1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

KIS 2.0 (kedewasaan investor saham lanjutan) : 070110 7 Januari 2010

Filed under: Teknik Maen Saham — bumi2009fans @ 4:25 pm

… well, kedewasaan investor itu punya 2 makna penting : LEBE DEWASA, LEBE TAJIR … kedua kondisi itu HARUS MELEKAT PADA KEDEWASAAN INVESTOR, TERMASUK INVESTOR SAHAM …
Kamis, 07/01/2010 10:55 WIB
Saatnya Menabung di Pasar Modal
Indro Bagus SU – detikFinance

Jakarta – Mendengar kata tabungan, sebagian besar akan mengasosiasikannya dengan produk tabungan atau deposito dalam dunia perbankan. Padahal, konsep tabungan juga bisa diterapkan dalam dunia pasar modal.

Bagi sebagian orang, menabung tidak melulu harus ditaruh di bank, melainkan dalam produk-produk pasar modal seperti saham, reksa dana, obligasi dan sebagainya.

Menurut Direktur Utama PT Kresna Graha Sekurindo Tbk (KREN) Michael Stevens, masyarakat Indonesia kebanyakan masih kurang memahami konsep menabung di pasar modal. Padahal, lanjutnya, potensi selisih keuntungan yang akan diperoleh bisa lebih besar ketimbang tabungan atau deposito di bank.

“Sebenarnya, bagi masyarakat yang sudah memiliki tabungan atau deposito di bank, menambah bentuk tabungannya dalam produk pasar modal akan sangat menguntungkan,” ujar Michael pekan lalu.

Michael menjelaskan, tabungan atau deposito di bank cenderung memberikan selisih keuntungan (bunga) yang pasti, tentunya mengikuti kebijakan suku bunga Bank Indonesia (BI Rate). Namun biasanya, ujar Michael, selisih yang diberikan oleh bank lebih kecil ketimbang selisih yang diberikan dalam dunia pasar modal.
… soal tabungan, ada yang bilang : MENABUNG LEBIH CEPAT :    http://investasireksadanaindonesia09.blogspot.com/2010/01/lebe-cepat-lebe-baek-190110.html
“Bank memberikan bunga tidak besar, namun lebih aman, karena tingkat risikonya kecil. Nah, tabungan pasar modal lebih berisiko. Tapi jangan salah, kalau manajemen portofolionya bagus, risiko itu akan berkurang,” ujar Michael.

Michael menjelaskan, kebanyakan orang berpikir modal yang diperlukan untuk berinvestasi di pasar modal tidak perlu dilakukan secara berkala. Kebanyakan orang, lanjut Michael, berpikir kalau investasi di pasar modal itu bukan seperti menabung di bank, yaitu menempatkan modalnya secara kontinyu.

“Itu sebenarnya pemikiran yang kurang tepat, karena seharusnya investor pasar modal juga terus menaruh modalnya secara kontinyu setiap bulan seperti menabung di bank,” jelas Michael.

Menurut Michael, kalau seorang investor tidak menaruh modalnya untuk investasi secara kontinyu, itu akan menjadi sangat berisiko. Sebab, dengan cara itu portofolio yang dimilikinya akan bersifat pasif terhadap pergerakan harga saham yang terjadi di pasar.

Ilustrasinya seperti ini, seorang investor memiliki modal Rp 1 juta yang seluruhnya digunakan untuk membeli saham A sebanyak 10 ribu lembar di harga Rp 100 per saham.

Kalau investor tersebut tidak terus menerus melakukan pembelian, maka nilai aset saham yang dimilikinya hanya bergantung pada pasar. Kalau harga saham A naik 10 poin, maka aset dia menjadi Rp 1,1 juta. Sebaliknya, kalau harga saham di pasar turun 10 poin, maka aset dia menjadi Rp 900 ribu.

“Ini sangat berisiko, karena ia tidak berperan aktif dalam pembentukan harga di pasar, karena ia tidak terus melakukan pembelian secara kontinyu. Seandainya terjadi sesuatu yang menyebabkan harga saham jatuh tajam, maka nilai aset saham dia akan jatuh dan untuk mencapai nilai aset semula sangat tergantung pada
pasar,” ujarnya.

Nah, menurut Michael, kalau investor itu terus menerus melakukan pembelian saham A secara kontinyu, maka kalau terjadi penurunan harga saham, investor tersebut dengan terus melakukan pembelian saham akan menciptakan harga rata-rata pembelian yang selalu baru dan lebih rendah.

“Ini berarti, kalau harga rata-rata pembelian dia ikut turun seiring dengan penurunan harga saham, maka untuk memperoleh nilai modal semula tidak harus menunggu harga saham naik sebanyak penurunannya,” ujar Michael.

Ilustrasinya seperti ini, harga saham A menurun 50 poin, artinya nilai aset investor tersebut menjadi Rp 500 ribu. Jika investor itu tidak melakukan pembelian berkala, maka untuk mengembalikan modalnya, ia harus menunggu harga saham A naik hingga 50 poin.

Lain halnya kalau investor tersebut melakukan pembelian berkala. Sebut saja, ia memiliki tabungan Rp 1 juta setiap bulan. Nah, ketika harga saham A jatuh 50 poin, ia melakukan pembelian dengan dana Rp 1 juta. Berhubung harga saham A sudah di level Rp 50 (karena telah turun 50 poin), maka ia akan mendapatkan 20
ribu lembar saham A.

Sekarang berhitung, pada bulan pertama ia dengan modal Rp 1 juta membeli 10 ribu lembar saham A. Pada bulan kedua, dengan dana yang sama sebesar Rp 1 juta, ia memperoleh 20 ribu saham A, karena harga saham A sudah jatuh 50 poin.

Dengan demikian ia kini memiliki 30 ribu lembar saham dengan modal Rp 2 juta. Itu berarti harga rata-rata pembelian dia sebesar Rp 2 juta : 30 ribu lembar saham = Rp 66,67 per saham.

Kalau harga saham A naik ke Rp 70 saja, investor tersebut sudah mendapatkan kembali modalnya, plus selisih keuntungan sebesar Rp 3,33 per saham.

“Kalau mekanisme ini terus menerus dilakukan secara kontinyu, maka mau saham itu turun pun tidak masalah, karena akan membentuk harga rata-rata pembelian yang selalu baru, sehingga peluang untuk mendapatkan selisih keuntungan lebih besar,” ujar Michael.

Menurut Michael, jumlahnya tidak perlu besar, investor cukup menyisihkan berapa pun uang yang bisa ia masukkan ke pasar modal, asalkan dilakukan secara kontinyu.

“Jumlah tidak masalah, tergantung kemampuan masing-masing, yang penting dilakukan secara kontinyu setiap bulan seperti menabung di bank,” ujarnya.

(dro/qom)

KIS 1.0 : https://transaksisaham.wordpress.com/2009/12/27/kedewasaan-investor-saham/; KIS 3.0: https://transaksisaham.wordpress.com/2010/01/07/kis-3-0-070110/; KIS 4.0: https://transaksisaham.wordpress.com/2010/01/30/kedewasaan-investor-4-0-300110/

https://transaksisaham.wordpress.com/2010/04/06/k-i-s-5-0/

… baca juga posting KIS 1.0 : https://transaksisaham.wordpress.com/2009/12/27/kedewasaan-investor-saham/ … juga yang terbaru : https://transaksisaham.wordpress.com/2010/01/07/kis-3-0-070110/
… baca lage yang ini dah : https://transaksisaham.wordpress.com/2010/01/26/6105/
Portofolio Seimbang, Bisa Tidur Nyenyak
Posted By admin On October 9, 2008 @ 12:00 am In Business Update

Nama Betti Setiastuti Alisjahbana memang identik dengan dunia teknologi informasi (TI) dan IBM. Maklumlah, lebih dari 20 tahun ia menggeluti bidang TI dan 8 tahun menjadi Presdir IBM Indonesia (2000-Januari 2008). Namun, sejak April lalu ia tercatat sebagai founder & CEO PT Quantum Business International. QBI bergerak dalam industri kreatif dengan tiga lini bisnis: QB Headlines, QB Architects dan QB Creative IT. Melalui situs QB Headlines, Betti tidak hanya fasih berbicara soal TI, karier dan industri kreatif, tapi juga pengalaman investasinya.

“Di sini (QBI) termasuk salah satu investasi saya,” ujar Betti saat ditemui di kantor barunya, di Jalan Pangeran Antasari, Jakarta Selatan. Di gedung empat lantai itulah, ia berusaha membiakkan duitnya melalui bisnis industri kreatif yang dibesutnya. Penyertaan saham wanita lulusan Arsitektur Institut Teknologi Bandung ini di QBI sebesar 100%.

Menurut istri pengusaha Mario Alisjahbana ini, QBI bukanlah investasi satu-satunya. Ia menyebar investasinya ke beberapa instrumen. Betti teguh memegang prinsip investasi bahwa mengelola portofolio harus seimbang dan sesuai dengan karakter risikonya. Untuk itu, ia menaruh dananya 36% di keranjang properti, 26% di obligasi, 20% di reksa dana dan 18% untuk penyertaan saham langsung di perusahaan.

Betti bercerita, pertama kali ia melakukan investasi pada 1998. Saat itu ia mendapat tugas dinas ke Singapura. Ada dua hal yang mendorongnya aktif berinvestasi. Pertama, saat tinggal di Singapura, ia punya dua sumber penghasilan: dari Indonesia dan Singapura. “Saya bisa hidup dari satu sumber penghasilan itu, sehingga satunya lagi saya investasikan,” ibu dari Aslan (20 tahun) dan Nadia (15 tahun) itu berujar. Kedua, lingkungan di Singapura lebih mendukung untuk aktif berinvestasi. Sejak itulah, ia ketagihan berinvestasi. Paling tidak, 30% dari pendapatannya dialokasikan untuk investasi secara rutin.

Properti menjadi prioritas dan mayoritas (36%) investasi Betti. Mula-mula ia membeli apartemen di Australia. Ia tertarik, padahal mulanya belum ada rencana investasi di sana. Mengapa? “Karena cicilan selama 10 tahun bisa dibayar lewat kartu kredit dan langsung ada penyewa apartemennya. Sehingga, saya tidak usah capek cari duit untuk membayar angsuran,” ia menjelaskan sembari mengatakan, uang muka apartemen itu 30% dari harga yang dibanderol. Capital gains apartemen itu diakui Betti juga ciamik, yaitu dari apresiasi mata uang Aus$ terhadap rupiah dan passive income dari sewa.

Setelah apartemen di Australia, Betti getol berburu properti di Indonesia. Ia membeli beberapa apartemen di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, seperti The Groove, Epicentrum dan Apartemen Rasuna. Juga, membeli rumah di Kalibata dan tanah di Bintaro. Sejumlah apartemen dan rumah tersebut ia sewakan lagi. Kalau dipukul rata, yield investasinya mencapai 28%. Rinciannya, 18% dari capital gains dan 10% dari sewa. “Tanah di Bintaro rencananya akan saya bikin cluster 10 rumah untuk dijual lagi,” Betti mengungkapkan peruntukan lahan yang dibelinya tahun 1993 dengan harga puluhan ribu per m2 itu.

Lebih rinci, Betti menguraikan pengalamannya berinvestasi di apartemen. Tahun 2004, ia membeli satu unit apartemen di Kuningan seharga Rp 415 juta. Lalu, apartemen itu direnovasi dengan biaya Rp 39 juta. Untuk AC dan furnitur lengkap ia menghabiskan duit Rp 77 juta. Jadi, total investasinya sampai apartemen itu siap disewakan Rp 531 juta. Selanjutnya, ia menunjuk seorang agen untuk mencari penyewa sekaligus mengurusi segala detailnya, misalnya perbaikan-perbaikan. Harga sewa apartemen itu Rp 5,75 juta/bulan yang mesti dibayar tiap 6 bulan di depan. Setelah dipotong biaya pemeliharaan, fee untuk agen dan pajak penghasilan atas sewa, ia mengantongi penghasilan bersih Rp 54,5 juta/tahun atau yield-nya 10,2% dari nilai investasi yang ditanamnya.

Asyiknya, ia juga mendapatkan capital gains. Berdasarkan dokumen Pajak Bumi dan Bangunan tahun 2007, nilai jual objek pajak apartemen itu menjadi Rp 633,6 juta. Itu artinya dalam kurun tiga tahun capital gains yang dicetak 52,7% atau 17,6 % per tahun. Jika capital gains itu ditambah yield, dalam setahun keuntungan yang digenggam Betti menjadi 27,7%. “Imbal hasil ini sangat menarik. Apalagi, saya tidak perlu membayar semua investasi awal dengan dana sendiri. Sebab, bisa menggunakan pendanaan bank 75% dari harga apartemen,” ungkap pehobi golf, main piano, bernyanyi, berkebun dan mendesain interior itu.

Untuk obligasi dengan porsi 26% dari total portofolionya, Betti lebih suka membeli obligasi korporat di pasar perdana. Pertimbangannya dalam memilih jenis obligasi mengacu pada beberapa hal. Umpamanya, ia harus tahu rekam jejak organisasi perusahaan itu dan kondisi keuangannya, serta rating minimal A. “Tapi kalau saya tahu persis kondisi perusahaan itu, rating-nya bisa di bawah A,” ujarnya. Return obligasi yang diraihnya sekitar 18% tiap tahun.

Reksa dana tak luput dari bidikan Betti sejak 10 tahun lalu. Ia mengalokasikan duitnya 20% untuk bermain reksa dana. Pertimbangannya melirik reksa dana adalah di satu sisi ia melihat pasar saham menarik, tapi di sisi lain ia tidak punya banyak waktu untuk memelototi pergerakan harga saham. Maka, sebagian besar duitnya untuk investasi di reksa dana diguyurkan di reksa dana saham. Sisanya, dimasukkan ke reksa dana pendapatan tetap dan campuran. Apalagi, reksa dana dikelola manajer investasi, sehingga ia tidak perlu pusing memikirkan pengelolaannya. Return reksa dana saham Betti tahun 2007 mencapai 70%, tapi tahun ini minus 20%. “Kalau dihitung per Agustus 2007-Agustus 2008 minusnya 12%, sedangkan jika dihitung dari Januari-Agustus 2008, minusnya 20%,” Betti menjelaskan pengalaman untung dan rugi investasi reksa dananya.

Strategi Betti guna mengoptimalkan investasi reksa dana sahamnya, antara lain, menentukan tujuan investasi dan jangka waktu investasi yang dikehendaki. Juga, memperhatikan pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG). Biasanya IHSG memberikan gambaran umum arah pergerakan nilai aktiva bersih (NAB). “Belilah reksa dana saham saat IHSG mulai menunjukan tanda-tanda grafik naik, karena NAB biasanya akan mengikuti,” ujar Betti menyarankan.

Penyertaan saham dengan porsi 10% juga masuk keranjang investasi Betti. Menurutnya, untuk transaksi saham secara langsung di Bursa Efek Indonesia, porsinya sangat kecil. Sebaliknya, untuk penyertaan saham secara langsung di perusahaan, banyak menyedot dananya. Investasi ini dibedakan menjadi dua. Pertama, investasi di perusahaan yang ia bangun sendiri, misalnya QBI. Kedua, investasi di perusahaan yang dirintis oleh sejumlah anak muda di industri kreatif.

Meski bermain saham langsung jarang dilakukan Betti, tapi ia punya tip jitu. Ia menjelaskan, dalam memilih saham blue chips perlu memperhatikan: cari saham yang price-earning ratio (P/E ratio)-nya lebih rendah dari perusahaan sejenis. Kemudian, simak tingkat pertumbuhannya. Jangan lupa, perhatikan besaran dividen yang dibagikan. Tak ketinggalan, lakukan diversifikasi jenis saham supaya lebih aman untuk menyebar risiko. “Selain menganalisis beberapa hal itu, saya juga memperhatikan rekomendasi dari beberapa perusahaan sekuritas,” ia menambahkan.

BOKS:

10 Tip Investasi Betti

Menurut Betti, dalam berinvestasi, Anda tidak akan pernah 100% benar. Namun, investor dapat meningkatkan potensi hasil dan menekan risiko dengan 10 kiat:

1. Tentukan tujuan Anda

Pertanyaan yang sangat mendasar di sini adalah apa yang Anda inginkan dari uang Anda. Hasil investasinya untuk siapa? Apakah Anda siap rugi? Bila Anda memang senang ambil risiko dan mampu menanggungnya, akui saja, tapi beri batas pada investasi-investasi yang sifatnya spekulatif.

2. Lindungi milik Anda

Anda akan lebih menyesal kehilangan apa yang Anda miliki ketimbang kehilangan kesempatan dalam suatu investasi. Asuransi jiwa biasanya tidak mahal. Membeli proteksi terhadap kehilangan pekerjaan lebih mahal, tapi bisa berguna jika Anda adalah satu-satunya pencari uang dalam keluarga.

3. Lunasi pinjaman rumah

Melunasi pinjaman rumah secepat mungkin adalah penggunaan uang lebih yang paling tidak berisiko, karena Anda akan menghemat biaya bunga. Namun, camkan, jangan mengambil pinjaman yang lebih besar untuk membiayai suatu investasi.

4. Tegar menerima kerugian

Tidak semua investasi akan berhasil. Beberapa akan gagal memberikan hasil sebesar yang Anda yang harapkan dan beberapa akan rugi.

5. Sabar

Waktu dan kesabaran akan menyelamatkan masa-masa sulit investasi Anda. Tidak ada gunanya panik, tapi Anda bisa mengambil keuntungan bila orang lain terburu-buru menjual.

6. Kerjakan persiapan yang dibutuhkan

Siapkah Anda melakukan pekerjaan yang dibutuhkan untuk suatu investasi? Misalnya, memilih, memonitor dan membayar pajak. Bila tidak punya banyak waktu, serahkan ke fund manager atau beli reksa dana.

7. Pastikan potensi keuntungan yang akan Anda raih sepadan dengan risikonya

Tidak ada salahnya bila Anda ingin mengambil risiko lebih besar dan berspekulasi, asal Anda sadar risikonya dan Anda berani menerima kerugian. Jangan lupa risiko besar itu sama artinya dengan kecilnya kemungkinan menang. Pelajari seberapa besar kemungkinan Anda untuk menang dan seberapa besar risiko yang Anda ambil.

8. Tahu kapan harus menjual

Mengetahui kapan harus menjual adalah hal yang sulit. Jadi, buatlah suatu aturan, misalnya menjual bila investasi Anda sudah untung atau rugi dalam jumlah persentase tertentu.

9. Baca tulisan-tulisan kecil pada lembar prospektus

Bacalah semua materi prospektus, lalu tanyakan apa skenario terburuk yang bisa terjadi. Ini untuk meyakinkan bahwa perusahaan tidak menyembunyikan sesuatu.

10. Bangun tanpa berdebar-debar

Strategi investasi dan portofolio Anda harus membuat Anda bisa tidur nyenyak tanpa kesulitan dan bangun pagi tanpa rasa berdebar-debar.

Iklan
 

2 Responses to “KIS 2.0 (kedewasaan investor saham lanjutan) : 070110”

  1. […] KEDEWASAAN INVESTOR SAHAM (KIS) yg gw iri dah (the maturity stages of the investor) […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s