1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

GELEMBUNK MELULU … dah : 040110 4 Januari 2010

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 7:39 am

Senin, 04/01/2010 00:00 WIB

CATATAN AWAL PEKAN
Menyikapi risiko bubble

oleh :

Selama 2009 indeks harga saham Shenzhen China melonjak 115,78% yang diikuti oleh IHSG dengan kenaikan 86,98%. Apakah kenaikan ini bakal mengarah kepada bubble yang suatu saat bakal meletus menjadi krisis ekonomi baru?

Bubble umumnya terjadi apabila kenaikan harga saham melebihi fundamentalnya. Rasio harga saham terhadap laba (price-earning ratio/ PER) paling sering digunakan untuk mengendus potensi bubble. Rasio ini diperbandingkan baik secara historis maupun antarnegara.

Risiko bubble bakal meletus menjadi krisis ekonomi membutuhkan informasi yang lebih banyak. Seperti apakah kenaikan harga aset properti dan saham akan mendorong pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang secara persisten melebihi pertumbuhan pendapatan. Lalu apakah pembiayaan konsumsi juga dibiayai oleh lonjakan kredit perbankan secara berlebihan.

Pengalaman krisis keuangan 1997 juga menegaskan pentingnya faktor ‘asimetri informasi’ utang luar negeri terutama yang terkait negara. Ketiadaan informasi publik yang terbaru mempersulit perusahaan melakukan pengukuran risiko berutang. Lebih buruk lagi, perusahaan turut agresif menumpuk utang dengan pertimbangan sebagian besar risiko bakal ditanggung pemerintah (moral hazard). Kini kondisinya sudah jauh lebih baik. Kita dapat memperoleh informasi posisi utang negara terakhir melalui situs yang dikelola oleh Departemen Keuangan.

Selain itu apakah terjadi gapping dalam pembiayaan perbankan untuk membiayai kegiatan investasi. Sebelum krisis ke-uangan 1997, perbankan nasional agresif menyalurkan kredit properti berjangka panjang dalam rupiah yang dibiayai oleh pinjaman luar negeri bermata uang dolar AS berjangka pendek. Padahal saat itu tren penguatan dolar sulit dibendung sejalan dengan tren positif velocity of money di Amerika Serikat.

Terkait dengan kenaikan harga saham di China, kami sependapat dengan majalah The Economist bahwa sejauh ini belum dapat disebut bubble yang membahayakan.

Pasalnya PER indeks Shanghai A-share yang berkisar 25 masih lebih rendah dari rata-rata historis 37 dan jauh lebih rendah dari 65 selama periode bubble 2006-2007. Demikian juga dengan kenaikan properti. Meski memang terjadi kenaikan pesat di wilayah Shanghai, secara nasional kenaikan harga properti masih terbatas.

Indonesia

Bagaimana dengan Indonesia? Kami nilai valuasi saham Indonesia masih terbilang wajar. Tidak terlalu murah tetapi belum kemahalan. Ada beberapa alasan:

Pertama, PER Indonesia memang tidak semurah Thailand yang masih dirundung konflik internal dan ketidakstabilan politik. Tetapi valuasi Indonesia masih lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata indeks negara-negara tetangga seperti KLCI, Hang Seng, Shanghai dan Nikkei. Ada juga beberapa indeks dengan valuasi yang tidak jauh dari Indonesia seperti Dow Jones FTSE 100, dan Euro Stoxx. Namun dengan prospek ekonomi dan pertumbuhan laba perusahaan yang lebih baik, Indonesia akan lebih disukai oleh investor global.

Kedua, kami menilai rentang Forward PER kini masih di bawah rentang ‘mean plus satu standar deviasi’. Artinya ekspektasi pulihnya pendapatan perusahaan sebagian telah tecermin pada harga saham.

Namun, sangat bisa jadi belum memperhitungkan skenario the great asset reflation yang bakal terjadi di Indonesia terkait kenaikan harga komoditas dan tetap relatif rendahnya suku bunga.

Konsensus perusahaan sekuritas memproyeksikan laba perusahaan akan tumbuh 17% selama 2010. Tidak ada yang mustahil dari angka tersebut. Dengan tingkat pertumbuhan itu, laba perusahaan secara umum (market earning per share) hanya balik ke level 2007.

Kami pikir emiten bursa bisa merealisasikan ekspektasi konsensus, sedangkan angka ‘satu standar deviasi’ di atas rata-rata hanya mengimplikasikan bahwa pelaku pasar cuma menanti 3% tambahan revisi (upward revision) untuk estimasi laba perusahaan tahun depan. Lagi-lagi bukan sesuatu yang terlalu sulit. Kami duga pasar belum mengantisipasi pertumbuhan laba yang tinggi dalam skenario asset reflation.

Pertimbangan valuasi yang ketat masih bisa melonggar dengan beberapa katalis segar. Pertama, IPO ataupun penawaran saham sekunder lainnya. Masuknya perusahaan baru ke bursa bisa mencegah banjir likuiditas global terkonsentrasi pada sektor ataupun saham tertentu.

Pada 2010 kita menantikan beberapa penawaran saham perdana (IPO) dari Pembangunan Perumahan, Krakatau Steel, Bank Jabar-Banten, Garudafood, Waskita Karya dan beberapa perusahaan lainnya dengan total penyerapan dana lebih dari Rp10 triliun.

Selain itu beberapa perusahaan seperti Grup Bakrie juga telah mengindikasikan keinginan untuk memperkuat permodalan baik melalui penawaran saham maupun obligasi.

Kedua, peluang kenaikan peringkat obligasi RI. Belum lama ini S&P menaikkan outlook dari stabil ke positif. Adapun, peringkat utang rupiah masih bertengger di BB- (foreign currency LT debt) atau dua level di bawah investment grade Standard & Poor’s.

Belajar dari pengalaman penurunan rating Yunani, kami melihat masih banyak pelaku pasar yang belum mengantisipasi hal ini. Padahal debt/ GDP ratio Indonesia terus turun yang menandakan pengelolaan utang lebih baik.

Naiknya peringkat utang RI bisa membawa berkah bagi pasar modal Indonesia. Selisih bunga utang yang lebih rendah dengan bunga obligasi AS, naiknya dana yang bisa dipinjamkan (loanable funds) dan tambahan likuiditas pasar adalah beberapa di antaranya.

Namun, yang paling penting adalah turunnya premi risiko bagi valuasi saham. Turunnya premi risiko akan ditranslasikan dalam penurunan biaya modal (cost of capital). Dengan demikian nilai fundamental (intrinsic value) perusahaan bisa terdongkrak.

Oleh Budi Hikmat & Marli Sanjaya

PT Bahana TCW Investment Managemen

bisnis.com

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s