1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

selalu ADA sasaran untuk setiap INVESTASI … 130110 13 Januari 2010

Filed under: Teknik Maen Saham — bumi2009fans @ 3:49 pm

Expected Return
Senin, 11 Januari 2010 – 08:44 wib

Tahun baru tentu merupakan awal bagi pelaku pasar dalam memulai kegiatan investasinya. Bisa jadi, strategi investasi sudah disusun rapi, portofolio yang akan menjadi instrumen investasi sudah disusun, dan bukan tidak mungkin juga pelaku pasar – investor ritel hingga fund manager, perusahaan pengelola dana – sudah mematok target berapa expected return yang ingin diraih pada 2010.

Kata kunci di sini adalah expected return, atau keuntungan yang ingin dicapai. Taruh kata investor X mematok expected return 25 persen dari asset investasinya. Artinya, jika ia memiliki dana untuk diinvestasikan di saham sebanyak Rp100 Juta, maka ia berharap akhir tahun nanti akan tumbuh menjadi Rp125 Juta.

Pertanyaannya, apakah mungkin setiap saham yang dijadikan portofolio akan memberikan return sebesar 25 persen? Ini sebuah pertanyaan yang wajar. Dan jawabnya jelas tidak mungkin. Jika uang sebanyak Rp100 Juta itu diinvestasikan ke lima jenis saham dan mengharapkan lima jenis saham tadi masing-masing memberikan return sebesar 25 persen, maka hal yang demikian merupakan sesuatu yang jarang sekali terjadi.

Lantas, apakah uang sebanyak itu harus diinvestasikan pada satu jenis saham saja yang memiliki kemungkinan return sebesar 25 persen atau lebih? Sikap seperti ini mungkin saja bisa terjadi. Investor tidak perlu repot memilih dan memilah-milah saham untuk dijadikan portofolio investasi. Investor cukup memilih satu jenis saham saja yang memiliki probabilitas untuk menghasilkan gain sebesar 25 persen. Namun, cara seperti ini tidak ada bedanya dengan melempar dadu, berjudi, karena risikonya sangat besar. Memilih satu saham dari sekian ratus saham yang mampu menghasilkan keuntungan 25 persen setahun bukanlah pekerjaan gampang. Banyak risikonya. Kemungkinan perhitungan meleset sangat besar. Ini jelas bertentangan dengan nasihat kuno tentang investasi: don’t put your money in one basket.

Diversifikasi adalah jalan yang paling baik ditempuh untuk menghasilkan expected return sebesar 25 persen tadi. Misalnya investor memilih lima jenis saham untuk mengisi portofolionya. Jelas bahwa tidak semua saham memiliki kemampuan menghasilkan capital gain yang sama.

Ada saham yang bisa mencetak gain 25 persen setahun, 35 persen atau bahkan 100 persen. Tapi harus disadari ada juga saham yang hanya memiliki kemampuan menghasilkan return sebesar 15 persen, 10 persen atau bahkan stagnan, sama sekali tidak ada perubahan harga dalam setahun.

Nah, kondisi seperti ini harus disadari sejak awal. Belum lagi menghitung soal risiko setiap saham. Setiap saham memiliki risiko yang berbeda-beda, tergantung jenis atau sektor industrinya, tergantung performance atau kinerja keuangannya, tergantung manajemennya dan sebagainya. Karena itu, expected return hanya bisa diwujudkan melalui strategi diversifikasi saham.

Anda misalnya telah memilih lima saham sebagai portofolio investasi tahun ini, yakni saham A,B, C, D dan E. Saham A expected return-nya 30 persen, saham B 20 persen, saham C 35 persen, saham D 25 persen dan saham E 15 persen. Jika alokasi investasi dilakukan secara proporsional di masing-masing jenis saham dan jika ternyata expected return itu tepat, maka di akhir tahun, Anda akan mendapatkan return sebesar 25 persen.

Persoalannya, bagaimana jika expected return terhadap masing-masing saham ternyata meleset, karena faktor risiko yang melekat di setiap saham? Untuk itu, Anda perlu melakukan kalkulasi ulang berapa porsi atau bobot investasi di setiap saham yang jadi portofolio tersebut.

Anda juga perlu menghitung berapa probabilitas expected return bisa tercapai untuk masing-masing saham. Anda bisa memperbesar porsi atau alokasi investasi pada saham-saham yang probabilitasnya tinggi, dan mengurangi porsi di saham-saham yang probabilitasnya rendah. Dari sana, Anda lebih bisa memastikan apakah saham yang dipilih sebagai portofolio memang mampu memenuhi expected return yang diinginkan. Jika Anda ingin mencoba, lakukan simulasi sesuai dengan kalkulasi yang Anda buat. (Tim BEI)(//rhs)

 

sebenernya … alasannya ADA seh … 130110

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 11:33 am

13/01/2010 – 10:48
Investor Antisipasi LK Q4 2009
Sebaiknya ‘BoW’
Susan Silaban

INILAH.COM, Jakarta – PT CIMB Securities Indonesia menyarankan kepada pelaku pasar untuk mengantisipasi laporan keuangan kuartal IV 2009 dengan buy on weakness.

Demikian diungkapkan analis CIMB Securities Mastono Ali dalam riset hariannya kepada INILAH.COM, Rabu (13/1).

Ia melihat indikator pagi ini, indesk berpeluang mengalami profit taking hari ini dengan naiknya CDS dan VIX. Momentum positif indeks saat ini sepertinya akan diuji apakah bisa menahan goncangan sentimen negatif regional, ditambah oleh terkoreksinya harga komoditas. Investor akan mengantisipasi laporan keuangan 4Q09 dengan melakukan Buy on weakness.

Indeks kemarin ditutup di 2659.55, +1.04 poin atau +1.04% dengan value Rp 4.7 triliun dan volume 7.0 miliar. BUMI 2875 (-0.86%) kembali menjadi top value dengan nilai Rp1.0 triliun (21% dari total transaksi), sementara BNBR 98 (+5.3%) menjadi top volume.

Saham-saham yang naik kemarin dipimpin oleh, ETWA 250 (+13.6), MLPL 70 (13%), ELTY 255 (10.8%), HMSP 11900 (10%). Sementara yang turun dipimpin oleh, TIRT 83 (-13.5%), IKAI 530 (-11.6%), CNKO 60 (-3.2%), RAJA 205 (-2.3%).

Diluar perkiraan, indeks semakin menguat menjelang closing kemarin meskipun menunjukan tanda-tanda profit taking pada pagi hari. 9 dari 10 sektor ditutup positif, dipimpin oleh T&S +2.5%, construction +2.1%, finance +2.1% sementara satu-satunya sektor yang melemah adalah tambang -0.97% (khususnya BUMI, ADRO). [san/cms]
DITOPANG SAHAM SEKTOR ENERGI, Indeks Berpotensi Sentuh Level 3.000
13/01/2010 13:35:15 WIB
Oleh Deviana Chuo

JAKARTA, INVESTOR DAILY
Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) berpotensi ditutup pada level 3.000 sampai akhir 2010. Penguatan indeks akan ditopang saham-saham sektor energi, infrastruktur, dan barang konsumsi.

Direktur Asia Financial Network (AFN) Pribadi Agung Sujagad mengatakan, International Monetary Fund (IMF) memprediksi pertumbuhan ekonomi tahun ini sebanyak 3,1%. Adapun Indonesia termasuk sebagai salah satu negara yang menopang pertumbuhan ekonomi Asia, selain Tiongkok dan India.

“Membaiknya ekspektasi pertumbuhan ekonomi dunia serta kondisi ekonomi dalam negeri akan menjadi sentimen positif terhadap pertumbuhan indeks tahun ini,” ujarnya dalam Indonesian Capital Market Outlook 2010 di Jakarta, Selasa (12/1).

Peningkatan ekspektasi pertumbuhan ekonomi global, menurut Agung, akan meningkatkan konsumsi energi serta komoditas. Konsumsi minyak global diproyeksikan naik dari 85 juta bph pada 2006 menjadi 91 juta bph pada 2015 dan 107 juta bph pada 2030. Sedangkan harga minyak diproyeksikan mencapai US$ 110 per barel pada 2010 dari US$ 61 per barel pada 2009 dan kemungkinan naik menjadi US$ 130 per barel pada 2030.

Meskipun terjadi tren penguatan harga minyak, menurut Agung, indeks bisa melemah pada semester I-2010. Pelemahan indeks akibat faktor non ekonomis, seperti kasus Bank Century. Rencana The Fed menaikkan tingkat suku bunga akan menambah sentimen positif perdagangan saham di BEI.

“Kenaikan tingkat suku bunga The Fed akan mengakibatkan capital outflow dari pasar emerging market, sehingga bisa menekan indeks menuju level 2.200 pada semester I-2010 ini,” tuturnya.

Equity Analyst AFN Monalisa mengatakan, investor dapat mencermati pergerakan saham ELSA, MEDC dan PGAS sepanjang 2010. Sebab, ketiga emiten sektor energi ini memiliki fundamental cukup menjanjikan. Selain ketiga saham ini, pemodal bisa mengoleksi saham komoditas batubara, seperti BUMI, ADRO, ITMG, dan PTBA.

Kinerja Emiten
Ketua Umum Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Haryajid Ramelan belum lama ini mengatakan, pelaku pasar optimistis prospek bursa saham cerah sepanjang tahun ini. Indeks bakal bergerak pada kisaran 3.000-3.500, seiring pulihnya pertumbuhan ekonomi dalam negeri, kinerja emiten, banyaknya emiten baru, penerbitan saham baru (rights issue), dan aksi-aksi korporasi lainnya.

Menurut dia, saham-saham emiten sektor pertambangan dan energi, infrastruktur, serta perbankan bisa menjadi incaran pemodal. Asalkan sepanjang tahun ini, pemerintah bisa menciptakan kepastian hukum dan menjaga pergerakan nilai tukar rupiah. Terkendalinya inflasi dan tingkat BI rate juga perlu diperhatikan pemodal dalam berinvestasi.

Presiden Direktur PT Merrill Lynch Indonesia Lily Widjaja mengatakan, pasar modal Indonesia kemungkinan melanjutkan penguatan yang dicapai sepanjang 2009. Pasa saham dalam negeri sudah mulai stabil sejak semester II-2009.

Menyangkut aliran dana investor asing, Lily mengatakan, selama pasar modal Indonesia bisa memberikan keuntungan, dana pemodal asing akan terus mengalir. Selain itu, pemodal domestik bakal meningkatkan nilai investasinya. “Dengan penurunan BI rate, investor asing pasti melirik pasar modal Indonesia. Jadi, sangat tergantung dengan prospek keuntungan yang bisa dicapai,” jelas Lily.

Adapun Kepala Riset PT BNI Securities Norico Gaman mengatakan, prospek pasar saham dalam negeri pada 2010 cukup positif. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi ditargetkan naik menjadi 5-5,5%. Pertumbuhan itu bakal direspons dengan peningkatan kinerja emiten dan direfleksikan ke dalam harga saham di pasar.

Selain pertumbuhan ekonomi, kata Norico, pertumbuhan indeks akan ditopang oleh stabilitas politik dan ekonomi, kepastian hukum, dan perbaikan iklim investasi di Tanah Air. Saham-saham sektor barang konsumsi dan energi bakal memberikan keuntungan menarik. Adapun emiten BUMN infrastruktur layak untuk dicermati seiring dengan rencana pemerintah menggelontorkan stimulus infrastruktur.

 

psikologis, psikologis, dan psikologis, tema ihsg … 130110

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 8:56 am

[ Kamis, 14 Januari 2010 ]
IHSG Masih Belum Berhasil Tembus Level 2.700
JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih belum berhasil menembus level 2.700. Pada transasksi perdagangan kemarin, indeks malah mengalami penurunan sebesar 26,68 poin atau sebanyak 1 persen ke posisi 2.632,87.

Analis PT Panin Sekuritas Tbk Purwoko Sartono mengatakan, memang peluang IHSG untuk menguat sudah relatif terbatas. ”Kenaikan indeks kemarin memanfaatkan momentum rebound saham perbankan, barang konsumsi (consumer goods), dan perkebunan di tengah mulai melemahnya saham pertambangan,” jelasnya.

Analis PT BNI Securities Asti Pohan menambahkan, sentimen negatif penurunan indeks bursa di Amerika Serikat (AS) menyebar hingga ke kawasan Asia. Sementara itu, harga komoditas juga diperdagangkan turun termasuk harga minyak bumi, nikel, dan minyak kelapa sawit. ”pelemahan mata mata uang rupiah di transaksi pagi juga sempat mempengaruhi pergerakan IHSG,” jelasnya. Menurut Asti, penguatan IHSG yang cukup signifikan sehari sebelumnya membuat investor mengambil langkah profit taking atau ambil untung.

Sementara itu, berdasarkan data kurs tengah Bank Indonesia (BI), rupiah ditutup menguat tipis di level Rp 9.180 per USD dibanding dengan penutupan perdagangan sehari sebelumnyadi level Rp 9.185 per USD. Penguatan rupiah ditopang oleh kurs dolar AS yang merosot terhadap mata uang global seperti euro dan yen.

Pengamat pasar modal dari PT Anugerah Securindo Indah Arcadius Musri Djoko memprediksi, transaksi hari ini akan banyak diwarnai aksi beli selektif atau selective buy. Pemodal diperkirakan masih mencermati pergerakan saham-saham yang memiliki prospek cerah selama 2010. Saham-saham perbankan, barang konsumsi (consumer goods), dan perkebunan diprediksi masih akan banyak dikoleksi investor.

”Peluang penguatan masih besar karena IHSG masih belum menembus level resistance (batas atas, Red) pada minggu ini yakni 2.670,”tuturnya. Saham Bakrie Group diperkirakan masih akan bergerak positif seiring aksi korporasi yang belum selesai. PT Astra Internasional Tbk (ASII) yang sempat dua kali menjadi motor pergerakan bursa juga masih layak dikoleksi. ”Beberapa saham di sektor perbankan dan agribisnis seperti PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) juga masih prospektif untuk menguat besok (hari ini, Red),” jelasnya.(luq/kim)

Harga Saham Lokal Berjatuhan
Rabu, 13 Januari 2010 | 17:04 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta – Indeks harga saham domestik melemah di tengah tekanan jual karena aksi ambil untung yang dilakukan para investor seiring melemahnya bursa regional. Indeks mampu meredam kejatuhan lebih dalam pada saham-saham unggulan dan merata di semua sektor.

Alhasil, pada penutupan perdagangan hari ini indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, merosot 26,679 poin atau 1 persen ke level 2.632,872 dari posisi sehari sebelumnya di level 2.659,55.

Sebanyak 126 saham harganya berguguran. Hanya 46 saham yang untung, dan 65 saham lainnya stagnan. Investor asing mencatat penjualan bersih senilai Rp 112,91 miliar. Volume perdagangan mencapai 4,99 miliar saham, dengan nilai Rp 3,61 triliun, dan frekuensi sebanyak 83,66 ribu kali.

Analis dari PT Reliance Securities, Gina Novrina Nasution, menjelaskan aksi ambil untung yang dilakukan investor setelah naik kencang hampir 5 persen di awal 2010 ini membuat indeks jatuh. “Masih cukup wajar dan sehat bagi indeks,” kata dia.

Menurut Gina, melemahnya bursa regional karena kekhawatiran kebijakan pemerintah Cina untuk mengetatkan likuiditas, serta jatuhnya harga minyak hingga di bawah US$ 80 per barel membuat indeks harga saham domestik akhirnya harus turun dari level tertingginya kemarin.

Saham-saham yang menyeret kejatuahn indeks kali in antara lain: saham Indocement anjlok Rp 750 menjadi Rp 14.050, Indo tambangraya merosot Rp 700 menajdi Rp 32.800, Astra Agro terjun Rp 500 menjadi Rp 24.600, dan Gudang Garam terpuruk Rp 300 menjadi Rp 23.550.

Astra International jatuh Rp 300 menjadi Rp 35.100, Telkom terkoreksi Rp 100 menjadi Rp 9.400, serta United Tractor juga tergelincir Rp 150 menjadi Rp 17.750 per saham.

Untuk perdagangan Kamis (14/1), indeks harga saham diproyeksikan berayun dalam rentang antara 2.605 hingga 2.651.

VIVA B KUSNANDAR

Rabu, 13/01/2010 16:10 WIB

IHSG turun 1% ke 2.632,87 tertahan saham lini kedua

oleh : Pudji Lestari

JAKARTA (Bisnis.com): Indeks harga saham gabungan (IHSG) turun 1,00% atau 26,68 poin ke level 2.632,87 pada penutupan perdagangan sore ini menyusul aksi ambil untung saham berbasis komoditas.

Penurunan ini menipis dibandingkan dengan posisi penutupan sesi I sebesar 1,13% atau 29,92 poin ke level 2.629,63. Ini merupakan penurunan pertama dalam empat hari terakhir. Sejauh ini IHSG telah membukukan keuntungan total 3,89 poin atau 98,52% dibandingkan dengan posisi penutupan akhir tahun lalu 2.534,35.

Indeks menyentuh level tertinggi 2.657,90 dan terendah 2.623,46 pada sepanjang pagi hingga sore ini. Sebanyak 125 saham membukukan penurunan harga, sekitar tiga kali lebih banyak dari 45 saham yang harganya naik. Sebanyak 226 saham belum beranjak dari level penutupan kemarin. Volume transaksi tercatat sebanyak 4,27 miliar saham senilai Rp3,6 triliun. Pemodal asing membukukan transaksi jual bersih Rp110 miliar.

Kondisi penutupan sesi I dengan sesi II sore ini tidak jauh berbeda. Saham PT Bank Central Asia Tbk yang terkoreksi Rp150 ke level Rp5.000 tetap menjadi motor penurunan indeks dengan mengurangi 4,73 poin. Saham PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk mengurangi lagi indeks 3,57 poin setelah harganya turun Rp750 menjadi Rp14.050, sedangkan saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk yang turun Rp100 ke level Rp9.400 menggerus indeks 2,60 poin.

Posisi saham PT Semen Gresik Tbk yang berada pada posisi puncak penyumbang kenaikan indeks siang tadi tergeser oleh saham PT Matahari Departement Store Tbk, yang sebelumnya dikenal sebagai PT Pacific Utama Tbk. Saham berkode LPPF ini membukukan kenaikan Rp140 menjadi Rp1.600, menyumbang 0,53 poin bagi indeks.

Saham induk usahanya yakni PT Matahari Putra Prima Tbk menguntit dibelakangnya dengan sumbangan 0,37 poin setelah harganya naik Rp60 ke level Rp1.050. Saham PT Kertas Basuki Rachmat Indonesia Tbk berada pada urutan ketiga penyumbang kenaikan sebesar 0,25 poin setelah harganya naik Rp50 menjadi Rp310. Kenaikan harga sejumlah saham lini kedua tak kuasa menahan kejatuhan indeks.

Sentimen negatif masih menekan sebagian besar indeks bursa di Asia Pasifik. Koreksi terbesar dialami oleh indeks Shanghai Composite sebesar 3,09% ke level 3.172,66 disusul Hang Seng 2,59% ke level 21.748,60. IHSG turun terdalam kedelapan di kawasan. Indeks Colombo Sri Lanka, Ho Chi Minh, Karachi 100, dan Sensex 30 Bombay di India melawan tren dengan kenaikan sebesar 1,03%, 2,07%, 0,38% dan 0,06%. Posisi ini berdasarkan pemantauan Bloomberg terhadap 20 indeks bursa saham di Asia Pasifik pada pukul 16.00 WIB, sebagian bursa masih melangsungkan perdagangan.

bisnis.com

Sesi II Tutup
Ambil Untung Berlanjut, IHSG Tergerus 26 Poin
Asing membukukan pembelian saham Rp 787,26 miliar dengan penjualan Rp 897,7 miliar.
RABU, 13 JANUARI 2010, 16:15 WIB
Arinto Tri Wibowo

BERITA TERKAIT
Investor Beli Selektif, IHSG Makin Melaju
Saham Astra Topang IHSG di Level Positif
Aksi Beli Selektif Angkat IHSG
IHSG Ikuti Tekanan Jual Regional
Saham Komoditas Picu Tekanan Jual IHSG
Web Tools

VIVAnews – Tekanan jual yang melanda sejumlah saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) berlanjut hingga akhir sesi perdagangan Rabu 13 Januari 2010. Pelemahan indeks global dan regional ikut memberikan sentimen negatif bagi pasar.

Pada akhir transaksi hari ini, IHSG terpuruk 26,67 poin (1 persen) ke level 2.632,87. IHSG sempat menyentuh level tertinggi 2.657,9 dan terendah 2.623,46.

Volume transaksi mencapai 9,98 juta lot saham senilai Rp 3,6 triliun dengan frekuensi 83.664 kali. Sebanyak 51 saham menguat, 133 melemah, dan 71 saham lainnya stagnan. Sedangkan 226 saham tidak terjadi transaksi.

Saham-saham yang mengontribusi penurunan indeks di antaranya PT Indocement Tunggal Prakasa Tbk (INTP) yang melemah Rp 750 (5,06 persen) ke posisi Rp 14.050, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) turun Rp 150 (3,87 persen) menjadi Rp 3.725, dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) melemah Rp 75 (2,6 persen) ke posisi Rp 2.800.

Pemodal asing membukukan pembelian saham senilai Rp 787,26 miliar dengan penjualan sekitar Rp 897,7 miliar. Berdasarkan data tersebut, asing membukukan net selling Rp 110 miliar.

Analis PT BNI Securities Asti Pohan dalam ulasannya hari ini mengatakan, sentimen negatif penurunan indeks bursa di Amerika Serikat (AS) menyebar hingga ke kawasan Asia.

Sementara itu, harga komoditas juga diperdagangkan turun termasuk harga minyak bumi, nikel, dan minyak kelapa sawit. Mata uang rupiah pagi ini juga sempat bergerak melemah terhadap dolar AS, sehingga menunjukkan adanya pergerakan dana keluar.

“Penguatan yang cukup mengesankan kemarin memberikan ruang bagi investor untuk melakukan aksi ambil untung,” ujar dia.

Di bursa Asia, indeks Hang Seng melemah 578,04 poin (2,59 persen) ke posisi 21.748,6, Nikkei 225 terkoreksi 144,11 poin (1,32 persen) menjadi 10.735,03, dan Straits Times turun 23,92 poin (0,82 persen) ke level 2.892,19.

arinto.wibowo@vivanews.com

• VIVAnews

13/01/2010 – 16:02
Parah! IHSG Melarat Jeblok 1%
Susan Silaban

INLIAH.COM, Jakarta – Penutupan indeks di hari ketiga pada perdagangan pekan kedua 2010, indeks berakhir melarat. IHSG pun ditutup jeblok 26,68 poin (1%) ke level 2.632,87.
Satu hari perdagangan hari ini, nilai transaksi dan volume perdagangan bursa relatif kecil dibandingkan pekan perdana 2010 yang hampir mencapai Rp7 triliun. Kini, nilai transaksi ditutup Rp3,1 triliun dengan volume perdagangan 4,59 miliar lembar saham yang ditopang 51 saham menguat, ada 133 saham ditutup melemah dan ada 71 masih stagnan.

Indeks saham JII dan indeks saham LQ45 pun berakhir merah. Indeks saham JIIditutup anjlok 6,19 poin ke level 435 dan indeks saham LQ45 pun jeblok 6,57 poin ke level 518. Begitu juga dengan semua sektor di lantai bursa. Sektor pertambangan amblas 37,82 poin ke level 2.370.

Adapun saham-saham hari ketiga pekan kedua ini yang melarat antara lain, INTP turun Rp750 ke Rp14.050, ITMG turun Rp700 ke Rp32.800, AALI turun Rp500 ke Rp24.600,PTBA turun Rp300 ke Rp17.750, GGRM turun Rp300 ke Rp23.550, ASII turun Rp300 ke Rp35.100, BUMI turun Rp75 ke Rp2.800, serta DOID turun Rp50 ke Rp1.610.

Sementara itu, saham-saham yang mengaut signifikan antara lain, HMSP naik Rp2.350 ke Rp14.250, AUTO nai kRp250 ke Rp6.150, PTRO naik Rp200 ke Rp10.500, MPPA naik Rp140 ke Rp1.600, MYOR.Jk naik Rp25 ke Rp4.425, serta BYAN nai kRp60 ke Rp5.600. [san/cms]

13/01/2010 – 12:59
Transaksi Saham Sesi Pertama
Harga Minyak Gembosi IHSG
Ahmad Munjin

INILAH.COM, Jakarta – IHSG gagal bertahan di zona biru. Konsolidasinya bursa regional dan pelemahan harga minyak dunia ke level US$79 per barel jadi pemicunya. Pelemahan dipimpin sektor industri dasar.

Pada perdagangan Rabu (13/1) sesi siang, IHSG turun 29,93 poin (1,13%) menjadi 2.629,63. Indeks saham unggulan LQ45 juga turun 7,0500 poin ke level 518,05. Jakarta Islamic Index (JII) turun 5,8300 poin ke angka 435,55.

Perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) tidak terlalu ramai dengan volume transaksi tercatat 2,739 miliar lembar saham senilai Rp1,706 triliun dan frekuensi 45.919 kali. Hanya 38 saham yang naik, sedangkan 129 saham turun dan 49 saham stagnan.

Semua sektor mengalami koreksi sehingga menggiring indeks ke teritori negatif. Pelemahan indeks dipimpin sektor industri dasar sebesar 1,88%, disusul pertambangan anjlok 1,70%, konsumsi meluncur 1,55%, pertanian melemah 1,31%, dan sektor manufaktur terkoreksi 1,21%.

Koreksi indeks juga didukung pelemahan saham sektor aneka industri yang turun 0,12%, properti melandai 0,77%, infrastruktur merosot 0,87%, sektor keuangan terperosok 0,96%, dan sektor perdagangan susut 0,86%.

Adapun saham-saham yang anjlok signifikan adalah, PT Indocement (INTP) melemah Rp800 ke Rp14.000, PT Gudang Garam (GGRM) turun Rp600 ke Rp23.250, PT Astra Agro Lestari (AALI) anjlok Rp450 ke Rp24.650, PT Indo Tambangraya Megah (ITMG) terkoreksi Rp450 ke Rp33.050, PT United Tractors (UNTR) merosot Rp250 ke Rp17.650, PT Perusahaan Tambang Bukit Asam (PTBA) turun Rp200 ke Rp17.850, serta saham PT Bumi Resources (BUMI) melemah Rp125 ke Rp2.750.

Saham-saham yang menguat antara lain, PT HM Sampoerna (HMSP) yang naik Rp1.700 ke Rp13.600, PT Astra Otoparts (AUTO) terangkat Rp450 ke Rp6.350, PT Semen Gresik (SMGR) menguat Rp100 ke Rp7.850, PT Bayan Resources (BYAN) naik RP50 ke Rp5.600, PT AKR Corporindo (AKRA) melambung Rp50 ke Rp1.270, dan PT Matahari Putra Prima (MPPA) naik Rp30 ke Rp1.020.

Gina Novrina Nasution, riset analis dari Reliance Securities memperkirakan pergerakan indeks hingga penutupan sore nanti akan melemah seiring konsolidasi bursa regional dan koreksi harga minyak dunia ke level US$79 per barel .
“Indeks akan mengarah ke level support 2.629 dan 2.678 sebagai level resistance-nya,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Rabu (13/12).

Pelemahan indeks juga didudung koreksi nilai tukar rupiah yang saat ini mulai susut ke level 9.185. “Namun, yang paling berpengaruh adalah koreksi harga minyak dunia ke level US$79 per barel dari sebelumnya yang sempat menyentuh US$83 juga turut menggerus pergerakan indeks,” paparnya.

Koreksi harga minyak, lanjutnya memicu aksi profit taking pada saham-saham berbasis komoditas. Karena itu, saham di sektor ini mengalami konsolidasi.

Lebih jauh Gina mengatakan koreksi harga minyak mentah dunia dipicu oleh mulai mencairnya pembekuan musim dingin di beberapa tempat di Eropa. “Meski belum masuk musim panas, tingkat kedinginannya mulai berkurang,” imbuhnya.

Di sisi lain, inventory minyak di AS juga mengalami kenaikan. Hal ini menandakan permintaan terhadap komoditas ini belum akan meningkat saat ini. “Itulah yang mengakibatkan harga minyak juga mengalami koreksi,” timpalnya.

Sentimen negatif juga datang dari data yang dirilis di AS pagi tadi. Data consumer confident di negara adidaya itu menujukkan angka minus 47 sehingga berpengaruh negatif di market.

Dalam kondisi ini, Gina merekomendasikan saham PT Telkom (TLKM) dan PT Perusahaan Gas Negara (PGAS). “Saya rekomendasikan buy on weakness untuk kedua saham tersebut, karena tren pergerakannya masih naik,” pungkasnya. [mdr]

Rabu, 13/01/2010 12:10 WIB
Sesi Siang
IHSG Disapa Koreksi 29 Poin
Nurul Qomariyah – detikFinance

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tak kuasa melawan arus pelemahan bursa global. Sejak pembukaan perdagangan, IHSG terus menerus berada di teritori negatif.

Investor melakukan aksi ambil untung atas saham-saham unggulan yang sejak perdagangan awal tahun mengalami penguatan besar. Pelemahan saham-saham grup Bakrie memberi kontribusi besar bagi pelemahan IHSG.

Pada perdagangan Rabu (13/1/2010) sesi I, IHSG ditutup melemah hingga 29,925 poin (1,13%) ke level 2.629,626. Indeks LQ 45 melemah 7,041 poin (1,34%) ke level 518,045.

Bursa-bursa regional mengalami koreksi setelah bursa Wall Street merosot pada perdagangan Selasa malam.

Indeks Hang Seng merosot 501,18 poin (2,24%) ke level 21.825,46.
Indeks Nikkei-225 melemah 97,22 poin (0,89%) ke level 10.781,92.
Indeks Straits Times melemah 23,24 poin ke level 2.892,87.

Perdagangan berjalan cukup ramai dengan frekuensi transaksi di seluruh pasar mencapai 45.922 kali pada volume 3.080 juta lembar saham senilai Rp 2 triliun. Sebanyak 34 saham naik, 122 saham turun dan 45 saham stagnan.

Saham-saham yang mengalami kenaikan harga di top gainer antara lain PT Bumi Resources Tbk (BUMI) turun Rp 125 menjadi Rp 2.750, Indocement Tunggal Prakarsa (INTP) turun Rp 800 menjadi Rp 14.000, Indofood (INDF) turun Rp 150 menjadi Rp 3.725, Telkom (TLKM) turun Rp 100 menjadi Rp 9.400, Astra International (ASII) turun Rp 100 menjadi Rp 35.300, BCA (BBCA) turun Rp 150 menjadi Rp 5.000.

Sedangkan saham-saham yang naik harganya di top gainer antara lain Semen Gresik (SMGR) naik Rp 100 menjadi Rp 7.850, AKR Corporindo (AKRA) naik Rp 50 ,menjadi Rp 50 menjadi Rp 1.270, Bumi Serpong Damai (BSDE) naik Rp 10 menjadi Rp 850.

(qom/qom)
13/01/2010 – 12:04
Payah! IHSG Sesi I Meradang Anjlok 1,13%
Susan Silaban
INILAH.COM, Jakarta – Dana keluar dari Indonesia akibat exit strategy China menyebabkan IHSG meradang. IHSG pun anjlok 29,92 poin (1,13%) ke level 2.629,63.
Separuh pada perdagangan hari ini, nilai transaksi di lantai bursa mencapai Rp1,70 triliun dengan volume perdagangan relatif sepi hanya 2,73 miliar lembar saham yang ditopang oleh 38 saham melanjutkan penguatan, 129 saham melemah, dan 49 saham masih stagnan.

Dana asing keluar pun menyerembat ke indeks JII pun ditutup turun 5,83 poin ke level 435,61, begitu juga dengan indeks LQ45 pun turun 7,05 poin ke level 518,04. Hal yang sama pun tampak di semua sektor. Sektor pertambangan pun turun 41,47 poin ke level 2.366 dan sektor perkebunan pun turun 26,68 poin ke level 1.939.

Adapun saham-saham yang anjlok signifikan adalah, INTP turun Rp800 ke Rp14.000,GGRM turun Rp600 ke Rp23.250, AALI turu nRp450 ke Rp24.650, ITMG turun Rp450 ke Rp33.050, UNTR turun Rp250 ke Rp17.650, PTBA turun Rp200 ke Rp17.850, sertaBUMI turun Rp125 ke Rp2.750.

Sementara itu, saham-saham yang menguat antara lain, HMSP naik Rp1.700 ke Rp13.600, AUTO turun Rp450 ke Rp6.350, SMGR naik RP100 ke Rp7.850, BYAN naik RP50 ke Rp5.600, AKRA naik Rp50 ke Rp1.270, MPPA naik Rp30 ke Rp1.020. [san/cms]

13/01/2010 – 09:32
Ups! IHSG Pagi Dibuka Ambles 19,55 Poin
Susan Silaban

INILAH.COM, Jakarta – Mulai diberlakukannya exit strategy oleh China menyebabkan dana keluar dari Indonesia sehingga mengakibatkan IHSG pagi ini dibuka ambles 19,55 poin (0,74%) ke level 2.640.

Selain itu, turunnya harga minyak menjadi sentimen negatif bagi saham komoditas tambang diperkirakan akan mengalami penurunan akibat turunnya harga komoditas tambang. Sektor pertambangan pun dibuka turun 39,31 poin ke level 2.369,11 begitu juga dengan sektor perkebunan yang turun 20,91 poin ke level 1.945,56.

Pag ini, nilai transaksi di lantai bursa dibuka hanya Rp50,35 miliar dengan volume perdagangan sebanyak 64,57 juta lembar saham yang ditopang oleh 11 saham menguat, 50 saham menurun, 40 saham stagnan. Indeks saham JII pun turun 3 poin ke level 438 dan indeks saham LQ45 pun tuurn 4,6 poin ke level 520,42.

Adapun saham-saham yang menjadi top looser pagi ini adalah, ITMG turun Rp500 ke Rp33.000, AALI turun Rp400 ke Rp24.700, ASII turun Rp400 ke Rp35.000, UNTR turun Rp200 ke Rp17.700, BBCA turun Rp175 ke Rp4.975, BUMI turun Rp100 ke Rp2.775, dan TLKM turun Rp100 ke Rp9.400.

Sementara itu, saham-saham yang menguat antara lain, HMSP naik Rp900 ke Rp12.800, UNVR naik Rp100 ke Rp11.200, BYAN naik Rp50 ke Rp5.600, MPPA naik Rp40 ke Rp1.030, serta LTLS naik Rp10 ke Rp750. [san/cms]
Rabu, 13/01/2010 07:58 WIB

IHSG konsolidasi di kisaran 2.618-2.683

oleh : Lahyanto Nadie

JAKARTA (bisnis.com): IHSG kembali menguat di tengah regional yang bergerak mixed didukung oleh penguatan sektor perbankan. Pengumuman laporan perusahaan di Amerika diharapkan dapat menjadi sentimen dari pemulihan ekonomi global dan menjadi katalis bagi pergerakan IHSG selanjutnya.

Trimegah Securities memperkirakan hari ini IHSG bergerak konsolidasi di kisaran 2.618-2.683.

Sementara itu, Kresna Securities mengemukakan bahwa pada perdagangan kemarin, IHSG ditutup naik 1% dan berpotensi melanjutkan kenaikan menuju level psikologis 2.700. Walaupun posisi stochastic dan bollinger yang cukup tinggi tetapi RSI yang berada di posisi 71,7 masih menunjukkan potensi kenaikan.

Kresna memperkirakan trading range pada hari ini 2.636-2.720. Perusahaan efek itu merekomendasikan untuk membeli saham ELTY, ASII, dan TLKM.