1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

KIS 3.0. … 070110 7 Januari 2010

Filed under: Investasi Umum,Mentalitas Investor — bumi2009fans @ 11:17 pm

Stephanus Turangan: Menghindari Investasi yang Spekulatif
Senin, 21 Desember 2009
Oleh : Eva Martha Rahayu
Dengan prinsip investasi untuk jangka panjang, Stephanus selalu berusaha menjauhi unsur spekulasi dalam mengelola portofolio pribadinya. Hasilnya, dia mengaku untung dan bisa mengukur risiko.

Nama Stephanus Turangan pasti tidak asing lagi di industri keuangan. Setelah meraih gelar MBA dari Case Western Reserve University, Amerika Serikat, dia meniti karier di Bahana Sekuritas, Mandiri Sekuritas dan Deutsche Bank. Bahkan, di bank asal Jerman itu, posisi terakhirnya adalah Direktur Keuangan. Dan, kini dia tercatat sebagai Direktur Eksekutif PT Danareksa (Persero).

Di balik kariernya yang cemerlang itu, dia pun punya pengalamanan menarik dalam mengelola investasi pribadi. Stephanus bercerita, sejak mahasiswa di AS, dia sudah menjadi investor saham kecil-kecilan. Tepatnya, tahun 1986, saat usianya 21 tahun, dia melakukan trading efek di sana. Mengapa? “Saya tertarik dengan penjelasan dosen finance saya tentang investasi saham. Lalu, saya coba-coba main. Eh…nggak nyangka, keterusan sampai tiga tahun,” ucap pria kelahiran Bandung, 20 Agustus 1965, ini mengenang.

Kebiasaan investasinya berlanjut hingga dia balik ke Tanah Air. Apalagi, setelah bekerja, dia mempunyai modal lebih gede. Namun, setelah berkeluarga, alokasi dana investasi itu berkurang. Rinciannya, dari 100% penghasilan, 70% untuk konsumsi (kebutuhan rumah tangga dan biaya sekolah anak) dan 30% sisanya untuk investasi.

Pehobi olah raga ini menjelaskan, prinsip investasinya: pertama, berinvestasi untuk jangka panjang; kedua, guna memaksimalkan keuntungan, tidak menaruh telur di satu keranjang. Jika fokus di satu instrumen saja, investor memang lebih banyak mencetak untung. Konsekuensinya, risiko lebih tinggi jika tidak melakukan diversifikasi. “Jurus ini cocok untuk karakter investor yang risk taker. Sementara saya sendiri belum siap, sehingga investasi saya masih disebar ke beberapa keranjang,” ungkapnya. Nah, komposisi investasinya: 40% di properti dan 60% di sektor keuangan dalam bentuk saham, reksa dana dan obligasi.

Instrumen properti yang dilirik Stephanus berupa rumah dan apartemen. Pertimbangan memilih rumah, pertama, landed house bisa dijadikan tempat tinggal sendiri dan tren harganya naik terus; kedua, potensi kenaikan harga lebih cepat ketimbang apartemen. Perbandingan kenaikannya 20%:10%. Sementara, alasannya membeli rumah vertikal (apartemen): bisa disewakan, sehingga memberikan pemasukan pasif.

Strateginya investasi di properti: pertama, agar harganya lekas terkatrol, dia memilih rumah yang kisaran harganya Rp 300-500 juta karena banyak peminatnya. Kedua, memilih lokasi di daerah pinggiran, lantaran harga justru lebih cepat naik akibat pertumbuhan pesat jumlah kalangan menengah. Ketiga, mencari lokasi di area utama yang dekat dengan sentra bisnis.

Dengan trik seperti itu, properti Stephanus pun berlokasi di Jakarta Selatan dan Pusat. Alasannya, cari lokasi yang dekat dengan tempat bekerja dan lebih gampang cari penyewa jika apartemen berada di tengah kota.

Seperti diketahui, investasi Stephanus di sektor keuangan berupa saham, reksa dana dan obligasi. Untuk saham, dia pertama kali main saham di Indonesia tahun 1994. Investasi saham secara langsung itu bertahan hingga tahun 2000. Alasannya, pada 1994-2000 tren harga saham naik-turun, sehingga ada potensi menarik capital gain. Waktu itu dia lebih banyak untung. Namun, petaka datang pada 1997-98 saat krisis moneter: harga saham berjatuhan. Termasuk, saham-saham yang dibelinya. Akibatnya, dia menderita kerugian besar karena semua sahamnya drop hingga di bawah Rp 100 per lembar.

Pelajaran yang bisa dipetik dari pengalaman buruk itu, saham bukan wahana investasi jangka pendek. “Kecuali, bila kita punya waktu 100% untuk memonitor pergerakan harga saham dan mengelola sendiri investasinya,” ungkap ayah Reshi (15 tahun) dan Nara (13 tahun) ini. Jadi, kalau tidak punya waktu khusus, sebaiknya investasi saham untuk horison jangka panjang.

Pada 2000-01 Stephanus vakum bermain saham. Baru pada 2002, dia melirik lagi investasi saham, tetapi tidak secara langsung, yakni lewat reksa dana. Jadi, reksa dana yang dibelinya mula-mula reksa dana saham, terus berlanjut ke reksa dana pendapatan tetap dan reksa dana pasar uang.

Strateginya berinvestasi di reksa dana, antara lain, masuk ke instrumen berbasis obligasi dan saham ketika suku bunga tinggi dan pasar saham bearish. Dengan demikian, jenis reksa dana yang cocok adalah pendapatan tetap dan saham, karena harganya terbilang murah.

Trik lain, ketika suku bunga turun, contoh pada 2009, harus hati-hati sampai 6 bulan ke depan. Pasalnya, ada siklus konsolidasi. Untuk itu, dia melikuidasi reksa dana pendapatan tetap dan memindahkannya ke reksa dana saham. Selanjutnya, bila Indeks Harga Saham Gabungan terlalu tinggi, reksa dana itu dipindah lagi ke reksa dana pasar uang.

Stephanus cukup selektif dalam memilih reksa dana. Beberapa faktor diperhatikan, misalnya, rekam jejak perusahaan fund manager. Kebetulan perusahaan investasi yang dipilihnya eksis sejak 1990-an. Juga, mencoba produk reksa dana kecil yang baru tumbuh. Mengapa? Biasanya reksa dana ini kinerjanya jauh lebih agresif, sehingga berhasil mencetak yield lebih tinggi ketimbang reksa dana yang dikelola fund manager yang sudah mapan. Konsekuensinya, ketika pasar saham jeblok, reksa dana jenis ini lebih parah rontoknya. “Saya alokasikan 5% investasi untuk reksa dana baru ini,” ujar Stephanus, yang memercayakan investasi reksa dana dikelola perusahaan fund manager BUMN dan asing.

Sementara di obligasi, di tahun 2000 dia pernah membelinya langsung dalam bentuk pecahan. “Tapi, saya repot menjualnya, karena harga obligasi yang saya beli kecil. Sementara yang likuid ditransaksikan itu obligasi yang nilainya Rp 1 miliar,” katanya. Akhirnya, obligasi itu terjual setelah 6 bulan ditawarkan menunggu pembeli. Yield-nya sekitar 30% dalam tempo investasi dua tahunan.

Adapun tipnya membeli obligasi korporasi, mula-mula lihat kondisi neraca keuangan dan cash flow perusahaan penerbit obligasi. Lalu, belilah obligasi ketika suku bunga sedang tinggi, karena banyak harga obligasi terdiskon. Contoh, tahun 2008 beberapa obligasi di pasar harganya menyusut tinggal 40%-50%. Jangan lupa, pastikan bahwa perusahaan itu jarang default dalam pembayar kupon obligasinya. Tak ketinggalan, telisik siapa pemilik perusahaan untuk memastikan reputasinya.

Ibarat dua sisi mata uang, investasi Stephanus ada yang untung, ada pula yang buntung. Pengalaman untung dicontohkan saat investasi properti. Sebagai gambaran, rumah yang dibeli tahun 1995 dan kemudian dijual tahun 2000, harganya naik lebih dari 100%. Begitu juga saat membeli apartemen. Tahun 2001 dia membeli apartemen dan lima tahun kemudian harganya naik 100%. “Itu tidak bisa dijadikan acuan umum. Sebab kebetulan waktu itu penjualnya lagi butuh duit, sehingga dijual ke saya dengan harga miring. Tapi, apartemen itu belum saya lepas, meski beberapa kali ditawar orang.”

Sementara investasinya di saham sering untung lebih dari 50% dalam tempo 6 bulan. Sebaliknya, pengalaman buntung diderita waktu krismon, sehingga rugi gila-gilaan. Bagaimana dengan reksa dana? Berdasarkan pengalamannya, imbal hasil 100% dalam genggaman sejak membeli reksa dana saham tahun 2002-05. Bahkan, bisa 300% ketika sedang hoki. Meski demikian, dia pernah rugi pada 2007-08, karena nilai aktiva bersih reksa dana saham turun 40%.

Saat pensiun kelak, Stephanus berniat mengubah strategi. “Ketika tidak ada income lagi, saya harus memastikan bahwa investasi itu aman dan nilainya tidak menyusut drastis,” tuturnya. Itulah sebabnya, nanti mayoritas investasinya masuk ke deposito dan sebagian sektor riil, umpamanya restoran.

BOKS

Pelajaran Berinvestasi dari Pengalaman Stephanus

Properti:

Pilih harga rumah di kisaran Rp 300-500 juta karena banyak peminatnya.
Cari yang berlokasi di daerah pinggiran karena harganya cepat naik akibat pesatnya perumbuhan kelas menengah.
Cari lokasi di prime area yang dekat dengan sentra bisnis.
Pilih yang ada di perumahan karena lebih aman soal legalitas dan infrastruktur lebih bagus.

Reksa dana:

Beli instrumen ini ketika suku bunga tinggi dan pasar saham bearish.
Perlu waspada paling tidak selama 6 bulan ketika suku bunga turun karena ada siklus konsolidasi. Saat itu terjadi, switch dari reksa dana pendapatan tetap ke reksa dana saham.

Obligasi:

Lihat kondisi neraca keuangan dan cash flow perusahaan penerbit obligasi.
Beli obligasi ketika suku bunga sedang tinggi, karena banyak harga obligasi terdiskon. Contoh, tahun 2008 beberapa obligasi di pasar harganya menyusut tinggal 40%-50%.
Pastikan bahwa perusahaan tersebut jarang default dalam pembayar kupon obligasinya.
Telisik siapa pemilik perusahaan untuk memastikan reputasinya.

… coba bandingkan dengan posting yang satu ini (oooopppss dalam bahasa Inggris seh ): http://ekonomitakseriuslagi.blogspot.com/2009/04/dokter-cinta-no-more-passive-incomer.html#links

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s