1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

efek bulan pertama itu … 060110 6 Januari 2010

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 11:19 pm

Adakah January Effect di Bursa Indonesia?
Rabu, 6 Januari 2010 – 10:28 wib

Bursa Efek Indonesia saat penutupan perdagangan saham 2009. (Foto: Tangguh Putra/okezone)
Dalam dunia investasi saham, ada satu fenomena mengenai kenaikan harga saham pada bulan Januari, yang dikenal dengan istilah ’January effect’.

Kenaikan tersebut diduga karena adanya peningkatan pembelian oleh para investor yang telah melakukan penjualan saham pada Desember dalam rangka mengurangi pajak atau merealisasikan capital gain.

Penelitian mengenai January effect sudah banyak dilakukan di bursa negara-negara maju maupun berkembang. Hasil penelitian tersebut membuktikan bahwa January effect banyak terjadi di bursa-bursa dunia. Penelitian mengenai January effect pertama kali dilakukan oleh Donald B Keim pada 1983 terhadap indeks Dow Jones dan indeks S&P. Penelitian tersebut menjelaskan bahwa selama periode penelitian terjadi kenaikan harga saham secara keseluruhan pada Januari di kedua indeks tersebut.

Hasil penelitian tersebut juga menjelaskan bahwa saham berkapitalisasi kecil memberikan return lebih tinggi dibandingkan saham berkapitalisasi besar. Fenomena January effect secara statistik dijelaskan terjadi karena adanya pola yang berulang hampir setiap tahun. Alhasil, banyak investor memanfaatkan pola tersebut untuk menyusun strategi dalam mendulang keuntungan di bursa saham. Bila suatu pola sudah banyak yang mengetahui dan banyak investor mengantisipasinya secara bersamaan, maka pola tersebut akan hilang secara perlahan. Meskipun telah banyak informasi dan penelitian mengenai January effect, pola tahunan (seasonal) tersebut masih terjadi sampai saat ini.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan selama periode 1989 sampai Maret 2009, diketahui bahwa bursa Indonesia pada bulan Januari juga mengalami return yang positif. Namun, secara seasonal ditemukan bahwa Desember (lihat gambar) memberikan return paling tinggi dibandingkan bulan-bulan lain. Hal tersebut dapat diartikan bahwa investor di Indonesia telah mengantisipasi January effect yang telah menjadi fenomena bursa-bursa di dunia. Investor mengantisipasi dengan mengakumulasi saham-saham menjelang akhir tahun, sehingga terjadi peningkatan harga di bulan Desember.

Hal ini disinyalir karena masih rendahnya pajak untuk berinvestasi di pasar saham Indonesia, sehingga investor tidak menjual sahamnya menjelang akhir tahun, bahkan meningkatkan portofolionya untuk mengantisipasi fenomena January effect yang terjadi di bursa dunia. Jadi, dapat dikatakan bahwa yang terjadi di bursa Indonesia bukan January effect, melainkan December effect. Secararata-rata, bulan Januari memberikan return 3,31 persen. Meski tergolong besar, angka tersebut masih kalah dibandingkan Desember, yang memberikan return paling besar,yaitu 4,67 persen.

Hal menarik lain yang terjadi di bursa Indonesia adalah secara seasonalbulanAgustus, September, dan Oktober mengalami return negatif. Penurunan yang terjadi diduga lantaran minimnya berita yang masuk ke bursa dan investor menunggu kinerja emiten di sekitar bulan-bulan tersebut. Dengan pola seasonal yang terbentuk di bursa Indonesia,investor dapat menerapkan strategi mengakumulasi saham di bulan bulan tersebut dan melakukan profit taking di sekitar Mei-Juni.

Investor harus mewaspadai bahwa pola seasonal tersebut merupakan rata-rata kinerja secara bulanan pada masa lalu dan pergerakan bursa ke depan, tergantung informasi yang masukke bursa di masa yang akan datang. Kinerja bursa masa lalu dapat menjadi ekspektasi kinerja di masa yang akan datang. Pola seasonal yang masih terbentuk signifikan mengindikasikan masih belum efisiennya bursa tersebut. Belum efisiennya suatu bursa akibat masih kecilnya partisipan bursa, baik investor maupun emiten.

Masih belum meratanya informasi yang diterima investor akibat sosialisasi dan edukasi investor yang disebabkan teknologi informasi yang lemah dan masih belum diterapkannya penegakan hukum secara tegas bila terjadi kebocoran informasi juga ikut mendukung belum terciptanya bursa yang efisien. Bursa yang tidak efisien sangat disenangi investor-investor yang sudah sophisticated, karena mereka dapat mengantisipasi pergerakan bursa ke depan dengan mempelajari pola-pola seasonal dan kelemahan yang terjadi di bursa.

Dengan diketahuinya pola seasonal yang terjadi di bursa saham investor dapat menerapkan strategi market timing untuk masuk dan keluar dari bursa saham, sehingga mendapatkan return optimal. Adapun bagi para penjamin emisi (underwriter) dan perusahaan yang berniat melakukan penawaran saham perdana (initial public offering /IPO) dapat memanfaatkan pola tersebut agar IPO berlangsung sukses. (*)

Pardomuan Sihombing
Head of Research Paramitra Alfa Sekuritas (Koran SI/Koran SI/rhs)

Iklan
 

domestik LEBE baek dah … 060110

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 12:54 pm

06/01/2010 – 11:43
Bisnis Model Emiten BEI Tarik Investor Asing

INILAH.COM, Jakarta – Bisnis modal emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang domestic oriented menarik masuknya investor asing yang membuat perdagangan Bursa sangat positif di awal tahun 2010 ini.

Hal ini disampaikan Kepala Riset e-Trading Securities Surya Chandra Kasih kepada INILAH.COM, Rabu (6/1). Menurutnya, emiten domestik yang tidak terpengaruh oleh investor asing menunjukkan kuatnya fundamental ekonomi Indonesia. “Ini yang membuat investor global terterik ke Indonesia,” ujarnya.

Itu juga ditunjukkan tingkat urbanisasi yang meningkat di Indonesia. “Kondisi ini sangat menguntungkan emiten di Indonesia,” tukasnya.

Surya juga melihat Bursa Indonesia masih sangat bagus di 2010 ini. “Saya yakin IHSG kita masih tetap menjadi top perform di Asia,” katanya. [cms]

 

ihsg dilanda ambil laba … 060110

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 12:43 pm

Transaksi BEI Rp 5,1 Triliun
Investor Asing Net Buying Rp 644 Miliar
Meski IHSG akhirnya melemah, minat asing untuk mengakumulasi beli saham masih cukup besar.
RABU, 6 JANUARI 2010, 16:27 WIB
Arinto Tri Wibowo

Pialang di lantai Bursa Efek Indonesia (VIVAnews/Tri Saputro)
BERITA TERKAIT
Tembus 2.600, IHSG Tertinggi Sejak Maret 2008
Investor Asing Net Buying Rp 390 Miliar
Prestasi Bursa 2009, Tak Sentuh Sektor Riil
3 Resep SBY Selamatkan Indonesia dari Krisis
Lagu SBY Menggema Saat Pembukaan Bursa 2010
Web Tools

VIVAnews – Sepanjang transaksi Rabu 6 Januari 2010, investor asing di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan nilai transaksi pembelian saham yang cukup besar.

Meski indeks harga saham gabungan (IHSG) akhirnya ditutup melemah 1,98 poin (0,07 persen) ke level 2.603,29, minat asing untuk mengakumulasi beli saham masih cukup besar.

Berdasarkan data transaksi di BEI, investor asing membukukan pembelian saham di pasar reguler senilai Rp 1,43 triliun dan penjualan Rp 789,62 miliar. Dari data tersebut, investor asing mencatatkan pembelian bersih (net buying) sekitar Rp 644 miliar.

Investor asing memborong saham sebanyak 1,48 juta lot dengan frekuensi 17.784 kali. Sementara itu, volume penjualan hanya 806,57 ribu lot dengan frekuensi 7.131 kali.

Broker asing yang mencatatkan nilai transaksi terbesar adalah PT Kim Eng Securities (ZP) senilai Rp 652,03 miliar, PT Credit Suisse Securities Indonesia (CS) sebesar Rp 638,82 miliar, dan PT CLSA Indonesia (KZ) membukukan Rp 617,95 miliar.

Sedangkan PT CIMB Securites Indonesia (YU) mencatatkan nilai transaksi Rp 526,74 miliar.

arinto.wibowo@vivanews.com

• VIVAnews
06/01/2010 – 16:05
BUMI Tak Mampu Topang Indeks
IHSG Berakhir Runtuh 1,98 Poin
Susan Silaban

INILAH.COM, Jakarta – Walaupun saham Bumi Resources Tbk (BUMI) berada dalam zona hijau, namun kegigihan BUMI tak mampu topang  indeks. IHSG pun berakhir runtuh 1,98 poin (0,08%) ke level 2.603,3.

Walaupun indeks dalam zona merah, namun nilai transkasi dan volume perdagangan masih menggeliat. Terbukti, volume perdagangan menyentuh 5,286 miliar lembar saham dengan nilai Rp4,765 triliun yang ditopang oleh 94 saham menguat, 98 saham koreksi dan 71 saham masih stagnan.

Satu hari perdagangan kali ini di hari ketiga perdagangan IHSG, sektor komoditas pun tak mampu menjadi lokomotif bagi indeks. Sektor pertambangan beakhir posifit naik 31,56 poin ke level 2.345, bergitu juga dengan sektor pertanian naik 13,66 poin ke level 1.848. Sayang, sektor perbankan koreksi 3,03 poin ke level 307,89.

Di sisi lain, indeks saham LQ45 berakhir turun 1,05 poin ke level 513,21, namun tak begitu dengan indeks saham JII naik 1,19 poin ke level 431.

Adapun saham-saham yang masuk dalam top gainer antara lain, Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) naik Rp400 ke Rp18.200, PT Indocement Tunggal Prakasa Tbk (INTP) naik Rp150 ke Rp14.200, serta Bumi Resources Tbk (BUMI) pun naik Rp90 ke Rp2.750.

Sementara itu, saham-saham yang masuk dalam top looser antara lain, Delta Djakarta (DLTA) turun Rp1.000 ke p63.000, Gudang Garam Tbk (GGRM) turun Rp450 ke Rp21.300, Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) turun Rp300 ke Rp33.000, serta Astra Internasional Tbk (ASII) pun koreksi Rp200 ke Rp35.300. [san/cms]

06/01/2010 – 12:06
Merah di Asia
IHSG Sesi 1 Ditutup Lesu 1,31 Poin
Susan Silaban

(inilah.com /Agung Rajasa)
INILAH.COM, Jakarta – Sudah dua hari pada awal 2010, indeks melaju kencang hingga menebus 2.600 dan kini dilanda aksi profit taking. IHSGsesi 1 pun ditutup koreksi tipis 1,31 poin (0,05%) ke level 2.603,97.

Indeks pun merah sendirian dibandingkan indeks di kawasan Asia. Analis CIMB Securities Mastono Ali memprediksi, pagi ini sepertinya memberikan insentif beli bagi indek pada sesi pagi ini, namun ada peluang mengalami profit taking memasuki sesi siang dan closing karena BI rate nanti siang yang sepertinya akan bertahan di 6.5% sudah diprediksi oleh pasar dan tidak terpengaruh besar.

Separuh hari ini, nilai transaksi dan volume perdagangan cukup besar. Nilai transaksi bisa menebus Rp2,852 triliun dengan volume perdagangan mencapai 3,298 miliar lembar saham yang ditopang oleh 74 saham melanjutkan penguatan, 86 saham kembali melemah, dan 74 saham masih stagnan.

Aksi profit taking oleh sejumlah sektor perkebunan tak mampu menjadi lokomotif indeks. Terbukti, sektor perkebunan tak bernyali ditutup koreksi 1,70 poin ke level 1.833,56. Lain halnya dengan sektor pertambangan yang mampu naik 14,21 poin ke level 2.328,32. Sayang sektor perbankan pun ditutup koreksi 2,42 poin ke level 308,5.

Begitu juga dengan saham-saham yang bergabung dalam LQ45 pun koreksi tipis 0,48% ke level 513,78, namun indeks saham JII berhasil menguat 0,94 poin ke level 431.

Siang ini, ada saham-saham yang masuk dalam top gainer antara lain, Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) naikRp450 ke Rp33.750, Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) pun berhasil naik Rp300 ke Rp18.100, Semen Gresik Tbk (SMGR) naik Rp200 ke Rp7.900, Astra International Tbk (ASII) pun naik Rp50 ke Rp35.550,

Sementara itu, saham-saham yang masuk dalam top Looser, yakni PT Delta Djakarta Tbk (DLTA) turun Rp1.000 ke Rp63.000, Gudang Garam Tbk (GGRM) turun Rp200 ke Rp21.550, Bank Mandiri Tbk (BMRI) turun 100 ke Rp4.775. [san/cms]
Sesi I Tutup
Meski Terkoreksi, IHSG Tetap di Level 2.600
Sedangkan bursa Asia saat IHSG tutup bergerak positif seperti indeks Hang Seng dan Nikkei.
RABU, 6 JANUARI 2010, 12:15 WIB
Antique

Bursa Efek Indonesia (VIVAnews/Tri Saputro)
BERITA TERKAIT
IHSG Tembus Level 2.600
IHSG Menguat 22 Poin
Sempat Merah, IHSG Tembus Level Tertinggi
Sempat Terkoreksi, IHSG Masih Kuat
Saham Komoditas Angkat IHSG
Web Tools

VIVAnews – Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia kembali terkoreksi, setelah dua hari terakhir berhasil menembus level tertinggi baru.

Menurut riset PT CIMB Securities Indonesia yang diterima VIVAnews hari ini, peluang aksi ambil untung (profit taking) investor dalam memasuki sesi siang sudah diprediksi sebelumnya. Pasalnya, suku bunga acuan BI rate yang akan diumumkan siang ini sudah diprediksi.

Sekuritas tersebut mengakui, pasar sudah memprediksikan BI rate akan bertahan di 6,5 persen, sehingga tidak berpengaruh besar terhadap pergerakan IHSG.

Indeks akhir sesi I Rabu, 6 Januari 2010, melemah 1,31 poin atau 0,06 persen ke level 2.603,97, dari awal transaksi pagi tadi yang menguat 6,63 poin (0,25 persen) ke level 2.611,91.

Total nilai transaksi yang dibukukan mencapai Rp 3,02 triliun dan volume tercatat 6,65 juta lot, dengan frekuensi 75.234 kali. Sebanyak 74 saham menguat, 87 melemah, 73 stagnan, serta 245 saham tidak terjadi transaksi.

Saham-saham unggulan yang melemah cukup besar antara lain PT Gudang Garam Tbk (GGRM) turun Rp 200 (0,91 persen) di posisi Rp 21.550, PT United Tractors Tbk (UNTR) terkoreksi Rp 100 atau 0,62 persen menjadi Rp 16.00, dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) melemah Rp 100 (2,05 persen) ke level Rp 4.775.

Sedangkan bursa Asia saat IHSG tutup bergerak positif. Indeks Hang Seng naik 186,17 poin (0,84 persen) di posisi 22.465,75, Nikkei 225 terangkat 72,59 atau 0,68 persen menjadi 10.754,42, dan Staits Times menguat 14,77 (0,51 persen) ke level 2.935,00.

Sementara itu, berdasarkan data transaksi perdagangan Bloomberg, rupiah pukul 12.00 WIB, berada di posisi 9.290 per dolar AS. Sedangkan menurut data RTI, mata uang lokal tersebut berada di level 9.306/US$.

antique.putra@vivanews.com
Rabu, 06/01/2010 12:07 WIB

Saham bank giring IHSG turun 0,05% ke 2.603,97

oleh : Pudji Lestari

JAKARTA (Bisnis.com): Indeks harga saham gabungan (IHSG) turun tipis 0,05% atau 1,31 poin ke level 2.603,97 pada penutupan perdagangan sesi I siang ini, saham perbankan memimpin penurunan.

Sebanyak 82 saham tercatat turun, lebih banyak dari jumlah saham yang membukukan kenaikan sebanyak 69 saham. Sebanyak 244 saham lainnya stagnan. Indeks menjejak ke level tertingginya hari ini di level 2.622,12, dan terendah 2.599,63 setelah dibuka di level 2.605,48.

Saham tiga bank terbesar nasional memimpin penurunan indeks. Saham PT Bank Central Asia Tbk turun Rp125 menjadi Rp4.975, mengurangi indeks 3,97 poin. Di belakangnya, saham PT Bank Mandiri Tbk yang turun Rp75 menjadi Rp4.800 mengurangi indeks 2,03 poin, disusul saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk yang turun Rp100 menjadi Rp7.750. Saham BRI menggerus indeks 1,59 poin.

Kenaikan saham berbasis energi tak kuasa menahan penurunan saham perbankan. Saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk dan PT Semen Gresik Tbk menjadi pemimpin kenaikan indeks dengan kontribusi sebesar 1,58 poin dan 1,16 poin. Harga saham PGAS naik Rp50 ke level Rp4.000, sedangkan saham SMGR naik Rp150 menjadi Rp7.850.

Saham produsen batu bara yang kemarin membawa IHSG menembus level psikologis 2.600, siang ini masih menguat. Saham PT Tambang Batu Bara Bukit Asam Tbk naik Rp300 ke level Rp18.100, PT Indo Tambangraya Megah Tbk melonjak Rp450 menjadi Rp33.750, PT Bumi Resources Tbk juga naik Rp25 menjadi Rp2.700, sedangkan saham PT Adaro Energy Tbk merangkak Rp10 menjadi Rp1.800. Saham PTBA menambah indeks sebesar 0,90 poin, ITMG 0,66 poin, BUMi 0,63 poin, sedangkan ADRO 0,42 poin.

bisnis.com

• VIVAnews

 

seharusnya kecurangan DIGEBUK aja … 060110

Filed under: Investasi dan Risiko — bumi2009fans @ 8:33 am

Selasa, 05/01/2010 15:45 WIB

IPEI minta pialang junjung kode etik

oleh : Arief Novianto

SEMARANG (Bisnis.com): IPEI Komda Semarang mendesak seluruh pialang pasar modal agar mengedepankan kode etik dan peraturan yang berlaku, menyusul terjadinya tindak kecurangan yang berpotensi melemahkan minat investasi di bidang ini.

Tindak kecurangan itu a.l. terjadi dalam kasus penggelapan saham yang merugikan sekitar 10 nasabah PT Investindo Nusantara Securities (INS) Cabang Semarang oleh oknum pialang sekaligus kepala cabang perusahaan itu, dengan nilai sekitar Rp12 miliar.

Kasus serupa yang menyebabkan terjadinya kerugian nasabah pasar modal selama 2009 juga tercatat pada PT Sarijaya Securities, PT Optima Securities dan PT Antaboga Securities.

“Kami mendesak seluruh pialang pasar modal untuk dapat mengedepankan kode etik dan ketentuan yang berlaku. Jangan hanya karena kepentingan pribadi mengotori kinerja bisnis ini yang dapat berdampak pada melemahnya minat investasi masyarakat,” kata Ketua Ikatan Pialang Efek Indonesia (IPEI) Komda Semarang Hari Prabowo kepada Bisnis.com, hari ini.

Dia mengatakan kasus PT INS yang terjadi sekitar Oktober 2009 lalu itu hingga kini masih dalam proses pengadilan. Namun, tambahnya, pemberitaan sejumlah media di kota ini yang cenderung tidak berdasarkan klarifikasi pihak-pihak terkait terhadap ekspose kasus itu berpotensi menimbulkan pencitraan negatif terhadap aktivitas pasar modal bagi masyarakat.

Menurut dia, pada kasus itu jelas terjadi penyalahgunaan wewenang oleh oknum pialang PT INS yang dilatarbelakangi oleh kepentingan pribadinya, sehingga menyebabkan sejumlah nasabah kehilangan sahamnya.

Selain itu, oknum pialang PT INS itu juga bertanggung jawab terhadap terjadinya pemindahan saham dari rekening nasabah satu ke nasabah lainnya, karena dilakukan tanpa pemberitahuan dan diiringi pemalsuan keterangan.(er)

bisnis.com

 

tambank, semen n infrastruktur DISURUNK-surunk tukh : 060110

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 8:07 am

06/01/2010 – 06:00
Sektor Tambang, Semen & Infrastruktur Topang IHSG 2010
Agustina Melani

INILAH.COM, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang ditutup pada level 2.605 pada Selasa (5/1) dengan nilai transaksi harian saham mencapai Rp4,9 triliun didukung faktor kenaikan harga komoditas.

Hal itu disampaikan Kepala Riset PT Mega Capital Danny Eugene, saat dihubungi INILAH.COM, Selasa (5/1). Ia mengatakan, kenaikan IHSG berhubungan dengan kenaikan harga komoditas seperti minyak dan batubara.

Selain itu, banyak fund manager yang mulai mengalokasikan portofolio saham pada awal tahun. “Sentimen pada awal tahun di mana kenaikan harga komoditas berdampak pada sektor pertambangan,” ujar Danny.

Danny menambahkan, perbaikan data ekonomi Amerika Serikat dan China juga berdampak terhadap pasar modal. “Pasar mulai optimis dengan pertumbuhan ekonomi sehingga berdampak terhadap bursa,” kata Danny.

Menurut Danny, sektor pertambangan, semen dan infrastruktur akan menopang IHSG pada 2010. Sektor pertambangan akan menopang IHSG mengingat optimisme pertumbuhan ekonomi akan berdampak pada pertambangan dan energi. Sedangkan infrastruktur dan semen terkait program pemerintah untuk mengembangkan infrastruktur pada 2010. [mel/cms]
Rabu, 06/01/2010 07:34 WIB

Indeks bergerak mixed dan cenderung positif

oleh : Lahyanto Nadie

JAKARTA (bisnis.com): Indeks break level psikologis 2.600 disertai dengan naiknya nilai transaksi mendekati Rp 5 triliun. Kenaikan BUMI sebesar 10,3% menjadi katalis utama.

Optima Sekuritas berpendapat bahwa penguatan nilai tukar rupiah menjadi indikator penting adanya capital inflow. Peluang IHSG menguat di kisaran 2.580-2.630 dan disarankan akumulasi saham yang lagging terhadap pasar.

Sementara itu, Trimegah Securities menilai bahwa IHSG menguat didukung oleh saham unggulan juga dibantu oleh sentimen positif data ekonomi. Volume dan nilai transaksi kembali ke rata-rata 20 hari.

Stochastic di wilayah oversold perlu menjadi perhatian dalam jangka pendek, meski MACD dan RSI menunjukkan ruang untuk tren naik. IHSG diperkirakan bergerak di kisaran 2.576-2.630.

Di sisi lain, Panin Sekuritas berpendapat bahwa rally awal tahun berlanjut setelah IHSG menembus 2.600, menguat 1,15% ke 2.605,27. Menguatnya bursa regional menjadi sentimen positif.

Hari ini diperkirakan indeks bergerak mixed dan cenderung positif. Kisaran support-resistance 2.580-2.621.
Rabu, 06/01/2010 07:39 WIB

Titik topang indeks 2.585 dan resisten 2.615

oleh : Arif Gunawan S.

JAKARTA (bisnis.com): Bursa saham diperkirakan menyimpan potensi kenaikan, menyusul bertahannya optimisme pelaku pasar terhadap masa depan ekonomi Indonesia.

Namun, indeks harga saham gabungan (IHSG) diperkirakan cenderung berkonsolidasi pada hari ini, setelah 2 hari berturut-turut menguat signifikan.

Analis PT Reliance Securities Gina Novrina Nasution mengatakan efek Januari kemungkinan akan membantu memperkuat psikologi pasar, sehingga IHSG masih memiliki ruang penguatan ke depan.

“Secara umum, masih ada potensi penguatan karena kondisi ekonomi Indonesia yang masih positif,” tuturnya, kemarin.

Setelah pekan lalu melewati level psikologis 2.500, indeks kini menembus level psikologis baru pada posisi 2.600 yang merupakan level tertinggi sejak penutupan 5 Maret 2008 pada level 2.639.

IHSG kemarin menguat 29,86 poin (1,15%) ke level 2.605,28. Indeks saham pertambangan naik tertinggi sebesar 2,56% ke level 2.314,102, diikuti saham perkebunan sebesar 1,67%.

Analis PT Kresna Securities Aditiawarman memperkirakan IHSG hari ini secara teknis cenderung berkonsolidasi, setelah menguat 7 hari perdagangan berturut-turut. Hari ini, indeks diduga bergerak dengan titik topang 2.585 dan titik resisten 2.615.

Indeks BISNIS-27 ditutup di level 242,53 atau menguat 0,88% dari posisi penutupan hari sebelumnya. Beberapa saham tambang batu bara seperti Adaro Energy Tbk (ADRO) dan Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) melanjutkan kenaikan masing-masing sebesar 2,29 dan 3,9%. (Harry Setiadi Utomo

Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit)

bisnis.com

 

risiko SISTEMIK lage … 060110

Filed under: Teknik Maen Saham — bumi2009fans @ 7:18 am

Adviser Soapbox
Diversification Is Not Enough
Ken Kam, 01.05.10, 06:45 PM EST
The stock market has belched blood twice in the last decade. Don’t be unprepared the next time it happens.

In the last decade the S&P 500 has suffered two severe drops–one of 46% and the other of 56%–that have ruined many people’s financial plans. We think the next 10 years are going to be more of the same: big booms followed by devastating crashes. If you cannot afford a 50% loss at some point in the next 10 years, you can’t afford a strategy of being 100% invested in the market all the time, even if you have a diversified portfolio.

Why? Because the big risks we are facing are systemic risks from which diversification will not offer much downside protection. In the past, systemic risk was generally ignored and the emphasis was placed on diversifying away other kinds of risks. Now that we have seen that a systemic crisis can result in the whole market losing half its value, we can’t afford to ignore it anymore. For this reason, investors need to pay as much attention to protecting their portfolios as they do to the performance of their portfolios.

The epicenter of the systemic risk we are facing is still the financial sector.

Is your portfolio ready for 2010? Click here for a new special investment report outlining Marketocracy founder Ken Kam’s 2010 game plan, including specific sector picks.

One of the biggest lasting effects of the financial crisis is the collapse of credit for small companies like those in the Russell 2000. This makes the ProShares UltraShort Russell 2000 ETF ( TWM – news – people ) a good choice for investors looking for some protection from another devastating systemic crash. If there is another crisis, small companies will fall hard just like last time, and this leveraged inverse ETF is designed to rise by double the daily drop in the Russell 2000 index.

If, as we all hope, the market is spared another crash, a contracting or slow-growing U.S. economy and a continued lack of bank financing create strong headwinds for small companies. In this scenario, TWM may lose money and you have to look at this as the cost of providing some protection against a system-wide crash. It may help to think about this position like fire insurance for your home. Is fire insurance a bad investment if your house doesn’t burn down? On the contrary, fire insurance enables you to enjoy an asset you could not afford to lose. There is value in that.

At this point, the SWAN (Sleep Well At Night) team has about 8.5% in double-inverse ETFs like TWM. Long positions make up 73% of the portfolio with the balance in cash. Since the 8.5% hedge consists of 2x leveraged ETFs, they offset about 17% of the long positions so the net exposure is about 56%.

The hedge position serves two purposes. It reduces losses in the event of a crash and provides some buying power to take advantage of the low post-crash prices so the portfolio can recover more quickly.

Special Offer: The stock meltdown of 2008 taught investors a hard lesson. Being 100% invested all the time, even with diversification, can lead to disaster. Marketocracy’s new SWAN Advisory (Sleep Well At Night) will tell you how the best online performers are allocating their portfolios. Click here for details.

Using inverse ETFs to hedge is preferable to shorting stocks (which is the conventional way to hedge) because if the market goes up and you start losing money on the hedge, the size of the inverse ETF position shrinks so it hurts you less as the market moves against you. In contrast, a short position that goes against you becomes a bigger position in your portfolio, so the pain increases the more the market moves against you.

Adding a little TWM to your portfolio gives you some protection from a systemic crash and enables you to sleep better at night with your portfolio of stocks even though there is a risk of losing nearly 50% in a crash.

In this era of systemic risk, investors have to protect themselves, because most mutual funds, index funds and ETFs are designed to stay 100% invested no matter what happens.

Ken Kam is founder of Marketocracy.com and Marketocracy Capital Management, a Web site and advisory service tracking the trades of the best online investors. Kam may hold positions in the securities mentioned in this article.

 

LABA itu ADA di maen saham (a) … 060110

Filed under: Teknik Maen Saham — bumi2009fans @ 6:52 am

A guide for the practical investor

So you’re a believer.

You believe there are profits to be made in stocks. You believe you don’t have to pay a high-profile Wall Street banker to make money. You believe the average Joe can earn a healthy fortune using the right system. And you are dead-set on figuring that system out.We agree with you. We believe that with the right tools, anyone can make consistent money in stocks.

And we are going to give you those tools.

A Simple Toolkit for Reliable Returns

In this simple-to-follow, eight-page guide, ChartAdvisor introduces you to five of the most powerful, profitable patterns in stocks.

These stock patterns pave the way 10%, 15%, even 20% gains for each winning trade. True, not the 2000% some people are touting. But it’s darn good money, made using an established strategy, and attainable at relatively low risk. It’s realistic money. And you don’t have to trust your hard-earned cash to some broker’s favorite fad.

In the next few pages, you’ll learn all the skills you need to recognize proven money-making stock patterns, and you’ll get to see these patterns in action.

“I’ve used a variety of … systems, and lost 25% of my portfolio over a 2-3 year period crazily trading hundreds of stocks. When I began using ChartAdvisor and sticking to the rules it made all the difference. The stress of watching stocks is gone, I can do my job without constantly worrying, and I’ve made a 26% return on my portfolio just in the last three months on just a few trades!”

~ B. Hiebert, Canada

We’ll also introduce you to our ChartAdvisor system – Three Simple Steps to Stock Profits. Whether you decide to continue with ChartAdvisor or not, after reading this guide, you’ll …

Discover How To:

1. Identify profitable stock patterns
2. Minimize your risk
3. Maximize your return in up and down markets

Make money on the stock market

You’ll learn how to make big money on stocks using a technical analysis toolkit that has been wielded successfully for hundreds of years. That’s no exaggeration.

That makes these patterns some of the most time-tested strategies in finance. You can feel secure that you are trusting your investments to a highly refined system – not a new craze or an analyst’s hunch.

There are hundreds of patterns in stock charts that traders can look for, but at ChartAdvisor, we focus only on the most trusted.

Profitable Pattern Number One
The Symmetrical Triangle: A Reliable Workhorse

You’ll recognize the symmetrical triangle pattern when you see a stock’s price vacillating up and down and converging towards a single point. Its back and forth oscillations will become smaller and smaller until the stock reaches a critical price, breaks out of the pattern, and moves drastically up or down.

Symmetrical Triangle Pattern
To form your symmetrical triangle pattern, draw two converging trendlines that bound the high and low prices. Your trendlines should form (you guessed it) a symmetrical triangle, lying on its side.

How to Profit from Symmetrical Triangles

Symmetrical triangles are very reliable. You can profit from upwards or downwards breakouts. You’ll learn more about how to earn from downtrends when we talk aboutmaximizing profits.

If you see a symmetrical triangle forming, watch it closely. The sooner you catch the breakout, the more money you stand to make.

Watch For:

• Sideways movement, a period of rest, before the breakout.
• Price of the asset traveling between two converging trendlines.
• Breakout ¾ of the way to the apex.

Set Your Target Price:

As with all patterns, knowing when to get out is as important as knowing when to get in. Your target price is the safest time to sell, even if it looks like the trend may be continuing.

For symmetrical triangles, sell your stock at a target price of:

• Entry price plus the pattern’s height for an upward breakout.
• Entry price minus the pattern’s height for a downward breakout.

ChartAdvisor Symmetrical Triangles in Action

ChartAdvisor has a long history of identifying symmetrical triangle patterns. Over the last two and one-half years, ChartAdvisor has brought to its readers over 20 symmetrical triangle patterns. That’s an average of one every month and a half.

Our readers earned an amazing 40% profit on our Nortel Networks Inc (NT) pick. Those who followed our call on Rochester Medical Corp (ROCM) in September of 2004 earned 15% in 33 days. And in October of 2004, our members earn 11% in 19 days when ChartAdvisor noticed Pan American Silver Corp (PAAS).

Our members earned 11% in 19 days on the PAAS symmetrical triangle pattern.

If you’re not sure you can recognize a symmetrical triangle on your own, be sure to visitChartAdvisor.com daily for out Charts of the Day.

http://www.chartadvisor.com/freereport/free_report_pg2.aspx