1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

2009 berlalu, 2010 diburu … 040110 4 Januari 2010

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 4:57 pm

Senin, 04/01/2010 16:57 WIB
Kinerja Emiten 2009 Menentukan Laju IHSG di 2010
Indro Bagus SU – detikFinance

Foto: dok detikFinance Jakarta – Investor-investor pasar modal diperkirakan sedang menanti-nanti laporan keuangan akhir tahun 2009 perusahaan-perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pengumuman laporan keuangan 2009 bakal menjadi momentum penentu gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di 2010.

“Saya kira laporan keuangan emiten akhir tahun 2009 bakal menjadi momentum investor melakukan keputusan investasi di 2010,” ujar analis PT Bali Securities, Ketut Tri Bayuna saat dihubungi detikFinance, Senin (4/1/2010).

Menurut Ketut, saat ini investor dan suasana investasi di 2010 telah dipenuhi semangat optimisme. Namun Ketut mengatakan, investor masih menanti realisasi kinerja emiten di 2009 sebelum melakukan langkah investasi di 2010.

“Sebagian investor memang telah bersiap-siap dengan melakukan pembelian saham-saham di lantai bursa. Tapi nilai dan volumenya masih belum terlalu besar. Kebanyakan masih menunggu realisasi kinerja di 2009,” jelas Ketut.

Selama triwulan IV-2009, nilai transaksi harian memang berkisar antara Rp 1 triliun hingga Rp 3 triliun. Malah paling banyak bergerak antara Rp 1 triliun hingga Rp 2 triliun.

“Kelihatannya itu masih akan berlanjut di awal 2010, mungkin hingga akhir Januari 2010. Begitu laporan keuangan akhir 2009 keluar, saya kira nilai transaksi akan mulai meningkat, sekitar Februari 2010 kelihatannya sudah mulai meningkat,” ujarnya.

Pada pembukaan perdagangan perdana 2010, IHSG ditutup naik 41,057 (1,62%) ke level 2.575,413 dengan nilai transaksi sebesar Rp 2,374 triliun. Nilai tersebut masih dalam rentang nilai transaksi rata-rata IHSG selama triwulan IV-2009.

“Sikap optimisme investor jelas sudah sangat tampak. Tapi untuk merealisasikannya tentu investor membutuhkan acuan fundamental, yaitu laporan keuangan 2009. Selama ini banyak yang bilang krisis sudah lewat, sebagian lagi belum. Untuk membuktikannya, investor menunggu laporan keuangan akhir 2009,” kata Ketut.

Sebagai catatan, hingga triwulan III-2009, seluruh emiten yang telah menyerahkan laporan keuangannya berhasil membukukan angka laba bersih sebesar Rp 34 triliun, naik 48,5% dari periode yang sama tahun 2008 sebesar Rp 22,9 triliun.

Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani, kinerja tersebut sukses mengangkat IHSG naik dari level 1.300-an di awal 2009 hingga ke level 2.500-an di akhir 2009. Sri Mulyani mengatakan, kenaikan IHSG terjadi bukan karena sentiment positif belaka, melainkan berjalan beriringan dengan kinerja fundamental emiten yang kokoh.

Berangkat dari pola pikir yang sama, Ketut memperkirakan investor sangat menanti-menanti laporan keuangan akhir 2009 seluruh emiten di BEI. Dengan acuan itu, mereka bisa melakukan langkah investasi.

“Kalau hasilnya positif, dan kelihatannya akan cukup positif, IHSG berpotensi terangkat cukup tinggi tahun ini,” ujarnya.
(dro/ang)

Memperkuat Sendi Mikroekonomi
Senin, 4 Januari 2010 – 11:11 wib

Perekonomian Indonesia pada 2009 memiliki banyak warna. Paling pokok, krisis ekonomi global tanpa ampun juga menghajar ekonomi nasional, sehingga sebagian aktivitas ekonomi mengalami pengerutan yang tajam.

Kegiatan investasi, ekspor (impor), fluktuasi nilai tukar,dinamika tingkat bunga, dan lain-lain mengalami guncangan yang cukup berarti sehingga secara akumulatif membuat pertumbuhan ekonomi merosot menjadi sekitar 4,3 persen. Di luar itu, jika dikomparasikan dengan kinerja ekonomi negaranegara tetangga dan negara maju, Indonesia masih beruntung karena tidak sedikit negara-negara tersebut yang pertumbuhan ekonominya minus.

Sebagian analisis ekonomi menyimpulkan bahwa Indonesia diselamatkan oleh variabel konsumsi rumah tangga dan kontribusi ekspor yang tidak terlalu besar dalam perekonomian. Sebaliknya, stimulus fiskal yang diharapkan berperan lebih besar malah tidak efektif dalam implementasinya.

Refleksi Ekonomi 2009

Indonesia pada 2009 menjadi kisah penting bahwa kegiatan ekonomi yang substantif sebetulnya lebih banyak dipikul oleh para pelaku usaha kecil dan sektor pertanian. Lebih dari itu, pada saat sebagian besar inisiatif kebijakan pemerintah gagal diimplementasikan, aktivitas ekonomi pada level mikro tetap menunjukkan geliat yang nyata. Ini tentu berbeda dengan realitas yang dihadapi oleh perusahaan-perusahaan besar, di mana begitu kebijakan pemerintah gagal menjangkau kepentingannya sontak kinerja ekonominya menjadi ambruk.

Secara telanjang tahun ini kita diberi deskripsi yang nyata bahwa pertumbuhan ekonomi sebesar 4,3 persen merupakan aktivitas “genuine” yang dimiliki masyarakat, yang akan tetap bergerak dengan atau tanpa kebijakan pemerintah.

Dengan kata lain, jika mengasumsikan pemerintah tidak bekerja pun, modal tetap yang telah dimiliki oleh bangsa ini adalah pencapaian pertumbuhan ekonomi dalam kisaran 4 persen tersebut. Terdapat beberapa argumentasi yang dapat disampaikan untuk menunjukkan kegagalan pemerintah dalam menjalankan kebijakan secara efektif.

Pertama, kebijakan stimulus fiskal yang diluncurkan pemerintah gagal mencapai sasaran, baik dalam pengertian jumlah dana yang diserap maupun program-program yang didesain. Sejak awal kritik yang mengemuka adalah desain stimulus lebih condong kepada “tax saving” yang implikasinya terhadap peningkatan konsumsi sangat diragukan.

Analisis inilah yang kemudian terbukti di lapangan, ketika tax saving tersebut tidak berkontribusi terhadap pengeluaran konsumsi individu maupun badan. Sementara itu, dari sisi penyerapan, stimulus fiskal yang diharapkan bergerak sejak Triwulan I malah berjalan seperti keong sehingga baru berjalan mulai Triwulan III.

Sehingga, stimulus fiskal sebagai “papan luncur” yang akan mendorong perekonomian menjadi tidak tidak terbukti. Kedua, dari sisi moneter boleh dikatakan pemerintah dan otoritas moneter berhasil menjaga stabilitas makroekonomi, di antaranya ditunjukkan dengan nilai tukar yang berhasil diturunkan di bawah Rp10.000/USD, inflasi yang “super rendah” (sekitar tiga persen sampai akhir tahun), dan neraca pembayaran yang tetap positif.Namun, otoritas moneter gagal total berperan menggerakkan sektor riil karena perbankan tidak mau menurunkan tingkat bunga (deposito dan kredit) sehingga biaya investasi menjadi mahal.

Sulit dipahami,kebijakan bank sentral yang telah menurunkan BI rate hingga tinggal 6,5 persen tidak diikuti dengan penurunan bunga bank.Di sini,kredibilitas BI benarbenar jatuh karena tidak lagi dihormati oleh sektor perbankan.Pada situasi inilah kegiatan ekonomi yang dilakukan masyarakat benarbenar akibat usaha sendiri dan bukan oleh fasilitas yang didesain pemerintah dan otoritas moneter.

Prospek Ekonomi 2010

Meskipun tidak ada kepastian dalam kegiatan ekonomi, tetapi dapat diprediksi kegiatan ekonomi pada 2010 lebih cerah ketimbang 2009. Krisis keuangan global ternyata “berakhir” lebih cepat dari yang diperkirakan. Pernyataan ini tentu hanya menunjukkan pada level makro saja, namun belum bertumpu kepada pemahaman pada level mikro yang lebih detail. Secara umum, makroekonomi global banyak berpihak kepada pilihan untuk berpendapat “optimis” pada 2010.

Pasar komoditas global telah bergerak karena negara-negara maju dan emerging countries sudah membaik daya belinya, sehingga ekspor berpeluang untuk meningkat. Demikian pula dari sisi investasi, dana-dana asing kemungkinan besar akan merayap mencari peluang yang paling menguntungkan. Tentu saja, seperti tahun-tahun sebelumnya, Indonesia masih merupakan salah satu negara tujuan investasi yang prospektif bagi para investor tersebut.

Sungguh pun begitu,pekerjaan rumah Indonesia yang paling nyata bukanlah meningkatkan ekspor dan mendatangkan investasi asing. Sebab,jika itu memang tujuannya, pemerintah tidak perlu bekerja secara serius karena dua sasaran itu akan bergulir secara otomatis seiring pemulihan ekonomi global.

Agenda terpenting pemerintah sebetulnya berada pada level mikroekonomi yang menjamin peluang berusaha bagi setiap masyarakat terpenuhi. Pertama, secara umum “pasar distribusi” untuk banyak komoditas masih sangat terkonsentrasi (misalnya pada barang pertanian) sehingga keseimbangan harga pasar tidak pernah terjadi.

Tentu saja ini merugikan pelaku ekonomi di sektor hulu (petani) dan konsumen. Kedua, proyek legalisasi usaha mikro dan kecil mesti diprioritaskan agar kelompok usaha tersebut memperoleh kepastian usaha dan kemudahan berhubungan dengan lembaga keuangan formal (bank maupun nonbank).

Ketiga, persaingan usaha menjadi medan pertarungan yang sengit karena di balik kasus kakap yang melibatkan korporasi-korporasi asing maupun domestik (misalnya semen, telekomunikasi, dan perdagangan) tersimpan kasus serupa pada level usaha skala menengah dan kecil.

Praktek kartel wilayah maupun penutupan ruang berusaha tetap marak di lapangan akibat adanya mafia ekonomi. Ini bukan sekadar pekerjaan rumah pemerintah pusat (KPPU), tetapi juga menjadi fokus pemerintah daerah.

Keempat, infrastruktur ekonomi di luar Jawa harus segera dibangun, khususnya yang memfasilitasi UMKM dan sektor pertanian/ perkebunan. Apabila langkah-langkah ini dilakukan, maka kinerja makroekonomi yang cerah pada 2010 akan diikuti dengan perbaikan kinerja pada level mikroekonomi.

Impian inilah yang sudah ditunggu-tunggu sejak lama, namun selama ini selalu gagal dihadirkan pemerintah dalam dunia nyata. (*)

Ahmad Erani Yustika
Direktur Indef, Wakil Dekan (Akademik) FE Universitas Brawijaya
(Koran SI/Koran SI/rhs)

/ Home / Investasi

Senin, 04 Januari 2010 | 14:20

PASAR SAHAM

Ranjau-ranjau di Lantai Bursa

Tahun lalu, perdagangan di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup dengan senyum kebahagiaan. Pasalnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu tumbuh 86,98% dan berakhir di level 2.534,36. Sebuah prestasi di tengah belum pulihnya dunia dari terjangan badai krisis global.

Namun, sejatinya perdagangan di BEI ditutup dengan penuh rasa was-was. Kisruh penyelamatan Bank Century oleh pemerintah pada akhir 2008 bermuara pada gonjang-ganjing politik, yang ikut mewarnai perjalanan bursa sepanjang bulan ini.

Meski tahun sudah berganti, para analis dan pengamat pasar modal tetap meyakini, suhu politik yang memanas akan turut menghangatkan lantai bursa hingga medio tahun ini. Investor masih khawatir dan menunggu waktu berinvestasi alias wait and see.

Analis Bhakti Securities Budi Ruseno mengatakan, kasus itu harus segera dituntaskan. “Di semester satu, terutama kuartal satu masih menunggu penyelesaian kasus Century,” ujarnya. Karena itu, dia meramal prospek IHSG tahun ini dalam rentang yang lebar, yaitu 2.100 – 2.900.

Kepala Riset Mega Capital Indonesia Danny Eugene berpendapat, ketidakpastian kasus tersebut akan berdampak pada sepinya transaksi di bursa. “Perdagangan paling hanya sekitar Rp 3 triliun hingga Rp 4 triliun,” ujarnya.

Nah, memasuki semester kedua tahun ini, IHSG tetap menghadapi tantangan berat. Kala itu, pasar diramalkan akan terkoreksi akibat ekspektasi kenaikan inflasi yang mengerek peningkatan suku bunga.

Bila hal itu terjadi, konsekuensinya adalah pengetatan likuiditas. Ruang gerak sektor riil menjadi terbatas akibat kesulitan mendapatkan pinjaman bank. Dengan asumsi suku bunga patokan BI Rate tetap seperti saat ini 6,5%, Kepala Riset Paramitra Alfa Sekuritas Pardomuan Sihombing memperkirakan, IHSG bisa naik mencapai level 2.800. “Kalau suku bunga naik, IHSG turun hingga 2.000,” ujarnya.

Kepala Ekonom Mandiri Sekuritas Devry Damayanti berpendapat, inflasi akan terjaga di level 6% dengan pertumbuhan ekonomi 5,5%. Dengan kondisi tersebut, dia mematok IHSG tahun ini berada di level 2.767.

Butuh Emiten Baru

Sebenarnya, BEI membutuhkan suntikan emiten baru untuk menggerakkan perdagangan di tahun ini. Apalagi, tahun lalu hanya 13 emiten baru yang masuk bursa dengan penawaran umum saham perdana ke publik atau initial public offering (IPO). Jumlah ini lebih rendah dari 2008, yang sebanyak 17 emiten baru.

Tahun lalu, hanya satu perusahaan milik negara (BUMN) yaitu Bank Tabungan Negara (BBTN), yang masuk bursa. Investor menunggu masuknya BUMN lain, seperti Krakatau Steel, Pembangunan Perumahan, dan Garuda Indonesia.

Persoalannya, rencana itu bisa berantakan jika melihat minimnya minat investor atas IPO BTN pada akhir tahun lalu. “Pasar mulai menahan diri karena Century,” kata Pardomuan.
Di sisi lain, emiten yang menerbitkan saham baru alias rights issue bakal lebih ramai.

Maklum, aturan baru memungkinkan emiten menerbitkan 10% saham baru tanpa persetujuan pemegang saham lama. “Ini dipercaya bisa menyemarakkan perdagangan bursa,” katanya. Buat emiten, bisa jadi opsi penggalangan dana.

Veby Mega, Wahyu Tri Rahmawati KONTAN

Rapor Keuangan Pemerintah 2009
Senin, 4 Januari 2010 – 08:21 wib
TEXT SIZE :

Cyrillus Harinowo Hadiwerdoyo (Foto: Ist)
TANGGAL1 Januari 2010 lalu, Departemen Keuangan (Depkeu) melaporkan pencapaian realisasi APBN-P 2009. Berdasar laporan tersebut, kita bisa melihat lebih dalam berbagai hal yang berkaitan dengan kinerja fiskal Indonesia.

Poin terpenting dalam manajemen keuangan pemerintah adalah pengelolaan defisit APBN. Dalam APBN-P 2009 lalu, defisit ditargetkan sebesar Rp129,8 triliun atau 2,4 persen produk domestik bruto (PDB), tetapi ternyata realisasinya hanya Rp87,2 triliun (1,6 persen PDB).

Pembiayaan untuk defisit sebelumnya direncanakan Rp125,2 triliun. Jumlah tersebut berhasil diperoleh pemerintah melalui perencanaan dan pelaksanaan sangat matang dengan instrumen yang lebih bervariasi dibandingkan tahun sebelumnya.

Pada pertengahan November 2009, target pembiayaan sebesar itu sudah berhasil dipenuhi sehingga Depkeu tidak melakukan lelang surat utang negara (SUN) lagi selama sisa tahun 2009.

Dengan kinerja seperti itu, terdapat kelebihan pembiayaan dibandingkan angka defisit sehingga tercipta surplus anggaran Rp38 triliun. Jumlah inilah yang akhirnya menambah kekuatan arus kas pemerintah,yaitu dengan tercapainya peningkatan rekening pemerintah di Bank Indonesia maupun di bank-bank umum. Dari statistik Bank Indonesia,rekening pemerintah di Bank Indonesia dan bankbank umum mencapai Rp185,4 triliun pada 2008.

Jumlah ini tentu akan meningkat menjadi sekitar Rp223,4 triliun pada akhir 2009, lebih tinggi dari prediksi saya sebelumnya Rp200 triliun. Pencapaian defisit yang lebih rendah tersebut terutama disebabkan relatif tingginya pencapaian penerimaan pemerintah dan hibah, yaitu hanya 0,5 persen di bawah anggaran, sedangkan penyerapan pengeluaran berada 4,7 persen di bawah anggarannya.

Target penerimaan pemerintah biasanya dibuat cukup konservatif sehingga umumnya melampaui target.Kendati demikian, dalam pelaksanaan selama tahun 2009, krisis global telah memengaruhi harga-harga komoditas sehingga penerimaan pajak menjadi lebih sulit dibandingkan tahun sebelumnya.

Insentif perpajakan juga mulai berdampak di mana bagi perusahaan yang memiliki saham publik lebih dari 40 persen memperoleh insentif pajak 8 persen. Pajak pribadi juga menerima insentif 5 persen. Dampak pada insentif perpajakan tersebut berlaku sekali saja, yaitu pada saat pengenaan. Pada tahun-tahun selanjutnya, kinerja perpajakan akan kembali mengikuti tren pertumbuhan PDB nominal. Oleh karena itu pencapaian penerimaan pajak sebesar 1,7 persen di bawah target rasanya suatu kinerja yang bisa dikatakan cemerlang. Realisasi penggunaan anggaran belanja rasanya sudah lumayan tinggi.

Pada tahun-tahun sebelumnya, penyerapan anggaran tersebut memang berada pada level sekitar 95 persen. Bahkan pada perusahaan dan bank-bank swasta sekalipun, penyerapan anggaran umumnya juga selalu berada di bawah target. Selain tidak terealisasinya beberapa proyek, penyerapan di bawah anggaran juga sangat dimungkinkan karena terjadinya efisiensi di dalam penggunaannya. Realisasi anggaran memiliki dampak dalam mendorong perekonomian Indonesia. Peningkatan gaji PNS, misalnya, merupakan suatu stimulasi fiskal yang besar.

Jumlah gaji minimum yang lebih besar memungkinkan mereka mulai menyisihkan sebagian pendapatan untuk menabung ataupun membelanjakannya pada barangbarang modal rumah tangga seperti peralatan elektronik atau sepeda motor atau bahkan mobil. Semakin banyak pula PNS yang memiliki kemampuan mencicil pembelian rumah. Ketahanan ekonomi Indonesia pada 2009 pada akhirnya untuk sebagian memang didorong oleh keuangan pemerintah melalui upaya-upaya tersebut.

Input untuk RAPBN-P 2010

Dalam waktu dekat, pemerintah akan mengusulkan pembahasan RAPBN-P 2010. Usulan tersebut dipertimbangkan karena beberapa hal yang dirasakan mendesak. Oleh karena itu, pemerintah perlu melihat beberapa pelajaran dari kinerja sebelumnya yang bisa menjadi pertimbangan dalam penyusunan RAPBN-P 2010. Pertama, realisasi penyerapan anggaran senantiasa berada pada level sekitar 95 persen.

Ini berarti jika penerimaan sesuai atau melebihi target, maka realisasi defisit akan selalu berada di bawah target.Dalam APBN 2010,target defisit yang dirasakan mampu memberikan stimulasi adalah Rp98 triliun atau 1,6 persen PDB. Jika realisasi APBN sama baiknya dengan tahun 2009, maka realisasi defisit akan berada di bawah 1 persen PDB. Pertanyaannya, sebetulnya pada level defisit berapa pemerintah merasa nyaman? Jika 1,6 persen PDB tersebut dirasakan comfortable, pemerintah bisa meningkatkan rencana defisitnya sehingga pada akhirnya akan diperoleh angka tersebut.

Jika rencana defisit dinaikkan dengan 0,8 persen PDB (seperti pengalaman tahun 2009),maka tambahan anggaran pengeluaran sebesar Rp45-50 triliun akan bisa dilakukan. Kedua, bantalan kas pemerintah saat ini menjadi kuat,yaitu sekitar Rp220 triliun atau sekitar 4 persen PDB. Ini berarti bantalan yang dimiliki oleh pemerintah mampu untuk menjaga ketahanan fiskal jika terjadi shortfall dalam penerimaan pemerintah. Karena itu, pemerintah bisa lebih percaya diri untuk merencanakan anggaran yang lebih agresif. Ketiga,tambahan pengeluaran tersebut harus dimanfaatkan untuk sektor yang betul-betul produktif, terutama infrastruktur.

Penguatan keuangan PLN saya rasa sangat tepat. Demikian juga penyiapan anggaran jalan tol yang tidak akan dibiayai swasta, misalnya Cileunyi– Sumedang–Dawuan. Bahkan pemerintah bisa pula mengambil inisiatif pembangunan jalan tol pantura antara Semarang dan Surabaya yang dewasa ini memang tidak direncanakan.

Keempat, melakukan penguatan BUMN yang strategis, antara lain PT PAL, PTDI, PINDAD untuk visi jangka panjangnya serta penguatan institusi seperti LAPAN yang dewasa ini mampu mengembangkan roket dengan biaya sangat minimal. Dengan itu semua, saya yakin APBN-P 2010 akan lebih mampu menjadi pendorong perekonomian maupun dalam penajaman prioritas pengembangan sektor produktif pemerintah. (*)

Cyrillus Harinowo Hadiwerdoyo
Pengamat Ekonomi (Koran SI/Koran SI/rhs)

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s