1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

resesi berakhir di amrik … 290110 29 Januari 2010

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 9:39 pm

… ekonomi amrik di kuartal IV 2009 mencatatkan 2 hal: RESESI AMRIK BERAKHIR, dan ANGKA 5 ITU LEBE GEDE DARIPADA ANGKA 4% DI INDONESIA … ternyata YANG PALING TERPURUK LEBE MUDAH MERAIH GAPAIAN YANG LEBE GEDE …

Economy in U.S. Grew at 5.7% Pace, Most in Six Years (Update2)

By Timothy R. Homan

Jan. 29 (Bloomberg) — The economy in the U.S. expanded in the fourth quarter at the fastest pace in six years as factories cranked up assembly lines and companies increased investment in equipment and software.

The 5.7 percent increase in gross domestic product, which exceeded the median forecast of economists surveyed by Bloomberg News, marked the best performance since the third quarter of 2003, figures from the Commerce Department showed today in Washington. Efforts to rebuild depleted inventories contributed 3.4 percentage points to GDP, the most in two decades.

Manufacturers such as Intel Corp. may keep leading the recovery as increasing sales prompt companies to restock. A slowdown in consumer spending last quarter is a reminder that 10 percent unemployment is causing Americans to hold back, one reason why the Federal Reserve is keeping interest rates low and the Obama administration is proposing new plans to create jobs.

“The economy is still healing and improving,” said John Silvia, chief economist at Wells Fargo Securities LLC in Charlotte, North Carolina, who projected a 5.6 percent gain in GDP. “I think this is a sustainable recovery.”

Stock-index futures added to earlier gains after the report. The contract on the Standard & Poor’s 500 Index climbed 0.7 percent to 1,086.4 at 8:57 a.m. in New York. Treasuries dropped, pushing the yield on the benchmark 10-year note up to 3.67 percent from 3.64 percent late yesterday.

Exceeds Forecast

The economy was forecast to grow at a 4.7 percent annual pace, according to the median estimate of 84 economists in a Bloomberg News survey. Estimates ranged from gains of 3 percent to 7.5 percent.

For all of 2009, the economy shrank 2.4 percent, the worst single-year performance since 1946.

Consumer spending, which comprises about 70 percent of the economy, rose at a 2 percent pace, more than anticipated following a 2.8 percent increase in the previous three months. Economists projected a 1.8 percent gain, according to the survey median.

Third-quarter purchases received a boost from the government’s auto-incentive program that offered buyers discounts to trade in older cars and trucks for new, more fuel- efficient vehicles. The plan expired in August.

Household purchases dropped 0.6 percent last year, the biggest decrease since 1974.

Stemming Slide

Increases in production last quarter stemmed the slide in inventories. Stockpiles dropped at a $33.5 billion annual pace following a $139.2 billion decline the previous three months. Inventories declined at a record $160.2 billion pace in the second quarter.

Today’s report showed purchases of equipment and software increased at a 13 percent pace in the fourth quarter, the most since 2006. The gain helped offset a 15 percent drop in commercial construction, leaving total business investment up 2.9 percent over the past three months.

Intel, the world’s largest chipmaker, posted its biggest quarterly revenue in more than a year last quarter, a sign the computer industry has emerged from last year’s global recession.

“My expectation for 2010 is that we’re going to see robust unit growth,” Chief Financial Officer Stacy Smith said in an interview this month. “The consumer segments of the market will stay pretty strong, and I do believe we’re going to see a resurgence in PC client sales.”

Investment Pickup

A report yesterday showed companies ordered more capital goods such as machinery and computers in December, indicating business investment will keep expanding.

Jobs is one area where a rebound is still not evident. Payrolls fell by 85,000 last month after a 4,000 gain in November that was the first increase in almost two years. The U.S. has lost 7.2 million since the start of the recession in December 2007, the most of any slowdown in the post-World War II era.

The jobless rate held at 10 percent in December, the Labor Department said on Jan. 8. A jump in the number of discouraged workers leaving the labor market kept the rate from rising.

President Barack Obama this week said job creation will be the “number one focus in 2010.” Speaking during his first State of the Union address, Obama called on Congress to deliver a new jobs bill to his desk.

Fed Action

Fed policy makers, after their meeting this week, said the recovery is gaining strength and business investment “appears to be picking up.” They also repeated a pledge to keep the benchmark interest rate low for an “extended period.” The central bankers held the overnight lending rate between banks in the range near zero, where it has been for more than a year.

In other areas of the economy, today’s report showed a smaller trade gap contributed 0.5 percentage point to fourth- quarter growth, while government spending was little changed, dropping at a 0.2 percent pace.

Residential construction climbed at a 5.7 percent rate last quarter after expanding at a 19 percent pace in the previous three months.

Inflation held below the Fed’s long-term forecast. The central bank’s preferred price gauge, which is tied to consumer spending and strips out food and energy costs, rose at a 1.4 percent annual pace following a 1.2 percent increase in the prior quarter.

The GDP price gauge climbed at a 0.6 percent pace, less than the 1.3 percent median forecast of economists surveyed.

Today’s GDP report is the first for the quarter and will be revised in February and March as more information becomes available.

Iklan
 

ekonomi SELALU dibilang TIDAK PASTI, biasa lah … 290110

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 9:26 pm

Rapor Ekonomi 2009
Senin, 15 Februari 2010 – 09:18 wib

MINGGU lalu Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan kinerja perekonomian pada kuartal IV-2009. Laporan tersebut ditunggu banyak orang untuk memastikan apakah perkembangan perekonomian Indonesia mulai mengalami percepatan kembali di tengah proses pemulihan perekonomian global. Sebagaimana diketahui, ternyata laporan BPS itu memperkuat dugaan sebagian orang bahwa ternyata percepatan pertumbuhan ekonomi telah kembali terjadi di Indonesia.

Perkembangan PDB Tahun 2009

Beberapa waktu sebelum dikeluarkannya laporan tersebut, kita melihat beberapa data yang menunjukkan bahwa perekonomian pada kuartal IV-2009 memang mengalami perbaikan. Penjualan mobil, misalnya, mengalami kenaikan 5,7 persen dibandingkan dengan kuartal yang sama 2008. Demikian juga penjualan sepeda motor yang bahkan telah mengalami pertumbuhan penjualan sejak kuartal III/2009.

Berbagai industri yang memproduksi barang konsumsi melaporkan permintaan yang kuat pada kuartal tersebut. Terakhir, yang membuat kita semakin yakin adalah mulai terjadinya pertumbuhan tahunan ekspor pada kuartal IV-2009 yang mengalami pertumbuhan sebesar hampir 24 persen dibandingkan dengan kuartal yang sama tahun sebelumnya.

Atas perkembangan tersebut, dalam tulisan saya minggu lalu, saya memprediksi pertumbuhan ekonomi sepanjang 2009 akan mencapai 4,5 persen (lihat tulisan: Prospek Ekspor 2010), sedangkan PDB nominal akan mencapai sekitar Rp5.600 triliun. Sebagaimana kita ketahui dari laporan BPS pada Rabu 10 Februari lalu, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2009 ternyata memang mencapai 4,5 persen, sedangkan untuk kuartal IV mencapai pertumbuhan 5,4 persen.

Sementara itu,PDB nominal bahkan sedikit lebih tinggi dari prediksi saya yang sebetulnya sudah optimistis, yaitu mencapai Rp5.613,4 triliun. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2009 tersebut terjadi merata di semua sektor (broad-based). Sektor transportasi dan telekomunikasi mengalami pertumbuhan yang paling tinggi,yaitu 15,4 persen, diikuti sektor listrik, air, dan gas yang mengalami peningkatan sebesar 13,8 persen.

Sementara itu,sektor konstruksi mengalami pertumbuhan 7,1 persen dan sektor jasa-jasa meningkat 6,4 persen. Sektor tradable, yaitu sektor pertanian,mengalami pertumbuhan 4,1 persen, cukup tinggi dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, sementara sektor pertambangan juga mengalami pertumbuhan yang tinggi,yaitu sebesar 4,4 persen.

Sektor manufaktur mengalami pertumbuhan yang terendah, yaitu 2,1 persen. Kinerja semacam ini tentu akan semakin memperkuat polemik tentang terjadinya deindustrialisasi . Saya akan mengulas secara khusus tentang fenomena tersebut, terutama dicocokkan dengan perkembangan di lapangan.

Prospek 2010

Dengan melihat kinerja tahun 2009 tersebut, bagaimana prospek perekonomian Indonesia di tahun 2010? Kuartal IV-2009 yang lalu memunculkan perkembangan yang menarik karena terjadinya pertumbuhan ekonomi tahunan pada kuartal IV sebesar 5,4 persen.Angka ini mengalami pelonjakan dibandingkan dengan pertumbuhan tahunan kuartal III yang sebesar 4,2 persen.

Perkembangan ini memiliki kemiripan dengan kinerja industri mobil dan sepeda motor yang mengalami pelonjakan tajam pada kuartal IV. Dengan kinerja tersebut, industri mobil, misalnya, merasakan optimisme baru dalam melihat prospek penjualan mobil pada 2010. Jika tahun 2009 penjualan mobil hanya mencapai 486.000 unit, tahun 2010 para pengusaha industri mobil memprediksi penjualan sebesar 550.000 unit.

Saya sendiri optimistis akan terjadi penjualan antara 610.000– 650.000 unit. Optimisme ini diperkuat lagi dengan data penjualan mobil pada Januari 2010 yang mencapai lebih dari 53.000 unit. Dengan melihat analogi tersebut, kita pantas untuk memiliki optimisme yang lebih besar pada 2010 karena bahkan sebelum memasuki 2010 tersebut ternyata perekonomian kita mampu mengalami pertumbuhan sebesar 5,4 persen pada kuartal IV-2009.

Ini berarti momentum yang terbangun akan lebih meringankan lagi pencapaian pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.Jika pemerintah optimis mencapai pertumbuhan sekitar 5,5 persen,saya yang semula yakin bahwa pertumbuhan ekonomi kita akan mencapai di atas 5,5 persen saat ini memiliki optimisme yang lebih besar akan terjadinya pertumbuhan antara 5,5–6,5 persen pada 2010 tersebut.

Sementara itu,dari sisi PDB nominal, pertumbuhan yang terjadi mencapai angka 13,3 persen. Pertumbuhan PDB nominal tersebut penting untuk dapat membandingkan kinerja perekonomian nasional dengan laporan keuangan banyak perusahaan,terutama perusahaan publik (listed companies). Pada kuartal IV sendiri, pertumbuhan PDB nominal mencapai 16,3 persen,melonjak dibandingkan dengan 10,9 persen pada kuartal sebelumnya.

Ini berarti telah terjadi pembalikan dalam kecepatan pertumbuhan PDB nominal dari yang semula mengalami penurunan menjadi mengalami percepatan kembali. Dengan tingkat pertumbuhan tersebut, bukan tidak mungkin tahun 2010 akan menghasilkan pertumbuhan PDB nominal antara 15–20 persen sehingga mengalami kemiripan dengan tahun 2007 lalu. Pada 2009 lalu, PDB nominal mencapai Rp5.613,4 triliun.

Dengan mengikuti alur data yang ada di BPS,PDBnominalinimenghasilkan PDB dalam dolar sekitar USD598 miliar sehingga menghasilkan PDB per kapita sebesar USD2.590. Ini merupakan suatu prestasi tersendiri karena peningkatan pendapatan per kapita adalah sekitar 12 persen, sedangkan kecepatan pertumbuhan jumlah penduduk sebesar 1,3 persen.Tahun 2009 yang lalu jumlah penduduk Indonesia diperkirakan sekitar 231 juta di tengah tahun.

Tahun 2010 ini,perekonomiankitaakanmampu menghasilkan PDB nominal sekitar Rp6.300–6.700 triliun. Jumlah ini, dengan melihat perkembangan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS saat ini, diperkirakan dapat menghasilkan PDB sekitar USD700 miliar atau pendapatan per kapita di sekitar USD3.000.

Jika tingkat ini tercapai,kelas menengah yang dihasilkan akan membantu mempercepat proses pertumbuhan ekonomi lebih lanjut.Banyak pihak mengatakan bahwa perekonomian dengan pendapatan per kapita di atas USD3.000 akan melahirkan gelombang baru dalam perekonomian. Saya yakin, masyarakat dunia usaha kita akan bisa memanfaatkan perkembangan tersebut dalam rangka pengembangan bisnis mereka. (*)

CYRILLUS HARINOWO HADIWERDOYO
Pengamat Ekonomi
(Koran SI/Koran SI/rhs)
Kamis, 28/01/2010 10:02 WIB
Prospek IHSG Ditengah Gelisah Ekonomi Dunia 2010
Indro Bagus SU – detikFinance

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah mencetak prestasi luar biasa sejak kejatuhan pasar modal dunia tahun 2008 dan setidaknya sejak 3 bulan terakhir.

Sikap optimistis disertai proyeksi ekonomi fundamental yang lumayan, apalagi jika dibandingkan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi negara-negara tetangga dan negara maju, telah membuat investor-investor domestik maupun global menjadikan Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai salah satu tempat investasi prioritas di 2010.

Sayangnya, sikap optimistis tersebut mendadak mulai berbalik arah. Proyeksi ekonomi dunia di 2010 yang sudah dihitung, sontak menemui kendala dan mungkin harus dihitung ulang.

China mulai ketar-ketir terhadap bahaya inflasi yang berujung pada penerapan kebijakan pengetatan moneter. Beberapa waktu lalu, China menaikkan rasio Giro Wajib Minimum (GWM) yag diiringi dengan pembatasan kredit perbankan di negaranya.

Amerika Serikat (AS) pun berecana melakukan pengetatan kebijakan moneter. Presiden AS Barrack Obama berencana memisahkan industri perbankan dari hedge fund. Obama mengisyaratkan akan melarang perbankan AS memiliki, mensponsori dan memiliki keterkaitan dengan hedge fund.

Kebijakan Obama yang berbau anti liberalisme ini mendapat reaksi keras dari kalangan kapitalis AS. Bahkan Partai Demokrat AS yang mengusung Obama ke pucuk pimpinan negara paman Sam itu pun mengindikasikan penolakan.

Akan tetapi, pelaku pasar modal global mulai melakukan antisipasi guna memantau terlebih dahulu dampak rencana kebijakan ini dalam jangka pendek. Aksi jual mendadak melanda seluruh bursa-bursa di dunia.

Duet maut isu kebijakan moneter dua negara adidaya tersebut sukses merontokkan indeks-indeks saham di seluruh dunia.

Apalagi ditambah realisasi ekonomi Korea yang tak sesuai harapan. Tiba-tiba, seluruh dunia khawatir kalau tahun 2010 ternyata bukan tahun pemulihan ekonomi gobal seperti yang diperkirakan sebelumnya.

Benarkah demikian?

Jika benar, konsekuesinya adalah negara-negara di dunia akan melakukan penghitungan ulang atas proyeksi ekonominya masing-masing, yang tentunya berujung pada revisi angka ke bawah alias revised down.

“Saat ini kita tidak tahu pasti apakah ini transisi menuju pemulihan atau sebaliknya transisi menuju tren penurunan,” ujar Kepala Riset PT Recapital Securities, Poltak Hotradero di hotel Shangri-La, Jakarta, Rabu (27/1/2010).

Menurut Poltak, masih terlalu dini menyimpulkan apakah situasi sekarang merupakan sinyal pembalikan arah menuju penurunan atau hanya transisi sesaat sebelum akhirnya kembali positif.

“Indikator-indikator ekonomi dunia mungkin harus dihitung kembali. Data Korea yang tidak sesuai harapan, serta rencana pengetatan kebijakan moneter AS dan China mungkin saja bisa menjadi indikator terjadinya pembalikan arah, kita belum tahu pasti,” ujarnya.

Meski demikian, reaksi sudah muncul terlebih dahulu di pasar saham. Selama dua pekan terakhir, bursa-bursa dunia mengalami tekanan jual yang cukup berat. Koreksi mulai mendominasi perdagangan harian.

Selama 5 hari terakhir, IHSG terus menerus ditutup turun. Pada perdagangan kemarin, Rabu (27/1/2010), IHSG ditutup turun 13,861 poin (0,53%) ke level 2.564,554.

Pada perdagangan 20 Januari 2010, IHSG masih berada di posisi 2.667,266. Itu berarti, selama 5 hari perdagangan berturut-turut IHSG mengalami koreksi kumulatif sebanyak 102,712 poin (3,85%).

Apakah tren penurunan masih berlanjut di 2010 ini? Belum dapat dipastikan. Sebab, prospek fundamental ekonomi dunia 2010 mulai diragukan.

Sebagai catatan, aspek fundamental perekonomian domestik dan global, biasanya menjadi indikator utama dalam mengukur prospek pasar saham. Kalau proyeksi ekonomi dunia bakal direvisi ke bawah, konsekuensinya perkiraan harga-harga saham pun bakal mengalami hal yang sama.

“Kalau proyeksi pertumbuhan ekonomi domestik dan dunia direvisi, target harga-harga saham pun ikut direvisi,” jelas Poltak.

Menurut Poltak, level IHSG saat ini pun sebenarnya sudah berada di atas nilai wajar. Perhitungan Poltak menyimpulkan kalau level yang wajar untuk IHSG berkisar antara 2.200 hingga 2.400.

“Itu artinya level IHSG sekarang lebih tinggi 300-400 poin dari nilai wajarnya,” ujar Poltak.

Atas alasan itu, Poltak meragukan kalau IHSG bisa menembus dan bertahan di level 3.000 di tahun 2010. Sebab, belum ada sentimen ekonomi global yang positif untuk membuat IHSG bertaha di level 3.000.

“Kelihatannya bertahan di 3.000 cukup sulit. Kalau menyentuh sekali dua kali mungkin saja, tapi kalau bertahan di level 3.000 saya rasa tidak. Belum ada sentimen positif global yang bisa membuat IHSG bertahan di level 3.000,” ujar dia.

Kendati demikian, ia melihat adanya sentimen temporer yang cukup positif untuk membuat bursa-bursa saham dunia kembai bergairah di 2010, termasuk IHSG.

“AS akan melakukan sensus tahun ini. Sensus di AS itu biasanya menyerap tenaga kerja sekitar 850 ribu orang. Cukup besar untuk mengurangi persentase pengangguran di AS yang saat ini sebesar 10%. Itu bisa menjadi sentimen positif yang bersifat temporer di 2010,” ungkap Poltak.

Sensus AS menurut perkiraan Poltak akan dilakukan sekitar pertengahan tahun 2010. Perkiraan Poltak, pasar saham dunia akan kembali bergairah sekitar periode tersebut.

“Kalau sekarang kelihatannya masih bergejolak. Dan kelihatannya ini baru awalnya saja, mungkin sekitar Maret akan mencapai puncak gejolaknya,” ujar Poltak.

(dro/qom)
01/02/2010 – 10:07
Selama 2010, IHSG Dalam Trend Menguat

(inilah.com/Agus Priatna)
INILAH.COM, Jakarta – Pergerakkan IHSG tahun 2010 diperkirakan berada dalam sebuah trend menguat dan tanpa volume yang lebih besar belum cukup kuat untuk melakukan breakout dari resisten di level 2.749.

Demikian dikutip dari hasil riset Reliance Securities tentang outlook IHSG 2010. “Jika breakout terjadi maka akan membuat kemungkinan-kemungkinan baru,” tulis riset tersebut.

Sedangkan untuk tahun 2009, IHSG berada di level 2.534 dan berhasil mengalami penguatan year to dare sebesar 86,98%. Untuk memperkirakan perjalanan IHSG selama 2010 memiliki dua kemungkinan. Untuk kemungkinan pertama, jika rally terus berlangsung pad aakhri tahun 2010, IHSG berada di trading range 2.170-2749.

IHSG akan menguji titik resistance di 2.689 pada kuartal I. Jika tembus maka titik resistance selanjutnya berada di 2.749 yang menungkinan tercapai pada semester I dengan titik support di 2.431. “Kami perkirakan IHSG dapat mengalami koreksi yang cukup jika menembus batas bawah (2.431) maka IHSG akan menyentuh batas bawah selanjutnya di 2.170. Setelah itu IHSG akan kembali ke dalam uptrend channel dan berada di kisaran 2.431-2.749,” tulisnya.

Untuk kemungkinan kedia, Bila rally yang sekadang sedang berlangsung tidak berlanjut, maka IHSG akan bergerak dalam sebuah trand sideway dan berada pada trading range 2.431-2.749. “Secara teknikal, kami berpendapat kemungkinan IHSG bergerak dalam trend sideway lebih besar dibandingkan dengan kemungkinan IHSG bergerak dalam trend menguat,” ujarnya. [hid]
… yang murah, yang mahal, IHSG MAH KINCLONG TUKH :https://transaksisaham.wordpress.com/2010/02/05/murah-mahal-muraaaaaah-050210/

 

transaksi pra-pembukaan uda jamak dah … 290110

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 8:07 pm

… transaksi saham 5 menit sebelum pembukaan bursa saham yang normal disebut sebagai transaksi saham pra-pembukaan … maksudnya mungkin untuk meningkatkan jumlah transaksi sehingga fee yang terjaring bisa lebe besar, tapi sekaligus bwat investor adalah momen yang cukup menentukan dalam hal ekspektasi tren naek atawa turun suatu saham …
29/01/2010 – 19:26
Inilah Daftar Saham Diperdagangkan Pra Pembukaan

(Inilah.com/Agung Rajasa)
INILAH.COM, Jakarta – Sebanyak 45 saham emiten diijinkan diperdagangkan para pembukaan untuk periode Februari-Juli 2009, dan hanya ada satu pendatang baru, yaitu Hexindo Adiperkasa Tbk (HEXA).

Hal ini tertuang dalam pengumuman BEI terbaru yang dirilis Jumat (29/1). Adapun daftar lengkap saham emiten yang bisa diperdagangkan pada pra pembukaan perdagangan bursa meliputi PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Adaro Energy Tbk (ADRO), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Astra Internasional Tbk (ASII), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Negara Indoensia Tbk (BBNI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Danamon Tbk (BDMN), PT Bisi International Tbk (BISI), PT Berlian Laju Tanker Tbk (BLTA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), PT Barito Pacifik Tbk (BRPT), PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Darma Henwa Tbk (DEWA), PT Elnusa Tbk (ELSA), PT Bakrieland Development Tbk (BTEL), PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG).

Selanjutnya PT Gudang Garam Tbk (GGRM), PT International Nickel Indonesia Tbk (INCO), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Indika Energy Tbk (INDY), PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP), Indocement Tunggal Prakasa Tbk (INTP), PT Indosat Tbk (ISAT), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), PT Jasa Marga Tbk (JSMR), PT Kalbe Farma Tbk (KLBF).

Kemudian PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR), PP London Sumatera Tbk (LSIP), PT Medco Energi International Tbk (MEDC), PT Mitra Rajasa Tbk (MIRA), PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGAS), PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Sampoerna Tbk (SGRO), PT Holcim Indonesia Tbk (SMCB), PT Semen Gresik (Persero) Tbk (SMGR), PT Timah Tbk (TINS), PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), PT Truba Alam Manunggal Engineering Tbk (TRUB), PT United Tractors Tbk (UNTR), dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR). [cms]

 

setelah plus, minus … kapan kalinya:290110

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 7:46 am

… yang penting gain ihsg Januari 2010 tetap positif dan lumayan, yaitu +1,35% …
Jumat, 29/01/2010 16:12 WIB

Menutup pekan ini, IHSG kembali ke atas 2.600

oleh : Pudji Lestari

JAKARTA (Bisnis.com): Menutup pekan ini, indeks harga saham gabungan (IHSG) berhasil bertahan di atas level psikologis 2.600 terdorong kenaikan harga sejumlah saham perbankan.

IHSG ditutup di level 2.610,80, turun 0,33% atau 8,77 poin. Penurunan ini berkurang dibandingkan dengan akhir sesi I yang sebesar 1,20% atau 31,41 poin ke level 2.588,15. Pada perdagangan sesi II, indeks menanjak setelah menyentuh level terendahnya di 2.569,27. Namun, kenaikan itu belum menyamai level tertinggi saat pembukaan di 2.619,26.

Sebanyak 123 saham terlihat merugi, tiga kali lebih banyak dari 40 saham yang membukukan keuntungan. Namun, dikarenakan yang membukukan kenaikan itu adalah saham unggulan, yang mempunyai bobot besar terhadap IHSG, indeks berhasil kembali ke atas level 2.600.

Sebanyak 233 saham masih stagnan dibandingkan dengan penutupan sebelumnya. Volume transaksi tercatat sebanyak 2,17 miliar saham.

Hanya indeks sektor keuangan yang bergerak berlawanan arah, naik menyumbang 50,41% bagi indeks, sedangkan delapan indeks sektoral lainnya turun. Indeks sektor pertambangan menggerus indeks 55,48%, indeks barang konsumer mengurangi 23,43%, dan indeks perdagangan dan jasa turun 21,57%.

Secara individu, saham Bumi Resources menyeret IHSG turun 1,88 poin setelah harganya terkoreksi 2,94% atau Rp75 ke level Rp2.475. Saham United Tractors menyusul dengan mengurangi indeks sebesar 1,50 poin setelah harganya turun 2,03% atau Rp350 menjadi Rp16.850. Keduanya adalah perusahaan yang berbasis batu bara.

Penurunan harga saham batu bara lainnya yang ikut membebani IHSG adalah Indo Tambangraya Megah dan Indika Energy. Saham Perusahaan Gas Negara dan International Nickel Indonesia ikut menyeret indeks turun.

Di sisi lain, saham Bank Central Asia mengurangi tekanan turun indeks setelah harganya naik 2,56% atau Rp125 menjadi Rp5.000. Saham Telkom ikut menyumbang kenaikan sebesar 1,30 poin setelah harganya naik 0,54% ke level Rp9.350.

Indeks BISNIS-27 juga ditutup melemah 0,28% atau 0,68 poin ke level 240,78. Penurunan ini juga menyempit dari siang tadi yang sebesar 1,30% atau 3,13 poin ke level 238,34.

Indeks yang disusun oleh harian Bisnis Indonesia ini dibuka di level 241,43 untuk kemudian bergerak turun hingga menyentuh level terendah di 236,62. Penggerak indeks ini serupa dengan penggerak IHSG.

Sentimen negatif kembali mewarnai indeks bursa saham di kawasan. Sebanyak enam dari 20 indeks bursa di Asia Pasifik yang dipantau Bloomberg terlihat menghijau, lainnya memerah. Bursa Sri Lanka libur hari ini.

Penurunan terdalam dialami oleh indeks Kospi sebesar 2,44% ke level 1.602,43, disusul oleh indeks S&P ASX 200 Australia sebesar 2,22% ke level 4.569,60.

Indeks Ho Chi Minh, Karachi 100, Thai Exchange, New Delhi N&P CNX Nifty, Sensex Bombay, dan Shenzhen bergerak melawan tren dengan kenaikan tertinggi dibukukan oleh indeks Sensex sebesar 0,38% ke level 16.369,37.

Indeks acuan regional seperti Straits Times Singapura hingga pukul 16.03 WIB tercatat turun 0,39% ke level 2.747,02, Nikkei 225 di Jepang turun 2,08% ke level 10.198,04, Hang Seng di Hong Kong turun 1,15% ke level 20.121,99.

bisnis.com
29/01/2010 – 16:51
Penutupan IHSG
Tertekan, Masih di Atas 2.600
Asteria

INILAH.COM, Jakarta – IHSG berada di area negatif pada perdagangan akhir pekan ini. Investor memanfaatkan momentum pelemahan bursa Asia untuk melakukan profit taking.

Pada perdagangan Jumat (29/1), IHSG ditutup turun 8,769 poin (0,33%) ke level 2.610,796. Indeks saham unggulan LQ 45 turun 2,178 poin (0,42%) ke level 510,447.

Bursa saham Indonesia dibuka langsung anjlok 1,09% ke level 2.591 dan terus negatif sepanjang perdagangan, dimana pada sesi siang bertengger di angka 2.588. Upaya penguatan indeks hanya mampu mengangkat bursa ke level 2.610, masih di teritori negatif. “IHSG yang dibuka minus, tetap bertahan di posisi negatif hingga penutupan,” kata seorang analis pasar modal.

Menurutnya, koreksi IHSG disebabkan penurunan pada bursa Asia dan global. Investor pun merealisasikan keuntungan pada saham-saham unggulan, setelah kemarin menguat cukup signifikan.

Wall Street terkoreksi setelah perusahaan teknologi menurunkan prediksi penjualan dan mengecewakannya data ekonomi AS. Durable goods orders dan angka pengangguran dirilis di bawah perkiraan. Sementara itu, Ben Bernanke kembali terpilih untuk kedua kalinya sebagai Chairman Federal Reserve.

Hampir semua sektor melemah, dimana properti dan tambang memimpin penurunan dengan anjlok 1,3%, disusul sektor agri dan perdagangan yang turun 1,1%. Kemudian sektor konsumsi 0,6%, industri dasari 0,5%, manufaktur 0,4$, infrastruktur 0,2% dan aneka industri 0,1%. Hanya sektor perbankan yang terpantau masih menghijau.

Perdagangan di Bursa Efek Indonesia berjalan moderat, dimana volume transaksi tercatat 3,446 miliar lembar saham, senilai Rp3,239 triliun dan frekuensi 71.207 kali. Sebanyak 49 saham naik, 131 saham turun dan 73 stagnan.

Beberapa emiten yang melemah antara lain PT Indo Tambangraya Megah (ITMG) turun Rp600 ke Rp31.400, PT Astra Agro Lestari (AALI) melemah Rp450 ke Rp23.850, PT United Tractor (UNTR) turun Rp350 menuju Rp16.850, PT HM Sampoerna (HMSP) turun Rp250 ke Rp13.500, PT Bukit Asam (PTBA) turun Rp100 ke Rp 17.200, dan PT Bumi Resources (BUMI) melemah Rp75 ke Rp2.475.

Sedangkan emiten-emiten yang menguat antara lain PT Bank Ekonomi (BAEK) naik Rp300 ke Rp3.000, PT Matahari Department Store (LPPF) naik Rp275 ke Rp3.000, PT Bank Central Asia (BBCA) naik Rp125 ke Rp5.000, serta PT Telekomunikasi Indonesia (TLKM) naik Rp50 ke Rp9.350.

Koreksi IHSG juga didukung koreksi bursa regional Asia, dimana indeks Shanghai turun 4,85 poin (0,16%) ke level 2.989,29, indeks Hang Seng turun 234,38 poin (1,15%) ke level 20.121,99, dan indeks Nikkei-225 turun 216,25 poin (2,08%) ke level 10.198,04. Demikian pula indeks Straits Times yang turun 9,86 poin (0,36%) ke level 2.749,83, indeks KOSPI turun 40 poin (2,44%) ke level 1.602,43. [mdr]
Jumat, 29/01/2010 16:13 WIB
BCA Dongkrak IHSG di Atas Level 2.600
Indro Bagus SU – detikFinance

(foto: dok detikFinance) Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya ditutup di atas level 2.600, hanya mengalami koreksi 8 poin karena terangkat oleh kenaikan tajam saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).

IHSG dibuka turun hingga sempat menyentuh level 2.569,266. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG terus bertahan di zona negatif. Hampir seluruh saham-saham berkapitalisasi besar mengalami koreksi cukup dalam.

Rentang pergerakan IHSG hari ini antara 2.569,266 hingga 2.619,261. Tipisnya nilai transaksi dengan koreksi cukup besar menunjukkan tekanan jual menguasai lantai perdagangan tanpa adanya daya beli yang mampu mengangkat level IHSG.

Aktivitas transaksi investor asing mendominasi perdagangan hari ini. Total nilai transaksi investor asing hari ini mencapai Rp 2,182 triliun, terdiri dari transaksi jual asing sebesar Rp 1,171 triliun dan transaksi beli asing sebesar Rp 1,011 triliun. Nilai transaksi jual bersih asing (foreign net sell) tercatat sebesar Rp 160 miliar.

Total nilai transaksi asing tersebut mencapai 67,36% dari total nilai transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini sebesar Rp 3,239 triliun.

Aksi jual mendadak kembali melanda bursa-bursa dunia setelah investor-investor di AS khawatir prospek perekonomian dunia di 2010 tidak seperti yang diharapkan, ditambah potensi gagal bayar Yunani.

Koreksi saham-saham tambang, terutama sektor batubara terutama disebabkan adanya kecenderungan penurunan harga batubara seiring dengan segera berakhirnya musim dingin.

Pada perdagangan Jumat (29/1/2010), IHSG turun 8,769 poin (0,33%) ke level 2.610,796. Indeks LQ 45 turun 2,178 poin (0,42%) ke level 510,447.

Sementara nilai tukar rupiah ditutup melemah tipis ke level 9.365 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level 9.355 per dolar AS.

Bursa-bursa regional Asia anjlok cukup dalam.

Indeks Shanghai turun 4,85 poin (0,16%) ke level 2.989,29.
Indeks Hang Seng turun 234,38 poin (1,15%) ke level 20.121,99.
Indeks Nikkei-225 turun 216,25 poin (2,08%) ke level 10.198,04.
Indeks Straits Times turun 9,86 poin (0,36%) ke level 2.749,83.
Indeks KOSPI turun 40 poin (2,44%) ke level 1.602,43.
Indeks TSEC turun 54,14 poin (0,7%) ke level 7.640,44.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi mencapai 71.207 kali pada volume 3,446 miliar lembar saham senilai Rp 3,239 triliun. Sebanyak 49 saham naik, 131 saham turun dan 73 saham stagnan.

Saham-saham lain yang berada di jajaran top gainer antara lain : Bank Ekonomi (BAEK) naik Rp 300 ke Rp 3.000, Matahari Dept Store (LPPF) naik Rp 275 ke Rp 3.000, BCA (BBCA) naik Rp 125 ke Rp 5.000, Telkom (TLKM) naik Rp 50 ke Rp 9.350.

Sedangkan saham-saham yang berada di jajaran top loser antara lain : Indo Tambang (ITMG) turun Rp 600 ke Rp 31.400, Astra Agro (AALI) turun Rp 450 ke Rp 23.850, United Tractor (UNTR) turun Rp 350 ke Rp 16.850, HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 250 ke Rp 13.500, Bukit Asam (PTBA) turun Rp 100 ke Rp 17.200, Bumi Resources (BUMI) turun Rp 75 ke Rp 2.475.

(dro/qom)
Jumat, 29/01/2010 16:12 WIB

Menutup pekan ini, IHSG kembali ke atas 2.600

oleh : Pudji Lestari

JAKARTA (Bisnis.com): Menutup pekan ini, indeks harga saham gabungan (IHSG) berhasil bertahan di atas level psikologis 2.600 terdorong kenaikan harga sejumlah saham perbankan.

IHSG ditutup di level 2.610,80, turun 0,33% atau 8,77 poin. Penurunan ini berkurang dibandingkan dengan akhir sesi I yang sebesar 1,20% atau 31,41 poin ke level 2.588,15. Pada perdagangan sesi II, indeks menanjak setelah menyentuh level terendahnya di 2.569,27. Namun, kenaikan itu belum menyamai level tertinggi saat pembukaan di 2.619,26.

Sebanyak 123 saham terlihat merugi, tiga kali lebih banyak dari 40 saham yang membukukan keuntungan. Namun, dikarenakan yang membukukan kenaikan itu adalah saham unggulan, yang mempunyai bobot besar terhadap IHSG, indeks berhasil kembali ke atas level 2.600.

Sebanyak 233 saham masih stagnan dibandingkan dengan penutupan sebelumnya. Volume transaksi tercatat sebanyak 2,17 miliar saham.

Hanya indeks sektor keuangan yang bergerak berlawanan arah, naik menyumbang 50,41% bagi indeks, sedangkan delapan indeks sektoral lainnya turun. Indeks sektor pertambangan menggerus indeks 55,48%, indeks barang konsumer mengurangi 23,43%, dan indeks perdagangan dan jasa turun 21,57%.

Secara individu, saham Bumi Resources menyeret IHSG turun 1,88 poin setelah harganya terkoreksi 2,94% atau Rp75 ke level Rp2.475. Saham United Tractors menyusul dengan mengurangi indeks sebesar 1,50 poin setelah harganya turun 2,03% atau Rp350 menjadi Rp16.850. Keduanya adalah perusahaan yang berbasis batu bara.

Penurunan harga saham batu bara lainnya yang ikut membebani IHSG adalah Indo Tambangraya Megah dan Indika Energy. Saham Perusahaan Gas Negara dan International Nickel Indonesia ikut menyeret indeks turun.

Di sisi lain, saham Bank Central Asia mengurangi tekanan turun indeks setelah harganya naik 2,56% atau Rp125 menjadi Rp5.000. Saham Telkom ikut menyumbang kenaikan sebesar 1,30 poin setelah harganya naik 0,54% ke level Rp9.350.

Indeks BISNIS-27 juga ditutup melemah 0,28% atau 0,68 poin ke level 240,78. Penurunan ini juga menyempit dari siang tadi yang sebesar 1,30% atau 3,13 poin ke level 238,34.

Indeks yang disusun oleh harian Bisnis Indonesia ini dibuka di level 241,43 untuk kemudian bergerak turun hingga menyentuh level terendah di 236,62. Penggerak indeks ini serupa dengan penggerak IHSG.

Sentimen negatif kembali mewarnai indeks bursa saham di kawasan. Sebanyak enam dari 20 indeks bursa di Asia Pasifik yang dipantau Bloomberg terlihat menghijau, lainnya memerah. Bursa Sri Lanka libur hari ini.

Penurunan terdalam dialami oleh indeks Kospi sebesar 2,44% ke level 1.602,43, disusul oleh indeks S&P ASX 200 Australia sebesar 2,22% ke level 4.569,60.

Indeks Ho Chi Minh, Karachi 100, Thai Exchange, New Delhi N&P CNX Nifty, Sensex Bombay, dan Shenzhen bergerak melawan tren dengan kenaikan tertinggi dibukukan oleh indeks Sensex sebesar 0,38% ke level 16.369,37.

Indeks acuan regional seperti Straits Times Singapura hingga pukul 16.03 WIB tercatat turun 0,39% ke level 2.747,02, Nikkei 225 di Jepang turun 2,08% ke level 10.198,04, Hang Seng di Hong Kong turun 1,15% ke level 20.121,99.

bisnis.com

Indeks Turun Akibat Pengaruh Luar, Bukan Isu Pemakzulan
Jum’at, 29 Januari 2010 | 18:37 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta – Isu pemakzulan Wakil Presiden Budiono dinilai tidak terlalu mempengaruhi penurunan indeks harga saham gabungan yang dilontarkan oleh Fraksi Partai Golkar. Melemahnya harga saham lokal lebih disebabkan oleh sentimen negatif dari luar.

Pada penutupan Jumat (29/1), indeks harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, ditutup pada posisi 2.610, turun 8,77 poin atau 0,3 persen ketimbang posisi sebelumnya. “Indeks Dow Jones dan harga komoditas turun sehingga memberikan tekanan bagi bursa Indonesia,” ujar Muhammad Alfatih, analis BNI Sekuritas, kepada Tempo, Jumat (29/1).

Sentimen negatif tersebut didukung dengan penguatan harga dolar yang melemahkan rupiah. Harga saham tidak rontok terlalu drastis karena pada sesi kedua terpengaruh bursa Eropa. Bursa Eropa rata-rata dibuka positif sehingga memberikan sentimen yang baik bagi indeks harga saham.

Isu pemakzulan Wakil Presiden Budiono yang dilontarkan oleh Fraksi Partai Golkar dinilai tidak terlalu mempengaruhi. Sebab, para pelaku pasar belum percaya bahwa upaya pemakzulan didukung sebagian besar anggota Dewan Perwakilan Rakyat.

Meski demikian, perubahan pada tim ekonomi yang memimpin Indonesia diakuinya dapat memicu sentimen negatif. Sebab pemimpin ekonomi saat ini telah mendapat kepercayaan pasar. “Saat ini belum terlalu berpengaruh, karena hasil rekomendasi Pansus (Panitia Khusus Angket Bank Century) juga belum muncul,” ucap Alfatih.

FAMEGA SYAVIRA
Sesi I Buka
Tekanan Jual Seret IHSG ke Level Negatif
Pelaku pasar diperkirakan melakukan aksi ambil untung setelah kenaikan 55 poin kemarin.
JUM’AT, 29 JANUARI 2010, 09:36 WIB
Arinto Tri Wibowo

Pialang sedih setelah BEI menghentikan perdagangan (AP Photo/Achmad Ibrahim)
BERITA TERKAIT
Jelang Demo, IHSG Malah Rebound
Bursa Asia Rebound, IHSG Kembali Positif
IHSG Kembali Bermain di Level 2.600
Awal Transaksi, IHSG Turun 27 Poin
IHSG Terkoreksi di Awal Transaksi
Web Tools

VIVAnews – Minimnya sentimen positif di dalam negeri dan bergerak melemahnya indeks bursa regional Asia, memicu tekanan jual di pasar saham domestik.

Pada awal transaksi Jumat 29 Januari 2010, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka melemah 19,15 poin (0,74 persen) ke level 2.600,41.

Pelemahan indeks sudah mulai terlihat sejak sesi prapembukaan. Saat itu, IHSG sudah tergelincir dengan penurunan 18,52 poin (0,71 persen) ke posisi 2.601,03.

Tim riset PT Reliance Securities memperkirakan IHSG hari ini melemah karena tekanan sentimen negatif dari melemahnya bursa global dan regional.

Bursa regional Asia dibuka melemah setelah factory production di Jepang naik 2,2 persen, atau di bawah perkiraan yaitu 2,5 persen. “Pada hari terakhir perdagangan pekan ini, aksi profit taking (ambil untung) juga diperkirakan terjadi,” tulis riset itu.

Indeks Nikkei 225 sempat melemah 162,13 poin (1,56 persen) ke level 10.252,16 dan Straits Times bergerak ke level 2.734,48 atau terkoreksi 23,2 poin (0,84 persen). Indeks Hang Seng juga turun 242 poin (1,19 persen) menjadi 20.114,37.

Sedangkan bursa Wall Street pada perdagangan Kamis sore waktu New York, atau Jumat dini hari WIB kembali negatif.

Indeks harga saham Dow Jones terempas 115,70 poin (1,13 persen) menjadi 10.120,46, Standard & Poor’s 500 turun 12,97 poin atau 1,18 persen ke level 1.084,53, dan Nasdaq melemah 42,41 poin (1,91 persen) di posisi 2.179.

arinto.wibowo@vivanews.com

• VIVAnews
Jumat, 29/01/2010
PREDIKSI
Indeks menguat

JAKARTA: Pemodal pada perdagangan hari ini diperkirakan melanjutkan penguatan ke atas (rebound), menyusul meredanya kekhawatiran investor terhadap dampak kebijakan bank sentral China.

Terkendalinya aksi demonstrasi 100 hari kinerja pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjaga indeks harga saham gabungan (IHSG) di wilayah positif.

“Kami memperkirakan rebound indeks berpeluang untuk berlanjut. Kekhawatiran investor terhadap dampak kebijakan bank sentral China mulai mereda,” tutur analis PT Panin Sekuritas Tbk Purwoko Sartono, kemarin.

Dia memproyeksikan indeks bergerak dengan kisaran titik penopang 2.596 dan titik resistan 2.638. Kemarin, IHSG menguat 2,15% (55,01 poin) ke level 2.619,565.

Pulihnya sentimen positif pemodal juga terjadi di pasar uang, dengan kenaikan nilai tukar rupiah ke level Rp9.355 per dolar AS, dibandingkan dengan hari sebelumnya pada level Rp9.420.

Bursa regional mayoritas bergerak menguat mengikuti penguatan bursa Wall Street. Indeks Shanghai menguat 0,25%, disusul Hang Seng yang naik 1,61%, Nikkei-225 tumbuh 1,58%, dan KOSPI bertambah 1,04%.

Nilai transaksi kemarin mencapai Rp3,76 triliun dengan kenaikan 146 saham, dan koreksi 29 lainnya.

Saham yang menguat antara lain PT Astra International Tbk (ASII) naik Rp1.650 menjadi Rp36.000, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) naik Rp700 menjadi Rp13.500, dan PT Perusahaan Tambang Bukit Asam Tbk (PTBA) naik Rp850 menjadi Rp17.300.

Pembalikan arah indeks BISNIS-27 terjadi kemarin dengan menguat sebesar 2,31% di level 241,47 setelah terkoreksi sebesar 4,6% sejak Kamis pekan lalu hingga perdagangan Rabu pekan ini. Rebound indeks kemarin ditopang sentimen positif dari indeks DJIA dan indeks regional Asia Pasifik seperti Hang Seng, Nikkei-225 dan STI Singapura.

Indeks DJIA ditutup menguat 0,41% pada perdagangan Rabu waktu setempat. Dari dalam negeri, tindakan Bank Indonesia melepas dolar AS untuk menjaga stabilitas rupiah disambut positif oleh investor.

Penguatan indeks DJIA dan regional merembet ke bursa komoditas minyak dan emas yang bergerak positif di level US$73,95 per barel dan US$1.089 per ounce.

Naiknya indeks DJIA dianggap sebagai sinyal positif perbaikan ekonomi di negara tersebut yang tentunya akan bedampak positif bagi negara-negara Asia Pasifik yang bermitra dagang utama dengan AS (counterpart). Sinyal positif tersebut segara mengimbas bursa komoditas energi dan logam mulia yaitu minyak dan emas yang terdongkrak oleh motif lindung nilai.

Oleh Arif Gunawan S.
Bisnis Indonesia
&
Harry Setiadi Utomo
Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit