1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

imink-iming doank dah (21) … 040110 4 Januari 2010

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 5:26 am

Penampilan Perdana, IHSG Berhasil Rebound
Senin, 4 Januari 2010 – 09:40 wib
TEXT SIZE :
Candra Setya Santoso – Okezone

Foto: Koran SI
JAKARTA – Pembukaan perdana indeks harga saham gabungan (IHSG) awal 2010 berhasil rebound dan bertengger di atas level 2.500. Saham-saham unggulan yang bergerak menguat memberi imbas positif terhadap pergerakan indeks saham akhir 2009 pagi ini. Terpantau, saham sejuta umat PT Bumi Resources Tbk (BUMI) bergerak stagnan.

Indeks saham pada pembukaan perdagangan Senin (4/1/2010) pagi rebound 6,630 poin atau setara 0,26 persen ke level 2.540,723. Sementara itu indeks LQ45 naik 1,968 poin ke posisi 500,256 dan Jakarta Islamic Indeks (JII) menguat 1,113 poin ke posisi 418,253.

Saham yang dibuka menguat atau top gainer, seperti PT Gudang Garam Tbk (GGRM) naik Rp850 ke Rp21.550, PT Astra International Tbk (ASII) menguat Rp750 ke Rp34.700, PT Plaza Indonesia Tbk (PLIN) naik Rp500 ke Rp2.500, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) naik Rp300 menjadi Rp13.700, dan PT Mandom Indonesia Tbk (TCID) menguat Rp200 menjadi Rp8.100. Sedangkan, saham sejuta umat PT Bumi Resources Tbk (BUMI) bergerak stagnan di Rp2.425 per unitnya.

Saham-saham yang dibuka melemah atau top loser, antara lain PT Tembaga Mulia Samanan Tbk (TBMS) terkoreksi Rp800 ke Rp3.250, PT Tri Polyta Indonesia Tbk (TPIA) turun Rp100 ke posisi Rp2.200, dan PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) melemah Rp75 ke Rp2.700.

Sementara, bursa regional cenderung bergerak menguat, antara lain indeks Nikkei 255 menguat 122,97 poin atau setara 1,17 persen ke posisi 10.669,41, indeks Shanghai Composite di China naik 14,54 poin ke posisi 3.277,14, dan indeks Hang Seng menguat 18,76 poin ke posisi 21.891,52. Begitu pula indeks Seoul Composite naik 1,09 poin ke level 1.683,86.

Sebagai informasi, penutupan IHSG akhir 2009, hanya berhasil naik 15,362 poin atau setara 0,61 persen ke posisi 2.534,356. Penguatan indeks dimotori oleh saham unggulan tertentu ini menjadi indikator pendukung rebound-nya indeks saham sore ini.

Selain itu, penguatan juga didukung oleh menghijaunya sejumlah sektor yang dipimpin oleh sektor manufaktur yang menguat hanya sebesar 6,26 poin, sedangkan saham sektor pertambangan dan perkebunan terkoreksi masing-masing 18 poin dan 4,72 poin. Sedangkan, Jakarta Islamic Indeks (JII) naik tipis 0,718 poin ke posisi 417,182 dan indeks LQ45 naik 2,743 poin ke posisi 498,288.

Volume perdagangan saham Rabu (30/12/2009) sore tercatat sebanyak 2,803 miliar lembar saham senilai Rp2,111 triliun, dengan total transaksi mencapai 63.996 kali. Saham yang ditutup menguat 102 jenis saham, melemah 80 jenis saham, dan stagnan 84 jenis saham.(css)

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) membuka perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia awal tahun 2010. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan dengan kenaikan tipis.

Pada perdagangan Senin (4/1/2010), IHSG dibuka menguat tipis 6,630 poin (0,26%) ke level 2.540,986. Kenaikan IHSG pada awal perdagangan didorong oleh kenaikan saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar Rp 75 menjadi Rp 4.775 pada nilai transaksi Rp 29,9 miliar.

Presiden SBY yang membuka perdagangan saham mengucapkan terima kasihnya kepada semua pihak khususnya seluruh elemen di pasar modal seperti karyawan BEI dan lainnya atas pencapaian kinerja pasar saham yang baik pada tahun lalu. Pada tahun 2009, IHSG tercatat menguat hingga 86%.

“Ini patut kita syukuri dan semoga di tahun ini prestasinya akan mencapai lebih baik dengan kerja keras kita semua,” ujar presiden yang mengenakan baju batik tersebut.

Hadir dalam kesempatan pembukaan perdagangan saham hari ini adalah Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Menkeu Sri Mulyani, Mendag Mari Elka Pangestu, Menneg BUMN Mustafa Abubakar, Ketua Bapepam LK Fuad Rahmany, Menneg PPN/Kepala Bappenas Armida Alisjahbana.

Jelang pembukaan, lantai perdagangan bursa nampak cantik. Terdapat hiasan kelambu merah berselimut emas menutup salah satu sisi lantai bursa. Suasana perdagangan lebih meriah dengan iringan paduan suara dan rangkaian tabuhan perkusi dari Duta Mutiara Citra.

Sumber: detikcom

Senin, 04/01/2010 00:00 WIB

Efek Januari gerakkan bursa saham

oleh :

JAKARTA: Ekspektasi pemulihan ekonomi 2010 dan January Effect diperkirakan menjadi batu loncatan bagi pemodal untuk memanfaatkan momentum masuk pasar saham guna mengantisipasi rally pada 2010.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia berpotensi menguat dengan mengandalkan sektor komoditas, terutama saham sektor batu bara.

Kepala Riset PT E-Capital Securities Aan Budiarto mengatakan perdagangan pada pekan pertama awal tahun ini secara historis menjadi barometer pemodal dalam memandang pergerakan bursa sepanjang tahun berjalan.

“Ada kecenderungan kuat indeks saham naik pada pekan pertama tahun ini karena pemodal sangat optimistis memandang bursa saham nasional. Tren kenaikan masih terjaga meski tidak seagresif pada triwulan III/2009,” tuturnya kepada Bisnis kemarin.

Meski demikian, lanjutnya, pemodal mencermati kejutan dari ranah politik yang mengganggu fenomena historis pengangkat bursa, yakni January Effect. Fenomena ini ditandai kenaikan kembali harga saham karena para pemodal membeli kembali saham yang dijual akhir tahun sebelumnya.

Dia memproyeksikan IHSG bergerak ke kisaran level psikologis 2.500 pada pekan ini karena khawatir masih ada gejolak di ranah politik. “January Effect terjadi dalam situasi normal ketika tidak ada gangguan sisi keamanan dan politik. Jika tensi politik masih tinggi, fenomena itu kemungkinan tidak terjadi,” ujar Aan.

Bloomberg melaporkan kenaikan bursa telah terlihat pada mayoritas bursa Asia Pasifik menjelang pergantian tahun lalu. Indeks Morgan Stanley Capital (MSCI) kawasan Asia Pasifik menguat untuk ke-dua pekan, menjadi kenaikan tertinggi sejak 2003.

Tertinggi kedua

Rerata indeks kawasan Asia Pasifik pada akhir pekan lalu naik 0,7% menjadi 120,45 setelah sepanjang 2009 naik 34%, atau kenaikan tertinggi sejak 2003. Shenzhen menduduki posisi kenaikan tertinggi sebesar 115,27%, diikuti IHSG 85,85%, dan Mumbai 80,38%.

Ekspektasi positif pasar atas ekonomi 2010 terekam dari kenaikan indeks Dow Jones di Amerika Serikat (AS) sebesar 18,8%, atau yang pertama sejak dua tahun terakhir. “Secara umum, pemodal lebih santai sekarang. Pertanyaannya sekarang, apa yang terjadi pada 2010 ketika kita latar belakang ekonomi kuat, tetapi dengan kondisi likuiditas mengetat?” tutur Manajer Investasi Platypus Asset Management Prasad Patkar.

Perdagangan surat utang negara (SUN) di pasar sekunder pekan ini diprediksi lebih sepi, di bawah level Rp2 triliun per hari.

Head of Fixed Income Division PT Anugerah Securindo Indah Ramdhan Ario Maruto menilai perdagangan yang relatif sepi tersebut tidak akan menggerakkan harga dan imbal hasilnya (yield), sehingga diprediksi masih mendatar (side ways). Pergerakan harga dan yield di pasar obligasi saling bertolak belakang. (Irvin Avriano Arief) (arif.gunawan@bisnis. co.id)

Oleh Arif Gunawan S.

Bisnis Indonesia

bisnis.com
Prediksi IHSG
Akumulasi Saham Papan Atas
Sahamnya seperti PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) & PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI)
SENIN, 4 JANUARI 2010, 06:17 WIB
Antique

pialang di bursa saham (Rosa Panggabean)
BERITA TERKAIT
IHSG Menuju Bonus Akhir Tahun
Akumulasi Saham Komoditas Unggulan
Akumulasi Saham Unggulan BUMN
Jelang Libur Natal, Bursa Minim Transaksi
Tekanan Jual Diperkirakan Mulai Mereda
Web Tools

VIVAnews – Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia berpotensi mengawali transaksi awal tahun ini dengan pergerakan mendatar cenderung terkoreksi. Namun, saham-saham papan atas (blue chips) masih menjanjikan untuk diakumulasi.

“Aksi profit taking (ambil untung) pemodal bakal menyertai langkah awal IHSG di 2010,” ujar Kepala Riset PT Paramitra Alfa Sekuritas Pardomuan Sihombing kepada VIVAnews di Jakarta, Kamis sore, 31 Desember 2009.

Dia memproyeksikan, indeks Senin, 4 Januari 2010, berpotensi bergerak tipis di level batas bawah (support) 2.500/2.480 dan batas atas (resistance) 2.560/2.580.

Pada transaksi Rabu, 30 Desember 2009, indeks kembali berakhir positif karena berhasil tembus di posisi 2.534,36, terangkat 15,36 poin (0,60 persen) dari perdagangan Selasa, 29 Desember 2009, yang menguat 9,30 poin atau 0,37 persen ke level 2.518,99.

Bursa Asia saat IHSG tutup bergerak variatif. Indeks Hang Seng turun 2,82 (0,01 persen) ke level 21.496,62, Nikkei 225 melemah 91,62 atau 0,86 persen menjadi 10.546,44, dan Straits Times terangkat 7,95 persen (0,28 persen) di posisi 2.878,49.

Sementara itu, bursa Wall Street pada perdagangan Kamis sore waktu New York, atau Jumat dini hari WIB kembali negatif. Indeks harga saham Dow Jones terhempas 120,46 poin (1,14 persen) menjadi 10.428,05, indeks harga saham indikator Standard & Poor’s 500 turun 11,32 poin atau 1,00 persen ke level 1.115,10, dan indeks harga saham teknologi Nasdaq terkoreksi 22,13 poin (0,97 persen) di posisi 2.269,15.

Menurut Pardomuan, IHSG awal perdagangan 2010, diperkirakam berfluktuasi (mixed) dengan kecenderungan melemah. Hal itu akibat masih minimnya sentimen positif penggerak indeks, baik dari domestik maupun mancanegara.

Dia mengakui, tekanan jual akibat adanya aksi profit taking pelaku pasar juga diperkirakan terjadi di awal transaksi tahun ini. Terutama, setelah IHSG berakhir menguat di level tertinggi baru di 2009.

Rekomendasi
Pardomuan menyarankan, akumulasi saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) seiring fundamental dan kinerja yang baik.

“Saham dengan kode JSMR (PT Jasa Marga Tbk) juga layak beli,” kata dia.

antique.putra@vivanews.com
Senin, 04/01/2010 06:25 WIB

Inilah jurus investasi pada Tahun Macan

oleh : Sylviana Pravita R.K.N.

JAKARTA (bisnis.com): Sebanyak tujuh saham direkomendasikan sebagai top picking pada tahun ini, yaitu PGAS, JSMR, BBCA, BMRI, BBNI, UNVR dan INDF. Bulan ini, indeks diproyeksikan tidak secerah Desember 2009, January Effect tidak terjadi. Namun, di akhir tahun indeks diprediksi bisa menembus level 2.800.

Kepala Riset PT Paramitra Alfa Sekuritas Pardomuan Sihombing mengatakan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia pada pekan pertama diproyeksikan bergerak pada level 2.450-2.560 dengan diwarnai aksi profit taking.

“Indeks masih minim sentimen, sehingga justru kecenderungan terjadinya profit taking akan besar pada bulan pertama tahun ini. Kenaikan indeks pada Desember 2009 menembus 4,95% dibandingkan dengan November 2009. Dari pertumbuhan itu, saya melihat fenomena January Effect cenderung tidak akan terjadi,” kata Pardomuan, kepada bisnis.com, akhir pekan lalu.

Pardomuan memaparkan korelasi negatif antara Desember ke Januari terjadi dalam tiga tahun terkhir. Jadi, apabila Desember positif, Januari tahun berikutnya akan mencetak pertumbuhan negatif. “Dalam 3 tahun terakhir di Indonesia yang terjadi bukan January Effect tapi December Effect,” ujarnya.

Beberapa sentimen negatif yang menguat pada Januari ini dari faktor global adalah pertama, ekonomi AS yang belum terkonfirmasi mengarah pada pemulihan.

Kedua, harga komoditas yang masih bergerak menyamping (sideways) terkait dengan suplai yang stabil dan permintaan pasar yang jatuh. Ketiga, kemungkinan gagal bayar Dubai World yang masih berlanjut membayangi.

Dari domestik adalah pertama, pasar menunggu akhir dari kasus Bank Century dan berhentinya baku hantam para politisi Tanah Air. Kedua, reformasi birokrasi dan infrastruktur. Ketiga, stabilitas mesin fiskal dan moneter.

Terkait dengan belum terkonfirmasinya kondisi-kondisi tersebut, saham yang menjadi top picking sepanjang tahun ini adalah saham-saham berkapitalisasi besar, karena lebih defensif dengan pendapatan yang stabil dari sisi fundamental.

Saham-saham tersebut adalah saham di sektor infrastruktur, perbankan dan kebutuhan rumah tanggan (consumer goods). “Secara spesifik saya melihat saham PGAS, JSMR, BBCA, BMRI, BBNI, UNVR dan INDF. Untuk sektor komoditas, saya perkirakan terlalu fluktuatif, jadi strategi untuk saham komoditas adalah trading saja,” katanya.

Investasi terbaik lainnya pada tahun ini adalah pada surat utang atau obligasi terkait dengan BI Rate yang masih berkisar 6,5%.

“Sepanjang BI Rate masih 6,5%, bond masih menarik. Kapitalisasi bond sebesar Rp600 triliun, di mana surat utang negara Rp520 triliun dan korporasi Rp80 triliun dengan demand yang sangat besar. Jadi, ada obligasi apapun langsung beli saja, karena pasti akan naik akibat demand itu,” ujarnya.

Dia menuturkan pemodal dari dana pihak ketiga, asuransi, reksa dana, dana pensiun dan fund asing punya kocek bernilai hingga Rp2.000 triliun. Permintaan dari pemodal besar itulah yang akan mendorong pasar obligasi.

Selanjutnya, bagi korporasi yang ingin melantai di bursa, semester I/2009 dinilai merupakan momentum yang paling tepat. Penawaran umum perdana (initial public offering/ IPO) pada semester II/2009 berpotensi menghadapi tantangan berupa kenaikan inflasi yang mendorong naiknya suku bunga.

“Penggalangan dana melalui IPO tampaknya akan menurun. Begitu juga melalui rights issue [penerbitan saham baru]. Tapi, emisi obligasi akan besar sekaligus menarik bagi investor,” tutur Pardomuan.

IHSG 2010 tembus level 2.800
Pada tahun ini, apabila suku bunga The Fed masih bertahan pada level 0,25% dan BI Rate 6,5%, indeks harga saham gabungan (IHSG) berpeluang menebus 2.800. Namun, bila The Fed dan BI Rate naik, indeks akan anjlok ke level 2.000.

Adapun, IHSG BEI pada akhir perdagangan 30 Desember 2009 ditutup pada posisi 2.534,35 poin atau naik 86,90% dibandingkan dengan indeks penutupan pada akhir hari perdagangan tahun 2008 yang berada pada posisi 1.355,40.

Kontribusi terbesar dari kenaikan IHSG itu adalah sektor aneka industri (160%) dengan kenaikan terbesar bagi saham PT Astra Internasional Tbk (ASII). Selanjutnya, kenaikan saham-saham sektor pertambangan hingga 150%. Kenaikan tersebut menunjukkan pasar modal Indonesia menarik dan mampu mengundang investor untuk menggulirkan modalnya.

Nilai kapitalisasi pasar dan transaksi saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) naik 86,41% dari Rp 1.076,5 triliun pada akhir perdagangan 2008 menjadi Rp2.006,7 triliun per 29 Desember 2009.

Adapun, dari sisi total nilai transaksi saham di BEI sampai dengan 29 Desember 2009 mencapai Rp973 triliun mengalami penurunan sebesar 8,6% dibandingkan dengan total nilai transaksi 2008 sebesar Rp1.064,50 triliun.

Selain itu, nilai transaksi rata-rata harian saham di BEI tahun ini juga mengalami penurunan sebesar 8,78%, dari Rp4,44 triliun per hari pada 2008 menjadi sebesar Rp4,05 triliun per hari pada 2009.
Senin, 04/01/2010 07:14 WIB
IHSG Siap-siap January Effect
Nurul Qomariyah – detikFinance

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada 30 Desember 2009 lalu ditutup pada titik tertingginya sepanjang tahun 2009. IHSG juga mencatat kenaikan tertinggi kedua di kawasan Asia Pasifik.

Pada perdagangan Rabu (30/12/2009), IHSG ditutup menguat 15,362 poin (0,61%) ke level 2.534,356. Sepanjang 2009, IHSG tercatat naik 86,98%, tertinggi kedua setelah Bursa Shenzen yang mencetak kenaikan 115,27% atau tertinggi di kawasan Asia Pasifik.

Sementara Bursa Wall Street pada penutupan perdagangan 31 Desember 2009 justru melemah dalam volume perdagangan yang sangat tipis.

Pada perdagangan Kamis (31/12/2009), indeks Dow Jones industrial average (DJIA) ditutup melemah 120,46 poin (1,14%) ke level 10.428,05. Indeks Standard & Poor’s 500 melemah 11,32 poin (1%) ke level 1.115,10 dan Nasdaq melemah 22,13 poin (0,97%) ke level 2.269,15.

Namun secara tahunan, indeks Dow Jones menguat 18,8%, S&P 500 menguat 23,5% dan Nasdaq menguat 43,9%. Ini adalah kenaikan indeks pertama sejak 2 tahun terakhir. Indeks S&P 500 pada tahun 2008 bahkan merosot hingga 38,5%.

Secara total, sepanjang 2009 harga saham-saham dunia naik hingga 30% atau 72% kenaikan jika dihitung sejak Maret. Sejak awal Maret 2009, investor memang kembali memburu saham-saham atas dasar dua keyakinan yakni sistem finansial tidak akan kolaps layaknya era Great Depression dan aset-aset berisiko tinggi seperti saham dan obligasi berimbal hasil tinggi sudah mengalami aksi jual terlalu besar.

Untuk tahun 2010, investor kemungkinan akan menghadapi sedikit tantangan tidak seperti di tahun 2009. Pada tahun lalu, sebagian orang cukup menempatkan dana-dananya di aset berisiko yang sudah mengalami oversold dan tunggu saja hingga mereka mengalami kenaikan harga sendiri.

Namun untuk 2010, investor harus melakukan seleksi secara selektif dan menentukan pemilihan waktu. Investpr pasar saham harus lebih selektif untuk melakukan aksi beli, meski jika mereka masih percaya saham-saham akan naik harganya.

Pooling Reuters menunjukkan, sebagian investor memperkirakan saham-saham masih akan naik pada tahun 2010 meski tidak pada tingkat yang sama seperti yang pernah mereka lihat.

Analis dari Credit Suisse mengatakan, perusahaan dengan tingkat utang yang rendah dan divident tinggi, cash flow yang bebas serta pangsa pasar yang kuat diperkirakan akan terus menanjak.

Semengara Guy Wagner, manager dari Banque de Luxembourg menyatakan hal yang sama, dan melihat saham-saham dari sektor defensif seperti utilitas akan menarik perhatian.

“Hal ini membuat banyak kebijakan untuk keluar dari saham-saham yang sangat bersiklus dan menuju ke saham-saham yang lebih defensif serta menbayar dividen,” ujar Wagner seperti dikutip dari Reuters.

Bagaimana dengan Bursa Indonesia di awal tahun ini?

Investor diprediksi masih akan berhati-hati dan melihat pergerakan dari bursa-bursa regional. Namun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal perdagangan Senin (4/1/2010) diprediksi akan bergerak menguat terlebih dahulu seperti pada tahun-tahun sebelumnya.

Seremoni pembukaan perdagangan saham oleh Presiden SBY diharapkan bisa membawa euforia pada awal perdagangan tahun ini. January Effect diharapkan bisa menahan laju IHSG di teritori positif.

Bursa Jepang juga mengawali perdagangan awal tahun 2010 dengan kenaikan yang cukup baik. Indeks Nikkei-225 pada perdagangan Senin ini dibuka naik 62,90 poin (0,60%) ke level 10.609,34.

(qom/qom)

bisnis.com
Tren Positif, Tahun Depan IHSG Masuk Kisaran 3.000 hingga 3.200
Rabu, 30 Desember 2009 19:11 WIB 300 Dibaca | 0 Komentar
JAKARTA–MI: Penutupan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun ini di level 2,535,356 menunjukkan tren positif. Bahkan jika kondisi membaik, IHSG tahun depan bakal bisa berada di kisaran 3.000 hingga 3.200.

Demikian diungkapkan Presiden Direktur PT Kresna Graha Sekurindo Tbk (KREN) Michael Steven di Jakarta, Rabu (30/12). Dia mengungkapkan, periode akhir Oktober 2009 hingga awal Desember 2009 indeks sempat menurun dikarenakan kekhawatiran investor akan suhu politik di Indonesia yang makin memanas. Pada periode tersebut, ujarnya, IHSG cenderung bergerak sideways (menyamping). Namun menjelang tutup tahun, tren penguatan IHSG kembali muncul seiring dengan menyurutnya kasus Bank Century.

Di akhir 2009 ini, Michael menilai, jika tidak ada kisruh politik seperti KPK vs Polri, dan skandal aliran dana Bank Century, IHSG seharusnya bisa ditutup menembus level 2.800 seperti di akhir 2007 lalu di mana indeks ditutup dengan kisaran 2.745,826.

Tahun 2010, Michael optimis jika tidak ada kisruh politik sekelas kasus-kasus tersebut, IHSG bisa menembus level 3000 dengan mudah. “Di tahun depan, kalau tidak ada kisruh politik market kita akan terus tumbuh bahkan bisa mencapai 3.000-3.200,” kata dia. (*/OL-03)

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s