1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

PULIH rekan INFLASI musuh INVESTASI … 070110 7 Januari 2010

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 11:44 pm

Harga Saham di Semester II 2010 Diprediksi Terjadi Koreksi
Rabu, 06 Januari 2010
Oleh : Army Meidinasari
Di awal tahun 2010, bursa efek Indonesia tampak bergairah. Pada hari pertama diperdagangan (4 Januari) setelah libur Tahun Baru, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 41,057 poin (I,62%) ke level 2.575,41. Kemudian, hari berikutnya naik lagi 29,86 poin ke level 2.605.28. Sayang, tanggal 6 Januari 2010 terkoreksi tipis 1,9 poin.

Melhat tren indek saham tersebut, analis Riset PT Paramitra Alfa Sekuritas Pardomuan Sihombing memprediksi, terdapat dua pola harga indeks saham tahun ini. Semester pertama akan cenderung naik dan semester kedua akan terjadi koreksi. Pardomuan mengungkapkan hal tersebut ketika dihubungi pada Rabu (6/1).

Menurut Pardomuan, memprediksi kenaikan indeks harga saham, harus memperhatikan dua faktor: yaitu faktor eksternal dan internal. Yang termasuk dalam faktor eksternal adalah pemulihan ekonomi secara global, fluktuasi harga komoditi, serta tingkat suku bunga The Fed. Sementara faktor internal adalah tingkat suku bunga BI, pertumbuhan ekonomi, kinerja emiten, dan masalah politik.

Untuk faktor eksternal, ia menambahkan, apabila suku bunga The Fed tetap pada angka 0,25 % atau tidak naik, harga indeks saham akan cenderung naik. Sementara, untuk faktor internal, apabila pemulihan ekonomi berjalan, maka inflasi akan naik, dan tingkat suku bunga pun ikut naik. Tingkat suku bunga yang naik akan memberikan sentimen negatif pada penanaman modal atau saham. “Jadi kondisi yang kedua ini yang akan kita waspadai. Dan diperkirakan akan terjadi pada semester II 2010.” ujarnya. Untuk semester pertama, indeks saham masih cenderung naik karena tingkat suku bunga BI masih bertahan di level 6,5%.

Dalam kondisi recovery, disarankan bagi investor untuk memilih saham-saham yang memiliki kapitalisasi besar. Perusahaan tersebut masih mampu defensif karena sudah memiliki market share yang pasti. Sementara, sektor yang disarankan adalah sektor infrastruktur, konsumsi, dan banking. Untuk sektor yang mungkin harus diwaspadai adalah sektor pertambangan, komoditi, dan perkebunan. “Misalnya sektor komoditi, apabila recovery ekonomi tidak berjalan, harganya bisa drop. Pasalnya, suplai barang tidak berimbang (lebih tinggi) dengan demand yang berkurang. Akibatnya, akan terjadi oversupply yang menyebabkan harga turun,” tutur Pardomuan.

Selain memilih saham tertentu, investor juga harus peka terhadap risiko yang mungkin terjadi. Sama seperti faktor yang mempengaruhi harga saham, risiko bagi investor juga dipengaruhi secara internal dan eskternal. Risiko eksternal, misalnya, recovery yang lambat, masalah Dubai World, serta inflasi yang mungkin terjadi. Sedangkan risiko internal: masalah politik serta tingkat suku bunga BI.

(swa)

 

KIS 3.0. … 070110

Filed under: Investasi Umum,Mentalitas Investor — bumi2009fans @ 11:17 pm

Stephanus Turangan: Menghindari Investasi yang Spekulatif
Senin, 21 Desember 2009
Oleh : Eva Martha Rahayu
Dengan prinsip investasi untuk jangka panjang, Stephanus selalu berusaha menjauhi unsur spekulasi dalam mengelola portofolio pribadinya. Hasilnya, dia mengaku untung dan bisa mengukur risiko.

Nama Stephanus Turangan pasti tidak asing lagi di industri keuangan. Setelah meraih gelar MBA dari Case Western Reserve University, Amerika Serikat, dia meniti karier di Bahana Sekuritas, Mandiri Sekuritas dan Deutsche Bank. Bahkan, di bank asal Jerman itu, posisi terakhirnya adalah Direktur Keuangan. Dan, kini dia tercatat sebagai Direktur Eksekutif PT Danareksa (Persero).

Di balik kariernya yang cemerlang itu, dia pun punya pengalamanan menarik dalam mengelola investasi pribadi. Stephanus bercerita, sejak mahasiswa di AS, dia sudah menjadi investor saham kecil-kecilan. Tepatnya, tahun 1986, saat usianya 21 tahun, dia melakukan trading efek di sana. Mengapa? “Saya tertarik dengan penjelasan dosen finance saya tentang investasi saham. Lalu, saya coba-coba main. Eh…nggak nyangka, keterusan sampai tiga tahun,” ucap pria kelahiran Bandung, 20 Agustus 1965, ini mengenang.

Kebiasaan investasinya berlanjut hingga dia balik ke Tanah Air. Apalagi, setelah bekerja, dia mempunyai modal lebih gede. Namun, setelah berkeluarga, alokasi dana investasi itu berkurang. Rinciannya, dari 100% penghasilan, 70% untuk konsumsi (kebutuhan rumah tangga dan biaya sekolah anak) dan 30% sisanya untuk investasi.

Pehobi olah raga ini menjelaskan, prinsip investasinya: pertama, berinvestasi untuk jangka panjang; kedua, guna memaksimalkan keuntungan, tidak menaruh telur di satu keranjang. Jika fokus di satu instrumen saja, investor memang lebih banyak mencetak untung. Konsekuensinya, risiko lebih tinggi jika tidak melakukan diversifikasi. “Jurus ini cocok untuk karakter investor yang risk taker. Sementara saya sendiri belum siap, sehingga investasi saya masih disebar ke beberapa keranjang,” ungkapnya. Nah, komposisi investasinya: 40% di properti dan 60% di sektor keuangan dalam bentuk saham, reksa dana dan obligasi.

Instrumen properti yang dilirik Stephanus berupa rumah dan apartemen. Pertimbangan memilih rumah, pertama, landed house bisa dijadikan tempat tinggal sendiri dan tren harganya naik terus; kedua, potensi kenaikan harga lebih cepat ketimbang apartemen. Perbandingan kenaikannya 20%:10%. Sementara, alasannya membeli rumah vertikal (apartemen): bisa disewakan, sehingga memberikan pemasukan pasif.

Strateginya investasi di properti: pertama, agar harganya lekas terkatrol, dia memilih rumah yang kisaran harganya Rp 300-500 juta karena banyak peminatnya. Kedua, memilih lokasi di daerah pinggiran, lantaran harga justru lebih cepat naik akibat pertumbuhan pesat jumlah kalangan menengah. Ketiga, mencari lokasi di area utama yang dekat dengan sentra bisnis.

Dengan trik seperti itu, properti Stephanus pun berlokasi di Jakarta Selatan dan Pusat. Alasannya, cari lokasi yang dekat dengan tempat bekerja dan lebih gampang cari penyewa jika apartemen berada di tengah kota.

Seperti diketahui, investasi Stephanus di sektor keuangan berupa saham, reksa dana dan obligasi. Untuk saham, dia pertama kali main saham di Indonesia tahun 1994. Investasi saham secara langsung itu bertahan hingga tahun 2000. Alasannya, pada 1994-2000 tren harga saham naik-turun, sehingga ada potensi menarik capital gain. Waktu itu dia lebih banyak untung. Namun, petaka datang pada 1997-98 saat krisis moneter: harga saham berjatuhan. Termasuk, saham-saham yang dibelinya. Akibatnya, dia menderita kerugian besar karena semua sahamnya drop hingga di bawah Rp 100 per lembar.

Pelajaran yang bisa dipetik dari pengalaman buruk itu, saham bukan wahana investasi jangka pendek. “Kecuali, bila kita punya waktu 100% untuk memonitor pergerakan harga saham dan mengelola sendiri investasinya,” ungkap ayah Reshi (15 tahun) dan Nara (13 tahun) ini. Jadi, kalau tidak punya waktu khusus, sebaiknya investasi saham untuk horison jangka panjang.

Pada 2000-01 Stephanus vakum bermain saham. Baru pada 2002, dia melirik lagi investasi saham, tetapi tidak secara langsung, yakni lewat reksa dana. Jadi, reksa dana yang dibelinya mula-mula reksa dana saham, terus berlanjut ke reksa dana pendapatan tetap dan reksa dana pasar uang.

Strateginya berinvestasi di reksa dana, antara lain, masuk ke instrumen berbasis obligasi dan saham ketika suku bunga tinggi dan pasar saham bearish. Dengan demikian, jenis reksa dana yang cocok adalah pendapatan tetap dan saham, karena harganya terbilang murah.

Trik lain, ketika suku bunga turun, contoh pada 2009, harus hati-hati sampai 6 bulan ke depan. Pasalnya, ada siklus konsolidasi. Untuk itu, dia melikuidasi reksa dana pendapatan tetap dan memindahkannya ke reksa dana saham. Selanjutnya, bila Indeks Harga Saham Gabungan terlalu tinggi, reksa dana itu dipindah lagi ke reksa dana pasar uang.

Stephanus cukup selektif dalam memilih reksa dana. Beberapa faktor diperhatikan, misalnya, rekam jejak perusahaan fund manager. Kebetulan perusahaan investasi yang dipilihnya eksis sejak 1990-an. Juga, mencoba produk reksa dana kecil yang baru tumbuh. Mengapa? Biasanya reksa dana ini kinerjanya jauh lebih agresif, sehingga berhasil mencetak yield lebih tinggi ketimbang reksa dana yang dikelola fund manager yang sudah mapan. Konsekuensinya, ketika pasar saham jeblok, reksa dana jenis ini lebih parah rontoknya. “Saya alokasikan 5% investasi untuk reksa dana baru ini,” ujar Stephanus, yang memercayakan investasi reksa dana dikelola perusahaan fund manager BUMN dan asing.

Sementara di obligasi, di tahun 2000 dia pernah membelinya langsung dalam bentuk pecahan. “Tapi, saya repot menjualnya, karena harga obligasi yang saya beli kecil. Sementara yang likuid ditransaksikan itu obligasi yang nilainya Rp 1 miliar,” katanya. Akhirnya, obligasi itu terjual setelah 6 bulan ditawarkan menunggu pembeli. Yield-nya sekitar 30% dalam tempo investasi dua tahunan.

Adapun tipnya membeli obligasi korporasi, mula-mula lihat kondisi neraca keuangan dan cash flow perusahaan penerbit obligasi. Lalu, belilah obligasi ketika suku bunga sedang tinggi, karena banyak harga obligasi terdiskon. Contoh, tahun 2008 beberapa obligasi di pasar harganya menyusut tinggal 40%-50%. Jangan lupa, pastikan bahwa perusahaan itu jarang default dalam pembayar kupon obligasinya. Tak ketinggalan, telisik siapa pemilik perusahaan untuk memastikan reputasinya.

Ibarat dua sisi mata uang, investasi Stephanus ada yang untung, ada pula yang buntung. Pengalaman untung dicontohkan saat investasi properti. Sebagai gambaran, rumah yang dibeli tahun 1995 dan kemudian dijual tahun 2000, harganya naik lebih dari 100%. Begitu juga saat membeli apartemen. Tahun 2001 dia membeli apartemen dan lima tahun kemudian harganya naik 100%. “Itu tidak bisa dijadikan acuan umum. Sebab kebetulan waktu itu penjualnya lagi butuh duit, sehingga dijual ke saya dengan harga miring. Tapi, apartemen itu belum saya lepas, meski beberapa kali ditawar orang.”

Sementara investasinya di saham sering untung lebih dari 50% dalam tempo 6 bulan. Sebaliknya, pengalaman buntung diderita waktu krismon, sehingga rugi gila-gilaan. Bagaimana dengan reksa dana? Berdasarkan pengalamannya, imbal hasil 100% dalam genggaman sejak membeli reksa dana saham tahun 2002-05. Bahkan, bisa 300% ketika sedang hoki. Meski demikian, dia pernah rugi pada 2007-08, karena nilai aktiva bersih reksa dana saham turun 40%.

Saat pensiun kelak, Stephanus berniat mengubah strategi. “Ketika tidak ada income lagi, saya harus memastikan bahwa investasi itu aman dan nilainya tidak menyusut drastis,” tuturnya. Itulah sebabnya, nanti mayoritas investasinya masuk ke deposito dan sebagian sektor riil, umpamanya restoran.

BOKS

Pelajaran Berinvestasi dari Pengalaman Stephanus

Properti:

Pilih harga rumah di kisaran Rp 300-500 juta karena banyak peminatnya.
Cari yang berlokasi di daerah pinggiran karena harganya cepat naik akibat pesatnya perumbuhan kelas menengah.
Cari lokasi di prime area yang dekat dengan sentra bisnis.
Pilih yang ada di perumahan karena lebih aman soal legalitas dan infrastruktur lebih bagus.

Reksa dana:

Beli instrumen ini ketika suku bunga tinggi dan pasar saham bearish.
Perlu waspada paling tidak selama 6 bulan ketika suku bunga turun karena ada siklus konsolidasi. Saat itu terjadi, switch dari reksa dana pendapatan tetap ke reksa dana saham.

Obligasi:

Lihat kondisi neraca keuangan dan cash flow perusahaan penerbit obligasi.
Beli obligasi ketika suku bunga sedang tinggi, karena banyak harga obligasi terdiskon. Contoh, tahun 2008 beberapa obligasi di pasar harganya menyusut tinggal 40%-50%.
Pastikan bahwa perusahaan tersebut jarang default dalam pembayar kupon obligasinya.
Telisik siapa pemilik perusahaan untuk memastikan reputasinya.

… coba bandingkan dengan posting yang satu ini (oooopppss dalam bahasa Inggris seh ): http://ekonomitakseriuslagi.blogspot.com/2009/04/dokter-cinta-no-more-passive-incomer.html#links

 

KIS 2.0 (kedewasaan investor saham lanjutan) : 070110

Filed under: Teknik Maen Saham — bumi2009fans @ 4:25 pm

… well, kedewasaan investor itu punya 2 makna penting : LEBE DEWASA, LEBE TAJIR … kedua kondisi itu HARUS MELEKAT PADA KEDEWASAAN INVESTOR, TERMASUK INVESTOR SAHAM …
Kamis, 07/01/2010 10:55 WIB
Saatnya Menabung di Pasar Modal
Indro Bagus SU – detikFinance

Jakarta – Mendengar kata tabungan, sebagian besar akan mengasosiasikannya dengan produk tabungan atau deposito dalam dunia perbankan. Padahal, konsep tabungan juga bisa diterapkan dalam dunia pasar modal.

Bagi sebagian orang, menabung tidak melulu harus ditaruh di bank, melainkan dalam produk-produk pasar modal seperti saham, reksa dana, obligasi dan sebagainya.

Menurut Direktur Utama PT Kresna Graha Sekurindo Tbk (KREN) Michael Stevens, masyarakat Indonesia kebanyakan masih kurang memahami konsep menabung di pasar modal. Padahal, lanjutnya, potensi selisih keuntungan yang akan diperoleh bisa lebih besar ketimbang tabungan atau deposito di bank.

“Sebenarnya, bagi masyarakat yang sudah memiliki tabungan atau deposito di bank, menambah bentuk tabungannya dalam produk pasar modal akan sangat menguntungkan,” ujar Michael pekan lalu.

Michael menjelaskan, tabungan atau deposito di bank cenderung memberikan selisih keuntungan (bunga) yang pasti, tentunya mengikuti kebijakan suku bunga Bank Indonesia (BI Rate). Namun biasanya, ujar Michael, selisih yang diberikan oleh bank lebih kecil ketimbang selisih yang diberikan dalam dunia pasar modal.
… soal tabungan, ada yang bilang : MENABUNG LEBIH CEPAT :    http://investasireksadanaindonesia09.blogspot.com/2010/01/lebe-cepat-lebe-baek-190110.html
“Bank memberikan bunga tidak besar, namun lebih aman, karena tingkat risikonya kecil. Nah, tabungan pasar modal lebih berisiko. Tapi jangan salah, kalau manajemen portofolionya bagus, risiko itu akan berkurang,” ujar Michael.

Michael menjelaskan, kebanyakan orang berpikir modal yang diperlukan untuk berinvestasi di pasar modal tidak perlu dilakukan secara berkala. Kebanyakan orang, lanjut Michael, berpikir kalau investasi di pasar modal itu bukan seperti menabung di bank, yaitu menempatkan modalnya secara kontinyu.

“Itu sebenarnya pemikiran yang kurang tepat, karena seharusnya investor pasar modal juga terus menaruh modalnya secara kontinyu setiap bulan seperti menabung di bank,” jelas Michael.

Menurut Michael, kalau seorang investor tidak menaruh modalnya untuk investasi secara kontinyu, itu akan menjadi sangat berisiko. Sebab, dengan cara itu portofolio yang dimilikinya akan bersifat pasif terhadap pergerakan harga saham yang terjadi di pasar.

Ilustrasinya seperti ini, seorang investor memiliki modal Rp 1 juta yang seluruhnya digunakan untuk membeli saham A sebanyak 10 ribu lembar di harga Rp 100 per saham.

Kalau investor tersebut tidak terus menerus melakukan pembelian, maka nilai aset saham yang dimilikinya hanya bergantung pada pasar. Kalau harga saham A naik 10 poin, maka aset dia menjadi Rp 1,1 juta. Sebaliknya, kalau harga saham di pasar turun 10 poin, maka aset dia menjadi Rp 900 ribu.

“Ini sangat berisiko, karena ia tidak berperan aktif dalam pembentukan harga di pasar, karena ia tidak terus melakukan pembelian secara kontinyu. Seandainya terjadi sesuatu yang menyebabkan harga saham jatuh tajam, maka nilai aset saham dia akan jatuh dan untuk mencapai nilai aset semula sangat tergantung pada
pasar,” ujarnya.

Nah, menurut Michael, kalau investor itu terus menerus melakukan pembelian saham A secara kontinyu, maka kalau terjadi penurunan harga saham, investor tersebut dengan terus melakukan pembelian saham akan menciptakan harga rata-rata pembelian yang selalu baru dan lebih rendah.

“Ini berarti, kalau harga rata-rata pembelian dia ikut turun seiring dengan penurunan harga saham, maka untuk memperoleh nilai modal semula tidak harus menunggu harga saham naik sebanyak penurunannya,” ujar Michael.

Ilustrasinya seperti ini, harga saham A menurun 50 poin, artinya nilai aset investor tersebut menjadi Rp 500 ribu. Jika investor itu tidak melakukan pembelian berkala, maka untuk mengembalikan modalnya, ia harus menunggu harga saham A naik hingga 50 poin.

Lain halnya kalau investor tersebut melakukan pembelian berkala. Sebut saja, ia memiliki tabungan Rp 1 juta setiap bulan. Nah, ketika harga saham A jatuh 50 poin, ia melakukan pembelian dengan dana Rp 1 juta. Berhubung harga saham A sudah di level Rp 50 (karena telah turun 50 poin), maka ia akan mendapatkan 20
ribu lembar saham A.

Sekarang berhitung, pada bulan pertama ia dengan modal Rp 1 juta membeli 10 ribu lembar saham A. Pada bulan kedua, dengan dana yang sama sebesar Rp 1 juta, ia memperoleh 20 ribu saham A, karena harga saham A sudah jatuh 50 poin.

Dengan demikian ia kini memiliki 30 ribu lembar saham dengan modal Rp 2 juta. Itu berarti harga rata-rata pembelian dia sebesar Rp 2 juta : 30 ribu lembar saham = Rp 66,67 per saham.

Kalau harga saham A naik ke Rp 70 saja, investor tersebut sudah mendapatkan kembali modalnya, plus selisih keuntungan sebesar Rp 3,33 per saham.

“Kalau mekanisme ini terus menerus dilakukan secara kontinyu, maka mau saham itu turun pun tidak masalah, karena akan membentuk harga rata-rata pembelian yang selalu baru, sehingga peluang untuk mendapatkan selisih keuntungan lebih besar,” ujar Michael.

Menurut Michael, jumlahnya tidak perlu besar, investor cukup menyisihkan berapa pun uang yang bisa ia masukkan ke pasar modal, asalkan dilakukan secara kontinyu.

“Jumlah tidak masalah, tergantung kemampuan masing-masing, yang penting dilakukan secara kontinyu setiap bulan seperti menabung di bank,” ujarnya.

(dro/qom)

KIS 1.0 : https://transaksisaham.wordpress.com/2009/12/27/kedewasaan-investor-saham/; KIS 3.0: https://transaksisaham.wordpress.com/2010/01/07/kis-3-0-070110/; KIS 4.0: https://transaksisaham.wordpress.com/2010/01/30/kedewasaan-investor-4-0-300110/

https://transaksisaham.wordpress.com/2010/04/06/k-i-s-5-0/

… baca juga posting KIS 1.0 : https://transaksisaham.wordpress.com/2009/12/27/kedewasaan-investor-saham/ … juga yang terbaru : https://transaksisaham.wordpress.com/2010/01/07/kis-3-0-070110/
… baca lage yang ini dah : https://transaksisaham.wordpress.com/2010/01/26/6105/
Portofolio Seimbang, Bisa Tidur Nyenyak
Posted By admin On October 9, 2008 @ 12:00 am In Business Update

Nama Betti Setiastuti Alisjahbana memang identik dengan dunia teknologi informasi (TI) dan IBM. Maklumlah, lebih dari 20 tahun ia menggeluti bidang TI dan 8 tahun menjadi Presdir IBM Indonesia (2000-Januari 2008). Namun, sejak April lalu ia tercatat sebagai founder & CEO PT Quantum Business International. QBI bergerak dalam industri kreatif dengan tiga lini bisnis: QB Headlines, QB Architects dan QB Creative IT. Melalui situs QB Headlines, Betti tidak hanya fasih berbicara soal TI, karier dan industri kreatif, tapi juga pengalaman investasinya.

“Di sini (QBI) termasuk salah satu investasi saya,” ujar Betti saat ditemui di kantor barunya, di Jalan Pangeran Antasari, Jakarta Selatan. Di gedung empat lantai itulah, ia berusaha membiakkan duitnya melalui bisnis industri kreatif yang dibesutnya. Penyertaan saham wanita lulusan Arsitektur Institut Teknologi Bandung ini di QBI sebesar 100%.

Menurut istri pengusaha Mario Alisjahbana ini, QBI bukanlah investasi satu-satunya. Ia menyebar investasinya ke beberapa instrumen. Betti teguh memegang prinsip investasi bahwa mengelola portofolio harus seimbang dan sesuai dengan karakter risikonya. Untuk itu, ia menaruh dananya 36% di keranjang properti, 26% di obligasi, 20% di reksa dana dan 18% untuk penyertaan saham langsung di perusahaan.

Betti bercerita, pertama kali ia melakukan investasi pada 1998. Saat itu ia mendapat tugas dinas ke Singapura. Ada dua hal yang mendorongnya aktif berinvestasi. Pertama, saat tinggal di Singapura, ia punya dua sumber penghasilan: dari Indonesia dan Singapura. “Saya bisa hidup dari satu sumber penghasilan itu, sehingga satunya lagi saya investasikan,” ibu dari Aslan (20 tahun) dan Nadia (15 tahun) itu berujar. Kedua, lingkungan di Singapura lebih mendukung untuk aktif berinvestasi. Sejak itulah, ia ketagihan berinvestasi. Paling tidak, 30% dari pendapatannya dialokasikan untuk investasi secara rutin.

Properti menjadi prioritas dan mayoritas (36%) investasi Betti. Mula-mula ia membeli apartemen di Australia. Ia tertarik, padahal mulanya belum ada rencana investasi di sana. Mengapa? “Karena cicilan selama 10 tahun bisa dibayar lewat kartu kredit dan langsung ada penyewa apartemennya. Sehingga, saya tidak usah capek cari duit untuk membayar angsuran,” ia menjelaskan sembari mengatakan, uang muka apartemen itu 30% dari harga yang dibanderol. Capital gains apartemen itu diakui Betti juga ciamik, yaitu dari apresiasi mata uang Aus$ terhadap rupiah dan passive income dari sewa.

Setelah apartemen di Australia, Betti getol berburu properti di Indonesia. Ia membeli beberapa apartemen di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, seperti The Groove, Epicentrum dan Apartemen Rasuna. Juga, membeli rumah di Kalibata dan tanah di Bintaro. Sejumlah apartemen dan rumah tersebut ia sewakan lagi. Kalau dipukul rata, yield investasinya mencapai 28%. Rinciannya, 18% dari capital gains dan 10% dari sewa. “Tanah di Bintaro rencananya akan saya bikin cluster 10 rumah untuk dijual lagi,” Betti mengungkapkan peruntukan lahan yang dibelinya tahun 1993 dengan harga puluhan ribu per m2 itu.

Lebih rinci, Betti menguraikan pengalamannya berinvestasi di apartemen. Tahun 2004, ia membeli satu unit apartemen di Kuningan seharga Rp 415 juta. Lalu, apartemen itu direnovasi dengan biaya Rp 39 juta. Untuk AC dan furnitur lengkap ia menghabiskan duit Rp 77 juta. Jadi, total investasinya sampai apartemen itu siap disewakan Rp 531 juta. Selanjutnya, ia menunjuk seorang agen untuk mencari penyewa sekaligus mengurusi segala detailnya, misalnya perbaikan-perbaikan. Harga sewa apartemen itu Rp 5,75 juta/bulan yang mesti dibayar tiap 6 bulan di depan. Setelah dipotong biaya pemeliharaan, fee untuk agen dan pajak penghasilan atas sewa, ia mengantongi penghasilan bersih Rp 54,5 juta/tahun atau yield-nya 10,2% dari nilai investasi yang ditanamnya.

Asyiknya, ia juga mendapatkan capital gains. Berdasarkan dokumen Pajak Bumi dan Bangunan tahun 2007, nilai jual objek pajak apartemen itu menjadi Rp 633,6 juta. Itu artinya dalam kurun tiga tahun capital gains yang dicetak 52,7% atau 17,6 % per tahun. Jika capital gains itu ditambah yield, dalam setahun keuntungan yang digenggam Betti menjadi 27,7%. “Imbal hasil ini sangat menarik. Apalagi, saya tidak perlu membayar semua investasi awal dengan dana sendiri. Sebab, bisa menggunakan pendanaan bank 75% dari harga apartemen,” ungkap pehobi golf, main piano, bernyanyi, berkebun dan mendesain interior itu.

Untuk obligasi dengan porsi 26% dari total portofolionya, Betti lebih suka membeli obligasi korporat di pasar perdana. Pertimbangannya dalam memilih jenis obligasi mengacu pada beberapa hal. Umpamanya, ia harus tahu rekam jejak organisasi perusahaan itu dan kondisi keuangannya, serta rating minimal A. “Tapi kalau saya tahu persis kondisi perusahaan itu, rating-nya bisa di bawah A,” ujarnya. Return obligasi yang diraihnya sekitar 18% tiap tahun.

Reksa dana tak luput dari bidikan Betti sejak 10 tahun lalu. Ia mengalokasikan duitnya 20% untuk bermain reksa dana. Pertimbangannya melirik reksa dana adalah di satu sisi ia melihat pasar saham menarik, tapi di sisi lain ia tidak punya banyak waktu untuk memelototi pergerakan harga saham. Maka, sebagian besar duitnya untuk investasi di reksa dana diguyurkan di reksa dana saham. Sisanya, dimasukkan ke reksa dana pendapatan tetap dan campuran. Apalagi, reksa dana dikelola manajer investasi, sehingga ia tidak perlu pusing memikirkan pengelolaannya. Return reksa dana saham Betti tahun 2007 mencapai 70%, tapi tahun ini minus 20%. “Kalau dihitung per Agustus 2007-Agustus 2008 minusnya 12%, sedangkan jika dihitung dari Januari-Agustus 2008, minusnya 20%,” Betti menjelaskan pengalaman untung dan rugi investasi reksa dananya.

Strategi Betti guna mengoptimalkan investasi reksa dana sahamnya, antara lain, menentukan tujuan investasi dan jangka waktu investasi yang dikehendaki. Juga, memperhatikan pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG). Biasanya IHSG memberikan gambaran umum arah pergerakan nilai aktiva bersih (NAB). “Belilah reksa dana saham saat IHSG mulai menunjukan tanda-tanda grafik naik, karena NAB biasanya akan mengikuti,” ujar Betti menyarankan.

Penyertaan saham dengan porsi 10% juga masuk keranjang investasi Betti. Menurutnya, untuk transaksi saham secara langsung di Bursa Efek Indonesia, porsinya sangat kecil. Sebaliknya, untuk penyertaan saham secara langsung di perusahaan, banyak menyedot dananya. Investasi ini dibedakan menjadi dua. Pertama, investasi di perusahaan yang ia bangun sendiri, misalnya QBI. Kedua, investasi di perusahaan yang dirintis oleh sejumlah anak muda di industri kreatif.

Meski bermain saham langsung jarang dilakukan Betti, tapi ia punya tip jitu. Ia menjelaskan, dalam memilih saham blue chips perlu memperhatikan: cari saham yang price-earning ratio (P/E ratio)-nya lebih rendah dari perusahaan sejenis. Kemudian, simak tingkat pertumbuhannya. Jangan lupa, perhatikan besaran dividen yang dibagikan. Tak ketinggalan, lakukan diversifikasi jenis saham supaya lebih aman untuk menyebar risiko. “Selain menganalisis beberapa hal itu, saya juga memperhatikan rekomendasi dari beberapa perusahaan sekuritas,” ia menambahkan.

BOKS:

10 Tip Investasi Betti

Menurut Betti, dalam berinvestasi, Anda tidak akan pernah 100% benar. Namun, investor dapat meningkatkan potensi hasil dan menekan risiko dengan 10 kiat:

1. Tentukan tujuan Anda

Pertanyaan yang sangat mendasar di sini adalah apa yang Anda inginkan dari uang Anda. Hasil investasinya untuk siapa? Apakah Anda siap rugi? Bila Anda memang senang ambil risiko dan mampu menanggungnya, akui saja, tapi beri batas pada investasi-investasi yang sifatnya spekulatif.

2. Lindungi milik Anda

Anda akan lebih menyesal kehilangan apa yang Anda miliki ketimbang kehilangan kesempatan dalam suatu investasi. Asuransi jiwa biasanya tidak mahal. Membeli proteksi terhadap kehilangan pekerjaan lebih mahal, tapi bisa berguna jika Anda adalah satu-satunya pencari uang dalam keluarga.

3. Lunasi pinjaman rumah

Melunasi pinjaman rumah secepat mungkin adalah penggunaan uang lebih yang paling tidak berisiko, karena Anda akan menghemat biaya bunga. Namun, camkan, jangan mengambil pinjaman yang lebih besar untuk membiayai suatu investasi.

4. Tegar menerima kerugian

Tidak semua investasi akan berhasil. Beberapa akan gagal memberikan hasil sebesar yang Anda yang harapkan dan beberapa akan rugi.

5. Sabar

Waktu dan kesabaran akan menyelamatkan masa-masa sulit investasi Anda. Tidak ada gunanya panik, tapi Anda bisa mengambil keuntungan bila orang lain terburu-buru menjual.

6. Kerjakan persiapan yang dibutuhkan

Siapkah Anda melakukan pekerjaan yang dibutuhkan untuk suatu investasi? Misalnya, memilih, memonitor dan membayar pajak. Bila tidak punya banyak waktu, serahkan ke fund manager atau beli reksa dana.

7. Pastikan potensi keuntungan yang akan Anda raih sepadan dengan risikonya

Tidak ada salahnya bila Anda ingin mengambil risiko lebih besar dan berspekulasi, asal Anda sadar risikonya dan Anda berani menerima kerugian. Jangan lupa risiko besar itu sama artinya dengan kecilnya kemungkinan menang. Pelajari seberapa besar kemungkinan Anda untuk menang dan seberapa besar risiko yang Anda ambil.

8. Tahu kapan harus menjual

Mengetahui kapan harus menjual adalah hal yang sulit. Jadi, buatlah suatu aturan, misalnya menjual bila investasi Anda sudah untung atau rugi dalam jumlah persentase tertentu.

9. Baca tulisan-tulisan kecil pada lembar prospektus

Bacalah semua materi prospektus, lalu tanyakan apa skenario terburuk yang bisa terjadi. Ini untuk meyakinkan bahwa perusahaan tidak menyembunyikan sesuatu.

10. Bangun tanpa berdebar-debar

Strategi investasi dan portofolio Anda harus membuat Anda bisa tidur nyenyak tanpa kesulitan dan bangun pagi tanpa rasa berdebar-debar.

 

pemberani, dicari … beneran neh : 070110

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 4:07 pm

Rhenald Kasali
Membangun Masyarakat Entrepreneur
Kamis, 7 Januari 2010 – 09:32 wib

BEBERAPA waktu lalu saya pernah menulis bahwa tahun ini tahun entrepreneur. Beberapa waktu lalu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga berbicara pentingnya mencetak usahawan-usahawan baru.

Para menteri, baik Menteri Pendidikan Nasional maupun Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, kemudian memasukkan hal ini dalam program 100 hari. Yang terakhir, majalah Entrepreneur yang terbit di Amerika Serikat dan menjadi acuan para entrepreneur global, pada edisi penutup 2009, ternyata juga menyebut 2010 sebagai The Year of Entrepreneur.

Entrepreneur Modern

Apa yang saya maksud tentu saja bukan sekadar entrepreneur jadi-jadian. Anda boleh saja punya usaha besar dan terkenal, tapi bagaimana profesionalisme dan keberlangsungannya? Harap dicatat, di negeri ini sudah ada 52,7 juta usaha kecil dan menengah yang menampung lebih dari 90 juta tenaga kerja. Tetapi kalau kita tengok ke dalam, sebagian besar usaha mereka adalah usaha yang dikelola secara asal-asalan, sekadar bisa menghidupi, dan sangat informal.

Itulah sebabnya mereka sulit tumbuh menjadi usaha kelas menengah dan akses terhadap permodalan terbatas. Mereka tidak bisa mendapatkan kredit, selain kredit mikro karena pencatatannya tidak ada dan akibatnya tidak bankable. Selain usaha-usaha itu harus modern, para pembuat kebijakan juga harus memikirkan cara menjadikan usaha-usaha itu unggul dan berdaya saing. Seperti yang kita lihat saat ini, saat negeri ini harus menjalankan kesepakatan perdagangan bebas (FTA) dengan negara-negara ASEAN dan China. Saat produk-produk buatan China menjadi “darling” bagi para UKM, maka satu per satu industri kita jatuh berguguran.

Membangun masyarakat entrepreneur atau entrepreneurial economy jelas bukan sekadar menambah daftar jumlah pelaku ekonomi. Kita tidak cukup melakukannya dengan membuka akses permodalan saja, melainkan juga perlu memodernkan dan menciptakan kekuatan-kekuatan baru yang berdaya saing tinggi. Di negara-negara industri, daya saing dibangun dengan policy economy yang memungkinkan pelaku usaha mampu bersaing secara sehat.Namun, di Indonesia ini pekerjaan rumahnya masih sangat banyak. Kita perlu iklim usaha yang benar-benar sehat, tapi kita juga perlu strategi.

Strategi keunggulan daya saing itu tidak bisa dibangun dengan infrastruktur dan investasi saja.Peran lokasi, industri-industri penopang, badan-badan riset dan dunia pendidikan akan sangat menentukan.Dalam strategi, peran-peran itu kita kelompokkan dalam apa yang disebut institute for collaborations. Itulah yang dilakukan oleh Malaysia, Thailand,Vietnam,dan kini dijalankan oleh Singapura, India, dan China. Namun itulah yang belum dijalankan di sini, di Filipina dan di Myanmar.

Entrepreneurial Economy

Di Amerika Serikat sendiri,gema entrepreneurial economymulai berbunyi keras. Setelah dilanda krisis, banyak orang kehilangan kepercayaan pada perusahaanperusahaan besar.Apalagi setelah banyak industrinya pindah ke China, kini ada banyak profesional muda beralih menjadi owner, menjalankan usahanya sendiri.

Henrik Fisker, 46, adalah contohnya. Mantan desainer kepala perusahaan automotif BMW dan Aston Martin ini sekarang mendirikan perusahaan automotif Fisker. Modalnya USD529 juta, didapat dari pinjaman yang diberikan Departemen Energi Amerika Serikat. Berbeda dengan Detroit yang mempekerjakan ribuan orang, Fisker hanya menampung 50 orang karyawan. Namun, di balik itu Fisker berhubungan dengan lebih dari 80 pemasok dari segala penjuru dunia. Diperkirakan tiga tahun lagi merek baru ini akan segera menyaingi mobil-mobil buatan General Motor. Selain Fisker, ada William Wang yang memperkenalkan televisi layar datar merek Vizio dan dalam tempo sekejap meraih penjualan sebesar USD1,9 miliar.

Wang cukup bekerja dengan 162 orang di California. Mike Michaud, yang usianya baru kepala dua namun baru saja dipecat oleh jaringan ritel elektronik Circuit City, dengan modal hanya USD5.000 kini berhasil dalam bisnis website TV Network.Dalam waktu singkat, mereka berhasil meraih penjualan di atas USD150 ribu sebulan. Masih banyak lagi kisah menarik lainnya, sama seperti kita mendengarkan Hengky Eko, lulusan ITS dan UI yang berhasil memasarkan bakso malang melalui lebih dari 150 outlet di seluruh Indonesia, atau Syammahfuz Chazali yang berhasil mendapatkan order membuat batu bata dari kotoran sapi ke luar negeri,sampai Firmansyah Budi Prasetyo yang berhasil membangun sekitar 500 outlet TelaKrezz.

Semua fakta-fakta ini menunjukkan entrepreneur hanya bisa eksis kalau pemerintahannya juga dibangun di atas konsep ekonomi entrepreneur. Entrepreneurial Economy adalah suatu konsep yang didasarkan oleh sistem yang memungkinkan para entrepreneur bergerak cepat, dengan biaya-biaya overhead yang rendah, berbasiskan struktur usaha kecil-menengah yang adaptif dan didukung industri-industri penopang yang lengkap serta pasokan SDM dari universitas-universitas atau SMK yang berkualitas. Itulah yang kita butuhkan untuk membangun daya saing ekonomi Indonesia dalam menghadapi masa depan yang penuh dengan ketidakpastian ini.

Kita perlu negara yang sehat,yang para politisinya berpikir sehat. Negara tak boleh menjadi sumber ketidakpastian karena politisinya haus kekuasaan, senang berkelahi, berbeda pendapat asal-asalan, dan mudah menyimpan dendam. Kita perlu birokrasi yang profesional dan bekerja cepat. Tapi kita juga perlu strategi yang bisa dieksekusi. Itulah sumber kemenangan masa depan. (*)

Rhenald Kasali
Ketua Program MM UI
(Koran SI/Koran SI/rhs)
Empat Profesi bagi Pecandu Internet
Kamis, 07 Januari 2010 15:00 WIB
corbisimages.com
APAKAH Anda termasuk orang yang betah duduk berlama-lama berhadapan dengan komputer demi sekadar berselancar di dunia maya? Jika iya, sejumlah profesi berikut ini barangkali bisa menjadi rekomendasi tepat sebagai pilihan karier Anda.

1. Konsultan merek
Setiap perusahaan, organisasi, bahkan individu ingin memiliki sebuah merek sebagai identitas yang membuat konsumen langsung mengenali dan memberikan respon positif. Sebagian besar branding tersebut terbentuk secara online, melalui kampanye iklan, interaksi pers serta konsumen. Konsultan merek membantu perusahaan mengidentisikasikan merek seperti apa yang mereka inginkan dan membantu menciptakannya serta menjaganya tetap konsisten. Mereka harus bisa mengetahui apa yang disukai dan tidak disukai target audiens, sehingga sedapat mungkin selalu berada di depan untuk mendapatkan sorotan sekaligus mengukur reaksi audiens.

2. Public relation
Dunia public relation (PR) selalu sibuk dan berubah sepanjang waktu. Apa yang harus dilakukan oleh seorang PR berbeda-beda tergantung kebutuhan perusahaan atau organisasi tempat bekerja. Akan tetapi, esensi pekerjaannya sesungguhnya sama saja yakni memantau publikasi media yang diperoleh dan menerapkan pengendalian kerusakan jika diperlukan. Seorang manajer PR memberikan wawancara secara online, tercetak, atau melalui radio dan televisi atas nama perusahaan. Manajer PR juga harus memantau setiap berita dan kritik, baik online maupun offline, yang menyangkut nama perusahaan ataupun kompetitor dan mempersiapkan respon untuk menjawab setiap pertanyaan yang mungkin muncul di sepanjang jalan.

3. Tenaga perekrut
Teknologi internet telah mengubah industri selama satu dekade terakhir, termasuk dalam cara perusahaan merekrut calon pegawai. Saat ini, para pencari kerja bisa mem-posting riwayat pendidikan, pengalaman kerja, dan keahlian mereka di berbagai situs untuk ditemukan para perekrut yang memerlukan talenta baru. Dengan mendaftarkan diri ke sebuah situs jejaring sosial, para pencari kerja memiliki akses menuju ribuan calon majikan potensial dengan sekali klik.

4. Konsultan media sosial
Kemunculan media sosial terbilang relatif baru di dunia bisnis, begitu pula dengan posisi konsultan media sosial. Di beberapa perusahaan, seorang konsultan media sosial memiliki kesibukan tingkat tinggi. Sedangkan di beberapa perusahaan lainnya profesi ini merupakan pekerjaan paruh waktu untuk anak magang. Konsultan media sosial diperlukan untuk menjaga interaksi dengan konsumen secara online. Perusahaan membutuhkan seseorang untuk mengelola akun twitter, facebook, myspace, dan lain sebagainya. Konsultan media sosial dapat pula bekerja berdampingan dengan public relation atau konsultan merek dalam menjalankan tugasnya. (OL-08)

 

mendunk itu tak urunk datank lage … 070110

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 1:46 pm

Aksi Ambil Untung Tekan Indeks
Kamis, 07 Januari 2010 | 12:44 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta -Turunnya harga minyak ke level US$ 82,7 per barel Kamis siang (7/1) dipasar Asia, dan aksi ambil untung yang dilakukan para investor seiring jatuhnya sebagian bursa regional, memicu penurunan indeks dibawah level 2.600.

Alhasil, pada perdagangan sesi pertama siang ini indeks harga saham gabungan Bursa Efek Indonesia merosot 16,675 poin atau 0,64 persen ke level 2.586,622.

Volume perdagangan mencaai 2,8 miliar saham, dengan nilai transaksi sebesar Rp 2,3 triliun, serta frekwensi sebanyak 51,1 ribu kali. Sebanyak 84 saham mengalami koreksi, dan 62 saham naik, serta 63 saham tidak mengalami perubahan. Investor asiang masih membukukan pembeilain bersih senilai Rp 225,99 miliar.

Niali tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga pukul 12:20 WIB berada di level 9.225, atau kembali menguat 30 poin dari penutupan kemarin di 9.255 per dolar AS.

Analis dari PT BNI Securities, Maxi Liesyapura mengemukakan, melonjaknya harga minyak US$ 83,18 per barel semalam di pasar New York, serta menguatnya bursa regional disesi pagi sebenarnya masih bisa menjadi sentimen positif bagi indeks. “Menguatnya harga komoditas minyak, serta logam juga menjadi sentimen poitif bagi bursa,” ujarnya.

Namun Maxi juga mengingatkan kepada investor harus tetap waspada akan aksi ambil untung setelah indeks naik cukup tinggi dalam dua hari pertama perdagangan tahun ini.Sehingga bisa menekan indeks hari ini.

Saham-saham yang turut menekan indeks kali ini antara lain: Bumi Resources turun Rp 25 menajdi Rp 2.725, Telkom turun Rp 100 menjadi Rp 9.400, Bank Mandiri melemah Rp 125 menjadi Rp 4.675, PGAS terkoreksi Rp 50 menjadi Rp 4000, Astra International melorot Rp 500 menjadi Rp 34.800, Bank BRI turun Rp 150 menjadi Rp 7.600, serta United Tractor turun Rp 250 menjaid RP 15.800 per saham.

VIVA B KUSNANDAR

Kamis, 07/01/2010 16:32 WIB

IHSG turun 0,68% ke 2.586,89 terseret regional

oleh : Pudji Lestari

JAKARTA (Bisnis.com): Indeks harga saham gabungan (IHSG) gagal bertahan di level 2.600 hari ini setelah turun 0,68% atau 16,40 ke level 2.586,89 pada penutupan perdagangan sore ini.

Penurunan saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) dan PT Astra International Tbk menjadi penyebabnya, meskipun tertahan oleh kenaikan saham berbasis komoditas batu bara dan minyak sawit (crude palm oil/CPO).

Penurunan IHSG agaknya juga terbawa suasana rekannya di kawasan. Berdasarkan pemantauan Bloomberg terhadap 20 indeks bursa yang ada di Asia Pasifik, hanya empat indeks yang berhasil menghijau. Hingga berita ini diturunkan, ada sebagian bursa yang perdagangannya masih berlangsung.

Indeks yang berhasil membukukan kenaikan itu adalah Topix sebesar 0,08% ke level 931,85, NZX 50 Selandia Baru 0,40% ke level 3.284,81, PSEi Filipina 1,25% ke level 3.077,78, dan Karachi 100 di Pakistan yang naik 0,34% ke level 9.759,96.

Mayoritas memerah seperti IHSG, dengan penurunan terbesar dialami indeks Shenzen Composite sebesar 1,93% ke level 1.179,99 dan indeks Shanghai Composite 1,89% ke level 3.192,78.

Di pasar domestik, sebanyak 96 saham turun, jauh melampaui jumlah saham yang naik sebanyak 69 saham. Sebanyak 230 saham di Bursa Efek Indonesia yang diikutkan dalam perhitungan IHSG ditutup stagnan dibandingkan dengan penutupan sebelumnya.

Tak berbeda dengan posisi penutupan siang, saham Telkom mendominasi penurunan indeks. Harga sahamnya yang turun Rp250 menjadi Rp9.250 mengurangi indeks sebesar 6,56 poin. Di belakangnya saham Astra menekan indeks 5,80 poin setelah harganya turun Rp1.100 menjadi Rp34.200.

Saham PT Bank Mandiri Tbk ikut memberi sumbangan dengan penurunan 2,03 poin setelah harganya turun Rp75 menjadi Rp4.725. Kenaikan saham anak usahanya yakni PT Astra Agro Lestari Tbk mengurangi kejatuhan indeks.

Harga saham Astra Agro yang naik Rp950 menjadi Rp25.050 menambah indeks 1,95 poin. Saham PT Adaro Energy Tbk juga naik Rp40 menjadi Rp1.840, sehingga menyumbang kenaikan indeks sebesar 1,67 poin.

bisnis.com
Kamis, 07/01/2010 16:11 WIB
IHSG Kehilangan 16 Poin
Indro Bagus SU – detikFinance

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) jatuh semakin dalam pada perdagangan sesi II dan ditutup kehilangan 16 poin mengikuti bursa-bursa regional Asia dan Eropa yang juga berkutat di zona merah sepanjang perdagangan hari ini.

Volume transaksi mulai menurun tipis lantaran perburuan saham-saham Bakrie 7 yang biasanya mendominasi, kini mengendur. Nilai transaksi mengalami penurunan cukup besar karena menurun drastisnya aktivitas transaksi saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menjadi di bawah Rp 1 triliun.

Aktivitas transaksi saham-saham unggulan lainnya juga mengendur. Konsentrasi transaksi terjadi pada saham-saham di bawah Rp 5.000, sehingga membuat nilai transaksi di seluruh pasar menyusut.

Dari 10 indeks saham sektoral, hanya indeks saham sektor perkebunan yang mengalami kenaikan tertinggi sebesar 75,524 poin (4,08%) ke level 1.924,467. Indeks saham pertambangan yang pada sesi I berada di zona merah, di akhir perdagangan berbalik arah ke zona hijau, naik tipis 0,364 poin (0,01%) ke level 2.346,033.

Perdagangan hari ini berjalan tanpa perlawanan dari pihak pembeli, meskipun IHSG sempat berada di zona hijau pada awal perdagangan. Namun tekanan jual tampak mendominasi perdagangan, sehingga IHSG tak mampu lepas dari zona merah.

Pada perdagangan Kamis (7/1/2010), IHSG ditutup melemah 16,402 poin (0,64%) ke level 2.586,895. Indeks LQ 45 juga melemah 3,762 poin (0,74%) ke level 509,446. Rentang pergerakan IHSG pada sesi I hari ini berada dalam kisaran 2.570,273 dan 2.611,603.

Seluruh bursa-bursa regional Asia juga mengalami koreksi setelah rally panjang sejak sebelum tutup tahun.

Indeks Hang Seng turun 147,22 poin (0,66%) ke level 22.269,45.
Indeks Nikkei-225 turun 49,79 poin (0,46%) ke level 10.681,66.
Indeks Straits Times turun 19,06 poin (0,65%) ke level 2.911,43.
Indeks KOSPI turun 21,87 poin (1,28%) ke level 1.683,45.

Perdagangan saham hari ini berjalan moderat dengan frekuensi transaksi di seluruh pasar 88.921 kali pada volume 4,887 miliar lembar saham senilai Rp 4,013 triliun. Sebanyak 73 saham naik, 110 saham turun dan 72 saham stagnan.

Saham-saham yang mengalami kenaikan harga di top gainer antara lain Astra Agro (AALI) naik Rp 950 ke Rp 25.050, Lonsum (LSIP) naik Rp 500 ke Rp 9.200, Sinar Mas Agri Resources (SMAR) naik Rp 200 ke Rp 2.900, Sampoerna Agro (SGRO) naik Rp 150 ke Rp 2.975, Hexindo (HEXA) naik Rp 100 ke Rp 3.425, Indocement (INTP) naik Rp 200 ke Rp 14.400.

Sedangkan saham-saham yang turun harganya di top loser antara lain Gudang Garam (GGRM) turun Rp 400 ke Rp 20.900, Astra International (ASII) turun Rp 1.100 ke Rp 34.200, Bir Bintang (MLBI) turun Rp 300 ke Rp 176.700, Bayan (BYAN) turun Rp 250 ke Rp 5.550, United Tractors (UNTR) turun Rp 200 ke Rp 15.850, Indo Tambang (ITMG) turun Rp 400 ke Rp 32.600, Anker Bir (DLTA) turun Rp 900 ke Rp 62.100.
(dro/qom)

07/01/2010 – 13:01
IHSG Jebol ke Bawah 2.600, Ada Potensi ‘Rebound’
Ahmad Munjin

(inilah.com /Dokumen)
INILAH.COM, Jakarta – Pertahanan IHSG di atas 2.600 akhirnya jebol juga. Tekanan jual mewarnai pasar, setelah indeks naik signifikan 7 hari berturut-turut. Namun, analis memprediksi, ada potensi rebound hingga akhir perdagangan.

Pada Kamis (7/1) sesi pertama, IHSG  melemah 16,675 poin (0,64%) ke level 2.586,622. Indeks saham unggulan LQ 45  juga melemah 3,540 poin (0,68%) ke level 509,668.
Perdagangan di Bursa Efek Indonesia, dimana volume transaksi tercatat 2,798 miliar lembar saham, senilai Rp 2,299 triliun saham dan frekuensi 51.090 kali. Sebanyak 64 saham naik, 96 saham turun dan 66 saham stagnan.

Hampir semua sektor memerah, kecuali perkebunan yang masih terpantau menguat. Saham sektor finansial memimpin penurunan dengan anjlok 1,4%, disusul aneka industri melemah 1,2%, perdagangan 1,03%, serta infrastruktur dan konsumsi 0,8%. Demikian pula sektor manufaktur turun 0,7%, tambang 0,13%, serta properti dan industri dasar melemah 0,1%.

Saham CPO masih menguat, akibat bertahannya sentimen positif kenaikan harga komoditas perkebunan tersebut. PT Astra Argo Lestari (AALI) naik 3,7% ke Rp25.000, PT London Sumatra (LSIP) naik 5,7% menjadi Rp9.200 dan PT Sampoerna Agro (SGRO) naik 4,42% ke Rp2.950
Budi Ruseno, analis senior dari PT Bhakti Capital memperkirakan pergerakan indeks bisa berbalik arah, dan bergerak variatif cenderung menguat (mixed to higher). “Indeks akan bergerak pada kiasran support 2.580 dan 2.630 sebagai level resistance-nya,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Kamis (7/1).

Menurutnya, salah satu pemicu penguatan IHSG berasal dari penguatan nilai tukar rupiah yang mengarah ke level 9.000 per dolar AS. Selain itu naiknya harga minyak dunia yang saat ini berada di level US$83 per barel .
Harga minyak masih di perdagangkan mendekati level tertinggi dalam 14 bulan, seiring prediksi cuaca yang semakin dingin di AS dan China, konsumer energy terbesar dunia. Harga minyak mentah naik 0,02% ke US$83,2 barel, CPO naik 16,5% ke RM3.206/MT, nikel naik 2,4% menjadi US$19,155/MT, dan timah naik 2,6% ke US$17,825/MT.

Namun, perkembangan bursa regional yang cenderung variatif, setelah beberapa hari terakhir menguat serta technical correction beberapa saham karena valuasi harganya yang overbought, akan menekan indeks. “Sehingga, IHSG akan bergerak variatif cenderung menguat, pada kisaran yang sempit,” paparnya.

Terkait dengan naiknya harga komoditas, ia memprediksikan, sektor saham komoditas baik pertambangan dan perkebunan, masih berpotensi menjadi penggerak indeks hari ini.

Adapun saham-saham pilihan Budi adalah PT Indo Tambangraya Megah (ITMG), PT Bukit Asam (PTBA), dan PT Astra Agro Lestari (AALI). “Saya rekomendasikan short term trading untuk saham-saham tersebut,” pungkasnya.
Di sisi lain, Henan Putihrai Securities memperkirakan, IHSG akan bergerak mixed dengan kecenderungan menguat. Apresiasi terhadap nilai tukar rupiah di tengah naiknya harga komoditas global, akan berimbas positif terhadap indeks. “IHSG kemungkinan bergerak pada kisaran 2.570/2.587-2.621/2.639,” ungkapnya dalam riset, Kamis (7/1).

Dari sisi teknikal, terutama dengan menggunakan candlestick chart, Indeks membentuk pola spinning tops. Secara teoritis pola ini mengindikasikan neutral lines.

Jika indeks benar-benar melemah, maka target penurunannya adalah support I dan II serta berikutnya 2.511, yang merupakan middleline dari bollinger band. “Namun apabila indeks sanggup bertahan, maka target kenaikannya adalah resistance I dan II hari ini,” ulasnya.

Siang ini, saham-saham unggulan yang melemah cukup besar antara lain PT Gudang Garam (GGRM) turun Rp500 di posisi Rp20.800, PT Astra International (ASII) terkoreksi Rp500 menjadi Rp34.800, PT Bayan (BYAN) anjlok Rp250 ke Rp5.550, PT United Tractors ( UNTR) melemah Rp250 ke level Rp15.800 dan PT Indo Tambang (ITMG) turun Rp200 ke Rp32.800. [ast/mdr]

07/01/2010 – 12:05
Kembali ke 2.500
IHSG Ditutup Runtuh 16,68 Poin
Susan Silaban

(inilah.com /Dokumen)
INILAH.COM, Jakarta – Adanya pemburuan saham-saham berkapilitasi besar membuat indeks terkoreksi. Indeks  sesi 1 pun berakhir turun 16,68 poin (0,64%) ke level 2.586,62. IHSG pun kembali ke level 2.500.

Setengah hari perdagangan keempat pada 2010 ini, sektor pertanian yang masing menghijau tak mampu menjadi penggerak indeks. Sektor pertanian pun tembus 77,40 poin ke level 1.926, sayang sektor pertambangan ditengah gairahnya harga minyak malah anjlok 3,20 poin ke level 2.342.

Bukan hanya itu saja, indeks saham JII pun koreksi 1,41 poin ke level 430 dan indeks saham LQ45 pun terkulai turun 3,54 poin ke level 509,67. Namun, nilai dan volume transaksi di lantai bursa cukup besar mencapai Rp2,216 triliun dengan 2,76 miliar lembar saham.

Adapun saham-saham yang menjadi top gainer, antara lain Astra Agro Lestari Tbk (AALI) ditutup naik Rp900 ke Rp25.000, PP London SUmatera Tbk (LSIP) naik Rp500 ke Rp9.200, Indocement Tunggal Prakasa Tbk (INTP) naik Rp100 ke RP14.300 serta Bisi International Tbk (BISI) naik Rp50 ke Rp1.550.

Saham-saham yang masuk dalam top looser antara lain, Gudang Garam Tbk (GGRM) turun Rp500 ke Rp20.800, Astra International Tbk (ASII) turun Rp500 ke Rp34.800, Multi Bintang Indonesia Tbk (MLBI) turun Rp300 ke Rp176.700, serta Bumi Reosurces Tbk (BUMI) turun Rp25 ke Rp2.725. [san/cms]

 

periode kelam berganti haluan terus … 070110

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 6:34 am

07/01/2010 – 05:53
Dow dan S&P 500 Aman, Nasdaq Tergelincir
Mosi Retnani Fajarwati

INILAH.COM, New York – Pada perdagangan Rabu (5/1), Wall Street kembali ditutup mixed dipicu oleh sikap para investor akan data ekonomi yang bermunculan.

Dow Jones dan S&P 500 ditutup dengan berada pada level tertinggi dalam 15 bulan terakhir. Namun tidak pada Nasdaq. Pemicunya adalah atmosfir kekawatiran akan data tenaga kerja bulanan, yang akan muncul pada Jumat ini. Para trader masih melihat ke arah mana perekonomian AS pada awal 2010.

Pertanda pertumbuhan industri jasa, menyumbang sentimen positif bagi indeks. The Institute for Supply Management mengatakan, industri tersebut naik ke 50,1 untuk Desember dari sebelumnya 48,7 untuk November. Hal tersebut melebihi proyeksi sebelumnya.

Namun, data tersebut tergoyahkan pasalnya pada sektor swasta pada bulan Desember lalu mengurangi tenaga kerja hingga 84 ribu karyawan. Data tersebut melebihi proyeksi para analis ketimbang hasil the ADP National Employment Report.

Sedangkan dari pertemuan the Fed di Desember lalu, mengungkapkan bahwa beberapa bank sentral anggotanya menyatakan agar stimulus sebesar US$1,25 triliun harus ditambah ketimbang dihentikan pada 31 Maret mendatang. Selain itu, kekawatiran akan kenaikan suku bunga acuan the Fed juga menjadi fokus para investor.

Pada penutupan perdagangan Rabu, Dow Jones naik 1,66 poin (0,1 %) ke 10.573,68, S&P 500 naik 0,62 poin (0,1 %) ke 1.137,14, dan Nasdaq turun 7,62 poin (0,3 %) ke 2.301,09. [mre/cms]
Kamis, 07/01/2010 00:00 WIB

REKOMENDASI

oleh :

Trimegah Securities:

Data ekonomi yang cenderung mixed membuat perdagangan kemarin bergerak ke wilayah negatif akibat tekanan jual dari aksi ambil untung.

Pelaku pasar sebaiknya lebih waspada mengingat munculnya sinyal bearish dan stochastic yang berada di wilayah jenuh beli. IHSG hari ini diperkirakan bergerak mixed di kisaran 2.580-2.630.

Panin Sekuritas:

Setelah 7 hari perdagangan berturut-turut menguat, IHSG kemarin mengalami profit taking dan ditutup melemah tipis 0,08% ke level 2.603,29. Hari ini kami perkirakan indeks bergerak mixed pada kisaran support-resistance 2.580-2.618. Perhatikan kemungkinan berlanjutnya profit taking pada saham unggulan yang telah mengalami kenaikan tajam beberapa hari terakhir.

Kresna Securities:

Pada perdaganan hari kemarin, indeks harga saham gabungan (IHSG) membentuk pola doji star dan perlu menunggu konfirmasi selanjutnya untuk menentukan arah pergerakan indeks. Trading range untuk hari ini berada di kisaran 2.570-2.621. Rekomendasi BoW pada saham JSMR, TLKM, JSMR, dan INDF.