1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

efek bulan pertama itu … 060110 6 Januari 2010

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 11:19 pm

Adakah January Effect di Bursa Indonesia?
Rabu, 6 Januari 2010 – 10:28 wib

Bursa Efek Indonesia saat penutupan perdagangan saham 2009. (Foto: Tangguh Putra/okezone)
Dalam dunia investasi saham, ada satu fenomena mengenai kenaikan harga saham pada bulan Januari, yang dikenal dengan istilah ’January effect’.

Kenaikan tersebut diduga karena adanya peningkatan pembelian oleh para investor yang telah melakukan penjualan saham pada Desember dalam rangka mengurangi pajak atau merealisasikan capital gain.

Penelitian mengenai January effect sudah banyak dilakukan di bursa negara-negara maju maupun berkembang. Hasil penelitian tersebut membuktikan bahwa January effect banyak terjadi di bursa-bursa dunia. Penelitian mengenai January effect pertama kali dilakukan oleh Donald B Keim pada 1983 terhadap indeks Dow Jones dan indeks S&P. Penelitian tersebut menjelaskan bahwa selama periode penelitian terjadi kenaikan harga saham secara keseluruhan pada Januari di kedua indeks tersebut.

Hasil penelitian tersebut juga menjelaskan bahwa saham berkapitalisasi kecil memberikan return lebih tinggi dibandingkan saham berkapitalisasi besar. Fenomena January effect secara statistik dijelaskan terjadi karena adanya pola yang berulang hampir setiap tahun. Alhasil, banyak investor memanfaatkan pola tersebut untuk menyusun strategi dalam mendulang keuntungan di bursa saham. Bila suatu pola sudah banyak yang mengetahui dan banyak investor mengantisipasinya secara bersamaan, maka pola tersebut akan hilang secara perlahan. Meskipun telah banyak informasi dan penelitian mengenai January effect, pola tahunan (seasonal) tersebut masih terjadi sampai saat ini.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan selama periode 1989 sampai Maret 2009, diketahui bahwa bursa Indonesia pada bulan Januari juga mengalami return yang positif. Namun, secara seasonal ditemukan bahwa Desember (lihat gambar) memberikan return paling tinggi dibandingkan bulan-bulan lain. Hal tersebut dapat diartikan bahwa investor di Indonesia telah mengantisipasi January effect yang telah menjadi fenomena bursa-bursa di dunia. Investor mengantisipasi dengan mengakumulasi saham-saham menjelang akhir tahun, sehingga terjadi peningkatan harga di bulan Desember.

Hal ini disinyalir karena masih rendahnya pajak untuk berinvestasi di pasar saham Indonesia, sehingga investor tidak menjual sahamnya menjelang akhir tahun, bahkan meningkatkan portofolionya untuk mengantisipasi fenomena January effect yang terjadi di bursa dunia. Jadi, dapat dikatakan bahwa yang terjadi di bursa Indonesia bukan January effect, melainkan December effect. Secararata-rata, bulan Januari memberikan return 3,31 persen. Meski tergolong besar, angka tersebut masih kalah dibandingkan Desember, yang memberikan return paling besar,yaitu 4,67 persen.

Hal menarik lain yang terjadi di bursa Indonesia adalah secara seasonalbulanAgustus, September, dan Oktober mengalami return negatif. Penurunan yang terjadi diduga lantaran minimnya berita yang masuk ke bursa dan investor menunggu kinerja emiten di sekitar bulan-bulan tersebut. Dengan pola seasonal yang terbentuk di bursa Indonesia,investor dapat menerapkan strategi mengakumulasi saham di bulan bulan tersebut dan melakukan profit taking di sekitar Mei-Juni.

Investor harus mewaspadai bahwa pola seasonal tersebut merupakan rata-rata kinerja secara bulanan pada masa lalu dan pergerakan bursa ke depan, tergantung informasi yang masukke bursa di masa yang akan datang. Kinerja bursa masa lalu dapat menjadi ekspektasi kinerja di masa yang akan datang. Pola seasonal yang masih terbentuk signifikan mengindikasikan masih belum efisiennya bursa tersebut. Belum efisiennya suatu bursa akibat masih kecilnya partisipan bursa, baik investor maupun emiten.

Masih belum meratanya informasi yang diterima investor akibat sosialisasi dan edukasi investor yang disebabkan teknologi informasi yang lemah dan masih belum diterapkannya penegakan hukum secara tegas bila terjadi kebocoran informasi juga ikut mendukung belum terciptanya bursa yang efisien. Bursa yang tidak efisien sangat disenangi investor-investor yang sudah sophisticated, karena mereka dapat mengantisipasi pergerakan bursa ke depan dengan mempelajari pola-pola seasonal dan kelemahan yang terjadi di bursa.

Dengan diketahuinya pola seasonal yang terjadi di bursa saham investor dapat menerapkan strategi market timing untuk masuk dan keluar dari bursa saham, sehingga mendapatkan return optimal. Adapun bagi para penjamin emisi (underwriter) dan perusahaan yang berniat melakukan penawaran saham perdana (initial public offering /IPO) dapat memanfaatkan pola tersebut agar IPO berlangsung sukses. (*)

Pardomuan Sihombing
Head of Research Paramitra Alfa Sekuritas (Koran SI/Koran SI/rhs)

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s