusahaan seperti Grup Bakrie juga telah mengindikasikan keinginan untuk memperkuat permodalan baik melalui penawaran saham maupun obligasi.

Kedua, peluang kenaikan peringkat obligasi RI. Belum lama ini S&P menaikkan outlook dari stabil ke positif. Adapun, peringkat utang rupiah masih bertengger di BB- (foreign currency LT debt) atau dua level di bawah investment grade Standard & Poor’s.

Belajar dari pengalaman penurunan rating Yunani, kami melihat masih banyak pelaku pasar yang belum mengantisipasi hal ini. Padahal debt/ GDP ratio Indonesia terus turun yang menandakan pengelolaan utang lebih baik.

Naiknya peringkat utang RI bisa membawa berkah bagi pasar modal Indonesia. Selisih bunga utang yang lebih rendah dengan bunga obligasi AS, naiknya dana yang bisa dipinjamkan (loanable funds) dan tambahan likuiditas pasar adalah beberapa di antaranya.

Namun, yang paling penting adalah turunnya premi risiko bagi valuasi saham. Turunnya premi risiko akan ditranslasikan dalam penurunan biaya modal (cost of capital). Dengan demikian nilai fundamental (intrinsic value) perusahaan bisa terdongkrak.

Oleh Budi Hikmat & Marli Sanjaya

PT Bahana TCW Investment Managemen

bisnis.com

 

imink-iming doank dah (21) … 040110

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 5:26 am

Penampilan Perdana, IHSG Berhasil Rebound
Senin, 4 Januari 2010 – 09:40 wib
TEXT SIZE :
Candra Setya Santoso – Okezone

Foto: Koran SI
JAKARTA – Pembukaan perdana indeks harga saham gabungan (IHSG) awal 2010 berhasil rebound dan bertengger di atas level 2.500. Saham-saham unggulan yang bergerak menguat memberi imbas positif terhadap pergerakan indeks saham akhir 2009 pagi ini. Terpantau, saham sejuta umat PT Bumi Resources Tbk (BUMI) bergerak stagnan.

Indeks saham pada pembukaan perdagangan Senin (4/1/2010) pagi rebound 6,630 poin atau setara 0,26 persen ke level 2.540,723. Sementara itu indeks LQ45 naik 1,968 poin ke posisi 500,256 dan Jakarta Islamic Indeks (JII) menguat 1,113 poin ke posisi 418,253.

Saham yang dibuka menguat atau top gainer, seperti PT Gudang Garam Tbk (GGRM) naik Rp850 ke Rp21.550, PT Astra International Tbk (ASII) menguat Rp750 ke Rp34.700, PT Plaza Indonesia Tbk (PLIN) naik Rp500 ke Rp2.500, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) naik Rp300 menjadi Rp13.700, dan PT Mandom Indonesia Tbk (TCID) menguat Rp200 menjadi Rp8.100. Sedangkan, saham sejuta umat PT Bumi Resources Tbk (BUMI) bergerak stagnan di Rp2.425 per unitnya.

Saham-saham yang dibuka melemah atau top loser, antara lain PT Tembaga Mulia Samanan Tbk (TBMS) terkoreksi Rp800 ke Rp3.250, PT Tri Polyta Indonesia Tbk (TPIA) turun Rp100 ke posisi Rp2.200, dan PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) melemah Rp75 ke Rp2.700.

Sementara, bursa regional cenderung bergerak menguat, antara lain indeks Nikkei 255 menguat 122,97 poin atau setara 1,17 persen ke posisi 10.669,41, indeks Shanghai Composite di China naik 14,54 poin ke posisi 3.277,14, dan indeks Hang Seng menguat 18,76 poin ke posisi 21.891,52. Begitu pula indeks Seoul Composite naik 1,09 poin ke level 1.683,86.

Sebagai informasi, penutupan IHSG akhir 2009, hanya berhasil naik 15,362 poin atau setara 0,61 persen ke posisi 2.534,356. Penguatan indeks dimotori oleh saham unggulan tertentu ini menjadi indikator pendukung rebound-nya indeks saham sore ini.

Selain itu, penguatan juga didukung oleh menghijaunya sejumlah sektor yang dipimpin oleh sektor manufaktur yang menguat hanya sebesar 6,26 poin, sedangkan saham sektor pertambangan dan perkebunan terkoreksi masing-masing 18 poin dan 4,72 poin. Sedangkan, Jakarta Islamic Indeks (JII) naik tipis 0,718 poin ke posisi 417,182 dan indeks LQ45 naik 2,743 poin ke posisi 498,288.

Volume perdagangan saham Rabu (30/12/2009) sore tercatat sebanyak 2,803 miliar lembar saham senilai Rp2,111 triliun, dengan total transaksi mencapai 63.996 kali. Saham yang ditutup menguat 102 jenis saham, melemah 80 jenis saham, dan stagnan 84 jenis saham.(css)

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) membuka perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia awal tahun 2010. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan dengan kenaikan tipis.

Pada perdagangan Senin (4/1/2010), IHSG dibuka menguat tipis 6,630 poin (0,26%) ke level 2.540,986. Kenaikan IHSG pada awal perdagangan didorong oleh kenaikan saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar Rp 75 menjadi Rp 4.775 pada nilai transaksi Rp 29,9 miliar.

Presiden SBY yang membuka perdagangan saham mengucapkan terima kasihnya kepada semua pihak khususnya seluruh elemen di pasar modal seperti karyawan BEI dan lainnya atas pencapaian kinerja pasar saham yang baik pada tahun lalu. Pada tahun 2009, IHSG tercatat menguat hingga 86%.

“Ini patut kita syukuri dan semoga di tahun ini prestasinya akan mencapai lebih baik dengan kerja keras kita semua,” ujar presiden yang mengenakan baju batik tersebut.

Hadir dalam kesempatan pembukaan perdagangan saham hari ini adalah Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Menkeu Sri Mulyani, Mendag Mari Elka Pangestu, Menneg BUMN Mustafa Abubakar, Ketua Bapepam LK Fuad Rahmany, Menneg PPN/Kepala Bappenas Armida Alisjahbana.

Jelang pembukaan, lantai perdagangan bursa nampak cantik. Terdapat hiasan kelambu merah berselimut emas menutup salah satu sisi lantai bursa. Suasana perdagangan lebih meriah dengan iringan paduan suara dan rangkaian tabuhan perkusi dari Duta Mutiara Citra.

Sumber: detikcom

Senin, 04/01/2010 00:00 WIB

Efek Januari gerakkan bursa saham

oleh :

JAKARTA: Ekspektasi pemulihan ekonomi 2010 dan January Effect diperkirakan menjadi batu loncatan bagi pemodal untuk memanfaatkan momentum masuk pasar saham guna mengantisipasi rally pada 2010.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia berpotensi menguat dengan mengandalkan sektor komoditas, terutama saham sektor batu bara.

Kepala Riset PT E-Capital Securities Aan Budiarto mengatakan perdagangan pada pekan pertama awal tahun ini secara historis menjadi barometer pemodal dalam memandang pergerakan bursa sepanjang tahun berjalan.

“Ada kecenderungan kuat indeks saham naik pada pekan pertama tahun ini karena pemodal sangat optimistis memandang bursa saham nasional. Tren kenaikan masih terjaga meski tidak seagresif pada triwulan III/2009,” tuturnya kepada Bisnis kemarin.

Meski demikian, lanjutnya, pemodal mencermati kejutan dari ranah politik yang mengganggu fenomena historis pengangkat bursa, yakni January Effect. Fenomena ini ditandai kenaikan kembali harga saham karena para pemodal membeli kembali saham yang dijual akhir tahun sebelumnya.

Dia memproyeksikan IHSG bergerak ke kisaran level psikologis 2.500 pada pekan ini karena khawatir masih ada gejolak di ranah politik. “January Effect terjadi dalam situasi normal ketika tidak ada gangguan sisi keamanan dan politik. Jika tensi politik masih tinggi, fenomena itu kemungkinan tidak terjadi,” ujar Aan.

Bloomberg melaporkan kenaikan bursa telah terlihat pada mayoritas bursa Asia Pasifik menjelang pergantian tahun lalu. Indeks Morgan Stanley Capital (MSCI) kawasan Asia Pasifik menguat untuk ke-dua pekan, menjadi kenaikan tertinggi sejak 2003.

Tertinggi kedua

Rerata indeks kawasan Asia Pasifik pada akhir pekan lalu naik 0,7% menjadi 120,45 setelah sepanjang 2009 naik 34%, atau kenaikan tertinggi sejak 2003. Shenzhen menduduki posisi kenaikan tertinggi sebesar 115,27%, diikuti IHSG 85,85%, dan Mumbai 80,38%.

Ekspektasi positif pasar atas ekonomi 2010 terekam dari kenaikan indeks Dow Jones di Amerika Serikat (AS) sebesar 18,8%, atau yang pertama sejak dua tahun terakhir. “Secara umum, pemodal lebih santai sekarang. Pertanyaannya sekarang, apa yang terjadi pada 2010 ketika kita latar belakang ekonomi kuat, tetapi dengan kondisi likuiditas mengetat?” tutur Manajer Investasi Platypus Asset Management Prasad Patkar.

Perdagangan surat utang negara (SUN) di pasar sekunder pekan ini diprediksi lebih sepi, di bawah level Rp2 triliun per hari.

Head of Fixed Income Division PT Anugerah Securindo Indah Ramdhan Ario Maruto menilai perdagangan yang relatif sepi tersebut tidak akan menggerakkan harga dan imbal hasilnya (yield), sehingga diprediksi masih mendatar (side ways). Pergerakan harga dan yield di pasar obligasi saling bertolak belakang. (Irvin Avriano Arief) (arif.gunawan@bisnis. co.id)

Oleh Arif Gunawan S.

Bisnis Indonesia

bisnis.com
Prediksi IHSG
Akumulasi Saham Papan Atas
Sahamnya seperti PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) & PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI)
SENIN, 4 JANUARI 2010, 06:17 WIB
Antique

pialang di bursa saham (Rosa Panggabean)
BERITA TERKAIT
IHSG Menuju Bonus Akhir Tahun
Akumulasi Saham Komoditas Unggulan
Akumulasi Saham Unggulan BUMN
Jelang Libur Natal, Bursa Minim Transaksi
Tekanan Jual Diperkirakan Mulai Mereda
Web Tools

VIVAnews – Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia berpotensi mengawali transaksi awal tahun ini dengan pergerakan mendatar cenderung terkoreksi. Namun, saham-saham papan atas (blue chips) masih menjanjikan untuk diakumulasi.

“Aksi profit taking (ambil untung) pemodal bakal menyertai langkah awal IHSG di 2010,” ujar Kepala Riset PT Paramitra Alfa Sekuritas Pardomuan Sihombing kepada VIVAnews di Jakarta, Kamis sore, 31 Desember 2009.

Dia memproyeksikan, indeks Senin, 4 Januari 2010, berpotensi bergerak tipis di level batas bawah (support) 2.500/2.480 dan batas atas (resistance) 2.560/2.580.

Pada transaksi Rabu, 30 Desember 2009, indeks kembali berakhir positif karena berhasil tembus di posisi 2.534,36, terangkat 15,36 poin (0,60 persen) dari perdagangan Selasa, 29 Desember 2009, yang menguat 9,30 poin atau 0,37 persen ke level 2.518,99.

Bursa Asia saat IHSG tutup bergerak variatif. Indeks Hang Seng turun 2,82 (0,01 persen) ke level 21.496,62, Nikkei 225 melemah 91,62 atau 0,86 persen menjadi 10.546,44, dan Straits Times terangkat 7,95 persen (0,28 persen) di posisi 2.878,49.

Sementara itu, bursa Wall Street pada perdagangan Kamis sore waktu New York, atau Jumat dini hari WIB kembali negatif. Indeks harga saham Dow Jones terhempas 120,46 poin (1,14 persen) menjadi 10.428,05, indeks harga saham indikator Standard & Poor’s 500 turun 11,32 poin atau 1,00 persen ke level 1.115,10, dan indeks harga saham teknologi Nasdaq terkoreksi 22,13 poin (0,97 persen) di posisi 2.269,15.

Menurut Pardomuan, IHSG awal perdagangan 2010, diperkirakam berfluktuasi (mixed) dengan kecenderungan melemah. Hal itu akibat masih minimnya sentimen positif penggerak indeks, baik dari domestik maupun mancanegara.

Dia mengakui, tekanan jual akibat adanya aksi profit taking pelaku pasar juga diperkirakan terjadi di awal transaksi tahun ini. Terutama, setelah IHSG berakhir menguat di level tertinggi baru di 2009.

Rekomendasi
Pardomuan menyarankan, akumulasi saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) seiring fundamental dan kinerja yang baik.

“Saham dengan kode JSMR (PT Jasa Marga Tbk) juga layak beli,” kata dia.

antique.putra@vivanews.com
Senin, 04/01/2010 06:25 WIB

Inilah jurus investasi pada Tahun Macan

oleh : Sylviana Pravita R.K.N.

JAKARTA (bisnis.com): Sebanyak tujuh saham direkomendasikan sebagai top picking pada tahun ini, yaitu PGAS, JSMR, BBCA, BMRI, BBNI, UNVR dan INDF. Bulan ini, indeks diproyeksikan tidak secerah Desember 2009, January Effect tidak terjadi. Namun, di akhir tahun indeks diprediksi bisa menembus level 2.800.

Kepala Riset PT Paramitra Alfa Sekuritas Pardomuan Sihombing mengatakan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia pada pekan pertama diproyeksikan bergerak pada level 2.450-2.560 dengan diwarnai aksi profit taking.

“Indeks masih minim sentimen, sehingga justru kecenderungan terjadinya profit taking akan besar pada bulan pertama tahun ini. Kenaikan indeks pada Desember 2009 menembus 4,95% dibandingkan dengan November 2009. Dari pertumbuhan itu, saya melihat fenomena January Effect cenderung tidak akan terjadi,” kata Pardomuan, kepada bisnis.com, akhir pekan lalu.

Pardomuan memaparkan korelasi negatif antara Desember ke Januari terjadi dalam tiga tahun terkhir. Jadi, apabila Desember positif, Januari tahun berikutnya akan mencetak pertumbuhan negatif. “Dalam 3 tahun terakhir di Indonesia yang terjadi bukan January Effect tapi December Effect,” ujarnya.

Beberapa sentimen negatif yang menguat pada Januari ini dari faktor global adalah pertama, ekonomi AS yang belum terkonfirmasi mengarah pada pemulihan.

Kedua, harga komoditas yang masih bergerak menyamping (sideways) terkait dengan suplai yang stabil dan permintaan pasar yang jatuh. Ketiga, kemungkinan gagal bayar Dubai World yang masih berlanjut membayangi.

Dari domestik adalah pertama, pasar menunggu akhir dari kasus Bank Century dan berhentinya baku hantam para politisi Tanah Air. Kedua, reformasi birokrasi dan infrastruktur. Ketiga, stabilitas mesin fiskal dan moneter.

Terkait dengan belum terkonfirmasinya kondisi-kondisi tersebut, saham yang menjadi top picking sepanjang tahun ini adalah saham-saham berkapitalisasi besar, karena lebih defensif dengan pendapatan yang stabil dari sisi fundamental.

Saham-saham tersebut adalah saham di sektor infrastruktur, perbankan dan kebutuhan rumah tanggan (consumer goods). “Secara spesifik saya melihat saham PGAS, JSMR, BBCA, BMRI, BBNI, UNVR dan INDF. Untuk sektor komoditas, saya perkirakan terlalu fluktuatif, jadi strategi untuk saham komoditas adalah trading saja,” katanya.

Investasi terbaik lainnya pada tahun ini adalah pada surat utang atau obligasi terkait dengan BI Rate yang masih berkisar 6,5%.

“Sepanjang BI Rate masih 6,5%, bond masih menarik. Kapitalisasi bond sebesar Rp600 triliun, di mana surat utang negara Rp520 triliun dan korporasi Rp80 triliun dengan demand yang sangat besar. Jadi, ada obligasi apapun langsung beli saja, karena pasti akan naik akibat demand itu,” ujarnya.

Dia menuturkan pemodal dari dana pihak ketiga, asuransi, reksa dana, dana pensiun dan fund asing punya kocek bernilai hingga Rp2.000 triliun. Permintaan dari pemodal besar itulah yang akan mendorong pasar obligasi.

Selanjutnya, bagi korporasi yang ingin melantai di bursa, semester I/2009 dinilai merupakan momentum yang paling tepat. Penawaran umum perdana (initial public offering/ IPO) pada semester II/2009 berpotensi menghadapi tantangan berupa kenaikan inflasi yang mendorong naiknya suku bunga.

“Penggalangan dana melalui IPO tampaknya akan menurun. Begitu juga melalui rights issue [penerbitan saham baru]. Tapi, emisi obligasi akan besar sekaligus menarik bagi investor,” tutur Pardomuan.

IHSG 2010 tembus level 2.800
Pada tahun ini, apabila suku bunga The Fed masih bertahan pada level 0,25% dan BI Rate 6,5%, indeks harga saham gabungan (IHSG) berpeluang menebus 2.800. Namun, bila The Fed dan BI Rate naik, indeks akan anjlok ke level 2.000.

Adapun, IHSG BEI pada akhir perdagangan 30 Desember 2009 ditutup pada posisi 2.534,35 poin atau naik 86,90% dibandingkan dengan indeks penutupan pada akhir hari perdagangan tahun 2008 yang berada pada posisi 1.355,40.

Kontribusi terbesar dari kenaikan IHSG itu adalah sektor aneka industri (160%) dengan kenaikan terbesar bagi saham PT Astra Internasional Tbk (ASII). Selanjutnya, kenaikan saham-saham sektor pertambangan hingga 150%. Kenaikan tersebut menunjukkan pasar modal Indonesia menarik dan mampu mengundang investor untuk menggulirkan modalnya.

Nilai kapitalisasi pasar dan transaksi saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) naik 86,41% dari Rp 1.076,5 triliun pada akhir perdagangan 2008 menjadi Rp2.006,7 triliun per 29 Desember 2009.

Adapun, dari sisi total nilai transaksi saham di BEI sampai dengan 29 Desember 2009 mencapai Rp973 triliun mengalami penurunan sebesar 8,6% dibandingkan dengan total nilai transaksi 2008 sebesar Rp1.064,50 triliun.

Selain itu, nilai transaksi rata-rata harian saham di BEI tahun ini juga mengalami penurunan sebesar 8,78%, dari Rp4,44 triliun per hari pada 2008 menjadi sebesar Rp4,05 triliun per hari pada 2009.
Senin, 04/01/2010 07:14 WIB
IHSG Siap-siap January Effect
Nurul Qomariyah – detikFinance

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada 30 Desember 2009 lalu ditutup pada titik tertingginya sepanjang tahun 2009. IHSG juga mencatat kenaikan tertinggi kedua di kawasan Asia Pasifik.

Pada perdagangan Rabu (30/12/2009), IHSG ditutup menguat 15,362 poin (0,61%) ke level 2.534,356. Sepanjang 2009, IHSG tercatat naik 86,98%, tertinggi kedua setelah Bursa Shenzen yang mencetak kenaikan 115,27% atau tertinggi di kawasan Asia Pasifik.

Sementara Bursa Wall Street pada penutupan perdagangan 31 Desember 2009 justru melemah dalam volume perdagangan yang sangat tipis.

Pada perdagangan Kamis (31/12/2009), indeks Dow Jones industrial average (DJIA) ditutup melemah 120,46 poin (1,14%) ke level 10.428,05. Indeks Standard & Poor’s 500 melemah 11,32 poin (1%) ke level 1.115,10 dan Nasdaq melemah 22,13 poin (0,97%) ke level 2.269,15.

Namun secara tahunan, indeks Dow Jones menguat 18,8%, S&P 500 menguat 23,5% dan Nasdaq menguat 43,9%. Ini adalah kenaikan indeks pertama sejak 2 tahun terakhir. Indeks S&P 500 pada tahun 2008 bahkan merosot hingga 38,5%.

Secara total, sepanjang 2009 harga saham-saham dunia naik hingga 30% atau 72% kenaikan jika dihitung sejak Maret. Sejak awal Maret 2009, investor memang kembali memburu saham-saham atas dasar dua keyakinan yakni sistem finansial tidak akan kolaps layaknya era Great Depression dan aset-aset berisiko tinggi seperti saham dan obligasi berimbal hasil tinggi sudah mengalami aksi jual terlalu besar.

Untuk tahun 2010, investor kemungkinan akan menghadapi sedikit tantangan tidak seperti di tahun 2009. Pada tahun lalu, sebagian orang cukup menempatkan dana-dananya di aset berisiko yang sudah mengalami oversold dan tunggu saja hingga mereka mengalami kenaikan harga sendiri.

Namun untuk 2010, investor harus melakukan seleksi secara selektif dan menentukan pemilihan waktu. Investpr pasar saham harus lebih selektif untuk melakukan aksi beli, meski jika mereka masih percaya saham-saham akan naik harganya.

Pooling Reuters menunjukkan, sebagian investor memperkirakan saham-saham masih akan naik pada tahun 2010 meski tidak pada tingkat yang sama seperti yang pernah mereka lihat.

Analis dari Credit Suisse mengatakan, perusahaan dengan tingkat utang yang rendah dan divident tinggi, cash flow yang bebas serta pangsa pasar yang kuat diperkirakan akan terus menanjak.

Semengara Guy Wagner, manager dari Banque de Luxembourg menyatakan hal yang sama, dan melihat saham-saham dari sektor defensif seperti utilitas akan menarik perhatian.

“Hal ini membuat banyak kebijakan untuk keluar dari saham-saham yang sangat bersiklus dan menuju ke saham-saham yang lebih defensif serta menbayar dividen,” ujar Wagner seperti dikutip dari Reuters.

Bagaimana dengan Bursa Indonesia di awal tahun ini?

Investor diprediksi masih akan berhati-hati dan melihat pergerakan dari bursa-bursa regional. Namun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal perdagangan Senin (4/1/2010) diprediksi akan bergerak menguat terlebih dahulu seperti pada tahun-tahun sebelumnya.

Seremoni pembukaan perdagangan saham oleh Presiden SBY diharapkan bisa membawa euforia pada awal perdagangan tahun ini. January Effect diharapkan bisa menahan laju IHSG di teritori positif.

Bursa Jepang juga mengawali perdagangan awal tahun 2010 dengan kenaikan yang cukup baik. Indeks Nikkei-225 pada perdagangan Senin ini dibuka naik 62,90 poin (0,60%) ke level 10.609,34.

(qom/qom)

bisnis.com
Tren Positif, Tahun Depan IHSG Masuk Kisaran 3.000 hingga 3.200
Rabu, 30 Desember 2009 19:11 WIB 300 Dibaca | 0 Komentar
JAKARTA–MI: Penutupan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun ini di level 2,535,356 menunjukkan tren positif. Bahkan jika kondisi membaik, IHSG tahun depan bakal bisa berada di kisaran 3.000 hingga 3.200.

Demikian diungkapkan Presiden Direktur PT Kresna Graha Sekurindo Tbk (KREN) Michael Steven di Jakarta, Rabu (30/12). Dia mengungkapkan, periode akhir Oktober 2009 hingga awal Desember 2009 indeks sempat menurun dikarenakan kekhawatiran investor akan suhu politik di Indonesia yang makin memanas. Pada periode tersebut, ujarnya, IHSG cenderung bergerak sideways (menyamping). Namun menjelang tutup tahun, tren penguatan IHSG kembali muncul seiring dengan menyurutnya kasus Bank Century.

Di akhir 2009 ini, Michael menilai, jika tidak ada kisruh politik seperti KPK vs Polri, dan skandal aliran dana Bank Century, IHSG seharusnya bisa ditutup menembus level 2.800 seperti di akhir 2007 lalu di mana indeks ditutup dengan kisaran 2.745,826.

Tahun 2010, Michael optimis jika tidak ada kisruh politik sekelas kasus-kasus tersebut, IHSG bisa menembus level 3000 dengan mudah. “Di tahun depan, kalau tidak ada kisruh politik market kita akan terus tumbuh bahkan bisa mencapai 3.000-3.200,” kata dia. (*/OL-03)