1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

jalan berliku dan JAUH full bwat kewiraUSAHAwanan … 140110 14 Januari 2010

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 5:25 pm

Rhenald Kasali
Modul Berwirausaha
Kamis, 14 Januari 2010 – 11:20 wib

CUKUP menggelikan pendapat sejumlah orang yang mati-matian mengatakan bahwa sekolah bukanlah jalur untuk berwirausaha. Orang-orang itu, biasanya gagal dalam menempuh ilmu, percaya dirinya sama seperti Bill Gates yang memilih membangun Microsoft dari garasi rumahnya ketimbang melanjutkan sekolahnya ke Harvard pada 1975.

Diilhami Robert T Kiyosaki yang -maaf– mengaku gelar PhDnya atau sekolahnya telah membuat dirinya bangkrut,orang-orang korban sekolahan itu membuka sekolah yang “memaki-maki” sekolah. Sudah sering saya dengar ucapan-ucapan mereka yang disampaikan secara sinikal kepada para mahasiswa,“Kalian goblok!”

Maksudnya, tentu saja bodoh bagi mereka yang masih percaya dengan sistem sekolahan dan meneruskan sekolahnya. Belakangan ucapan-ucapan sinis itu berdatangan lagi dari berbagai kalangan yang menganggap dosen-dosen tidak bisa mengajar berwirausaha. Dapatkah kita membenarkan pendapat itu?

Wirausaha Kampus

Benar banyak kita temui orang-orang yang gagal sekolah ternyata berhasil menjadi pengusaha besar dan terkenal. Misalnya, Tjoa Ing Hwie yang tak bersekolah tinggi mampumembangunGudangGaram menjadi perusahaan rokok yang besar. Bob Sadino, Hendi Setiono, dan banyak lagi orang-orang yang gagal melanjutkan sekolahnya ternyata mampu menjadi pengusaha.

Namun sebaliknya, kita juga harus jujur ada ratusan ribu orang yang terperangkap dalam kemiskinan karenatidakmemiliki pendidikan yang memadai. Lantas bagaimana kalangan yang berpendidikan? Ternyata masalah serupa juga ditemui di sini.Jumlah penganggur di antara kalangan berpendidikan saat ini sudah mendekati 1 juta orang. Sementara itu, di antara orang-orang yang berkarier, sekitar 30% di antaranya gagal meraih kesejahteraan sesuai dengan bekal pendidikannya.

Namun kita juga harus jujur, bahwa banyak ditemui nama-nama besar di kalangan dunia usaha yang berasal dari dunia kampus dan berpendidikan tinggi. Ir Moh Najikh, eksportir ikan teri yang mempekerjakan lebih dari 3.000 orang adalah lulusan IPB. Dr Poernomo Prawiro dan drg Chairul Tanjung yang masing-masing mendirikan Blue Bird dan Para Group (Bank Mega,Trans TV,dan Trans 7) adalah lulusan FK dan FKG UI.

Konsultan struktur terkenal Prof Dr Wiratman dan pemilik usaha Dayu Group (Bersih Sehat, Visi, dan Midori) adalah lulusan ITB.Sudhamek Agung Waspodo (Garuda Food) adalah lulusan UKSW. Demikianlah seterusnya, kita masih banyak menemui ribuan nama-nama lain usahawan yang sukses berasal dari kampus.

Lantas apa kesimpulan dari faktor-faktor di atas? Dapatkah kita menyimpulkan orang-orang yang sekolah tinggi itu sebagai orang yang bodoh dan hanya membuang waktu sia-sia belaka? Atau tepatkah kita mengatakan kampus bukanlah tempat yang baik untuk menyemai benih-benih kewirausahaan? Saya kira Anda sendiri dapat menyimpulkannya.

Pelajaran Kewirausahaan

Seminggu ini saya banyak menghabiskan waktu dengan kolega-kolega yang mengajarkewirausahaan dan menyambangi para rektor pada enam universitas terkemuka bersama Bank Mandiri. Setelah bekerja keras selama lima bulan, akhirnya kami berhasil mempersembahkan sebuah modul yang dapat dipakai untuk mengajar kewirausahaan.

Minggu lalu, 50-an dosen dari enam PTN yang menyusun modul itu (UI,UGM,Unpad,ITB,IPB,dan ITS) bertemu di Rumah Perubahan. Kami membahas gagasangagasan baru dan cara-cara yang efektif dalam mendidik anak-anak kami agar mereka mampu menjadi usahawan modern bermental baja.

Di luar dugaan, ternyata ada cukup banyak dosen kewirausahaan yang sudah berhasil menjadi usahawan. Namun, tentu saja wirausaha itu tidak selalu wirausahawan bisnis (business entrepreneur). Di antara mereka ada yang menjadi social entrepreneur, ecopreneur, bahkan intrapreneur. Bahkan, saya juga menemui dosen yang sangat kreatif yang melakukan terobosan-terobosan akademis, menghasilkan riset-riset serapan yang menghasilkan kegiatan ekonomi yang berhasil, menerbitkan buku-buku yang berpengaruh,dan seterusnya.

Namun kita semua sepakat, demam kewirausahaan yang sudah meninggi saat ini perlu diimbangi dengan aturan-aturan dan tradisi akademis yang tidak kaku. Di Unpad misalnya, Rektor Prof Ganjar Kurnia mengatakan, agar skripsi mahasiswa fakultas ekonomi dapat diajukan berupa rencana bisnis. Rektor IPB Prof Dr Ir Herry Suhardiyanto MSc bahkan lebih berani lagi, menandaskan agar semua lulusan IPB berkarakter wirausaha dan setiap mahasiswa yang diterima di tahun pertama diwajibkan mengambil mata kuliah kewirausahaan.

Di ITS, Prof Ir Priyo Suprobo MSc PhD, juga rektornya,melakukan hal serupa. Demikian pula di ITB yang sangat mengedepankan proses inovasi untuk menumbuhkan technopreneurIndonesia. Namun di balik itu semua, selalu terungkap cerita kurang sedap berupa hambatan-hambatan dan komentar-komentar sinis dari banyak ilmuwan yang masih berpikir entrepreneurship itu adalah pendangkalan atau sekadar dagangan.

Orang-orang yang berjuang di kampus mendorong terjadinya perubahan dan mencoba menerapkan spirit kewirausahaan dalam pemberian pelayanan, berorientasi kepada pasar masih sering menemui ujian-ujian dan hambatan. Kadang saya berpikir, apa mungkin kita mengajarkan kewirausahaan kalau kita bersikap antipasar? Dulu, sewaktu saya membongkar program doktoral untuk menjadi lebih berkualitas, lebih bertanggung jawab dengan standar internasional, jadwal perkuliahan yang lebih teratur,kultur akademis yang lebih saling menghargai dan terbuka, saya pun menghadapi banyak tantangan.

Masalah tidak muncul saat program studi serbakekurangan, tak punya fasilitas yang memadai, dengan gaji setara PNS, pegawai yang berwajah murung, ruang kelas yang serbaseadanya. Masalah baru muncul ketika cara kerja entrepreneur mulai dipacu, sumbangan-sumbangan mulai masuk, dosen-dosen hebat yang berasal dari luar dunia akademis mulai ikut bergabung, fasilitas kerja lebih modern.

Staf-staf berseragam menarik dan cantik-cantik mulai duduk di kursi pelayanan dan ruang-ruang kelas tampak berkilauan. Uang kuliah dipatok harga pasar namun beasiswa diperbanyak.Kompetisi antardosen agar memberikan kuliah yang terbaik diterapkan. Gaji yang lebih mencerminkan produktivitas pun mulai diterapkan.

Setelah itu muncullah sas-sus (gosip, rumor, omongan-omongan tidak sehat, dan undangan-undangan yang lebih bersifat mengadili daripada mendukung). Servis yang baik itu dianggap sebagai ancaman. Customer friendly yang diterapkan dalam pelayanan dianggap sebagai ko l u s i , mahasiswa-mahasiswa yang populer dan berkedudukan dianggap “tidak mencerminkan mutu”.

Hambatan-hambatan pun berdatangan dan lambat laun karakter kewirausahaan terancam. Persoalan-persoalan seperti ini dapat terjadi di banyak kampus namun itulah tantangan kewirausahaan. Dibutuhkan keberanian, kejujuran, ketulusan, kepemimpinan dan visi jauh ke depan. Modul kewirausahaan yang kami buat tentu dimaksudkan agar lahir lebih banyak lagi wirausahawirausaha unggul dari kampus.

Modul ini dilengkapi dengan enam keping CD testimoni. Instruktur manual, power point presentasi untuk pengajaran, dan yang lebih menarik lagi, setiap kampus yang memakai modul ini diberi bantuan modal untuk mahasiswa sebesar Rp200 juta dari Bank Mandiri. Materi pengajaran sendiri, lebih bersifat practical,dilengkapi tugas-tugas lapangan, gamesuntuk mengasah kreativitas, personal testing, dan teknik-teknik untuk membangun usaha sebagai pemula. Sebuah kerja keras membutuhkan dukungan Anda semua. Semoga semakin banyak kalangan terdidik yang berhasil membantu negeri mengatasi masalah pengangguran.(*)

Rhenlad Kasali
Ketua Program MM UI(Koran SI/Koran SI/rhs)

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s