1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

kedewasaan investor 4.0 : 300110 30 Januari 2010

Filed under: Mentalitas Investor — bumi2009fans @ 4:21 pm

Riyanto:
Getol Investasi untuk Persiapan Pensiun
Kamis, 10 Desember 2009
Oleh : Eva Martha Rahayu
Sebagai profesional, Riyanto sadar bahwa penghasilannya akan segitu-gitu saja sehingga bakal membahayakan di masa pensiun. Maka, dia rajin berinvestasi sejak dini. Komposisi investasinya: 40% sektor riil, 30% properti, 20% deposito dan 10% saham.

Anda khawatir mengalami post power syndrome saat pensiun tiba? Ketakutan seperti itu tidak akan terjadi jika Anda mengikuti strategi yang dilakukan Riyanto. Dirut Bank Syariah Bukopin ini berprinsip: seseorang harus pandai-pandai melakukan investasi demi kebutuhan masa depan keluarga. Itulah sebabnya, sejak dini dia telah mempersiapkan investasi sedikit demi sedikit. Hal itu berlangsung hingga sekarang di usia produktif.

Bagi Riyanto, bila tidak mulai mempersiapkan investasi, masalah besar bakal muncul waktu pensiun nanti. Maklum, sebagai orang gajian, penghasilannya sudah terukur dan stabil. Sementara kebutuhan hidup bakal makin besar untuk membiayai kuliah anak. Jadi, seandainya ingin memperoleh pendapatan lebih, wajib membiakkan dana melalui pengelolaan investasi di beberapa instrumen.

Besarnya dana yang dialokasikan Riyanto untuk berinvestasi bersifat fleksibel. Artinya, ketika tanggung jawab keluarga belum besar atau biaya hidup masih sedikit, porsi investasi bisa mencapai 50% dan 50% konsumsi. Namun, kini dengan tanggungan seorang istri dan tiga anak, duit yang disisihkan investasi tinggal 30% dari penghasilan dan 70% habis untuk konsumsi keluarga.

Jenis investasinya tidak asal tubruk. “Investasi yang saya pilih adalah yang mampu memberikan penghasilan saat saya pensiun kelak,” kata pria kelahiran Bandung, 31 Juli 1961, ini. Selain itu, investasi tersebut harus mampu melawan atau menahan laju inflasi agar memberikan imbal hasil yang memadai.

Dengan pertimbangan itu, Riyanto menempatkan dananya ke empat keranjang investasi. Mula-mula dia memilih investasi properti. Aktiva tetap yang pertama kali dia miliki adalah sebuah rumah yang dibeli secara kredit waktu awal bekerja di Bank Bukopin, saat umurnya masih 24 tahun. Setelah karier dan jabatan menanjak, dia membeli ruko dan vila. Mengapa? “Saya ingin mengamankan uang cash dengan opportunity investasi yang ada saat itu. Misalnya, membeli aset properti yang dilelang Badan Penyehatan Perbankan Nasional kala itu,” tambah lulusan S-1 Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran, Bandung, ini.

Strategi eksekutif yang suka menghiasi ruangan kantornya dengan beberapa kaligrafi ini dalam memilih properti adalah memilih lokasi yang strategis, membeli saat harga miring plus mencari properti yang memberikan passive income. Makanya, dia membeli rumah dan ruko di Jakarta Timur yang dianggapnya strategis, lalu ruko itu disewakan lagi. Juga, membeli vila di Puncak, Bogor, saat harganya turun. “Kalau ruko itu, tujuan awalnya mau dipakai istri untuk buka butik, tapi nggak jadi sampai sekarang. Akhirnya disewakan saja,” tutur pemilik ruko di salah satu pusat perbelanjaan itu.

Lantaran letak ruko itu di prime area pertokoan, tidak sulit baginya mencari penyewa.
Selain properti, Riyanto juga masuk ke sektor pendidikan sebagai ajang membiakkan uangnya. Dia mendirikan sekolah. Pertimbangannya, pertama, dia mencari bidang usaha yang pengelolaannya tidak terlalu menyita waktu penuh. Sebab, dia masih bekerja seharian di kantor, sedangkan istrinya sibuk mengurus rumah tangga. Kedua, bidang usaha itu harus mempunyai risiko yang terukur. Ketiga, mesti yakin dan percaya mampu mengelola bisnis tersebut.

Nama sekolah yang dikibarkan Riyanto tahun 2002: Azzahra. Jenjang pendidikan yang ditawarkan lembaga pendidikan Islam terpadu itu mulai dari playgroup hingga sekolah dasar. Pengelolaan sehari-hari diserahkan kepada sang istri. “Istri saya keluar dari Bank Muammalat untuk mengelola Azzahra,” ucap suami Dwi Shinta Wiatiya ini. Sekarang sekolah tersebut memiliki kurang-lebih 500 murid.

Berapa modal awal pendirian sekolah? “Bertahap, dari satu lokasi tanah seluas sekitar 1.000 m2 dengan luas bangunan 1.600 m2. Nilai gedungnya saja kisaran Rp 1,3 miliar,” kata ayah Rangga (siswa SMA), Gilang (murid SD) dan Raisya (umur 1 tahun) ini. Kendati Riyanto tidak bisa memaparkan angka persis nilai investasinya, yang jelas kini sekolah Azzahra berkembang menjadi tiga cabang. Sekolah perdana dibuka di Citereup, lalu ekspansi ke Cibinong dan Cibubur.

Instrumen investasi ketiga: bermain saham. Aktivitas investasi sahamnya diakui Riyanto bersifat on off. Dia mulai terjun ke saham pada 1997. “Saya tertarik saham karena memberikan capital gains lebih baik ketimbang deposito,” ungkap eksekutif berkacamata ini. Apalagi, saat itu dia mendapat jatah saham ESOP dari Bank Bukopin. Akibat krisis moneter, trading sahamnya istirahat dulu. Baru tahun 2000 dia aktif lagi ke bursa lantaran kondisi saham mulai booming.

Bagaimana jurusnya berinvestasi saham? Sebelumnya dia selalu bermain saham konvensional, tetapi sejak bergabung dengan Bank Syariah Bukopin pada Oktober 2008, dia mulai melirik dan beralih ke saham-saham berbasis syariah. Baginya, saham syariah itu membuatnya selamat dunia-akhirat karena halal. Wajarlah, karena saham-saham tersebut menjauhi sektor rokok, perhotelan, minuman keras dan riba. Potensi capital gains-nya, diklaim Riyanto, juga tidak kalah dari saham konvensional. Selain itu, dia selalu memonitor pergerakan harga saham, juga mendengarkan masukan dari pialang untuk mengambil keputusan transaksi: sell, buy atau hold. Jurus lain, segera out dari posisi jika harga saham trennya melandai dan begitu harga balik normal, segera masuk lagi. Ini untuk menyiasati agar tidak terjebak arus pasar negatif.

Bentuk investasi terakhirnya adalah deposito. Lagi-lagi karena masuk dalam jajaran manajemen bank berbasis syariah, otomatis jenis depositonya pun yang berbau syariah Islam. Menurutnya, dengan pola bagi hasil, kadang-kadang keuntungan deposito syariah juga lebih tinggi ketimbang bank konvensional.

Gambaran hasil investasi Riyanto ada plus-minusnya. Andaikan dipukul rata, Riyanto mengaku mayoritas investasinya menguntungkan. Dia memilah, untuk investasi propertinya, rata-rata untung semua. Sebab di atas kertas, harga rumah, ruko dan vila yang dia beli sudah naik semua. Apalagi, sebagian properti itu dibeli waktu harga jatuh. Sayangnya, sampai sekarang belum ada aset propertinya yang dijual, menunggu kenaikan harga yang signifikan dulu.

Namun, pengalaman buntung pun dialami Riyanto. Cerita menyedihkan ini terjadi manakala krismon 1998 menerpa pasar modal juga. Akibatnya, harga saham-saham yang dibelinya di Bursa Efek Jakarta lebih dari 11 tahun silam itu berguguran. Dia mencontohkan harga saham Bank Bukopin waktu itu anjlok dari Rp 650 menjadi Rp 200.

Untuk investasi sektor riil, Riyanto menjelaskan, keuntungannya tidak berupa uang tunai. Melainkan, diakumulasikan lagi dalam bentuk pengembangan aset. Jadi, dulu Azzahra hanya dimulai dari satu sekolah, sekarang berkembang menjadi tiga sekolah. Dia bersyukur bisa membuka lapangan kerja dengan memiliki sekitar 100 karyawan di lembaga pendidikan bernafas Islam tersebut.

Kelak, bila sudah pensiun, Riyanto berniat mengubah strategi dan porsi investasinya. Saat pensiun, alokasi investasinya ditambah untuk deposito menjadi 40% dan sektor riil menjadi 60%. Alasannya, pada usia tidak produktif, dibutuhkan dana tunai lebih banyak dan investasi yang lebih likuid.

BOKS:

Trik Riyanto Mengelola Investasinya

Untuk properti, pilih lokasi yang strategis dan prime area.
Waktu beli properti, usahakan cari harga yang miring, misalnya dari proses lelang.
Pilih properti yang memberikan peluang passive income.
Strategi investasi sektor riil (Sekolah Azzahra) ada tiga: cari bidang usaha yang pengelolaannya tidak terlalu menyita waktu dan harus mempunyai risiko yang terukur, serta mesti yakin dan percaya mampu mengelola usaha tersebut.
Untuk saham, pilih saham berbasis syariah yang menjauhi sektor rokok, riba, minuman keras dan perhotelan.
Selalu memonitor pergerakan harga saham serta mendengarkan masukan dari pialang untuk mengambil keputusan transaksi: sell, buy atau hold.
Segera out dari posisi jika harga saham trennya melandai; begitu harga balik normal, segera masuk lagi. Ini untuk menyiasati supaya tidak terjebak arus pasar negatif.
Pilih deposito syariah yang jauh dari riba dan imbal hasil tidak kalah dari bank konvensional.

 

koreksi itu mendebarkan, mungkin SEHAT seh … 300110

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 12:08 am

29/01/2010 – 20:49
Bursa Asia Akhir Pekan Anjlok 1,7%
Vina Ramitha

INILAH.COM, Tokyo – Indeks MSCI Asia Pacific kembali letoy dan membukukan kerugian terbesar sejak Maret 2009. Kekhawatiran defisit Yunani, tingkat pengangguran AS dan kebijakan perbankan China, India, serta AS menjadi katalisnya.

Pada perdagangan Jumat (29/1), indeks MSCI Asia Pasifik menyerah 1,6% ke level 117,18 atau turun 4,34% selama pekan ini. Dan turun 7,6% dari titik tertinggi pada 15 Januari lalu.

Tujuh saham jatuh untuk setiap satu yang naik di indeks MSCI APAC. Sektor produsen material dan perusahaan teknologi mengalami kejatuhan terbesar.

Wakil Presiden Investasi di JPMorgan Asset Management Hong Kong, Grace Tam, mengatakan dunia memang telah melalui yang terburuk dari krisis global. Namun ia tak berharap ada rally kuat, seperti yang terjadi tahun lalu. “Masih ada downside,” katanya.

Euro jatuh ke level terendahnya selama enam bulan terakhir terhadap dolar AS. Hal ini akibat meningkatnya resiko default korporasi di Eropa akibat kondisi finansial Yunani. Peralihan kredit gagal (credit-default swap) yang terkait utang, berada di level yang sama, seperti ketika Dubai menerima dana talangan sebesar US$10 miliar pada Desember 2009.

Bank Sentral AS The Fed mulai menghentikan program stimulus. Sedangkan dana ekuitas pasar negara berkembang memposting laba pertama mereka dalam 12 pekan terakhir di masa China memperketat likuiditas. Bank Sentral India juga mengumumkan penambahan proporsi pinjaman deposit, dari 5% ke 5,75%.

Menurut ahli strategi di Nomura Holdings, Juichi Wako, bank sentral global memiliki ruang yang sempit untuk kebijakan yang lebih longgar. Pasar pun tak bisa begitu saja berharap ada kelebihan likuiditas terus melimpah dan menstabilkan harga saham. “Investor khawatir dengan outlook perekonomian AS,” katanya kepada Bloomberg, Jumat (29/1).

Indeks Shanghai turun 4,85 poin (0,16%) , indeks Hang Seng turun 234,38 poin (1,15%) , dan indeks Nikkei-225 turun 216,25 poin (2,08%) . Demikian pula KOSPI turun 40 poin (2,44%) ke level 1.602,43.

Epilda Memory Inc. produsen memori komputer terbesar di Jepang, jatuh 9% ke 1.601 yen, terbesar dalam lima tahun terakhir. Demikian pula produsen tester memori terbesar dunia, Advantest Corp. yang anjlok 10,2% ke 2.253 yen, penurunan terbesar sejak 26 Februari 2009.

Penguatan yen atas dolar AS, mengurangi nilai penjualan emiten di luar negeri, yang mengkontribusi 10% pemasukan total.

Perusahaan pertambangan terbesar ketiga di dunia, Rio Tinto Group, anjlok 4,8% ke S$68,43 yang merupakan penurunan terbesar mereka selama empat bulan terakhir. Sementara pesaing terbesar Rio, BHP Billiton Ltd., turun 3,2% ke A$39,40. Indeks enam logam, termasuk tembaga dan nikel, turun 3,6% di London pada perdagangan kemarin. Penurunan itu yang terbesar sejak 1 September 2009.

Indeks Nikkei 225 di bursa Tokyo pun turun 216,25 poin (2,1%) ke level 10.198,04, level terendah sejak 21 Desember. Indeks Topix turun 13,20 poin (1,4%) menjadi 901,12. Sepekan ini, Nikkei kehilangan 3,7% dan sejak awal 2010 telah turun 3,3%. “Investor selektif memilih perusahaan-perusahaan yang mengumumkan kenaikan tahun fiskal penuh setelah penutupan pasar sebelumnya,”kata pengamat pasar modal Daiwa Securities, Yumi Nishimura.

Di bursa Korea, indeks Kospi turun 40 poin (2.4%) ke level 1602.43, terendah sejak Desember 2009. Pasar khawatir adanya indikasi pelambatan pertumbuhan ekonomi beberapa bulan mendatang akibat pengetatan moneter global.

Laporan keuangan Samsung Electronics yang solid, gagal mengangkat bursa. Samsung pun turun 3% ke KRW784.000, Hynix Semiconductor turun 3.6% pada level KRW22.750, KT Corp. turun sebesar 0.4% ke KRW49.800, Kia Motors turun 0.5% ke KRW19.550 dan Hyundai Motor turun 0.4% ke KRW113.000.

Indeks Shanghai turun 4,85 poin (0,2%) ke 2.989,29. Sepekan ini, indeks turun 4,5%, membukukan kerugian mingguan terbesar secara persentase dalam dua bulan terakhir.

Volume pasar anjlok mencapai CNY489.3 miliar pekan ini.

Bursa saham China berakhir turun, akibat ketidakpastian bank sentral tentang arah suku bunganya. Selain memburuknya kinerja perusahaan-perusahaan yang terdaftar di bursa.

“Ketidakpastian tentang waktu kemungkinan kenaikan suku bunga tersebut membuat masyarakat gugup,” kata Wang Junqing, seorang analis di Guosen Securities.

Saham perbankan terus melemah atas ketidakpastian kebijakan moneter di China. Bank of China turun 0,2% menjadi CNY4.10 dan ICBC turun 0,2% di CNY4.85. Meskipun China Merchants Bank berhasil naik 0,3% ke CNY15.17, setelah otoritas bursa berencana meninjau rights issue bank CNY22 miliar pekan depan.

Sedangkan saham properti jatuh atas profit-taking dan keprihatinan peningkatan pengawasan pinjaman properti. Pasar juga terpukul atas penawaran saham baru bulan ini, yang telah menyebabkan krisis likuiditas di pasar. Sebanyak 35 perusahaan akan meluncurkan IPO mereka pada Januari, menjadikan bulan tersibuk sejak China membuka kembali pasar primer pada Juni. [ast/mdr]
Sesi II Tutup
Tekanan Jual Mereda, IHSG Hanya Turun 8 Poin
IHSG sempat menyentuh level tertinggi 2.619,26 dan terendah 2.569,26.
JUM’AT, 29 JANUARI 2010, 16:13 WIB
Arinto Tri Wibowo

Papan perdagangan saham (ANTARA)
BERITA TERKAIT
Tak Gubris Demo, IHSG Naik 55 Poin
Antisipasi Demo Besok, IHSG Tertekan
IHSG Terimbas Pelemahan Bursa Asia
IHSG Turun Tipis, Rupiah Menguat
Penurunan IHSG Mereda
Web Tools

VIVAnews – Pergerakan indeks bursa regional Asia yang terpuruk hingga di atas dua persen, memicu sentimen negatif di pasar saham domestik.Meski demikian, penurunan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) tidak sebesar sejumlah bursa Asia.

Pada akhir transaksi Jumat 29 Januari 2010, IHSG terkoreksi 8,76 poin (0,33 persen) menjadi 2.610,79.

IHSG sempat menyentuh level tertinggi 2.619,26 dan terendah 2.569,26. Volume transaksi mencapai 6,89 juta lot senilai Rp 3,23 triliun dengan frekuensi 71.207 kali.

Sebanyak 131 saham melemah, 49 menguat, dan 73 saham stagnan. Sementara itu, sebanyak 232 saham tidak terjadi transaksi.

Riset PT CIMB Securities Indonesia menilai, meski melemah, IHSG berhasil ditutup di atas level 2.575. “Jadi, masih ada kebenaran mengenai January Effect,” tulis riset itu di Jakarta.

Sementara itu, analis PT BNI Securities M Alfatih mengatakan, meski tren naik masih ada di pasar, IHSG cenderung bergerak mendatar (sideways) di kisaran 2.550-2.640.

Saham-saham yang mengontribusi penurunan IHSG di antaranya PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) melemah Rp 600 (1,87 persen) menjadi Rp 31.400, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) turun Rp 450 (1,85 persen) ke posisi Rp 23.850, dan PT United Tractors Tbk (UNTR) terkoreksi Rp 350 (2,03 persen) menjadi Rp 16.850.

Selama transaksi, pemodal asing membukukan pembelian saham senilai Rp 728,29 miliar, dengan penjualan mencapai Rp 901 miliar.

Di bursa Asia, indeks Hang Seng berada di level 20.121,99 atau melemah 234,38 poin (1,15 persen), Nikkei 225 turun 216,25 poin (2,08 persen) ke posisi 10.198,04, dan Straits Times terkoreksi 10,88 poin (0,39 persen) menjadi 2.746,8.

arinto.wibowo@vivanews.com

• VIVAnews
Three Reasons to Shrug Off Stock-Market Sell-Off: William Pesek
Share Business ExchangeTwitterFacebook| Email | Print | A A A
Commentary by William Pesek

Jan. 29 (Bloomberg) — Window ledges are becoming crowded places around Asia these days as investors panic over stocks.

They shouldn’t. Remember that the Asian growth story remains intact and that 2010 is not 2008, when the MSCI Asia Pacific Index plunged more than 43 percent amid worries we would all be homeless by now. By comparison, the index dropped 6.9 percent during a decline of eight straight days this month.

No one is saying this will be an easy year — not with central bankers reacquainting themselves with the risks of inflation. Interest rates will rise, as they must given all the hot money sloshing around the globe. And Asian equities tend to take the first round of rate increases badly.

Yet there are three reasons to take a deep breath and step back from the brink.

One, Asia is still the most dynamic economic region. Sure, some of the 34 percent rebound in the MSCI index in 2009 reflected asset bubbles. That’s inevitable when monetary authorities in Frankfurt, London, Tokyo and Washington slash rates toward zero.

There’s a reason money rushed to Asia. Reforms following the 1997 Asian crisis positioned the region well for the last 18 months of turmoil. These efforts were rewarded not just because traders were looking to make a quick buck. They made Asia the markets of choice because this is where the energy is.

Losing Streak

Yesterday’s rally may have been a case in point. It snapped the longest losing streak since 2004 and offered a respite from the stampede out of the stock market. The sell-off may resume, though, and might get worse before it gets better. Think of it as a correction, not a bear market.

We’re talking about Asia, ex-Japan, of course. Japan’s deflation is accelerating, consumption is stagnant, and Standard and Poor’s threatens to lower the nation’s AA credit rating.

The crisis at Toyota Motor Corp. is another blow to Japanese stocks. Perhaps no corporate name is more emblematic of Japan’s impressive post-World War II revival than the world’s largest carmaker. Yesterday its stock fell almost 4 percent amid concerns its reputation for quality may be permanently tarnished by recent recalls. Toyota shares have shed 12 percent this week.

Nothing that has happened in the last few weeks changes ex- Japan Asia’s outlook. Remember, as Niall MacLeod, Hong Kong- based strategist at UBS AG, points out, Asia typically responds badly at first to interest-rate increases, especially in the 40 days around when they begin.

Least Ugly

The process is just beginning, meaning that stocks may well grind lower in the weeks ahead. But Asia is still the least-ugly region in the stock-market beauty contest at the moment.

Two, policy makers are addressing the bubbles of 2009. Since the collapse of Lehman Brothers Holdings Inc. in September 2008, the Group of 20 nations has spent more than $2.2 trillion trying to restore growth.

Efforts are afoot to take back some of the fiscal and monetary stimulus, and that’s healthy. China, where banks have begun restricting new loans, is responding to a push by regulators to contain credit after a surge in lending.

Investors such as Mark Mobius, chairman of Templeton Asset Management Ltd. in Singapore, have a point when they argue that such steps may benefit China’s economy. At a minimum, they will reduce overheating risks and make markets more stable.

Good-News Story

This is really a good-news story for Asia. Money isn’t about to get tighter so much as it’s about to become less loose. The trick is not to go too far. Central bankers from South Korea to India need to act forcefully, yet wisely.

The key is for Asia to avoid replays of 1994 and 2004, when monetary tightening devastated asset markets. It won’t be easy for policy makers and it won’t always be pretty for investors, yet less liquidity will serve markets well over time. And besides, valuations in Asia are cheaper now than on Jan. 1.

Three, the U.S. won’t steal Asia’s thunder. One reason Asian markets stumbled in recent weeks is that there is more optimism the U.S. economy will recover markedly.

Normally, such perceptions would be great news for Asia’s export-dependent economies. After the sheer financial chaos of 2008 and 2009, though, many international investors are anxious to pile their money into the most developed economies. While better U.S. growth can be good for Asia, it reduces the relative attraction of emerging-market stocks.

The U.S. won’t be a major competitor for Asia’s stock money for some time. More likely, the U.S. will muddle along this year, limiting corporate profits and restraining wage growth.

That’s hardly a comforting scenario for the world economy. Yet Asian markets have proven over the last year that they can stand their ground as the U.S. limps along.

Don’t forget that Asia also benefits from 10 percent growth in China, 6 percent in India and a general sense of dynamism that’s lacking in the U.S. and Europe. In a rather ugly world economy, Asia still looks pretty good.

(William Pesek is a Bloomberg News columnist. The opinions expressed are his own.)