1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

teori ihsg lage … 200110 20 Januari 2010

Filed under: Teknik Maen Saham — bumi2009fans @ 9:49 pm

Mekanisme Pembentukan IHSG
Tim Liputan 6 SCTV
15/07/2010 13:11
Liputan6.com, Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan atau yang lebih dikenal dengan IHSG, tentu menjadi sebuah istilah yang akrab di telinga sebagian masyarakat. Terlebih bagi para investor pasar saham. Namun, tak banyak yang mengetahui komponen apa saja yang menjadi pembentuk nilai IHSG. Padahal, IHSG sering dijadikan acuan guna melihat respresentasi pergerakan pasar saham secara keseluruhan.

Kali ini diberikan gambaran mengenai komponen-komponen pembentuk IHSG serta faktor-faktor apa saja yang membuat IHSG berubah-ubah seiring terjadinya transaksi di lantai bursa. Pertama-tama akan dihadirkan metode-metode yang umumnya digunakan untuk menyusun indeks saham.

Secara umum, ada dua jenis rumusan untuk membentuk indeks saham. Pertama rumus atau metode yang dikenal dengan nama Weighted Average. Rumusnya adalah (Sigma)PxQ/Nd kemudian dikali dengan 100. P adalah harga saham di pasar reguler. Q adalah bobot saham (jumlah saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia). Nd adalah nilai dasar, yaitu nilai yang dibentuk berdasarkan jumlah saham yang tercatat di BEI yang masuk dalam daftar penghitungan indeks. Nilai dasar bisa berubah jika ada aksi korporasi yang menyebabkan jumlah saham berkurang atau bertambah.

Sederhananya, setiap saham dihitung terlebih dahulu kapitalisasi pasar. Kemudian dijumlahkan seluruh kapitalisasi pasar per saham atas saham-saham yang diperhitungkan dalam indeks, lalu dibagi dengan nilai dasar, kemudian dikalikan dengan 100. Nah, kapitalisasi pasar per saham yang di total ini berbeda dengan nilai kapitalisasi pasar seluruh saham di BEI, karena ada saham-saham yang tidak perhitungkan dalam penghitungan indeks. Saham-saham yang tidak diperhitungkan ini menjadi rahasia BEI.

Pihak BEI memiliki kriteria sendiri atas saham-saham yang bisa dimasukkan dalam penghitungan IHSG. Jadi boleh dibilang, IHSG merupakan nilai representatif atas rata-rata harga seluruh saham di BEI berdasarkan jumlah saham tercatat. Itulah kenapa disebut sebagai Weightened Average nilai harga rata-rata terhadap bobot atau jumlah saham.

Rumus kedua adalah apa yang disebut sebagai Average. Penghitungannya mirip dengan rumus pertama. Hanya saja, tidak memasukkan bobot atau jumlah saham tercatat dalam penghitungan. Rumusnya adalah (Sigma)P/Nd dikali 100. Metode ini dipakai oleh indeks saham industri Dow Jones (Dow Jones Industrial Average/DJIA). Alasan indeks ini tidak memasukkan bobot sebagai pengali harga saham karena DJIA merupakan indeks 30 saham terpilih di bursa New York. Sebanyak 30 saham yang masuk dalam DJIA diasumsikan telah memiliki bobot yang setara, sehingga penghitungan bobot dianggap tidak perlu lagi. Sebagai catatan, 30 saham ini boleh dibilang mewakili setiap industri di Amerika Serikat (AS) dan memiliki likuiditas transaksi yang tinggi.

Kalau boleh disamakan, indeks LQ45 memiliki karakter yang mirip dengan DJIA,meskipun rumus penghitungan yang dipakai tetap sama seperti rumus yang dipakai dalam menghitung IHSG. Nah, sekarang akan dibahas mengenai faktor-faktor apa saja yang membuat level IHSG bergerak naik atau turun. Pertama tentunya harga saham. Namun tidak hanya itu. Kenaikan atau penurunan tajam harga satu saham memang berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Namun seberapa besar kenaikan itu mempengaruhi IHSG tergantung pada bobot saham tersebut.

Jadi sederhananya, kenaikan atau penurunan IHSG sangat bergantung pada pergerakan saham-saham berkapitalisasi besar. Berangkat dari sinilah kemudian muncul beberapa saham yang disebut-sebut sebagai motor penggerak IHSG. Sebut saja saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM). Saham ini memiliki saham tercatat mencapai 20,159 miliar saham. Dengan harga saat ini sebesar Rp 8.700, maka kapitalisasi pasar TLKM mencapai Rp 175,383 triliun. Nilai itu mencapai 10% dari total nilai kapitalisasi pasar seluruh saham di BEI yang masuk dalam penghitungan IHSG. Kapitalisasi pasar BEI saat ini sekitar Rp 1.700 triliun. Dengan kapitalisasi pasar sebesar itu, kenaikan atau penurunan harga sebesar Rp 50 poin saja akan memberikan pengaruh pada level IHSG.

Saham TLKM memang tercatat sebagai saham dengan kapitalisasi terbesar di BEI. Lainhalnya dengan saham PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR). Saham BNBR yang tercatat di BEI mencapai 93,721 miliar saham, jauh lebih besar dari TLKM. Akan tetapi, harga saham BNBR saat ini sebesar Rp 127 yang berarti nilai kapitalisasi pasar BNBR sebesar Rp 11,902 triliun. Angka tersebut tidak sampai 1% dari kapitalisasi pasar BEI. Jadi, meskipun BNBR mengalami kenaikan harga atau penurunan harga sebesar 35% pun tidak akan memberi pengaruh besar terhadap perubahan level IHSG. Lain halnya jkalau suatu saat harga saham BNBR mencapai Rp 5.000, dapat dipastikan kenaikan atau penurunan tipis harga saham BNBR akan memberi pengaruh besar pada level IHSG.

Oleh sebab itu, jika level IHSG naik tajam, dapat dipastikan hal itu didorong oleh kenaikan harga-harga saham berkapitalisasi besar atau yang lebih dikenal sebagai Big Cap. Jadi wajar saja, kalau saham TLKM naik tajam, level IHSG pun akan terkerek naik secara tajam pula. Kelemahan penghitungan ini adalah karena rumus ini memasukkan saham-saham yang kurang aktif diperdagangkan serta memasukkan faktor bobot atau jumlah saham secara keseluruhan dalam penghitungannya. Contohnya, saham TLKM hanya ditransaksikan sebanyak 1 lot dan mengalami kenaikan sebesar Rp 300 hari ini.

Kapitalisasi pasar yang terbentuk mewakili seluruh 20,159 miliar saham TLKM. Jadi level IHSG sudah pasti akan terangkat. Dan metode ini ikut memasukkan saham-saham yang kurang aktif diperdagangkan, malah terkadang tergolong saham tidur. Ini akan memangkas representasi pasar IHSG secara riil, karena saham-saham yang tidak ditransaksikan ikut dimasukkan dalam penghitungannya. Kendati demikian, BEI menganggap metode yang dipakai ini sudah cukup mewakili pergerakan seluruh saham harian di lantai bursa. (http://www.vibiznews.com)
Indeks Saham
Senin, 18 Januari 2010 – 09:47 wib

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merupakan sebuah indikator yang menunjukkan kondisi atau situasi pasar. IHSG, apakah itu naik tinggi, naik sedang-sedang saja, stagnan, turun dalam atau turun tipis , menginformasikan banyak hal kepada pelaku pasar.

IHSG naik tinggi misalnya, dia memuat informasi tidak hanya besarnya minat beli terhadap saham-saham yang diperdagangkan di bursa saat itu. Lebih dari itu, dia juga akan menuntun pelaku pasar pada jenis informasi apa yang menyebabkan IHSG naik tinggi.

IHSG memiliki sensitifitas yang tinggi terhadap setiap perkembangan informasi yang terjadi di sekelilingnya. Jika situasi makro tidak kondusif, maka dia bersikap seperti orang ngambek, enggan bergerak dan bahkan turun ke bawah. Sebaliknya, jika kondisi sekeliling kondusif maka dia memiliki tenaga besar untuk bergerak naik. Sensitifitas seperti itu, membuat IHSG kini menjadi salah satu acuan paling sederhana untuk membaca kondisi makroekonomi yang melingkupinya.

IHSG juga menunjukkan apakah investasi di portofolio saham di pasar modal menghasilkan keuntungan atau sebaliknya, seberapa besar keuntungan secara rata-rata dan sebagainya. Jika selama satu tahun IHSG naik 40 persen, berarti secara rata-rata investasi di pasar modal memberikan keuntungan 40 persen. Begitu juga jika IHSG turun sebesar 25 persen misalnya, berarti secara rata-rata investasi di saham mengalami kerugian sebesar 25 persen.

Harus dipahami, bahwa IHSG, sesuai dengan singkatannya merupakan indeks gabungan dari seluruh saham yang tercatat dan diperdagangkan di bursa. Dia menunjukkan indikator rata-rata tertimbang dari seluruh saham. Perlu diketahui bahwa setiap saham memiliki indeks individu, yang saat listing perdana -dengan formula hitungan rata-rata tertimbang — bernilai 100.

Nah, jika saat ini IHSG berada di posisi 2.500-an maka sebenarnya itu menunjukkan nilai rata-rata tertimbang dari seluruh indeks individu saham yang tercatat di bursa. Ada juga saham yang indeks individunya tidak diikutkan dalam perhitungan IHSG karena pertimbangan tertentu.

Di pasar, ada cukup banyak jenis indeks saham. Selain IHSG, ada juga indeks LQ 45, indeks sektoral, Jakarta Islamic Index (JII), indeks Kompas 100, indeks Papan Utama, indeks Papan Pengembangan, indeks Bisnis 27 dan lainnya. Indeks LQ 45 merupakan rata-rata tertimbang dari 45 indeks individu saham yang dinilai unggulan, indeks sektoral berarti indeks khusus saham-saham sesuai dengan sektor usahanya. Di Bursa Efek Indonesia (BEI) tercatat ada sepuluh jenis indeks sektoral seperti indeks sektor pertanian, indeks sektor pertambangan, indeks sektor keuangan, indeks sektor infrastruktur, indeks sektor aneka industri dan lainnya.

Keberadaan macam-macam jenis indeks tersebut – selain IHSG – tentu saja amat bermanfaat bagi pelaku Pasar Modal. Indeks sektoral misalnya. Dengan adanya indeks sektoral, pelaku Pasar Modal bisa melihat dan menilai kondisi saham-saham sektor tertentu dengan hanya menyimak indikator indeks sektoralnya. Pelaku pasar juga bisa melakukan perbandingan tentang prospek sektor yang satu dengan sektor lainnya.

Selama 2009 lalu misalnya, dengan menyimak indeks sektoral, pelaku pasar akan tahu sektor apa yang memberikan keuntungan (return) tertinggi ke investor dan sektor apa yang memberikan keuntungan terendah.

Sepanjang 2009, ternyata sektor yang memberi return paling tinggi ternyata sektor aneka industri yang tumbuh sebesar 179 persen dari titik 214,94 pada akhir 2008 menjadi 601,47 di penghujung 2009 lalu. Sektor pertambangan yang dielu-elukan pasar ternyata tercatat sebagai pemberi keuntungan terbesar kedua dengan return sebesar 151,06 persen dari posisi 877,68 menjadi 2.203,48. Sedangkan sektor properti tercatat pemberi return terkecil sebesar 41,85 persen dari posisi 103,49 menjadi 146,80.

Dengan menyimak indeks sektoral, investor atau pelaku pasar bisa mengkalkulasi bagaimana prospek setiap sektor pada tahun berikutnya. Apakah Anda menilai sektor properti masih menjanjikan karena tahun lalu hanya tumbuh paling kecil, atau Anda menganggap sektor pertambangan masih cukup menggelora. Semua itu akan menjadi pertimbangan untuk keputusan investasi yang akan Anda buat. (Tim BEI)(//ade)

… teori ihsg sebelumnya: https://transaksisaham.wordpress.com/2009/10/28/ihsg-lage-281009/ ; https://transaksisaham.wordpress.com/2009/10/15/semoga-ga-bink-unk-ihsg-lage/; dan  https://transaksisaham.wordpress.com/2009/10/14/indeks-harga-saham-gabungan-ala-indo-141009/; https://transaksisaham.wordpress.com/2010/01/22/ihsg-antara-teori-dan-fakta-220110/

Iklan
 

One Response to “teori ihsg lage … 200110”

  1. […] ini per di ihsg (tingkat indeks harga saham bursa saham indonesia https://transaksisaham.wordpress.com/2010/01/20/teori-ihsg-lage-200110/ ) sudah mendekati titik kritis karena mulai semakin mahal, saat ihsg di atas […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s